Malam itu, jam dinding ruang tamu menunjukkan pukul 23:17. Lampu kuning temaram menyala redup, bikin bayangan kami bertiga memanjang di dinding seperti siluet orang-orang yang lagi main teater absurd.
7982Please respect copyright.PENANAmQurIVbsrO
Aku, Arga, duduk di sofa panjang, tangan kiri memegang gelas kosong yang tadinya berisi es teh manis. Di seberangku, di kursi tunggal, duduk Rian—sahabatku sejak SMP. Rambutnya acak-acakan habis main basket sore tadi bareng aku. Kaos oblong hitamnya basah keringat di dada, celana pendek olahraganya ketat di paha. Dia nyengir, tapi matanya nggak bisa bohong—ada gugup di situ.
7982Please respect copyright.PENANA0pWCUOxiee
Di sampingku, di ujung sofa yang sama, duduk Naya, istriku. Dia pakai kaos tidur oversize abu-abu yang longgar banget. Karena posisinya agak miring menghadap Rian, kainnya tertarik sedikit, memperlihatkan garis bahu mulusnya yang putih. Rambut panjang hitamnya tergerai, ujungnya menyentuh lengan sofa. Kakinya disilang, jari-jari kakinya yang kecil dicat merah maroon bergoyang pelan seperti metronom yang lagi ngitung detik sebelum sesuatu meledak.
7982Please respect copyright.PENANAodMBb7q8Pz
Kami bertiga diam sejenak setelah Rian baru saja bilang kalimat yang bikin udara terasa lebih tebal.
7982Please respect copyright.PENANA5AjWhpsbuF
“Jadi… serius lo mau aku lanjutin taruhannya, Na?” tanya Rian, suaranya rendah tapi ada nada main-main yang dipaksakan.
7982Please respect copyright.PENANAXsw6M5kiYV
Naya nggak langsung jawab. Dia menoleh ke arahku, mata cokelatnya yang besar menatap dalam-dalam. Bibirnya yang penuh sedikit terbuka, seperti lagi mempertimbangkan sesuatu yang berat. Aku bisa lihat detak nadi di lehernya bergerak lebih cepat.
7982Please respect copyright.PENANAr5RFoUEWMV
Aku menelan ludah. Tenggorokan kering meski baru minum es teh.
7982Please respect copyright.PENANATOrzIm6GI6
“Lo yang mulai, Ri,” kataku pelan, suara serak. “Lo yang bilang ‘kalau kalah basket, lo boleh minta apa aja dari gue’. Dan lo kalah telak tadi sore.”
7982Please respect copyright.PENANAevAGMM53dx
Rian tertawa kecil, tapi tawanya nggak lepas. “Gue cuma bercanda, bro. Lo tahu kan gue suka ngomong kelewatan pas lagi emosi kalah.”
7982Please respect copyright.PENANAjJNnQ2SGe9
“Tapi Naya yang bilang ‘oke, deal’. Dan lo nggak nolak,” balasku. Aku nggak tahu kenapa aku malah membela taruhan itu. Mungkin karena aku juga penasaran. Mungkin karena selama ini aku sering ngerasa ada sesuatu di antara mereka. Tatapan terlalu lama. Sentuhan kecil yang nggak perlu. Candaan yang kadang terlalu intim.
7982Please respect copyright.PENANAiGGIGIelhp
Naya akhirnya buka suara, suaranya lembut tapi ada getar di ujung kalimatnya.
7982Please respect copyright.PENANAvEFePETkWQ
“Arga… kamu beneran nggak masalah kalau aku… nerusin ini?”
7982Please respect copyright.PENANALsBYhUUXp4
Aku memandangnya. Wajahnya yang biasanya polos sekarang terlihat berbeda. Pipinya memerah, matanya nggak berkedip. Ada rasa takut, tapi juga ingin tahu yang lebih kuat.
7982Please respect copyright.PENANA26B1K3sZnT
Aku mengangguk pelan. “Kalau kamu mau… aku izinin.”
7982Please respect copyright.PENANAlYwdSugh62
Itu kalimat terberat yang pernah keluar dari mulutku.
7982Please respect copyright.PENANAWCTOjJ4WXE
Rian menghela napas panjang, lalu berdiri. Dia melangkah mendekat, berhenti tepat di depan kami. Jarak cuma satu meter. Dari posisiku, aku bisa lihat jelas kaos Rian menempel di perut rata, dan celana pendeknya mulai menonjol di depan—bukti dia nggak bohong soal “tertarik”.
