Namaku Arga. Umur 21 tahun, mahasiswa semester akhir di salah satu kampus swasta di Semarang, tapi rumah tetap di Kudus karena nggak mau kos. Aku anak tunggal, Ayah kerja di perusahaan minyak yang bikin dia bolak-balik luar kota sejak aku SMA. Pulang cuma sebulan sekali atau pas Lebaran. Jadi rumah besar ini sebenarnya cuma ada aku sama Ibu. Bu Rina. Umur 42 tahun, tapi kalau orang liat sering salah sangka dia masih akhir 30-an.
19687Please respect copyright.PENANAkOh5vmgSVH
Hari itu hujan deras banget. Jam setengah enam sore, langit gelap kayak malam, angin bawa bau tanah basah masuk lewat jendela dapur yang setengah terbuka. Aku baru pulang dari kampus, kaos polo abu-abu basah kuyup di pundak sama dada. Tas ransel kulempar di lantai ruang tamu, sepatu sneakers dilepas pakai kaki sambil jalan ke dapur.
19687Please respect copyright.PENANAZmQcANxxw6
“Ibuuu… Arga pulang!” teriakku sambil buka kulkas langsung nyari air dingin.
19687Please respect copyright.PENANAm6Ifng0gqn
Dari ruang keluarga terdengar suara lembut yang sudah ribuan kali aku dengar.
19687Please respect copyright.PENANATTS16KSSn4
“Masuk dulu, ganti baju. Nanti masuk angin, Arga.”
19687Please respect copyright.PENANAUinwlCifuc
Itu Ibu. Bu Rina. Tinggi semampai, kulit putih kuning khas orang Jawa yang jarang kena matahari, rambut hitam lurus sebahu selalu diikat ponytail sederhana. Badannya proporsional—pinggang ramping, bokong bulat penuh, payudara ukuran 36C yang selalu terlihat berat meski pakai baju rumah longgar. Dia tipe ibu rumah tangga yang selalu rapi meski cuma di rumah: kaos polos longgar sama legging hitam atau celana pendek kain.
19687Please respect copyright.PENANA5pu1wm5T7w
Aku ambil segelas air es, minum setengah, baru sadar ada suara ketawa pelan dari ruang tamu.
19687Please respect copyright.PENANAWRmFy4Y2zh
“Eh, ada tamu ya, Bu?”
19687Please respect copyright.PENANAOhAOVhZut3
“Iya. Mas Dimas datang.”
19687Please respect copyright.PENANAbB1OddUves
Jantungku langsung lompat kecil. Dimas. Teman SD sampe kuliah, beda jurusan tapi masih sering ketemu. Dia satu-satunya orang yang bisa masuk rumah ini sesuka hati tanpa permen apa yang besar. Ayah jarang pulang, jadi Dimas sering mampir. Katanya numpang wifi, katanya ngerjain tugas bareng, katanya kangen masakan Tante Rina.
19687Please respect copyright.PENANAm0Vy6icTHM
Tapi aku tahu. Aku tahu banget.
19687Please respect copyright.PENANALg5Cd6g4Hl
Aku tahu caranya Dimas ngeliatin Ibu waktu Ibu lagi nyanyi kecil sambil nyapu halaman. Aku tahu caranya Ibu pura-pura nggak sadar tapi pipinya merah. Aku tahu caranya mereka ketawa kecil pas aku ke kamar mandi sebentar. Dan aku… benci diri sendiri karena malah nggak marah. Malah penasaran. Malah pengen tahu lebih jauh.
19687Please respect copyright.PENANA3cHIz7mMuT
Aku masuk ruang tamu bawa gelas.
19687Please respect copyright.PENANAv2fNKHhteQ
“Yo, bro. Lagi ngapain lo di sini? Lagi-lagi numpang makan ya?”
19687Please respect copyright.PENANAAwZ7YJ5gnN
Dimas duduk santai di sofa panjang, kaki selonjor, remot TV di tangan sambil nyalain Netflix. Kaos hitam polos, celana pendek olahraga. Badannya lebih berotot dari aku—dia rutin gym sama futsal. Rambut cepak rapi, kulit sawo matang, senyum lebar yang bikin cewek-cewek di kampus sering lirik.
19687Please respect copyright.PENANAXyztslxUW0
“Eh, Arga pulang. Gue cuma nemenin Tante bentar. Hujan deras banget, males balik kos.”
19687Please respect copyright.PENANAWdcyH2uWoB
Ibu keluar dari dapur bawa nampan kecil: teh hangat sama pisang goreng masih ngepul.
19687Please respect copyright.PENANAqpD9ZLz57W
“Ini, diminum dulu. Dingin banget badan kamu, Mas Dimas. Dari tadi basah kuyup.”
19687Please respect copyright.PENANABlIMUbnlMv
Waktu Ibu membungkuk meletakkan nampan, kaos rumahannya longgar ke depan sedikit terbuka. Bra hitam renda tipis membungkus payudara penuhnya. Bentuk bulat sempurna, berat, puting samar tercetak karena dingin—cokelat muda, lingkaran areola kecil rapi.
19687Please respect copyright.PENANATWGfLyqceL
Dimas ngeliat ke situ. Cuma sepersekian detik. Matanya melebar, lalu cepat balik ke TV.
19687Please respect copyright.PENANAyy0l65piam
“Makasih, Tante. Wanginya enak banget pisang gorengnya.”
19687Please respect copyright.PENANAwbqImu7yI2
Ibu tersenyum. Senyum lembut, mata sipit di ujung, gigi depan rapi, bibir tebal alami merah muda tua.
19687Please respect copyright.PENANAdI5Ggo2IMS
“Masih hangat. Makan selagi panas ya.”
19687Please respect copyright.PENANAqA9VyGQ1wU
Dia duduk di sofa sebelah Dimas—jarak cuma satu bantal. Lutut Ibu hampir nyentuh paha Dimas yang terbuka karena celana pendek naik.
19687Please respect copyright.PENANARZayD5VfQb
Aku duduk di kursi single sebelah, buka HP, scroll Instagram sambil sesekali lirik.
19687Please respect copyright.PENANAgNdpR0Iy8K
“Eh, tadi Tante cerita, dulu pas SMA Tante suka banget nonton konser band indie ya?” tanya Dimas.
19687Please respect copyright.PENANAPpzcsLHQC1
Ibu ketawa kecil.
19687Please respect copyright.PENANAHUBHvVJ8UW
“Iya, band favorit Tante Superman Is Dead. Tante sering bolos les buat nonton mereka di kota.”
19687Please respect copyright.PENANAG8x1z3rapx
“Serius, Tante? Gue kira Tante tipe pendiam, nurut aturan.”
19687Please respect copyright.PENANAKQv5HHJW0p
“Ya dulu nakal juga,” jawab Ibu sambil nyengir. “Tapi cuma sama temen deket yang tahu.”
19687Please respect copyright.PENANAeCsiUldrNw
Dimas nyengir lebar. “Berarti sekarang Tante udah nggak nakal lagi dong?”
19687Please respect copyright.PENANA8W0jejgJEg
Ibu memandang Dimas lama. Tatapan dari samping, bibir melengkung tipis.
19687Please respect copyright.PENANAD0Gm0yk34E
“Siapa bilang?”
19687Please respect copyright.PENANAcaA9J2Lz6g
Satu kalimat itu kayak petir kecil nyambar ruangan.
19687Please respect copyright.PENANAYQWFT9xvRo
Aku batuk kecil, pura-pura minum air.
19687Please respect copyright.PENANAB8VVzFbvUm
“Eh, Arga mau ganti baju dulu. Basah nih.”
19687Please respect copyright.PENANAD6snD6t6Dj
Ibu menoleh. “Iya, cepet ganti. Nanti masuk angin.”
