Malam itu, jam dinding ruang tamu menunjukkan pukul 23:17. Lampu kuning temaram menyala redup, bikin bayangan kami bertiga memanjang di dinding seperti siluet orang-orang yang lagi main teater absurd.
7631Please respect copyright.PENANAcQ20PFeYU0
Aku, Arga, duduk di sofa panjang, tangan kiri memegang gelas kosong yang tadinya berisi es teh manis. Di seberangku, di kursi tunggal, duduk Rian—sahabatku sejak SMP. Rambutnya acak-acakan habis main basket sore tadi bareng aku. Kaos oblong hitamnya basah keringat di dada, celana pendek olahraganya ketat di paha. Dia nyengir, tapi matanya nggak bisa bohong—ada gugup di situ.
7631Please respect copyright.PENANAhRQI4Bg0yR
Di sampingku, di ujung sofa yang sama, duduk Naya, istriku. Dia pakai kaos tidur oversize abu-abu yang longgar banget. Karena posisinya agak miring menghadap Rian, kainnya tertarik sedikit, memperlihatkan garis bahu mulusnya yang putih. Rambut panjang hitamnya tergerai, ujungnya menyentuh lengan sofa. Kakinya disilang, jari-jari kakinya yang kecil dicat merah maroon bergoyang pelan seperti metronom yang lagi ngitung detik sebelum sesuatu meledak.
7631Please respect copyright.PENANA3b7lcDIrLh
Kami bertiga diam sejenak setelah Rian baru saja bilang kalimat yang bikin udara terasa lebih tebal.
7631Please respect copyright.PENANASjwnawH8bo
“Jadi… serius lo mau aku lanjutin taruhannya, Na?” tanya Rian, suaranya rendah tapi ada nada main-main yang dipaksakan.
7631Please respect copyright.PENANAHtJzQT1uJH
Naya nggak langsung jawab. Dia menoleh ke arahku, mata cokelatnya yang besar menatap dalam-dalam. Bibirnya yang penuh sedikit terbuka, seperti lagi mempertimbangkan sesuatu yang berat. Aku bisa lihat detak nadi di lehernya bergerak lebih cepat.
7631Please respect copyright.PENANAVCiInfv2j5
Aku menelan ludah. Tenggorokan kering meski baru minum es teh.
7631Please respect copyright.PENANAOCWVxeEsIj
“Lo yang mulai, Ri,” kataku pelan, suara serak. “Lo yang bilang ‘kalau kalah basket, lo boleh minta apa aja dari gue’. Dan lo kalah telak tadi sore.”
7631Please respect copyright.PENANAHvCwOyVDud
Rian tertawa kecil, tapi tawanya nggak lepas. “Gue cuma bercanda, bro. Lo tahu kan gue suka ngomong kelewatan pas lagi emosi kalah.”
7631Please respect copyright.PENANA3ofEIhjicT
“Tapi Naya yang bilang ‘oke, deal’. Dan lo nggak nolak,” balasku. Aku nggak tahu kenapa aku malah membela taruhan itu. Mungkin karena aku juga penasaran. Mungkin karena selama ini aku sering ngerasa ada sesuatu di antara mereka. Tatapan terlalu lama. Sentuhan kecil yang nggak perlu. Candaan yang kadang terlalu intim.
7631Please respect copyright.PENANAYxuToKdit7
Naya akhirnya buka suara, suaranya lembut tapi ada getar di ujung kalimatnya.
7631Please respect copyright.PENANA7xxGNR53Ej
“Arga… kamu beneran nggak masalah kalau aku… nerusin ini?”
7631Please respect copyright.PENANAuIBCnGyGCz
Aku memandangnya. Wajahnya yang biasanya polos sekarang terlihat berbeda. Pipinya memerah, matanya nggak berkedip. Ada rasa takut, tapi juga ingin tahu yang lebih kuat.
7631Please respect copyright.PENANA2M87ui1NXZ
Aku mengangguk pelan. “Kalau kamu mau… aku izinin.”
7631Please respect copyright.PENANAL4BIWBcdCM
Itu kalimat terberat yang pernah keluar dari mulutku.
7631Please respect copyright.PENANA8mW6JBPKXF
Rian menghela napas panjang, lalu berdiri. Dia melangkah mendekat, berhenti tepat di depan kami. Jarak cuma satu meter. Dari posisiku, aku bisa lihat jelas kaos Rian menempel di perut rata, dan celana pendeknya mulai menonjol di depan—bukti dia nggak bohong soal “tertarik”.
