7483Please respect copyright.PENANAcbDNBtibB5
7483Please respect copyright.PENANACEYNExFA3A
Ica melirik jam tangan di pergelangan kirinya—19:22. Masih delapan menit sebelum jadwal les dimulai. Dia memarkirkan motor matic hitamnya di halaman depan rumah besar bergaya minimalis modern itu, melepas helm, dan merapikan rambut ponytail-nya yang sedikit basah.
Rumah itu selalu terlihat sepi dari luar. Pagar besi hitam tinggi, taman depan yang rapi tapi tak ada tanda-tanda kehidupan, lampu teras menyala kuning redup. Ica sudah terbiasa dengan rumah-rumah seperti ini—keluarga kaya yang sibuk, anak tunggal yang ditinggal orang tua, dan guru les seperti dirinya yang jadi pengganti sementara.
Dia menekan bel. Tak sampai sepuluh detik, pintu terbuka.
“Bu Ica ya?”
Suara pemuda di depan pintu terdengar santai, hampir malas. Dia tinggi, bahu lebar, memakai kaus basket longgar warna abu-abu dan celana pendek olahraga hitam. Rambutnya cepak pendek, kulit sawo matang, dan ada senyum setengah miring di bibirnya yang membuatnya terlihat lebih dewasa dari usia 18 tahun yang tercantum di biodata murid.
“Iya, saya Ica. Kamu Aji?”
“Iya, Bu. Masuk aja, langsung ke atas ya. Ruang belajar di lantai dua.”
Ica mengangguk, melepas sepatu, dan mengikuti Aji naik tangga marmer yang dingin. Bau rumah ini campuran antara pengharum ruangan vanila dan sedikit aroma kopi yang baru diseduh. Di lantai dua, koridor pendek membawa mereka ke sebuah ruangan di ujung—ruang belajar pribadi yang luas.
Meja kayu jati besar di tengah, dua kursi empuk berhadapan, rak buku penuh modul dan buku pelajaran SMA, AC menyala pelan, dan di sudut ada sofa panjang berwarna krem yang tampak jarang dipakai. Ada juga jendela besar menghadap taman belakang, tapi malam ini hanya gelap dan suara hujan samar-samar.
“Orang tua kamu mana, Ji?” tanya Ica sambil meletakkan tas ranselnya di kursi.
“Masih di catering, Bu. Kayaknya pulang jam 11-an. Biasa kok, mereka emang jarang di rumah.”
Ica mengangguk kecil, tidak bertanya lebih lanjut. Dia sudah sering mendengar cerita serupa dari murid-murid lesnya. Dia membuka tas, mengeluarkan buku catatan, spidol whiteboard, dan laptop kecil.
“Kita mulai dari mana hari ini? Kemarin ibumu bilang kamu lagi kesulitan di trigonometri sama integral ya?”
Aji menghela napas pendek, duduk di kursi murid, dan menyandarkan punggungnya.
“Iya Bu, trigonometri masih lumayan, tapi integral… entah kenapa otak saya blank kalau udah liat tanda ∫ itu.”
Ica tersenyum tipis—senyum profesional yang selalu dia pakai di depan murid baru.
“Tenang aja, kita pelan-pelan. Yang penting kamu paham konsep dasarnya dulu. Kita mulai dari integral tak tentu ya, biar nggak langsung pusing.”
Dia membuka laptop, memproyeksikan slide sederhana yang sudah dia siapkan. Ruangan terasa hangat karena AC tidak terlalu dingin, dan aroma parfum Ica—body mist vanila manis yang ringan—perlahan menyebar di udara.
Aji memperhatikan dengan ekspresi setengah serius setengah bosan. Kadang dia mencatat, kadang matanya melayang ke arah jendela, kadang ke arah tangan Ica yang lincah menulis rumus di buku catatan bersama.
“Jadi, integral dari f(x) dx itu artinya mencari luas di bawah kurva, tapi kalau tak tentu, kita cari fungsi asalnya. Contoh sederhana: integral 2x dx = x² + C. Paham?”
Aji mengangguk, tapi matanya sempat turun ke kemeja putih Ica yang dikancing rapi sampai atas. Kerahnya sedikit terbuka karena Ica baru saja membungkuk untuk menulis, memperlihatkan sedikit garis leher yang halus.
“Paham, Bu,” jawab Aji singkat.
Mereka lanjut hampir satu jam tanpa banyak bicara di luar pelajaran. Ica menjelaskan dengan sabar, sesekali bertanya untuk memastikan Aji mengerti. Aji menjawab dengan benar sebagian besar, meski kadang jawabannya terdengar seperti hafalan daripada pemahaman.
Pukul 20:45, Ica menutup laptop.
“Hari ini cukup dulu ya, Ji. Besok kita lanjut ke integral tentu sama aplikasi luas daerah. Kerjain lima soal ini di rumah, besok kita bahas.”
Dia menyodorkan selembar kertas berisi lima soal latihan. Aji mengambilnya, jari mereka sempat bersentuhan sekilas—hanya sepersekian detik, tapi cukup membuat Ica menarik tangan lebih cepat dari biasanya.
“Siap, Bu. Makasih ya,” kata Aji sambil berdiri. Dia mengantar Ica turun ke bawah, membukakan pintu depan.
Di teras, hujan sudah reda. Udara malam terasa sejuk.
“Jam berapa besok, Bu?” tanya Aji.
“Jam 19.30 lagi ya, sama seperti hari ini. Kalau bisa jangan telat, biar nggak buru-buru.”
Aji mengangguk, tersenyum lagi dengan senyum setengah miring itu.
“Oke Bu. Hati-hati di jalan.”
Ica mengenakan helm, menyalakan motor, dan melaju keluar pagar. Di spion, dia melihat Aji masih berdiri di teras, memandang ke arahnya sampai motornya hilang di tikungan.
Malam itu, di apartemen kecilnya di Tembalang, Ica mandi air hangat lebih lama dari biasanya. Air mengalir di tubuhnya, tapi pikirannya sempat melayang ke ruang belajar tadi—ke tatapan Aji yang kadang terlalu lama, ke sentuhan jari yang tak sengaja, ke aroma rumah yang sepi itu.
Dia menggelengkan kepala kecil.
“Biasa aja, Ica. Dia cuma murid,” gumamnya pada dirinya sendiri sambil menggosok sabun di leher.
