Nama aku Rian. Umur 27 tahun. Sudah menikah tiga tahun sama Nita, istri yang orang bilang “sempurna buatku”. Cantik, pendiam, alim, anaknya ustadz besar di kota sebelah. Kami tinggal di kompleks pesantren kecil yang aku pimpin sejak dua tahun lalu—Pesantren Al-Hikmah di pinggiran Kudus. Santri cowok ada 120-an, santri putri 80-an. Aku ngajar ngaji, fiqih, sama ngurusin administrasi. Hidup terlihat lurus sekali dari luar.
11708Please respect copyright.PENANAlG4ghEpWUq
Tapi sebenarnya aku lagi capek. Capek banget.
11708Please respect copyright.PENANA5ARIdKqmU7
Nita tipe istri yang selalu bilang “sudah, Mas, nanti aja kalau lagi nggak capek”. Dan aku hampir selalu capek. Bukan capek kerja, tapi capek menahan diri. Dia nggak suka disentuh kalau belum mandi wajib, nggak suka lampu nyala pas malam, nggak suka suara berisik, nggak suka posisi selain misionaris, dan paling parah: dia selalu buru-buru selesai. Lima menit, tujuh menit paling lama. Habis itu langsung shalat sunnah dua rakaat, terus tidur membelakangi aku.
11708Please respect copyright.PENANA0X2E5AB7xo
Aku nggak pernah ngomong kasar ke dia. Cuma diam. Lama-lama diam itu jadi racun.
11708Please respect copyright.PENANAONdYfBCDx0
Tahun ini pesantren kami nerima santri baru putri yang lumayan banyak. Salah satunya namanya Aisyah. Umur 19 tahun, baru lulus SMA dari kota besar. Orangtuanya orang berada, tapi mereka ingin anaknya “ditempa” di pesantren dulu sebelum kuliah. Badannya tinggi 168, kulitnya putih susu agak kecokelatan karena suka main voli dulu di SMA. Rambutnya panjang lurus hitam pekat, selalu dikuncir satu waktu di asrama.
11708Please respect copyright.PENANATcmiGSAJ0F
Yang pertama kali bikin aku perhatiin dia bukan karena cantik—banyak yang cantik di sini. Tapi karena matanya. Matanya besar, bulu matanya lentik alami, dan selalu menatap lurus ke orang yang diajak bicara. Nggak genit, tapi juga nggak takut. Malah agak menantang. Kayak orang yang tahu dia punya sesuatu yang orang lain pengen, tapi dia belum mau kasih.
11708Please respect copyright.PENANAn8cO8jOq4u
Awalnya interaksi biasa saja.
11708Please respect copyright.PENANA34c1r3i3Um
Pagi itu aku lagi ngasih pengajian umum di masjid putri. Tema fiqih thaharah. Aku duduk di depan, santri putri duduk melingkar pakai mukena. Aisyah duduk di baris kedua dari depan, agak ke samping kiri. Mukenanya putih polos, tapi entah kenapa kainnya nempel pas di bagian dada. Aku coba nggak lihat ke sana, tapi susah.
11708Please respect copyright.PENANAcls46rBpGw
“Jadi kalau haid sudah selesai, mandi wajibnya harus niat dulu, terus basuh seluruh badan tiga kali dari atas sampai bawah. Airnya harus mengalir ke seluruh kulit, termasuk lipatan-lipatan yang tersembunyi,” aku jelasin sambil buka buku.
11708Please respect copyright.PENANA0wfKXoxnu0
Ada yang angkat tangan. Bukan Aisyah. Tapi Aisyah yang tiba-tiba bicara tanpa angkat tangan.
11708Please respect copyright.PENANAGkY0PivYxS
“Ustaz… lipatan yang tersembunyi itu maksudnya apa ya? Maksudnya bagian yang nggak kelihatan kalau orang berdiri?”
11708Please respect copyright.PENANANQcA2WCVea
Suara dia lembut, tapi jelas. Beberapa santri putri lain langsung saling lirik, ada yang senyum kecil, ada yang pura-pura nunduk malu.
11708Please respect copyright.PENANABZ6JSG65v7
Aku agak kaget. Biasanya pertanyaan begini datang dari santri yang lebih senior, atau malah nggak ada yang berani tanya langsung.
11708Please respect copyright.PENANAUT3hohV72n
Aku tarik napas pelan.
11708Please respect copyright.PENANABOCO6gr7cm
“Ya… maksudnya lipatan di ketiak, belakang telinga, lipatan paha, dan… bagian intim wanita. Semuanya harus terkena air mengalir. Kalau cuma diguyur doang tanpa memastikan air masuk ke lipatan, mandinya belum sah.”
11708Please respect copyright.PENANAghb4XCnOig
Dia mengangguk pelan, matanya masih nempel ke aku.
11708Please respect copyright.PENANABZKEpVsNdV
“Jadi kalau ada bulu di situ… harus dicukur dulu biar airnya sampai?”
11708Please respect copyright.PENANAaM29OgS6bF
Seketika suasana jadi hening banget. Beberapa santri putri menutup mulut pakai ujung mukena. Ada yang batuk kecil pura-pura.
11708Please respect copyright.PENANAhyNWWWSv09
Aku ngerasa leherku panas. Bukan karena malu, tapi karena tiba-tiba bayangan itu muncul di kepala: Aisyah, telanjang, kakinya terbuka sedikit, tangannya memegang pisau cukur…
11708Please respect copyright.PENANAWSGZiMhSa8
Aku buru-buru balik fokus.
