Bab 18: Rencana Pesta Dimulai Kedua
2746Please respect copyright.PENANAbKia7huKi6
Malam itu, apartemen mereka terasa lebih tenang dari biasanya. Lampu ruang tamu diredupkan hingga hanya menyisakan cahaya kuning hangat dari lampu meja di sudut, menciptakan bayangan lembut di dinding putih dan lantai kayu gelap. Aroma kopi hitam pekat yang baru diseduh masih menyimpan ruangan, bercampur dengan bau vanila samar dari lilin aromaterapi yang Monica nyalakan tadi sore. Di luar jendela besar, lampu-lampu gedung pencakar langit Jakarta berkelap-kelip seperti bintang buatan, suara klakson samar terdengar dari daratan, tapi di dalam, hanya ada keheningan yang penuh antisipasi.
2746Please respect copyright.PENANAOsiZnwEP8x
Monica duduk bersila di sofa sectional abu-abu besar, mengenakan tank top putih tipis yang menempel di kulit karena keringat ringan dari yoga sore tadi, dan celana pendek hitam yang membentuk bokong bulatnya dengan sempurna. Rambut hitam panjangnya diikat ekor kuda tinggi, beberapa helai lepas menempel di leher yang masih ada bekas samar kalung kontrol dari pagi tadi. Mata coklat menatap layar laptop di pangkuannya dengan fokus tinggi, pipinya sedikit memerah karena campuran rasa penasaran dan kegembiraan yang tak bisa disembunyikan. Di sebelahnya, Kevin duduk santai, tubuh berototnya bersandar ke sandaran sofa, hanya memakai kaos hitam ketat dan celana jogger abu-abu. Di depan mereka, meja kopi terisi: laptop Kevin yang terbuka pada spreadsheet bertitel “Project Bali 2.0”, beberapa printout foto villa di Ubud, dan daftar nama panjang yang sudah mulai terisi.
2746Please respect copyright.PENANAifaigMd2UB
“Jadi ini rencana awalnya,” kata Kevin dengan suara rendah yang penuh otoritas, menunjuk ke layar laptop. Spreadsheet itu rapi: kolom pertama “Nama Peserta”, kedua “Postur & Ukuran”, ketiga “Preferensi BDSM”, keempat “Konfirmasi”, dan kelima “Catatan Khusus”. Sudah ada dua puluh nama dari pesta sebelumnya—Ahmad, Budi, Chandra, hingga Umar—ditambah kolom kosong untuk tambahan sepuluh pria baru. Di bawahnya ada tab baru bertitel “Wanita Pendukung” dengan lima slot kosong.
2746Please respect copyright.PENANAPZePrMwGW3
Monica mencondongkan tubuh ke depan, payudara E+ cupnya bergoyang pelan di balik tank top tipis, putingnya sedikit menonjol karena udara AC yang dingin. “Tiga puluh pria… itu dua kali lipat dari sebelumnya,” gumamnya, suaranya campur antara kagum dan gugup. Jarinya menyentuh layar, menggulir daftar nama. "Kamu mau rekrut lagi dari mana? Yang lama aja udah bikin aku… gila malam itu." Kata terakhirnya diucapkan pelan, pipinya semakin memerah saat mengingat semburan sperma panas yang menutupi seluruh sepuluh jam tanpa henti.
2746Please respect copyright.PENANAB4zOZRsaIZ
Kevin tersenyum miring, tangannya menyentuh paha Monica, jari-jarinya menyentuh kulit halus di atas celana pendek hingga ke pinggir paha dalam. "Yang lama tetap diundang—mereka sudah tahu batas dan cara mainnya. Tapi aku mau variasi lebih banyak. Postur berbeda, ukuran berbeda, stamina berbeda. Beberapa pria asing yang tinggal di Bali—Eropa, Australia, Asia—biar ada rasa baru. Dan ya… wanita pendukung." Dia menekankan kata terakhir, matanya menatap tajam Monica, mencari reaksi.
