Mentari menyembul di balik dedaunan. Burung-burung pun berkicau, seperti senang menerima sisa embun fajar yang tertumpah.
Sebuah rumah di komplek perumnas pun nggak luput dari pantul manis sinar sang surya. Kilatnya menembus kamar rumah itu, dan bikin seorang pemuda mengerjap reflek mencari sumber pembuka kelopak mata dia kini.
"Jam berapa nih?" walau masih mager, tuh cowok tetap menggeliat meraih jam weker di meja samping kasur.
"HAAAAA? HAMPIR JAM TUJUH?" nggak ada angin nggak ada hujan, pria ceking tersebut tiba-tiba meraung kayak kucing kejepit pagar kelurahan.
"Astaga, aku bisa telat nih."
Ia pun melesat menenteng handuk, tapi saat tiba di depan kamar mandi...
"Sudah tau luka, di dalam dadaku, sengaja kau siram, dengan air zam-zam*)." suara seorang perempuan sangat cempreng terdengar dari balik pintu luar.
"Reni, buruan dong! Nyanyi terus, mana fales, salah lirik lagi."
"Dih, suka-suka Reni dong, Bang," cewek bernama Reni itu malah meledek dari dalam kamar mandi. "Lagian siapa suruh Bang Bara kesiangan, rasain sekarang Reni serobot, memang enak?"
"Aduh, Ren, Abang serius, Abang dikejar waktu nih, bisa telat kalau kamu lama." nada panik jelas banget dari pria bernama Bara tersebut.
Kamar mandi pun terkuak, mengiringi seorang gadis mungil dengan handuk melingkar di badan dan kepalanya.
"Tuh, pakai sepuas Abang." Reni menyahut walau sedikit bawa muka masam di depan Bara.
"Makanya jangan keasyikan main game, tidur di atas jam 12 terus sih, gimana mau bangun tepat waktu."
Bara mengabaikan, dan langsung move on demi mengejar sisa waktu yang ada. Tapi begitu dia di dalam...
"A****g, Reni, kamu sarapan nasi goreng pete lagi ya? Bau banget nih."
"Bara, mulutmu!" suara perempuan lain tiba-tiba terdengar dengan nada cukup garang. "Harus berapa kali sih Ibu tegur biar kamu berhenti toxic?"
"Kan ada kapur barus di kamar mandi, tabur aja itu, biar nggak bau."
Bara masih kesal, tapi kini nggak berkutik lantaran ibunya mulai turun tangan.
Sementara di sudut lain, seorang bapak paruh baya telah rapi dengan seragam guru biru yang disandangnya. Beliau tampak tenang, walau keributan itu jelas menembus kamarnya.
"Ah, dasar anak-anak."
======
Meski harus melewati drama pagi lebih dulu, Bara tepat waktu juga kala tiba di tempat ia kerja. Sebuah unit pemadam kebakaran kota, yang kurang lebih udah dua tahun dia jalani selepas lulus diklat sebelumnya.
Seorang perempuan gemuk pun Bara jumpai begitu dirinya masuk area kantor. Pria itu pun berinisiatif menyapa, sambil menjaga kakinya agar terus merapat ke arah tuh cewek. "Pagi, Mbak Idah."
"Hm, pagi." sambil asyik ngemil, wanita bernama Idah itu menjawab ala kadar basa-basinya Bara barusan.
"Udah sarapan, Mbak?"
"Aman."
"Kalau pacar, aman juga?" tanya Bara usil, yang segera memancing Idah melempar kacang yang sedang ia kupas.
"Diam, nggak penting tuh."
Bara pun naik tangga sambil ngikik, dan masuk satu ruangan besar yang telah diisi dua orang anak muda seusianya.
"Jono, Fandi, mamen." sapa Bara, seraya gimme five pada dua anak muda tersebut.
"Kepriben, Bro, kabarmu?" dengan logat ngapak kental, lelaki ber-name tag Jono menyambut hangat kehadiran Bara.
"Aman kah kondisi?"
"Moga aja, Bro, tau sendiri kan, sekarang damkar mulai dapat aduan aneh-aneh." giliran Fandi menyahut, walau agak diiringi curcol tipis-tipis.
"Iya juga ya, Fan, kayak 2 hari lalu tuh, kita disuruh copot bearing di otong anak SMP, orang gila mana yang segitu gabut pasang bearing di situ?"
"Ya tuh bocah, Jon, pakai tanya." sambut Bara cepat, dan berujung tawa dari trio pembasmi api tersebut.
"Oh, udah kumpul ternyata." seorang pria paruh baya tau-tau menghampiri dengan atribut mirip mereka bertiga.