11708Please respect copyright.PENANAxJLDXGE8tk
“Itu sunnah, bukan wajib. Yang wajib air mengalir ke kulit. Kalau bulu menghalangi air sampai ke kulit, ya harus dibersihkan dulu.”
11708Please respect copyright.PENANAEaW0xt8cNO
Dia cuma mengangguk sekali lagi, senyum tipis. Senyum yang kayak bilang: “Aku tahu kamu lagi mikirin apa sekarang, Ustaz.”
11708Please respect copyright.PENANAv4FnEo2nPA
Selesai pengajian aku langsung balik ke rumah dinas. Nita lagi masak di dapur. Bau rendang. Biasa.
11708Please respect copyright.PENANAdBIfHdHAEl
“Mas pulang cepet hari ini?” tanyanya tanpa menoleh.
11708Please respect copyright.PENANAQ5QUq2BtQ8
“Iya, capek ngajar.”
11708Please respect copyright.PENANA3iNqaLeVpj
Dia cuma mengangguk. Nggak nanya lebih lanjut.
11708Please respect copyright.PENANAtVixxeyghp
Malamnya aku nggak bisa tidur. Bayangan Aisyah tadi nempel terus. Bukan cuma pertanyaannya, tapi cara dia ngomong. Santai. Berani. Kayak orang yang tahu persis efek kata-katanya ke lawan bicara.
11708Please respect copyright.PENANAZgDQL2WI0O
Besok paginya aku lagi duduk di teras kantor pesantren, ngecek daftar absen. Tiba-tiba Aisyah datang sendiri. Pakai gamis abu-abu panjang, kerudung segi empat warna senada, tapi entah kenapa tetap kelihatan bentuk badannya. Pinggangnya kecil, dadanya… ya Tuhan, dadanya menonjol jelas meski sudah ditutup dua lapis kain.
11708Please respect copyright.PENANATJsNA2DoEC
“Assalamualaikum, Ustaz.”
11708Please respect copyright.PENANAsWCdk4V2UC
“Waalaikumsalam. Ada apa, Aisyah?”
11708Please respect copyright.PENANAx85B2fDjnz
Dia berdiri di depan tangga teras, tangannya memegang map plastik.
11708Please respect copyright.PENANAPytQrGSUmh
“Ini laporan kesehatan dari dokter mata. Kata ibu asrama harus diserahkan langsung ke Ustaz.”
11708Please respect copyright.PENANAgT9t9jHbJb
Aku ambil mapnya. Jari kami nggak sengaja bersentuhan sedetik. Kulitnya dingin, lembut.
11708Please respect copyright.PENANArPSLO76SYe
“Makasih. Kamu sendiri kenapa ke dokter mata?”
11708Please respect copyright.PENANAozwDVfzUS7
“Keluhannya silau kalau baca lama di bawah lampu neon. Kata dokter cuma butuh kacamata minus tipis.”
11708Please respect copyright.PENANAHgrmlQEPHn
Dia diam sebentar, lalu tiba-tiba nunduk sedikit, suaranya pelan.
11708Please respect copyright.PENANArjKNZAII9n
“Ustaz… kemarin pertanyaan saya bikin malu nggak?”
11708Please respect copyright.PENANAEEaeauqwPN
Aku pura-pura sibuk buka map.
11708Please respect copyright.PENANAaVuhvVpZ77
“Nggak kok. Itu pertanyaan bagus. Santri harus berani tanya kalau nggak paham.”
11708Please respect copyright.PENANAoydW7FUtLe
Dia tersenyum kecil.
11708Please respect copyright.PENANAFo2dxKuohd
“Tapi Ustaz kelihatan agak… tegang waktu jawab.”
11708Please respect copyright.PENANAkHAw64cLvL
Aku langsung angkat muka. Matanya lagi-lagi nempel ke aku. Kali ini ada kilau main-main di situ.
11708Please respect copyright.PENANARClYxNdI0L
“Aku tegang karena ruangan panas,” jawabku datar.
11708Please respect copyright.PENANALTjtcWZy24
Dia ketawa pelan. Suara ketawanya lembut, tapi bikin bulu kudukku berdiri.
11708Please respect copyright.PENANAxD52DPCDff
“Panas ya, Ustaz? Padahal tadi pagi hujan.”
11708Please respect copyright.PENANA4vEdNlZ432
Dia balik badan, mau pergi. Tapi sebelum turun tangga, dia menoleh lagi.
11708Please respect copyright.PENANA2usILnW1wZ
“Kalau Ustaz kepanasan lagi… bilang aja ke saya. Siapa tahu saya bisa bantu.”
11708Please respect copyright.PENANA4PxMd9Rs14
Lalu dia pergi. Langkahnya ringan, bokongnya bergoyang pelan di balik gamis longgar itu.
11708Please respect copyright.PENANAd4jYl4E5WV
Aku duduk diam di situ hampir sepuluh menit, tangan masih pegang map yang nggak kubuka sama sekali.
11708Please respect copyright.PENANAze17h0eMAj
Malam itu Nita tidur lebih cepat dari biasanya. Aku ke kamar mandi, buka air dingin, siram kepala sampai leher. Tapi gambar Aisyah nggak hilang. Malah tambah jelas.
11708Please respect copyright.PENANACjA0BxLGpE
Aku bayangin dia berdiri di depanku, gamisnya dilepas pelan-pelan. Bra hitam renda yang nggak sesuai sama image santri putri. Payudaranya penuh, bulat, putingnya cokelat muda, mengeras karena udara dingin kamar mandi. Perutnya rata, ada garis tipis ke bawah menuju…
11708Please respect copyright.PENANAceVV5Gaix0
Aku matiin keran. Napasku berat.