7631Please respect copyright.PENANAxAkFL2wqBv
“Jadi… apa hukumannya, Na?” tanya Rian lagi, suara lebih dalam. “Lo yang menang taruhan. Lo yang tentuin.”
7631Please respect copyright.PENANA0vyg5kkvEu
Naya menunduk sebentar, jari-jarinya memainkan ujung kaos tidurnya. Lalu dia angkat wajah, menatap Rian langsung.
7631Please respect copyright.PENANAS0GY8qHTs2
“Aku cuma mau kamu… buktiin kalau kamu beneran berani,” katanya pelan. “Bukan cuma omong doang.”
7631Please respect copyright.PENANAFbcRx5lOsp
Rian tersenyum miring. “Berani gimana?”
7631Please respect copyright.PENANAYzr57pALmi
Naya menoleh ke arahku lagi. Matanya mencari konfirmasi. Aku cuma mengangguk kecil, meski dadaku terasa ditusuk jarum.
7631Please respect copyright.PENANArZvAFccJiE
Dia kembali menatap Rian. “Cium aku. Di depan Arga. Sekarang.”
7631Please respect copyright.PENANAK78S85oM6j
Ruangan tiba-tiba hening. Cuma suara jam dinding berdetak pelan, dan napas kami bertiga yang mulai nggak beraturan.
7631Please respect copyright.PENANAEoTLw1kq6S
Rian nggak langsung gerak. Dia tatap Naya, lalu melirik aku. “Lo beneran oke, bro?”
7631Please respect copyright.PENANAC7qJlnsDUR
Aku nggak bisa jawab langsung. Tenggorokanku tercekat. Tapi akhirnya aku mengangguk lagi. “Lanjut aja.”
7631Please respect copyright.PENANAyy3zj1Td1z
Rian melangkah lebih dekat. Dia membungkuk perlahan, tangan kirinya bertumpu di sandaran sofa di samping kepala Naya. Tangan kanannya pelan menyentuh dagu Naya, mengangkat wajahnya supaya saling tatap.
7631Please respect copyright.PENANAdsWyKaG10y
Aku bisa lihat dari samping bagaimana bibir Naya sedikit bergetar. Bibir bawahnya yang tebal basah karena dia baru saja menjilatnya tanpa sadar.
7631Please respect copyright.PENANANoLlenhZqM
Rian mendekatkan wajahnya. Jarak tinggal beberapa senti. Aku dengar napas Naya jadi lebih pendek, lebih cepat.
7631Please respect copyright.PENANAZhSV6vG4xV
Lalu… mereka bertemu.
7631Please respect copyright.PENANAktyk5QDi1X
Ciuman pertama itu pelan. Hanya sentuhan bibir. Bibir Rian menempel lembut di bibir Naya, nggak buru-buru. Naya diam dulu, matanya terpejam. Tapi setelah beberapa detik, bahunya rileks. Bibirnya mulai membalas. Pelan. Hati-hati. Seperti lagi mencicipi sesuatu yang dilarang tapi terlalu enak untuk ditolak.
7631Please respect copyright.PENANAZAu3rPqwrS
Aku duduk membatu. Jantung berdegup kencang sampai terasa di telinga. Ada rasa panas naik dari perut ke dada—campuran cemburu, marah, dan… terangsang.
7631Please respect copyright.PENANAVtWKfShb7V
Ciuman mereka berlangsung hampir satu menit. Rian mulai lebih berani—lidahnya menyelinap masuk, menyentuh lidah Naya. Aku dengar suara kecil “mmh…” dari mulut Naya. Tangan Rian yang tadinya di dagu sekarang turun ke leher Naya, jempolnya mengusap pelan di bawah telinga—tempat yang aku tahu Naya paling sensitif.
7631Please respect copyright.PENANAEYBoAOyISU
Naya menggigil kecil. Tangannya naik, memegang lengan Rian. Bukan menolak. Malah menarik lebih dekat.
7631Please respect copyright.PENANAEbkW8ghBKC
Akhirnya mereka berpisah. Bibir Naya basah mengkilap. Napasnya tersengal. Matanya setengah terbuka, pupil membesar.
7631Please respect copyright.PENANAZO3kKtxtqx
Rian mundur sedikit, tapi tangannya masih di leher Naya. Dia menoleh ke arahku.
7631Please respect copyright.PENANAG4fFWasHBR
“Masih mau lanjut, bro?”
