Bab 1: Pernikahan Baru & Tatapan Lapar
4409Please respect copyright.PENANAKbfx1BSiy6
4409Please respect copyright.PENANAIgQqxsRu2t
Hujan deras mengguyur Jakarta malam itu, tapi di dalam rumah mewah di kawasan Pondok Indah, suasana hangat dan penuh janji. Maya berdiri di depan cermin kamar utama, masih mengenakan gaun pengantin sederhana berwarna putih krem yang menempel sempurna di tubuhnya. Tinggi 168 cm, payudara E-cup yang penuh dan kencang, pinggul lebar, serta bokong bulat besar yang selalu membuatnya malu kalau memakai celana ketat. Kulitnya putih mulus seperti susu, rambut hitam panjang tergerai sampai pinggang. Wajahnya cantik alami, bibir penuh, mata besar yang selalu terlihat polos dan pemalu.
4409Please respect copyright.PENANAahFI6nQAX2
Hari ini adalah hari pernikahannya dengan Pak Budi, duda kaya berusia 52 tahun yang memiliki perusahaan properti besar. Pak Budi duda karena istrinya meninggal lima tahun lalu, meninggalkan satu anak laki-laki: Yoga, 21 tahun. Maya tahu pernikahan ini lebih karena keamanan finansial daripada cinta yang mendalam—tapi Pak Budi baik, lembut, dan janjinya untuk merawat ibu Maya yang sakit membuatnya setuju.
4409Please respect copyright.PENANAuFhgohg7TN
Maya menarik napas dalam, mencoba menenangkan jantung yang berdegup kencang. Malam pertama. Dia belum pernah benar-benar berhubungan intim sejak putus dengan pacarnya lama dua tahun lalu. Tubuhnya panas, tapi pikirannya penuh keraguan. "Aku harus bisa menyenangkan suamiku," gumamnya pelan.
4409Please respect copyright.PENANA9SARLRBZY9
Di lantai bawah, ruang tamu luas dengan jendela besar menghadap kota yang berkilauan basah oleh hujan. Sofa kulit putih, perapian listrik menyala lembut, aroma kopi dan vanila memenuhi udara. Pak Budi sedang menuang sampanye untuk mereka bertiga—dia, Maya, dan Yoga yang baru pulang dari kampus.
4409Please respect copyright.PENANAXbJzNzJHAA
Yoga duduk santai di sofa, kaki disilangkan, mata tajamnya tak lepas dari Maya sejak tadi sore di resepsi. Tubuhnya tegap, otot dada dan lengan terlihat jelas di balik kemeja hitam yang digulung lengan. Rambut sedikit ikal, wajah tampan dengan rahang tegas, senyum miring yang selalu membuat cewek-cewek di gunung meleleh. Tapi malam ini, matanya berbeda—lapar, predator, seperti serigala yang mengintai mangsa.
4409Please respect copyright.PENANAthPGrYqLrD
“Selamat lagi ya, Bu Maya,” kata Yoga sambil mengangkat gelas. Suaranya dalam, sedikit serak. "Selamat datang di keluarga kecil kami."
4409Please respect copyright.PENANA4Fe3f46OlW
Maya malu tersenyum-malu, pipinya memerah. "Terima kasih, Yoga. Aku... senang bisa tinggal di sini."
4409Please respect copyright.PENANAnTrZBT0mN7
Pak Budi tertawa pelan. "Yoga anak baik kok, Maya. Dia cuma terlihat cuek, tapi sebenarnya perhatian."
4409Please respect copyright.PENANAJZRwn8fAVQ
Yoga hanya tersenyum tipis, matanya turun ke dada Maya yang naik-turun karena nafasnya agak cepat. Gaun itu terlalu tipis di bagian atas, putingnya samar-samar terlihat karena AC dingin. Yoga menelan ludah, tititnya di balik celana mulai menggumpal pelan.
4409Please respect copyright.PENANAD8CDEEL741
Malam berlanjut. Pak Budi mabuk ringan karena sampanye, akhirnya naik ke kamar lebih dulu. “Aku tunggu di atas ya, Sayang,” bisiknya sambil mencium pipi Maya. Maya mengangguk, jantungnya berdegup lebih kencang.
4409Please respect copyright.PENANAH1oECsKLwb
Sekarang tinggal Maya dan Yoga di ruang tamu.