11708Please respect copyright.PENANA8DGd6fqRqx
Ini salah. Ini dosa besar.
11708Please respect copyright.PENANAo4NdSKuriS
Tapi kenapa rasanya enak banget cuma mikirinnya saja?
11708Please respect copyright.PENANAOrZrBvRBFR
Besoknya aku mulai sengaja nyari alasan buat ketemu dia.
11708Please respect copyright.PENANAYWac5Ff08b
Pertama cuma alasan kecil. Minta dia bantu ngetik daftar nama santri baru. Dia datang ke kantor, duduk di kursi tamu, jarak kami cuma satu meja. Bau parfumnya samar-samar, manis bunga-bungaan.
11708Please respect copyright.PENANARJNR0VH6fR
Kami ngobrol biasa dulu. Tentang kuliah nanti, tentang orangtuanya, tentang kehidupan di pesantren.
11708Please respect copyright.PENANA1Ss9IZ1hdz
Lama-lama obrolan bergeser.
11708Please respect copyright.PENANAklumzW0U81
“Kamu nggak kangen pacar di kota?” tanyaku iseng.
11708Please respect copyright.PENANACNik5BGLcC
Dia geleng kepala, mainin ujung jilbabnya.
11708Please respect copyright.PENANA0ICXZCLc8l
“Nggak ada pacar, Ustaz. Emang sengaja nggak mau pacaran. Kata ayah, pacaran itu buang waktu.”
11708Please respect copyright.PENANAkw6vkCZpeC
“Tapi pasti pernah ada yang naksir?”
11708Please respect copyright.PENANAODbzg6nYU6
Dia senyum tipis.
11708Please respect copyright.PENANA8VlPKHeeIC
“Banyak. Tapi nggak ada yang berani ngomong langsung. Paling cuma lirik-lirik doang.”
11708Please respect copyright.PENANAunHVJrZfjN
“Lha kamu nggak suka yang berani?”
11708Please respect copyright.PENANAqPmQ2vhQNb
“Suka. Tapi yang berani tapi sopan. Yang berani tapi tahu batas.”
11708Please respect copyright.PENANA1vAuW4bVnc
Dia ngomong pelan, tapi matanya lagi-lagi nantang.
11708Please respect copyright.PENANANyB5lHi8o8
Aku ngerasa jantungku berdegup kencang.
11708Please respect copyright.PENANA6mLqwT11pR
“Kalau ada yang berani tapi tahu batas… kamu mau kasih kesempatan?”
11708Please respect copyright.PENANAASWZirthXr
Dia diam lama. Lalu mencondongkan badan sedikit ke depan. Dadanya ikut maju, gamisnya tertarik ke depan sampai bentuk bra samar-samar kelihatan.
11708Please respect copyright.PENANAEmQhsdCuhV
“Tergantung, Ustaz. Kalau orangnya… punya tanggung jawab. Punya kekuatan buat ngejaga rahasia. Mungkin iya.”
11708Please respect copyright.PENANA7gtECVbh2l
Aku nggak bisa jawab apa-apa. Cuma menelan ludah.
11708Please respect copyright.PENANAtE2nWfv8Yy
Dia bangkit, merapikan map di meja.
11708Please respect copyright.PENANAQCy2kpZNHT
“Makasih waktunya, Ustaz. Kalau butuh bantuan lagi… panggil aja saya.”
11708Please respect copyright.PENANA7Z6ncG852R
Dia keluar. Pintu ditutup pelan.
11708Please respect copyright.PENANAUx6vDonOis
Aku langsung ke belakang meja, duduk, tangan gemetar.
11708Please respect copyright.PENANAUbv0OLlWw2
Celanaku sudah ketat banget.
___
11708Please respect copyright.PENANAwhTyVU4MIE
Hari-hari berikutnya rasanya seperti main kucing-kucingan yang nggak ada habisnya. Aku sengaja nggak langsung pilih opsi yang terlalu cepat. Aku pengen ini lambat. Pengen dia yang mulai merasa “panas” duluan. Pengen dia yang mulai cari-cari alasan buat deket. Karena kalau aku yang nyerang duluan, nanti aku yang kelihatan lemah. Dan aku nggak mau kelihatan lemah di depan dia.
11708Please respect copyright.PENANA2JtkhgB1DW
Jadi aku pilih jalur tengah: tugas khusus.
11708Please respect copyright.PENANAaXuONrOFh3
Aku panggil dia ke kantor lagi, kali ini sore menjelang maghrib. Kantor pesantren sudah sepi, sebagian besar santri lagi ke masjid buat shalat berjamaah. Pintu aku biarin terbuka sedikit, biar nggak terlalu mencurigakan, tapi cukup rapat supaya suara nggak terlalu kedengeran ke luar.
11708Please respect copyright.PENANAcaZPxZmlzQ
Aisyah datang tepat waktu. Gamisnya kali ini warna navy tua, bahan yang agak tebal tapi tetap nempel di badan kalau dia gerak. Kerudungnya krem, dipasang agak longgar di bagian leher, jadi ada sedikit kulit leher putihnya yang kelihatan. Aku langsung ngerasa tenggorokan kering.
11708Please respect copyright.PENANAzERpY71THk
“Assalamualaikum, Ustaz. Dipanggil?”
11708Please respect copyright.PENANAXFOWevrf0f
“Waalaikumsalam. Masuk, duduk.”