"Eh, Bang Erwin," sahut Bara, sembari menyesap kopi yang baru ia seduh beberapa detik tadi.
"Ada job, Bang?"
"Iya, kita ke gedung merdeka sekarang, ada laporan seekor kucing kecil nyangkut di plafon itu gedung. Kita harus amankan segera!" tandas lelaki bernama Erwin itu, lugas menjawab pertanyaan Fandi.
"Terus kopi saya?"
"Bawa aja, Bar, kalau kamu mau, yuk!" tanpa basa-basi, Bang Erwin kasih ide ngaco pada Bara yang masih sayang tuh kopi.
Bara jadi nggak punya pilihan, dan harus mengekor menyusul rekan-rekannya yang udah ke garasi.
======
Gedung Merdeka tampak sangat gagah dari luar. Dibangun dengan desain serba biru, gedung 7 lantai itu kental suasana sibuk seiring orang-orang keluar masuk silih berganti.
Tim damkar sendiri hanya membawa pick up sederhana agar nggak terlalu menarik perhatian. Bara, Jono, serta Fandi pun, bergegas naik diekori Bang Erwin begitu turun dari mobil.
"Jon, siapin tali! Dan kamu, Fan, nanti pegang jaring berdua saya!" Bang Erwin menegas instruksi sembari naik tangga bareng anak buahnya.
"Terus saya, Bang?" Bara yang berjalan paling depan, kontan bertanya jobdesk yang harus dia lakukan.
"Ya manjat, Bar, kayak biasa."
"Ah, perasaan saya terus yang manjat."
"Makanya, Bar, kan udah kubilang, gym, fitness." Jono coba menangkal biar protes Bara berhenti.
"Badan kurus gitu jelas cocok buat manjat doang, Bar, nggak ada lain lagi."
Mereka pun tiba di lantai tiga disambut sejumlah pegawai yang menatap plafon. Rona mereka rata-rata cemas, mendengar suara jeritan kucing dari balik triplek atas tersebut.
Tugas pun dieksekusi usai tim damkar menyepakati posisi si kucing. Bermodal helm senter dari Fandi, Bara pun mulai naik mencari titik persis kucing itu terjepit.
"Di situ tho." gumam Bara begitu ketemu target yang harus dia selamatkan.
Bara pun mengendap perlahan sambil meraba-raba tulang plafon itu. Tuh cowok terus menghampiri sang kucing, hingga dalam sepuluh menit...
"Tarik, Jon! Aman."
Jono pun menarik perlahan tali, diikuti Fandi dan Bang Erwin dengan jaring di titik jatuh Bara versi mereka.
Bara sendiri terus merangkak sembari memeluk si kucing yang sesekali menjerit. Tapi entah karena buru-buru atau kelewat semangat, satu wuwungan tiba-tiba jebol dan bikin tuh cowok hilang keseimbangan saking panik melepaskan diri. "Huwaaaaaa..."
Bara pun terjun bebas dan bikin seisi gedung histeris melihat. Beruntung pengalaman mereka bicara, hingga Bang Erwin dan Fandi pindah tempat gesit dan sukses menjangkau Bara walau juga ikut terpelanting seperti halnya tuh anak.
Seisi gedung auto kasih pertolongan dan membantu bangkit trio damkar apes itu.
"Duh, Bara, perlu jatuh berapa kali sih, baru kamu mau pakai perhitungan pas kerja?" Bang Erwin tampak jengkel melihat Bara cengengesan usai bikin semuanya encok.
"Udah, Bang, nggak perlu dipanjangi, yang penting kan misi berhasil, kucing selamat, Bara juga selamat." Jono yang memapah Bang Erwin, seketika menenangkan agar perdebatan nggak sampai berlarut.
"Meong..." kucing di tangan Bara tau-tau merintih seakan lega tapi masih sakit.
"Ya udah, cedera apa aja tuh kucing?"
"Nggak banyak sih, Bang, cuma gores dikit di area leher sama kaki depannya."
"Kalo gitu bawa ke klinik hewan langganan kita! Biar saya hubungi istri saya di sana, luka tetap luka, harus dikasih ke ahlinya." seru Bang Erwin, sambil lantas menengok Jono yang masih ada di sampingnya.
"Jon, kandangin!"
Bara pun menyerahkan kucing ke Jono, dan langsung ambil alih kandang sebelum menyusul Bang Erwin keluar.
***
*) Takut Sengsara (Voc. Meggy Z. Cipt. H. Ukat S., 1987)365Please respect copyright.PENANA1Chg39jpW6


