3869Please respect copyright.PENANA0qaf20TdEV
3869Please respect copyright.PENANAlx1njumcUK
pukul 23:12 WIB.
Hujan sudah reda, tinggal suara tetes air dari atap tetangga yang jatuh pelan-pelan. Rio kembali ke kost-annya setelah nganterin Heni pulang dari angkringan tadi malam. Badannya masih hangat dari pelukan terakhir di depan gang, aroma vanila shampoo Heni masih nempel di hoodie-nya.
Dia langsung mandi air dingin biar tenang, tapi malah makin panas pikirannya. Setelah ganti kaos oblong dan celana pendek, Rio duduk di depan laptop. Ponsel bergetar—pesan dari Heni.
Heni:
Udah sampe kost? Aku kangen suara kamu lagi… 😏
Mau video call nggak? Lampu aku redup aja nih, lagi rebahan.
Rio langsung balas:
Rio:
Udah. Ya mau banget. Kirim linknya.
Beberapa detik kemudian, notifikasi Discord video call masuk. Rio angkat dengan tangan sedikit gemetar.
Layar menyala.
Heni sudah ada di sana, rebahan miring di kasur, kepala ditopang tangan kiri. Dia pakai tanktop hitam tipis tanpa bra—jelas sekali dari cara kainnya menempel ketat di dada yang penuh. Tali spaghetti-nya melorot satu sisi bahu, memperlihatkan garis payudara yang bulat dan kulit sawo matang yang mulus. Celana pendeknya cuma model hot pants denim yang pendek banget, paha mulusnya terbuka lebar karena posisi rebahan.
“Hai sayang… kangen nggak?” sapa Heni dengan suara serak genit, bibirnya menggigit ujung bawah pelan.
Rio menelan ludah. “Kangen banget. Baru aja pisah dua jam kok udah kangen.”
Heni tertawa kecil, tangannya mainin ujung rambut ponytail-nya. “Aku juga. Tadi pas peluk kamu di motor, aku pengen… lebih lama.”
Dia geser posisi, sekarang duduk bersila menghadap kamera. Tanktop-nya ikut naik sedikit, memperlihatkan garis bawah payudara yang nggak tertutup kain. Rio langsung merasa celananya mulai ketat.
“Kamu lagi apa sekarang?” tanya Heni sambil memandang Rio intens.
“Lagi… liat kamu,” jawab Rio, suaranya agak parau.
Heni tersenyum nakal. “Cuma liat doang? Nggak mau… sentuh?”
Rio diam sebentar, napasnya mulai berat. “Mau… tapi malu.”
Heni mendekatkan wajah ke kamera, matanya setengah terpejam. “Aku juga lagi pengen disentuh. Tapi karena kamu jauh… aku mau kamu liat aku dulu. Sambil kamu… ikut main sendiri. Biar kita sama-sama.”
Rio nggak bisa nolak lagi. Tangannya sudah bergerak ke celana pendek, meraba bentuk yang sudah mengeras.
Heni memperhatikan gerakan itu. “Bagus… buka dikit dong, biar aku liat.”
Rio menurunkan celana pendeknya sampai paha, tangannya mulai menggenggam dirinya pelan. Heni menggigit bibir, matanya nggak lepas dari layar.
“Kamu gede ya… aku suka liat kamu gini,” bisik Heni sambil tangannya naik ke dada sendiri. Jarinya meremas pelan di atas tanktop, putingnya sudah mengeras terlihat jelas menonjol di kain tipis.
Dia tarik tali spaghetti satunya lagi, tanktop melorot sampai pinggang. Payudaranya terpampang sempurna—bulat, kencang, puting cokelat muda yang sudah tegang. Heni memijat keduanya pelan, jempolnya muter-muter di puting.
“Bayangin ini mulut kamu, Rio… hisap pelan… gigit kecil…” desahnya.
Rio menggerakkan tangannya lebih cepat, napasnya ngos-ngosan. “Heni… kamu seksi banget… aku pengen… nyentuh beneran.”
