Bu Ani, seorang janda berusia 35 tahun, tinggal sendirian di rumah mewah dua lantai di pinggiran Surabaya. Suaminya meninggal tiga tahun lalu karena serangan jantung, meninggalkan dia dengan dua anak yang sudah kuliah di Jakarta dan harta yang cukup untuk hidup nyaman. Tubuh Bu Ani masih sangat menggoda meski sudah tidak muda lagi: payudara besar ukuran 36D yang masih kencang dan berat, pinggul lebar, pantat bulat montok yang bergoyang lembut setiap kali dia berjalan, serta kulit putih mulus yang terawat dengan baik. Rambut hitamnya panjang sebahu, sering dibiarkan tergerai di malam hari.
Riski, pembantunya yang berusia 27 tahun, sudah bekerja di rumah itu hampir satu setengah tahun. Tubuhnya kekar, otot lengan dan dada menonjol karena sering mengangkat barang berat dan membersihkan halaman. Kulitnya sawo matang gelap, rahang tegas, dan matanya selalu menyimpan nafsu yang tertahan setiap kali melihat majikannya.
Bu Ani sering tidak sadar bahwa penampilannya di rumah sangat menggoda Riski. Di malam hari, dia biasa hanya memakai daster tipis tanpa bra, atau kaos longgar yang memperlihatkan lekuk payudaranya yang besar. Kadang celana pendek ketat yang membuat pantatnya terlihat bulat sempurna. Riski selalu diam-diam menatap dari kejauhan, kontolnya sering mengeras di balik celana setiap melihat majikannya membungkuk membersihkan meja atau berjalan di koridor.
Malam itu hujan deras sekali. Listrik padam total karena badai. Rumah besar itu gelap gulita, hanya ada cahaya samar dari lilin kecil yang Bu Ani nyalakan di kamar utamanya.
Bu Ani sudah tidur lelap di ranjang king size-nya. Dia hanya memakai kaos oblong longgar milik almarhum suaminya dan celana dalam hitam tipis berenda. Kaosnya naik sampai pinggang, memperlihatkan pantat bulatnya yang putih mulus. Payudaranya yang besar terlihat menggantung berat di balik kain tipis, putingnya samar terlihat menonjol.
Riski yang tidur di kamar pembantu di belakang rumah tidak bisa memejamkan mata. Nafsunya sudah memuncak selama berbulan-bulan. Malam ini, dengan listrik padam dan hujan deras yang menutupi semua suara, dia merasa ini adalah kesempatan.
Dengan langkah pelan dan hati-hati, Riski berjalan menyusuri koridor gelap menuju kamar majikannya. Pintu kamar Bu Ani tidak dikunci rapat. Dia mendorong pelan, dan pintu terbuka tanpa suara.
Di bawah cahaya lilin yang redup, Riski melihat pemandangan yang langsung membuat kontolnya tegang keras. Bu Ani tidur miring, pantatnya menghadap ke arah pintu. Celana dalamnya sedikit melorot, memperlihatkan celah memeknya yang rapat dan mulus.
Riski mendekat perlahan. Nafasnya memburu. Tangan kasarnya yang besar langsung meraih payudara kiri Bu Ani dari luar kaos, meremasnya kuat dan penuh nafsu.
Bu Ani tersentak bangun dengan kaget. “Hah?! Riski?! Apa yang kamu lakukan?! Lepaskan tanganmu!!”
Dia langsung berusaha bangkit dan mendorong Riski, tapi tubuh Riski jauh lebih besar dan kuat. Dengan satu gerakan cepat, Riski menindih tubuh Bu Ani sepenuhnya, menekan kedua tangannya ke atas kepala ranjang dengan satu tangan kekarnya.
“Maaf Bu Ani... tapi saya sudah tidak tahan lagi,” desis Riski dengan suara parau penuh nafsu. “Setiap hari Bu Ani godain saya dengan tubuh seksi ini... daster tipis, payudara besar bergoyang-goyang... malam ini saya mau ambil hak saya.”
Bu Ani panik setengah mati, tubuhnya meronta hebat. “Riski! Lepaskan aku! Ini gila! Kamu mau masuk penjara?! Aku teriak ya!! Tolong!!”
Tapi suaranya tertelan oleh deru hujan deras di luar. Riski hanya tersenyum sinis. Tangannya yang bebas langsung menyobek kaos Bu Ani dari atas hingga bawah dengan kasar. Krekkk! Kaos robek total, memperlihatkan dua payudara besar yang putih mulus dan montok, bergoyang-goyang bebas. Puting cokelat mudanya sudah mengeras karena udara dingin dan ketakutan.
