Bab 4: Malam yang Dibagi Tiga
Malam itu rumah kos terasa lebih sunyi dari biasanya. Kota besar di luar sana masih menyala dengan lampu neon dan suara klakson samar, tapi di dalam dinding rumah mewah ini, udara terasa tebal oleh antisipasi. Sinta duduk di sofa ruang tamu, kakinya disilangkan, sarung tangan berbahan satin hitam yang sama dari pagi tadi masih menempel di tubuhnya. Kain itu sudah kusut di beberapa bagian, meninggalkan jejak lengket sperma kering dari sesi pagi bersama ketiga anak kosnya. Aroma tubuhnya—campuran vanila, keringat, dan cairan orgasme yang manis—masih kuat, membuatnya sendiri terasa nyaman setiap kali menghirup napas dalam.
2310Please respect copyright.PENANAtX0qPAgKZr
Dia tahu sesuatu akan terjadi malam ini. Terjadinya Kevin tadi siang, saat mereka makan siang bersama, penuh makna. “Malam ini kami mau ajak Bu Sinta main bareng. Lebih seru,” katanya pelan di telinga Sinta saat Dimas dan Malik sedang mengambil minum. Kata “bareng” itu bergema di kepala Sinta sepanjang sore. Bukan takut—malah justru membuat vaginanya berdenyut pelan, kristori membengkak hanya karena membayangkan tiga titit sekaligus. Tapi ada sedikit keraguan: apakah dia siap menjadi pusat dari hasrat tiga pria muda yang kuat dan lapar itu?
2310Please respect copyright.PENANAsYafC8EcDB
Pintu kamar Kevin terbuka pelan. Kevin keluar pertama, masih bertelanjang dada, hanya memakai celana pendek hitam yang ketat. Di belakangnya Dimas dan Malik mengikuti. Dimas membawa botol kecil berisi cairan bening—mungkin salah satu “obat aneh” buatannya—sementara Malik membawa tas kecil berisi barang-barang yang Sinta belum tahu isinya. Yang ketiga berjalan mendekat dengan langkah pasti, mata mereka tidak lepas dari tubuh Sinta.
2310Please respect copyright.PENANAfYBBdZqag3
“Bu Sinta… sudah siap?” tanya Kevin dengan suara dalam yang dominan, tapi ada kelembutan di dalamnya. Dia duduk di sebelah Sinta, tangannya langsung menyentuh paha dalamnya, mengelus perlahan naik ke tepi gaun.
2310Please respect copyright.PENANAYtYS85MuoC
Sinta menelan ludah, suaranya sedikit gemetar. “Ibu… gak tahu harus gimana. Kalian bertiga… Ibu takut gak kuat.”
2310Please respect copyright.PENANAQypFWrDJCy
Dimas tersenyum romantis, duduk di sisi lain Sinta. “Kami tidak akan memaksakan, Bu. Tapi kalau Bu mau, kami janji buat Bu merasakan kenikmatan yang belum pernah Bu rasakan sebelumnya.” Tangannya menyentuh pipi Sinta, mengusap lembut. “Ibu cantik sekali malam ini.”
2310Please respect copyright.PENANAXl4d6b8ncx
Malik berlutut di depan Sinta, tangannya menyentuh lututnya lalu membuka perlahan pahanya. “Kami sudah cerita tadi siang, Bu. Tentang semalam di kamar Kevin. Kami… iri. Sekarang giliran kami ikut menikmati servis spesial dari ibu kos.” Senyumnya menawan, tapi matanya penuh hasrat pembohong.
2310Please respect copyright.PENANARFvLoYG9nt
Sinta memandang mereka satu demi satu. Kevin yang dominan, Dimas yang romantis dan penuh perhatian, Malik yang kreatif dan suka barang unik. Hatinyaberdegup kencang. “Baiklah… Ibu percaya sama kalian. Tapi… pelan-pelan dulu ya. Ibu masih malu.”
Kevin tersenyum lebar, lalu menarik Sinta berdiri. Mereka membawa ke ruang tengah yang luas, karpet tebal sudah disiapkan dengan bantal-bantal besar. Lampu redup menyala, menciptakan suasana hangat tapi erotis. Kevin mulai dengan mencium Sinta dari depan, bibir panas dan lapar. Lidah mereka saling bertemu, rasa manis dari permen mint di mulut Kevin bercampur dengan napas Sinta yang sudah tersengal.
2310Please respect copyright.PENANApSCo3dVGpR
Sementara itu, Dimas berdiri di belakang Sinta, tangannya merangkul pinggang lalu naik ke payudara. Dia meremas pelan, jempolnya memilin puitng pink yang sudah keras. “Mmm… besar dan lembut sekali, Bu,” bisiknya di telinga Sinta. Malik berlutut lagi, menyingkap gaun satin hingga pinggang, lalu mencium vagina Sinta dari depan. Lidahnya langsung menjilat kristorisdengan gerakan melingkar lambat. Slurp… chup… suara basah itu membuat Sinta mengerang di mulut Kevin.
2310Please respect copyright.PENANAjJ8plgQjem
“Ahh… kalian… bertiga sekaligus… Ibu… nggak tahan…” desah Sinta sambil meraih titit Kevin dari luar celana, meremasnya perlahan. Kevin mengerang, lalu menarik celananya turun. titit 19 cm-nya berdiri tegak, urat-uratnya menonjol, awalnya sudah basah sperma.
LANJUTAN CERITA BISA DI AKSES DI https://lynk.id/novelhambilah
2310Please respect copyright.PENANAmOJoIM5DFH
2310Please respect copyright.PENANAv2LyCYNF8g