Heni tertawa genit, tangannya turun ke celana pendeknya. Dia geser kainnya ke samping—celana dalam hitam renda tipis sudah basah di bagian tengah. Jarinya menyentuh dirinya sendiri pelan, muter di klitoris yang sudah membengkak.
“Lihat nih… aku udah basah gara-gara kamu. Kamu juga… udah keluar belum?”
Rio menggeleng, tangannya gerak lebih lambat biar tahan. “Belum… pengen bareng kamu.”
Heni memasukkan satu jari ke dalam, lalu dua. Gerakannya pelan tapi dalam, suara basah terdengar samar lewat mikrofon. Dia mendesah panjang, kepalanya terdongak.
“Ahh… Rio… bayangin ini kontol kamu… masuk pelan… dorong dalam… keluar masuk…”
Rio nggak tahan lagi. Gerakannya semakin cepat, matanya nggak lepas dari layar—dari payudara Heni yang bergoyang setiap gerakan tangannya, dari jari-jarinya yang masuk-keluar, dari wajahnya yang merona dan mulut terbuka mengeluarkan erangan kecil.
“Sayang… aku mau keluar… kamu juga ya…” desah Rio.
Heni mengangguk cepat, gerakannya makin ganas. “Ya… bareng… ahh… Rio… sayang… aku… mau…”
Tubuh Heni mengejang manis, kakinya menggigil, jarinya terdorong dalam-dalam. Dia mengeluarkan erangan panjang yang lembut tapi penuh kenikmatan, namanya Rio dipanggil berulang-ulang.
Rio juga mencapai puncak detik itu. Tubuhnya gemetar, tangannya bergerak cepat, cairan hangat menyembur ke perut dan tangannya. Dia mendesah keras, matanya terpejam rapat.
Beberapa detik hening. Hanya suara napas tersengal dari kedua sisi.
Heni akhirnya tersenyum lemah, wajahnya merah, rambut menempel di dahi karena keringat. Dia tarik tanktop-nya naik lagi, tapi nggak nutup sepenuhnya—payudaranya masih setengah terlihat.
“Kamu… hebat banget,” katanya pelan sambil tertawa kecil.
“Kamu… bikin aku gila,” balas Rio, masih terengah.
Heni mengirim flying kiss ke kamera. “Besok ketemu lagi ya… tapi kali ini… aku pengen yang beneran. Pelan-pelan aja. Nggak usah buru-buru.”
Rio mengangguk, tersenyum lebar meski badannya masih lemas. “Iya. Aku tunggu.”
Heni mengedip genit. “Selamat malam, cowok nakal. Mimpiin aku ya.”
3869Please respect copyright.PENANAla0GhqbUNJ
Rio duduk di teras kost-annya, tangan memegang ponsel erat-erat sambil menatap layar chat dengan Heni. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena excited seperti biasa, tapi karena rasa bersalah yang menggerogoti.
Tadi pagi, tiba-tiba kakaknya nelpon. Kakak perempuan Rio yang tinggal di Jogja, bilang ayahnya jatuh di rumah dan harus dibawa ke RS. Bukan parah-parah amat, cuma keseleo lutut parah karena nyoba benerin genteng sendiri, tapi dokter minta keluarga dekat datang buat nemenin observasi semalam. Rio nggak punya pilihan—dia anak tengah, dan ayahnya selalu bilang “kalau ada apa-apa, Rio yang paling bisa diandelin”.
Rio langsung ambil cuti dari kerja part-time sore ini, pesen tiket kereta paling cepat ke Jogja jam 17:30. Dia baru sadar jam 16:30 kalau hari ini seharusnya kencan ketiga sama Heni: rencananya makan malam di warung seafood deket Pantai Marina, lalu jalan-jalan sambil ngobrol di pinggir pantai.
Rio buru-buru ngetik pesan, jarinya gemetar.
Rio:
Sayang… maaf banget. Aku nggak bisa ketemu hari ini. Ayahku jatuh tadi pagi, lagi di RS Jogja. Aku harus ke sana sekarang, kereta jam 5.30. Aku bener-bener nggak bisa tunda. Maaf ya… aku janji besok atau lusa aku balik dan kita ganti kencan yang lebih spesial. Plis jangan marah…
Dia kirim, lalu nunggu balasan sambil mondar-mandir di teras. Dua menit berlalu. Lima menit. Sepuluh menit. Ponsel bergetar.
