Dalam kesunyian sebuah ruangan, takdir terukir oleh tangan yang tak terlihat. Kepolosan melangkah menuju perangkap yang tak terduga, seolah ditarik oleh benang takdir yang tak dapat dielakkan.
Waktu berlalu lambat saat Alex mengurung diri di kamar pribadinya. Sudah satu jam berlalu, namun pria itu tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Mila mengetuk-ngetukkan jarinya di meja dengan gelisah, menimbulkan suara yang berirama dengan detak jantungnya sendiri. Suasana di luar ruangan terasa bising dengan suara obrolan para karyawan, tetapi kantor Alex terasa begitu sunyi dan hampa.
“Kenapa Pak Alex lama sekali? Apa dia baik-baik saja?” Pikirnya, menatap nanar ke arah pintu kayu yang tertutup rapat. Berbagai pertanyaan berkecamuk di benaknya. Ia butuh bimbingan Alex untuk menyelesaikan beberapa tugas yang belum ia pahami. Namun Alex masih betah berdiam di kamar yang terletak satu ruangan dengan kantornya itu.
Mila menghela napas berat, bibirnya yang tersembunyi di balik cadar sedikit mengerucut. Awalnya ia memutuskan untuk menunggu dengan sabar. Namun jika terus begini, pekerjaannya akan terhambat. Jemarinya berhenti menari di atas keyboard, matanya sesekali melirik ke arah pintu kamar Alex. Keringat dingin mengalir di pelipisnya saat membayangkan apa yang sedang dilakukan atasannya di dalam sana. Bayangan kejadian tadi saat ia tak sengaja menyentuh kejantanan Alex yang besar kembali memenuhi pikirannya. Mila menggelengkan kepala, berusaha mengusir pikiran-pikiran kotor yang mulai menghantuinya. Sensasi sentuhan itu begitu aneh, sebuah perasaan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya, dan ia berusaha keras untuk mengenyahkannya.
“Tidak, Mila, jangan pikirkan itu. Fokus pada pekerjaan. Kamu di sini untuk bekerja, bukan untuk memikirkan hal-hal yang tidak pantas.” Batinnya, meremas erat kedua tangannya di pangkuan.
Ia memberanikan diri mengetuk pintu kamar Alex dengan ragu-ragu. Ketukan jarinya di pintu kayu terdengar pelan, nyaris tak terdengar.
"Permisi, Pak."
Hening. Tak ada jawaban dari dalam. Mila menelan ludah, memberanikan diri mengetuk sekali lagi, sedikit lebih keras.
"Pak."
Masih sunyi. Keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya. Ia mencoba untuk yang ketiga kalinya.
"Permisi, Pak."
Keheningan itu membuat Mila semakin gelisah. Tanpa sadar, tangannya meraih gagang pintu yang dingin dan memutarnya perlahan. Bunyi engsel pintu yang berderit pelan seolah menjadi satu-satunya suara di ruangan itu. Pintu terbuka, menampakkan isi kamar pribadi Alex yang remang.
Mila melangkah masuk dengan langkah ragu. Ia tidak memikirkan konsekuensi dari tindakannya memasuki ruang pribadi seseorang tanpa izin. Statusnya sebagai sekretaris baru Alex membuatnya merasa memiliki hak khusus untuk masuk ke ruangan ini, sebuah pemikiran yang naif.
“Apa aku melakukan kesalahan? Seharusnya aku tidak masuk.” Pikirnya, menimbang-nimbang antara keluar atau tetap di dalam. Jantungnya berdegup kencang saat menyadari kecerobohannya. Namun rasa penasaran mengalahkan akal sehatnya. Ia terus melangkah masuk, mengabaikan peringatan di benaknya bahwa tindakan ini bisa berakibat fatal.
Mila terpesona saat melangkah masuk ke dalam kamar pribadi Alex. Ruangan itu begitu sederhana namun memancarkan kesan elegan yang tak terbantahkan. Jemarinya menutup pintu dengan hati-hati, suara klik pintu yang menutup terdengar seperti suara gembok yang mengunci dirinya sendiri.