19687Please respect copyright.PENANAOf81qzOX7Q
Aku naik ke lantai atas, masuk kamar, tutup pintu. Tapi aku nggak ganti baju langsung. Aku berdiri di belakang pintu, telinga menempel ke celah. Pengen tahu apa yang mereka omongin pas aku nggak ada.
19687Please respect copyright.PENANARHUJHLJXyk
Suara Dimas pelan.
19687Please respect copyright.PENANA2IycCaZfeq
“Tante… serius tadi?”
19687Please respect copyright.PENANAz1KkncKieM
Suara Ibu lebih pelan, hampir bisik.
19687Please respect copyright.PENANAx8edH7m6VP
“Serius apa?”
19687Please respect copyright.PENANAqRHKBnfj4B
“Bahwa Tante… masih nakal.”
19687Please respect copyright.PENANAVHovOvfxSR
Jeda panjang.
19687Please respect copyright.PENANAg5i1EK1sfN
Lalu suara Ibu.
19687Please respect copyright.PENANA6ghKDu06hf
“Mungkin ada. Tapi… nggak semua sisi itu boleh keluar, Mas.”
19687Please respect copyright.PENANAgdUhSZm5UX
“Kenapa nggak boleh?”
19687Please respect copyright.PENANAAgVFhdhtQT
“Karena… nanti orang-orang terluka.”
19687Please respect copyright.PENANAQAAY0jNegK
Aku tahu “orang-orang” itu termasuk aku. Tapi bukannya marah, aku malah ngerasa panas aneh naik dari perut ke leher.
19687Please respect copyright.PENANAYu87eexek6
Aku akhirnya ganti baju. Turun lagi.
19687Please respect copyright.PENANAYzSBdj5PPJ
Mereka sudah nggak di sofa. TV nyala kecil. Suara dari dapur.
19687Please respect copyright.PENANA3l0KiA0THi
Ibu lagi cuci piring. Dimas bantuin nyeka piring pake lap.
19687Please respect copyright.PENANAyzuCO5ZwMZ
Mereka berdiri dekat banget. Punggung Ibu melengkung lembut waktu membungkuk bilas piring. Bokongnya bulat penuh di balik legging hitam tipis, garis celah terlihat jelas. Dimas ngeliat ke bawah. Sebentar. Tapi aku tahu.
19687Please respect copyright.PENANAIc7dUvkT99
“Udah malem nih,” kataku tiba-tiba.
19687Please respect copyright.PENANAG93mEQR6Uy
Dimas menoleh. “Oh iya, bro. Gue balik dulu ya.”
19687Please respect copyright.PENANADxvVvqknKI
Ibu menoleh. Pipinya agak merah.
19687Please respect copyright.PENANAivpFaTsjQq
“Mas Dimas hati-hati ya di jalan. Hujan masih deres.”
19687Please respect copyright.PENANAcFuOvFynS9
Dimas nyengir. “Makasih, Tante. Besok aku boleh mampir lagi nggak? Pengen makan soto Tante lagi.”
19687Please respect copyright.PENANAQHv1y6Yivg
Ibu tersenyum tipis. “Boleh. Pintu rumah ini selalu terbuka buat kamu.”
19687Please respect copyright.PENANArqWi0ypDzi
Kata-kata itu polos. Tapi nada di belakangnya… nggak polos.
19687Please respect copyright.PENANAdpPrbCW1jB
Dimas pamit. Aku antar sampai pagar. Motornya hidup, menjauh.
19687Please respect copyright.PENANASPX0falGJw
Pas balik masuk, Ibu sudah naik ke atas. Lampu dapur mati. Tinggal lampu teras sama lampu kamar Ibu menyala samar.
19687Please respect copyright.PENANAvmq4csW9eL
Aku berdiri di tangga bawah, ngeliat ke atas.
19687Please respect copyright.PENANAyIi0GjlcMN
Pintu kamar Ibu setengah terbuka. Suara air mengalir—dia lagi mandi.
19687Please respect copyright.PENANApG4xzfmgZa
Aku naik pelan. Bukan ngintip. Cuma pengen tahu.
19687Please respect copyright.PENANA03YU5d12ov
Suara air berhenti. Lalu Ibu nyanyi kecil. Lagu lama, “Cinta Dalam Hati” versi Ungu.
19687Please respect copyright.PENANAF4KZLz2gVC
“Aku tak bisa menahan… perasaan ini…”
19687Please respect copyright.PENANAY1yLLO3ZgV
Suara bergetar. Bukan dingin. Tapi karena sesuatu yang lain.
19687Please respect copyright.PENANAfOe2k94HhY
Aku balik ke kamar. HP bergetar. WA dari Dimas.
19687Please respect copyright.PENANAjqLfbZEzSV
Dimas:
“Bro, makasih ya hari ini. Tante baik banget.”
19687Please respect copyright.PENANAMjJaTtyVn1
Aku:
“Iya. Lo emang sering banget ke sini akhir-akhir ini.”
19687Please respect copyright.PENANAde4lXs9xxl
Dimas:
“Emang kangen sih. Kangen masakan Tante. Kangen ngobrol sama Tante.”
19687Please respect copyright.PENANAjdoSGOooaF
Aku nggak bales lagi.
19687Please respect copyright.PENANAGmUJAd336T
Malam itu aku berbaring di kasur, mata nggak bisa merem.
19687Please respect copyright.PENANAk2DowYfnHx
Di kepalaku muter terus: tatapan Dimas ke bra Ibu, bokong Ibu waktu membungkuk, senyum Ibu yang beda.
19687Please respect copyright.PENANA09ldmtc4LU
Dan suara nyanyian Ibu tadi.
19687Please respect copyright.PENANAO1B6UIiUxt
“Aku tak bisa menahan… perasaan ini…”
19687Please respect copyright.PENANAdrDpd92ius
Pagi berikutnya aku bangun dengan kepala berat, seperti ada kabut tipis yang nggak mau hilang dari pikiran. Jam di HP menunjukkan pukul 07:18. Sabtu, nggak ada kuliah. Badan terasa lengket meski AC nyala semalaman. Aku turun ke bawah masih pakai kaos oblong sama boxer tidur, bau kopi hitam sudah tercium dari dapur.
19687Please respect copyright.PENANANPFVj79wiJ
Ibu lagi berdiri di depan kompor, punggung menghadap pintu. Dia pakai daster tipis warna biru muda yang bahan katunnya agak tembus pandang kalau kena sinar matahari pagi dari jendela belakang. Rambut masih basah setelah mandi, diikat handuk kecil di atas kepala. Lehernya putih mulus, ada setetes air mandi yang mengalir pelan dari tengkuk ke tulang selangka, lalu hilang di balik kerah daster yang agak rendah.
19687Please respect copyright.PENANAOEglbjhXyJ
“Pagi, Arga,” katanya tanpa menoleh. Suaranya lembut seperti biasa, tapi ada nada hangat yang beda hari ini.
19687Please respect copyright.PENANAzDspC01IGM
“Pagi, Bu. Mau sarapan apa?”
19687Please respect copyright.PENANAUltXLvnvvc
Ibu menoleh. Senyumnya pagi ini terasa lebih… dalam. Pipinya agak merona, mungkin karena uap panci atau karena sesuatu yang lain.
19687Please respect copyright.PENANAqbRBDhvYbh
“Wah, anak ibu lagi mager nih. Nanti ibu bikin telur dadar keju sama roti bakar aja ya. Kopi mau?”
19687Please respect copyright.PENANAZ4FaqSQa3U
“Iya, Bu. Hitam, nggak pake gula.”