Heni:
Serius? Dadakan banget gini?
Rio:
Iya sayang, beneran dadakan. Aku baru dikasih tahu jam 11 tadi. Aku lagi packing sekarang, kereta sebentar lagi.
Heni:
Oke.
Cuma satu kata. Rio tahu itu bukan “oke” yang baik. Dia langsung call, tapi Heni nggak angkat. Pesan lagi.
Rio:
Heni… plis bales. Aku nggak bohong. Aku kirim foto tiket kereta kalau kamu mau bukti.
Heni:
Nggak usah. Aku percaya. Cuma… capek aja.
Rio:
Capek kenapa?
Heni:
Capek nunggu. Capek mikir “kapan nih kita bisa bener-bener bareng tanpa diganggu apa-apa”. Kemarin aku udah siapin baju, beli lipstik baru, bahkan rencanain mau ajak kamu ke spot rahasia di pantai yang biasanya sepi. Aku excited banget dari pagi. Terus tiba-tiba… batal. Lagi-lagi.
Rio baca pesan itu berulang-ulang. Dadanya sesak.
Rio:
Maaf… beneran maaf. Aku nggak mau bikin kamu kecewa. Ayahku beneran butuh aku sekarang. Besok aku balik, aku janji kita ketemu langsung. Aku kangen kamu banget.
Heni:
Kangen? Tapi kamu pilih pergi.
Rio:
Ini darurat, sayang. Keluarga.
Heni:
Aku ngerti keluarga penting. Tapi aku juga manusia. Aku juga pengen diutamain. Aku nggak minta kamu pilih antara aku sama ayahmu. Aku cuma minta… kalau emang nggak bisa, bilang dari jauh-jauh hari. Bukan dadakan jam 4 sore pas aku udah mandi, dandan, siap-siap keluar.
Rio diam. Dia nggak tahu harus balas apa. Dia tahu Heni lagi marah, tapi marahnya beda—bukan marah ngomel, tapi marah yang dingin, yang bikin lebih sakit.
Heni:
Pergi aja sana. Jaga ayahmu. Aku nggak marah sama kamu. Cuma… kecewa.
Rio:
Aku balik besok malam. Plis tunggu aku. Kita bicara langsung. Aku nggak mau gini lewat chat.
Heni:
Besok aku ada presentasi skripsi pagi-pagi. Malamnya aku capek. Mungkin lusa aja. Atau… kapan kamu sempet.
Rio ngerasa dunia berat di pundaknya. Dia balas terakhir sebelum buru-buru ke stasiun.
Rio:
Aku sayang kamu, Heni. Beneran. Maaf udah bikin kamu kecewa hari ini. Aku janji bakal bikin ini lebih baik. Tunggu aku ya.
Nggak ada balasan lagi.
Rio naik kereta dengan pikiran kacau. Sepanjang perjalanan ke Jogja, dia cuma bisa tatap jendela gelap, ingat senyum Heni di angkringan kemarin, pelukannya di motor, desahannya di video call malam tadi. Semuanya terasa jauh sekarang.
Di sisi lain, di kost-an Meteseh, Heni duduk di kasur sambil peluk bantal. Matanya merah, tapi nggak nangis. Dia buka chat lagi, baca ulang pesan Rio, lalu matiin ponsel. Dia tarik napas panjang, bisik sendiri:
“Aku juga sayang kamu, bodoh. Makanya aku marah.”
3869Please respect copyright.PENANAKjtwYD0mpt
Rio duduk di kursi dekat jendela, headphone nyantol di telinga tapi musiknya mati—dia cuma butuh alasan biar nggak kelihatan terlalu murung. Di sebelahnya, seorang bapak tua lagi tidur mendengkur pelan. Bau kopi instan dan mie rebus dari penumpang lain tercium samar.