11708Please respect copyright.PENANAKog9UxkwU0
Dia masuk, tutup pintu pelan sampai klik. Lalu duduk di kursi tamu yang sama seperti kemarin. Kakinya disilangin sedikit, lututnya rapat, tapi posisi duduknya agak condong ke depan. Dadanya lagi-lagi menonjol, kain gamisnya ketarik ke depan sampai aku bisa lihat garis bra hitam samar-samar di balik kain tipis bagian atas.
11708Please respect copyright.PENANAxhmRhHO4fE
“Aku mau kasih tugas tambahan buat kamu,” kataku sambil buka laptop. “Kamu kan jago ngetik dan rapi. Aku lagi bikin buku kecil tentang tata cara shalat sunnah rawatib. Mau aku cetak buat dibagiin ke santri baru. Kamu bantu ngetik ulang dari catatan tangan aku, terus desain layout-nya juga. Bisa?”
11708Please respect copyright.PENANANrSNVKalTI
Dia mengangguk cepat, matanya berbinar.
11708Please respect copyright.PENANAcYgKtwVqIw
“Bisa banget, Ustaz. Seneng malah kalau bisa bantu.”
11708Please respect copyright.PENANAjC6wJHSOUr
“Bagus. Tapi ini harus selesai dalam dua minggu. Jadi kamu harus sering ke sini, mungkin sore-sore gini, atau kalau perlu malam setelah isya kalau aku masih di kantor.”
11708Please respect copyright.PENANASoKlre04pP
Dia diam sebentar, lalu senyum tipis.
11708Please respect copyright.PENANAVkFgYDxOgz
“Malam-malam juga boleh ya, Ustaz? Nggak apa-apa?”
11708Please respect copyright.PENANAoH2wPzTJKn
Aku pura-pura cuek.
11708Please respect copyright.PENANAQ53qE94T5P
“Kalau kamu nggak takut keluar asrama malam-malam, ya nggak apa-apa. Pintu belakang kantor kan langsung ke gang kecil, nggak lewat asrama putri. Lebih aman.”
11708Please respect copyright.PENANAbP2z0DSgYX
Dia menggigit bibir bawahnya pelan. Gerakan kecil itu bikin aku langsung ngebayangin bibirnya yang penuh itu lagi menggigit sesuatu yang lain.
11708Please respect copyright.PENANAk6QIAUrfEL
“Oke deh. Aku usahain datang tiap sore dulu. Kalau perlu malam, aku kabarin Ustaz ya.”
11708Please respect copyright.PENANA1X13JPgEch
“Kabarin lewat apa? HP dilarang di pesantren.”
11708Please respect copyright.PENANAW0jJlct5UI
Dia tertawa kecil, suaranya kayak lonceng kecil.
11708Please respect copyright.PENANAQgDzQSGYG5
“Ustaz lupa? Aku kan anak baru. HP aku masih disimpen ibu asrama, tapi aku punya second number di WA. Nomor lama dari SMA. Nggak ada yang tahu di sini.”
11708Please respect copyright.PENANArCNhKdp0jb
Aku pura-pura kaget.
11708Please respect copyright.PENANAMjSG9gMjHR
“Lho kok bisa lolos?”
11708Please respect copyright.PENANAMB7c301tog
“Rahasia dong,” katanya sambil kedip mata. “Ustaz mau nomornya nggak?”
11708Please respect copyright.PENANAp8C9MAN23h
Aku diam. Jantungku berdegup kencang. Ini langkah pertama yang bener-bener nyebrang garis.
11708Please respect copyright.PENANAC5MjfkaqD6
Akhirnya aku mengangguk pelan.
11708Please respect copyright.PENANA9NSZiXsMfh
“Kirim aja ke nomor ini.” Aku kasih kertas kecil dengan nomorku.
11708Please respect copyright.PENANAmTq0DJwG0w
Dia ambil kertas itu, jarinya sengaja nyenggol jemariku lagi. Kali ini lebih lama dari kemarin. Dingin, lembut, tapi ada getaran kecil.
11708Please respect copyright.PENANAOUWKgK5zV6
Malam itu, jam 21:47, WA masuk.
11708Please respect copyright.PENANABqNr9AWQTP
**Aisyah:**
Ustaz… ini Aisyah. Nomornya udah disimpen ya? 😊
11708Please respect copyright.PENANAzbgbX68bau
Aku langsung balas, tangan gemetar.
11708Please respect copyright.PENANAvtaMgs3rAj
**Rian:**
Udah. Makasih. Jangan sering-sering chat ya, nanti ketahuan.
11708Please respect copyright.PENANAf5vW5ZAISf
**Aisyah:**
Tenang aja, Ustaz. Aku hapus chat tiap selesai.
Ustaz lagi apa sekarang?
11708Please respect copyright.PENANAnVog8Z4mxW
**Rian:**
Lagi di kamar. Istri udah tidur.
11708Please respect copyright.PENANAks7jSl4aDp
**Aisyah:**
Oh… jadi Ustaz sendirian ya sekarang? 😏
11708Please respect copyright.PENANA9T9gOh575K
Aku ngerasa darah naik ke kepala. Dia mulai main api.
11708Please respect copyright.PENANAzoCjKKFD0M
**Rian:**
Iya. Kamu?
11708Please respect copyright.PENANAAWxA0JBdUj
**Aisyah:**
Di kamar mandi asrama. Lagi mandi abis olahraga tadi. Panas banget badan.
11708Please respect copyright.PENANA09J9RNe4nJ
Aku langsung ngebayangin. Air mengalir di kulit putihnya. Rambut basah nempel di punggung. Payudara yang penuh itu basah, putingnya mengeras karena air dingin. Aku ngerasa celanaku mulai sesak.