Tapi di dasar hatinya, ada sesuatu yang bergerak pelan—seperti bara kecil yang baru saja disentuh angin, belum menyala, tapi sudah terasa hangat.
7483Please respect copyright.PENANAragDkWlGaM
Ica tiba tepat pukul 19:28, motornya diparkir di tempat yang sama seperti kemarin. Dia memakai kemeja biru muda lengan panjang yang sedikit longgar, rok span abu-abu selutut, dan sepatu flat hitam yang sama. Rambutnya tetap diikat ponytail rapi, tapi malam ini dia memakai lipstik nude yang hampir tak terlihat—hanya supaya bibirnya tidak terlalu pucat setelah seharian mengajar di bimbel.
Pintu dibuka sebelum dia sempat menekan bel lagi. Aji sudah berdiri di sana, kali ini memakai kaus polo hitam yang agak ketat di bagian dada dan lengan, celana pendek olahraga abu-abu, dan rambutnya masih sedikit basah—mungkin baru mandi sore.
“Bu Ica tepat waktu banget,” kata Aji sambil tersenyum lebar. “Masuk, Bu. Saya udah siapin air putih di atas.”
Ica mengangguk kecil, melepas sepatu, dan naik tangga mengikuti Aji. Bau rumah masih sama: vanila samar dari diffuser di ruang tamu, ditambah aroma sabun mandi yang menempel di badan Aji. Ica menciumnya sekilas saat melewati koridor—bau maskulin ringan, campur citrus dan kayu. Dia buru-buru mengalihkan pikiran ke materi pelajaran.
Di ruang belajar, semuanya hampir identik dengan kemarin. Meja besar, kursi berhadapan, AC menyala pelan, laptop Ica sudah dicolok ke proyektor kecil. Hanya ada satu perbedaan: Aji sudah menyusun lima lembar jawaban soal latihan yang diberikan kemarin di atas meja, rapi, tulisannya jelas meski agak miring.
“Wah, kamu kerjain semua?” tanya Ica sambil duduk dan membuka tas.
“Iya Bu, semalam saya coba kerjain sambil nonton bola. Lumayan lah, nggak semuanya bener sih.”
Ica tersenyum tipis—senyum yang sama seperti kemarin, profesional dan netral.
“Bagus. Kita bahas satu-satu ya. Mulai dari nomor satu.”
Mereka mulai pelan. Ica menjelaskan kesalahan Aji di soal pertama: dia lupa menambahkan konstanta C pada integral tak tentu. Aji mendengarkan sambil mencatat, sesekali mengangguk. Matanya fokus ke buku, tapi kadang-kadang—hanya sepersekian detik—melirik ke arah tangan Ica yang memegang spidol, atau ke arah lehernya yang terlihat halus saat dia menoleh ke layar laptop.
Setelah setengah jam, Ica beralih ke materi baru: integral tentu dan rumus dasar luas daerah di bawah kurva.
“Jadi, integral tentu dari a sampai b itu luas bersih di antara kurva dan sumbu x dari x=a sampai x=b. Kalau kurvanya di bawah sumbu, hasilnya negatif. Paham?”
Aji mengangguk, tapi ekspresinya mulai terlihat sedikit bosan. Dia menyandarkan punggung, tangannya main-main dengan pulpen.
“Bu, boleh nanya nggak sih?” tiba-tiba dia bicara, suaranya santai.
“Tentu, apa?”
“Bu Ica ngajar les berapa murid sehari? Kayaknya banyak banget, tiap malam beda rumah.”
Ica berhenti menulis sejenak. Pertanyaan itu di luar materi, tapi tidak aneh untuk murid baru yang ingin mengenal gurunya.
“Biasanya tiga sampai empat sesi per hari. Pagi sama siang di bimbel, malam les privat. Lumayan capek, tapi ya lumayan juga penghasilannya.”
Aji mengangguk-ngangguk.
“Pantesan Bu Ica keliatan fresh terus. Banyak yang bilang guru les matematika tuh biasanya galak atau serem, tapi Bu beda.”
Ica tertawa kecil, suara tawanya ringan.
“Galak kalau muridnya bandel aja. Kamu kan nggak bandel… belum.”
Aji ikut tertawa, tapi matanya menatap Ica lebih lama dari biasanya.
“Belum ya, Bu? Artinya masih ada kesempatan dong.”
Ica pura-pura tidak dengar nada main-main itu. Dia kembali ke layar laptop, menunjuk rumus baru.
“Mari kita lanjut. Coba kamu kerjain soal nomor satu di slide ini. Integral dari 1 sampai 4 dari (2x + 1) dx. Kerjain di kertas, nanti kita cek.”
Aji mengambil pulpen, mulai menulis. Ruangan kembali hening, hanya suara spidol Ica yang menggaris-garis kertas catatan dan ketikan pelan di laptop. Sesekali Aji menghela napas pendek kalau stuck, dan Ica langsung menjelaskan tanpa diminta.
Saat Aji selesai mengerjakan, dia mendorong kertas ke arah Ica. Jari mereka hampir bersentuhan lagi—kali ini lebih lama sedetik dibanding kemarin. Ica merasakan hangat dari kulit Aji, tapi dia cepat menarik kertas dan memeriksanya.
“Benar semua. Bagus, Ji. Kamu cepet nangkep kalau udah dijelasin ulang.”
“Makasih Bu. Soalnya penjelasan Bu enak didengerin. Nggak bikin ngantuk.”
Ica tersenyum lagi, tapi kali ini ada sedikit rasa hangat di pipinya yang dia harap tidak terlihat. Dia melirik jam—sudah 20:40.
“Oke, hari ini cukup ya. Besok kita lanjut ke integral dengan substitusi sederhana. Kerjain lagi lima soal ini di rumah.”
Dia menyodorkan lembar baru. Kali ini, saat Aji mengambil kertas, jarinya sengaja—atau tidak sengaja—menyentuh punggung tangan Ica sedikit lebih lama. Hanya dua detik, tapi cukup membuat denyut nadi Ica naik sedikit.
“Besok jam sama ya, Bu?” tanya Aji sambil berdiri mengantar Ica ke pintu.
“Iya, 19.30. Jangan lupa kerjain ya.”
“Pasti, Bu. Hati-hati di jalan. Malam ini nggak hujan, tapi jalanan licin.”