Kamar berukuran luas itu didominasi warna netral, putih bersih dan hitam elegan yang menenangkan. Ranjang king size dengan seprai putih dan bantal-bantal empuk tampak mengundang untuk direbahkan. Sebuah meja kecil dengan lampu baca terletak di sisinya. Di sudut ruangan, meja kerja besar dengan kursi ergonomis yang sesuai postur tubuh gagah Alex tertata rapi. TV layar datar terpasang di dinding dekat pintu. Sofa nyaman dan meja kopi yang lebar diletakkan strategis di bawah jendela besar yang menghadap jalan. Cahaya natural mengalir masuk melalui jendela, menciptakan suasana hangat yang menenangkan. Lampu kamar dan LED strip tersembunyi siap menciptakan nuansa romantis saat malam tiba. Mila kagum dan membayangkan Alex menghabiskan waktu sendirian di ruangan pribadi yang begitu nyaman ini.
Mila mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan, namun tak menemukan sosok Alex di mana pun. Yang ada hanyalah sebuah laptop yang membelakanginya, layarnya tersembunyi dari pandangan. Matanya tertuju pada beberapa lembar tisu bekas yang berserakan di lantai, sebuah pemandangan yang aneh.
Dengan inisiatif, ia membungkuk untuk memungut tisu-tisu kotor itu, rok gamisnya yang longgar berdesir lembut. Namun saat jemarinya menyentuh permukaan tisu, Mila merasakan sesuatu yang lengket dan kental. Cairan putih pekat membasahi jari-jarinya, membuat perutnya bergolak jijik. Dengan gerakan refleks, ia melemparkan tisu-tisu itu ke tempat sampah terdekat. Namun masih ada sisa cairan kental yang menggenang di lantai.
"Apakah tadi itu ingus?" gumam Mila polos, masih tidak menyadari cairan apa yang baru saja disentuhnya. "Tapi aku merasa Pak Alex tidak mengalami pilek. Dan mana mungkin juga ingus sebanyak itu."
Jantungnya berdegup kencang saat mendengar suara shower dari dalam kamar mandi.
"Oh, wajar saja. Ketika aku memanggil Pak Alex, dia tidak menyahut. Rupanya ia sedang di kamar mandi."
Dengan langkah ringan, Mila bergegas menuju ranjang king size milik Alex. Tangannya yang masih basah oleh cairan meraih laptop untuk dipindahkan ke meja samping tempat tidur. Cairan kental di jemarinya mulai mengering, meninggalkan sensasi lengket yang aneh. Mila masih terlalu polos untuk menyadari bahwa yang baru saja disentuhnya adalah cairan sperma Alex yang masih segar.
"Astaghfirullah," Mila terhenyak, matanya melebar melihat adegan vulgar yang terpampang di layar laptop. Sepasang insan sedang bercumbu dengan liar di atas ranjang, desahan mereka teredam karena video dalam keadaan mute. Ia segera memejamkan mata dan membalikkan badan. Wajahnya memerah membara di balik cadar hitamnya.
“Apa ini? Kenapa ada video seperti ini di laptop Pak Alex? Ini dosa, astaghfirullah!” Batinnya, merasa jijik dan malu.
Suara shower dari kamar mandi masih terdengar, menandakan Alex belum selesai membersihkan diri. Mila menelan ludah gugup, merasa bersalah telah mengintip privasi atasannya. Ia harus segera keluar dari kamar ini sebelum Alex selesai mandi. Dengan tangan gemetar, Mila berusaha meraih laptop untuk memindahkannya. Namun matanya tak bisa lepas dari adegan intim yang masih berputar di layar. Jari-jarinya mencoba menggerakkan kursor untuk menghentikan video tersebut.
"Astaghfirullah," napasnya tercekat melihat adegan panas yang terpampang—seorang pria menggagahi wanitanya dengan posisi misionaris. Desahan nikmat sang wanita yang teredam membuat pipi Mila memanas di balik cadarnya.
"Apa senikmat itu, hingga wajah wanita itu menikmatinya?" Mila bergumam tanpa sadar, suaranya nyaris tak terdengar. "Astaghfirullah. Kenapa malah aku memikirkan hal itu?"