Ponsel Rio sudah dibuka berkali-kali sejak berangkat. Chat dengan Heni masih stuck di pesan terakhirnya:
Heni: Besok aku ada presentasi skripsi pagi-pagi. Malamnya aku capek. Mungkin lusa aja. Atau… kapan kamu sempet.
Nggak ada balasan lagi setelah itu. Rio sudah kirim tiga pesan follow-up: satu foto tiket kereta, satu foto stasiun Tawang yang ramai, dan satu pesan panjang minta maaf lagi. Semua dibaca, tapi nggak dibales. Tanda centang biru muncul, artinya Heni online, tapi memilih diam.
Rio menarik napas panjang, kepalanya bersandar ke jendela dingin. Dia bayangin Heni sekarang: mungkin lagi rebahan di kasur kost-annya, lampu redup, ponsel di samping bantal, tatap plafon sambil mikir “kenapa harus dadakan gini sih”. Atau mungkin lagi nangis pelan—Rio nggak tahu, dan itu yang bikin dadanya sesak.
Di Jogja, Rio sampai stasiun sekitar pukul 23:30. Kakaknya jemput di parkiran, langsung bawa ke RS Sardjito. Ayahnya sudah di kamar rawat inap, lututnya dibalut tebal, wajahnya pucat tapi masih bisa nyengir pas lihat Rio.
“Lo dateng juga, Nak. Maaf ya repotin,” kata ayahnya pelan.
Rio duduk di kursi pengunjung, pegang tangan ayahnya. “Nggak repot, Yah. Yang penting Bapak istirahat.”
Malam itu Rio tidur di kursi rumah sakit, badan pegal, pikiran nggak tenang. Setiap jam dia cek ponsel—masih nggak ada balasan dari Heni. Jam 02:17 pagi, dia ngetik lagi, tapi hapus sebelum kirim. Takut kelihatan desperate.
Pagi harinya, 29 Februari 2026, pukul 08:20 WIB.
Rio bangun dengan leher kaku, mata bengkak karena kurang tidur. Ayahnya sudah dicek dokter pagi ini—katanya boleh pulang sore kalau nggak ada komplikasi. Kakaknya bilang Rio bisa balik Semarang hari ini juga.
Rio langsung ngetik pesan baru.
Rio:
Sayang… ayahku udah stabil, sore ini boleh pulang. Aku rencana balik Semarang malam ini, kereta jam 19:00. Besok pagi aku di Semarang lagi. Plis… boleh ketemu besok malam? Aku pengen jelasin langsung, peluk kamu, minta maaf beneran. Aku nggak mau gini terus.
Dia kirim, lalu nunggu. Lima menit. Sepuluh menit. Akhirnya… getar.
Heni:
Oke. Besok malam jam 8. Di taman yang pertama kali kita ketemu. Jangan telat.
Cuma itu. Dingin, singkat, tanpa emoji, tanpa “sayang”. Tapi setidaknya ada balasan. Rio langsung tersenyum kecil—lega, meski tahu besok bakal berat.
Sore itu ayahnya pulang, Rio nemenin sampai rumah di Jogja. Malamnya dia naik kereta balik ke Semarang, pikirannya penuh skenario: gimana kalau Heni marah lagi? Gimana kalau dia bilang “udah cukup”? Atau lebih parah—gimana kalau dia nggak datang?
Tanggal 1 Maret 2026, pukul 19:55 WIB.
Taman kecil deket kampus Undip, yang pertama kali mereka ketemu. Lampu taman redup, pohon-pohon rindang, bangku pojok yang sama masih kosong. Rio datang lebih awal 15 menit, bawa dua gelas es kopi susu dan sekotak donat mini dari minimarket—upaya kecil buat bikin suasana lebih ringan.
Dia duduk, tangan gemetar pegang gelas. Jam 20:05, suara motor matic putih terdengar dari kejauhan. Heni datang, turun dari motor, helm dilepas. Malam ini dia pakai jaket jeans oversized, kaos polos putih, celana jeans ripped, dan rambut digerai. Wajahnya polos, tanpa make-up, tapi matanya kelihatan capek—mungkin dari presentasi skripsi pagi tadi, mungkin dari marah yang belum reda.