Ica mengangguk, mengenakan helm, menyalakan motor. Saat melaju keluar pagar, dia melirik spion sekali lagi. Aji masih berdiri di teras, tangan di saku celana, memandang ke arah motornya sampai hilang di tikungan.
Di perjalanan pulang ke Tembalang, angin malam menerpa wajah Ica. Dia mencoba fokus ke jalan, tapi pikirannya sempat melayang ke ruang belajar tadi: ke senyum Aji yang setengah miring, ke sentuhan jari yang terasa terlalu lama, ke kalimat “masih ada kesempatan dong” yang seharusnya biasa saja, tapi entah kenapa terngiang-ngiang.
Sampai di apartemen, Ica mandi air dingin kali ini—bukan hangat seperti kemarin. Dia berdiri di bawah shower, membiarkan air mengalir deras, mencoba membilas pikiran yang mulai sedikit liar.
“Dia cuma murid, Ica. Umur 18 tahun. Jangan gila,” gumamnya pelan.
Tapi saat dia keluar dari kamar mandi, memakai piyama longgar, dan berbaring di kasur, matanya menatap langit-langit kamar. Dia ingat tatapan Aji tadi malam, dan tanpa sadar tangannya menyentuh lehernya sendiri—tempat yang tadi sempat dilihat Aji.
7483Please respect copyright.PENANAXmUOFz6sgc
Malam Minggu, 19:27. Ica tiba lebih awal dua menit karena jalanan lebih sepi dari biasanya. Dia memakai kemeja putih lengan tiga perempat yang agak tipis karena cuaca panas lembab akhir-akhir ini, rok span hitam selutut yang sama, dan sepatu flat cokelat muda. Rambut ponytail-nya kali ini sedikit lebih longgar, beberapa helai rambut lepas menjuntai di pelipis—mungkin karena dia buru-buru keluar dari bimbel sore tadi.
Pintu dibuka hampir seketika setelah bel ditekan. Aji berdiri di ambang pintu, kali ini memakai kaus oversize warna navy dengan tulisan “BASKET NEVER DIES” di dada, celana pendek basket yang agak longgar, dan… dia memegang dua gelas es teh manis tinggi.
“Bu Ica, ini es teh dulu. Panas banget hari ini, takut Bu dehidrasi,” katanya sambil menyodorkan satu gelas dengan senyum lebar yang terlalu polos untuk dipercaya.
Ica terkejut sebentar, tapi langsung mengambil gelas itu.
“Makasih ya, Ji. Kamu baik banget malam ini.”
“Biasa aja, Bu. Lagian kalau Bu pingsan di sini, nanti saya yang repot bawa ke dokter,” balas Aji sambil tertawa kecil, lalu membuka pintu lebih lebar. “Naik dulu, Bu. Saya udah nyalain AC full.”
Ica naik tangga sambil menyesap es teh—manisnya pas, dinginnya nyaman. Dia sempat berpikir, “Anak ini mulai perhatian ya?” tapi langsung menggeleng dalam hati. Jangan overthinking, Ica.
Di ruang belajar, semuanya sudah siap seperti biasa. Meja rapi, buku catatan Aji terbuka di halaman soal latihan kemarin, laptop Ica langsung dicolok. Tapi ada satu hal baru: di atas meja ada sebungkus keripik singkong pedas ukuran kecil, masih disegel.
“Bu suka keripik nggak? Saya ambil dari dapur, takut Bu laper,” kata Aji sambil duduk dan membuka kemasan itu.
Ica tertawa kecil, kali ini tawa yang lebih lepas daripada dua malam sebelumnya.
“Kamu ini murid atau host acara TV ya? Udah kayak tamu undangan VIP.”
Aji mengangkat bahu sambil nyengir.
“VIP level premium, Bu. Guru les matematika langka, harus dilayani baik-baik biar nggak kabur ke murid lain.”
Ica menggeleng-geleng kepala sambil duduk.
“Mulai aja, Ji. Kita bahas soal kemarin dulu, terus lanjut substitusi.”
Mereka mulai seperti biasa. Ica menjelaskan kesalahan kecil di jawaban Aji—dia salah ganti variabel saat substitusi u = 2x + 1. Aji mendengarkan sambil mengunyah keripik, sesekali menawarkan ke Ica.
“Bu, cobain. Pedesnya nendang,” katanya sambil menyodorkan sepotong.
Ica ragu sebentar, tapi akhirnya mengambil satu. Begitu masuk mulut, matanya langsung melebar.
“Ya ampun, Ji! Ini level berapa sih? Lidah saya langsung mati rasa!”
Aji tertawa terbahak-bahak sampai hampir tersedak keripik.
“Level 5, Bu! Katanya sih pedesnya standar. Kalau Bu nggak kuat, minum es tehnya cepet!”
Ica buru-buru menyesap es teh, wajahnya memerah karena pedas dan malu.
“Kamu nakal banget sih. Besok-besok aku nggak mau lagi ditawarin keripik kamu.”
“Besok aku ganti yang rasa original aja, Bu. Janji,” kata Aji sambil masih tertawa, tapi matanya menatap Ica dengan cara yang sedikit berbeda—bukan hanya lucu, tapi ada kilau nakal di situ.
Setelah adegan keripik selesai, mereka kembali ke materi. Ica menulis rumus substitusi di buku catatan bersama, membungkuk sedikit supaya Aji bisa lihat jelas. Rok span-nya menegang di bagian pinggul, dan tanpa sengaja, lututnya menyenggol lutut Aji di bawah meja.
Ica langsung menarik kaki, tapi Aji tidak bergerak. Malah dia sedikit menggeser kursinya lebih dekat, sampai jarak lutut mereka tinggal beberapa senti.
“Bu… kalau substitusi u = sin x, du = cos x dx, terus integralnya jadi integral u² du, kan?” tanya Aji, suaranya tiba-tiba lebih pelan.
“Iya, betul,” jawab Ica cepat, berusaha fokus ke kertas. Tapi dia merasa panas di leher. Entah karena AC kurang dingin atau karena Aji sekarang duduk terlalu dekat.
Mereka lanjut mengerjakan soal. Aji mulai benar-benar konsentrasi, tapi setiap kali Ica menjelaskan sesuatu yang agak rumit, dia suka mengangguk pelan sambil memandang wajah Ica—bukan ke kertas, tapi ke mata, ke bibir, ke leher.
Saat jam menunjukkan 20:35, Ica menutup laptop.
