Bab 2: Kesepakatan yang Berbahaya
2325Please respect copyright.PENANAnIzvR4EUNo
Pagi harinya, Rahmi bangun di apartemen kecilnya di pinggiran kota Bandung, sinar matahari menyusup melalui tirai tipis, membuat ruangan terasa hangat tapi kepalanya masih terasa ringan dari malam tadi di club. Gelas koktail yang kebanyakan, dansa pembohong, dan tentu saja, sentuhan Ali yang membuat tubuhnya masih ingat. Dia tersebar di kasur, rambut hitam panjang ikalnya berantakan, mata cokelatnya mengerjap-ngerjap ke langit-langit. *Gue beneran mau ambil tawaran gila itu? 500 juta buat jadi budak 7 hari?* pikirnya, jantungnya berdegup kencang. Tubuh montoknya, dengan payudara besar yang naik-turun setiap napas, masih merasakan sisa rangsangan dari orgasme kecil malam tadi. Vaginanya sedikit basah lagi hanya dengan mengingat jari Ali yang mainin klitorisnya. *Ahh...gila sekali, Rah. Tapi duitnya menggiurkan banget. Bisa bayar hutang, liburan ke mana aja, bahkan beli apartemen baru.* Kepribadian petualangnya mulai menang atas keraguan, tapi ada sedikit amarah: *Kalau dia nyiksa gue beneran, gue bisa apa?*
2325Please respect copyright.PENANA4tKYaNTzpi
Rahmi bangun, mandi cepat, air dingin menyiram kulit putih mulusnya, bikin putingnya mengisi kayak anggur segar. Dia memakai gaun sederhana tapi seksi—potongan rendah yang menunjukkan belahan dada payudaranya yang besar, dan rok pendek yang membuat bokong bulatnya terlihat menggoda. Sambil ngopi hitam di dapur kecilnya, ponselnya bunyi. Pesan dari Ali: "Pagi, cantik. Siap ketemu di kafe deket stasiun? Kontraknya udah siap. Jangan telat, atau gue tambah syaratnya." Rahmi ketawa lucu sendirian: "Bossy banget nih orang." Tapi dia balas: "Oke, gue otw. Tapi lo transfer duitnya dulu setengah ya?" Ali membalas cepat: "Deal. Sampai bertemu, budak-ku."
2325Please respect copyright.PENANAEPhzNw9uAt
Dia naik ojek online ke kafe mewah di pusat kota, angin pagi Bandung yang sejuk bikin rambutnya beterbangan. Sampai di sana, Ali udah nunggu di meja pojok, tampan dengan kemeja putih yang nunjukin otot dada, rambut hitam lurusnya rapi, senyum menawan yang bikin Rahmi langsung merinding lagi. Di sebelahnya, ada dua cowok lain: Riyan, 26 tahun, tinggi 175 cm, tubuh berotot dengan rambut ikal yang berantakan tapi menawan, senyum playboy yang bisa bikin cewek mana aja yang meleleh. Dan Farhan, sahabat setia Ali, tubuh atletis, pintar banget soal obat-obatan, dari narkoba sampe silikon buat modifikasi tubuh. “Ini temen-temen gue,” kata Ali sambil bangun dan peluk Rahmi pelan, tangannya menggeser ke bokongnya, remas ringan. *Plak*—suara akuntansi kecil bikin Rahmi desah pelan: "Ahh... pagi-pagi udah nakal ya?"
2325Please respect copyright.PENANAJxqxgCsFtQ
Mereka duduk, pesen kopi dan sarapan. Rahmi liat kontrak tebal di meja, hati berdebar. "Baca baik-baik, sayang," kata Ali, matanya tajam. Rahmi ambil kertas itu, mata cokelatnya scan cepat: 7 hari di villa mewah Bali, tubuhnya milik Ali sepenuhnya. Bebas melakukan apa aja—seks, merefleksikan, modifikasi tubuh, gangbang dengan teman-temannya. Tidak ada tolak, tidak ada kata aman, tapi ada klausul medis kalau terlalu berbahaya. Rahmi mengerutkan kening, pemarahnya keluar: "Modifikasi? Lo mau apa, bikin gue jadi boneka seks? Dan gangbang? Gue nggak mau digilir sembarang orang!" Ali tenang, genggaman tangan Rahmi, jempolnya gosok pelan: "Tenang, cantik. Ini buat fun. Gue suka kendali total, bikin lo menjerit kenikmatan dan sakit yang nikmat. Bayangin gue ikat lo, masukin dua dildo ke vagina dan anal lo sekaligus, siksa sampe lo pingsan lalu bangunin lagi dengan obat perangsang."
