Malam itu gelap dan hening di kompleks Sekolah Menengah Atas Harapan Bangsa, Surabaya. Jam dinding di ruang guru menunjukkan pukul 21.45 WIB. Hanya satu mobil masih terparkir di halaman belakang—mobil Dita, guru matematika kelas XII yang sudah 12 tahun mengajar di sana. Bu Dita, begitu semua murid memanggilnya. Usianya 37 tahun, tubuhnya masih kencang meski sudah dua kali melahirkan. Payudaranya besar dan montok, pinggulnya lebar, kulitnya putih mulus karena rajin perawatan. Suaminya, seorang pengusaha, sering dinas ke luar kota. Malam ini Dita tinggal sampai larut untuk menyelesaikan soal ujian akhir semester.
Zainul, penjaga sekolah yang baru berusia 23 tahun, sedang menyapu koridor lantai dua. Tubuhnya tinggi tegap, otot-ototnya terbentuk dari kerja fisik setiap hari. Kulitnya sawo matang, rambutnya pendek rapi. Yang paling terkenal di kalangan karyawan sekolah—meski hanya dibisik-bisik—adalah “kontolnya yang gila besar”. Konon dari cerita mbak-mbak kantin yang pernah melihatnya mandi di kamar mandi belakang, kontol Zainul panjang 22 cm saat tegang, tebal seperti botol Aqua, dan kepalanya selalu mengkilap merah muda.
Dita baru saja keluar dari ruang guru, membawa tas laptop. Langkahnya terhenti ketika melihat Zainul sedang membungkuk menyapu di depan kelas XII IPA 2. Celana seragam penjaganya ketat, menonjolkan tonjolan besar di selangkangan.
“Zainul… masih kerja malam juga ya?” tanya Dita dengan suara lembut, sedikit lelah.
Zainul menegakkan tubuh, tersenyum lebar. “Iya Bu, saya shift malam sampai jam 11. Bu Dita kok belum pulang? Bahaya loh Bu, malam-malam sendirian di sekolah.”
Dita tertawa kecil. “Soal ujian harus selesai hari ini. Anak-anak besok sudah mau kumpul.” Ia melirik jam tangannya. “Kamu sudah makan malam belum? Lapar kan kerja begini?”
Zainul menggaruk tengkuknya. “Belum Bu. Tadi cuma roti dari kantin.”
Dita mengangguk. “Ikut ke ruang guru yuk. Ada mie instan sama air panas. Biar Ibu bikinin. Anggap aja traktir karena kamu sudah jagain sekolah malam-malam.”
Zainul ragu sebentar, tapi mata Dita yang lembut membuatnya mengikuti. Mereka berdua masuk ke ruang guru yang sepi. Lampu neon menyala redup. Dita membuka lemari kecil, mengambil mie dan gelas.
Sambil menunggu air mendidih, Dita duduk di kursi panjang. Rok pensilnya naik sedikit, memperlihatkan paha mulus yang putih. Zainul duduk di seberang, tapi matanya tak bisa lepas dari lekuk dada Dita yang tertekan kancing kemeja putihnya.
“Bu… boleh nanya gak?” tanya Zainul pelan.
“Boleh. Apa?”
“Bu Dita cantik banget. Suami Bu sering dinas ya? Kok malam-malam masih di sekolah sendirian.”
Dita tersenyum getir. “Iya… suami saya jarang di rumah. Kerja terus. Kadang aku merasa… kesepian.” Kata terakhir diucapkan hampir berbisik.
Zainul menelan ludah. Tonjolan di celananya mulai terlihat jelas. “Saya juga Bu… masih muda, tapi kerja malam terus. Gak punya pacar.”
Mie sudah matang. Dita menyodorkan mangkuk ke Zainul. Tangan mereka bersentuhan. Listrik seperti mengalir. Dita menatap mata Zainul lama.
“Zainul… kamu tahu gak, kadang aku lihat kamu dari jendela kelas. Kamu kuat, muda… badanmu bagus,” kata Dita tiba-tiba, suaranya agak gemetar.
Zainul terkejut, tapi senang. “Bu… jangan bercanda. Saya cuma penjaga biasa.”
Dita bangkit dari kursi, mendekati Zainul. Ia berdiri tepat di depannya. “Aku gak bercanda. Sudah lama aku… penasaran sama kamu.” Tangan Dita turun, menyentuh lengan Zainul yang berotot. “Kamu… besar ya di mana-mana?”
Zainul napasnya memburu. “Bu Dita… ini beneran?”
Dita mengangguk. “Beneran. Malam ini sekolah sepi. Pintu ruang guru bisa dikunci dari dalam.” Ia berbalik, mengunci pintu dengan klik pelan. Lalu ia membuka kancing kemejanya satu per satu. Bra hitam renda terlihat, menyimpan payudara 36D yang penuh.