“Cukup ya hari ini. Besok kita masuk ke integral trigonometri. Kerjain enam soal ini, yang nomor empat sama lima agak susah, tapi kamu pasti bisa.”
Dia menyodorkan lembar soal. Kali ini, saat Aji mengambil kertas, jarinya sengaja menyentuh punggung tangan Ica—bukan sekilas, tapi menahan dua detik penuh. Kulitnya hangat, jarinya sedikit kasar karena sering main basket.
Ica menarik tangan pelan, tapi tidak langsung. Matanya bertemu dengan mata Aji. Ada detik-detik hening di mana keduanya sama-sama diam.
“Bu Ica… kok pipinya merah ya?” tanya Aji pelan, suaranya setengah bercanda setengah serius.
Ica buru-buru menoleh ke samping, pura-pura merapikan kertas.
“Efek pedes keripik tadi kali. Udah malam, aku pulang dulu ya.”
Aji berdiri mengantar seperti biasa. Di tangga, dia berjalan di belakang Ica—jaraknya dekat sekali, sampai Ica bisa merasakan hembus napas Aji di belakang lehernya. Bukan sengaja, tapi juga bukan kebetulan.
Di teras, Ica mengenakan helm. Aji berdiri di ambang pintu, tangan di saku.
“Bu, besok bawa jaket ya. Malam-malam dingin,” katanya tiba-tiba.
Ica mengangguk tanpa menoleh.
“Iya, Ji. Makasih es teh sama keripiknya. Besok jangan bawa yang pedes lagi.”
Aji tertawa kecil.
“Janji, Bu. Besok yang manis aja.”
Ica menyalakan motor, melaju keluar pagar. Di spion, Aji masih berdiri, memandang sampai motornya lenyap di tikungan.
Di perjalanan pulang, angin malam menerpa wajah Ica. Dia merasa pipinya masih panas—bukan karena pedas keripik, tapi karena sentuhan jari tadi, karena tatapan yang terlalu lama, karena kalimat “yang manis aja” yang terdengar polos tapi entah kenapa bikin jantungnya berdegup lebih kencang.
Sampai di apartemen, Ica langsung masuk kamar mandi, nyalakan shower dingin. Air mengalir deras, tapi pikirannya tidak bisa diam.
“Dia cuma bercanda, Ica. Jangan lebay,” gumamnya.
Tapi saat dia berbaring di kasur, memeluk guling, tangannya tanpa sadar menyentuh punggung tangan yang tadi disentuh Aji. Sensasi hangat itu masih terasa.
7483Please respect copyright.PENANAlTcvvTzHlg
Ica tiba pukul 19:29, hampir tepat waktu. Malam ini dia memakai blouse krem lengan panjang yang agak tipis di bagian lengan, rok pensil hitam yang sedikit lebih ketat dari biasanya (karena rok span lamanya lagi dicuci), dan sepatu flat yang sama. Rambutnya dibiarkan terurai setengah, ponytail longgar di belakang—dia bilang pada diri sendiri ini karena kepanasan, bukan karena ingin terlihat lebih santai.
Pintu dibuka oleh Aji yang sudah menunggu di ambang. Kali ini dia memakai kaus hitam polos yang pas di badan, memperlihatkan garis bahu dan lengan yang terlatih, celana jogger abu-abu gelap, dan kaki telanjang tanpa sandal—entah kenapa terlihat lebih… santai daripada biasanya.
“Bu Ica, masuk. Saya udah siapin meja, AC juga udah dingin banget biar nggak gerah,” katanya sambil membuka pintu lebar-lebar.
Ica mengangguk, melepas sepatu, dan naik tangga. Bau rumah malam ini agak berbeda—ada aroma kopi hitam yang baru diseduh, bukan vanila seperti biasa. Di ruang belajar, meja sudah rapi: buku catatan Aji terbuka, laptop Ica dicolok, dan di sudut meja ada dua cangkir kopi hitam panas dengan uap tipis-tipis naik.
“Bu suka kopi nggak? Saya bikin tadi sore, takut Bu ngantuk setelah seharian ngajar,” tanya Aji sambil duduk dan mendorong satu cangkir ke arah Ica.
Ica tersenyum kecil, tapi jantungnya sudah mulai berdegup sedikit lebih cepat.
“Makasih, Ji. Kebetulan lagi butuh banget nih.”
Dia menyesap kopi—pahit, tapi pas. Hangatnya merambat ke dada. Aji memandangnya sambil menyandarkan dagu di tangan, senyumnya tipis tapi mata tidak lepas dari wajah Ica.
“Bu… rambutnya dibiarkan terurai ya malam ini. Keliatan beda, lebih… cantik.”
Kalimat itu keluar begitu saja, santai, tapi nada suaranya lebih rendah dari biasanya. Ica hampir tersedak kopi. Dia buru-buru menunduk, pura-pura membuka laptop.
“Biasa aja kok, panas aja tadi siang. Yuk mulai, kita bahas soal kemarin dulu.”
Mereka mulai pelan seperti biasa. Ica menjelaskan kesalahan Aji di soal integral trigonometri—dia lupa mengganti batas integral setelah substitusi. Aji mendengarkan, mencatat, tapi kali ini dia duduk lebih dekat. Kursinya digeser sedikit ke samping, sampai lutut mereka hampir bersentuhan lagi di bawah meja.
Setelah 20 menit, Ica membungkuk untuk menulis rumus panjang di kertas catatan bersama. Rambutnya yang terurai jatuh ke depan, menyapu pipi Aji yang kebetulan lagi menoleh. Aji tidak menjauh. Malah dia diam-diam menghirup aroma shampoo Ica—wangi vanila manis yang lembut.
“Bu… wangi sekali,” bisik Aji pelan, hampir tak terdengar.
Ica membeku. Rambutnya masih menyentuh pipi Aji. Dia merasakan napas hangat Aji di telinga kirinya. Detik itu terasa lama sekali. Jantung Ica berdegup kencang, seperti ada drum kecil di dada. Dia pelan-pelan menarik kepala, tapi gerakannya lambat, seolah tubuhnya tidak mau langsung menjauh.
“Maaf… rambutnya kebawa angin AC,” katanya cepat, suaranya sedikit bergetar. Wajahnya memerah, dia bisa merasakan panas di pipi.
