Bab 2: Malam Romantis di Hotel Mewah
2132Please respect copyright.PENANACVybROcMpf
Tepat pukul tujuh malam, bel apartemen Tania berbunyi lembut. Ia sudah siap sejak setengah jam lalu, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Tania berdiri di depan cermin full body untuk terakhir kali, memastikan gaun putih yang ia pilih malam ini benar-benar sempurna. Gaun itu berbahan satin halus, potongan off-shoulder yang menampilkan bahu putih mulusnya, bagian dada rendah yang membuat payudara F-cup-nya terlihat montok dan menggoda tanpa terlalu vulgar, serta bagian tinggi di sisi rok yang menampilkan paha panjang setiap kali ia melangkah. Bagian belakang gaunnya rendah hingga hampir menyentuh pinggul, menonjolkan bokong bulat besar yang selalu menjadi pusat perhatian Arman. Kain satin menempel sempurna di lekuk tubuh langsingnya, menciptakan siluet yang membuat Tania sendiri terpana melihat bayangannya. Rambut hitam panjangnya dibiarkan tergerai, sedikit bergelombang alami di ujung, dan riasannya natural namun menonjolkan mata coklat menawan serta bibir merah muda yang sedikit mengkilap.
2132Please respect copyright.PENANA3ZEiXBoLXM
Ia mengenakan pakaian dalam hitam tipis di bawahnya, bra push-up yang membuat payudaranya terangkat sempurna dan thong kecil yang hampir tak terasa. Bau parfum vanila manis bercampur mawar samar-samar tercium dari kulitnya yang baru saja dioles body lotion beraroma sama. Saat ia berjalan ke pintu, hak stiletto hitam sepuluh sentimeter membuat bokongnya bergoyang mengharukan dengan setiap langkah. Tania tersenyum pada dirinya sendiri di cermin kecil dekat pintu. “Malam ini aku akan membuat dia gila,” gumamnya pelan, sisi binal yang selama ini tersembunyi muncul mulai lebih jelas.
2132Please respect copyright.PENANAXpKEz0Ww8p
Arman berdiri di ambang pintu dengan setelan jas abu-abu gelap yang pas di tubuhnya yang sedikit berotot. Matanya langsung melebar saat melihat Tania. Napasnya tertahan sesaat, senyum menawannya muncul perlahan tapi penuh kekaguman. “Tania… ya Tuhan,” katanya dengan suara serak. Ia melangkah masuk tanpa diundang, menutup pintu di belakangnya, lalu menunggu menatap gadis itu dari atas hingga bawah. "Kamu... cantik sekali. Lebih dari cantik. Kamu seperti mimpi yang jadi nyata."
2132Please respect copyright.PENANAvenzri0zIU
Tania tertawa kecil, sisi lucunya keluar. "Kamu kaget ya? Aku sengaja pilih gaun ini supaya kamu tidak bisa berkedip sepanjang malam." Ia berputar pelan, membiarkan sarung tangan satin bergerak mengikuti tubuhnya, menampilkan bagian punggung dan bokong yang menonjol. Arman menelan ludah, matanya tak bisa lepas dari lekuk itu.
2132Please respect copyright.PENANAzs3r5XxFe5
Ia mendekat, tangannya langsung menyentuh pinggang Tania, menarik gadis itu ke pelukannya. Bau cologne kayu dan musk Arman bercampur dengan aroma vanila Tania menciptakan wangi yang memabukkan. “Aku hampir tidak mau keluar dari sini. Mau langsung ke kamar hotel saja,” bisik Arman di telinga Tania, menyentuh cuping telinga gadis itu, membuat bulu kuduknya berdiri.
2132Please respect copyright.PENANAr3pDg7sV4y
Tania mendorong dada Arman pelan sambil tertawa. “Sabar, sayang. Makan malam dulu. Aku sudah lapar.” Tapi nada suaranya penuh halusinasi, matanya berbinar nakal.