“Bu… astaga…” Zainul berdiri. Kontolnya sudah tegang keras di dalam celana. Tonjolannya sangat jelas, panjang dan tebal.
Dita mendekat, tangannya langsung meraba tonjolan itu. “Wah… besar sekali Zainul. Ini… kontol kamu ya? Sudah lama aku ingin tahu rasanya.” Ia meremas pelan. Zainul mengerang.
“Bu… pelan Bu… saya bisa gila.”
Dita tersenyum nakal. “Lepas celana kamu. Ibu mau lihat.”
Zainul menurut. Ia menurunkan celana dan boxer sekaligus. Kontolnya melompat keluar—22 cm, tebal, urat-urat menonjol, kepala kontol besar dan mengkilap precum.
Dita terbelalak. “Ya Tuhan… ini yang dibilang mbak kantin. Besar banget… panjang… tebal…” Ia berlutut di depan Zainul. “Boleh Ibu cium?”
“Silakan Bu… milik Bu sekarang.”
Dita membuka mulutnya lebar. Lidahnya menjilat kepala kontol dari bawah ke atas. “Mmm… enak rasanya… asin asin manis…” Lalu ia menelan kepala kontol itu dalam-dalam. Mulutnya penuh. Ia mengisap kuat, pipinya cekung.
Zainul memegang kepala Dita. “Ahh… Bu Dita… enak sekali… isap lebih dalam Bu…”
Dita mengangguk, menelan lebih dalam sampai kontol menyentuh tenggorokannya. Ia muntah-muntah kecil tapi terus mengisap. Air liurnya menetes ke lantai. “Glek… glek… glek…” suara isapan memenuhi ruangan.
Setelah lima menit, Dita melepaskan kontol itu dengan bunyi “plop”. Benang air liur menghubungkan bibirnya dengan kepala kontol. “Sekarang gantian. Lepas baju Ibu.”
Zainul membuka kemeja Dita, lalu bra-nya. Payudara besar itu melambung keluar, putingnya cokelat muda dan sudah keras. Ia meremas keduanya kasar. “Bu… payudara Bu besar banget… empuk…”
Dita mendesah. “Remas lebih keras Zainul… gigit puting Ibu.”
Zainul menunduk, mengisap puting kiri sambil meremas kanan. Dita melengkungkan punggungnya. “Ahh… enak… gigit lagi… lebih keras…”
Tangan Zainul turun, mengangkat rok Dita. Celana dalam hitam sudah basah. Ia menariknya ke bawah. Memek Dita tercukur rapi, bibirnya tebal dan mengkilap cairan.
“Bu… memek Bu basah sekali…” Zainul mengusap klitoris Dita dengan jempol.
Dita menggigit bibir. “Masukin jari Zainul… dua jari…”
Zainul memasukkan dua jarinya ke dalam memek yang panas dan licin. “Ssst… ketat Bu… memek guru ketat banget.”
Dita menggerakkan pinggulnya. “Aduh… enak… putar jarinya… ya gitu… ahh…”
Mereka berpindah ke meja guru yang lebar. Dita berbaring telentang, kaki dibuka lebar. Zainul berdiri di antara pahanya. Kontolnya menempel di bibir memek.
“Masukin Zainul… pelan dulu… kontol kamu besar, Ibu takut robek,” pinta Dita.
Zainul menggesek kepala kontol di klitoris Dita dulu. “Bu… ini mau masuk ya?”
“Masuk… sekarang… ngentot Ibu Zainul…”
Zainul mendorong pelan. Kepala kontol masuk, meregang memek Dita. “Ahhh… besar… pelan Zainul… ahh…”
Setengah kontol masuk. Dita mencengkeram pinggiran meja. “Terus… dorong lagi… ya… masuk semua… ahh… penuh… memek Ibu penuh kontol kamu…”
Zainul mendorong sampai pangkal. Kontolnya hilang sepenuhnya di dalam memek Dita. “Bu… enak… memek Bu panas banget… rapat…”
Mulai gerakan. Zainul mengentot pelan dulu, keluar masuk panjang. Setiap dorongan membuat payudara Dita bergoyang.
“Lebih cepat Zainul… ngentot Ibu lebih keras… ahh… enak… kontol kamu ngena banget di dalem…”
Zainul mempercepat. Bunyi “plok plok plok” memenuhi ruang guru. Keringat mereka bercampur.
Dita berteriak mesra. “Ya… gitu… entot memek guru… lebih dalam… hancurkan memek Ibu… ahh… ahh… Zainul… kamu jago banget…”
Zainul mengangkat salah satu kaki Dita ke bahunya, membuat sudut lebih dalam. “Bu… memek Bu ngisap kontol saya… enak sekali…”
Mereka berubah posisi. Dita sekarang doggy style di atas meja. Pantatnya yang bulat terangkat. Zainul berdiri di belakang, memegang pinggul Dita, lalu mengentot dengan ganas.