Mila akhirnya berhasil menghentikan video tersebut. Tubuhnya bergetar hebat, campuran rasa malu dan penasaran memenuhi benaknya. Ia yang tak pernah melihat konten dewasa seumur hidupnya kini tak bisa mengenyahkan bayangan adegan tadi dari pikirannya.
Alex berdiri di belakang Mila, tubuh atletisnya hanya terbalut handuk putih di bagian bawah. Tetesan air dari rambutnya yang basah mengalir melewati dada bidang dan perutnya yang berotot. Matanya menatap tajam ke arah sekretarisnya yang sedang menghadap laptop.
“Kau sudah melihatnya, kan, gadis polos? Sekarang kau akan tahu apa yang kuinginkan.” Pikir Alex, menyeringai.
"Mila," suara bariton Alex yang dalam membuat tubuh Mila menegang. Jantungnya berdegup kencang menyadari kehadiran atasannya yang setengah telanjang. Aroma sabun yang mahal dan segar memenuhi indra penciumannya, bercampur dengan aroma feromon pria yang kuat.
"I-i-iya, Pak," suara Mila bergetar, takut ketahuan telah melihat konten dewasa di laptop Alex. Cadar hitamnya tak mampu menyembunyikan rona merah yang menjalar hingga ke telinga. Tubuhnya gemetar hebat, terjebak antara meja dan sosok Alex yang berdiri mengintimidasi di belakangnya.
Mila berbalik dengan gugup, hanya untuk berhadapan langsung dengan pemandangan yang membuat jantungnya seakan berhenti berdetak. Alex berdiri tegap di hadapannya, otot-otot dadanya yang basah berkilau di bawah cahaya lampu. Handuk putih yang melilit pinggangnya kontras dengan kulit kecokelatannya. Matanya tanpa sengaja menelusuri ke arah pintu kamar mandi yang masih terbuka. Ruangan mandi pribadi Alex tampak mewah dengan shower bespoke berukuran besar dan bathtub lebar yang dilengkapi teknologi canggih. Handuk-handuk berbulu halus tersusun rapi di rak, sementara berbagai botol sabun premium berjajar di konter marmer. Aroma wangi sabun mahal bercampur dengan feromon Alex memenuhi udara, sebuah campuran yang memabukkan dan mengintimidasi.
“Ya Allah, kenapa aku harus melihat ini?” Batinnya, merapatkan kedua kakinya dengan refleks.
Tubuhnya terjebak antara meja dengan laptop terkutuk itu dan sosok Alex yang setengah telanjang. Nasibnya hari ini benar-benar sedang tidak beruntung sejak pertemuannya dengan pria ini, seorang duda yang terobsesi dengan wanita berpenampilan syar'i.
Alex mengalihkan pandangannya ke lantai, mencari tisu-tisu yang tadi berserakan dengan cairan spermanya. Namun lantai marmer itu kini bersih tanpa noda. Otot-otot perutnya menegang saat menyadari Mila pasti telah memungut dan membuang tisu-tisu itu.
“Gadis polos ini… dia bahkan tidak tahu apa yang disentuhnya.” Alex membatin, matanya menyipit menatap sekretaris bercadarnya yang gemetar. Tetesan air dari rambutnya yang basah mengalir melewati dada bidangnya yang telanjang. Handuk putih di pinggangnya terasa longgar, nyaris merosot memperlihatkan kejantanannya yang masih setengah tegang setelah masturbasi.
"Ma-maafkan Mila, Pak."
Mila berdiri kaku, menundukkan wajahnya untuk menghindari pemandangan tubuh atletis Alex yang hanya berbalut handuk. Jantungnya berdegup liar saat mendengar langkah kaki Alex mendekat.
"Apakah kau melihat video itu?"
Mila menggeleng lemah, gemetar menahan rasa takut.
“Jangan, jangan berbohong. Tapi aku tidak bisa jujur.” Pikirnya, menelan ludah.
"Aku tanya sekali lagi. Kau melihatnya, Mila?"
Mila menelan ludah gugup, takut mengakui bahwa ia telah melihat video porno di laptop atasannya. Keringat dingin mengalir di punggungnya. Ia tahu telah melanggar privasi Alex dengan masuk tanpa izin dan melihat konten dewasa miliknya. Namun ketakutan akan kemarahan bosnya membuatnya terpaksa berbohong.
