Nama aku Rian. Umur 27 tahun. Sudah menikah tiga tahun sama Nita, istri yang orang bilang “sempurna buatku”. Cantik, pendiam, alim, anaknya ustadz besar di kota sebelah. Kami tinggal di kompleks pesantren kecil yang aku pimpin sejak dua tahun lalu—Pesantren Al-Hikmah di pinggiran Kudus. Santri cowok ada 120-an, santri putri 80-an. Aku ngajar ngaji, fiqih, sama ngurusin administrasi. Hidup terlihat lurus sekali dari luar.
10054Please respect copyright.PENANAJZM0zyJon7
Tapi sebenarnya aku lagi capek. Capek banget.
10054Please respect copyright.PENANAJzQET1sLVw
Nita tipe istri yang selalu bilang “sudah, Mas, nanti aja kalau lagi nggak capek”. Dan aku hampir selalu capek. Bukan capek kerja, tapi capek menahan diri. Dia nggak suka disentuh kalau belum mandi wajib, nggak suka lampu nyala pas malam, nggak suka suara berisik, nggak suka posisi selain misionaris, dan paling parah: dia selalu buru-buru selesai. Lima menit, tujuh menit paling lama. Habis itu langsung shalat sunnah dua rakaat, terus tidur membelakangi aku.
10054Please respect copyright.PENANApyfOEZBpzi
Aku nggak pernah ngomong kasar ke dia. Cuma diam. Lama-lama diam itu jadi racun.
10054Please respect copyright.PENANA8wijwRuhIc
Tahun ini pesantren kami nerima santri baru putri yang lumayan banyak. Salah satunya namanya Aisyah. Umur 19 tahun, baru lulus SMA dari kota besar. Orangtuanya orang berada, tapi mereka ingin anaknya “ditempa” di pesantren dulu sebelum kuliah. Badannya tinggi 168, kulitnya putih susu agak kecokelatan karena suka main voli dulu di SMA. Rambutnya panjang lurus hitam pekat, selalu dikuncir satu waktu di asrama.
10054Please respect copyright.PENANAyVKxPAMjwz
Yang pertama kali bikin aku perhatiin dia bukan karena cantik—banyak yang cantik di sini. Tapi karena matanya. Matanya besar, bulu matanya lentik alami, dan selalu menatap lurus ke orang yang diajak bicara. Nggak genit, tapi juga nggak takut. Malah agak menantang. Kayak orang yang tahu dia punya sesuatu yang orang lain pengen, tapi dia belum mau kasih.
10054Please respect copyright.PENANA2SPYIgC630
Awalnya interaksi biasa saja.
10054Please respect copyright.PENANAfXW3vnA4MD
Pagi itu aku lagi ngasih pengajian umum di masjid putri. Tema fiqih thaharah. Aku duduk di depan, santri putri duduk melingkar pakai mukena. Aisyah duduk di baris kedua dari depan, agak ke samping kiri. Mukenanya putih polos, tapi entah kenapa kainnya nempel pas di bagian dada. Aku coba nggak lihat ke sana, tapi susah.
10054Please respect copyright.PENANAoLz7bNa3R0
“Jadi kalau haid sudah selesai, mandi wajibnya harus niat dulu, terus basuh seluruh badan tiga kali dari atas sampai bawah. Airnya harus mengalir ke seluruh kulit, termasuk lipatan-lipatan yang tersembunyi,” aku jelasin sambil buka buku.
10054Please respect copyright.PENANAhGcg75fH9r
Ada yang angkat tangan. Bukan Aisyah. Tapi Aisyah yang tiba-tiba bicara tanpa angkat tangan.
10054Please respect copyright.PENANAdWEOtXQk4S
“Ustaz… lipatan yang tersembunyi itu maksudnya apa ya? Maksudnya bagian yang nggak kelihatan kalau orang berdiri?”
10054Please respect copyright.PENANA89cegsc2tJ
Suara dia lembut, tapi jelas. Beberapa santri putri lain langsung saling lirik, ada yang senyum kecil, ada yang pura-pura nunduk malu.
10054Please respect copyright.PENANA5xAstJlwQ4
Aku agak kaget. Biasanya pertanyaan begini datang dari santri yang lebih senior, atau malah nggak ada yang berani tanya langsung.
10054Please respect copyright.PENANAcaTrzQSc5E
Aku tarik napas pelan.
10054Please respect copyright.PENANAmbZN5WJzgS
“Ya… maksudnya lipatan di ketiak, belakang telinga, lipatan paha, dan… bagian intim wanita. Semuanya harus terkena air mengalir. Kalau cuma diguyur doang tanpa memastikan air masuk ke lipatan, mandinya belum sah.”
10054Please respect copyright.PENANAZqk8s3onXb
Dia mengangguk pelan, matanya masih nempel ke aku.
10054Please respect copyright.PENANANd0n1KzeK0
“Jadi kalau ada bulu di situ… harus dicukur dulu biar airnya sampai?”
10054Please respect copyright.PENANAQLhxZB2rgj
Seketika suasana jadi hening banget. Beberapa santri putri menutup mulut pakai ujung mukena. Ada yang batuk kecil pura-pura.
10054Please respect copyright.PENANAeZ6eWQY3kM
Aku ngerasa leherku panas. Bukan karena malu, tapi karena tiba-tiba bayangan itu muncul di kepala: Aisyah, telanjang, kakinya terbuka sedikit, tangannya memegang pisau cukur…
10054Please respect copyright.PENANAK6hkXqTuOZ
Aku buru-buru balik fokus.