7631Please respect copyright.PENANAd3004wYWNl
Aku nggak bisa bicara. Mulut kering. Tapi kepalaku mengangguk pelan.
7631Please respect copyright.PENANA7ZHEvJFyeV
Naya menoleh ke arahku. Wajahnya merah padam. “Arga… kamu nggak marah?”
7631Please respect copyright.PENANAqEZwvi1VDl
Aku menggeleng. Suaraku serak. “Lanjut aja, Sayang. Aku… mau lihat.”
7631Please respect copyright.PENANARylUeAR9Iz
Naya tersenyum kecil—senyuman campur malu, takut, dan gairah. Dia kembali menatap Rian.
7631Please respect copyright.PENANAvMnE0AxJNu
“Kamu boleh… sentuh aku. Di mana aja. Tapi pelan-pelan.”
7631Please respect copyright.PENANA1491e2VSml
Rian menelan ludah. Matanya turun ke dada Naya. Kaos tidurnya longgar, tapi karena napasnya naik-turun, bentuk payudaranya terlihat jelas. Putingnya sudah mengeras, menonjol samar di balik kain tipis.
7631Please respect copyright.PENANAnvAPjXMsXM
Rian mengangguk. Tangannya turun perlahan. Jari-jarinya menyusuri tulang selangka Naya, lalu masuk ke garis leher kaos. Dia menyelipkan tangan ke dalam, menyentuh kulit telanjang di atas payudara kiri Naya.
7631Please respect copyright.PENANAL54D8HLM62
Aku bisa lihat gerakan tangan Rian dari luar kaos—dia mengusap pelan, jempolnya pasti sedang mengelilingi puting yang sudah tegang itu. Naya menggigit bibir bawahnya, matanya terpejam lagi. Napasnya jadi lebih berat.
7631Please respect copyright.PENANABTvCppxgxd
“Mmmh… pelan, Ri…” bisik Naya.
7631Please respect copyright.PENANA0oCBhCwGmw
Rian tersenyum kecil. “Lo basah banget ya, Na?”
7631Please respect copyright.PENANA0cwtegackm
Naya nggak jawab. Tapi pahanya menegang, kakinya yang disilang sekarang sedikit terbuka.
7631Please respect copyright.PENANAPasbAqPP37
Aku duduk di situ, cuma bisa nonton. Tubuh panas. Celana ketat banget. Tapi aku nggak bergerak. Aku cuma… menonton.
7631Please respect copyright.PENANAXmSmNJPQY4
Rian masih berlutut di depan Naya. Wajahnya hanya beberapa senti dari paha dalam istriku yang sudah terbuka lebar. Napasnya hangat menyapu kulit Naya yang sensitif, membuat bulu halus di sana bergoyang pelan. Vagina Naya terlihat semakin mengkilap di bawah cahaya kuning—cairan bening sudah menetes tipis ke sofa, meninggalkan noda kecil yang gelap.
7631Please respect copyright.PENANAiO1skXz7CA
Tapi Rian nggak langsung menyentuh. Dia cuma menatap lama, seperti lagi menghafal setiap detail. Lalu matanya naik, menangkap pandangan Naya yang sudah berkaca-kaca.
7631Please respect copyright.PENANAcJoGwd6e15
“Na…” suara Rian pelan, hampir bisik. “Lo beneran mau gue lanjutin sampe sini?”
7631Please respect copyright.PENANAaZ2yTalSJp
Naya nggak langsung jawab. Dia menoleh ke arahku dulu. Matanya mencari sesuatu—mungkin izin lagi, mungkin kepastian bahwa aku masih di sini, masih setuju, masih… mencintainya.
7631Please respect copyright.PENANATLwZQGZNZj
Aku mengangguk kecil. Tangan kiriku menyentuh punggung tangan Naya. Jari kami saling bertaut. Dingin. Tapi ada getar hangat di situ.
7631Please respect copyright.PENANA4PfPYETZxx
“Bilang aja, Sayang,” kataku pelan. “Kalau kamu masih mau… bilang.”
7631Please respect copyright.PENANAK8WBz57m2Q
Naya menarik napas dalam. Dadanya naik-turun, putingnya yang masih basah karena air liur Rian tadi ikut bergerak.
7631Please respect copyright.PENANAgkNoP1vquI
“Aku… mau,” akhirnya dia bilang. Suara kecil, tapi jelas. “Tapi aku takut, Arga.”
7631Please respect copyright.PENANAgalpG1tAhC
“Takut kenapa?” tanyaku, meski aku tahu jawabannya.
