-
info_outline Info
-
toc Table of Contents
-
share Share
-
format_color_text Display Settings
-
exposure_plus_1 Recommend
-
Sponsor
-
report_problem Report
-
account_circle Login
Afifah Fauziah baru satu bulan menyandang status sebagai istri dari Agus. Pernikahan yang sederhana itu langsung membawanya ke kehidupan baru yang jauh dari bayangannya sebelumnya. Bekasi—panas, padat, dan penuh hiruk pikuk—menjadi tempat ia memulai peran barunya, bukan hanya sebagai istri, tapi juga penjaga warung kecil yang jadi sumber hidup mereka.
Warung itu tidak besar. Lebih mirip gerobak bakso yang dimodifikasi—sempit, cukup untuk duduk, bahkan rebahan kalau lelah. Di dalamnya ada termos kopi, etalase berisi snack, rokok, obat-obatan ringan, dan beberapa kebutuhan kecil lain. Warung itu hidup 24 jam. Tidak pernah benar-benar sepi.
Sebelum menikah, Agus punya karyawan. Tapi setelah Afifah datang, semuanya berubah. Mereka bergantian jaga. Siang Afifah, malam Agus. Sederhana, tapi melelahkan.
Siang hari, Afifah mulai mengenal pelanggan tetap. Anak sekolah yang nongkrong sambil ketawa-ketawa, tukang ojek online yang singgah sekadar melepas lelah, sampai pria-pria dewasa yang datang dengan tatapan yang kadang sulit diartikan.
Awalnya Afifah canggung. Ia perempuan rumahan, tidak terbiasa dengan dunia luar yang seperti ini. Tapi waktu berjalan cepat. Senyumnya mulai terbiasa, suaranya mulai akrab memanggil pelanggan, dan tatapannya mulai berani menatap balik.
Di balik kesibukan itu, ada sesuatu yang perlahan berubah dalam dirinya.
Perhatian kecil dari pelanggan. Obrolan ringan yang makin lama makin personal. Candaan yang awalnya biasa, lalu mulai terasa berbeda. Afifah tidak langsung sadar, tapi ia mulai menikmati hal-hal yang dulu tidak pernah ia rasakan.
Warung kecil itu bukan hanya tempat jualan.
Itu jadi ruang pertemuan. Tempat cerita-cerita singkat. Dan perlahan… tempat munculnya rahasia.
Agus tetap seperti biasa. Kerja keras, jaga malam, lalu pulang ke kontrakan kecil untuk tidur sebentar sebelum kembali lagi. Ia percaya penuh pada istrinya.
Sementara di siang hari, di balik sempitnya warung, di antara suara motor lewat dan gelas kopi yang berdenting pelan… Afifah mulai menjalani sisi lain dari hidupnya. Sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan saat pertama kali menginjakkan kaki di Bekasi.
Sesuatu yang dimulai dari tatapan. Lalu percakapan. Dan perlahan… menjadi rahasia yang hanya ia simpan sendiri.
Cerita ini bukan tentang warung kecil. Bukan juga tentang kehidupan merantau.
Tapi tentang bagaimana seseorang berubah… saat kesempatan, kesepian, dan keinginan bertemu di waktu yang sama...
0 sponsors' commentsAfter each update request, the author will receive a notification!
smartphone100
→ Request update
Thank you for supporting the story! :)
Please Login first.
Reading Theme:
Font Size:
Line Spacing:
Paragraph Spacing:
Load the next issue automatically
Reset to default