2325Please respect copyright.PENANAjF8KNDFaDw
Dialog erotis mulai mengalir, Riyan ikut nimbrung dengan senyum playboynya: "Aku bakal bantu, cewek cantik. Aku ahli bikin alat-alat yang bikin lo terbang tanpa henti. Bayangin vibrator custom gue yang getar di klitoris lo berjam-jam, bikin lo menahan orgasme sampe lo nangis minta ampun." Rahmi mata melebar, tapi tubuhnya panas: "Lo playboy banget ya? Gue bisa bayangin titit lo yang 18 cm masuk ke durian gue, tapi gue nggak gampang dirayu." Farhan, yang lebih serius, menambahkan: "Dan gue punya obat-obatan spesial—perangsang dosis tinggi, silikon buat besarin payudara dan bokong lo biar lebih seksi. Lo bakal ngerasain enema yang bikin perut lo penuh, lalu gue menyuntikkan obat yang bikin lo horny 24/7." Rahmi ketawa lucu, tapi desah pelan: "Mmm... lo semua geng penyiksa ya? Tapi oke, gue ambil—asal duitnya transfer dulu setengah, 250 juta."
2325Please respect copyright.PENANA2rdDmUQ3cP
Ali angguk, langsung transfer via app, ponsel Rahmi bunyi notif. "Udah masuk. Sekarang, tanda tangan." Rahmi ragu sebentar, tapi dorongan teman-temannya malam tadi masih bergaung: *Ambil aja, Rah! Seru!* Dia tanda tangan, tangannya gemetar sedikit. Adegan intim pertama dimulai di kafe itu juga. Ali suruh Rahmi duduk di pangkuannya, di pojok yang agak gelap. "Duduk sini, rasain dulu apa yang bakal lo dapet." Rahmi naik, bokong bulatnya nempel ke penis Ali yang sudah keras, 19 cm tekan ke celah bokongnya. "Ahh... besar banget," desah Rahmi. Ali tangannya geser ke bawah dressnya, jarinya mainin klitorisnya pelan dari luar celana dalam. *Circles slow*—gerakan melingkar bikin Rahmi menggelinjang. "Mmm... lo gila, orang liat," protes Rahmi pelan, tapi matanya tertutup nikmat.
2325Please respect copyright.PENANAeMgipgxdCl
Riyan dan Farhan liat sambil tersenyum, Riyan bisik: "Liat deh, dia udah basah. Pengen gue rayu lebih dalem—bayangin gue jilat puting lo kayak anggur manis, lalu masukin tangan gue ke anal lo, fist sampe lo jerit." Farhan tambah: "Dan gue kasih obat yang bikin lo tahan orgasme berjam-jam, lo bakal minta-minta cum tapi gue larang." Dialog seksual variatif makin panas, Ali bisik di telinga Rahmi: "Lo suka ya? Pengen gue masukin kontol gue sekarang, di sini? Fuck lo sampe lo squirt di kafe ini." Rahmi desah lebih keras: "Ahh... jangan bicara gitu, bikin gue horny." Tangan Ali unzip dressnya pelan, tangannya masuk ke bra, remas payudara besarnya. *Plak plak*—dia tampar payudara pelan, bikin Rahmi jerit kecil: "Aah! Sakit tapi... enak." Putingnya diputar, kayak anggur yang dipetik.
2325Please respect copyright.PENANAvu1aMw6CQb
Mereka lanjut ciuman, bibir Ali tekan ke bibir Rahmi, lidah saling main, *slurp slurp* suara basah terdengar samar. Jari Ali sekarang masuk ke celana dalam, sentuh vagina basahnya langsung. "Lo licin banget, sayang. Pengen gue jilat durian lo sampe bersih." Rahmi napas cepat: "Mmm... masukin jari lo." Ali patuh, satu jari masuk ke vagina, pump in-out lambat. *Squish squish*—suara basah dari vagina Rahmi yang semakin basah. "Faster... ahh!" pinta Rahmi. Ali tambah jari kedua, gerak cepat, jempol tekan klitoris. Tubuh Rahmi tegang, orgasme mendekat: "Aaaahhh! Gue... gue mau cum!" Jeritannya panjang, tubuh gemetar, cairan orgasme keluar membasahi jari Ali. Orgasme intens, bikin Rahmi lemas di pangkuan Ali, napasnya tersengal.