10054Please respect copyright.PENANAfrS2XGx8yq
“Itu sunnah, bukan wajib. Yang wajib air mengalir ke kulit. Kalau bulu menghalangi air sampai ke kulit, ya harus dibersihkan dulu.”
10054Please respect copyright.PENANAhrSYHTf8sQ
Dia cuma mengangguk sekali lagi, senyum tipis. Senyum yang kayak bilang: “Aku tahu kamu lagi mikirin apa sekarang, Ustaz.”
10054Please respect copyright.PENANAgrUibcnDzy
Selesai pengajian aku langsung balik ke rumah dinas. Nita lagi masak di dapur. Bau rendang. Biasa.
10054Please respect copyright.PENANAvVvWO1iMFW
“Mas pulang cepet hari ini?” tanyanya tanpa menoleh.
10054Please respect copyright.PENANAQWONbj8Bep
“Iya, capek ngajar.”
10054Please respect copyright.PENANAweNYGUzJVF
Dia cuma mengangguk. Nggak nanya lebih lanjut.
10054Please respect copyright.PENANAtWGaZnYHt7
Malamnya aku nggak bisa tidur. Bayangan Aisyah tadi nempel terus. Bukan cuma pertanyaannya, tapi cara dia ngomong. Santai. Berani. Kayak orang yang tahu persis efek kata-katanya ke lawan bicara.
10054Please respect copyright.PENANAJYkFlJdr2S
Besok paginya aku lagi duduk di teras kantor pesantren, ngecek daftar absen. Tiba-tiba Aisyah datang sendiri. Pakai gamis abu-abu panjang, kerudung segi empat warna senada, tapi entah kenapa tetap kelihatan bentuk badannya. Pinggangnya kecil, dadanya… ya Tuhan, dadanya menonjol jelas meski sudah ditutup dua lapis kain.
10054Please respect copyright.PENANAqdkLsfd4RD
“Assalamualaikum, Ustaz.”
10054Please respect copyright.PENANAFKMf0KhXqa
“Waalaikumsalam. Ada apa, Aisyah?”
10054Please respect copyright.PENANAyNi6w0pje6
Dia berdiri di depan tangga teras, tangannya memegang map plastik.
10054Please respect copyright.PENANArG0bMkyqyZ
“Ini laporan kesehatan dari dokter mata. Kata ibu asrama harus diserahkan langsung ke Ustaz.”
10054Please respect copyright.PENANA5PwcRKInQh
Aku ambil mapnya. Jari kami nggak sengaja bersentuhan sedetik. Kulitnya dingin, lembut.
10054Please respect copyright.PENANAAGTjBbH1WN
“Makasih. Kamu sendiri kenapa ke dokter mata?”
10054Please respect copyright.PENANAwKzqVOPleH
“Keluhannya silau kalau baca lama di bawah lampu neon. Kata dokter cuma butuh kacamata minus tipis.”
10054Please respect copyright.PENANAgHSXYYfAAm
Dia diam sebentar, lalu tiba-tiba nunduk sedikit, suaranya pelan.
10054Please respect copyright.PENANAuicg6UjunP
“Ustaz… kemarin pertanyaan saya bikin malu nggak?”
10054Please respect copyright.PENANAAG1lN2NLwt
Aku pura-pura sibuk buka map.
10054Please respect copyright.PENANAXO5zWBP09C
“Nggak kok. Itu pertanyaan bagus. Santri harus berani tanya kalau nggak paham.”
10054Please respect copyright.PENANATtUu3IsIOZ
Dia tersenyum kecil.
10054Please respect copyright.PENANAq1VaQSZuvP
“Tapi Ustaz kelihatan agak… tegang waktu jawab.”
10054Please respect copyright.PENANAmnIeAaZiMJ
Aku langsung angkat muka. Matanya lagi-lagi nempel ke aku. Kali ini ada kilau main-main di situ.
10054Please respect copyright.PENANAIGph28vH4q
“Aku tegang karena ruangan panas,” jawabku datar.
10054Please respect copyright.PENANArhLGuFPPAh
Dia ketawa pelan. Suara ketawanya lembut, tapi bikin bulu kudukku berdiri.
10054Please respect copyright.PENANAEfigXmC7l0
“Panas ya, Ustaz? Padahal tadi pagi hujan.”
10054Please respect copyright.PENANAFvBppGVJ7X
Dia balik badan, mau pergi. Tapi sebelum turun tangga, dia menoleh lagi.
10054Please respect copyright.PENANActv8NK1Rwr
“Kalau Ustaz kepanasan lagi… bilang aja ke saya. Siapa tahu saya bisa bantu.”
10054Please respect copyright.PENANA1QKUfHp6qk
Lalu dia pergi. Langkahnya ringan, bokongnya bergoyang pelan di balik gamis longgar itu.
10054Please respect copyright.PENANAxQoX1saW30
Aku duduk diam di situ hampir sepuluh menit, tangan masih pegang map yang nggak kubuka sama sekali.
10054Please respect copyright.PENANAnLyldl0Xww
Malam itu Nita tidur lebih cepat dari biasanya. Aku ke kamar mandi, buka air dingin, siram kepala sampai leher. Tapi gambar Aisyah nggak hilang. Malah tambah jelas.
10054Please respect copyright.PENANA3VE5ASsTqh
Aku bayangin dia berdiri di depanku, gamisnya dilepas pelan-pelan. Bra hitam renda yang nggak sesuai sama image santri putri. Payudaranya penuh, bulat, putingnya cokelat muda, mengeras karena udara dingin kamar mandi. Perutnya rata, ada garis tipis ke bawah menuju…
10054Please respect copyright.PENANAvVaw606Fby
Aku matiin keran. Napasku berat.