19687Please respect copyright.PENANAGXRAUa0xAC
Dia balik lagi ke kompor. Aku perhatiin gerakannya. Cara dia mengaduk telur di wajan, lengan naik-turun pelan, membuat daster bergoyang di bagian dada. Payudaranya bergerak lembut mengikuti irama—tanpa bra pagi ini, putingnya samar tercetak di kain tipis, dua titik kecil yang mengeras karena udara pagi dingin. Bentuknya bulat sempurna, berat tapi kencang, ukuran yang selalu bikin orang salah sangka Ibu masih muda.
19687Please respect copyright.PENANAzG86DpfgdA
Aku duduk di kursi makan, tarik napas dalam. Pikiranku balik ke malam tadi. Tatapan Dimas ke bra Ibu. Bokong Ibu waktu membungkuk di dapur. Senyum Ibu yang beda. Pesan Dimas yang nggak aku bales.
19687Please respect copyright.PENANAPxLaeC7xiM
Tiba-tiba HP bergetar di meja. Notif WA.
19687Please respect copyright.PENANASdSCbxroMR
Dimas:
“Pagi bro. Tante udah bangun belum? Gue mau mampir bentar, bawa oleh-oleh klepon sama getuk dari warung Bu RT.”
19687Please respect copyright.PENANAyHBMq6NZGR
Aku baca dua kali. Jantung mulai berdegup agak kencang lagi.
19687Please respect copyright.PENANAh8WNHZYDx5
Aku bales singkat.
19687Please respect copyright.PENANAJDrRn0mdXk
Arga:
“Udah. Lagi masak sarapan. Mampir aja.”
19687Please respect copyright.PENANApGsA9BSMVa
Dimas langsung balas.
19687Please respect copyright.PENANAH1syC0AUoQ
Dimas:
“Oke. 15 menit gue sampe.”
19687Please respect copyright.PENANAFt4OwEGcCM
Aku taruh HP. Ibu lagi nyusun piring.
19687Please respect copyright.PENANARAEhLpJt6F
“Ada Dimas mau mampir, Bu. Bawa makanan.”
19687Please respect copyright.PENANADhHXzouYUP
Ibu berhenti sejenak. Sendok kayu di tangannya diam di udara.
19687Please respect copyright.PENANAMgjfntXWMA
“Oh… iya? Cepet banget dia datang lagi.”
19687Please respect copyright.PENANA4EzVsrJ5PL
Nada suaranya nggak marah. Malah ada sedikit… senang yang tersembunyi.
19687Please respect copyright.PENANA1Vmq0rltDW
“Emangnya kenapa, Bu? Biasa kan dia sering ke sini.”
19687Please respect copyright.PENANAt0iLJtm6Ax
Ibu tersenyum kecil, balik fokus ke wajan.
19687Please respect copyright.PENANATbtelaLVD2
“Iya sih. Cuma… ibu seneng aja. Rumah jadi rame.”
19687Please respect copyright.PENANAGiZhqMucPC
Dia meletakkan piring di depanku. Waktu membungkuk, kerah daster terbuka sedikit lebih lebar. Aku lihat lekuk payudaranya dari atas—putih lembut, garis vena biru samar di samping, puting cokelat muda menonjol karena dingin.
19687Please respect copyright.PENANARUwWYzul64
Aku cepat-cepat ambil sendok, pura-pura fokus makan.
19687Please respect copyright.PENANAWZGVICM5In
Ibu duduk di seberangku. Kakinya di bawah meja hampir nyentuh kakiku. Dia nggak sadar, atau pura-pura nggak sadar.
19687Please respect copyright.PENANAayl6UcHBl6
“Kamu kok diem aja dari tadi?” tanyanya sambil mengoles selai kacang di roti.
19687Please respect copyright.PENANALCagP51DkG
“Nggak apa-apa, Bu. Masih ngantuk.”
19687Please respect copyright.PENANA6CMQGLFJUP
Dia memandangku lama. Mata cokelat tua, bulu mata panjang alami.
19687Please respect copyright.PENANAoHiDc2Mrm0
“Kalau ada apa-apa bilang ya sama ibu. Jangan dipendem sendiri.”
19687Please respect copyright.PENANAVsrBYYIRZR
Aku mengangguk. Dalam hati pengen bilang:
“Bu, aku tahu ada sesuatu antara Ibu sama Dimas. Dan aku… entah kenapa nggak bisa marah. Malah pengen lihat lebih jauh.”
19687Please respect copyright.PENANAMzKuYrVYYf
Tapi tentu saja aku nggak bilang. Aku cuma senyum tipis.
19687Please respect copyright.PENANAAwezugLC0f
“Iya, Bu.”
19687Please respect copyright.PENANAbRScCYR2fp
Sepuluh menit kemudian bel rumah berbunyi. Ibu bangun duluan.
19687Please respect copyright.PENANAkNfq8MHUSq
“Aku buka pintu ya.”
19687Please respect copyright.PENANAzNAheyj85M
Dia jalan ke pintu depan. Daster biru mudanya bergoyang pelan mengikuti langkah. Bokongnya membulat lembut di balik kain tipis itu.
19687Please respect copyright.PENANADsOW7DVcBr
Aku ikut berdiri, ngintip dari sudut dapur.
19687Please respect copyright.PENANAnE4kTpYZHu
Dimas masuk sambil bawa dua kantong kresek.
19687Please respect copyright.PENANAG4ONxKpeIj
“Pagi Tante! Ini oleh-oleh dari Bu RT. Klepon sama getuk lindri masih hangat.”
19687Please respect copyright.PENANA5blR4QWOm1
Ibu tersenyum lebar. Pipinya langsung merona lagi.
19687Please respect copyright.PENANAFVphf2KaXj
“Wah, makasih banyak, Mas. Masuk dulu, sarapan bareng.”
19687Please respect copyright.PENANAOYliftxSH8
Dimas melirik ke arahku.
19687Please respect copyright.PENANAUldcqpcnRr
“Eh bro, lo udah sarapan?”
19687Please respect copyright.PENANAYPb99LjJFV
“Baru mulai,” jawabku datar.
19687Please respect copyright.PENANAjbLpSNRTQF
Dia masuk, taruh kantong di meja, lalu duduk di sebelah Ibu. Bukan di seberang. Di sebelah.
19687Please respect copyright.PENANAlNc43Iflx8
Ibu ambil piring tambahan, nyuapin klepon ke piring kecil.
19687Please respect copyright.PENANAZC3uZqm9Hs
“Ini masih hangat. Cobain dulu.”
19687Please respect copyright.PENANAdBo2KRWlfH
Dimas ambil satu, masukin ke mulut. Matanya melebar.
19687Please respect copyright.PENANAlq4k8jAJbr
“Enak banget! Tante harus belajar bikin klepon dari Bu RT nih.”
19687Please respect copyright.PENANAHzJASnJKLo
Ibu ketawa kecil.
19687Please respect copyright.PENANAZWM8Jg9uIz
“Ibu bisa kok. Cuma males aja ngulek kelapa parutnya.”
19687Please respect copyright.PENANAVm4yB4h7Bf
Mereka ngobrol ringan. Cuaca, harga beras, tetangga baru beli mobil. Tapi aku notice sesuatu.
19687Please respect copyright.PENANAMC5i88Vb2B
Cara Dimas ngeliat Ibu. Matanya sering turun ke leher, ke dada, ke tangan Ibu waktu narik rambut jatuh ke depan. Dan Ibu… nggak menutup kerah daster. Malah kadang membungkuk sedikit waktu ngambil sesuatu dari meja, membuat lekuk payudaranya terlihat lebih jelas.
19687Please respect copyright.PENANAS3ZKKLOsfK
Aku ngerasa panas di telinga. Bukan cemburu biasa. Lebih ke campuran aneh antara malu, penasaran, dan sesuatu yang bikin perut bergetar.