Heni jalan mendekat pelan, lalu duduk di bangku sebelah Rio—jaraknya agak jauh, nggak langsung deket seperti biasa.
“Udah lama?” tanyanya datar.
“Baru aja. Ini kopi buat kamu,” Rio nyodorin gelas.
Heni ambil, tapi nggak langsung minum. Dia tatap ke depan, ke pohon gelap.
Rio ambil napas dalam. “Heni… maaf. Bener-bener maaf. Aku tahu kamu kecewa. Aku nggak mikir dadakan gitu bakal bikin kamu sakit hati sampe segini.”
Heni diam lama. Lalu dia bicara pelan, suaranya agak bergetar.
“Aku nggak marah karena kamu pergi jaga ayahmu. Aku marah karena… rasanya aku cuma prioritas kedua. Aku ngerti keluarga penting, tapi aku juga pengen merasa penting. Kemarin aku udah siapin semuanya, Rio. Aku bahkan mikir… mungkin malam itu kita bisa lebih deket lagi. Bukan yang liar, cuma… pelukan lebih lama, ciuman lebih dalam, cerita lebih banyak. Terus tiba-tiba hilang. Dadakan.”
Rio geser lebih deket, tangannya ragu-ragu pegang tangan Heni. Heni nggak narik, tapi juga nggak balas genggam.
“Aku salah. Aku harusnya bilang dari pagi, atau minimal kasih tahu lebih awal. Aku takut kamu mikir aku kabur. Padahal aku cuma panik.”
Heni menoleh, matanya berkaca-kaca. “Aku takut kamu kabur beneran. Aku takut ini cuma sementara. Aku takut… aku cuma pengalih kesepian kamu.”
Rio langsung pegang kedua tangan Heni sekarang, tatap matanya dalam. “Kamu bukan pengalih. Kamu yang bikin aku nggak kesepian lagi. Sejak pertama video call itu, sejak pertama ketemu di sini, aku ngerasa… hidup lagi. Aku sayang kamu, Heni. Bukan main-main.”
Heni diam, air matanya jatuh satu tetes. Dia tarik napas, lalu pelan-pelan balas genggam tangan Rio.
“Aku juga sayang kamu. Makanya aku marah. Kalau nggak sayang, aku nggak peduli.”
Mereka diam sebentar. Lalu Heni geser lebih deket, kepalanya nyandar ke bahu Rio. Rio peluk pundaknya pelan, cium keningnya lama.
“Mulai sekarang, aku janji: nggak ada dadakan lagi tanpa bilang kamu dulu. Kamu prioritas aku juga. Kita bareng-bareng hadepin semuanya.”
Heni mengangguk kecil, suaranya pelan. “Aku percaya kamu. Tapi… jangan bikin aku nunggu lagi ya.”
“Nggak akan.”
Mereka duduk begitu lama, pelukan ringan, nggak buru-buru bicara. Hujan mulai gerimis tipis lagi, tapi mereka nggak bergerak. Malam itu, amarah perlahan mencair jadi rindu yang lebih dalam.
Heni akhirnya angkat kepala, tersenyum tipis—senyum pertama malam ini.
“Mau pulang? Atau… mau lanjut ngobrol di kost aku? Cuma ngobrol aja. Pelukan. Nggak usah yang lain.”
Rio tersenyum lebar, lega. “Mau banget.”
3869Please respect copyright.PENANAyUJTHmf7Ys
Kost-an Heni di Meteseh terasa lebih sepi dari biasanya. Teman sekamarnya masih pulang kampung, pintu depan terkunci rapat, hanya suara kipas angin kecil dan hujan gerimis di luar jendela yang mengisi keheningan.
Mereka masuk kamar tanpa banyak bicara. Rio menutup pintu pelan, Heni langsung memeluknya dari belakang, dagunya bersandar di punggung Rio. Pelukan itu lama, penuh rindu yang tertahan sejak kemarin.
“Aku takut kamu nggak balik,” bisik Heni pelan.
Rio berbalik, memeluk pinggang Heni erat. “Aku nggak akan ninggalin kamu lagi.”