10054Please respect copyright.PENANAREflPi5kyg
Ini salah. Ini dosa besar.
10054Please respect copyright.PENANAkRiNcMFKjJ
Tapi kenapa rasanya enak banget cuma mikirinnya saja?
10054Please respect copyright.PENANAuzhpNZNk82
Besoknya aku mulai sengaja nyari alasan buat ketemu dia.
10054Please respect copyright.PENANAfx5PFOQZus
Pertama cuma alasan kecil. Minta dia bantu ngetik daftar nama santri baru. Dia datang ke kantor, duduk di kursi tamu, jarak kami cuma satu meja. Bau parfumnya samar-samar, manis bunga-bungaan.
10054Please respect copyright.PENANAXbxwpyuMZy
Kami ngobrol biasa dulu. Tentang kuliah nanti, tentang orangtuanya, tentang kehidupan di pesantren.
10054Please respect copyright.PENANADst03S9xzR
Lama-lama obrolan bergeser.
10054Please respect copyright.PENANArmYMQULHEZ
“Kamu nggak kangen pacar di kota?” tanyaku iseng.
10054Please respect copyright.PENANAqc2umVuTXE
Dia geleng kepala, mainin ujung jilbabnya.
10054Please respect copyright.PENANAjM1T0NPdfZ
“Nggak ada pacar, Ustaz. Emang sengaja nggak mau pacaran. Kata ayah, pacaran itu buang waktu.”
10054Please respect copyright.PENANAxySXWDTozb
“Tapi pasti pernah ada yang naksir?”
10054Please respect copyright.PENANAYvdti6z9mt
Dia senyum tipis.
10054Please respect copyright.PENANAbeZ9XQXOsF
“Banyak. Tapi nggak ada yang berani ngomong langsung. Paling cuma lirik-lirik doang.”
10054Please respect copyright.PENANAWF1Ny3xvUq
“Lha kamu nggak suka yang berani?”
10054Please respect copyright.PENANALYKlzcuxMk
“Suka. Tapi yang berani tapi sopan. Yang berani tapi tahu batas.”
10054Please respect copyright.PENANAG6pZpK43fQ
Dia ngomong pelan, tapi matanya lagi-lagi nantang.
10054Please respect copyright.PENANARVF0rWcmD0
Aku ngerasa jantungku berdegup kencang.
10054Please respect copyright.PENANAlmcwhxxwNC
“Kalau ada yang berani tapi tahu batas… kamu mau kasih kesempatan?”
10054Please respect copyright.PENANA7p2BHgNfIQ
Dia diam lama. Lalu mencondongkan badan sedikit ke depan. Dadanya ikut maju, gamisnya tertarik ke depan sampai bentuk bra samar-samar kelihatan.
10054Please respect copyright.PENANAq1mDtYjpGW
“Tergantung, Ustaz. Kalau orangnya… punya tanggung jawab. Punya kekuatan buat ngejaga rahasia. Mungkin iya.”
10054Please respect copyright.PENANAy2UawtCbcZ
Aku nggak bisa jawab apa-apa. Cuma menelan ludah.
10054Please respect copyright.PENANAyOngc9cGqI
Dia bangkit, merapikan map di meja.
10054Please respect copyright.PENANAw2rUpq7B8u
“Makasih waktunya, Ustaz. Kalau butuh bantuan lagi… panggil aja saya.”
10054Please respect copyright.PENANAgejK4NBZGR
Dia keluar. Pintu ditutup pelan.
10054Please respect copyright.PENANANulF8yMQEl
Aku langsung ke belakang meja, duduk, tangan gemetar.
10054Please respect copyright.PENANAJDF9P2SWZA
Celanaku sudah ketat banget.
___
10054Please respect copyright.PENANALHMSBq7uiT
Hari-hari berikutnya rasanya seperti main kucing-kucingan yang nggak ada habisnya. Aku sengaja nggak langsung pilih opsi yang terlalu cepat. Aku pengen ini lambat. Pengen dia yang mulai merasa “panas” duluan. Pengen dia yang mulai cari-cari alasan buat deket. Karena kalau aku yang nyerang duluan, nanti aku yang kelihatan lemah. Dan aku nggak mau kelihatan lemah di depan dia.
10054Please respect copyright.PENANABiN9RPGJ4r
Jadi aku pilih jalur tengah: tugas khusus.
10054Please respect copyright.PENANAGjNflVytwm
Aku panggil dia ke kantor lagi, kali ini sore menjelang maghrib. Kantor pesantren sudah sepi, sebagian besar santri lagi ke masjid buat shalat berjamaah. Pintu aku biarin terbuka sedikit, biar nggak terlalu mencurigakan, tapi cukup rapat supaya suara nggak terlalu kedengeran ke luar.
10054Please respect copyright.PENANAXcecCXf9Ts
Aisyah datang tepat waktu. Gamisnya kali ini warna navy tua, bahan yang agak tebal tapi tetap nempel di badan kalau dia gerak. Kerudungnya krem, dipasang agak longgar di bagian leher, jadi ada sedikit kulit leher putihnya yang kelihatan. Aku langsung ngerasa tenggorokan kering.
10054Please respect copyright.PENANAdLi916L4Yh
“Assalamualaikum, Ustaz. Dipanggil?”
10054Please respect copyright.PENANA59gUARP5Zx
“Waalaikumsalam. Masuk, duduk.”