Riski langsung menunduk rakus. Mulutnya menyedot puting kiri Bu Ani dengan kuat, lidahnya berputar-putar dan mengisap seperti bayi kelaparan. Tangannya meremas payudara kanan dengan kasar, jari-jarinya mencengkeram daging lembut itu hingga meninggalkan bekas merah.
“Aaaahh! Sakit... Riski... jangan... lepaskan... aku mohon...” isak Bu Ani, air mata mengalir deras di pipinya.
Riski tidak peduli. Dia pindah ke payudara satunya, menggigit putingnya pelan sambil menghisap lebih dalam. Tangannya turun ke bawah, merobek celana dalam tipis Bu Ani hingga robek total dan terlempar ke lantai.
Jari-jari kasar Riski langsung menyentuh memek Bu Ani yang sudah agak basah meski dia menolak keras. Dua jarinya mengusap celah memek yang hangat, lalu memasukkan satu jari ke dalamnya.
“Wah... memek Bu Ani sudah basah ternyata. Padahal Bu bilang tidak mau...” ejek Riski sambil tertawa kecil.
“Tidak! Itu bohong! Keluarkan jari kamu! Aku tidak mau!!” jerit Bu Ani sambil meronta.
Riski menarik jarinya, lalu membuka celana pendeknya sendiri. Kontolnya yang sudah sangat tegang melompat keluar. Kontolnya besar dan panjang, hampir 19 cm, urat-urat tebal menonjol, kepalanya mengkilap oleh precum yang banyak.
Dengan satu tangan masih menahan kedua lengan Bu Ani, Riski membuka lebar paha mulus majikannya. Dia menggesek-gesekkan kepala kontolnya yang besar di celah memek Bu Ani yang licin.
“Riski... jangan masukkan... aku belum pernah sama orang lain sejak suami meninggal... please... aku takut...” isak Bu Ani dengan suara gemetar.
Riski tidak menjawab. Dia mendorong pinggulnya kuat sekali.
Plokkk!!
Kontolnya masuk separuh dengan kasar, meregangkan dinding vagina Bu Ani yang sudah lama tidak disentuh.
“Aaaahhhh!!! Sakittt!! Keluarkan!! Tolong!!” jerit Bu Ani kesakitan, tubuhnya mengejang.
Riski terus mendorong hingga pangkal. Kontolnya tenggelam sepenuhnya di dalam memek hangat dan sempit itu. Dia mulai memompa dengan ritme lambat tapi dalam, keluar-masuk sambil menikmati sensasi dinding memek yang mencengkeram kontolnya.
Payudara besar Bu Ani bergoyang hebat setiap kali Riski menghantam. Riski menunduk lagi, menghisap dan menggigit putingnya bergantian sambil tangannya meremas pantat bulat majikannya dengan kasar.
Semakin lama, isakan Bu Ani mulai berubah. Desahan kecil yang tercekat keluar dari mulutnya tanpa sadar.
“Ahh... uh... pelan Riski... ahh... sakit... tapi... ahhh...”
Riski tersenyum menang. Dia melepaskan tangan Bu Ani dan langsung memeluk pinggangnya erat. Dengan kekuatan penuh, dia mengangkat pantat Bu Ani sedikit, membuat posisi lebih dalam. Pompaannya semakin cepat dan ganas, suara “plok plok plok plok” memenuhi kamar yang gelap.
Bu Ani mencengkeram sprei dengan kuat, kepalanya mendongak, mulutnya terbuka lebar. Memeknya semakin banjir, cairan kental membasahi kontol Riski dan selangkangan mereka.
Riski menambah kecepatan. Dia memompa seperti binatang, menghantam serviks Bu Ani berulang kali.
“Aaaahhh... Riski... aku... aku mau keluar... ya Tuhan... pelan... ahhh!!”
Tubuh Bu Ani mengejang hebat. Memeknya berkedut-kedut kuat, mencengkeram kontol Riski seperti ingin memerahnya. Dia orgasme pertama kali setelah bertahun-tahun, cairannya menyembur keluar (squirting) membasahi perut Riski.
Riski tidak tahan lagi. Dengan beberapa hentakan terakhir yang sangat dalam dan kuat, dia mengerang keras di telinga Bu Ani.
“Aaaarrrghhh!!! Ambil semuanya Bu!!”
Sperma panasnya menyembur deras di dalam rahim Bu Ani, menyembur berkali-kali hingga memenuhi memeknya sampai penuh. Sebagian sperma kental meluber keluar dari celah memek yang masih tertancap kontol Riski.
Setelah selesai, Riski masih menindih tubuh Bu Ani yang lemas berkeringat. Kontolnya masih setengah tegang di dalam memek yang berdenyut-denyut lemah.
Bu Ani hanya bisa terengah-engah, air mata masih mengalir, tapi matanya sudah berkabut kenikmatan yang tidak bisa dia pungkiri.
