Bab 2: Frustasi yang Menyiksa
4479Please respect copyright.PENANAZ6Z3Ly8Cmi
Beberapa minggu setelah malam penuh gairah itu, suasana di rumah mewah mereka berubah drastis. Cahaya matahari sore menyusup melalui tirai tipis di ruang makan, menerangi meja kayu mahoni yang sudah Intan siapkan dengan makanan kesukaan Dimas: rendang daging empuk, sambal terasi, dan sayur asem segar. Aroma rempah-rempah yang harum memenuhi udara, tapi wajah Dimas yang duduk di ujung meja terlihat muram. Matanya yang biasanya penuh senyum menawan kini redup, bahunya agak membungkuk seperti membawa beban berat.
4479Please respect copyright.PENANAACRLcGhwQZ
Intan berjalan mendekat dengan langkah ringan, tubuh langsingnya yang tinggi 166 cm masih mengenakan apron rumah tangga sederhana di atas gaun rumah tipis. Payudara besar F cup-nya sedikit bergoyang saat ia membungkuk meletakkan piring. Kulit putih mulusnya terlihat segar setelah mandi sore, rambut hitam panjangnya diikat ponytail longgar. Mata cokelatnya memandang suaminya dengan penuh kasih sayang dan kekhawatiran.
4479Please respect copyright.PENANATWTobNPgQi
“Mas, makan dulu ya. Aku masak rendang spesial hari ini, seperti yang Mas suka,” kata Intan dengan suara lembut, berusaha tersenyum manis seperti biasa. Ia duduk di sebelah Dimas, tangannya menyentuh lengan suaminya pelan, merasakan otot yang sedikit tegang.
4479Please respect copyright.PENANAk0koOveaox
Dimas menghela napas panjang, garpu di tangannya hanya menusuk-nusuk daging tanpa nafsu makan. “Terima kasih, Intan. Kamu selalu baik sekali. Tapi… aku tidak lapar,” jawabnya pelan, suaranya terdengar lelah. Pikirannya masih terbayang hasil pemeriksaan dokter kemarin. Kata-kata dokter itu seperti palu yang menghantam hatinya berulang: “Kualitas sperma Anda buruk, Pak Dimas. Kemungkinan besar karena pola hidup Anda yang terlalu banyak duduk di kantor selama bertahun-tahun, kurang gerak, dan stres kerja yang tinggi. Ini yang membuat sulit punya anak.”
4479Please respect copyright.PENANApT5Gka9f0e
Ingatan itu membuat dada Dimas sesak. Sudah lima tahun mereka menikah, selalu berusaha, selalu berdoa, tapi Tuhan belum memberikan anak. Dan sekarang ternyata masalahnya ada padanya. Bukan Intan yang mandul, tapi dirinya yang gagal sebagai suami. Rasa frustrasi itu seperti racun yang merayap pelan, membuatnya marah pada diri sendiri.
4479Please respect copyright.PENANAni2gOldw1t
Intan melihat perubahan itu. Ia menggenggam tangan Dimas lebih erat, jari-jarinya yang halus terasa hangat. “Mas… dokter bilang masih bisa diperbaiki kan? Dengan olahraga, istirahat lebih banyak, dan mungkin suplemen. Kita bisa coba bersama. Aku akan bantu Mas setiap hari,” ujarnya dengan nada penurut, mata cokelatnya berkaca-kaca tapi berusaha kuat. Ia tidak mau suaminya semakin terpuruk. Sebagai istri yang polos dan selalu patuh, Intan merasa ini tanggung jawabnya juga untuk menghibur Dimas.
4479Please respect copyright.PENANAwdW1nl8mO8
Dimas tersenyum tipis, tapi senyum itu tidak sampai ke matanya. “Kamu baik sekali, sayang. Tapi aku merasa gagal. Lima tahun… dan masalahnya ada di aku. Bagaimana aku bisa memberi kamu anak seperti yang kita impikan? Kamu selalu bilang ingin jadi ibu, punya bayi kecil yang mirip kita berdua.” Suaranya pecah sedikit di akhir kalimat. Emosinya campur aduk: malu yang dalam, marah pada tubuhnya sendiri, dan cinta yang masih besar pada Intan.
