Bab 2: Ancaman Pertama
2249Please respect copyright.PENANAl3qDczPBDL
Tiga hari setelah kejadian pinjam HP di kantin, hidup Nadya masih terasa normal—setidaknya di permukaan. Pagi itu dia bangun seperti biasa di kosannya yang kecil di daerah Tebet, Jakarta Selatan. Alarm berbunyi jam 06.30, dia meraih HP di samping bantal, cek notifikasi. Ada pesan dari Lisa yang ngajak sarapan bersama sebelum kelas pagi, ada pengingat tugas presentasi, dan… satu pesan masuk dari nomor tak dikenal yang masuk jam 02.17 dini hari.
2249Please respect copyright.PENANAfQWKxc4ycg
Nadya menggosok mata, masih setengah sadar. Dia membuka pesan itu.
2249Please respect copyright.PENANAnE3poxdQqt
Hai, Nadya.Gue punya koleksi bagus lo.Mau lihat?
2249Please respect copyright.PENANAxatGpE6Lit
Lampiran satu foto. Gambarnya buram, tapi cukup jelas buat Nadya langsung tersentak. Itu foto dirinya sendiri—telanjang bulat di depan cermin kamar mandi kosnya, tangan kiri menutup payudara, tangan kanan memegang HP untuk selfie. Kulit sawo matangnya terlihat glowing di bawah lampu kuning, lekuk pinggang atletisnya, dan garis paha yang kencang. Foto itu buram di bagian penting, tapi Nadya tahu itu tetap ada dari folder “Private” yang dia simpan dengan kata sandi.
2249Please respect copyright.PENANAsfmsYOpjxT
LANJUTAN CERITA BISA DI AKSES DI https://lynk.id/novelhambilah
2249Please respect copyright.PENANAYMXA3ksvuo
Jantungnya langsung berdegup kencang seperti mau copot. Tangan gemetar, HP hampir jatuh. "Siapa ini? Hapus sekarang!" balasnya cepat, jari mengetik dengan panik.
2249Please respect copyright.PENANAU5ccqi2QT8
Balasan datang dalam hitungan detik, seperti orang itu lagi menunggu.
2249Please respect copyright.PENANAhMKlpQuszP
"Tenang, budak kecil. Gue nggak mau nyebar… selama lo nurut. Besok ke sekolah tanpa BH dan celana dalam. Pakai seragam biasa aja. Kirim bukti foto pagi-pagi sebelum jam 07.00. Satu foto depan cermin, satu foto close-up vaginamu. Kalau nggak, foto-foto ini masuk grup kelas, IG story, bahkan email ke guru BK. Pilih sendiri."
2249Please respect copyright.PENANA5tTVBC9TNo
Nadya menatap layar HP dengan mata membelalak. Kata “budak kecil” itu seperti menarik perhatian. Dia ingat fantasi malam-malamnya—bayangan dirinya tegang, diperintah, ditampar bokong sampai merah. Tapi ini nyata. Ini bukan fantasi lagi. Ini ancaman.
2249Please respect copyright.PENANATrsDEOa7Ma
Dia melempar HP ke kasur, berdiri, mondar-mandir di kamar sempitnya. Napasnya cepat. “Ini pasti prank…pasti ada yang hack akun gue,” gumamnya sendiri. Tapi jauh di lubuk hatinya, dia tahu itu tidak mungkin. Folder Private-nya nggak pernah dibuka di HP orang lain, kecuali… kecuali saat pinjam HP Andi kemarin.
2249Please respect copyright.PENANAB4jUKZ59kr
Pikiran itu muncul, tapi langsung dia tepis. "Andi? Nggak mungkin. Dia sahabat gue. Dia baik banget." Tapi kenapa rasanya ada yang gak beres?
2249Please respect copyright.PENANAbGniFMpFJS
Malam itu jadi neraka. Nadya nggak bisa tidur. Dia bolak-balik membuka pesan itu, memperbesar foto buramnya, coba cari petunjuk. Setiap kali membaca kata “budak kecil”, vaginanya bereaksi aneh—lembab, berdenyut pelan. Dia benci dirinya sendiri karena itu. “Gue gila apa sih?” bisiknya sambil menampar pipinya sendiri dengan pelan. “Plak.” Suara kecil itu malah bikin dia tambah gelisah.
2249Please respect copyright.PENANAMCrlAd14Gk
Jam 03.00 pagi, dia akhirnya menyerah. Dia ambil lingerie hitam tipis dari laci, pakai, lalu lepas lagi. “Ngak pake BH dan celana dalam…besok?” Dia berdiri di depan cermin, melepas semua baju tidur. Tubuh atletisnya telanjang bulat. Payudaranya kencang, ukurannya pas—cukup untuk mengisi tangan pria, puting cokelat gelap sudah memenuhi karena udara dingin dan adrenalin. Dia menyentuh sendiri pelan, jari melingkar di durian kecilnya. “Mmm…” desah kecil keluar tanpa sengaja. Dia bayangin suara si pengirim: “Lo milik gue sekarang.” Manggisnya basah lebih cepat dari biasanya.