4409Please respect copyright.PENANA5f71ZhzecR
Maya hendak naik tangga, tapi Yoga berdiri menghalangi. Tingginya lebih tinggi dari Maya, badannya menjulang tinggi.
4409Please respect copyright.PENANAX3O0wZ8Xp4
“Bu Maya,” panggilnya pelan. "Sebentar."
4409Please respect copyright.PENANAwcYqylJRsl
Maya berhenti, menatap bingung. “Ada apa, Yoga?”
4409Please respect copyright.PENANARolN8uiA1X
Yoga mendekat, sampai jarak mereka hanya beberapa senti. Aroma parfum maskulinnya menusuk hidung Maya. “Aku tahu rahasiamu.”
4409Please respect copyright.PENANAhoeKdmGGIe
Maya mengerutkan keningnya. "Rahasia apa?"
4409Please respect copyright.PENANAR96MFDAA2l
Yoga mengeluarkan ponselnya, membuka riwayat browser yang dia hack diam-diam dari laptop Maya minggu lalu—saat Maya pinjam WiFi rumah. Ada tab-tab tentang "BDSM untuk pemula", "fantasi gangbang", "pornografi penghinaan publik", "cerita menjadi budak seks". Semua dibuka di mode penyamaran, tapi Yoga punya cara.
4409Please respect copyright.PENANAeEZY4UPsg8
Maya langsung menggambar. "Itu... itu bukan..."
4409Please respect copyright.PENANABwero6Xzgp
Yoga mendekat lagi, hampir menyentuh telinga Maya. "Tenang, Bu. Ayah gak tahu. Dan gak akan tahu... selama Bu nurut."
4409Please respect copyright.PENANAH2aViUOUmI
Maya mundur sampai menempel di dinding. Payudaranya naik-turun dengan cepat. "Yoga...jangan begini. Ini salah."
4409Please respect copyright.PENANADo6451tLX8
Yoga membalik tubuh Maya dengan kasar hingga menempel di dinding dingin ruang tamu. Napasnya panas di belakang telinga Maya, satu tangan menggenggam pinggangnya kuat-kuat, tangan lain sudah menurunkan resleting celananya sendiri. Kontolnya yang tebal dan panjang—19 cm, urat-urat menonjol, ujungnya sudah basah pre-cum—melompat keluar, langsung menggesek celah memek Maya yang licin dan panas.
Maya menggeleng lemah, suaranya pecah hampir tak terdengar.
“Jangan… kumohon… Yoga… ini salah… ayahmu di atas…”
Yoga tertawa rendah, suara serak penuh nafsu.
"Salah? Memek Bu sudah banjir begini, Bu. Lihat sendiri—"
Dia meraih tangan Maya yang gemetar, memaksa jari-jarinya menyentuh sendiri klitorisnya yang sudah bengkak dan basah. Maya menarik napas tajam saat jarinya menyentuh cairan lengketnya. Yoga membimbing jari itu masuk ke dalam memeknya sebentar, lalu menarik keluar dan menjilat jari Maya di depan matanya.
“Rasa manisnya ibu tiri yang polos,” bisiknya sambil menggesek-gesekkan kepala tititnya ke bibir memek Maya yang menganga. “Bu udah siap dari tadi kan? Cuma pura-pura nolak.”
Maya menggigit bibir bawahnya sampai berdarah tipis, air mata menetes pelan. Tapi pinggulnya—tanpa sadar—maju sedikit, mencarinya.
Yoga tidak memberi waktu lagi.
Dia mendorong pinggulnya maju dalam satu tusukan brutal, keras, tanpa ampun.
Kontol 19 cm itu menerobos masuk sekaligus, membelah dinding memek Maya yang sempit dan jarang disentuh. Maya berteriak keras ke dalam telapak tangan Yoga yang langsung menutup mulut rapat. Suaranya tertahan jadi desahan teredam yang basah dan panas. Kepala tititnya langsung membentur serviks dengan kekuatan penuh, menekan dinding rahim yang sensitif.
“Ssst… jangan keras-keras, Bu. Nanti ayah bangun dan lihat ibu tirinya lagi dientot anak tirinya di ruang tamu.”
Maya menggeleng-geleng, air mata mengalir deras, tapi tubuhnya tertahan: memeknya berkedut-kedut kuat mengencangkan titit Yoga, seperti menyedotnya lebih dalam. Rasa penuh yang menyakitkan sekaligus kenikmatan itu membuat lututnya lemas.