10054Please respect copyright.PENANA0a17HohJwK
Dia masuk, tutup pintu pelan sampai klik. Lalu duduk di kursi tamu yang sama seperti kemarin. Kakinya disilangin sedikit, lututnya rapat, tapi posisi duduknya agak condong ke depan. Dadanya lagi-lagi menonjol, kain gamisnya ketarik ke depan sampai aku bisa lihat garis bra hitam samar-samar di balik kain tipis bagian atas.
10054Please respect copyright.PENANArNe3Robxnd
“Aku mau kasih tugas tambahan buat kamu,” kataku sambil buka laptop. “Kamu kan jago ngetik dan rapi. Aku lagi bikin buku kecil tentang tata cara shalat sunnah rawatib. Mau aku cetak buat dibagiin ke santri baru. Kamu bantu ngetik ulang dari catatan tangan aku, terus desain layout-nya juga. Bisa?”
10054Please respect copyright.PENANA8GiHPCYAWs
Dia mengangguk cepat, matanya berbinar.
10054Please respect copyright.PENANAhg4dX8zs0T
“Bisa banget, Ustaz. Seneng malah kalau bisa bantu.”
10054Please respect copyright.PENANAS1xCC4GQmR
“Bagus. Tapi ini harus selesai dalam dua minggu. Jadi kamu harus sering ke sini, mungkin sore-sore gini, atau kalau perlu malam setelah isya kalau aku masih di kantor.”
10054Please respect copyright.PENANAXt4XMVJmk6
Dia diam sebentar, lalu senyum tipis.
10054Please respect copyright.PENANAozJZZPeG4a
“Malam-malam juga boleh ya, Ustaz? Nggak apa-apa?”
10054Please respect copyright.PENANAFEjaFdgKSy
Aku pura-pura cuek.
10054Please respect copyright.PENANAkbqt5uMPvL
“Kalau kamu nggak takut keluar asrama malam-malam, ya nggak apa-apa. Pintu belakang kantor kan langsung ke gang kecil, nggak lewat asrama putri. Lebih aman.”
10054Please respect copyright.PENANAsBpBnVZNd5
Dia menggigit bibir bawahnya pelan. Gerakan kecil itu bikin aku langsung ngebayangin bibirnya yang penuh itu lagi menggigit sesuatu yang lain.
10054Please respect copyright.PENANABMReAJqgQv
“Oke deh. Aku usahain datang tiap sore dulu. Kalau perlu malam, aku kabarin Ustaz ya.”
10054Please respect copyright.PENANA5YNk5WINkw
“Kabarin lewat apa? HP dilarang di pesantren.”
10054Please respect copyright.PENANAHRqwXdvvEx
Dia tertawa kecil, suaranya kayak lonceng kecil.
10054Please respect copyright.PENANAso0hMjWWhI
“Ustaz lupa? Aku kan anak baru. HP aku masih disimpen ibu asrama, tapi aku punya second number di WA. Nomor lama dari SMA. Nggak ada yang tahu di sini.”
10054Please respect copyright.PENANAdbUUMdxawE
Aku pura-pura kaget.
10054Please respect copyright.PENANArXQrjhjpXa
“Lho kok bisa lolos?”
10054Please respect copyright.PENANAwdKS9hYb9u
“Rahasia dong,” katanya sambil kedip mata. “Ustaz mau nomornya nggak?”
10054Please respect copyright.PENANAF041zhEt0B
Aku diam. Jantungku berdegup kencang. Ini langkah pertama yang bener-bener nyebrang garis.
10054Please respect copyright.PENANAL68KF2jKKP
Akhirnya aku mengangguk pelan.
10054Please respect copyright.PENANA9kPB3yEMrw
“Kirim aja ke nomor ini.” Aku kasih kertas kecil dengan nomorku.
10054Please respect copyright.PENANAk2J0A2GwAi
Dia ambil kertas itu, jarinya sengaja nyenggol jemariku lagi. Kali ini lebih lama dari kemarin. Dingin, lembut, tapi ada getaran kecil.
10054Please respect copyright.PENANA1nVYGxloO7
Malam itu, jam 21:47, WA masuk.
10054Please respect copyright.PENANAuRis7vh6Sy
**Aisyah:**
Ustaz… ini Aisyah. Nomornya udah disimpen ya? 😊
10054Please respect copyright.PENANA4rtFPwiPze
Aku langsung balas, tangan gemetar.
10054Please respect copyright.PENANAQmytrGgKG5
**Rian:**
Udah. Makasih. Jangan sering-sering chat ya, nanti ketahuan.
10054Please respect copyright.PENANAC2iDsqCHPc
**Aisyah:**
Tenang aja, Ustaz. Aku hapus chat tiap selesai.
Ustaz lagi apa sekarang?
10054Please respect copyright.PENANAPWGKpXMk8g
**Rian:**
Lagi di kamar. Istri udah tidur.
10054Please respect copyright.PENANAcE9dATmCpO
**Aisyah:**
Oh… jadi Ustaz sendirian ya sekarang? 😏
10054Please respect copyright.PENANATQk8E41Awy
Aku ngerasa darah naik ke kepala. Dia mulai main api.
10054Please respect copyright.PENANAE48xut3078
**Rian:**
Iya. Kamu?
10054Please respect copyright.PENANA1LsO0x3Zqt
**Aisyah:**
Di kamar mandi asrama. Lagi mandi abis olahraga tadi. Panas banget badan.
10054Please respect copyright.PENANAwyB0C0ELuu
Aku langsung ngebayangin. Air mengalir di kulit putihnya. Rambut basah nempel di punggung. Payudara yang penuh itu basah, putingnya mengeras karena air dingin. Aku ngerasa celanaku mulai sesak.