11708Please respect copyright.PENANAryJNDHxi5I
**Rian:**
Hati-hati jangan kebiasaan mandi malam-malam. Nanti masuk angin.
11708Please respect copyright.PENANAUBp3uRV3uq
**Aisyah:**
Nggak apa-apa, Ustaz. Badan aku kuat kok.
Lagian… kadang aku suka mandi lama-lama. Biar rileks.
11708Please respect copyright.PENANADGUcyQiPkF
Dia kirim stiker muka imut yang lagi nyanyi di bawah shower.
11708Please respect copyright.PENANA47g9zUdF9a
Aku nggak balas langsung. Aku tarik napas dalam-dalam. Ini bahaya. Tapi enak banget.
11708Please respect copyright.PENANAMzU95CDS5s
Besok sore dia datang lagi. Kali ini bawa flashdisk berisi file yang dia ketik semalam. Kami duduk berhadapan di meja kerja. Jarak cuma sekitar 80 cm. Aku bisa cium bau sabun mandi dari badannya. Wangi susu vanila.
11708Please respect copyright.PENANAzcprYMsbWC
Kami mulai kerja. Aku jelasin layout, dia ngetik. Kadang tangannya sengaja nyenggol tanganku waktu nunjuk layar. Kadang kakinya di bawah meja sengaja nyenggol betisku. Pelan. Kayak nggak sengaja. Tapi aku tahu itu sengaja.
11708Please respect copyright.PENANA24AQBoZMAh
“Ustaz… ini bagian wudhu sunnahnya aku taruh di halaman 12 ya?”
11708Please respect copyright.PENANAF7UIEfOqXj
“Iya, bagus.”
11708Please respect copyright.PENANAQmmPyrXg1Y
Dia mencondongkan badan ke depan buat nunjuk layar. Dadanya hampir nyentuh meja. Aku bisa lihat celah leher gamisnya. Bra hitam renda lagi. Cup-nya penuh, payudaranya bulat sempurna, ada garis samar cleavage yang dalam. Kulit di situ putih sekali, ada bintik kecil di sisi kiri.
11708Please respect copyright.PENANAAohLHzPEHH
Aku buru-buru alihkan pandangan.
11708Please respect copyright.PENANAQWifzxSCPE
Dia kayak tahu aku lagi ngeliatin. Dia malah nggak mundur. Malah tambah deket.
11708Please respect copyright.PENANAW2UIx45jtL
“Ustaz… panas ya ruangannya?”
11708Please respect copyright.PENANAkL2GuPREun
“Iya, kipasnya rusak.”
11708Please respect copyright.PENANAdwGKtWzjEN
Dia ketawa pelan.
11708Please respect copyright.PENANApD8cZSUQoo
“Bukan kipasnya yang panas… tapi Ustaz yang lagi panas, kayaknya.”
11708Please respect copyright.PENANAlACIV95zOB
Aku diam. Nggak bisa jawab.
11708Please respect copyright.PENANAfSb3CVrVpM
Dia tiba-tiba berdiri, berjalan ke belakangku, pura-pura lihat dari belakang layar.
11708Please respect copyright.PENANAWUuqg2wEfZ
“Eh, ini font-nya kurang jelas ya, Ustaz. Coba dibesarkan.”
11708Please respect copyright.PENANA2yHbua3YTs
Dia membungkuk di belakang pundakku. Dadanya sengaja nyentuh punggungku. Lembut. Kenyal. Hangat. Aku ngerasa putingnya yang mengeras itu nempel di tulang belakangku lewat kain tipis.
11708Please respect copyright.PENANA02gph8XssK
Aku nggak gerak. Cuma napas yang jadi berat.
11708Please respect copyright.PENANAd7ZayR0v6B
Dia berbisik di telingaku. Suaranya pelan banget, hampir kayak hembusan angin.
11708Please respect copyright.PENANAN8S9efXiCE
“Ustaz… jantung Ustaz deg-degan banget. Aku denger dari sini.”
11708Please respect copyright.PENANAIB5cEDzqLM
Aku menoleh pelan. Wajahnya cuma 10 cm dari wajahku. Bibirnya basah, matanya setengah terpejam.
11708Please respect copyright.PENANAogZ70aHwxV
“Kamu nakal banget, Aisyah.”
11708Please respect copyright.PENANAi7LPHtNDc7
Dia tersenyum. Bibirnya mendekat lagi.
11708Please respect copyright.PENANAiupTQ3ARuH
“Nakal gimana, Ustaz? Aku cuma bantu kerja kok…”
11708Please respect copyright.PENANA1KFuG5Vs1O
Tangan kirinya turun pelan, nyentuh paha dalamku dari samping. Jarinya gerak pelan naik-turun di atas kain celana.
11708Please respect copyright.PENANAzb2KENbXfr
Aku pegang tangannya. Keras.
11708Please respect copyright.PENANAcubfWKSW6w
“Jangan di sini.”
11708Please respect copyright.PENANAGd2BpW13LN
Dia nggak takut. Malah tambah deket.
11708Please respect copyright.PENANAL323WH5dA3
“Kenapa? Takut ketahuan?”
11708Please respect copyright.PENANADson0urMfF
“Iya.”
11708Please respect copyright.PENANA0aoGrjm7Bv
“Kalau nggak ketahuan… boleh?”
11708Please respect copyright.PENANAVHJuxevQJH
Aku nggak jawab. Cuma menatap matanya lama.
11708Please respect copyright.PENANAypEGv8RvDj
Dia tarik tangannya pelan, lalu balik duduk. Tapi sebelum duduk, dia bisik lagi.