Aji tersenyum tipis, tidak menjawab langsung. Dia malah mengambil spidol dari tangan Ica—jari mereka bersentuhan lagi, kali ini lebih lama, hampir lima detik. Ica tidak langsung menarik tangan. Dia membiarkan, hanya menatap jari Aji yang memegang spidol itu.
“Bu bisa lanjutin nggak? Atau… istirahat dulu?” tanya Aji, suaranya lembut, hampir menggoda.
Ica menggeleng cepat.
“Bisa. Lanjut aja.”
Mereka kembali ke materi, tapi suasana sudah berbeda. Setiap kali Ica menjelaskan, Aji suka menatap bibirnya lebih lama. Setiap kali Aji bertanya, dia suka menggeser kursi sedikit lebih dekat. Jarak mereka sekarang tinggal 30 senti—bukan lagi berhadapan sempurna, tapi agak miring, seperti orang yang sedang berbagi rahasia.
Pukul 20:40, Ica menutup laptop. Napasnya sedikit lebih cepat dari biasanya.
“Cukup ya hari ini. Besok kita masuk ke integral parsial. Kerjain tujuh soal ini, yang nomor enam sama tujuh susah, tapi aku yakin kamu bisa.”
Dia menyodorkan lembar soal. Kali ini, saat Aji mengambil kertas, tangannya tidak hanya menyentuh—dia memegang punggung tangan Ica sebentar, jempolnya mengusap pelan sekali, lalu melepaskan.
Ica menarik napas tajam kecil, hampir tak terdengar. Matanya bertemu mata Aji. Ada hening panjang, hanya suara AC dan detak jantung Ica yang terasa sangat keras di telinganya sendiri.
“Bu… kok tangannya dingin?” tanya Aji pelan, suaranya hampir berbisik.
Ica menelan ludah.
“Mungkin… AC terlalu dingin.”
Aji tersenyum kecil, tidak melepaskan pandangan.
“Atau mungkin Bu deg-degan?”
Kalimat itu seperti petir kecil di ruangan. Ica merasa wajahnya panas sekali. Dia buru-buru berdiri, hampir menjatuhkan cangkir kopi.
“A-aku pulang dulu ya, Ji. Sudah malam.”
Aji berdiri juga, mengantar Ica turun tangga. Di koridor gelap, dia berjalan tepat di belakang Ica—jaraknya dekat sekali, sampai Ica bisa merasakan panas tubuh Aji di punggungnya. Saat turun tangga terakhir, tangan Aji “tak sengaja” menyenggol pinggang Ica sebentar saat melewati tikungan sempit.
Ica hampir tersandung. Dia menahan napas, tapi tidak protes.
Di teras, Ica mengenakan helm dengan tangan sedikit gemetar. Aji berdiri di ambang pintu, tangan di saku jogger.
“Bu, besok bawa jaket lagi ya. Malam ini dingin banget,” katanya, suaranya kembali normal, tapi matanya masih menatap dalam.
Ica mengangguk tanpa menoleh.
“Iya… makasih kopinya.”
Motor menyala, Ica melaju keluar pagar. Di spion, Aji masih berdiri, memandang sampai motornya hilang. Tapi kali ini, Ica tidak langsung fokus ke jalan. Dia merasakan denyut di leher, di dada, di perut bawah—sensasi yang sudah lama tidak dia rasakan.
Sampai di apartemen, Ica langsung masuk kamar, tidak mandi dulu. Dia duduk di pinggir kasur, tangan memegang punggung tangan yang tadi diusap jempol Aji. Sensasi itu masih ada, hangat, menggelitik.
Dia berbaring, menatap langit-langit. Napasnya masih agak cepat.
“Dia cuma murid… dia cuma murid…” gumamnya berulang-ulang.
Tapi malam itu, saat matanya terpejam, bayangan Aji muncul lagi—senyumnya, tatapannya, sentuhan jempolnya.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Ica tidak langsung tidur.
Dia membiarkan tangannya turun pelan ke perut, lalu lebih bawah lagi—hanya menyentuh ringan, tapi cukup untuk membuat napasnya tersengal.
7483Please respect copyright.PENANAoR9w2kMZFW
Angin bertiup lebih kencang, membawa aroma hujan yang belum turun. Ica tiba pukul 19:31, sedikit terlambat karena macet di simpang Jatingaleh. Dia memakai cardigan tipis warna abu muda di atas blouse putih lengan pendek, rok span hitam yang sama, dan sepatu flat. Rambutnya dibiarkan terurai sepenuhnya malam ini—dia bilang pada diri sendiri karena malas mengikat, tapi sebenarnya ada bagian kecil di hatinya yang ingin terlihat lebih lembut.
Pintu terbuka sebelum bel ditekan. Aji berdiri di sana, memakai kemeja flanel biru tua lengan digulung sampai siku, celana jogger hitam, dan rambutnya sedikit acak-acakan seperti baru saja bangun dari tidur siang. Matanya langsung menangkap rambut terurai Ica.
“Bu Ica… malam ini beda ya,” katanya pelan, suaranya hampir seperti hembusan angin. “Rambutnya lepas gini… cantik banget.”
Ica merasa pipinya langsung panas. Dia menunduk sebentar, pura-pura merapikan tas.
“Biasa aja, Ji. Yuk naik, mulai pelajaran.”
Mereka naik tangga dalam diam. Di ruang belajar, AC sudah menyala, tapi malam ini Aji memasang lampu meja kuning hangat di samping lampu utama—cahaya jadi lebih lembut, tidak terlalu terang, seperti ruangan yang sedang bersiap untuk obrolan panjang.
Di meja, bukan hanya buku dan laptop yang tersedia. Ada dua gelas teh hangat dengan irisan lemon tipis mengapung di permukaan, dan sebungkus cokelat batangan kecil yang sudah dibuka separuh.
“Bu suka cokelat nggak? Saya ambil dari lemari ibu. Katanya bagus buat mood,” kata Aji sambil duduk dan mendorong gelas teh ke arah Ica.
Ica tersenyum kecil, tapi jantungnya sudah mulai berdegup lebih cepat.
“Kamu ini… makin hari makin kayak pacar yang lagi nge-date, bukan murid yang lagi les.”
Aji tertawa pelan, tapi matanya tidak ikut tertawa—matanya serius, dalam.
“Kalau Bu Ica nggak keberatan, saya sih mau aja jadi yang itu… setidaknya malam ini.”