19687Please respect copyright.PENANAJJmSqYDbrj
Setelah sarapan, Dimas bilang mau bantuin cuci piring. Ibu awalnya nolak, tapi Dimas ngotot.
19687Please respect copyright.PENANARPB7b4utPQ
“Ya udah, bantuin aja. Biar cepet.”
19687Please respect copyright.PENANACSXWJZDF70
Mereka berdua di depan wastafel. Aku duduk di meja makan, pura-pura scroll TikTok, tapi mata nggak lepas.
19687Please respect copyright.PENANAWiKyRrPR2g
Dimas berdiri di sebelah kiri Ibu. Bahunya nyaris nyentuh bahu Ibu. Waktu Ibu nyodorkan piring basah, tangan mereka bersentuhan. Lama. Jari Dimas melingkar sebentar di pergelangan tangan Ibu sebelum ambil piring.
19687Please respect copyright.PENANAGI16KP4BXb
Ibu nggak narik tangan. Dia cuma menoleh sedikit, senyum tipis.
19687Please respect copyright.PENANAImCus7iLmM
“Mas Dimas… hati-hati, licin.”
19687Please respect copyright.PENANARkYHSlEcS3
Dimas nyengir.
19687Please respect copyright.PENANAHYVby26JKz
“Iya Tante. Tapi tangan Tante lembut banget, nggak licin kok.”
19687Please respect copyright.PENANAivfaNHYiR1
Ibu ketawa pelan. Pipinya merah lagi.
19687Please respect copyright.PENANAtRegmc33TU
Aku bangun tiba-tiba.
19687Please respect copyright.PENANAI672YD4OY8
“Gue ke kamar dulu ya. Mau tiduran bentar.”
19687Please respect copyright.PENANAKmGmMNZdCr
Ibu menoleh.
19687Please respect copyright.PENANA8lW4o11xK9
“Jangan lama-lama, nanti masuk angin.”
19687Please respect copyright.PENANAkHyNBR93gy
Dimas cuma nyengir ke arahku.
19687Please respect copyright.PENANAS7YZt188ZW
“Tidur aja bro. Santai.”
19687Please respect copyright.PENANAwGTZWvTn8n
Aku naik ke atas. Tapi nggak masuk kamar. Aku berdiri di tangga atas, ngintip dari celah pagar anak tangga.
19687Please respect copyright.PENANAcV2K22iTTy
Mereka masih di dapur. Sekarang Ibu lagi nyeka meja. Dimas berdiri di belakangnya, pura-pura bantu angkat piring kering ke rak.
19687Please respect copyright.PENANAO3ycs3KaHk
Tapi aku lihat. Tangan Dimas menyentuh pinggang Ibu. Cuma sebentar. Kayak nggak sengaja. Tapi Ibu nggak menghindar. Malah badannya agak mundur sedikit, punggungnya hampir nyentuh dada Dimas.
19687Please respect copyright.PENANA6CzB7f5yKx
Mereka diam beberapa detik.
19687Please respect copyright.PENANAyVFGLBlCOh
Lalu Ibu berbalik pelan. Mereka saling berhadapan. Jarak cuma beberapa senti.
19687Please respect copyright.PENANANgUVVWulDi
“Mas Dimas…” suara Ibu pelan banget. “Kamu… kenapa sih akhir-akhir ini sering banget ke sini?”
19687Please respect copyright.PENANAiRdwlkjN4j
Dimas nggak langsung jawab. Matanya turun ke bibir Ibu, lalu naik lagi ke mata.
19687Please respect copyright.PENANAc6xa0KVtVd
“Karena aku suka ngeliat Tante senyum. Aku suka denger Tante cerita. Aku suka… deket sama Tante.”
19687Please respect copyright.PENANAi40UWzJnSP
Ibu menelan ludah. Dadanya naik-turun lebih cepat.
19687Please respect copyright.PENANAVwZBAJD6sM
“Itu… nggak boleh, Mas. Kamu tahu kan.”
19687Please respect copyright.PENANAIY1lLrAWuU
Dimas maju setengah langkah. Dada mereka hampir bersentuhan.
19687Please respect copyright.PENANANfUa3vqYc2
“Aku tahu. Tapi aku nggak bisa bohong sama perasaan sendiri, Tante.”
19687Please respect copyright.PENANALaBD9iyVRk
Ibu memandang Dimas lama. Matanya berkaca-kaca. Bukan sedih. Lebih ke campuran takut dan rindu.
19687Please respect copyright.PENANA8IgQ8nl8wr
“Kalau Arga tahu…”
19687Please respect copyright.PENANABetPCwnUjf
Dimas menggeleng pelan.
19687Please respect copyright.PENANADK4W0Zpeej
“Dia nggak akan tahu. Kita… bisa jaga.”
19687Please respect copyright.PENANAdzcxPODpi2
Ibu menunduk. Rambut setengah basah jatuh menutupi sebagian wajah.
19687Please respect copyright.PENANAxtXC8J6en6
“Mas Dimas… aku ibunya temenmu.”
19687Please respect copyright.PENANAdvUAh0HmTO
Dimas angkat tangan kanannya pelan, menyentuh dagu Ibu, mengangkat wajahnya supaya saling tatap lagi.
19687Please respect copyright.PENANAwwpIXEwi3v
“Justru karena itu… aku nggak bisa berhenti mikirin Tante.”
19687Please respect copyright.PENANA7KIBt9D6uM
Mereka diam lagi. Lama.
19687Please respect copyright.PENANAaa6H0pH2tK
Aku ngerasa jantung mau copot. Aku pengen teriak. Aku pengen turun dan nendang Dimas keluar. Tapi kakiku nggak gerak. Malah… aku ngerasa ada sesuatu yang keras di boxerku. Aku malu sendiri.
19687Please respect copyright.PENANA5kwANOczIX
Akhirnya Ibu mundur satu langkah. Suaranya bergetar.
19687Please respect copyright.PENANAXvJod8MMDb
“Mas Dimas… pulang dulu ya hari ini. Ibu… butuh mikir.”
19687Please respect copyright.PENANAkpTV4dzNg9
Dimas mengangguk pelan. Matanya masih nggak lepas dari wajah Ibu.
19687Please respect copyright.PENANAqsqEzO9HOV
“Iya, Tante. Aku nggak mau maksa. Tapi… aku bakal balik lagi. Besok. Lusa. Sampai Tante bilang berhenti.”
19687Please respect copyright.PENANAvNdhyTTPmI
Ibu cuma mengangguk kecil. Nggak bilang apa-apa lagi.
19687Please respect copyright.PENANAxEhLkpkInX
Dimas pamit. Aku buru-buru masuk kamar sebelum dia naik tangga. Aku dengar pintu depan ditutup. Motor Dimas hidup, lalu menjauh.
19687Please respect copyright.PENANA1BydV2zmmS
Beberapa menit kemudian aku dengar langkah Ibu naik tangga. Pelan. Berat.
19687Please respect copyright.PENANAEAfCTrNoOm
Dia berhenti di depan pintu kamarku. Ketuk pelan.
19687Please respect copyright.PENANA2JwYMr43te
“Arga… ibu masuk ya?”
19687Please respect copyright.PENANAyQbhhukf8y
Aku buka pintu. Ibu berdiri di sana, matanya merah. Tapi nggak nangis.
19687Please respect copyright.PENANAzHca9yiGqz
“Ibu cuma mau bilang… ibu sayang kamu. Selalu.”
19687Please respect copyright.PENANAh107gDSXXj
Aku mengangguk. Tenggorokanku kering.
19687Please respect copyright.PENANAYRieaWegOP
“Iya, Bu. Aku tahu.”
19687Please respect copyright.PENANALNzR8oLnbT
Dia tersenyum tipis. Lalu masuk ke kamarnya sendiri. Pintu ditutup pelan.