“Plok! Plok! Plok!” suara tabrakan pinggul.
Dita menjerit. “Aduh… dalam banget… kontol kamu nyodok rahim Ibu… ya… terus… jangan berhenti… ngentot Ibu sampai puas…”
Zainul menampar pantat Dita pelan. “Suka Bu? Suka dikentot anak muda?”
“Suka… suka banget… Ibu suka kontol besar kamu… lebih cepat… hancurkan memek Ibu… ahh… mau cum Zainul…”
Zainul terus mengentot 10 menit tanpa henti. Dita orgasme pertama. Memeknya berdenyut hebat, cairan menyembur keluar. “Aaaahhh… cum… Ibu cum… jangan keluar… terus ngentot…”
Zainul tidak berhenti. Ia balik badan Dita lagi, sekarang missionary di sofa ruang guru. Kaki Dita melingkar di pinggang Zainul. Mereka berciuman liar, lidah saling menjilat.
“Bu… saya mau cum…” kata Zainul sambil mengentot cepat.
“Cum di dalam aja Zainul… isi memek Ibu… buat Ibu hamil kontol kamu…”
Zainul mengerang keras. “Ahh… Bu… keluar… banyak… ahhh!” Sperma panas menyembur deras ke dalam rahim Dita. Lima kali jet kuat. Dita merasakan panasnya memenuhi.
Mereka berpelukan, napas tersengal. Kontol Zainul masih di dalam, masih setengah tegang.
Dita mencium bibir Zainul. “Belum selesai kan Zainul? Kontol kamu masih keras. Ibu masih mau.”
Zainul tersenyum. “Iya Bu. Sekarang gantian Ibu di atas.”
Dita naik ke pangkuan Zainul. Ia memegang kontol yang sudah licin campur cairan mereka, lalu duduk perlahan. “Ahh… masuk lagi… penuh lagi…”
Ia mulai naik turun. Payudaranya bergoyang di depan muka Zainul. Zainul mengisap puting sambil meremas pantat Dita.
“Naik turun lebih cepat Bu… goyang memek Bu di kontol saya…”
Dita menggoyang pinggulnya seperti penari. “Mmm… enak… kontol kamu menggesek dinding memek Ibu… ya… gigit puting lagi…”
Dialog mereka semakin kotor.
“Bu Dita jalang ya malam ini?” goda Zainul.
“Iya… Ibu jalang buat kamu… guru suka ngentot sama penjaga muda… kontol besar… ahh… lebih cepat Zainul dorong dari bawah…”
Zainul mendorong pinggulnya ke atas, mengentot dari bawah dengan kuat. Bunyi “plok plok plok” lagi.
Setelah 15 menit, Dita orgasme kedua. “Aaaah… lagi… cum lagi… memek Ibu banjir…”
Zainul masih kuat. Ia angkat Dita, bawa ke dinding. Dita dipeluk, kaki melingkar. Zainul mengentot berdiri. “Bu… kuat ya? Saya bisa gini seharian.”
Dita menjerit nikmat. “Bisa… terus… entot Ibu di dinding… keras… ya… kontol kamu luar biasa…”
Mereka pindah lagi ke lantai. Dita tidur telentang, Zainul di atas, mengentot dengan posisi mating press—lutut Dita ditekuk sampai dada. Kontol masuk sangat dalam.
“Bu… rahim Bu saya sodok terus… mau cum lagi…”
“Cum lagi Zainul… isi memek guru… buat Ibu penuh sperma kamu…”
Zainul cum kedua. Sperma lagi banyak, meluap keluar dari memek Dita.
Mereka istirahat sebentar. Dita minum air, lalu kembali meremas kontol Zainul yang belum lemas.
“Masih bisa kan? Ibu mau lagi. Kali ini Ibu mau di anal juga.”
Zainul terkejut. “Anal Bu? Belum pernah?”
“Belum… tapi malam ini Ibu mau coba semua sama kamu. Pelan ya.”
Dita berlutut, pantatnya ke atas. Zainul lumasi kontolnya dengan cairan memek Dita, lalu tekan ke lubang anal yang kecil dan pink.
“Pelan Zainul… ahh… sakit sedikit… tapi enak… terus… masuk…”
Kepala kontol masuk ke dubur Dita. Dita menggigit bantal. “Ya… pelan… penuh… kontol kamu di pantat Ibu…”
Zainul mengentot pelan di anal. “Bu… ketat sekali… panas…”
Dita mulai menikmati. “Lebih cepat… entot pantat guru… ahh… enak… dua lubang Ibu sudah diisi kamu…”
Mereka ngentot anal hampir 10 menit. Dita orgasme lagi dari rangsangan dubur. “Cum… pantat Ibu cum…”
Zainul cum ketiga di dalam anal Dita.