2132Please respect copyright.PENANA1PpfVQS8uz
Mereka berangkat dengan mobil Arman, sebuah sedan hitam mewah yang selalu membuat Tania merasa istimewa. Di dalam mobil, tangan Arman tak pernah lepas dari paha Tania. Jari-jarinya mengusap kulit putih mulus di balik bagian gaun, naik perlahan hingga hampir menyentuh pinggir thong. Tania menggigit bibir bawahnya, merasakan panas yang mulai menyebar dari titik sentuhan itu. Udara di mobil terasa lebih hangat, pendingin ruangan seolah tak mampu mengatasi suhu tubuh mereka yang naik.
2132Please respect copyright.PENANAd5gxKgFrPN
Hotel bintang lima di kawasan SCBD sudah menanti. Lobi megah dengan lampu kristal raksasa dan lantai marmer mengkilap menyambut mereka. Arman memegang tangan Tania erat saat mereka berjalan menuju rooftop restoran. Angin malam Jakarta yang sejuk menyapu rambut Tania, membuat gaunnya sedikit berkibar dan menampilkan lebih banyak kulit paha. Beberapa pasang mata memandang mereka, tapi Tania hanya fokus pada Arman.
2132Please respect copyright.PENANAlSqVQPFMuU
Meja mereka berada di sudut, dikelilingi lilin kecil dan bunga mawar merah. Pemandangan kota malam yang berkilauan terlihat jelas dari ketinggian. Arman memesan wine merah terbaik, lalu hidangan pembuka: salad lobster dan foie gras. Saat pelayan pergi, Arman mengangkat gelas wine-nya.
2132Please respect copyright.PENANAMpdFjDxaIn
"Untuk kita. Untuk malam ini, dan untuk setiap malam yang akan datang," katanya lembut.
2132Please respect copyright.PENANAd8jzE2t1hy
Tania juga mengangkat gelasnya, mata coklatnya bertemu mata Arman. “Untuk kamu yang selalu buat aku merasa seperti ratu.Dan untuk malam ini… yang aku harap akan sangat panjang.”
2132Please respect copyright.PENANAyEpZAxLqes
Mereka bersulang, suara gelas berasdu lembut. Wine merah itu terasa hangat di tenggorokan Tania, membuat pipinya sedikit memerah. Obrolan mereka mengalir seperti biasa: tentang pekerjaan, mimpi masa depan, candaan kecil yang membuat Tania tertawa renyah. Tapi di balik kata-kata itu, ada ketegangan sensual yang semakin tebal. Tangan Arman sesekali menyentuh lutut Tania di bawah meja, jari-jarinya menggambar lingkaran kecil di kulit paha. Setiap sentuhan membuat Tania menahan desah pelan, payudaranya naik-turun lebih cepat.
2132Please respect copyright.PENANAbIrSuz6JYs
Saat hidangan utama tiba—steak wagyu medium rare dan pasta truffle—Tania sengaja mencondongkan tubuh ke depan, membuat bagian dadanya lebih terlihat. Arman tak bisa menahan pandangan. “Kamu sengaja ya?” tanyanya dengan suara rendah.
2132Please respect copyright.PENANARVPgjLTxBc
Tania tersenyum nakal. “Mungkin.Aku suka melihat matamu gelap begini setiap kali melihatku.”
2132Please respect copyright.PENANAwTRNoXRmL7
Makan malam diakhiri dengan hidangan penutup cokelat lava yang meleleh di mulut. Arman menyendokkan sedikit ke bibir Tania, lalu menciumnya perlahan di sudut bibir untuk membersihkan sisa cokelat. Rasa manis itu bercampur dengan rasa wine dan napas hangat Arman. Tania merasa tubuhnya sudah mulai bergetar karena antisipasi.
2132Please respect copyright.PENANARuVYvyYYVf
“Ayo ke kamar,” bisik Arman. “Aku sudah tidak tahan.”
2132Please respect copyright.PENANAiHi5Pl6Fvh
Mereka naik lift pribadi menuju suite presidensial di lantai atas. Begitu pintu lift tertutup, Arman langsung menekan Tania ke dinding kaca. Bibirnya menyerang bibir gadis itu dengan lapar. Ciuman kecil di awal berubah menjadi ciuman dalam yang penuh nafsu. Lidah mereka saling bertemu, menari dengan ritme yang semakin cepat. Tangan Arman memposisikan ke bokong Tania, meremas daging kenyal itu melalui satin tipis. Tania mendesah di mulut Arman, suara “mmh…” lembut terdengar jelas di ruang sempit lift.