10054Please respect copyright.PENANAjYqhTDDZmL
**Rian:**
Hati-hati jangan kebiasaan mandi malam-malam. Nanti masuk angin.
10054Please respect copyright.PENANAuNxjfWLxHp
**Aisyah:**
Nggak apa-apa, Ustaz. Badan aku kuat kok.
Lagian… kadang aku suka mandi lama-lama. Biar rileks.
10054Please respect copyright.PENANAXXII85Ju6U
Dia kirim stiker muka imut yang lagi nyanyi di bawah shower.
10054Please respect copyright.PENANAWNDAzCXAbG
Aku nggak balas langsung. Aku tarik napas dalam-dalam. Ini bahaya. Tapi enak banget.
10054Please respect copyright.PENANALc2W3R3rm2
Besok sore dia datang lagi. Kali ini bawa flashdisk berisi file yang dia ketik semalam. Kami duduk berhadapan di meja kerja. Jarak cuma sekitar 80 cm. Aku bisa cium bau sabun mandi dari badannya. Wangi susu vanila.
10054Please respect copyright.PENANAkK8fEGmj2l
Kami mulai kerja. Aku jelasin layout, dia ngetik. Kadang tangannya sengaja nyenggol tanganku waktu nunjuk layar. Kadang kakinya di bawah meja sengaja nyenggol betisku. Pelan. Kayak nggak sengaja. Tapi aku tahu itu sengaja.
10054Please respect copyright.PENANAAY1WUbbpKV
“Ustaz… ini bagian wudhu sunnahnya aku taruh di halaman 12 ya?”
10054Please respect copyright.PENANAFc4wxYWt8s
“Iya, bagus.”
10054Please respect copyright.PENANATEr6LoEC3R
Dia mencondongkan badan ke depan buat nunjuk layar. Dadanya hampir nyentuh meja. Aku bisa lihat celah leher gamisnya. Bra hitam renda lagi. Cup-nya penuh, payudaranya bulat sempurna, ada garis samar cleavage yang dalam. Kulit di situ putih sekali, ada bintik kecil di sisi kiri.
10054Please respect copyright.PENANA77BQIzejlr
Aku buru-buru alihkan pandangan.
10054Please respect copyright.PENANAlxFwHohOpx
Dia kayak tahu aku lagi ngeliatin. Dia malah nggak mundur. Malah tambah deket.
10054Please respect copyright.PENANABzhNNvjgaQ
“Ustaz… panas ya ruangannya?”
10054Please respect copyright.PENANAg65ZDaSjsM
“Iya, kipasnya rusak.”
10054Please respect copyright.PENANAHG2GyVBQRn
Dia ketawa pelan.
10054Please respect copyright.PENANALUaNy4OXeQ
“Bukan kipasnya yang panas… tapi Ustaz yang lagi panas, kayaknya.”
10054Please respect copyright.PENANAE4XXTzxbEB
Aku diam. Nggak bisa jawab.
10054Please respect copyright.PENANAq95celgqDG
Dia tiba-tiba berdiri, berjalan ke belakangku, pura-pura lihat dari belakang layar.
10054Please respect copyright.PENANA32lTZ5BFYy
“Eh, ini font-nya kurang jelas ya, Ustaz. Coba dibesarkan.”
10054Please respect copyright.PENANA5rwpIAL8h8
Dia membungkuk di belakang pundakku. Dadanya sengaja nyentuh punggungku. Lembut. Kenyal. Hangat. Aku ngerasa putingnya yang mengeras itu nempel di tulang belakangku lewat kain tipis.
10054Please respect copyright.PENANAfgQD5pY1Oj
Aku nggak gerak. Cuma napas yang jadi berat.
10054Please respect copyright.PENANABld1vCV9no
Dia berbisik di telingaku. Suaranya pelan banget, hampir kayak hembusan angin.
10054Please respect copyright.PENANAdBjFmsneAd
“Ustaz… jantung Ustaz deg-degan banget. Aku denger dari sini.”
10054Please respect copyright.PENANA1onobgErWe
Aku menoleh pelan. Wajahnya cuma 10 cm dari wajahku. Bibirnya basah, matanya setengah terpejam.
10054Please respect copyright.PENANAGnus9WCev9
“Kamu nakal banget, Aisyah.”
10054Please respect copyright.PENANAM8viIB2K7c
Dia tersenyum. Bibirnya mendekat lagi.
10054Please respect copyright.PENANAy20ceQxiDF
“Nakal gimana, Ustaz? Aku cuma bantu kerja kok…”
10054Please respect copyright.PENANAmNzqoshsw8
Tangan kirinya turun pelan, nyentuh paha dalamku dari samping. Jarinya gerak pelan naik-turun di atas kain celana.
10054Please respect copyright.PENANA6THDz9gj5f
Aku pegang tangannya. Keras.
10054Please respect copyright.PENANAM3BPpTjhK0
“Jangan di sini.”
10054Please respect copyright.PENANAKK7k2lMc1I
Dia nggak takut. Malah tambah deket.
10054Please respect copyright.PENANA2c2OWVrxJ4
“Kenapa? Takut ketahuan?”
10054Please respect copyright.PENANAlKzsGfGjyY
“Iya.”
10054Please respect copyright.PENANA9FYc2snDpx
“Kalau nggak ketahuan… boleh?”
10054Please respect copyright.PENANATdAPvTX0W5
Aku nggak jawab. Cuma menatap matanya lama.
10054Please respect copyright.PENANA36y9tBwCdu
Dia tarik tangannya pelan, lalu balik duduk. Tapi sebelum duduk, dia bisik lagi.