Mereka berciuman—awalnya lembut, penuh maaf dan pengertian, tapi lama-kelamaan semakin dalam, semakin lapar. Bibir Heni terasa panas, lidahnya menari liar, tangannya menarik kaos Rio ke atas dengan tergesa. Rio membalas, tangannya merayap ke bawah hoodie Heni, merasakan kulit punggung yang halus, lalu naik ke tali bra yang sudah longgar.
Heni mendorong Rio ke kasur, naik ke atas tubuhnya. Matanya gelap, penuh hasrat yang sudah lama tertahan. “Aku pengen kamu malam ini… beneran. Semuanya.”
Rio mengangguk, napasnya sudah berat. “Aku juga… tapi pelan ya. Aku nggak mau sakitin kamu.”
Heni tersenyum tipis, tapi ada getar di bibirnya. “Aku… belum pernah, Rio. Ini pertama kali.”
Rio terdiam sesaat. Matanya melebar, tapi bukan karena kaget—karena terharu. “Serius?”
Heni mengangguk kecil, pipinya merona. “Iya. Makanya aku takut… tapi aku pengen sama kamu. Aku percaya kamu.”
Rio menarik Heni turun, menciumnya lagi—kali ini lebih pelan, lebih penuh perasaan. “Aku janji… aku bakal pelan. Kalau sakit, bilang langsung. Kita berhenti kalau kamu mau.”
Mereka saling menelanjangi dengan hati-hati. Baju beterbangan pelan ke lantai. Tubuh Heni terpampang di depan Rio—kulit sawo matang yang mulus, payudara penuh dengan puting mengeras karena dingin dan gairah, pinggang ramping, dan paha yang tebal tapi lembut. Rio mencium lehernya, turun ke dada, menghisap pelan satu puting sambil tangannya membelai yang lain. Heni mendesah panjang, tangannya menjambak rambut Rio.
“Rio… ahh… enak…”
Rio turun lebih bawah, mencium perut rata Heni, lalu ke pinggul. Dia membuka paha Heni pelan, mencium bagian dalam paha yang sensitif. Heni menggeliat, napasnya tersengal. Rio mencapai pusatnya—sudah basah, hangat, aroma manis khas tubuhnya membuat Rio semakin liar.
Dia menjilat pelan, lidahnya muter di klitoris yang membengkak. Heni menjerit kecil, pinggulnya naik menyambut. “Ahh… Rio… jangan berhenti… ahhh…”
Rio terus, jarinya menyusup pelan ke dalam—satu jari dulu, lalu dua. Heni kencang, dinding dalamnya memeluk jari Rio erat. Dia mendesah panjang, suaranya bergetar.
“Sekarang… aku mau kamu masuk…”
Rio naik lagi, posisinya di atas Heni. Dia menggosokkan ujungnya di bibir vagina Heni yang sudah licin, pelan-pelan, memberi waktu. Heni mengangguk, matanya setengah terpejam.
“Masuk… pelan ya…”
Rio mendorong perlahan. Kepala masuk, Heni langsung mengejang, tangannya mencengkeram lengan Rio kuat. Wajahnya meringis, napasnya tertahan.
“Sakit… ahh… sakit banget…”
Rio berhenti, mencium kening Heni. “Mau berhenti?”
Heni menggeleng cepat, air mata menetes di sudut matanya. “Jangan… lanjut… aku mau… aku pengen ngerasain kamu…”
Rio mendorong lagi, pelan sekali. Ada hambatan, lalu tiba-tiba robek. Heni menjerit kecil, tubuhnya mengejang hebat. Darah tipis keluar, merah segar membasahi seprai putih dan paha mereka berdua. Rio berhenti total, matanya penuh khawatir.
“Heni… darah… kamu oke?”
Heni mengangguk sambil menggigit bibir bawahnya kuat. Air matanya mengalir, tapi dia tersenyum lemah. “Sakit… tapi… enak juga… lanjut… pelan aja…”
Rio mencium bibir Heni lembut, menghapus air matanya. Dia bergerak lagi—sangat pelan, masuk-keluar sedikit demi sedikit. Sakit Heni perlahan berubah jadi campuran aneh: nyeri yang menusuk, tapi juga kenikmatan yang mulai muncul. Dinding dalamnya memeluk Rio erat, basah dan panas.