Kalimat itu keluar begitu saja, ringan tapi berat maknanya. Ica menelan ludah, tangannya memegang gelas teh lebih erat supaya tidak terlihat gemetar.
“Kita… mulai pelajaran aja ya,” katanya cepat, membuka laptop.
Mereka bahas integral parsial seperti biasa. Ica menjelaskan rumus ∫ u dv = uv - ∫ v du dengan sabar. Aji mencatat, tapi malam ini dia lebih sering menatap wajah Ica daripada kertas. Setiap kali Ica menoleh untuk memastikan dia mengerti, tatapan mereka bertemu lebih lama—beberapa detik yang terasa seperti menit.
Saat Ica membungkuk untuk menulis contoh panjang di buku catatan bersama, rambutnya jatuh lagi ke depan. Kali ini Aji tidak diam saja. Dia mengulurkan tangan pelan, menyisir rambut Ica ke belakang telinga dengan jari telunjuk dan jempol—gerakan lembut, hampir seperti belaian.
Ica membeku. Napasnya tertahan. Sentuhan itu hangat, ringan, tapi seperti listrik kecil yang menyambar dari telinga sampai ke dada. Dia tidak menarik kepala, hanya menatap kertas di depannya dengan mata yang mulai berkaca-kaca karena campuran malu dan sesuatu yang lebih dalam.
“Maaf, Bu… rambutnya ganggu,” bisik Aji, suaranya rendah, dekat sekali dengan telinga Ica.
Ica mengangguk kecil, tidak berani menoleh.
“Terima kasih…”
Mereka lanjut, tapi suasana sudah berubah total. Setiap kali Aji bertanya, suaranya lebih pelan, lebih intim. Setiap kali Ica menjelaskan, dia merasa tatapan Aji seperti menyentuh kulitnya.
Pukul 20:45, Ica menutup laptop. Napasnya sudah tidak stabil.
“Cukup ya hari ini. Besok kita review semua materi minggu ini. Kerjain delapan soal ini, yang terakhir aplikasi luas daerah.”
Dia menyodorkan lembar soal. Aji mengambilnya, tapi kali ini tangannya tidak langsung melepaskan. Jari-jarinya melingkari pergelangan tangan Ica pelan sekali, seperti memegang gelang yang tak terlihat. Ica tidak menarik tangan. Dia membiarkan, hanya menatap tangan mereka yang bersentuhan.
“Bu Ica…” panggil Aji pelan.
Ica menatap ke atas. Mata mereka bertemu lagi. Ruangan terasa lebih kecil, udara lebih tebal.
“Kalau… kalau malam ini hujan deras, Bu mau pulang nggak?” tanya Aji, suaranya hampir bergetar.
Ica menelan ludah. Di luar jendela, angin mulai menderu lebih kencang. Petir menyambar samar-samar di kejauhan.
“Kalau hujan deras… mungkin aku nunggu reda dulu,” jawab Ica pelan, suaranya hampir tak terdengar.
Aji tersenyum kecil—senyum yang hangat, bukan nakal. Dia melepaskan tangan Ica perlahan, tapi jarinya sempat mengusap punggung tangan Ica sekali lagi sebelum benar-benar lepas.
“Aku harap hujan deras malam ini, Bu,” katanya sambil berdiri mengantar Ica turun.
Di tangga, Aji berjalan di samping Ica—bukan di belakang lagi. Bahu mereka hampir bersentuhan setiap langkah. Saat sampai di teras, langit sudah mulai meneteskan hujan kecil-kecil.
Ica mengenakan helm, tapi tangannya ragu-ragu di stang motor. Aji berdiri dekat sekali, tangannya memegang gagang pintu.
“Bu… hati-hati ya. Kalau hujan makin deras, balik lagi aja ke sini. Pintu selalu terbuka buat Bu.”
Ica menatap Aji dari balik visor helm. Matanya basah—bukan karena hujan, tapi karena sesuatu yang mulai meluap di dada.
“Makasih, Ji… malam ini… terima kasih untuk semuanya.”
Aji mengangguk pelan.
“Besok malam… aku tunggu ya, Bu.”
Ica menyalakan motor, melaju pelan keluar pagar. Hujan mulai deras di tengah jalan. Dia basah kuyup saat sampai apartemen, tapi tidak langsung masuk kamar mandi. Dia berdiri di balkon kecil, membiarkan hujan membasahi wajahnya.
Tangan kirinya memegang pergelangan tangan kanan—tempat Aji tadi memegang. Sensasi hangat itu masih ada, bercampur dingin air hujan.
Malam itu, Ica tidak bisa tidur cepat. Dia berbaring di kasur, memeluk guling, tapi pikirannya penuh dengan Aji: sentuhan di rambut, pegangan di pergelangan, tatapan yang hangat, kalimat “aku harap hujan deras malam ini”.
Deg-degan itu tidak lagi kecil.
Sekarang sudah seperti ombak yang mulai naik, pelan tapi pasti.
7483Please respect copyright.PENANAKpmuZvr2Hd
Ica tiba pukul 19:42—terlambat hampir 12 menit karena jalanan banjir kecil di beberapa titik. Motornya basah kuyup, cardigan abu mudanya menempel di kulit, rambut terurai lengket di leher dan bahu. Dia terlihat lebih… rapuh malam ini, tapi juga lebih nyata.
Pintu sudah terbuka lebar saat dia sampai di teras. Aji berdiri di ambang, memegang handuk kecil berwarna putih bersih.
“Bu… masuk cepet, kedinginan kan,” katanya langsung, suaranya lembut tapi penuh perhatian. Dia langsung mengulurkan handuk itu.
Ica mengambil handuk, menutup mulutnya sebentar karena malu melihat dirinya yang basah seperti anak kucing kecebur got.
“Makasih, Ji… maaf telat, macet parah tadi.”
Aji menggeleng pelan, matanya menelusuri wajah Ica yang basah—bukan dengan tatapan nakal, tapi dengan tatapan yang hangat, hampir protektif.
“Nggak apa-apa, Bu. Saya udah nunggu dari tadi. Ayo naik, saya ambil baju kering dulu buat Bu.”
Ica ingin protes, tapi dingin yang merayap ke tulang membuatnya mengangguk saja. Mereka naik tangga, Aji berjalan di depan kali ini, sesekali menoleh memastikan Ica tidak tergelincir di lantai marmer yang licin karena air hujan yang menetes dari bajunya.