2249Please respect copyright.PENANA53DjfwCDAU
Dia orgasme kecil di kamar mandi jam 04.30, udara hangat membasahi seluruh tubuh, jari masuk ke dalam sambil membayangkan cambuk tampar paha. “Ahh… sial…” Cairan bening menetes ke lantai keramik. Setelah itu, dia merasa lebih tenang—tapi juga lebih takut. Karena dia sadar: bagian dirinya yang gelap justru heboh dengan ancaman ini.
2249Please respect copyright.PENANAg9yor0lWXu
Pagi harinya, jam 06.15, Nadya berdiri di depan cermin kamar kos. Dia memakai seragam putih SMA Elit Harmoni seperti biasa: kemeja putih ketat, rok abu-abu selutut yang sekarang terasa terlalu pendek, kaos kaki putih, dan sepatu hitam. Tapi di bawahnya… kosong. Tanpa BH, putingnya menonjol samar di balik kain tipis. Tanpa celana dalam, angin kecil dari kipas angin langsung menyentuh vaginanya yang sudah lembab sejak bangun tidur. Setiap langkah, pahanya bergesekan, sensasi itu bikin dia menggigit bibir bawah.
2249Please respect copyright.PENANAomWb7fUbgM
Dia ambil HP, foto pertama: berdiri di depan cermin, tangan mengangkat kemeja sedikit agar terlihat perut rata dan garis pinggang. Putingnya jelas terlihat menonjol. Foto kedua: dia jongkok, rok tersingkap, jari membuka sedikit bibir vaginanya—lembab, merah muda, durian kecilnya sudah membengkak. Dia kirim ke nomor itu dengan caption: “Sudah nurut.”
2249Please respect copyright.PENANAKkjplWe345
Balasan datang seketika: "Bagus, budak kecil. Lo keliatan basah banget. Nikmatin hari ini tanpa pelindung. Setiap jam kirim update posisi lo di sekolah. Dan… jangan sentuh vaginamu tanpa izin gue."
2249Please respect copyright.PENANACEW0nBXVXB
LANJUTAN CERITA BISA DI AKSES DI https://lynk.id/novelhambilah
2249Please respect copyright.PENANAf4QFFPhFud
Nadya menatap pesan itu lama. “Budak kecil…” kata itu lagi. Dia merinding, tapi vaginanya berdenyut lebih kuat.
2249Please respect copyright.PENANAPX6ijayYQe
Perjalanan ke sekolah terasa berbeda. Naik ojek online, angin menerpa roknya, membuatnya sadar betul kalau tidak ada apa-apa di bawah. Setiap guncangan motor, pahanya bergesek, sensasi itu seperti sentuhan tak kasat mata. Dia sampai di gerbang sekolah jam 07.20, keringat dingin menetes di punggung.
2249Please respect copyright.PENANASmOZLSPP2g
Lisa sudah menunggu di kantin. "Nad! Lo telat banget. Muka lo pucet, kenapa?"
2249Please respect copyright.PENANAozfkLtHCSb
Nadya tersenyum paksa. “Cuma kurang tidur aja, Lis.” Dia duduk, kaki rapat rapat supaya tidak terbuka. Tapi AC kantin dingin banget, putingnya kental lebih keras, terlihat jelas dari luar kemeja. Lisa memperhatikan. "Eh, lo nggak pake BH ya hari ini? Keliatan banget tuh."
2249Please respect copyright.PENANAnXSDiYVXWz
Nadya hampir ingin minum kopi. “Iya… cuci semua lagi. Males nyari cadangan.” Bohong yang buruk, tapi Lisa cuma ketawa.
2249Please respect copyright.PENANAJObA8h3Gru
Di kelas pertama—mata pelajaran Bahasa Indonesia—Nadya duduk di baris tengah. Guru lagi nerangin puisi, tapi pikiran Nadya melayang. HP bergetar di saku rok. Pesan baru:
2249Please respect copyright.PENANAzaUJIuE32O
“Jam 08.30: Pergi ke toilet cewek lantai 2. Sentuh durian kecilmu selama 2 menit. Rekam suara desah lo. Kirim.”
2249Please respect copyright.PENANATP9aKXvJks
Nadya menelan ludah. Jam dinding menunjukkan 08.28. Dia angkat tangan. “Izin ke toilet.” Guru mengangguk.