7982Please respect copyright.PENANAD2UvkZ9L9B
“Jadi… apa hukumannya, Na?” tanya Rian lagi, suara lebih dalam. “Lo yang menang taruhan. Lo yang tentuin.”
7982Please respect copyright.PENANA1yJ27dhr0M
Naya menunduk sebentar, jari-jarinya memainkan ujung kaos tidurnya. Lalu dia angkat wajah, menatap Rian langsung.
7982Please respect copyright.PENANAMFotpLfPWP
“Aku cuma mau kamu… buktiin kalau kamu beneran berani,” katanya pelan. “Bukan cuma omong doang.”
7982Please respect copyright.PENANABLt6vwXmZR
Rian tersenyum miring. “Berani gimana?”
7982Please respect copyright.PENANAAaILvs94l4
Naya menoleh ke arahku lagi. Matanya mencari konfirmasi. Aku cuma mengangguk kecil, meski dadaku terasa ditusuk jarum.
7982Please respect copyright.PENANAXkbMlC89ay
Dia kembali menatap Rian. “Cium aku. Di depan Arga. Sekarang.”
7982Please respect copyright.PENANASx8nUonF5A
Ruangan tiba-tiba hening. Cuma suara jam dinding berdetak pelan, dan napas kami bertiga yang mulai nggak beraturan.
7982Please respect copyright.PENANA3QKI8AyKSf
Rian nggak langsung gerak. Dia tatap Naya, lalu melirik aku. “Lo beneran oke, bro?”
7982Please respect copyright.PENANAkHnttHf3TS
Aku nggak bisa jawab langsung. Tenggorokanku tercekat. Tapi akhirnya aku mengangguk lagi. “Lanjut aja.”
7982Please respect copyright.PENANAMlRUiEhrEY
Rian melangkah lebih dekat. Dia membungkuk perlahan, tangan kirinya bertumpu di sandaran sofa di samping kepala Naya. Tangan kanannya pelan menyentuh dagu Naya, mengangkat wajahnya supaya saling tatap.
7982Please respect copyright.PENANAIVHD5i5eSb
Aku bisa lihat dari samping bagaimana bibir Naya sedikit bergetar. Bibir bawahnya yang tebal basah karena dia baru saja menjilatnya tanpa sadar.
7982Please respect copyright.PENANAgdCPZVxgvV
Rian mendekatkan wajahnya. Jarak tinggal beberapa senti. Aku dengar napas Naya jadi lebih pendek, lebih cepat.
7982Please respect copyright.PENANAPbdkpRxzWt
Lalu… mereka bertemu.
7982Please respect copyright.PENANAkGCbF8m5B8
Ciuman pertama itu pelan. Hanya sentuhan bibir. Bibir Rian menempel lembut di bibir Naya, nggak buru-buru. Naya diam dulu, matanya terpejam. Tapi setelah beberapa detik, bahunya rileks. Bibirnya mulai membalas. Pelan. Hati-hati. Seperti lagi mencicipi sesuatu yang dilarang tapi terlalu enak untuk ditolak.
7982Please respect copyright.PENANAW0YIbQf2sg
Aku duduk membatu. Jantung berdegup kencang sampai terasa di telinga. Ada rasa panas naik dari perut ke dada—campuran cemburu, marah, dan… terangsang.
7982Please respect copyright.PENANAoZMDizNHU2
Ciuman mereka berlangsung hampir satu menit. Rian mulai lebih berani—lidahnya menyelinap masuk, menyentuh lidah Naya. Aku dengar suara kecil “mmh…” dari mulut Naya. Tangan Rian yang tadinya di dagu sekarang turun ke leher Naya, jempolnya mengusap pelan di bawah telinga—tempat yang aku tahu Naya paling sensitif.
7982Please respect copyright.PENANARGFtHHs7ha
Naya menggigil kecil. Tangannya naik, memegang lengan Rian. Bukan menolak. Malah menarik lebih dekat.
7982Please respect copyright.PENANAcP1qKogQbo
Akhirnya mereka berpisah. Bibir Naya basah mengkilap. Napasnya tersengal. Matanya setengah terbuka, pupil membesar.
7982Please respect copyright.PENANAcuJsnFfblu
Rian mundur sedikit, tapi tangannya masih di leher Naya. Dia menoleh ke arahku.
7982Please respect copyright.PENANAlGqJPCSinI
“Masih mau lanjut, bro?”