4479Please respect copyright.PENANAIL3SfWcuqT
Malam harinya, Intan berusaha lebih keras. Ia mandi lama, mengoleskan lotion wangi di kulit putihnya hingga mengkilap lembut. Ia memilih pakaian seksi yang jarang dipakai: lingerie hitam tipis berenda yang menonjolkan payudara besarnya, bokong bulat besarnya terlihat menggoda di balik kain transparan. puting pink-nya samar terlihat di balik renda. Ia masuk ke kamar tidur dengan langkah pelan, aroma vanila dari tubuhnya menyebar.
4479Please respect copyright.PENANAJO1vWmaAfP
Dimas sudah berbaring di tempat tidur, memandang langit-langit. Saat melihat Intan, matanya melebar sebentar, tapi cepat redup lagi. “Intan… kamu cantik sekali malam ini,” katanya, tapi nada suaranya datar, tidak ada api gairah seperti biasanya.
4479Please respect copyright.PENANAqg8wPLZAhP
Intan naik ke tempat tidur, merangkak mendekat seperti kucing manja. Ia duduk di pangkuan Dimas, payudara besarnya menekan dada suaminya. Tangan halusnya mengelus dada Dimas, turun ke perut, lalu lebih bawah. Ia merasakan kontol suaminya di balik celana dalam, tapi hanya lunak, tidak ada tanda ketegangan. “Mas… biarkan aku bantu rileks. Kita bisa pelan-pelan seperti dulu,” bisik Intan erotis, bibirnya mendekat ke telinga Dimas, napas hangatnya menyentuh kulit.
4479Please respect copyright.PENANAly0PsTeBN1
Ia mencium leher Dimas, lidahnya menjilat pelan, tangannya meremas lembut di bagian bawah. Tapi kontol Dimas tetap tidak bereaksi. Intan terus berusaha, menggosok dengan telapak tangan, menciumi dada, bahkan menunduk dan mencoba merangsang dengan mulutnya. Suara isapan pelan terdengar, tapi tetap tidak ada perubahan. Aroma tubuh Intan yang menggoda dan kelembutan bibirnya seharusnya cukup, tapi stres telah mengambil alih.
4479Please respect copyright.PENANAPd63akfjlf
Dimas menghela napas berat, tangannya memegang bahu Intan pelan. “Cukup, sayang. Aku… aku tidak bisa. kontolku tidak mau tegang. Rasanya seperti tubuhku menolakku sendiri.” Suaranya penuh kepahitan. Ia duduk, memeluk Intan tapi pelukan itu terasa dingin, penuh rasa bersalah. “Maafkan aku. Kamu istri terbaik, selalu penurut, selalu cantik. Tapi sekarang aku bahkan tidak bisa memuaskanmu. Bagaimana kita bisa punya anak kalau aku seperti ini?”
4479Please respect copyright.PENANAK0bLrpIX2L
Intan merasa hatinya sakit melihat suaminya seperti itu. Air mata menggenang di mata cokelatnya, tapi ia cepat menghapusnya. Ia tidak mau Dimas semakin sedih. “Mas… jangan bilang begitu. Aku mencintai Mas apa adanya. Kita bisa cari solusi lain. Aku tidak peduli kalau harus menunggu. Yang penting kita bersama,” katanya dengan suara gemetar, tubuhnya masih menempel erat pada Dimas, merasakan kehangatan kulit suaminya meski gairah tidak ada.