7631Please respect copyright.PENANAlwVZWAbEDJ
“Takut… kamu berubah pikiran nanti. Takut kamu benci aku. Takut… aku sendiri yang nggak bisa berhenti kalau udah mulai.”
7631Please respect copyright.PENANA5dBlwqvyTi
Aku memeras tangannya pelan. “Aku di sini, Na. Aku nggak kemana-mana. Kalau kapan-kapan kamu bilang stop, kita stop. Janji.”
7631Please respect copyright.PENANAV79GmEyIbS
Naya mengangguk kecil. Air matanya hampir jatuh, tapi dia tahan. Lalu dia menoleh lagi ke Rian.
7631Please respect copyright.PENANAGCJB66W6Df
“Ri… kamu juga janji ya. Kalau aku bilang berhenti, kamu berhenti. Nggak boleh maksa.”
7631Please respect copyright.PENANAkeEp1YTyp8
Rian mengangguk serius. “Gue janji, Na. Ini bukan cuma soal gue pengen. Ini soal lo berdua yang izinin. Kalau lo berubah pikiran, gue mundur. Langsung.”
7631Please respect copyright.PENANAOABLEMbXjn
Naya tersenyum tipis. Senyuman rapuh, tapi tulus.
7631Please respect copyright.PENANAdoPqiLozWx
“Terus… sekarang?” tanyanya pelan.
7631Please respect copyright.PENANAEjmKJNS0cA
Rian nggak langsung gerak. Dia malah mundur sedikit, duduk di tumitnya, memberi jarak.
7631Please respect copyright.PENANArIwBX12cHc
“Belum,” katanya. “Gue pengen lo yang ngerasa nyaman dulu. Lo yang mulai.”
7631Please respect copyright.PENANADs6wVSadni
Naya mengerutkan kening. “Maksudnya?”
7631Please respect copyright.PENANAHufmHlHnqv
Rian menunjuk pahanya sendiri. “Lo pegang dulu. Sentuh diri lo sendiri. Biar lo yang kontrol ritmenya. Gue cuma nonton… sama kayak Arga.”
7631Please respect copyright.PENANAiiLox0gi0T
Aku terkejut mendengar itu. Tapi anehnya, ide itu malah bikin dadaku berdegup lebih kencang.
7631Please respect copyright.PENANAFnrUlXouFS
Naya menatap Rian lama. Lalu matanya turun ke vaginanya sendiri yang terbuka lebar. Jari telunjuk kanannya bergerak pelan, menyentuh bibir luarnya yang basah. Dia mengusap naik-turun perlahan, hanya di bagian luar dulu.
7631Please respect copyright.PENANA442aNXdlsx
“Mmmh…” desah kecil keluar dari mulutnya.
7631Please respect copyright.PENANAHLDXnr3vj1
Aku bisa lihat jarinya mulai mengkilap. Dia mengambil cairannya, lalu mengoleskannya ke klitoris kecil yang sudah menonjol. Gerakannya melingkar pelan.
7631Please respect copyright.PENANAzDxHVZRCoP
Rian menelan ludah. Celananya semakin ketat.
7631Please respect copyright.PENANAhxIHls27dg
“Gimana rasanya, Na?” tanyanya serak.
7631Please respect copyright.PENANAN8cAFkA24e
“Enak… tapi kurang…” jawab Naya sambil menggigit bibir. “Kurang… dalam.”
7631Please respect copyright.PENANAtg07SfjfXW
“Masukin jari lo,” kata Rian pelan. “Satu dulu.”
7631Please respect copyright.PENANANDSeF8Yx0W
Naya mengangguk. Jari telunjuk dan tengahnya sekarang bergerak ke bawah, menyentuh lubang masuknya yang licin. Dia memasukkan satu jari perlahan. Masuk sampai buku jari kedua, lalu keluar lagi. Lalu masuk lagi, kali ini dua jari.
7631Please respect copyright.PENANAU0lB1G9zTo
“Ahhh….” suaranya lebih tinggi sekarang.
7631Please respect copyright.PENANABqJzQ86AW9
Aku memegang tangannya lebih erat. Dia balas memegangku kuat-kuat, seperti mencari pegangan supaya nggak hanyut terlalu cepat.
7631Please respect copyright.PENANA0hbQNe2Cms
“Lo cantik banget pas gini,” kata Rian tiba-tiba. “Muka lo merah, bibir lo basah, dadanya naik-turun… gue nggak nyangka bakal liat lo kayak gini.”