Riski mencium leher Bu Ani dalam-dalam, lalu berbisik dengan suara dingin:
“Dari malam ini, setiap hari dan setiap malam... Bu Ani harus layanin saya. Di kamar, di dapur, di kamar mandi... di mana saja saya mau. Kalau Bu Ani menolak... saya akan rekam video ini dan sebarkan ke semua tetangga dan anak-anak Bu.”
Bu Ani hanya diam lemas, tubuhnya masih gemetar karena orgasme tadi. Dia tahu hidupnya sudah berubah selamanya.
Malam hujan itu baru permulaan. Riski telah menguasai tubuh montok janda Ani sepenuhnya, dan dia berniat menikmatinya setiap saat.
Pagi harinya, sinar matahari sudah menyusup masuk melalui jendela kamar. Bu Ani terbangun dengan tubuh pegal dan lengket. Memeknya terasa perih dan masih basah oleh sisa sperma Riski yang mengering di paha dalamnya. Payudaranya penuh bekas gigitan dan remasan merah. Dia mencoba bangun, tapi langsung teringat kejadian semalam. Air matanya mengalir lagi.
Dia buru-buru mandi, memakai daster rumah tipis berwarna merah muda yang biasa dipakainya sehari-hari. Tanpa bra, tanpa celana dalam, karena celana dalamnya robek semalam. Dia berharap Riski masih tidur dan kejadian semalam hanya mimpi buruk.
Tapi saat Bu Ani masuk ke dapur untuk membuat sarapan, Riski sudah ada di sana. Dia duduk di kursi meja makan sambil memegang ponsel, tersenyum lebar melihat majikannya.
“Pagi, Bu Ani... tidur nyenyak setelah saya kasih ‘obat’ semalam?” tanya Riski dengan nada genit dan sombong.
Bu Ani menunduk, suaranya gemetar. “Riski... kemarin itu... cukup ya. Saya mohon, lupakan saja. Saya akan kasih kamu uang lebih, tapi jangan ulangi lagi...”
Riski berdiri, mendekati Bu Ani dari belakang. Tubuh kekarnya menempel rapat. Tangan kanannya langsung merayap ke depan, meremas payudara kiri Bu Ani dari luar daster tipis.
“Uang? Saya tidak butuh uang, Bu. Yang saya butuh ini...” tangannya meremas lebih kuat, jari-jarinya mencubit puting yang langsung mengeras. “Tubuh Bu Ani yang montok ini.”
Bu Ani mencoba melepaskan diri, tapi Riski memeluk pinggangnya erat dari belakang. “Riski... jangan di sini... ada jendela... tetangga bisa lihat...”
Riski tidak peduli. Dia menyibakkan daster Bu Ani ke atas hingga pinggang, memperlihatkan pantat bulat putihnya yang telanjang. Kontolnya sudah tegang di balik celana pendek. Dia menurunkan celananya, mengeluarkan kontol besar yang masih agak bengkak dari semalam.
Tanpa banyak bicara, Riski mendorong Bu Ani membungkuk di atas meja dapur. Payudaranya yang besar tertekan ke permukaan meja marmer yang dingin. Riski menggesek kontolnya di celah pantat Bu Ani, lalu menemukan memeknya yang masih agak basah.
“Riski... jangan... aku masih sakit dari semalam...” isak Bu Ani.
Tapi Riski sudah mendorong masuk. Plokkk! Kontolnya masuk separuh dengan mudah karena sisa sperma semalam masih melumasi. Bu Ani menggigit bibirnya kuat, menahan erangan.
Riski mulai memompa pelan tapi dalam di dapur. Setiap hentakan membuat payudara Bu Ani bergoyang dan tertekan ke meja. Tangan Riski meraih rambut Bu Ani dari belakang, menariknya sedikit agar kepalanya mendongak.
“Bilang... ‘Riski, memek saya milik kamu’...” perintah Riski sambil menghantam lebih cepat.
Bu Ani menggeleng, tapi Riski menarik rambutnya lebih kuat. Akhirnya dengan suara tercekat dia berkata, “Riski... memek saya... milik kamu... ahh...”
Riski tersenyum puas. Dia mempercepat pompaannya. Suara “plok plok plok” memenuhi dapur. Bu Ani mencoba menahan desahan, tapi semakin lama semakin sulit. Memeknya mulai banjir lagi, cairannya menetes ke lantai dapur.
“Aaahh... Riski... pelan... aku mau... ahhh!!”
Bu Ani orgasme di dapur, tubuhnya mengejang, memeknya mencengkeram kontol Riski kuat-kuat. Riski tidak tahan lama. Dia mendorong dalam-dalam dan menyemburkan sperma panasnya lagi ke dalam rahim Bu Ani. Beberapa tetes sperma kental menetes ke lantai saat Riski menarik kontolnya keluar.