19687Please respect copyright.PENANA0tVg21PCb3
Malam itu aku nggak bisa tidur lagi.
19687Please respect copyright.PENANAV7T1VesjP6
Aku tahu garis itu sudah mulai kabur.
19687Please respect copyright.PENANAO9tpcbgSFk
Dan aku, Arga… entah kenapa… malah pengen lihat seberapa jauh garis itu bisa hilang.
19687Please respect copyright.PENANAsHXYzL1RBF
Malam itu hujan lagi. Bukan deras seperti kemarin, tapi gerimis halus yang bikin jendela kamar berembun tipis. Aku, Arga, duduk di kasur, punggung bersandar ke headboard, HP di tangan tapi layarnya gelap. Jam sudah lewat tengah malam, pukul 00:47. Rumah sepi. Ayah nggak pulang akhir pekan ini—katanya ada meeting mendadak di Surabaya. Jadi cuma ada aku sama Ibu di rumah besar ini.
19687Please respect copyright.PENANA8FhVGnBxzn
Aku nggak bisa tidur. Pikiranku muter terus ke adegan pagi tadi di dapur. Sentuhan tangan Dimas di pinggang Ibu. Cara Ibu nggak langsung menjauh. Cara matanya berkaca-kaca pas bilang “aku ibunya temenmu”. Dan cara Dimas jawab, “justru karena itu… aku nggak bisa berhenti mikirin Tante.”
19687Please respect copyright.PENANA7WgFXN6lFw
Aku tarik napas panjang. Dada terasa sesak. Tapi anehnya, bukan sesak marah. Lebih ke… gelisah yang panas. Yang bikin tangan dingin tapi telapak tangan berkeringat.
19687Please respect copyright.PENANA75afcfwRla
HP bergetar pelan di kasur. Notif WA.
19687Please respect copyright.PENANA1dYU39CQxG
Dimas.
19687Please respect copyright.PENANAXtxkqPDGi6
Arga:
“Bro… lo udah tidur?”
19687Please respect copyright.PENANAve8lea1eOd
Aku liat status online-nya. Dia masih aktif. Jari aku ragu-ragu di atas keyboard.
19687Please respect copyright.PENANAPJVqjE0iRX
Arga:
“Belum. Lo kenapa?”
19687Please respect copyright.PENANAONQFnfa3Vu
Dimas:
“Nggak bisa tidur. Mikirin tadi pagi.”
19687Please respect copyright.PENANAsSWPBcn3AO
Jantungku langsung lompat. Aku tahu apa yang dia maksud.
19687Please respect copyright.PENANAVQaJ21U4Gp
Arga:
“Mikirin apa?”
19687Please respect copyright.PENANAyllUJMzIXv
Dimas typing lama. Titik-titiknya muncul hilang muncul lagi.
19687Please respect copyright.PENANAg7OXQIfdUL
Dimas:
“Tante.
Aku tahu aku salah. Tapi aku beneran nggak bisa bohong lagi. Setiap kali ke rumah lo, aku cuma pengen ngeliat Tante. Denger suaranya. Liat senyumnya.
Dan tadi… waktu tangan kita nyentuh… rasanya listrik gitu, bro.”
19687Please respect copyright.PENANAZ6DrxBQoUQ
Aku baca pesan itu berkali-kali. Dada panas. Aku nggak bales langsung. Malah aku buka chat Ibu. Dia online juga. Pukul 00:52.
19687Please respect copyright.PENANA5LjtwVbrqt
Aku nggak tahu kenapa, tapi aku ngetik pesan ke Ibu.
19687Please respect copyright.PENANATUJvWx3wQ2
Arga:
“Bu… masih bangun?”
19687Please respect copyright.PENANAK6LXjtt3IR
Pesan terkirim. Dia langsung read.
19687Please respect copyright.PENANA9atDPIkQ8c
Ibu:
“Iya Arga. Ibu lagi di kamar. Kamu kenapa belum tidur?”
19687Please respect copyright.PENANAFtlAdpaqgg
Arga:
“Nggak bisa tidur aja. Mikirin banyak hal.”
19687Please respect copyright.PENANAxdHpqPanjG
Ibu:
“Apa yang dipikirin?”
19687Please respect copyright.PENANAhggf7jOBl0
Aku ragu. Jari gemetar sedikit.
19687Please respect copyright.PENANAnujcAXFhbr
Arga:
“Bu… kalau misalnya ada orang yang suka sama Ibu… Ibu bakal gimana?”
19687Please respect copyright.PENANAQl1eVCLoDu
Jeda panjang. Dia nggak langsung bales. Aku bisa bayangin dia lagi duduk di ranjang, mungkin pakai daster tipis lagi, rambut terurai, matanya menatap layar HP dengan ekspresi bingung.
19687Please respect copyright.PENANAUUstsl6v1s
Akhirnya balesannya masuk.
19687Please respect copyright.PENANA6S7EYsYR63
Ibu:
“Kenapa tiba-tiba nanya gitu, Arga?”
19687Please respect copyright.PENANACxHULImhRV
Arga:
“Cuma penasaran aja.”
19687Please respect copyright.PENANAiHMl38jM6e
Ibu:
“…Ibu nggak tahu. Ibu udah lama nggak mikirin hal-hal kayak gitu.
Tapi kalau orang itu… bikin Ibu merasa dilihat lagi, merasa diinginkan lagi… mungkin Ibu bakal takut. Takut salah langkah. Takut nyakitin orang lain.”
19687Please respect copyright.PENANA0xVQe2XUbg
Aku baca pesan itu. Tenggorokanku kering.
19687Please respect copyright.PENANA7SnuHYQhIi
Arga:
“Termasuk nyakitin aku?”
19687Please respect copyright.PENANAfFbEqcAFYW
Ibu:
“Terutama kamu.”
19687Please respect copyright.PENANADUgbgzfuwa
Aku taruh HP di dada. Mata terpejam. Aku ngerasa ada sesuatu yang retak di dalam diri aku. Bukan marah. Lebih ke… rela? Aku nggak ngerti sendiri.
19687Please respect copyright.PENANAYygrsGUPOM
Tiba-tiba HP bergetar lagi. Dimas.
19687Please respect copyright.PENANA6P58vAjH3M
Dimas:
“Bro… lo marah nggak kalau gue bilang gue suka sama ibu lo?”
19687Please respect copyright.PENANAJ1qXKj3PNn
Pertanyaan itu kayak tamparan. Tapi anehnya, nggak sakit. Malah bikin aku penasaran lebih dalam.
19687Please respect copyright.PENANADmNv8waeE3
Arga:
“Lo beneran suka? Atau cuma nafsu?”
19687Please respect copyright.PENANAkLHvhwiPwY
Dimas bales cepet.
19687Please respect copyright.PENANAMq8alJRDro
Dimas:
“Awalnya mungkin nafsu. Tapi sekarang… lebih dari itu.
Gue suka caranya Tante ketawa kecil pas cerita masa lalu. Gue suka caranya Tante nyanyi pelan waktu nyapu. Gue suka caranya Tante ngeliat gue… kayak gue bukan cuma temen lo, tapi… orang yang dia perhatiin.”
19687Please respect copyright.PENANAN2KfxJHEwj
Aku nggak bales lagi. Aku matiin HP, taruh di meja samping. Lalu aku bangun. Kaki telanjang menyentuh lantai dingin. Aku jalan pelan ke pintu kamar, buka sedikit.
19687Please respect copyright.PENANA94WXYwoL4h
Koridor gelap. Cuma lampu tidur di ujung tangga yang nyala kuning redup.
19687Please respect copyright.PENANAnFUrQcbLWo
Aku jalan ke kamar Ibu. Pintunya setengah terbuka, seperti biasa kalau dia lagi sendirian di rumah. Aku berdiri di ambang pintu, nggak masuk.
