Bab 4: Penaklukan Pertama (Video 1 - Bagian 1)
6940Please respect copyright.PENANA3rrJCnwNNg
Senin pagi datang dengan langit Jakarta yang mendung berat. Pak Hadi berangkat ke luar kota untuk urusan bisnis selama tiga hari penuh—ke Surabaya, katanya. Ia mencium pipi Nabila di depan pintu, “Jaga rumah ya, Sayang. Kalau butuh apa-apa, telepon Bram atau aku langsung.” Nabila mengangguk sambil tersenyum manis, tapi di dalam dada ada getar aneh yang belum hilang sejak kemarin. Obat perangsang dosis sedang dari jus Arman masih meninggalkan sisa panas samar di tubuhnya, membuat vaginanya mudah lembab bahkan tanpa sentuhan.
6940Please respect copyright.PENANAO0rYv98k5E
Bram berangkat kuliah pagi-pagi sekali, meninggalkan rumah sepi. Nabila berniat bersantai saja hari ini: spa di pagi hari, belanja online, lalu Netflix. Tapi sekitar pukul 10.30, bel rumah berbunyi. Ia membuka pintu, dan Arman berdiri di sana, membawa tas hitam besar dan senyum yang terlalu tenang.
6940Please respect copyright.PENANAOnLNmXAAnB
"Arman? Kamu... ngapain ke sini? Bram lagi kuliah loh."
6940Please respect copyright.PENANAwVVtTehD2k
Arman melangkah masuk tanpa diundang, menutup pintu di belakangnya. “Gue tahu, Bu. Gue datang bukan buat Bram. Gue datang buat bibi.”
6940Please respect copyright.PENANA56x3yIUrkH
Nabila mundur sambil memegang dada. Ia memakai dress rumah tipis berwarna krem, tanpa bra karena pagi santai, sehingga bentuk payudara E+ cup dan puting yang kental terlihat jelas. “Arman… ini tidak lucu. Keluar sekarang.”
6940Please respect copyright.PENANADI2kvoHBpp
Arman tidak bergerak. Ia tarik botol kecil dari saku, menuang cairan bening ke gelas air yang sudah ia siapkan di meja tamu sebelumnya (ia masuk lewat pintu samping yang Bram lupa kunci kemarin). "Minum ini dulu, Bu. Ini cuma air lemon. Bibi pasti haus kan setelah kemarin... panas-panasan."
6940Please respect copyright.PENANAEosZwZ37Sh
Nabila menggeleng, tapi mata Arman tajam, suaranya rendah dan memerintah. "Minum. Atau gue ceritain ke Bram apa yang bibi lakuin sendiri di kamar kemarin sore. Gue tahu loh, bibi erang nama gue."
6940Please respect copyright.PENANA14KPrCscu6
Memucat Wajah Nabila. Ia ingat orgasme berulang kemarin, bayangan Arman yang tak henti-hentinya muncul. Polos dan tak enakan menolak, tangan gemetar mengambil gelas. Ia minum setengah, rasa asam manis menyegarkan... tapi dalam 15 menit, panas yang kemarin masih tersisa meledak lagi, berkali-kali lipat lebih kuat.
6940Please respect copyright.PENANAMBrn1dCc40
Tubuh Nabila lemas. Ia duduk di sofa, kaki terbuka tanpa sadar, gaun tersingkap sampai paha atas. vaginanya berdenyut hebat, cairan orgasme sudah mengalir deras membasahi celana dalam renda putih. Payudara terasa berat, membuat sakit karena membeku terlalu lama.
6940Please respect copyright.PENANAcMiF13QEJO
Arman mendekat, jongkok di depannya. "Sekarang bibi rasain efeknya full. Gue kasih dosis tinggi. Dalam sejam lagi, bibi bakal minta apa aja."
6940Please respect copyright.PENANAXpulBxVmRE
Nabila menggeleng lemah, air mata mulai menetes. “Tolong… jangan… ini salah…”
6940Please respect copyright.PENANA9d9CcaNT5Z
Arman angkat dagu Nabila dengan jari. “Bukan salah kalau bibi nikmatin. Lihat nih.” Ia menarik tangan Nabila, meletakkannya di vaginanya sendiri dari luar gaun. Nabila menjerit kecil saat menjepit kain yang sudah basah kuyup. “Ahh… panas…”
6940Please respect copyright.PENANAgMii8Sd6SW
Arman berdiri, buka tas hitamnya. Keluarlah peralatan pertama: kalung kulit hitam dengan cincin logam di depan (kalung kontrol budak sederhana), masker mata sutra hitam, dan kotak kecil berisi tindik stainless untuk puting payudara serta tinta khusus untuk tato sementara.
6940Please respect copyright.PENANAeJ1oI3uz3a
"Mulai sekarang, bibi adalah milik gue. Video ini akan jadi yang pertama dari tujuh. Delapan jam nonstop. Bibi nggak bisa nolak."
6940Please respect copyright.PENANAC3So9Oh8Pd
Nabila mencoba bangun, tapi kakinya lemas. Arman mudah dorong ia kembali ke sofa, angkat dress-nya sampai pinggang. Celana dalam sudah transparan karena cairan orgasme. Arman tarik lepas, bau sperma manis langsung memenuhi ruangan.
6940Please respect copyright.PENANAcyyg94IHzU
“Cantik sekali vagina bibi. Sudah basah banget.” Jari Arman menyentuh kristoris menggosok pelan. Nabila menggeliat, “Jangan… ahh… tolong…”
6940Please respect copyright.PENANAKtjYp4aFfl
LANJUTAN CERITA BISA DI AKSES DI https://lynk.id/novelhambilah
6940Please respect copyright.PENANA8F7ubmzoQF
6940Please respect copyright.PENANA8MmjktD84d