11708Please respect copyright.PENANAmHHvm10Aou
“Nanti malam aku kirim sesuatu ke WA Ustaz. Lihat aja sendiri. Jangan buka kalau istri Ustaz masih bangun ya…”
11708Please respect copyright.PENANATlwLtjY5Rn
Dia keluar. Tinggal aku sendirian di kantor, tangan gemetar, celana ketat banget, dan pikiran kacau.
11708Please respect copyright.PENANAFrBQWEcqZw
Jam 00:14 malam itu WA masuk. Foto.
11708Please respect copyright.PENANAk0JHFeRuU2
Aku buka diam-diam di kamar mandi, pintu dikunci.
11708Please respect copyright.PENANA4h9gSXvKXj
Foto itu selfie dia di kamar asrama. Lampu redup. Dia pakai kaos tidur ketat warna putih tanpa bra. Putingnya kelihatan jelas menonjol di balik kain tipis. Rambutnya terurai basah. Dia angkat kaosnya sedikit sampai perut rata kelihatan, ada garis tipis ke bawah menuju celana dalam hitam renda.
11708Please respect copyright.PENANAQJtI8Ve5g0
Di bawah foto cuma ada satu kalimat:
11708Please respect copyright.PENANAtHz6ZPmXtC
**Aisyah:**
Ustaz… ini yang Ustaz bayangin kemarin pas aku tanya soal lipatan tersembunyi, kan?
Mau lihat yang lebih jelas nggak besok malam?
___
11708Please respect copyright.PENANA6XD4HPBQr6
Aku nggak langsung balas foto itu. Aku biarin semalaman. Biar dia yang gelisah nunggu. Biar dia mikir aku lagi marah, atau lagi takut, atau lagi… pengen banget tapi nahan diri. Aku tahu cewek kayak Aisyah—dia suka kontrol, suka ngerasa dia yang pegang kendali. Jadi aku kasih dia rasa nggak pasti dulu.
11708Please respect copyright.PENANAlfpGLGH5CB
Pagi harinya aku shalat Subuh di masjid utama, sendirian di saf paling depan. Pikiranku kacau. Tiap kali sujud, gambar foto semalem muncul lagi. Kaos putih ketat, puting cokelat muda yang menonjol jelas, perut rata dengan garis tipis ke bawah, celana dalam hitam renda yang kelihatan samar-samar di pinggir foto. Aku ngerasa dosa banget, tapi tubuhku bereaksi sebaliknya. Setelah shalat aku langsung ke kamar mandi masjid, siram air dingin ke muka, ke leher, ke dada, berharap bisa matiin api yang udah mulai nyala di bawah perut.
11708Please respect copyright.PENANAFUHsiUliY3
Nita lagi masak bubur ayam pas aku pulang. Dia cuma nanya, “Mas kok pagi-pagi udah mandi lagi?” Aku jawab, “Keringetan semaleman.” Dia cuma mengangguk, nggak curiga. Nita emang gitu—selalu percaya aku sepenuhnya. Itu yang bikin aku tambah bersalah, tapi juga tambah… bebas.
11708Please respect copyright.PENANA249PgSnGZ6
Siangnya aku sengaja nggak panggil dia ke kantor. Biar dia yang cari. Dan bener aja, jam 15:30 WA masuk dari nomornya.
11708Please respect copyright.PENANAFYe9xuFSbu
**Aisyah:**
Ustaz… kok nggak bales semalem? Foto aku jelek ya? 😔
11708Please respect copyright.PENANAkOnqhAiBko
Aku baca, senyum kecil. Mulai deh.
11708Please respect copyright.PENANAGHBaleca7L
**Rian:**
Bukan jelek. Cuma lagi mikir.
11708Please respect copyright.PENANAkCtANf3UNz
**Aisyah:**
Mikir apa?
11708Please respect copyright.PENANAIxXb9YcJup
**Rian:**
Mikir ini bener apa nggak. Kamu tahu kan aku sudah beristri.
11708Please respect copyright.PENANAmSqjyteZAn
**Aisyah:**
Tau. Makanya aku nggak minta Ustaz cerai.
Aku cuma minta… Ustaz liat aku. Dan mungkin… sentuh aku. Sekali aja.
Kalau Ustaz nggak mau, ya udah. Aku hapus nomor ini sekarang.
11708Please respect copyright.PENANAz202RItv99
Dia kirim voice note. Suaranya pelan, agak serak, kayak lagi nahan nangis tapi sekaligus nahan nafsu.
11708Please respect copyright.PENANAnjDnRh5QxB
“Aku tahu Ustaz takut. Aku juga takut. Tapi tiap kali Ustaz ngomong di pengajian, aku ngerasa badan aku panas. Tiap Ustaz liat aku, aku ngerasa… basah di bawah. Ustaz mau aku bohong? Aku nggak bohong. Aku pengen Ustaz banget. Kalau Ustaz bilang stop, aku stop. Tapi kalau Ustaz diam… berarti Ustaz juga pengen, kan?”
11708Please respect copyright.PENANALwCjIJGGWO
Aku baca transkrip voice note itu berkali-kali. Jantungku berdegup kencang. Aku tahu ini titik balik. Kalau aku bales “stop”, mungkin dia mundur. Tapi aku nggak mau dia mundur.
11708Please respect copyright.PENANAtR1oZBcnu3
**Rian:**
Malam ini jam 21:30. Gudang buku belakang masjid putri. Bawa senter kecil. Jangan pakai sandal yang berisik.
11708Please respect copyright.PENANAaCfX7JZBnv
Dia bales cepat.
