Bab 5: Video Pertama – Awal Ketakutan Luna
2410Please respect copyright.PENANAdWSaDIfAoy
Arhan duduk di kursi gaming-nya, ruangan apartemen gelap kecuali cahaya biru layar laptop yang tembus wajahnya. Jam sudah menunjukkan pukul 02:17 dini hari, tapi matanya tidak mau terpejam. Playlist “L-Project 09” masih terbuka, video pertama sudah dipause di menit 20-an setelah adegan keperawanan Luna diambil. sperma Arhan tadi sudah mengering di kedalaman, tapi tititnya masih setengah tegang—campuran antara shock, cemburu membara, dan nafsu yang nggak bisa dia kendalikan.
2410Please respect copyright.PENANAOc0n0yx0Zk
Dia menarik napas dalam, jari gemetar di touchpad. “Gue harus tahu semuanya,” gumamnya sendiri, suaranya serak. Emosinya kacau: marah karena Luna ternyata punya masa lalu gelap, takut kalau ini akan menghancurkan hubungan mereka, tapi juga rasa penasaran yang gila—kenapa Luna bisa berubah dari cewek polos yang ketakutan jadi wanita yang sekarang dia cinta, dengan tubuh sempurna dan hasrat yang seolah-olah tidak pernah puas.
2410Please respect copyright.PENANAmJpuslBBSy
Arhan klik mainkan lagi. Video lebih lanjut dari titik jeda.
2410Please respect copyright.PENANAjbPCiKH1Tu
Layar kembali menampilkan ruangan putih steril itu. Luna terbaring di kasur kecil dengan kaki masih terbuka lebar, diikat ke tiang logam di kedua sisi. vaginanya merah dan bengkak setelah penetrasi pertama tadi, darah tipis bercampur sperma pria itu masih menetes pelan ke dalam putih. Napas Luna tersengal, dada naik-turun cepat, payudara D cup-nya (saat itu masih belum dimodifikasi) bergoyang pelan setiap hembusan napas. Mata merah karena nangis, tapi ada kilau aneh di pupilnya—efek obat perangsang yang mulai bekerja maksimal.
2410Please respect copyright.PENANAZundw9Qv1h
Pria bertopeng hitam tadi mundur, tititnya masih setengah keras dan basah. Dia keluar frame sebentar, lalu kembali dengan botol kecil berlabel merah. "Ini dosis kedua. Biar kamu tidak nolak lagi," katanya dingin. Luna menggeleng lemah, “Nggak… aku udah gak tahan… tolong…” Suaranya parau, hampir hilang. Tapi pria itu tidak peduli—dia memegang dagu Luna paksa, tuang cairan bening ke mulut. Luna batuk, tapi sebagian besar tertelan. Dalam hitungan detik, tubuhnya mulai bereaksi lagi: keringat muncul di seluruh kulit putihnya, pahanya bergeser-geser mencari, vaginanya berdenyut terlihat jelas di kamera close-up.
2410Please respect copyright.PENANAwUJVGRphtR
Pintu ruangan terbuka lagi. Kali ini tiga pria masuk. Semuanya bertubuh atletis, bertopeng, tanpa baju atas. Salah satunya—yang tampak paling dominan, mungkin Malik dari deskripsi nanti—berdiri di depan. “Waktunya rotasi pertama. Kita terima kasih dia pengalaman lengkap,” katanya sambil tersenyum sinis ke kamera. Arhan merinding mendengar suara itu—dingin, tapi penuh kepuasan.
2410Please respect copyright.PENANAmo3VzdgUmW
Luna panik. “Jangan… satu aja udah sakit… aku mohon…” Tapi tubuhnya membentangkan kata-kata. Obat perangsang membuat kristoris bengkak merah, kristoris bening mengalir ke deras. Pria pertama (yang ambil keperawanan tadi) naik lagi ke kasur, posisi misionaris. Dia masukin tititnya langsung tanpa foreplay lagi—suara “plop” basah terdengar keras, Luna berteriak “Aduh! Terlalu cepat!” Tapi berharapnya cepat berubah jadi desahan “Ah… dalam… panas…”
2410Please respect copyright.PENANA0Pk3U6a8aX
Pria kedua dekati dari samping, memegang payudara Luna, remas kasar sambil cubit puting pink kecilnya. “Lihat nih, putingnya udah keras banget,” katanya sambil tertawa kecil. Suara “slurp” terdengar saat dia hisap puting kanan Luna, lidah berputar-putar. Luna menggeliat, “Jangan… ahh… enak…” Kata-kata penolakannya mulai lemah.
2410Please respect copyright.PENANAaoT5XpzZRe
Pria ketiga naik ke kepala Luna. Dia buka celananya, titit tebal dan panjang muncul. “Buka mulut,” perintahnya. Luna menggeleng, tapi pria itu memegang rahangnya secara paksa. titit masuk ke mulut Luna—deepthroat paksa. Suara “glug glug” basah dan terdengar jelas. Air liur Luna menetes ke dagu, matanya berair. Tapi obat membuatnya mulai menggerakkan kepala sendiri, mencari ritme.
2410Please respect copyright.PENANAOyHWXqYfqe
Ketiganya mulai tenggelam. Pria di vagina mendorong dengan keras, suara “plak plak” kulit mengundang. Pria di payudara ganti-ganti hisap puting kiri-kanan, gigit pelan sampai Luna menjerit nikmat. Pria di mulut dorong dalam-dalam, sampai Luna bertanya tapi tetap terima. Bau keringat pria-pria itu bercampur aroma manis kristoris Luna dan sperma yang mulai muncrat.
2410Please respect copyright.PENANAy03czPAtik
Arhan menonton dengan napas tertahan. Tangan membayangkan kembali memegang tititnya, menggerakkannya pelan. Emosinya semakin kacau—dia benci melihat Luna “disiksa” begini, tapi dia juga nggak bisa berbohong: adegan ini bikin dia sange luar biasa. Dia membayangkan kalau dia yang ada di sana, kalau dia yang bisa mengendalikan Luna seperti itu.
LANJUTAN CERITA BISA DI AKSES DI https://lynk.id/novelhambilah
2410Please respect copyright.PENANAIDUmpTR595