2746Please respect copyright.PENANAuS1xqlRgzh
Monica menelan ludah, vaginanya langsung berdenyut kecil hanya dari bayangan itu. “Wanita… yang bisa main sama aku?” tanyanya, sedikit gemetar. “Maksudnya… strap-on, cumbuan, double dildo bareng?” Kevin mengangguk pelan, menikung naik lebih tinggi, menyentuh tepi celana dalam Monica yang sudah mulai basah. "Persis. Biar kamu merasakan variasi gender. Aku tahu kamu penasaran soal itu sejak aku sebut dulu. Dan aku mau kamu nikmatin sepenuhnya—tapi tetap aku yang semuanya kontrol."
2746Please respect copyright.PENANAH8ZmGE24mD
Monica menggigit bibir bawahnya, sifat pemarahnya muncul sebentar. "Aku tidak mau kamu melihat mereka terlalu lama. Aku cemburu kalau kamu bersemangat sama tubuh mereka." Kevin tertawa pelan, meremas paha Monica dengan lembut tapi tegas. "Kamu yang utama, Mon. Selalu. Mereka cuma alat buat bikin kamu pecah berkeping-keping. Dan kalau kamu nggak suka, kita berhenti kapan saja. Persetujuan kamu nomor satu."
2746Please respect copyright.PENANAgSGgflvGRQ
Monica mengangguk pelan, rasa penasaran tingginya menang. “Oke… aku mau ikut pilih.Tunjukin daftarnya.” Kevin membuka spreadsheet ke tab “Wanita Pendukung”. Sudah ada nama sementara: “Laras – bi-curious, pengalaman strap-on, suka dominasi ringan”, “Sasha – ekspat Rusia di Bali, tinggi, atletis, suka oral”, “Dewi – lokal Bali, mungil tapi pembohong, pengalaman lesbian”, dan dua slot kosong lagi. Monica membaca dengan mata melebar. "Mereka… cantik nggak? Kirim fotonya."
2746Please respect copyright.PENANAzgN3SIfC0T
Kevin membuka folder foto di laptop—gambar-gambar anonim tanpa wajah penuh, hanya tubuh dan pose sugestif. Laras: tubuh ramping dengan payudara sedang, memegang strap-on hitam. Sasha: tinggi, otot kencang, kulit putih pucat. Dewi: mungil, bokong bulat, pose doggy dengan penis buatan. Monica menelan ludah lagi, vaginanya basah lebih deras. "Aku... penasaran banget. Aku mau coba sama mereka. Tapi... kamu harus di samping aku terus."
2746Please respect copyright.PENANA0LGoPtKRts
Kevin menarik perhatian Monica ke pangkuannya, membuatnya duduk menghadapnya. Tank top Monica naik sedikit, menampilkan perut langsing dan bekas samar lilin di sana. “Aku akan di sampingmu sepanjang waktu. Aku yang memegang kalung jarak jauh baru—yang lebih kuat, dengan rantai panjang buat tarik kamu kapan saja. Dan tema pestanya: 'Ratu Budak di Hutan Bali'. Kamu ratu, mereka semua budakmu—tapi pada akhirnya, kamu tetap budakku.”
2746Please respect copyright.PENANA46wc2GEYyc
Monica mengerang kecil saat Kevin menarik kontrol kalung di dering, tingkat getaran dua langsung berdenyut. “Tema hutan… di villa Ubud… di bawah pohon sawah… saat matahari terbenam…” bayangannya membuat vaginanya berdenyut lebih kuat. “Aku mau memakai kostum ratu—merah emas, memanfaatkan rantai emas, mahkota kecil… dan mereka semua berlutut di depanku dulu sebelum mulai.”
2746Please respect copyright.PENANAsMUvhyFyoa
Kevin tersenyum puas, tangannya menyusup ke bawah celana pendek Monica, jarinya langsung menyentuh vagina yang basah. "Bagus. Kamu mulai punya visi. Aku suka." Jarinya menggosok kristorispelan, membuat Monica menggeliat di pangkuannya. "Aku mau mencambuk ringan dari mereka—cambuk bulu dan kulit lembut. Aku mau rasain sakit manis lagi. Dan… enema lagi, tapi kali ini dengan cairan orgasme wangi bunga Bali, biar analku harum saat dientot."