7982Please respect copyright.PENANA0iqs6jE12R
Aku nggak bisa bicara. Mulut kering. Tapi kepalaku mengangguk pelan.
7982Please respect copyright.PENANAqlum6EL8LM
Naya menoleh ke arahku. Wajahnya merah padam. “Arga… kamu nggak marah?”
7982Please respect copyright.PENANA4XCH4xhRX0
Aku menggeleng. Suaraku serak. “Lanjut aja, Sayang. Aku… mau lihat.”
7982Please respect copyright.PENANAXEtvdwraac
Naya tersenyum kecil—senyuman campur malu, takut, dan gairah. Dia kembali menatap Rian.
7982Please respect copyright.PENANAoySuMkrmPo
“Kamu boleh… sentuh aku. Di mana aja. Tapi pelan-pelan.”
7982Please respect copyright.PENANA9GKLwy1q60
Rian menelan ludah. Matanya turun ke dada Naya. Kaos tidurnya longgar, tapi karena napasnya naik-turun, bentuk payudaranya terlihat jelas. Putingnya sudah mengeras, menonjol samar di balik kain tipis.
7982Please respect copyright.PENANArmVS1TMWAB
Rian mengangguk. Tangannya turun perlahan. Jari-jarinya menyusuri tulang selangka Naya, lalu masuk ke garis leher kaos. Dia menyelipkan tangan ke dalam, menyentuh kulit telanjang di atas payudara kiri Naya.
7982Please respect copyright.PENANA5iLeVfKLlz
Aku bisa lihat gerakan tangan Rian dari luar kaos—dia mengusap pelan, jempolnya pasti sedang mengelilingi puting yang sudah tegang itu. Naya menggigit bibir bawahnya, matanya terpejam lagi. Napasnya jadi lebih berat.
7982Please respect copyright.PENANAtUuCsULUsF
“Mmmh… pelan, Ri…” bisik Naya.
7982Please respect copyright.PENANAXiAjnEqKND
Rian tersenyum kecil. “Lo basah banget ya, Na?”
7982Please respect copyright.PENANA9QgDtLwAZc
Naya nggak jawab. Tapi pahanya menegang, kakinya yang disilang sekarang sedikit terbuka.
7982Please respect copyright.PENANAJXv6DRXW88
Aku duduk di situ, cuma bisa nonton. Tubuh panas. Celana ketat banget. Tapi aku nggak bergerak. Aku cuma… menonton.
7982Please respect copyright.PENANA15MFxSsLrN
Rian masih berlutut di depan Naya. Wajahnya hanya beberapa senti dari paha dalam istriku yang sudah terbuka lebar. Napasnya hangat menyapu kulit Naya yang sensitif, membuat bulu halus di sana bergoyang pelan. Vagina Naya terlihat semakin mengkilap di bawah cahaya kuning—cairan bening sudah menetes tipis ke sofa, meninggalkan noda kecil yang gelap.
7982Please respect copyright.PENANAI6fua7Lu5W
Tapi Rian nggak langsung menyentuh. Dia cuma menatap lama, seperti lagi menghafal setiap detail. Lalu matanya naik, menangkap pandangan Naya yang sudah berkaca-kaca.
7982Please respect copyright.PENANAnpMjyDKyfJ
“Na…” suara Rian pelan, hampir bisik. “Lo beneran mau gue lanjutin sampe sini?”
7982Please respect copyright.PENANAeNLVaBZzdQ
Naya nggak langsung jawab. Dia menoleh ke arahku dulu. Matanya mencari sesuatu—mungkin izin lagi, mungkin kepastian bahwa aku masih di sini, masih setuju, masih… mencintainya.
7982Please respect copyright.PENANAUmsPVcoEWj
Aku mengangguk kecil. Tangan kiriku menyentuh punggung tangan Naya. Jari kami saling bertaut. Dingin. Tapi ada getar hangat di situ.
7982Please respect copyright.PENANA8D9weoqSzu
“Bilang aja, Sayang,” kataku pelan. “Kalau kamu masih mau… bilang.”
7982Please respect copyright.PENANAqevrwyFdRU
Naya menarik napas dalam. Dadanya naik-turun, putingnya yang masih basah karena air liur Rian tadi ikut bergerak.
7982Please respect copyright.PENANAc4WAiJMeM9
“Aku… mau,” akhirnya dia bilang. Suara kecil, tapi jelas. “Tapi aku takut, Arga.”
7982Please respect copyright.PENANACpECu1Npax
“Takut kenapa?” tanyaku, meski aku tahu jawabannya.