10054Please respect copyright.PENANAuHnei2b2JV
“Nanti malam aku kirim sesuatu ke WA Ustaz. Lihat aja sendiri. Jangan buka kalau istri Ustaz masih bangun ya…”
10054Please respect copyright.PENANAfrrYLmwHzt
Dia keluar. Tinggal aku sendirian di kantor, tangan gemetar, celana ketat banget, dan pikiran kacau.
10054Please respect copyright.PENANA7FTtOXEFq2
Jam 00:14 malam itu WA masuk. Foto.
10054Please respect copyright.PENANAZyFdiStzyD
Aku buka diam-diam di kamar mandi, pintu dikunci.
10054Please respect copyright.PENANABP9GVJTxpe
Foto itu selfie dia di kamar asrama. Lampu redup. Dia pakai kaos tidur ketat warna putih tanpa bra. Putingnya kelihatan jelas menonjol di balik kain tipis. Rambutnya terurai basah. Dia angkat kaosnya sedikit sampai perut rata kelihatan, ada garis tipis ke bawah menuju celana dalam hitam renda.
10054Please respect copyright.PENANAUnYAkVv8GW
Di bawah foto cuma ada satu kalimat:
10054Please respect copyright.PENANAtzOZipxqo5
**Aisyah:**
Ustaz… ini yang Ustaz bayangin kemarin pas aku tanya soal lipatan tersembunyi, kan?
Mau lihat yang lebih jelas nggak besok malam?
___
10054Please respect copyright.PENANAWlQAT9m1r0
Aku nggak langsung balas foto itu. Aku biarin semalaman. Biar dia yang gelisah nunggu. Biar dia mikir aku lagi marah, atau lagi takut, atau lagi… pengen banget tapi nahan diri. Aku tahu cewek kayak Aisyah—dia suka kontrol, suka ngerasa dia yang pegang kendali. Jadi aku kasih dia rasa nggak pasti dulu.
10054Please respect copyright.PENANAnbj2PTgYWo
Pagi harinya aku shalat Subuh di masjid utama, sendirian di saf paling depan. Pikiranku kacau. Tiap kali sujud, gambar foto semalem muncul lagi. Kaos putih ketat, puting cokelat muda yang menonjol jelas, perut rata dengan garis tipis ke bawah, celana dalam hitam renda yang kelihatan samar-samar di pinggir foto. Aku ngerasa dosa banget, tapi tubuhku bereaksi sebaliknya. Setelah shalat aku langsung ke kamar mandi masjid, siram air dingin ke muka, ke leher, ke dada, berharap bisa matiin api yang udah mulai nyala di bawah perut.
10054Please respect copyright.PENANA3wfxsy3mHK
Nita lagi masak bubur ayam pas aku pulang. Dia cuma nanya, “Mas kok pagi-pagi udah mandi lagi?” Aku jawab, “Keringetan semaleman.” Dia cuma mengangguk, nggak curiga. Nita emang gitu—selalu percaya aku sepenuhnya. Itu yang bikin aku tambah bersalah, tapi juga tambah… bebas.
10054Please respect copyright.PENANAfT9Qp0CM9K
Siangnya aku sengaja nggak panggil dia ke kantor. Biar dia yang cari. Dan bener aja, jam 15:30 WA masuk dari nomornya.
10054Please respect copyright.PENANAQRC90FDrSO
**Aisyah:**
Ustaz… kok nggak bales semalem? Foto aku jelek ya? 😔
10054Please respect copyright.PENANA48ndzUBLvn
Aku baca, senyum kecil. Mulai deh.
10054Please respect copyright.PENANAFmjII0g4Ji
**Rian:**
Bukan jelek. Cuma lagi mikir.
10054Please respect copyright.PENANAdUSmdV0BYT
**Aisyah:**
Mikir apa?
10054Please respect copyright.PENANA7diQbnkYKC
**Rian:**
Mikir ini bener apa nggak. Kamu tahu kan aku sudah beristri.
10054Please respect copyright.PENANAfG1STezCfS
**Aisyah:**
Tau. Makanya aku nggak minta Ustaz cerai.
Aku cuma minta… Ustaz liat aku. Dan mungkin… sentuh aku. Sekali aja.
Kalau Ustaz nggak mau, ya udah. Aku hapus nomor ini sekarang.
10054Please respect copyright.PENANAj2y7mah9me
Dia kirim voice note. Suaranya pelan, agak serak, kayak lagi nahan nangis tapi sekaligus nahan nafsu.
10054Please respect copyright.PENANAT4hsMBYayf
“Aku tahu Ustaz takut. Aku juga takut. Tapi tiap kali Ustaz ngomong di pengajian, aku ngerasa badan aku panas. Tiap Ustaz liat aku, aku ngerasa… basah di bawah. Ustaz mau aku bohong? Aku nggak bohong. Aku pengen Ustaz banget. Kalau Ustaz bilang stop, aku stop. Tapi kalau Ustaz diam… berarti Ustaz juga pengen, kan?”
10054Please respect copyright.PENANAyiuDDfSyOc
Aku baca transkrip voice note itu berkali-kali. Jantungku berdegup kencang. Aku tahu ini titik balik. Kalau aku bales “stop”, mungkin dia mundur. Tapi aku nggak mau dia mundur.
10054Please respect copyright.PENANAVgwo7QpMo6
**Rian:**
Malam ini jam 21:30. Gudang buku belakang masjid putri. Bawa senter kecil. Jangan pakai sandal yang berisik.
10054Please respect copyright.PENANAhVzV4MFqMc
Dia bales cepat.