Di ruang belajar, AC dimatikan. Lampu meja kuning hangat menyala sendirian, membuat ruangan terasa lebih kecil, lebih intim. Di sofa panjang di sudut, sudah disiapkan selimut tebal dan satu set pakaian ganti: kaus oversize abu-abu milik Aji dan celana pendek olahraga yang bersih.
“Pakai ini dulu, Bu. Kausnya besar, tapi kering. Celananya… ya lumayan lah,” kata Aji sambil menunjuk sofa. “Saya tunggu di bawah ya, ganti dulu.”
Ica mengangguk, pipinya memerah. Saat Aji keluar dan menutup pintu pelan, dia berdiri sendirian di ruangan itu. Hujan di luar semakin deras, petir menyambar lagi. Dia melepas cardigan basah, blouse putih yang sudah tembus pandang karena air, rok span yang lengket. Tubuhnya terasa dingin, tapi jantungnya panas.
Dia memakai kaus Aji—besar sekali, lengan panjangnya menjuntai sampai siku, baunya… baunya Aji. Sabun mandi citrus ringan, sedikit keringat segar dari latihan basket sore tadi, dan sesuatu yang maskulin yang membuat perut Ica bergetar pelan. Celana pendeknya agak longgar, tapi dia tidak peduli.
Saat Aji kembali masuk dengan dua gelas cokelat panas, dia berhenti di pintu sejenak. Matanya melebar melihat Ica yang duduk di sofa, rambut masih basah setengah, kausnya kebesaran sampai menutupi hampir separuh paha, kaki telanjang menyilang di bawah selimut.
“Bu… cocok banget,” katanya pelan, suaranya serak sedikit.
Ica menunduk, memainkan ujung kaus.
“Maaf… bajuku basah semua. Nanti aku kembalikan besok.”
Aji mendekat, meletakkan gelas di meja kecil di depan sofa, lalu duduk di sisi lain sofa—jarak sekitar satu meter, tapi terasa dekat sekali karena ruangan yang redup dan hujan yang menggelegar.
“Malam ini… nggak usah belajar dulu ya, Bu?” tanyanya lembut. “Hujan gini, fokusnya susah. Kita ngobrol aja.”
Ica menatap gelas cokelat panas di tangannya. Uapnya naik menyentuh hidung, manis dan hangat.
“Ngobrol apa?”
Aji menarik napas dalam, lalu bergeser sedikit lebih dekat—sekarang jarak tinggal setengah meter.
“Soal Bu Ica. Kenapa Bu masih single? Orang secantik Bu, pasti banyak yang ngejar.”
Ica tertawa kecil, tapi tawanya getir.
“Pernah pacaran lama, empat tahun. Akhirnya dia pilih karir di luar kota, nikah sama orang lain. Sejak itu… ya gini. Fokus kerja, les, nabung. Nggak mikir yang lain.”
Aji diam sejenak, matanya menatap Ica dalam-dalam.
“Kalau sekarang… ada yang ngejar lagi, Bu mau kasih kesempatan nggak?”
Pertanyaan itu menggantung di udara seperti petir yang belum meledak. Ica menatap Aji, mata mereka bertemu lama sekali. Hujan di luar seperti soundtrack yang sempurna—deras, tak henti, menutup dunia luar.
“Ji… kamu tahu kan umur kita beda berapa?” bisik Ica, suaranya gemetar.
Aji mengangguk pelan.
“Tahu. Sebelas tahun. Tapi perasaan nggak kenal umur, Bu.”
Dia bergeser lagi—kini jarak tinggal beberapa senti. Tangan Aji terulur pelan, menyentuh punggung tangan Ica yang memegang gelas. Jari-jarinya dingin karena AC tadi, tapi hangat karena sentuhan itu sendiri.
Ica tidak menarik tangan. Malah, tanpa sadar, jarinya membuka sedikit, membiarkan jari Aji menyusup di sela-sela jarinya. Mereka saling menggenggam pelan—tidak erat, tapi cukup untuk merasakan denyut nadi masing-masing.
“Bu… aku nggak minta apa-apa sekarang. Cuma… boleh nggak aku pegang tangan Bu kayak gini, malam ini aja?” tanya Aji, suaranya hampir berbisik.
Ica menutup mata sejenak. Air mata hampir jatuh—bukan karena sedih, tapi karena sesuatu yang sudah lama terkunci di dada mulai terbuka.
“Boleh…” jawabnya pelan sekali.
Aji menggeser tubuh lebih dekat lagi. Bahu mereka bersentuhan. Ica merasakan panas tubuh Aji melalui kaus tipis itu. Aroma Aji semakin kuat—citrus, sabun, dan sesuatu yang membuat kepala Ica ringan.
Mereka diam lama, hanya saling genggam tangan, mendengar hujan, mendengar napas masing-masing yang semakin tidak stabil.
Aji perlahan mengangkat tangan Ica, membawanya ke bibirnya. Dia mencium punggung tangan Ica pelan sekali—ciuman ringan, hangat, penuh hormat. Ica tersentak kecil, tapi tidak menarik tangan. Malah matanya terbuka, menatap Aji dengan pandangan yang sudah tidak lagi bisa menyembunyikan apa pun.
“Ji…” panggil Ica, suaranya hampir pecah.
Aji menatap balik, mata mereka hanya berjarak beberapa senti sekarang.
“Bu… boleh aku deketin lebih lagi?”
Ica tidak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya mengangguk kecil, hampir tak terlihat.
Aji mendekatkan wajahnya pelan sekali. Hidung mereka hampir bersentuhan. Napas Aji menyapu bibir Ica—hangat, manis dari cokelat tadi. Ica menutup mata lagi, jantungnya seperti mau loncat keluar.
Tapi sebelum bibir mereka bertemu, Aji berhenti. Dia mundur sedikit, menatap Ica dengan mata penuh pertanyaan.
“Bu… aku nggak mau Bu nyesel,” bisiknya.
Ica membuka mata, menatap Aji lama. Lalu, dengan tangan yang masih digenggam, dia menarik Aji lebih dekat—hanya sedikit, tapi cukup sebagai jawaban.
Mereka tidak berciuman malam itu.
Hanya saling pandang, saling genggam tangan lebih erat, saling merasakan napas yang semakin dekat.
Tapi itu sudah lebih dari cukup untuk membuat dada Ica penuh—penuh dengan deg-degan, rasa takut, rasa ingin, dan sesuatu yang mirip… harapan.