2249Please respect copyright.PENANALSTK264Zt1
Di toilet lantai 2—yang jarang dipakai karena agak jauh—Nadya masuk ke bilik paling ujung, kunci pintu. Dia angkat rok, jari menyentuh durian kecilnya yang sudah licin. Dapatkan listrik langsung nyebar ke seluruh tubuh. “Mmm…” desah pelan. Dia rekam dengan HP di tangan kiri, jari kanan melingkar cepat. “Ahh… ya Tuhan…” suara desahnya menggema kecil di bilik sempit. Dua menit terasa lama. Saat pengatur waktu habis, dia orgasme kecil—airan menetes ke lantai, terdengar suara “Tetes… tetes…” pelan. Tubuhnya kejang, lutut lemas.
2249Please respect copyright.PENANAQuZc71659q
Dia mengirim rekaman itu. Balasan: “Bagus. Suara lo enak didengar. Lo suka ya diperintah? Besok lebih seru.”
2249Please respect copyright.PENANAnZmOI5c1SM
Hari Sepanjang, perintah kecil terus datang.
2249Please respect copyright.PENANAlKPp4wMfgV
Jam 10.15: “Di kelas, buka kancing atas kemeja dua biji.Biarkan orang melihat garis dada lo.”
2249Please respect copyright.PENANAKjyezuspOH
Nadya patuh. Kancing terbuka, bagian dada samar terlihat. Beberapa pria di belakang ingin tahu. Dia merasa malu, tapi juga basah lagi.
2249Please respect copyright.PENANAN52lLwA3nx
Jam 12.00 istirahat: “Pergi ke lapangan belakang, duduk di bangku pojok, buka kaki lebar 30 detik. Foto.”
2249Please respect copyright.PENANAX4h7V0ccPC
Nadya lakukan di bawah pohon besar yang rindang. Angin menerpa vaginanya langsung, dingin dan menggoda. Foto dikirim: vagina basah, durian kecil membengkak.
2249Please respect copyright.PENANANVxnHIj3xp
Setiap perintah bikin adrenalinnya naik, campur takut dan gairah. Dia mulai sadar: bagian dirinya yang suka jadi budak lagi bangun sepenuhnya.
2249Please respect copyright.PENANAtGMlC95BMw
LANJUTAN CERITA BISA DI AKSES DI https://lynk.id/novelhambilah
2249Please respect copyright.PENANAvHLq5nBuCN
Sore harinya, pulang ke kos, HP bergetar lagi.
2249Please respect copyright.PENANAasSmwHp36Q
"Malam ini: Pakai vibrator apel yang gue kirim kemarin (paket udah sampai belum?). Nyalain getar rendah, tidur dengan itu di dalam vaginamu. Besok pagi kirim video lobangun dengan apel masih di dalam."
2249Please respect copyright.PENANAinrb2PwriW
Nadya buka pintu kos, memang ada paket kecil di depan pintu. Di dalam: vibrator bentuk apel mini, remote-nya nggak ada—berarti dikontrol lewat aplikasi atau… orang itu yang memegang kendali.
2249Please respect copyright.PENANASAeGSFW4m2
Dia mandi, lalu malam itu dia patuh. Apel kecil itu masuk pelan ke vaginanya yang sudah basah seharian. Getar rendah bikin dia nyaman sepanjang malam. Tidur tidak nyenyak, mimpi buruk campur erotis: Andi muncul di mimpi, tangan menarik rambut Nadya, tititnya tekan pesan. “Ini milikku, Nad.”
2249Please respect copyright.PENANAW7srgyMPnq
Pagi berikutnya, jam 06.00, Nadya bangun dengan apel yang masih di dalam. Manggisnya bengkak, lembab berat. Dia merekam video: zoom ke wajahnya yang merah, lalu turun ke bawah, apel kecil terlihat sedikit keluar-masuk saat dia bergerak. “Ahh… masih di dalam…” desahnya pelan. Kirim.
2249Please respect copyright.PENANAPeBac5wYnN
Balasan: "Bagus sekali. Lo udah mulai terbiasa ya? Hari ini perintah baru: pakai rok yang lebih pendek. Dan siap-siap, besok gue kasih tugas yang lebih gede."
2249Please respect copyright.PENANAhBxdaGB8Co
Nadya cermin menatap. Matanya berkaca-kaca, tapi sekelilingnya tersenyum kecil. Dia takut. Tapi dia juga… membuat ketagihan.
2249Please respect copyright.PENANA18kqBh5JSS
Dan tanpa dia sadari, di kosan lain di Jakarta Selatan, Andi duduk di depan laptop, nonton video pagi itu sambil menggosok tititnya yang sudah tegang sejak subuh. Senyum liciknya melebar. “Lo milik gue sekarang, Nad. Baru mulai.”
2249Please respect copyright.PENANAIEysXsPkum