10054Please respect copyright.PENANAgAkLIsARuE
**Aisyah:**
Alhamdulillah… aku dateng ya Ustaz.
Ustaz mau aku pakai apa?
10054Please respect copyright.PENANAhFogjpSIB8
**Rian:**
Pakai yang kemarin di foto. Kaos putih ketat. Tanpa bra. Celana pendek kalau bisa. Jangan pakai jilbab.
10054Please respect copyright.PENANAKJWRlHQyKd
Dia kirim stiker muka malu tapi senyum nakal.
10054Please respect copyright.PENANAjUyMxfE4T7
**Aisyah:**
Siap, Ustaz. Aku bawa mukena juga, buat nutupin kalau ada yang lewat.
10054Please respect copyright.PENANA6xvgIIToEK
Malam itu hujan deras. Bagus, suara hujan nutupin langkah kaki. Aku keluar rumah dinas jam 21:15, bilang ke Nita aku mau ke kantor cek laporan keuangan yang besok harus dikirim ke yayasan. Dia cuma mengangguk sambil ngantuk.
10054Please respect copyright.PENANAO6le1bojQb
Aku jalan lewat belakang masjid, pakai jaket hitam supaya nggak kelihatan. Gudang buku itu sebenarnya gudang kecil bekas ruang arsip, pintunya dari kayu tua, jarang dipake orang. Aku bawa kunci cadangan yang aku simpen sendiri.
10054Please respect copyright.PENANAjRD16Nvhsn
Aku masuk duluan, nyalain lampu kecil di pojok, nggak terlalu terang. Bau buku tua campur bau lembab. Aku duduk di kursi kayu tua, nunggu.
10054Please respect copyright.PENANAlJzr1iff9T
Jam 21:32 pintu dibuka pelan. Aisyah masuk, langsung tutup pintu dan kunci dari dalam. Dia pakai mukena putih di luar, tapi pas mukenanya dilepas… ya Allah.
10054Please respect copyright.PENANA2FEfw0NaSH
Kaos putih ketat persis kayak di foto. Tanpa bra. Putingnya sudah mengeras, menonjol jelas di balik kain tipis yang agak basah karena hujan. Dadanya naik turun cepat, napasnya berat. Celana pendek hitam ketat, nempel di paha mulusnya. Kakinya panjang, putih, betisnya kencang. Rambutnya terurai basah, nempel di bahu dan punggung.
10054Please respect copyright.PENANAL5UOJiMklh
Dia berdiri di depan pintu, tangannya gemetar sedikit.
10054Please respect copyright.PENANAzzsZw84ObS
“Ustaz… aku dateng.”
10054Please respect copyright.PENANA8Lk5Y2Lf9i
Aku berdiri pelan. Jarak kami masih dua meter.
10054Please respect copyright.PENANAXDHvNeyXdp
“Kamu yakin mau lanjut?”
10054Please respect copyright.PENANAZncxpyzrFa
Dia mengangguk cepat.
10054Please respect copyright.PENANA40BHgygTJi
“Aku yakin. Ustaz?”
10054Please respect copyright.PENANAkKDQB0We0g
Aku melangkah mendekat. Satu langkah. Dua langkah. Sampai jarak tinggal setengah meter.
10054Please respect copyright.PENANAEtQS9lsTXE
Aku angkat tangan kanan, sentuh pipinya pelan. Kulitnya lembut, hangat, agak dingin karena hujan. Dia menutup mata, napasnya tersengal.
10054Please respect copyright.PENANAlmqCBUCbiz
“Ustaz… aku deg-degan banget.”
10054Please respect copyright.PENANA7iymsuOiVf
“Tenang. Kita pelan-pelan.”
10054Please respect copyright.PENANAsiQHIilTyD
Aku turunin tangan ke lehernya, rasain denyut nadi yang cepat. Lalu ke bahu, ke lengan. Dia gemetar.
10054Please respect copyright.PENANApVnc77Rd8K
Aku tarik dia pelan ke pelukanku. Dadanya nempel di dadaku. Putingnya yang keras itu nempel lewat dua kain tipis. Aku bisa ngerasa kelembutan payudaranya yang penuh, bulat, berat. Aku peluk dia erat, tangan kiriku turun ke pinggangnya yang kecil, lalu ke bokongnya.
10054Please respect copyright.PENANA3swXDlvqBJ
Bokongnya kenyal, bulat sempurna, pas di genggaman. Aku remes pelan. Dia mendesah kecil di telingaku.
10054Please respect copyright.PENANAYgUX21KkH6
“Ustaz… pegang lebih kuat…”
10054Please respect copyright.PENANAsD9WojJ1x8
Aku remes lebih keras. Jari-jariku masuk ke celah bokongnya lewat celana pendek yang ketat. Dia mendesah lagi, badannya merapat lebih erat.
10054Please respect copyright.PENANAiKe3Bb6zSV
Aku bisik di telinganya.
10054Please respect copyright.PENANADC9OGWBObb
“Kamu basah nggak di bawah?”
10054Please respect copyright.PENANAvCevauJzjt
Dia mengangguk pelan, mukanya merah.
10054Please respect copyright.PENANA5xhTaJFemh
“Basah banget, Ustaz… dari tadi siang udah basah mikirin ini.”
10054Please respect copyright.PENANAoDDSRd8epj
Aku tarik tangan kananku ke depan, masukin ke dalam kaosnya dari bawah. Kulit perutnya rata, halus. Aku naik pelan, sampai ke bawah payudaranya. Aku angkat payudara kirinya pelan. Berat. Lembut. Hangat. Putingnya sudah keras banget, aku putar pelan dengan jempol dan telunjuk.