2132Please respect copyright.PENANATGcJMljL0j
“Arman… pintunya belum tertutup sempurna,” goda Tania di sela ciuman, tapi dia tidak menolak saat tangan pria itu naik ke payudaranya, meremas perlahan dari luar gaun.
2132Please respect copyright.PENANAQzmCSV5fPr
Begitu pintu suite terbuka, Arman menggendong Tania masuk. Ia menendang pintu hingga tertutup, lalu membawa gadis itu ke kasur king-size yang sudah ditaburi kelopak mawar merah. Lampu kamar redup, hanya cahaya kota dan lilin aromaterapi yang menyala. Arman membaringkan Tania pelan, lalu menatap dengan mata penuh nafsu.
2132Please respect copyright.PENANAQz8bDdDIQI
“Kamu terlalu cantik malam ini,” sambil membuka kancing jasnya satu per katanya.
2132Please respect copyright.PENANAl1v0gzf5Om
Tania berbaring menyandar di bantal, kakinya sedikit terbuka sehingga bagian gaun menampilkan paha hingga hampir ke thong. “Kalau begitu, buktikan betapa kamu menginginkanku,” balasnya dengan suara serak.
2132Please respect copyright.PENANAwwGuPNxWgT
Arman naik ke ranjang, mencium bibir Tania lagi. Kali ini lebih lambat, lebih dalam. Bibirnya turun ke leher, meninggalkan jejak basah di kulit putih mulus itu. Ia mencium tulang selangka, lalu turun ke bagian dada. Tangan Arman menarik tali gaun off-shoulder hingga payudara Tania hampir terbebas. Bra hitam tipis itu langsung ia singkapkan, menampilkan puting pink yang sudah mendominasi. Arman mengulum salah satu puting dengan lembut dulu, lalu lebih kuat, lidahnya berputar di sekitar ujung sensitif itu.
2132Please respect copyright.PENANAhRTOIIuT9m
Tania mendesah keras, “Ahh… Arman…” Tangannya menjambak rambut pria itu, menekan kepalanya lebih dalam. Sensasi hangat mulut Arman kontras dengan udara dingin kamar, membuat putingnya semakin tegang. Arman berganti ke puting satunya, meremas payudara yang lain dengan penuh kasih sayang tapi tegas.
2132Please respect copyright.PENANAjDm0NDab4y
Gaun Tania akhirnya ditarik turun sepenuhnya, meninggalkan tubuh telanjang kecuali thong hitam kecil. Arman menatap tubuhnya dengan kagum. Kulit putih yang berkilau di bawah cahaya redup, payudara besar yang naik-turun mengikuti napas cepat, pinggang ramping, dan bokong bulat yang terlihat menggoda saat Tania menggeliat.
2132Please respect copyright.PENANAdGEKg10s4B
“Kamu milikku malam ini,” gumam Arman sambil mencium perut Tania, lidahnya menelusuri garis pinggang. Ia turun lebih rendah, mencium bagian dalam paha. Bau manis vanila bercampur aroma kewanitaan Tania tercium jelas. Arman menarik thong pelan, menampilkan vagina yang sudah basah mengkilap.
2132Please respect copyright.PENANAAQgSSi1Zar
Ia menjilat perlahan di bagian luar dulu, menikmati rasa manis yang mulai mengalir. Lidahnya lincah, menyentuh kristoriskecil yang sudah membengkak. Tania menjerit kecil, “Ohh… ya… di situ…” Kakinya terbuka lebih lebar, tangannya menekan kepala Arman.
2132Please respect copyright.PENANAKOtazXCkLP
Arman memasukkan lidah lebih ke dalam, menjilat dengan gerakan melingkar di kristoris lalu turun ke lubang yang sudah licin. Jarinya ikut bermain, satu jari masuk perlahan, lalu dua. Tania menggeliat, desahannya semakin keras. “Arman… aku… hampir…”
2132Please respect copyright.PENANABdzqPxXjL2
Arman tidak berhenti. Ia menyedot kristorisdengan kuat sambil jarinya menggerak cepat di dalam. Tania menjepit kepala Arman dengan pahanya, tubuhnya menegangkan. “Aaaahhh!” Cairan bening menyembur deras, membasahi wajah dan dagu Arman. Pria itu meminum sebagian, menjilat bersih dengan lahap.