11708Please respect copyright.PENANAB6UjaZllh9
**Aisyah:**
Alhamdulillah… aku dateng ya Ustaz.
Ustaz mau aku pakai apa?
11708Please respect copyright.PENANA6ZDwzTcKGw
**Rian:**
Pakai yang kemarin di foto. Kaos putih ketat. Tanpa bra. Celana pendek kalau bisa. Jangan pakai jilbab.
11708Please respect copyright.PENANAFZcqfgxLzQ
Dia kirim stiker muka malu tapi senyum nakal.
11708Please respect copyright.PENANALwgSm2KGOb
**Aisyah:**
Siap, Ustaz. Aku bawa mukena juga, buat nutupin kalau ada yang lewat.
11708Please respect copyright.PENANAjH6tskZo0f
Malam itu hujan deras. Bagus, suara hujan nutupin langkah kaki. Aku keluar rumah dinas jam 21:15, bilang ke Nita aku mau ke kantor cek laporan keuangan yang besok harus dikirim ke yayasan. Dia cuma mengangguk sambil ngantuk.
11708Please respect copyright.PENANAX9jc887Fvm
Aku jalan lewat belakang masjid, pakai jaket hitam supaya nggak kelihatan. Gudang buku itu sebenarnya gudang kecil bekas ruang arsip, pintunya dari kayu tua, jarang dipake orang. Aku bawa kunci cadangan yang aku simpen sendiri.
11708Please respect copyright.PENANA14Gav0A5qZ
Aku masuk duluan, nyalain lampu kecil di pojok, nggak terlalu terang. Bau buku tua campur bau lembab. Aku duduk di kursi kayu tua, nunggu.
11708Please respect copyright.PENANALlUDPbHzZi
Jam 21:32 pintu dibuka pelan. Aisyah masuk, langsung tutup pintu dan kunci dari dalam. Dia pakai mukena putih di luar, tapi pas mukenanya dilepas… ya Allah.
11708Please respect copyright.PENANAA9TtEGj5CT
Kaos putih ketat persis kayak di foto. Tanpa bra. Putingnya sudah mengeras, menonjol jelas di balik kain tipis yang agak basah karena hujan. Dadanya naik turun cepat, napasnya berat. Celana pendek hitam ketat, nempel di paha mulusnya. Kakinya panjang, putih, betisnya kencang. Rambutnya terurai basah, nempel di bahu dan punggung.
11708Please respect copyright.PENANA7l73wtHZjE
Dia berdiri di depan pintu, tangannya gemetar sedikit.
11708Please respect copyright.PENANAhTSTvywDi5
“Ustaz… aku dateng.”
11708Please respect copyright.PENANAaInflVvgtq
Aku berdiri pelan. Jarak kami masih dua meter.
11708Please respect copyright.PENANA0WYfyZhmRA
“Kamu yakin mau lanjut?”
11708Please respect copyright.PENANADgG2jxHCBq
Dia mengangguk cepat.
11708Please respect copyright.PENANAg7uOH5oKEa
“Aku yakin. Ustaz?”
11708Please respect copyright.PENANAvo3udbGa2z
Aku melangkah mendekat. Satu langkah. Dua langkah. Sampai jarak tinggal setengah meter.
11708Please respect copyright.PENANAI4LaakMgjk
Aku angkat tangan kanan, sentuh pipinya pelan. Kulitnya lembut, hangat, agak dingin karena hujan. Dia menutup mata, napasnya tersengal.
11708Please respect copyright.PENANAvkXnXpuFCk
“Ustaz… aku deg-degan banget.”
11708Please respect copyright.PENANA1GsW4QpDx7
“Tenang. Kita pelan-pelan.”
11708Please respect copyright.PENANAb5QFxZVlCn
Aku turunin tangan ke lehernya, rasain denyut nadi yang cepat. Lalu ke bahu, ke lengan. Dia gemetar.
11708Please respect copyright.PENANAm8j5skGCWs
Aku tarik dia pelan ke pelukanku. Dadanya nempel di dadaku. Putingnya yang keras itu nempel lewat dua kain tipis. Aku bisa ngerasa kelembutan payudaranya yang penuh, bulat, berat. Aku peluk dia erat, tangan kiriku turun ke pinggangnya yang kecil, lalu ke bokongnya.
11708Please respect copyright.PENANADfWC1xiyZW
Bokongnya kenyal, bulat sempurna, pas di genggaman. Aku remes pelan. Dia mendesah kecil di telingaku.
11708Please respect copyright.PENANAD88Jq13hvR
“Ustaz… pegang lebih kuat…”
11708Please respect copyright.PENANAVqTcBDfhK0
Aku remes lebih keras. Jari-jariku masuk ke celah bokongnya lewat celana pendek yang ketat. Dia mendesah lagi, badannya merapat lebih erat.
11708Please respect copyright.PENANAcXtHPfTn2s
Aku bisik di telinganya.
11708Please respect copyright.PENANATodiRst57e
“Kamu basah nggak di bawah?”
11708Please respect copyright.PENANAUST9bhnYuX
Dia mengangguk pelan, mukanya merah.
11708Please respect copyright.PENANALaQOGds8fZ
“Basah banget, Ustaz… dari tadi siang udah basah mikirin ini.”
11708Please respect copyright.PENANAmtEiNogmXU
Aku tarik tangan kananku ke depan, masukin ke dalam kaosnya dari bawah. Kulit perutnya rata, halus. Aku naik pelan, sampai ke bawah payudaranya. Aku angkat payudara kirinya pelan. Berat. Lembut. Hangat. Putingnya sudah keras banget, aku putar pelan dengan jempol dan telunjuk.
