Malam harinya, Riyan mengajak Risma ke ruang BDSM lagi. Kali ini lebih brutal. Dia mengikat Risma telentang di meja kayu khusus, kaki terbuka lebar dengan borgol logam di pergelangan kaki. Dari rak, dia mengambil botol enema besar. Cairan hangat dituangkan pelan ke anal Risma. Risma menggeliat, perutnya mulai kembung.
2725Please respect copyright.PENANAN6OqbZ6rUH
“Tahan,” perintah Riyan. “Jangan keluar sebelum gue izinkan.”
2725Please respect copyright.PENANASdYBdw6dai
Risma menggigit bibir, keringat menetes. Riyan lalu mengoleskan obat penahan orgasme ke vagina dan kristoris—obat dari Yosep yang membuat sensitivitas meningkat tapi klimaks ditunda. Lalu dia memasukkan dua dildo sekaligus: satu ke vagina, satu ke anal, keduanya bergetar dengan remote control.
2725Please respect copyright.PENANAPNYkKMpIID
“Gue mau lo tahan selama 45 menit,” katanya sambil menyalakan getaran ke level rendah.
2725Please respect copyright.PENANAf5h4PIWtUh
Risma langsung mengerang. “Tuan… ini… terlalu…”
2725Please respect copyright.PENANApLCwKGH9KP
“Lo bisa. Kalau lo gagal, hukumannya lebih parah.”
2725Please respect copyright.PENANA6BilQ8KHKY
Getaran semakin naik. Tubuh Risma bergoyang-goyang di meja, payudaranya berguncang, puting-putingnya mengeras. *Bzzz… bzzz… squish… squish…* Suara alat dan cairan basah memenuhi ruangan.
2725Please respect copyright.PENANAD4yiBwhOc8
Riyan duduk di kursi, memandang sambil memainkan remote. Pikirannya melayang lagi ke Agnes. Dia membuka galeri ponsel, melihat foto Agnes lagi. Jarinya mengusap layar, membayangkan tubuh itu di meja yang sama.
2725Please respect copyright.PENANAqOqkYYXcMq
Setelah 30 menit, Risma sudah menangis. “Tuan… gue… gue nggak tahan… tolong…”
2725Please respect copyright.PENANA6XxIWRhDsu
Riyan mendekat, jarinya menyentuh kristorisRisma yang membengkak. “Lo mau gue izinin cum?”
2725Please respect copyright.PENANA3bVUkVxRzY
“Ya… Tuan… mohon…”
2725Please respect copyright.PENANAnLrzdVuRqv