7483Please respect copyright.PENANAz3XzR3F9sh
7483Please respect copyright.PENANANwOwE9VOJX
7483Please respect copyright.PENANAHy1t5PzJAr
7483Please respect copyright.PENANAmOxFG5Uv0U
7483Please respect copyright.PENANAQVx6cJms0Q
7483Please respect copyright.PENANAPadHHyUYGg
7483Please respect copyright.PENANAsdWY3bRCUj
7483Please respect copyright.PENANAjDUOtq1146
7483Please respect copyright.PENANAn8fJB3sF7X
7483Please respect copyright.PENANApnumwC7n0o
7483Please respect copyright.PENANAL5tbNP9Kw4
7483Please respect copyright.PENANA1twH6qnlvk
7483Please respect copyright.PENANAcsEWDoqrfG
7483Please respect copyright.PENANAYkftcJoN32
7483Please respect copyright.PENANAuVkNb8Xfjn
7483Please respect copyright.PENANAychNUGfMxC
7483Please respect copyright.PENANA6lPIRQI7HK
7483Please respect copyright.PENANAqZnSMZYjcH
7483Please respect copyright.PENANARea8H1SojF
7483Please respect copyright.PENANA3ereivxqBU
7483Please respect copyright.PENANA0S8aHJCo6W
7483Please respect copyright.PENANAp83TsnMYsd
7483Please respect copyright.PENANAiPguD1w1e9
7483Please respect copyright.PENANAxr7d9mAWjt
7483Please respect copyright.PENANAqNiX9xZSZC
7483Please respect copyright.PENANACSeuKrx2pP
7483Please respect copyright.PENANA5trNGbP0AR
7483Please respect copyright.PENANAsvuO1DbWOD
7483Please respect copyright.PENANAuWaQeUTotd
7483Please respect copyright.PENANAhm6ACFHIsQ
7483Please respect copyright.PENANAWT8jqaq7lZ
7483Please respect copyright.PENANA29TEizeFzd
7483Please respect copyright.PENANA4E4yivacKm
7483Please respect copyright.PENANAQa6ECUuhl6
7483Please respect copyright.PENANAlMWL2mDXrH
7483Please respect copyright.PENANA5s5go7EZm1
7483Please respect copyright.PENANAlELBrZ5DbK
7483Please respect copyright.PENANANDeoYjx9Fq
7483Please respect copyright.PENANA3zHzVnTWTy
7483Please respect copyright.PENANAu8XAhhtE06
7483Please respect copyright.PENANAu99SNANPyM
7483Please respect copyright.PENANA9i0gnMWCth
7483Please respect copyright.PENANAABFLCrHLB9
7483Please respect copyright.PENANAwGp4EUApzI
7483Please respect copyright.PENANAOZB46k4SFk
7483Please respect copyright.PENANA8bsz5Ejtqz
7483Please respect copyright.PENANAp5WOt4XjTD
7483Please respect copyright.PENANAwB7GMJeUge
7483Please respect copyright.PENANACRT4S4FEvB
7483Please respect copyright.PENANAUgKzb1q2Ly
7483Please respect copyright.PENANA8WnVhrQK3X
7483Please respect copyright.PENANAoupnU71iXb
7483Please respect copyright.PENANAqhyGdjoCKV
7483Please respect copyright.PENANA6CRQjAv6P5
7483Please respect copyright.PENANAu1GCjZSEaz
7483Please respect copyright.PENANAAOVd8IX42C
7483Please respect copyright.PENANAPaIBxyAHYt
7483Please respect copyright.PENANAhKoovHIdr5
7483Please respect copyright.PENANA0U6py2v7qw
7483Please respect copyright.PENANARaLMRUZ8IE
7483Please respect copyright.PENANAm7IU4hn6WS
7483Please respect copyright.PENANA03oh9jdNFO
7483Please respect copyright.PENANAkN8AsZZNm6
7483Please respect copyright.PENANAYqqSxdka50
7483Please respect copyright.PENANAXhIY73DnA6
7483Please respect copyright.PENANAmbyJW3j2t4
7483Please respect copyright.PENANAJzy57lD0CM
7483Please respect copyright.PENANAjExgOzb2L5
7483Please respect copyright.PENANA1fLNntJwbN
7483Please respect copyright.PENANA0rdsr6Q0AK
7483Please respect copyright.PENANAJAvAhe0ruh
7483Please respect copyright.PENANADRVw9x3MPt
7483Please respect copyright.PENANA6XJUpKXL3p
7483Please respect copyright.PENANAUH3qmYhneM
7483Please respect copyright.PENANAa0LbeiOzUR
7483Please respect copyright.PENANAP9NUWNAIFr
7483Please respect copyright.PENANAEticZpBvdP
7483Please respect copyright.PENANA9XFbvBALx5
7483Please respect copyright.PENANAZg6yv6qA5i
7483Please respect copyright.PENANAMveN5Byk2s
7483Please respect copyright.PENANA0i7iKCAfzO
7483Please respect copyright.PENANAIjwZ0Dfz7O
7483Please respect copyright.PENANATMbHc1SRbf
7483Please respect copyright.PENANAYyBzvyPm63
7483Please respect copyright.PENANAlmTuOJvVCP
7483Please respect copyright.PENANA3DexKu4i8U
7483Please respect copyright.PENANAyGzoSiPzmb
7483Please respect copyright.PENANA3JchIHZoMX
7483Please respect copyright.PENANAf5Ds5cCKD4
7483Please respect copyright.PENANAGqmIDRlMC2
7483Please respect copyright.PENANAJ1ssve8ePo
7483Please respect copyright.PENANAYMZERAPVuj
7483Please respect copyright.PENANAt7HV1cqYmZ
7483Please respect copyright.PENANAmRv9mvbGC6
7483Please respect copyright.PENANAtir9LoeEvd
7483Please respect copyright.PENANABpVljPuktL
7483Please respect copyright.PENANA7iK8CwQuAT
7483Please respect copyright.PENANAd5yXNnK9cQ
7483Please respect copyright.PENANAGiCUYoTpRI
7483Please respect copyright.PENANANdSnpTBSwc
7483Please respect copyright.PENANAitGzbbHYhO
KELANJUTANYA DI LINK🔗 DI BAWAH
https://lynk.id/cukupkita