2746Please respect copyright.PENANA3zuSal6WgX
Kevin menaikkan getaran kalung ke level tiga, refleks masuk ke vagina Monica, mengenjot perlahan. Monica mengerang panjang, pinggulnya bergoyang mengikuti ritme. “Dan double dildo bareng wanita—aku di atas, dia di bawah… strap-on di analku, dildo di vaginanya… kita cum bareng…” Bayangan itu membuat Monica orgasme kecil pertama malam itu—tubuhnya mengejang di pangkuan Kevin, cairan orgasme mengalir ke jari suami.
2746Please respect copyright.PENANAFb655czMlY
Kevin mencium leher Monica, lidahnya menyapu bekas kalung. "Kita rekrut dulu. Besok aku kirim undangan ke yang lama, dan mulai cari yang baru. Kamu mau ikut wawancara online? Biar kamu pilih sendiri yang boleh menyentuh kamu." Monica mengangguk cepat, napasnya tersengal. “Ya… aku mau lihat mereka… aku mau tahu siapa yang bakal isi aku tahun depan.”
2746Please respect copyright.PENANA1lJopByNfL
Mereka berhubungan malam itu dengan intensitas baru—Kevin mengenjot Monica dari belakang sambil memutar video teaser villa lama di laptop. Setiap dorongan disesuaikan dengan adegan di layar: saat video menunjukkan penetrasi ganda, Kevin masuk lebih dalam ke vagina Monica; saat sperma menyembur, dia cum di dalam, sperma panas mengalir hangat. Monica orgasme tiga kali menonton dirinya sendiri—tubuhnya mengejang, berakhir pecah, “Aku hot banget… aku mau lebih banyak lagi…”
2746Please respect copyright.PENANAoq60Mgvg2n
Setelah itu, mereka berbaring saling peluk di sofa, laptop masih menyala menampilkan spreadsheet. Monica menyandarkan kepala di dada Kevin, menggetarkan otot perut suaminya. “Aku sedikit takut, Kev. Tiga puluh pria… lima cewek… di hutan Bali… kalau aku nggak kuat?” Kevin mencium keningnya. "Kamu kuat. Dan kalau capek, kita berhenti. Tapi aku tahu kamu bakal minta lebih. Seperti malam itu."
2746Please respect copyright.PENANAcT4BtTfODJ
Monica tersenyum, matanya berbinar. “Aku mau jadi ratu yang tak terpecahkan. Tapi tetap menjadi budakmu di akhir.” Kevin menarik rantai kalung pelan. “Itu janji.”
2746Please respect copyright.PENANAwOVb8OfGaG
Malam itu berakhir dengan rencana yang semakin jelas: villa Ubud sudah dibooking, undangan mulai dikirim besok, dan Monica mulai latihan fisik lebih intens—olahraga, yoga, dan “teaser harian” dari Kevin. Rasa penasaran yang tinggi membuatnya tak sabar—setiap hari terasa seperti hitungan mundur menuju pesta kedua yang lebih besar, lebih pembohong, lebih tak terlupakan.
2746Please respect copyright.PENANApTLQJQ2Aed
Di akhir malam, Monica berbisik sebelum tertidur di pelukan Kevin, “Aku cinta kamu… dan aku cinta hidup ini sekarang. Penuh hasrat… tanpa batas.”
2746Please respect copyright.PENANAEoCjl1UPw7
Kevin tersenyum dalam gelap. “Dan aku akan berterima kasih lebih banyak lagi padamu, istriku.”
2746Please respect copyright.PENANALCzPltAJrI
Rencana pesta kedua sudah dimulai. Dan Monica siap menjadi ratu budak di hutan Bali.
LANJUTAN CERITA BISA DI AKSES DI https://lynk.id/novelhambilah
2746Please respect copyright.PENANAodJtBamE9F
2746Please respect copyright.PENANA2ZJxqFCmzB
2746Please respect copyright.PENANA48UCLwKMsu
2746Please respect copyright.PENANAzsNhsIQoc5
2746Please respect copyright.PENANAuJ3GvWmlew