11708Please respect copyright.PENANAIDYIKRF9R7
Dia menggigit bibir bawahnya, matanya setengah terpejam.
11708Please respect copyright.PENANAGnKvdKQcdZ
“Ahh… Ustaz… enak…”
11708Please respect copyright.PENANAb9U2tycxfw
Aku mainin putingnya lebih lama. Putar, cubit pelan, tarik sedikit. Dia mulai mendesah lebih keras, badannya bergoyang kecil.
11708Please respect copyright.PENANA3Kw9xVlTZ1
Aku turunin tangan kiriku ke celana pendeknya. Masuk ke dalam. Celana dalamnya sudah basah banget di bagian tengah. Aku rasain bulu halus yang rapi, lalu celah vaginanya yang licin. Bibir vaginanya tebal, lembut, sudah terbuka sedikit karena basah.
11708Please respect copyright.PENANADOPJ0RBM2p
Aku gesek pelan klitorisnya dengan jari tengah.
11708Please respect copyright.PENANAtpeWMMU2cT
Dia langsung melengkungkan badan.
11708Please respect copyright.PENANAEVmZZYvneo
“Aaahh… Ustaz… di situ… ya Allah…”
11708Please respect copyright.PENANARuR0tbQoNb
Aku gesek lebih cepat, lingkaran kecil di klitoris yang sudah bengkak. Dia mulai goyang pinggulnya ikut gerakan jariku.
11708Please respect copyright.PENANAp9uOs8Fawb
“Ustaz… masukin… tolong…”
11708Please respect copyright.PENANAtDQlymhD0g
Aku masukin satu jari pelan. Dalamnya panas, sempit, licin banget. Aku gerakin jari masuk keluar pelan, sambil jempol tetap mainin klitoris.
11708Please respect copyright.PENANAOcttSZDPhU
Dia mulai desah lebih kencang.
11708Please respect copyright.PENANAB1Syi9upCT
“Ustaz… tambah satu lagi… aku mau lebih…”
11708Please respect copyright.PENANAMEEFBq6b7P
Aku masukin jari telunjuk juga. Dua jari sekarang, gerak maju mundur, sambil melengkung ke atas nyari titik G-nya. Ketemu. Aku tekan pelan di situ.
11708Please respect copyright.PENANAXZcHsm5RNP
Dia langsung jerit kecil, tangannya mencengkeram bahuku.
11708Please respect copyright.PENANArCOVS3JNS8
“Aaahhh… itu… Ustaz… aku mau keluar…”
11708Please respect copyright.PENANA5gnnN4h0Tr
Aku percepat gerakan. Jari-jariku maju mundur cepat, keluar masuk vagina yang semakin basah. Cairannya menetes ke telapak tanganku.
11708Please respect copyright.PENANAa04lZD7QEM
Dia gemetar hebat, kakinya lemas. Aku pegang pinggangnya biar nggak jatuh.
11708Please respect copyright.PENANABMJe6XXC6q
“Aku… keluar… Ustaz… aaahhh!!”
11708Please respect copyright.PENANAQhVbRdsV9V
Dia orgasme pertama. Badannya kejang-kejang kecil, vaginanya berkedut kuat di sekitar jariku. Cairannya muncrat sedikit, basahin celana pendeknya.
11708Please respect copyright.PENANA4OVdx9rA84
Dia lemas di pelukanku, napasnya tersengal-sengal.
11708Please respect copyright.PENANAOAYL7raZ6y
Aku tarik jari, bawa ke depan bibirnya.
11708Please respect copyright.PENANAScUCnuSxGo
“Cicipi sendiri.”
11708Please respect copyright.PENANASdgoj5KRu8
Dia buka mulut pelan, jilat jari-jariku yang basah cairannya. Matanya liar.
11708Please respect copyright.PENANALGZQ5hnj5G
“Manis… Ustaz… aku mau rasain Ustaz juga…”
11708Please respect copyright.PENANA8RDz7yaUaW
Dia berlutut pelan di depanku. Tangan gemetar buka resleting celanaku. Kontolku sudah keras banget, menonjol di balik celana dalam.
11708Please respect copyright.PENANAjVLkh76H7L
Dia tarik keluar. Matanya melebar.
11708Please respect copyright.PENANAl2QqJW2Ofs
“Ustaz… gede banget…”
11708Please respect copyright.PENANACZVPd0eGYK
Dia pegang batangnya pelan, naik turun. Lalu deketin ke bibirnya. Dia jilat kepalanya pelan, muter lidah di sekitar ujung. Aku mendesah.
11708Please respect copyright.PENANArOEUuEGKgD
Dia masukin ke mulutnya. Hangat. Basah. Lidahnya main di bawah. Dia mulai gerak maju mundur, kepalanya naik turun. Suara isapannya kedengeran jelas di gudang sepi itu.
11708Please respect copyright.PENANAKQ6uPK71iX
Aku pegang rambutnya pelan, ikutin irama.
11708Please respect copyright.PENANA79Ed55dNI1
“Bagus… Aisyah… dalam lagi…”
11708Please respect copyright.PENANAcJAOkzJcm6
Dia masukin lebih dalam sampai nyentuh tenggorokan. Dia tersedak kecil, tapi nggak berhenti. Air matanya keluar sedikit, tapi matanya tetap nantang.
KELANJUTANNYA DI LINK 🔗 DIBAWAK INI
11708Please respect copyright.PENANAgz26S5IykN
https://lynk.id/time47