7982Please respect copyright.PENANARGJeC6YHcC
“Takut… kamu berubah pikiran nanti. Takut kamu benci aku. Takut… aku sendiri yang nggak bisa berhenti kalau udah mulai.”
7982Please respect copyright.PENANAk3ZQt6WbrU
Aku memeras tangannya pelan. “Aku di sini, Na. Aku nggak kemana-mana. Kalau kapan-kapan kamu bilang stop, kita stop. Janji.”
7982Please respect copyright.PENANAEwItJDd2qt
Naya mengangguk kecil. Air matanya hampir jatuh, tapi dia tahan. Lalu dia menoleh lagi ke Rian.
7982Please respect copyright.PENANA9FuUFKTzAH
“Ri… kamu juga janji ya. Kalau aku bilang berhenti, kamu berhenti. Nggak boleh maksa.”
7982Please respect copyright.PENANAXggRrGxIUd
Rian mengangguk serius. “Gue janji, Na. Ini bukan cuma soal gue pengen. Ini soal lo berdua yang izinin. Kalau lo berubah pikiran, gue mundur. Langsung.”
7982Please respect copyright.PENANAtocJYAoyGj
Naya tersenyum tipis. Senyuman rapuh, tapi tulus.
7982Please respect copyright.PENANAgrrDofosgy
“Terus… sekarang?” tanyanya pelan.
7982Please respect copyright.PENANAw1yIBtT5ER
Rian nggak langsung gerak. Dia malah mundur sedikit, duduk di tumitnya, memberi jarak.
7982Please respect copyright.PENANAMnv8mwNtlJ
“Belum,” katanya. “Gue pengen lo yang ngerasa nyaman dulu. Lo yang mulai.”
7982Please respect copyright.PENANAZRRlpu1EXg
Naya mengerutkan kening. “Maksudnya?”
7982Please respect copyright.PENANAqNvSJYziBC
Rian menunjuk pahanya sendiri. “Lo pegang dulu. Sentuh diri lo sendiri. Biar lo yang kontrol ritmenya. Gue cuma nonton… sama kayak Arga.”
7982Please respect copyright.PENANAL5zZQYbEg2
Aku terkejut mendengar itu. Tapi anehnya, ide itu malah bikin dadaku berdegup lebih kencang.
7982Please respect copyright.PENANAbgQVVGGreC
Naya menatap Rian lama. Lalu matanya turun ke vaginanya sendiri yang terbuka lebar. Jari telunjuk kanannya bergerak pelan, menyentuh bibir luarnya yang basah. Dia mengusap naik-turun perlahan, hanya di bagian luar dulu.
7982Please respect copyright.PENANABtFwuyvwTb
“Mmmh…” desah kecil keluar dari mulutnya.
7982Please respect copyright.PENANAhszVyT0Gax
Aku bisa lihat jarinya mulai mengkilap. Dia mengambil cairannya, lalu mengoleskannya ke klitoris kecil yang sudah menonjol. Gerakannya melingkar pelan.
7982Please respect copyright.PENANA3ou4v75y7f
Rian menelan ludah. Celananya semakin ketat.
7982Please respect copyright.PENANA4AQTncTc7F
“Gimana rasanya, Na?” tanyanya serak.
7982Please respect copyright.PENANAsqeQS4PP1p
“Enak… tapi kurang…” jawab Naya sambil menggigit bibir. “Kurang… dalam.”
7982Please respect copyright.PENANAxEWEj6WPts
“Masukin jari lo,” kata Rian pelan. “Satu dulu.”
7982Please respect copyright.PENANAvIk6TsmZ4J
Naya mengangguk. Jari telunjuk dan tengahnya sekarang bergerak ke bawah, menyentuh lubang masuknya yang licin. Dia memasukkan satu jari perlahan. Masuk sampai buku jari kedua, lalu keluar lagi. Lalu masuk lagi, kali ini dua jari.
7982Please respect copyright.PENANAgUZWwviS3Q
“Ahhh….” suaranya lebih tinggi sekarang.
7982Please respect copyright.PENANA0kJykk2G9O
Aku memegang tangannya lebih erat. Dia balas memegangku kuat-kuat, seperti mencari pegangan supaya nggak hanyut terlalu cepat.
7982Please respect copyright.PENANANjHAeIShpt
“Lo cantik banget pas gini,” kata Rian tiba-tiba. “Muka lo merah, bibir lo basah, dadanya naik-turun… gue nggak nyangka bakal liat lo kayak gini.”
