Perkenalkan namaku Vince Park, umur 29 tahun ada campuran keturunan Indo-Korea. Papaku orang Indo, sedangkan mamaku orang korea, tapi korea lahiran sini. Orang tua bilang kalau aku “cukup ganteng buat jadi model skincare pria”, tapi kenyataannya aku lebih sering jadi kurir dadakan buat tante-tante di grup W*Chat keluarga besar. Pagi ini aku lagi bantu Papa angkut barang dari gudang tua yang berada di Pasar Senen yang mau dibongkar. Gudang tua itu sudah berdiri sejak jaman Belanda ada, katanya jaman dulu gudang itu dipakai buat menyimpan rempah-rempah sama bahan kain batik untuk diekspor.
Saat di dalam gudang tua itu, aku melihat di antara tumpukan kardus-kardus berdebu dan karung goni yang berjamur, aku menemukan satu peti kayu jati kecil, bukan model peti biasa. Ada ukiran aneh tapi bukan motif batik, bukan ukiran Cina klasik, atau ukiran abal-abal, tapi lebih mirip pola geometris Mesoamerika campur rune Eropa kuno. Di tutupnya ada simbol lingkaran dengan tiga garis melengkung kayak mata yang lagi menatap ke dalam.
“Pa, ini apa?” tanyaku sambil mengelap peti kayu yang berdebu itu.
Papa cuma melirik sekilas. “Entah. Mungkin barang kolektor Belanda dulu. Buang aja tak penting itu, nanti dimarahin petugas kebersihan.”
Tapi aku tidak bisa membuang peti kecil itu karena seperti ada sesuatu yang… memanggil. Jadi aku selipkan peti kayu kecil itu ke dalam tas ransel milikku.
Tiba-tiba papa menegurku. “Kamu ngapain melamun? Ayo, cepat buang barang-barang disitu.”
Malamnya kami pulang ke apartemen kecil di Tebet, aku dengan cepat pergi ke kamar tidurku. Dengan tergesa, aku membuka peti kayu itu sendirian dengan rasa amat penasaran di meja belajar. Di dalamnya cuma ada satu benda, yaitu sebuah jam saku perak tua, tapi jarumnya nggak muter sesuai waktu biasa. Di belakang casing-nya seperti ada ukiran huruf Latin yang sudah agak pudar:
““Ad tempus et locum quem cor tuum quaerit””
Waduh, aku nggak jago bahasa Latin, tapi pakai G**gle Translate aja:
“Ke waktu dan tempat yang hati kamu cari.”
Aku ketawa kecil. “Hati gue lagi cari apa sih? Diskon 11.11 di Sh*pee?”
Tanpa sadar jempolku sudah memutar kenop kecil di samping jam itu. Sekali putar. Dua kali. Tiba-tiba jarum jam bergerak sangat cepat... bukan memutar biasa, tapi seperti berjalan mundur, mundur, dan mundur.
Ruangan ini mulai bergetar pelan. Lampu LED di atas kepalaku berkedap-kedip seperti mau mati. Malah aku masih sempat-sempatnya mikir, “Jangan-jangan listriknya korslet,” tapi kemudian lantai di bawah kakiku lenyap seketika.
Semuanya jadi hitam termasuk pandanganku seperti tertidur.
“Klap klap klap.” Aku samar-samar mendengar derap langkah kuda saat aku dalam masih keadaan tertidur.
Ketika aku membuka mata dari tidurku, bau pertama yang masuk ke hidungku bukanlah bau AC atau mie instan apa adanya, melainkan aroma lumpur, kotoran kuda, jerami basah, asap kayu bakar, dan… keringat manusia yang sangat pekat... seperti tidak pernah mandi selama berbulan-bulan.
Aku terduduk dengan terkejut di atas tanah berlumpur. Di depanku ada jalan berbatu, lalu ada beberapa kereta kuda lewat, orang-orang sekitar memakai baju model abad 19 berjalan dengan topi tinggi dan rok panjang berlapis-lapis. Di kejauhan terlihat menara jam besar bergaya Gotik dan asap tipis dari cerobong pabrik.
“Mereka lagi cosplay ya?” mikirku sambil melihat sekeliling.
Aku menoleh ke tangan kiriku. Jam saku perak itu masih ada, tapi sekarang jarumnya diam di posisi yang aneh... seperti menunjuk ke arah barat laut seperti kompas.
“Klak, hentak, klak” suara derap sepatu bot mendekat. Seorang pria berpakaian seragam polisi bergaya Victorian berhenti pas di hadapanku, lalu memandangku dari atas ke bawah dengan alis terangkat.
“You there! What’s your business lying in the middle of the street dressed like… that?” suaranya keras dan tegas, aksen Inggris yang sangat kental.
“Kenapa dia nanyanya begitu?” gumamku dengan suara kecil hampir tak terdengar. Aku melihat bajuku sendiri... kaos polos Goirdonna, celana jogger Neki, dan sepatu sneakers putih yang sekarang sudah belepotan lumpur dan kotoran kuda yang basah. Di tahun berapa pun ini, penampilanku jelas-jelas seperti makhluk asing atau alien.
Aku menelan ludah, “Glek”, mencoba senyum sopan khas orang Indo yang lagi ketangkep razia polisi.
“Ehm… I’m sorry sir, I-I think… I’m very lost.”
Dia memicingkan mata. “Where are you from, boy?”
Aku ragu sebentar sambil mengatur napas untuk kembali normal, lalu memutuskan jujur setengah-setengah.
“From... from very far away, sir. Ja-Jakarta… I mean, Batavia. Wait, no. Not yet Batavia. Umm… from future Batavia?”
Raut wajah polisi itu langsung berubah. Dia mengeluarkan borgol dari ikat pinggangnya.
“Right. You’re coming with me.”
Saat dia menarik lenganku, aku merasakan getaran kecil dari jam saku di saku celanaku. Jarumnya bergerak lagi... kali ini sangat pelan, tapi pasti... menuju arah yang sama seperti tadi ke arah barat laut.
Aku tahu satu hal dengan pasti.
Petualangan ini baru saja dimulai.
Dan aku nggak punya petunjuk sama sekali apa yang harus kulakukan selanjutnya.
195Please respect copyright.PENANApYiOzuw6q0
---Bersambung---
ns216.73.216.69da2