19687Please respect copyright.PENANAiks0vS2cFC
Ibu duduk di ranjang. Punggungnya menghadap ke pintu. Dia pakai daster sutra tipis warna krem yang jatuh longgar di bahu. Rambut hitamnya tergerai sampai punggung tengah. Dia lagi pegang HP, tapi sekarang dia taruh di pangkuan. Kepalanya menunduk.
19687Please respect copyright.PENANA8UV3ZOF1wZ
Aku tahu dia nggak tidur. Napasnya terdengar pelan, agak cepat.
19687Please respect copyright.PENANA6NGAa7QaYZ
Aku ketuk pintu pelan.
19687Please respect copyright.PENANAYBLOoUT7A0
“Bu…”
19687Please respect copyright.PENANAvXA6NRWo1C
Ibu menoleh. Matanya melebar sedikit, tapi cepat tenang lagi.
19687Please respect copyright.PENANA2nTNzgPqxx
“Arga… kenapa belum tidur?”
19687Please respect copyright.PENANAsQL30UGi87
Aku masuk pelan, tutup pintu di belakangku. Nggak dikunci.
19687Please respect copyright.PENANALg17pnucfC
“Aku… pengen ngobrol.”
19687Please respect copyright.PENANAg4YYJ6vYlP
Ibu menggeser badan, memberi ruang di sampingnya. Aku duduk di pinggir ranjang. Jarak kami cuma satu bantal.
19687Please respect copyright.PENANAwCJhrw6Afm
“Ngobrol apa?” tanyanya lembut.
19687Please respect copyright.PENANAcHBn7OHSK0
Aku menatap lantai. “Bu… aku tahu Dimas suka sama Ibu.”
19687Please respect copyright.PENANAkrq6hkzO7I
Ibu diam. Napasnya terhenti sebentar.
19687Please respect copyright.PENANATbdQ48bigC
“Lalu… kamu gimana?”
19687Please respect copyright.PENANA81aSOjjiMu
Aku angkat muka, tatap matanya.
19687Please respect copyright.PENANAzseJuNzhFg
“Aku… nggak marah. Aku cuma… bingung. Kenapa aku nggak marah.”
19687Please respect copyright.PENANAywWlXS1oCp
Ibu menunduk. Jari-jarinya mainin ujung daster.
19687Please respect copyright.PENANASGQCH5rowM
“Mungkin karena kamu tahu Ibu juga… kesepian.”
19687Please respect copyright.PENANAaXHp6zH7tY
Kata itu keluar pelan, hampir bisik. Tapi rasanya kayak bom kecil di dada aku.
19687Please respect copyright.PENANApgQnOEFsMx
“Kesepian?”
19687Please respect copyright.PENANAsmubtAmg7V
Ibu mengangguk kecil. “Ayahmu… udah lama nggak pulang. Kalau pulang pun cuma sebentar. Ibu nggak nyalahin dia. Tapi… Ibu manusia biasa, Arga. Ibu juga butuh… perhatian. Sentuhan. Kata-kata manis. Ibu juga pengen merasa… cantik lagi.”
19687Please respect copyright.PENANANlf4UggCFv
Aku ngerasa tenggorokanku kering banget.
19687Please respect copyright.PENANAfPCMqFyPBt
“Dan Dimas… bikin Ibu merasa gitu?”
19687Please respect copyright.PENANAqYSBqCMo07
Ibu nggak langsung jawab. Dia memandang ke jendela. Gerimis masih turun pelan.
19687Please respect copyright.PENANAcTszwX3MXw
“Dia… muda. Energik. Dia ngeliat Ibu bukan sebagai ibu rumah tangga yang udah tua. Dia ngeliat Ibu sebagai… wanita.”
19687Please respect copyright.PENANA3MKNZvXPh9
Aku menelan ludah. “Lalu Ibu… suka dia juga?”
19687Please respect copyright.PENANArMCkNDmNFD
Ibu menoleh ke aku. Matanya basah.
19687Please respect copyright.PENANAr0FhyGXYSO
“Ibu takut jawab pertanyaan itu, Arga. Karena kalau Ibu bilang iya… berarti Ibu udah melanggar banyak hal.”
19687Please respect copyright.PENANAtPPQuAwAZC
Aku maju sedikit. Tangan aku menyentuh punggung tangan Ibu. Dingin.
19687Please respect copyright.PENANAiSe6fcLI4r
“Bu… kalau Ibu mau… aku nggak bakal halangin.”
19687Please respect copyright.PENANA7qBJeBOciQ
Ibu menatapku kaget. “Arga… kamu ngomong apa?”
19687Please respect copyright.PENANAm7rX53srnl
“Aku serius. Aku… pengen Ibu bahagia. Meski caranya… aneh. Meski orang bakal bilang salah.”
19687Please respect copyright.PENANAHHLJLjQxtn
Ibu diam lama. Lalu dia mengangguk kecil.
19687Please respect copyright.PENANAxonGr5YZMZ
“Baiklah.”
19687Please respect copyright.PENANA1MLGxaoKx7
Malam itu kami nggak ngomong banyak lagi. Kami cuma duduk berdampingan. Tangan aku masih pegang punggung tangan Ibu. Jari kami saling kait pelan.
19687Please respect copyright.PENANAcI1m9RzqWb
Sekitar jam satu lewat, HP Ibu bergetar di meja samping.
19687Please respect copyright.PENANAADkjcElLGp
Dia melirik. Nama Dimas muncul di layar.
19687Please respect copyright.PENANAUcrcfHIMI8
Ibu menatap aku. Seperti minta izin.
19687Please respect copyright.PENANA3GiStvY7lt
Aku mengangguk kecil.
19687Please respect copyright.PENANAhgDCEEsrUY
Ibu ambil HP, buka pesan.
19687Please respect copyright.PENANAAvASuj61yq
Dimas:
“Tante… aku nggak bisa tidur. Mikirin Tante terus.
Boleh nggak aku telpon sebentar?”
19687Please respect copyright.PENANAZRwUN1cKWh
Ibu menatap aku lagi.
19687Please respect copyright.PENANA7lVHywInyA
Aku bisik pelan.
19687Please respect copyright.PENANAydVSQB1PWQ
“Jawab aja, Bu.”
19687Please respect copyright.PENANAdYH1pXVhBc
Ibu mengetik balasan.
19687Please respect copyright.PENANA7KYLlXgPw2
Ibu:
“Boleh. Tapi pelan-pelan ya. Arga lagi di kamar sebelah.”
19687Please respect copyright.PENANAyiSUpQHRig
Dia tekan tombol panggilan. Speaker off. Dia taruh HP di telinga.
19687Please respect copyright.PENANAxlrrvWv0YM
“Halo… Mas Dimas…”
19687Please respect copyright.PENANA3JOfMROtu7
Suara Dimas terdengar samar dari seberang.
19687Please respect copyright.PENANAM2HL1ILeb6
“Tante… suara Tante lembut banget malam-malam gini.”
19687Please respect copyright.PENANAQO1XBzcJ6g
Ibu tersenyum tipis. Pipinya merona.
19687Please respect copyright.PENANAo5i0EUcYTt
“Mas Dimas juga belum tidur?”
19687Please respect copyright.PENANAVujEElQMGX
“Enggak bisa. Kepikiran Tante terus. Tadi pagi… waktu tangan kita nyentuh… Tante ngerasa apa?”
19687Please respect copyright.PENANAAedsER1oDN
Ibu menelan ludah. Matanya melirik ke aku.
19687Please respect copyright.PENANAlddGVwqC5B
“Ibu… ngerasa hangat. Dan takut.”
19687Please respect copyright.PENANAsZaL7yxDeZ
“Takut kenapa?”