7631Please respect copyright.PENANAKjvde31qnK
Naya tersenyum malu. “Jangan ngomong gitu… malu.”
7631Please respect copyright.PENANAgziZjZ5Cy1
“Tapi bener,” sahut Rian. “Arga pasti bangga punya istri secantik lo.”
7631Please respect copyright.PENANA9aiW0fPvLc
Aku nggak bisa nahan lagi. “Iya,” kataku pelan. “Aku bangga. Dan… aku juga horny liat kamu gini, Sayang.”
7631Please respect copyright.PENANA3g6h6R2EU9
Naya menoleh ke arahku. Matanya berkilau. “Arga… kamu beneran nggak marah?”
7631Please respect copyright.PENANABRnxyurywQ
Aku menggeleng. “Aku cemburu. Tapi… cemburu yang bikin aku pengen liat lebih.”
7631Please respect copyright.PENANAQTphvuusWv
Naya tersenyum lebar sekarang. Senyuman penuh gairah.
7631Please respect copyright.PENANAwdCWM3viRt
“Ri… boleh kamu deket lagi sekarang?” tanyanya.
7631Please respect copyright.PENANAFzDEh0PoRN
Rian mengangguk. Dia maju lagi, tapi masih nggak langsung menyentuh. Dia mendekatkan wajahnya sampai napasnya menyapu klitoris Naya.
7631Please respect copyright.PENANAQI5Bq99i0x
“Lo mau gue jilat sekarang?” tanyanya.
7631Please respect copyright.PENANAJAsGx2mgRL
Naya mengangguk cepat. “Iya… tapi pelan. Aku pengen ngerasain lama-lama.”
7631Please respect copyright.PENANAtyDWl9Uyim
Rian tersenyum kecil. “Oke. Lo pegang kepala gue kalau mau gue lebih dalam, ya.”
7631Please respect copyright.PENANASr4I7mJM2G
Dia menjulurkan lidahnya pelan. Ujung lidahnya menyentuh klitoris Naya dulu—hanya sentuhan ringan.
7631Please respect copyright.PENANA7gWeZpJRgX
Naya langsung menggelinjang. “Ahh…!”
7631Please respect copyright.PENANA064YZjObS1
Rian nggak buru-buru. Dia menjilat lagi, dari bawah ke atas, menyusuri bibir vagina sampai ke klitoris, lalu turun lagi. Gerakannya lambat, basah, penuh perhatian.
7631Please respect copyright.PENANA9dvg0fB9yt
Naya mulai mendesah lebih sering. “Mmmh… enak, Ri… jangan berhenti…”
7631Please respect copyright.PENANAlBibqBRtpZ
Aku menatap semuanya dari samping. Lidah Rian bergerak naik-turun, meninggalkan jejak air liur yang mengkilap. Kadang dia berhenti, meniup pelan ke klitoris yang sudah merah, membuat Naya menggeliat.
7631Please respect copyright.PENANAITJokEQwc9
“Lo suka gini, Na?” tanya Rian di sela jilatannya.
7631Please respect copyright.PENANAnjluoM6km8
“Suka… banget…” jawab Naya sambil menggigit bibir. “Lidah kamu… panas…”
7631Please respect copyright.PENANA9YVRQdvlVJ
Rian tertawa kecil. “Arga, lo denger nggak? Istri lo bilang lidah gue panas.”
7631Please respect copyright.PENANAa3QSflNF7f
Aku cuma nyengir kecut. “Gue denger. Dan gue liat.”
7631Please respect copyright.PENANA5Ool822JGb
Naya menoleh ke arahku lagi. “Arga… pegang dadaku dong. Aku pengen kamu ikut sentuh.”
7631Please respect copyright.PENANALE96AXgATQ
Aku nggak perlu disuruh dua kali. Tangan kiriku naik, meraih payudara kanan Naya. Kulitnya panas. Putingnya keras seperti batu kecil. Aku memilin pelan.
7631Please respect copyright.PENANARr1k7qdI5A
Naya mendesah lebih keras. “Ahh… iya, Arga… gitu…”
7631Please respect copyright.PENANAafn91z9Knd
Rian mulai lebih intens. Lidahnya masuk ke dalam lubang vagina Naya, menekan masuk-keluar. Kadang dia ganti dengan dua jari—memasukkan perlahan, melengkung ke atas, mencari titik G.