7982Please respect copyright.PENANAM3IdC8M2Yo
Naya tersenyum malu. “Jangan ngomong gitu… malu.”
7982Please respect copyright.PENANAswalONMAAx
“Tapi bener,” sahut Rian. “Arga pasti bangga punya istri secantik lo.”
7982Please respect copyright.PENANAJ3kDFKbciZ
Aku nggak bisa nahan lagi. “Iya,” kataku pelan. “Aku bangga. Dan… aku juga horny liat kamu gini, Sayang.”
7982Please respect copyright.PENANAypxEfibrp1
Naya menoleh ke arahku. Matanya berkilau. “Arga… kamu beneran nggak marah?”
7982Please respect copyright.PENANAOajyy6ttXm
Aku menggeleng. “Aku cemburu. Tapi… cemburu yang bikin aku pengen liat lebih.”
7982Please respect copyright.PENANAQS8R9nR5hW
Naya tersenyum lebar sekarang. Senyuman penuh gairah.
7982Please respect copyright.PENANAFjYiM5BSBs
“Ri… boleh kamu deket lagi sekarang?” tanyanya.
7982Please respect copyright.PENANAiJ0KjNmmQo
Rian mengangguk. Dia maju lagi, tapi masih nggak langsung menyentuh. Dia mendekatkan wajahnya sampai napasnya menyapu klitoris Naya.
7982Please respect copyright.PENANAXF9Ta9RpI3
“Lo mau gue jilat sekarang?” tanyanya.
7982Please respect copyright.PENANAStBnHwtS72
Naya mengangguk cepat. “Iya… tapi pelan. Aku pengen ngerasain lama-lama.”
7982Please respect copyright.PENANA19CiQ22MXj
Rian tersenyum kecil. “Oke. Lo pegang kepala gue kalau mau gue lebih dalam, ya.”
7982Please respect copyright.PENANAx7glivowp6
Dia menjulurkan lidahnya pelan. Ujung lidahnya menyentuh klitoris Naya dulu—hanya sentuhan ringan.
7982Please respect copyright.PENANAxxnHouFoAC
Naya langsung menggelinjang. “Ahh…!”
7982Please respect copyright.PENANAZzZEya8b8s
Rian nggak buru-buru. Dia menjilat lagi, dari bawah ke atas, menyusuri bibir vagina sampai ke klitoris, lalu turun lagi. Gerakannya lambat, basah, penuh perhatian.
7982Please respect copyright.PENANAjTIxUJn15c
Naya mulai mendesah lebih sering. “Mmmh… enak, Ri… jangan berhenti…”
7982Please respect copyright.PENANASh0aHhaIwO
Aku menatap semuanya dari samping. Lidah Rian bergerak naik-turun, meninggalkan jejak air liur yang mengkilap. Kadang dia berhenti, meniup pelan ke klitoris yang sudah merah, membuat Naya menggeliat.
7982Please respect copyright.PENANA4lfOirCs6p
“Lo suka gini, Na?” tanya Rian di sela jilatannya.
7982Please respect copyright.PENANAJU2A0DSYaj
“Suka… banget…” jawab Naya sambil menggigit bibir. “Lidah kamu… panas…”
7982Please respect copyright.PENANAypyw69t8Zt
Rian tertawa kecil. “Arga, lo denger nggak? Istri lo bilang lidah gue panas.”
7982Please respect copyright.PENANAY1Ad0jt2AZ
Aku cuma nyengir kecut. “Gue denger. Dan gue liat.”
7982Please respect copyright.PENANAFpNBHWIl0m
Naya menoleh ke arahku lagi. “Arga… pegang dadaku dong. Aku pengen kamu ikut sentuh.”
7982Please respect copyright.PENANAIcDPmLIgRA
Aku nggak perlu disuruh dua kali. Tangan kiriku naik, meraih payudara kanan Naya. Kulitnya panas. Putingnya keras seperti batu kecil. Aku memilin pelan.
7982Please respect copyright.PENANAHKSxk3R5Zc
Naya mendesah lebih keras. “Ahh… iya, Arga… gitu…”
7982Please respect copyright.PENANAT7DOl2ttRJ
Rian mulai lebih intens. Lidahnya masuk ke dalam lubang vagina Naya, menekan masuk-keluar. Kadang dia ganti dengan dua jari—memasukkan perlahan, melengkung ke atas, mencari titik G.