19687Please respect copyright.PENANAACdBlsqF62
“Takut… ini salah. Takut Arga tahu. Takut… kita nggak bisa berhenti kalau udah mulai.”
19687Please respect copyright.PENANAnLwZbzSOXU
Dimas diam sebentar.
19687Please respect copyright.PENANAMB5fWPcrLN
“Tante… kalau Tante mau berhenti, bilang sekarang. Aku bakal mundur. Tapi kalau Tante nggak bilang berhenti… aku bakal datang lagi besok. Dan lusa. Sampai Tante bilang iya.”
19687Please respect copyright.PENANAUQwIQdC718
Ibu menutup mata. Napasnya bergetar.
19687Please respect copyright.PENANAwR1hoXceRc
“Mas Dimas… Ibu nggak tahu harus bilang apa.”
19687Please respect copyright.PENANAI7ISTjxKzC
“Tante nggak perlu bilang apa-apa sekarang. Cukup… jangan tolak aku besok. Biarin aku deket lagi. Biarin aku… sentuh tangan Tante lagi. Pelan-pelan aja.”
19687Please respect copyright.PENANAZMEZGc4voh
Ibu membuka mata. Tatapannya ke aku penuh pertanyaan.
19687Please respect copyright.PENANAqkFxkGDGUH
Aku mengangguk lagi. Pelan.
19687Please respect copyright.PENANAz0sF7cnzfU
Ibu berbisik ke HP.
19687Please respect copyright.PENANAPuNLEJIYa4
“Besok… datang aja. Siang. Arga ada jadwal kelompok di kampus sampe sore.”
19687Please respect copyright.PENANAmMiu4ehSBb
Dimas terdengar napasnya lega.
19687Please respect copyright.PENANAdbe1zoEMOc
“Makasih, Tante. Aku janji… aku bakal pelan. Aku nggak mau Tante takut.”
19687Please respect copyright.PENANAqoYWfZphRz
Ibu tersenyum kecil. “Ibu percaya sama kamu.”
19687Please respect copyright.PENANAfvpcZm5eIN
Mereka ngobrol lagi beberapa menit. Hal-hal kecil. Tentang mimpi Dimas malam tadi yang ada Ibu di dalamnya. Tentang Ibu yang cerita dulu suka makan mie apa pas kuliah. Suara mereka lembut, seperti orang yang sudah lama saling kenal tapi baru mulai saling membuka.
19687Please respect copyright.PENANAwtpRA1fi3Q
Akhirnya panggilan selesai.
19687Please respect copyright.PENANAfyFyAMZo4P
Ibu taruh HP. Dia menatap aku lama.
19687Please respect copyright.PENANA7dOA6jexND
“Arga… kamu beneran oke?”
19687Please respect copyright.PENANAZRpsMbgkgu
Aku tarik napas dalam.
19687Please respect copyright.PENANAO6whpoeZBd
“Aku oke, Bu. Aku cuma… pengen Ibu bahagia. Dan aku pengen tahu semuanya.”
19687Please respect copyright.PENANADWfWJtLR9j
Ibu maju pelan. Peluk aku dari samping. Kepalanya bersandar di bahuku. Bau sabun mandi malamnya tercium lembut.
19687Please respect copyright.PENANAEqtgU05X4E
“Makasih, Arga. Ibu sayang kamu.”
19687Please respect copyright.PENANAqgqsNsrFUb
Aku balas pelukannya. Tapi di kepalaku, aku tahu.
19687Please respect copyright.PENANAzqe3CNKWiI
Besok siang… sesuatu bakal berubah.
19687Please respect copyright.PENANAWzyOkcA6H6
Dan aku… bakal ada di sini. Mungkin ngintip. Mungkin denger. Mungkin… ikut merasakan degup jantung yang sama.
19687Please respect copyright.PENANAOPzDP6iqx0
Malam itu aku tidur di kamar Ibu. Di ranjang yang sama, tapi pisah bantal. Kami nggak ngapa-ngapain. Cuma tidur berdampingan. Tapi rasanya… lebih intim dari apa pun yang pernah aku rasain sebelumnya.
19687Please respect copyright.PENANAnf4vUOItNj
Siang itu matahari Kudus terik sekali, tapi di dalam rumah terasa lebih panas—bukan karena suhu, melainkan karena apa yang sudah menggantung di udara sejak pagi. Aku, Arga, berangkat ke kampus jam sepuluh, pura-pura ada kelompok presentasi sampai sore. Padahal presentasinya selesai jam satu siang. Aku sengaja bilang ke Ibu bakal pulang jam enam atau tujuh, biar ada ruang yang cukup.
19687Please respect copyright.PENANAkLnJjGsMbh
Pas aku keluar pagar, aku sempat nengok ke jendela kamar Ibu. Tirai tipisnya bergoyang pelan, dan aku yakin Ibu lagi ngeliatin aku pergi dari balik kaca. Aku angkat tangan kecil, senyum tipis. Dia balas dengan senyuman yang sama—lembut, tapi ada getar di ujung bibirnya.
19687Please respect copyright.PENANAWbjGIRQBMQ
Aku nggak langsung ke kampus. Aku muter ke warung kopi deket kampus, pesen es kopi susu, duduk di pojok sambil buka HP. Pikiranku cuma satu: apa yang bakal terjadi di rumah jam dua atau tiga siang nanti.
19687Please respect copyright.PENANAe7uVhd0g1u
Jam 13:42, Dimas kirim pesan ke grup WA kami bertiga.
19687Please respect copyright.PENANAeJLMe6KJl1
Dimas:
“Tante, aku otw. Bawa bakso urat kesukaan Tante dari Pak Joko. Masih panas nih.”
19687Please respect copyright.PENANAIDNzGQrDKW
Ibu bales cepet.
19687Please respect copyright.PENANATB5K25tMqE
Ibu:
“Makasih ya Mas. Pintu depan nggak dikunci. Langsung masuk aja.”
19687Please respect copyright.PENANAOGoD3wrg0A
Aku baca chat itu dari HP. Jantung mulai berdegup kencang. Aku matiin notif grup, tapi tetep pantengin.
19687Please respect copyright.PENANACMqXyNlNgI
Jam 14:05, Dimas kirim foto ke chat pribadi sama Ibu—aku tahu karena aku sempat liat preview sebelum dia hapus.
19687Please respect copyright.PENANA5rSua54QDq
Foto itu cuma tangan Dimas pegang mangkok bakso plastik, tapi di background samar-samar keliatan pintu depan rumah kami yang udah terbuka. Artinya: dia udah sampe.
19687Please respect copyright.PENANAvChjnFRju0
Aku tarik napas dalam-dalam. Aku bayangin Ibu lagi berdiri di ruang tamu, mungkin pakai baju rumah yang biasa—kaos longgar sama celana pendek kain atau legging. Rambut diikat ponytail sederhana. Pipi merona meski dia coba sembunyiin.
19687Please respect copyright.PENANAL4P6D8EiNI
Aku mutusin buat pulang pelan-pelan. Nggak langsung masuk rumah. Aku parkir motor di gang belakang, masuk lewat pintu samping yang jarang dipake. Naik ke lantai atas pelan banget, masuk ke kamarku, tutup pintu tapi nggak dikunci. Dari sini aku bisa denger hampir semua suara di bawah—ruang tamu, dapur, bahkan tangga kalau orang naik.
19687Please respect copyright.PENANAqWimRVRUi0
Aku duduk di lantai, punggung bersandar ke pintu, telinga menempel ke celah bawah. Suara mereka mulai terdengar.
19687Please respect copyright.PENANA8MFC9R4zpg
Ibu:
“Wah, masih panas banget ya Mas. Makasih banyak.”