“Ahh… Rio… lebih dalam… ahhh…”
Rio mulai gerak lebih ritmis, masih pelan tapi lebih dalam. Heni mendesah panjang, suaranya berubah—dari kesakitan jadi penuh hasrat. Tangannya mencakar punggung Rio, kakinya melingkar di pinggang Rio, menariknya lebih dalam.
“Lebih cepat… ahh… sayang… aku… mau lebih…”
Rio mempercepat, pinggulnya bertabrakan dengan pinggul Heni. Suara basah, napas berat, desahan panjang memenuhi kamar. Heni menjerit kecil setiap dorongan dalam, tapi jeritannya sekarang penuh kenikmatan.
“Aku… mau keluar… Rio… bareng aku… ahhh… sayang… aku… keluar…”
Tubuh Heni mengejang hebat, dinding dalamnya berdenyut kuat, memeras Rio. Dia menjerit panjang, nama Rio dipanggil berulang-ulang dengan suara parau. Rio juga mencapai puncak—melepas di dalam Heni, hangat, banyak, tubuhnya gemetar kuat.
Mereka berdua ambruk, napas tersengal-sengal. Darah tipis masih ada di seprai, campur keringat dan cairan mereka. Heni memeluk Rio erat, air matanya masih mengalir, tapi kali ini karena bahagia.
“Aku… ketagihan…” bisik Heni pelan, suaranya lemah tapi penuh kepuasan.
Mereka berbaring begitu, saling peluk, tubuh masih telanjang, hangat saling menempel. Hujan di luar semakin deras, tapi di dalam kamar kecil itu, dunia terasa sempurna.
3869Please respect copyright.PENANAJg1tIS67ar
Rio terbangun lebih dulu. Dia membuka mata perlahan, langsung melihat wajah Heni yang masih tertidur pulas di dadanya. Rambut panjang hitamnya berantakan menutupi sebagian pipi, bibirnya sedikit terbuka, napasnya teratur dan pelan. Seprai putih di bawah mereka masih ada noda darah tipis yang sudah mengering, pengingat nyata dari malam yang baru saja mereka lewati.
Rio mengusap pipi Heni pelan dengan ibu jari, takut membangunkannya. Tubuh Heni telanjang sepenuhnya di bawah selimut, payudaranya menempel lembut di dada Rio, paha mulusnya melingkar di pinggul Rio seperti tak mau lepas.
Heni menggeliat pelan, matanya terbuka setengah. Dia tersenyum lemah saat melihat Rio sudah menatapnya.
“Pagi, sayang…” suaranya serak karena banyak mendesah semalam.
“Pagi, cantik. Kamu sakit nggak?” tanya Rio khawatir, tangannya langsung turun ke selangkangan Heni, menyentuh pelan untuk memeriksa.
Heni meringis kecil saat jari Rio menyentuh bagian yang masih bengkak dan sensitif. Ada sedikit darah kering lagi di paha dalamnya. “Masih nyeri… tapi nggak separah semalem. Cuma… perih kalau disentuh.”
Rio mencium kening Heni lama. “Maaf ya… aku terlalu kasar di akhir.”
Heni menggeleng pelan, tangannya naik ke pipi Rio. “Jangan minta maaf. Aku yang minta lebih cepat. Dan… aku suka. Sakitnya bikin aku ngerasa… milik kamu sepenuhnya.”
Mereka diam sebentar, saling tatap. Lalu Heni geser posisi, naik ke atas tubuh Rio lagi—tapi kali ini pelan sekali, takut nyeri. Dia duduk di panggul Rio, tangannya bertumpu di dada Rio.
“Masih keras ya pagi-pagi gini…” goda Heni sambil tersenyum nakal, meski wajahnya masih pucat karena capek.
Rio tertawa kecil. “Salah kamu. Tubuh kamu terlalu enak dipeluk.”