"I-iya, Pak."
"Apa yang iya?"
"Iya, Pak. Mila melihatnya."
Alex menundukkan kepalanya hingga wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari cadar hitam Mila. Napas hangat Alex menerpa wajah Mila yang tertutup cadar. Hasrat untuk mengecup bibir di balik kain hitam itu membuat kejantanannya berkedut di balik handuk. Deru napas Mila yang tak beraturan membuatnya bertanya-tanya—apakah itu karena ketakutan, atau karena terangsang setelah menonton video pornonya?
Perbedaan tinggi 30 sentimeter membuat tubuh mungil Mila seolah terkurung oleh kehadiran Alex yang mengintimidasi. Mila masih menghindari tatapan Alex. Tubuhnya gemetar hebat merasakan hembusan napas hangat atasannya yang menerpa cadarnya.
"Siapa yang mengizinkanmu masuk ruangan pribadiku?"
"Ma-maafkan Mila, Pak."
Alex menarik tubuhnya menjauh dan mendudukkan diri di tepi ranjang king size. Handuk putihnya tersingkap, memperlihatkan paha berotot saat ia menyilangkan kaki. Mila masih berdiri kaku di hadapannya, jemarinya saling meremas gugup. Ia bisa merasakan tatapan intens Alex yang mengamati setiap gerak-geriknya, seolah ingin menelanjanginya dengan mata.
"Ini hari pertamamu, Mila." Ucapnya, suaranya berat dan mengintimidasi. "Seharusnya kau menjaga sikapmu. Atau kau ingin diberhentikan di hari pertamamu?"
Suara Alex yang dalam dan tegas membuat tubuh Mila bergetar.
"Tidak, Pak, Mila mohon jangan."
"Mila minta maaf."
Mila memberanikan diri menatap Alex. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Pikirannya dipenuhi kekhawatiran akan nasib ibunya di rumah. Sebagai tulang punggung keluarga, ia bahkan rela putus kuliah demi bekerja. Mencari pekerjaan sebagai akhwat bercadar bukanlah hal mudah. Dari sekian banyak tempat yang ia lamar, hanya butik Alex yang mengizinkannya mengenakan cadar. Tubuhnya gemetar membayangkan harus kehilangan pekerjaan di hari pertamanya.
“Jangan, jangan keluarkan aku, Pak. Ibu membutuhkanku. Aku tidak boleh menyerah.” Batinnya, memohon dalam diam.
"Tidak, Mila, sepertinya harus begitu."
Alex menyeringai puas, mengetahui ia memiliki kartu AS untuk menekan sekretaris barunya. Informasi detail tentang kehidupan Mila yang ia dapatkan dari Andri membuatnya berani melancarkan ancaman. Kesalahan Mila memasuki ruangan pribadinya tanpa izin menjadi senjata ampuh untuk menaklukkan akhwat bercadar ini. Kejantanannya berkedut di balik handuk membayangkan betapa mudahnya mempermainkan Mila. Ia tahu wanita itu tak punya pilihan lain selain menuruti keinginannya jika tidak ingin kehilangan pekerjaan. Seringai licik tersungging di bibirnya.
"Mila mohon, Pak." Suaranya bergetar. "Mila akan melakukan apa pun, asal jangan memberhentikan Mila bekerja."
Mila menangkupkan kedua tangannya di depan dada, memohon dengan suara bergetar. Air mata mengalir deras membasahi cadarnya, membasahi kain halus yang menutupi wajahnya.
Iblis nafsu dalam dirinya tertawa penuh kemenangan. Alex menikmati setiap detik pemandangan Mila yang memohon di hadapannya.
"Benarkah? Apa pun itu? Jika kau menolak?"
"Mila tak akan menolak, iya, apa pun itu, Pak."
"Bisa kau yakinkan Bapak?"
"Mila janji, Pak."
Mila masih berdiri gemetar, cadarnya basah oleh air mata. Iblis yang ada dalam diri Alex tertawa puas melihat Mila yang begitu putus asa. Ia tahu, mulai sekarang, gadis ini sepenuhnya berada dalam genggamannya.13928Please respect copyright.PENANAKPVaPFM5pc