7982Please respect copyright.PENANAYOPerBE0wO
Naya langsung menjerit kecil. “AHH! Di situ… Ri… jangan berhenti…”
7982Please respect copyright.PENANAjnbL2Va8Lx
Rian tersenyum di antara pahanya. “Gue tahu, Na. Gue inget lo pernah cerita dulu… pas kita minum bareng, lo bilang Arga suka mainin titik ini.”
7982Please respect copyright.PENANAxmB2o3pOlv
Aku terkejut. “Lo cerita ke dia?”
7982Please respect copyright.PENANAkoEwhNYjmx
Naya mengangguk sambil tersenyum malu. “Iya… pas kita lagi ngobrol soal… hal-hal gini. Aku nggak nyangka bakal kejadian beneran.”
7982Please respect copyright.PENANAtX3oxZcXxR
Rian menambah kecepatan jarinya. Masuk-keluar ritme stabil, sambil lidah kembali menari di klitoris.
7982Please respect copyright.PENANAOvDQswEAh9
Naya mulai menggoyang pinggulnya pelan. Tangannya memegang rambut Rian dan tanganku erat-erat.
7982Please respect copyright.PENANA8WSxsaWOgZ
“Arga… aku… mau keluar…” bisiknya tiba-tiba.
7982Please respect copyright.PENANAgRHesGObbS
Aku menatapnya. Wajahnya basah keringat, rambut menempel di pipi.
7982Please respect copyright.PENANAKAStS1CUDr
“Keluar aja, Sayang. Biar aku liat.”
7982Please respect copyright.PENANA2STeh0agll
Naya mengangguk cepat. Matanya terpejam rapat.
7982Please respect copyright.PENANAb0N9XGIheO
Rian nggak berhenti. Jarinya semakin cepat, lidahnya menekan klitoris dengan gerakan melingkar.
7982Please respect copyright.PENANACX27EsXZIM
Tubuh Naya menegang. Pahanya bergetar. Napasnya tercekat.
7982Please respect copyright.PENANA5nIe6qokn7
“Loh… aku… AHHH!”
7982Please respect copyright.PENANAZCJ8JQz2K1
Dia orgasme pertama malam itu. Cairannya menyembur kecil, membasahi dagu Rian. Tubuhnya menggeliat hebat, tangannya mencengkeram rambut Rian dan tanganku sampai sakit.
7982Please respect copyright.PENANAlR7AI0v3el
Rian melambatkan gerakan, membiarkan Naya menikmati aftershock. Lidahnya masih menjilat pelan, membersihkan cairan yang menetes.
7982Please respect copyright.PENANADaTG7jCZ8T
Naya membuka mata. Napasnya tersengal.
7982Please respect copyright.PENANAj4MauSnaIH
“Ya Tuhan… itu… luar biasa…” katanya pelan.
7982Please respect copyright.PENANAdMNG8g8z7C
Rian mundur sedikit, bibir dan dagunya basah mengkilap. Dia menatap Naya, lalu aku.
7982Please respect copyright.PENANABgNxVF8bMB
“Gimana, bro? Masih mau lanjut?”
7982Please respect copyright.PENANAwjFftzMQi6
Aku menatap Naya. Dia tersenyum lemah, tapi matanya penuh api yang belum padam.
7982Please respect copyright.PENANAYhSSZtgt00
“Arga… aku masih pengen…” bisiknya.
7982Please respect copyright.PENANAGOEgid3hUA
Aku menelan ludah. “Lanjut.”
7982Please respect copyright.PENANA5dlLocGezU
Rian masih berlutut di depan Naya. Tubuhnya rileks setelah orgasme pertama, tapi vaginanya masih basah mengkilap, bibirnya merah dan bengkak. Putingnya menonjol keras, basah karena air liur Rian.
7982Please respect copyright.PENANA4ikwgDfm1W
Aku pegang tangan Naya erat. Jempolku mengusap punggung tangannya pelan.
7982Please respect copyright.PENANAN1w18SKCxi
Naya menoleh ke arahku. “Arga… kamu beneran nggak apa-apa?”
7982Please respect copyright.PENANAO54mKtOHnM
Aku mengangguk. “Aku baik-baik aja, Sayang. Cuma… jantungku kayak mau copot.”
7982Please respect copyright.PENANAshY7tXjRgV
Dia tersenyum kecil. “Aku juga. Seneng, takut, malu, horny… campur aduk.”
Kelanjutannya ada link di bawah ini
https://lynk.id/famili99
ns216.73.217.110da2