7631Please respect copyright.PENANAGs53X9NKsy
Naya langsung menjerit kecil. “AHH! Di situ… Ri… jangan berhenti…”
7631Please respect copyright.PENANA1pTiuibBfL
Rian tersenyum di antara pahanya. “Gue tahu, Na. Gue inget lo pernah cerita dulu… pas kita minum bareng, lo bilang Arga suka mainin titik ini.”
7631Please respect copyright.PENANAYTiYVI2JuK
Aku terkejut. “Lo cerita ke dia?”
7631Please respect copyright.PENANAdaOJE1nLP3
Naya mengangguk sambil tersenyum malu. “Iya… pas kita lagi ngobrol soal… hal-hal gini. Aku nggak nyangka bakal kejadian beneran.”
7631Please respect copyright.PENANAJHlj2ImnoA
Rian menambah kecepatan jarinya. Masuk-keluar ritme stabil, sambil lidah kembali menari di klitoris.
7631Please respect copyright.PENANACKVZJKLW3p
Naya mulai menggoyang pinggulnya pelan. Tangannya memegang rambut Rian dan tanganku erat-erat.
7631Please respect copyright.PENANAvUUG8Jpfpd
“Arga… aku… mau keluar…” bisiknya tiba-tiba.
7631Please respect copyright.PENANAVDKBywyiCW
Aku menatapnya. Wajahnya basah keringat, rambut menempel di pipi.
7631Please respect copyright.PENANAe18vWo1r1d
“Keluar aja, Sayang. Biar aku liat.”
7631Please respect copyright.PENANAtyRccj2Amf
Naya mengangguk cepat. Matanya terpejam rapat.
7631Please respect copyright.PENANACrjerJOs7k
Rian nggak berhenti. Jarinya semakin cepat, lidahnya menekan klitoris dengan gerakan melingkar.
7631Please respect copyright.PENANAAZlr8rjVC8
Tubuh Naya menegang. Pahanya bergetar. Napasnya tercekat.
7631Please respect copyright.PENANAq75IWFXLfz
“Loh… aku… AHHH!”
7631Please respect copyright.PENANAdyMDEf82GC
Dia orgasme pertama malam itu. Cairannya menyembur kecil, membasahi dagu Rian. Tubuhnya menggeliat hebat, tangannya mencengkeram rambut Rian dan tanganku sampai sakit.
7631Please respect copyright.PENANAKi3cTmkuqc
Rian melambatkan gerakan, membiarkan Naya menikmati aftershock. Lidahnya masih menjilat pelan, membersihkan cairan yang menetes.
7631Please respect copyright.PENANAUn6cPc0vpo
Naya membuka mata. Napasnya tersengal.
7631Please respect copyright.PENANAR9wzZXyoej
“Ya Tuhan… itu… luar biasa…” katanya pelan.
7631Please respect copyright.PENANAIQkRNpvth0
Rian mundur sedikit, bibir dan dagunya basah mengkilap. Dia menatap Naya, lalu aku.
7631Please respect copyright.PENANAna592bsr5I
“Gimana, bro? Masih mau lanjut?”
7631Please respect copyright.PENANAPyXrlCOz88
Aku menatap Naya. Dia tersenyum lemah, tapi matanya penuh api yang belum padam.
7631Please respect copyright.PENANAt6Lklple3h
“Arga… aku masih pengen…” bisiknya.
7631Please respect copyright.PENANActKHbWVmd9
Aku menelan ludah. “Lanjut.”
7631Please respect copyright.PENANA9l2QdZEhe5
Rian masih berlutut di depan Naya. Tubuhnya rileks setelah orgasme pertama, tapi vaginanya masih basah mengkilap, bibirnya merah dan bengkak. Putingnya menonjol keras, basah karena air liur Rian.
7631Please respect copyright.PENANA99sEdFb7IA
Aku pegang tangan Naya erat. Jempolku mengusap punggung tangannya pelan.
7631Please respect copyright.PENANAxXKpCEF9rq
Naya menoleh ke arahku. “Arga… kamu beneran nggak apa-apa?”
7631Please respect copyright.PENANA92DzFpMtEt
Aku mengangguk. “Aku baik-baik aja, Sayang. Cuma… jantungku kayak mau copot.”
7631Please respect copyright.PENANAchwlVBGn7O
Dia tersenyum kecil. “Aku juga. Seneng, takut, malu, horny… campur aduk.”
Kelanjutannya ada link di bawah ini
https://utas.me/mangakuu
ns216.73.217.39da2