4479Please respect copyright.PENANAOOtq4Z4Orq
Tapi malam itu mereka hanya berpelukan tanpa seks. Intan berbaring di dada Dimas, mendengar detak jantung yang tidak tenang. Aroma keringat ringan dari tubuh Dimas bercampur dengan parfumnya sendiri. Ia merasa vaginanya masih agak basah karena usahanya tadi, tapi tidak ada kepuasan. Rasa ingin membantu suaminya semakin kuat. Intan polos, tapi ia tahu Dimas sedang hancur di dalam. Sebagai istri penurut, ia mulai berpikir keras mencari cara agar mimpi mereka punya anak terwujud, bahkan jika itu berarti mengorbankan sesuatu.
4479Please respect copyright.PENANAblfDUVx1mk
Hari-hari berikutnya berlalu dengan suasana tegang. Dimas semakin sering diam di ruang kerjanya, bekerja lebih keras untuk melupakan frustrasi. Intan tetap masak, membersihkan rumah, dan mencoba mengenakan pakaian seksi setiap malam, tapi hasilnya sama: kontol Dimas tetap lunak. Setiap kali Intan menyentuh, meremas, atau mencoba merangsang dengan payudara besarnya yang lembut menekan tubuh suaminya, Dimas hanya menggeleng lemah. “Maaf, Intan… stres ini terlalu berat.”
4479Please respect copyright.PENANAqbqdaRpG2w
Emosi Intan semakin campur aduk. Ia sedih melihat suaminya yang dulu romantis dan pekerja keras kini seperti bayangan dirinya sendiri. Tapi di balik kesedihan itu, ada tekad kuat. Ia tidak mau terus melihat Dimas terpuruk. Suatu malam, saat Dimas sudah tidur, Intan diam-diam membuka laptop di ruang tamu. Layar menyala redup, jarinya mengetik kata kunci “komunitas pembuahan” di mesin pencari. Ia menemukan forum rahasia, cerita-cerita dari pasangan yang berhasil hamil meski suami memiliki masalah serupa. Hatinya berdegup kencang. Apakah ini jalan keluar?
4479Please respect copyright.PENANAw3gsmwcrXm
Keesokan harinya, setelah Dimas pulang kerja dengan wajah lelah, Intan duduk di sebelahnya di sofa. Tangan mereka saling genggam. “Mas… aku menemukan sesuatu. Sebuah komunitas online yang membantu pasangan seperti kita. Mereka punya program khusus untuk membuahi istri agar hamil. Rahasianya dijaga ketat. Mungkin… ini bisa jadi solusi. Kita bisa punya anak, Mas tetap jadi ayahnya, dan aku bisa melahirkan seperti mimpi kita.”
4479Please respect copyright.PENANAd0AfuUBSk5
Dimas memandang istrinya lama. Frustrasi yang sudah lama menumpuk membuatnya ragu tapi juga lega ada harapan. “Intan… kamu serius? Itu berarti… orang lain yang…” Ia tidak melanjutkan, tapi bayangan itu sudah muncul di pikirannya. Cemburu langsung menusuk, tapi di sisi lain, mimpi memiliki anak bersama Intan terlalu kuat.
4479Please respect copyright.PENANAt3wdAUfU3J
Intan mengangguk pelan, pipinya memerah. “Aku penurut pada Mas. Kalau Mas setuju, aku siap. Aku tidak mau lihat Mas terus stress seperti ini. Kita coba hubungi mereka besok ya?”
4479Please respect copyright.PENANAl9gZ5TPJev
Dimas menarik Intan ke pelukannya, mencium keningnya dalam-dalam. Emosinya berkecamuk: cinta besar pada istri yang selalu lucu dan setia ini, rasa malu karena dirinya yang lemah, dan harapan baru yang muncul. “Kita coba, sayang. Demi kita berdua.”
4479Please respect copyright.PENANA3G8kssMWYh
Malam itu mereka tidur berpelukan lagi, tapi pikiran Intan sudah melayang ke masa depan yang tidak terduga. Tubuhnya yang polos dan penurut mungkin akan diuji, tapi demi suaminya yang ia cintai, ia siap menghadapi apa pun. Aroma tubuh Dimas yang familiar terasa menenangkan, meski badai baru akan segera datang.
4479Please respect copyright.PENANA8U9nay3GzU