“Sarapan dulu Bu... nanti siang kita lanjut di ruang tamu,” kata Riski sambil menepuk pantat Bu Ani keras sebelum pergi meninggalkan dapur.
Sepanjang hari Bu Ani gelisah. Dia membersihkan rumah dengan tangan gemetar, memeknya masih terasa penuh dan lengket. Sore harinya, Riski memanggilnya ke ruang tamu.
“Bu Ani, kemari sebentar.”
Bu Ani masuk ke ruang tamu dengan ragu. Riski sudah duduk di sofa panjang, celananya sudah diturunkan, kontolnya tegak berdiri keras.
“Riski... cukup ya... aku capek...” kata Bu Ani pelan.
Riski menarik tangan Bu Ani hingga majikannya berdiri di depannya. “Buka dastermu. Sekarang.”
Bu Ani menangis pelan tapi menurut. Dia membuka kancing daster satu per satu hingga kain tipis itu jatuh ke lantai. Tubuh telanjangnya yang montok terpapar di ruang tamu yang terang karena lampu menyala.
Riski memandanginya dari atas ke bawah dengan lapar. “Bagus. Sekarang naik ke pangkuan saya. Duduk di kontol saya.”
Bu Ani menggeleng lemah. “Riski... jangan di sini... sofa ini...”
Riski menarik pinggang Bu Ani kasar hingga dia terpaksa duduk di pangkuan Riski. Kontol besar itu langsung menggesek memeknya. Riski memegang kontolnya sendiri, mengarahkan ke lubang Bu Ani, lalu menarik pinggul majikannya ke bawah dengan kuat.
Pluuukkk!!
Kontolnya masuk sepenuhnya dalam satu hantaman. Bu Ani menjerit kecil, tubuhnya melengkung. Riski langsung memeluk pinggangnya erat, memaksanya naik-turun di atas kontolnya.
“Gerak sendiri, Bu. Goyang pantatmu yang montok itu,” perintah Riski sambil mencubit kedua puting Bu Ani bergantian.
Bu Ani terpaksa menggerakkan pinggulnya naik-turun. Payudaranya yang besar bergoyang-goyang hebat di depan wajah Riski. Riski menangkap salah satu payudara dengan mulutnya, menghisap dan menggigit putingnya rakus sambil tangannya meremas pantat Bu Ani, sesekali menamparnya pelan.
Semakin lama, Bu Ani tidak bisa menahan lagi. Desahannya semakin keras.
“Ahh... ahh... Riski... dalam sekali... aaahh...”
Riski ikut mendorong pinggulnya ke atas, menghantam dari bawah dengan ganas. Suara benturan tubuh mereka memenuhi ruang tamu. Bu Ani memeluk leher Riski tanpa sadar, tubuhnya naik-turun semakin cepat.
Riski tiba-tiba mengangkat tubuh Bu Ani, membalik posisinya sehingga Bu Ani berlutut di sofa, pantatnya menonjol ke belakang. Riski berdiri di belakang dan langsung menusuk memeknya dari belakang dengan posisi doggy style di sofa ruang tamu.
“Plok! Plok! Plok! Plok!”
Pompaannya sangat kasar dan cepat. Tangan Riski menarik rambut Bu Ani seperti tali kekang, sementara tangan satunya meremas payudara yang bergoyang liar.
“Bilang kamu suka diperkosa Riski... bilang kamu pelacur saya sekarang!” bentak Riski sambil menghantam lebih dalam.
Bu Ani sudah hilang kendali. “Aku... aku suka... ahh... aku pelacur Riski... aaahhh!! Aku milik Riski!!”
Dia orgasme lagi dengan hebat, memeknya menyembur cairan bening ke sofa. Riski mengerang keras dan menyemburkan sperma panasnya untuk ketiga kalinya hari itu, memenuhi rahim Bu Ani hingga meluber deras.
Setelah selesai, Riski menarik kontolnya keluar. Sperma kental mengalir deras dari memek Bu Ani yang merah dan bengkak, menetes ke lantai ruang tamu.
Riski duduk kembali di sofa, menarik Bu Ani yang lemas ke pangkuannya. Dia mencium lehernya dan berbisik:
“Besok pagi saya mau Bu Ani layani saya di kamar mandi sambil mandi bareng. Malamnya di kamar tidur utama seharian. Mulai sekarang, setiap hari Bu Ani adalah milik saya. Mengerti?”
Bu Ani hanya mengangguk lemah, tubuhnya masih gemetar karena orgasme berulang. Dia tahu perlawanannya sudah sia-sia. Riski telah sepenuhnya menguasai tubuh dan kehidupannya.
ns216.73.216.204da2