Sekarang jam sudah lewat tengah malam. Mereka masih belum puas. Dita duduk di meja, kaki lebar. Zainul mengentot lagi di memek. Kali ini mereka bicara panjang sambil ngentot.
“Zainul… kamu suka gak sama Ibu?” tanya Dita sambil mendesah.
“Suka Bu… suka banget. Dari dulu saya ngiler liat Bu Dita di kelas. Tiap hari saya bayangin ngentot Bu.”
Dita tersenyum, pinggulnya digoyang. “Ibu juga… tiap lihat kamu sapu koridor, memek Ibu basah. Kadang Ibu coli di rumah sambil bayangin kontol kamu yang besar ini.”
Zainul mempercepat. “Bu… cerita dong… gimana Ibu coli?”
Dita napasnya tersengal. “Ibu… ahh… masukin jari ke memek… bayangin kontol kamu masuk… Ibu goyang pinggul… teriak nama kamu… Zainul… ngentot Ibu… ahh…”
Zainul menampar pantat Dita. “Sekarang kontol asli Bu… lebih enak kan?”
“Lebih enak… jauh lebih enak… kontol kamu hidup… panas… tebal… isi memek Ibu penuh…”
Mereka berganti posisi lagi—69. Dita mengisap kontol Zainul sambil memeknya dijilat Zainul. Lidah Zainul masuk dalam memek, menjilat klitoris.
“Glek… glek… enak kontol kamu… mmm… jilat memek Ibu lebih dalam Zainul…”
Zainul mengerang di antara paha Dita. “Memek Bu manis… banyak cairan… saya minum semua…”
Setelah itu mereka ngentot lagi di sofa. Kali ini Zainul duduk, Dita di pangkuannya menghadap ke belakang—reverse cowgirl. Dita goyang pinggulnya cepat, pantatnya naik turun di kontol Zainul.
“Plok plok plok… lihat pantat Ibu Zainul… goyang buat kamu…”
Zainul memegang pinggul. “Pantat Bu besar… empuk… saya suka…”
Dita menoleh. “Mau cum lagi? Cum di memek Ibu yang keempat kalinya ya…”
Zainul cum lagi. Sperma meluap, mengalir ke paha Dita.
Mereka terus sampai pukul 03.00 pagi. Total Zainul cum enam kali—empat di memek, satu di anal, satu di mulut Dita di ronde terakhir.
Di ronde terakhir, Dita berlutut di lantai. Zainul berdiri. Dita mengisap kontol dengan rakus.
“Cum di mulut Ibu Zainul… Ibu mau minum sperma kamu…”
Zainul memegang kepala Dita, mengentot mulutnya. “Ahh… Bu… keluar… minum semua…”
Sperma terakhir menyembur ke tenggorokan Dita. Dita menelan semua, tidak ada yang tumpah. “Enak… sperma kamu kental… asin… Ibu suka.”
Mereka berbaring di sofa, tubuh telanjang saling peluk. Keringat dan cairan seks memenuhi ruangan.
“Zainul… ini rahasia kita ya,” bisik Dita sambil mencium dada Zainul.
“Iya Bu. Besok malam lagi?”
Dita tersenyum. “Besok malam Ibu tunggu kamu di ruang guru lagi. Bawa kondom kalau mau, tapi Ibu lebih suka tanpa… biar memek Ibu penuh sperma kamu setiap hari.”
Zainul tertawa. “Bu Dita… ternyata guru matematika suka ngentot sama penjaga.”
Dita mengelus kontol Zainul yang masih besar meski lemas. “Karena kontol penjaga ini yang terbaik. Besar, muda, kuat. Ibu sudah ketagihan.”
Mereka berciuman lama. Malam itu jadi awal hubungan gelap mereka. Setiap malam shift Zainul, Dita “lembur” di sekolah. Kadang di ruang guru, kadang di kelas kosong, kadang di gudang alat kebersihan—Zainul mengentot Dita di mana saja.
Beberapa hari kemudian, di kelas XII IPA 2, Dita mengajar seperti biasa. Tapi setiap melihat Zainul lewat jendela membawa sapu, memeknya langsung basah mengingat kontol besar itu yang sudah mengisi dirinya berulang kali.
“Anak-anak, hari ini kita belajar integral,” kata Dita sambil tersenyum dalam hati. Tapi di pikirannya: “Malam nanti integral kontol Zainul di memekku lagi.”
Sementara Zainul di luar, menyapu sambil berbisik sendiri. “Bu Dita… malam ini saya akan ngentot Bu sampai Bu lupa nama suami Bu.”
5672Please respect copyright.PENANA5fSHrmgsuG