2132Please respect copyright.PENANATJRQYX6nN7
Tania terengah-engah, tapi matanya masih penuh nafsu. Ia menggerakkan Arman hingga terlentang, lalu naik ke atas. “Giliranku,” katanya dengan suara serak. Tangannya membuka celana Arman, menampilkan titit yang sudah tegang keras, panjang lima belas sentimeter dengan urat menonjol. Tania menggenggamnya, mengocok pelan sambil menatap mata Arman.
2132Please respect copyright.PENANAuERApmBC2v
Ia menunduk, mencium ujung titit dulu, lidahnya menjilat cairan bening yang sudah keluar. Lalu ia mengulum bagian atas, perlahan menurunkan mulut hingga titit itu masuk sebagian. Arman mendesah, “Tania… gadis enak sekali…” Tangannya memegang kepala itu, mendorong pelan agar lebih dalam.
2132Please respect copyright.PENANAbnbeqOMCG3
Tania mengulum lebih dalam lagi, hingga ujung menyentuh tenggorokan. Ia menahan muntah, mata berair tapi terus bergerak naik-turun. Suara basah “slurp… slurp…” terdengar jelas di kamar yang sunyi. Arman hampir mencapai puncak, tapi ia menarik Tania naik. “Belum sekarang. Aku ingin merasakanmu dulu.”
2132Please respect copyright.PENANAxVojQxmWas
Ia membekukan tubuh Tania ke posisi doggy style. Bokong bulat besar itu terpampang sempurna. Arman mencium bokong itu, menampar pelan hingga terdengar “plak!” ringan, membuat Tania mendesah. Lalu ia memposisikan tititnya di depan vagina yang masih basah, sambil mendorong perlahan.
2132Please respect copyright.PENANA40QZ8YPpKA
“Ahhh… besar…” desah Tania saat titit masuk penuh. Arman mulai menggerakkan pinggul, masuk-keluar dengan ritme lambat dulu, lalu semakin cepat. Suara benturan kulit “plok… plok…” bercampur desahan mereka. Arman meremas payudara dari belakang, memilin puting merah jambu itu.
2132Please respect copyright.PENANAta6ViSAUHS
Mereka ganti posisi beberapa kali: misionaris, cowgirl, menyendok. Di posisi cowgirl, Tania naik-turun dengan bokong besar yang bergoyang menggoda. Arman meremas payudara, mengulum puting sambil mendorong pinggul ke atas. Tania orgasme lagi, kali kedua, cairannya membasahi titit Arman. Lalu ketiga, keempat—tubuhnya gemetar hebat setiap kali mencapai puncak.
2132Please respect copyright.PENANAB9dP2yzuh5
Arman tak tahan lagi. Di posisi doggy terakhir, ia mempercepat gerakan. “Aku mau keluar, sayang…” Tania mengangguk, “Di dalam… isi aku…”
2132Please respect copyright.PENANAOvgejgu5AQ
Arman mendorong ke dalam, menyemburkan sperma hangat ke dalam vagina Tania. Ia keluar dua kali malam itu, sekali di posisi misionaris dan sekali lagi di doggy. Setelah puas, mereka berpelukan erat, tubuh telanjang saling menempel, keringat bercampur, nafas masih tersengal.
2132Please respect copyright.PENANAV5ZjUMOhxN
Tania bersandar di dada Arman, mendengar detak jantung pria itu. “Aku sayang,” bisiknya.
2132Please respect copyright.PENANAu8EUaqTeNY
"Aku juga. Selamanya," balas Arman sambil mencium keningnya.
2132Please respect copyright.PENANA96neLPUAIE
Mereka tertidur dalam pelukan, tubuh masih panas dan puas. Malam itu menjadi puncak romansa mereka yang sempurna—belum tahu bahwa badai akan datang setelahnya.
LANJUTAN CERITA BISA DI AKSES DI https://lynk.id/novelhambilah
2132Please respect copyright.PENANAWg59L7eLaF