Heni menunduk, mencium bibir Rio pelan. Ciuman pagi yang manis, nggak buru-buru. Tapi lama-kelamaan, Heni mulai menggesekkan pinggulnya pelan ke Rio—gerakan kecil, hati-hati, tapi cukup bikin Rio mendesah.
“Eh… kamu masih sakit, jangan dipaksa,” kata Rio sambil memegang pinggul Heni biar berhenti.
Heni menggeleng. “Aku pengen… cuma pelan aja. Biar nggak terlalu perih, tapi aku pengen ngerasain lagi. Aku ketagihan, Rio. Ketagihan kamu di dalam aku.”
Rio menatap mata Heni lama. Ada campuran cinta, khawatir, dan hasrat di sana. Akhirnya dia mengangguk.
“Oke… tapi aku yang gerak. Kamu diam aja. Kalau sakit, langsung bilang.”
Heni mengangguk, lalu rebahan lagi di samping Rio. Rio membalikkan tubuh Heni pelan, posisi menyamping—lebih aman buat yang pertama kali. Dia mencium punggung Heni, tangannya membelai payudara dari belakang, memijat lembut sambil jarinya main di puting yang langsung mengeras.
Heni mendesah pelan. “Ahh… enak… terus…”
Rio menggeser tubuhnya, ujungnya menyentuh lagi bagian Heni yang masih lembab meski bengkak. Dia masuk pelan sekali—hanya setengah dulu, memberi waktu. Heni mengejang, tangannya mencengkeram selimut.
“Perih… tapi… enak juga… lanjut…”
Rio mendorong lagi, pelan-pelan sampai masuk sepenuhnya. Heni mengeluarkan desahan panjang, campur sakit dan nikmat. “Ahhh… penuh… kamu dalem banget… ahh…”
Rio mulai gerak ritmis—sangat lambat, masuk-keluar pendek tapi dalam. Setiap dorongan, Heni mendesah lebih panjang, suaranya bergetar. Darah tipis keluar lagi sedikit, tapi Heni nggak peduli. Dia malah mendorong pinggul ke belakang, menyambut setiap gerakan.
“Lebih dalam… ahh… Rio… sayang… aku suka… ahhh…”
Rio mempercepat sedikit, tangannya turun ke depan, jarinya muter di klitoris Heni yang sudah membengkak. Heni menjerit kecil, tubuhnya gemetar.
“Aku… mau keluar lagi… cepet… ahh… bareng aku… Rio… ahhhh…”
Rio nggak tahan. Dia dorong lebih dalam beberapa kali, lalu melepaskan di dalam Heni—hangat, banyak, mengisi penuh. Heni mengejang hebat, dinding dalamnya berdenyut kuat, desahannya panjang dan parau.
“Ahhh… Rio… aku… keluar… ahhh… sayang… aku ketagihan… ahhhh…”
Mereka berdua ambruk lagi, napas tersengal. Heni berbalik, memeluk Rio erat, air mata bahagia mengalir di pipinya.
“Kamu… bikin aku nggak bisa berhenti mikirin ini,” bisik Heni.
Rio mencium bibir Heni lembut. “Aku juga. Mulai sekarang… tiap malam kita begini ya? Pelan-pelan, tapi pasti.”
Heni tersenyum, matanya berbinar. “Tiap malam… tiap pagi… tiap kapan pun aku pengen. Aku milik kamu sekarang.”
Mereka berbaring lagi, saling peluk, tubuh masih telanjang dan lengket. Di luar, Semarang mulai sibuk dengan pagi hari—motor berlalu-lalang, suara burung, aroma kopi dari warung tetangga.
Tapi di kamar kecil itu, dunia mereka berdua saja.
Sakit pagi ini bukan lagi halangan.
Malah jadi alasan buat lebih dekat, lebih dalam, lebih ketagihan.
Heni mengusap dada Rio pelan. “Mandi bareng yuk? Aku masih lemes… kamu yang gendong.”
KELANJUTANYA KLIK LINK🔗 DI BAWAH
https://lynk.id/tokofazri
ns216.73.217.15da2