Yoga mulai menggoyang pinggulnya—awalnya pelan tapi dalam, setiap tarikan keluar hampir sepenuhnya, lalu dorong masuk lagi sampai bunyi plok basah terdengar jelas di ruangan yang sunyi. Suara daging berbunyi basah bercampur desahan tertahan Maya dan napas berat Yoga.
Setiap dorongan membuat payudara E-cup Maya bergoyang-goyang pembohong, putingnya yang memaksa menggesek kain gaun pengantin yang sudah setengah robek. Yoga meraih satu payudara dari belakang, meremas keras sampai memerah, jempolnya memilin puting dengan kasar.
"Bagus, Bu… memeknya sempit banget, panas, licin… pasti jarang dipake sama ayah ya? Atau ayah gak kuat nge-handle memek seksi begini?"
Maya menangis pelan di balik telapak tangan Yoga, tapi pinggulnya mulai bergerak maju-mundur mengikuti irama, mencari dorongan lebih dalam. Orgasme pertama datang tiba-tiba, seperti petir menyambar. Tubuhnya kejang hebat, memeknya berkontraksi kuat menggigit titit Yoga, cairannya muncrat deras membasahi paha Yoga dan lantai dingin.
Yoga tidak berhenti—malah cepat. Pinggulnya menghantam bokong besar Maya dengan ritme yang ganas, suara plak-plak-plak daging tiba-tiba memenuhi ruangan, bercampur erangan tertahan Maya dan napas Yoga yang semakin berat.
“Tuh kan… Bu orgasme pertama cuma dalam beberapa menit. Polos katanya, tapi memeknya sudah haus titit anak tiri.”
Tangan Yoga turun ke bokong Maya, remas dengan keras sampai meninggalkan bekas jari merah, lalu menampar bokong itu beberapa kali— plak! tolong! —membuat Maya menggelinjang lagi, orgasme kedua menyusul dengan cepat.
“Aku mau keluar di dalam, Bu,” bisik Yoga di telinga, suaranya parau penuh nafsu. “Biar rahim Bu penuh sperma anakku. Biar Bu hamil anakku, bukan anak ayah. Bayangin aja—perut Bu membuncit, anak tiri yang bikin hamil ibu tirinya.”
Maya menggeleng lemah, tapi suaranya sudah pecah jadi erangan nikmat. Tubuhnya lemas total, lututnya hampir ambruk, hanya ditopang oleh tangan Yoga yang mencengkeram pinggangnya.
Yoga mengerang keras, dorongan terakhirnya paling dalam—kontolnya menekan serviks kuat-kuat, lalu meledak. Sperma panas mengalir deras ke dalam rahim Maya, berdenyut demi denyut, mengisi setiap celah. Creampie pertama malam itu terasa seperti banjir hangat yang nikmat nikmat di dalam tubuh Maya.
Dia menarik tititnya pelan-pelan, sperma kental menetes keluar dari memek Maya yang merah dan bengkak, mengalir ke paha dalamnya yang gemetar. Maya ambruk ke dinding, napas tersengal, air mata bercampur keringat dan cairan orgasme.
Yoga memutar tubuh Maya, memaksa dia berlutut. Kontolnya yang masih setengah keras dan basah sperma dimasukkan ke mulut Maya.
"Hisap bersih, Bu. Jangan sampai ada yang tersisa. Ini baru malam pertama. Besok kita mulai rekam video. Dan ingat—kalau Bu nolak, semua rahasia Bu aku kirim ke ayah."
Maya menangis pelan sambil menghisap, lidahnya bergerak lemah membersihkan sisa sperma dan cairan memeknya sendiri dari titit Yoga. Matanya kosong, tapi di dalam… sesuatu yang gelap dan haus mulai bangun sepenuhnya.
Yoga menarik rambutnya pelan, memaksa tatap mata.
“Selamat malam pertama, Ibu Tiri. Mulai sekarang, setiap malam adalah milikku.”
Maya hanya bisa mengangguk lemah, mulutnya masih penuh titit Yoga, tubuhnya gemetar antara malu, takut, dan hasrat yang tak bisa lagi dibendung.
LANJUTAN CERITA BISA DI AKSES DI https://lynk.id/novelhambilah4409Please respect copyright.PENANAVEdhg3TC9K