2325Please respect copyright.PENANAaNRxdZLnXd
Ali cium keningnya: "Bagus, slave. Itu baru awal." Mereka bayar dan berangkat ke bandara, naik mobil mewah Ali. Di jalan, dialog erotis lanjut: Riyan rayu: "Di pesawat nanti, gue mau lo blowjob gue, hisap kontol gue sampe gue cum di mulut lo." Farhan: "Dan gue siapin enema buat lo, bikin perut lo penuh air, lalu siksa dengan vibrator." Rahmi ketawa lucu: "Lo semua psycho seksi ya? Tapi gue penasaran." Sampai bandara, mereka naik jet pribadi—mewah, kursi kulit, minibar. Di pesawat, foreplay lanjut. Ali ikat tangan Rahmi dengan sabuk pengaman, suruh dia tahan orgasme sementara Riyan rayu dengan kata-kata manis. "Bayangin gue fuck lo dari belakang, masukin ke anal lo sambil Ali di vagina," kata Riyan. Rahmi desah: "Mmm... lo bikin gue basah lagi."
2325Please respect copyright.PENANA43kDdnMqsP
Farhan kasih obat perangsang ringan: "Minum ini, bikin lo horny sepanjang penerbangan." Rahmi telan, tubuhnya langsung panas. Ali tarik Rahmi ke belakang jet, di ruang privat. "Telanjang sekarang," perintahnya. Rahmi patuh, dressnya jatuh, tubuh montoknya telanjang, payudara besar bergoyang, vagina basah berkilau. Ali remas bokongnya, *plak plak plak*—tamparan berulang bikin bokong merah. "Ahh! Lo suka nyiksa ya?" desah Rahmi. Ali angguk: "Ya, dan lo suka. Sekarang, duduk di pangkuan gue lagi." Rahmi naik, penis Ali keluar dari celana, tekan ke vagina tapi belum masuk. "Grind aja dulu," kata Ali. Rahmi goyang pinggul, gesekan bikin keduanya desah. *Slurp*—Ali hisap putingnya, gigit pelan.
2325Please respect copyright.PENANAi0wQJ48cj3
Dialog seksual variatif: "Pengen gue masukin kontol gue ke vagina lo sekarang, fuck sampe lo jerit," kata Ali. Rahmi balas: "Masukin aja, gue mau rasain besarnya." Tapi Ali tahan: "Belum, lo harus menahan orgasme dulu." Riyan masuk ruang itu: "Izinin gue join." Dia pegang payudara Rahmi dari belakang, remas. Farhan liat sambil siapin alat kecil: "Ini dildo mini, coba masukin." Mereka mainkan Rahmi bareng, dildo masuk ke vagina, vibrator di klitoris. *Buzz buzz*—suara getar bikin Rahmi jerit: "Aah! Too much!" Tubuhnya gemetar, orgasme kedua datang: "Aaaahhh! Cum lagi!" Cairan squirt keluar, basahi kursi.
2325Please respect copyright.PENANARrzHb3UcCx
Penerbangan berlanjut dengan rahmi dirangsang terus, dialog erotis nggak berhenti: "Besok di villa, gue ajak lo gangbang, gue, Riyan, Farhan, dan tamu lain. Lo bakal digilir sampe pingsan," kata Ali. Rahmi, lemas tapi excited: "Gue siap, asal lo bikin gue nikmat." Sampai di Bali, udara tropis menyambut, mereka naik mobil ke villa mewah terpencil—pemandangan pantai biru, kolam infinity, kamar-kamar luas. Rahmi dijemput ke kamarnya, tapi kontrak mulai besok pagi. Malam itu, mereka makan malam romantis di teras, angin laut bertiup. Tapi twist: Ali kasih obat perangsang lagi, bikin Rahmi rangsangan konstan. Putingnya mengeras, vagina basah sepanjang makan.
2325Please respect copyright.PENANAwFpVXztjmL
Setelah makan, Ali tarik Rahmi ke kamar. "Teaser terakhir malam ini." Dia ikat Rahmi ke tempat tidur, telanjang. Tangan Ali menjelajahi tubuhnya, jari masuk ke vagina lagi. *Squish squish*—suara basah. "Ahh... persetan denganku," pinta Rahmi. Ali masukin penisnya pelan, dorong perlahan. "Mmm...besar sekali," desah Rahmi. Dorongan makin cepat, *plak plak*—tamparan di bokong. Orgasme ketiga: "Aaaahhh! Ya!" Rahmi cum keras, tubuh bergetar. Ali cabut, cum di perut Rahmi. “Besok baru mulai beneran, budak.”
2325Please respect copyright.PENANAN0i8oEe8eo
Rahmi tidur lelah tapi puas, tubuhnya berubah jadi lebih sensitif. Transisi: Pagi hari pertama, Rahmi bangun dengan ikatan masih ada, siap jadi budak sepenuhnya.
ns216.73.217.22da2