10054Please respect copyright.PENANAdJCI6lZS2X
Dia menggigit bibir bawahnya, matanya setengah terpejam.
10054Please respect copyright.PENANAWUaXPXcxiu
“Ahh… Ustaz… enak…”
10054Please respect copyright.PENANAZ3NnN2Dj7E
Aku mainin putingnya lebih lama. Putar, cubit pelan, tarik sedikit. Dia mulai mendesah lebih keras, badannya bergoyang kecil.
10054Please respect copyright.PENANAOP7ufr01Bq
Aku turunin tangan kiriku ke celana pendeknya. Masuk ke dalam. Celana dalamnya sudah basah banget di bagian tengah. Aku rasain bulu halus yang rapi, lalu celah vaginanya yang licin. Bibir vaginanya tebal, lembut, sudah terbuka sedikit karena basah.
10054Please respect copyright.PENANABZX7UetREa
Aku gesek pelan klitorisnya dengan jari tengah.
10054Please respect copyright.PENANAugDPmjT30K
Dia langsung melengkungkan badan.
10054Please respect copyright.PENANAkoucO0hrJ8
“Aaahh… Ustaz… di situ… ya Allah…”
10054Please respect copyright.PENANAxNxDLQMQ0Z
Aku gesek lebih cepat, lingkaran kecil di klitoris yang sudah bengkak. Dia mulai goyang pinggulnya ikut gerakan jariku.
10054Please respect copyright.PENANAin7w0kVVhK
“Ustaz… masukin… tolong…”
10054Please respect copyright.PENANASnZ4SuQKfL
Aku masukin satu jari pelan. Dalamnya panas, sempit, licin banget. Aku gerakin jari masuk keluar pelan, sambil jempol tetap mainin klitoris.
10054Please respect copyright.PENANAu2L5oMhB5n
Dia mulai desah lebih kencang.
10054Please respect copyright.PENANAO6KNGukUed
“Ustaz… tambah satu lagi… aku mau lebih…”
10054Please respect copyright.PENANAdOZs6E463c
Aku masukin jari telunjuk juga. Dua jari sekarang, gerak maju mundur, sambil melengkung ke atas nyari titik G-nya. Ketemu. Aku tekan pelan di situ.
10054Please respect copyright.PENANA7725qx3Fkx
Dia langsung jerit kecil, tangannya mencengkeram bahuku.
10054Please respect copyright.PENANAIr8fxf5yQZ
“Aaahhh… itu… Ustaz… aku mau keluar…”
10054Please respect copyright.PENANAGnzWQ5Jbm2
Aku percepat gerakan. Jari-jariku maju mundur cepat, keluar masuk vagina yang semakin basah. Cairannya menetes ke telapak tanganku.
10054Please respect copyright.PENANAzBFiT9wKOE
Dia gemetar hebat, kakinya lemas. Aku pegang pinggangnya biar nggak jatuh.
10054Please respect copyright.PENANAdrnww4xGZJ
“Aku… keluar… Ustaz… aaahhh!!”
10054Please respect copyright.PENANA2dCoMOW2Gm
Dia orgasme pertama. Badannya kejang-kejang kecil, vaginanya berkedut kuat di sekitar jariku. Cairannya muncrat sedikit, basahin celana pendeknya.
10054Please respect copyright.PENANAe83X8HuSu5
Dia lemas di pelukanku, napasnya tersengal-sengal.
10054Please respect copyright.PENANAp5loX0zIgA
Aku tarik jari, bawa ke depan bibirnya.
10054Please respect copyright.PENANANyyJJkTSl8
“Cicipi sendiri.”
10054Please respect copyright.PENANAuEnqGO9ql2
Dia buka mulut pelan, jilat jari-jariku yang basah cairannya. Matanya liar.
10054Please respect copyright.PENANAWoPyxk0XAY
“Manis… Ustaz… aku mau rasain Ustaz juga…”
10054Please respect copyright.PENANA3xhkmoWLoO
Dia berlutut pelan di depanku. Tangan gemetar buka resleting celanaku. Kontolku sudah keras banget, menonjol di balik celana dalam.
10054Please respect copyright.PENANA3HAhZEshIy
Dia tarik keluar. Matanya melebar.
10054Please respect copyright.PENANA5hAdiN4YiQ
“Ustaz… gede banget…”
10054Please respect copyright.PENANAndZb8hQSNU
Dia pegang batangnya pelan, naik turun. Lalu deketin ke bibirnya. Dia jilat kepalanya pelan, muter lidah di sekitar ujung. Aku mendesah.
10054Please respect copyright.PENANAcUaWSzdgpE
Dia masukin ke mulutnya. Hangat. Basah. Lidahnya main di bawah. Dia mulai gerak maju mundur, kepalanya naik turun. Suara isapannya kedengeran jelas di gudang sepi itu.
10054Please respect copyright.PENANAk179ceDuxC
Aku pegang rambutnya pelan, ikutin irama.
10054Please respect copyright.PENANA5p3VkCmKUv
“Bagus… Aisyah… dalam lagi…”
10054Please respect copyright.PENANAuctCByAk1t
Dia masukin lebih dalam sampai nyentuh tenggorokan. Dia tersedak kecil, tapi nggak berhenti. Air matanya keluar sedikit, tapi matanya tetap nantang.
KELANJUTANNYA DI LINK 🔗 DIBAWAK INI
10054Please respect copyright.PENANAdoCi2dfZV9
https://lynk.id/timteng67