19687Please respect copyright.PENANAWY5T1t2NgZ
Dimas:
“Sama-sama, Tante. Gue sengaja ambil yang baru mateng. Biar Tante bisa makan selagi hangat.”
19687Please respect copyright.PENANAC6owOjdyIg
Suara sendok plastik beradu sama mangkok. Mereka lagi makan bareng di meja makan kecil deket dapur.
19687Please respect copyright.PENANALiNQKbLh5v
Ibu:
“Enak banget kuahnya. Pedesnya pas. Mas Dimas tahu banget selera Ibu ya?”
19687Please respect copyright.PENANAZc9pITQdti
Dimas ketawa pelan.
“Ya iyalah, Tante. Gue kan sering liat Tante makan. Tiap kali gue mampir, gue perhatiin Tante suka tambah cabe berapa sendok.”
19687Please respect copyright.PENANAXAiGMa7cMN
Ibu ketawa kecil. Suaranya renyah, tapi agak bergetar.
19687Please respect copyright.PENANA2d9jtmhw9l
“Kok perhatiin banget sih?”
19687Please respect copyright.PENANAbsk53IsS7H
Dimas:
“Karena… gue suka ngeliat Tante. Semuanya. Cara Tante nyendok, cara Tante tiup kuah supaya nggak kepanasan, cara Tante senyum pas rasanya pas di lidah.”
19687Please respect copyright.PENANA5IShfF5UGE
Jeda. Sendok berhenti bergerak.
19687Please respect copyright.PENANAny0S8PtyOA
Ibu:
“Mas Dimas… jangan gitu. Nanti… Arga pulang tiba-tiba.”
19687Please respect copyright.PENANAgN5q1PM20A
Dimas:
“Tante bilang sendiri tadi pagi dia pulang sore. Kita punya waktu.”
19687Please respect copyright.PENANAq7k6N1vkEj
Ibu diam. Aku bisa bayangin dia lagi nunduk, mainin sendok di mangkok.
19687Please respect copyright.PENANAqSitx5MH89
Dimas:
“Tante… liat gue dong.”
19687Please respect copyright.PENANAxZGWrpqbDO
Suara kursi bergeser pelan. Dimas pindah duduk lebih deket ke Ibu. Lutut mereka nyentuh di bawah meja.
19687Please respect copyright.PENANA817fINAw0x
Dimas:
“Tante cantik banget hari ini. Kaos putihnya… cocok banget sama kulit Tante.”
19687Please respect copyright.PENANAVRkgLjGKI8
Ibu:
“Ini kaos biasa aja, Mas. Udah lama.”
19687Please respect copyright.PENANAg4bfciZ3sZ
Dimas:
“Tapi pas dipake Tante… beda. Semuanya jadi keliatan… lembut. Hangat.”
19687Please respect copyright.PENANAlrlsFbp0gX
Aku ngerasa napas aku sendiri jadi pendek. Aku bayangin Ibu pakai kaos putih longgar yang agak tipis, tanpa bra lagi mungkin—putingnya samar tercetak kalau kena cahaya. Celana pendek kain abu-abu yang biasa dia pakai di rumah, memperlihatkan paha mulus putihnya yang nggak pernah kena matahari.
19687Please respect copyright.PENANAje4mJ44V2d
Dimas:
“Boleh nggak… gue pegang tangan Tante sebentar?”
19687Please respect copyright.PENANAned6Gc4USx
Ibu nggak langsung jawab. Aku denger napasnya agak cepat.
19687Please respect copyright.PENANAnD6nbNcGtv
Ibu:
“Mas… ini… kita nggak boleh.”
19687Please respect copyright.PENANAA0PR8fmG4b
Dimas:
“Cuma tangan. Gue janji nggak lebih. Gue cuma pengen ngerasain… hangatnya Tante.”
19687Please respect copyright.PENANATEcpyIwb0X
Jeda panjang.
19687Please respect copyright.PENANAuqoJdf0mN5
Lalu suara pelan—jari-jari yang saling bertemu.
19687Please respect copyright.PENANAddx82ikVfp
Dimas:
“Tangan Tante dingin. Gue hangatin ya.”
19687Please respect copyright.PENANAKEhm99YTqs
Ibu:
“Mas Dimas…”
19687Please respect copyright.PENANAYNooGRZwrP
Suara itu hampir bisik. Bukan nolak. Lebih ke… menyerah pelan.
19687Please respect copyright.PENANAC4QwjU320q
Mereka diam beberapa menit. Cuma denger suara napas. Kadang suara jempol Dimas mengusap punggung tangan Ibu pelan-pelan, melingkar di tulang pergelangan.
19687Please respect copyright.PENANAKG3LFK9fm4
Dimas:
“Tante tahu nggak… setiap kali gue pulang dari sini, gue nggak bisa tidur. Mikirin tangan ini. Mikirin senyum Tante. Mikirin… bau sabun mandi Tante yang masih nempel di baju gue pas gue peluk Tante kemarin pas pamitan.”
19687Please respect copyright.PENANAubvSJb8hF7
Ibu:
“Kemarin itu… cuma pelukan biasa.”
19687Please respect copyright.PENANA81xSyySRxo
Dimas:
“Bagi Tante mungkin biasa. Bagi gue… itu yang pertama kali gue ngerasa Tante balas peluk gue lebih erat dari biasanya.”
19687Please respect copyright.PENANA5JxOb5E7r9
Ibu diam lagi.
19687Please respect copyright.PENANAivDCVn5nWj
Dimas:
“Tante… boleh gue peluk lagi? Sekarang. Di sini. Cuma peluk. Gue janji nggak lebih.”
19687Please respect copyright.PENANA8QZb3EgJet
Aku ngerasa dada sesak. Napas aku hampir berhenti.
19687Please respect copyright.PENANAABwGCOk0E1
Ibu:
“Mas… kalau Arga tahu…”
19687Please respect copyright.PENANAk9pGPFl89n
Dimas:
“Dia nggak bakal tahu. Dan… kemarin malam Tante bilang ke gue lewat chat… kalau Arga udah tahu. Dan dia… nggak marah.”
19687Please respect copyright.PENANAhPIyGiNqNZ
Ibu terdengar menarik napas tajam.
19687Please respect copyright.PENANAdUlCXIhtEC
Ibu:
“Kamu… tahu dari mana?”
19687Please respect copyright.PENANAW32THPyep5
Dimas:
“Tante sendiri yang cerita tadi pagi pas chat. Bahwa Arga bilang… boleh. Bahwa Arga pengen Tante bahagia.”
19687Please respect copyright.PENANAwWEhZ2dU5h
Ibu:
“Aku… nggak nyangka dia bakal bilang gitu.”
19687Please respect copyright.PENANAk0RAtPfcXX
Dimas:
“Mungkin Arga lebih dewasa dari yang kita kira. Mungkin dia juga pengen Tante nggak kesepian lagi.”
19687Please respect copyright.PENANAJbe76Ivn8j
Ibu nggak jawab. Tapi aku denger suara kursi bergeser lagi. Mereka berdiri.
19687Please respect copyright.PENANAu8GZ0zrr6Z
Dimas:
“Sini… peluk gue pelan aja.”
19687Please respect copyright.PENANAmlJmlDRH2E
Suara kain bergesekan. Napas Ibu terdengar deket banget.
19687Please respect copyright.PENANAG4oCTx3dFE
Dimas:
“Tante… bau sabunnya enak banget. Sama kayak kemarin.”
19687Please respect copyright.PENANAXWXinx33eV
Ibu:
“Mas Dimas… jantung kamu deg-degan banget.”
19687Please respect copyright.PENANAYRyjDpV7BN
Dimas:
“Iya. Karena gue deket sama Tante. Karena gue akhirnya boleh pegang Tante kayak gini.”
19687Please respect copyright.PENANAFahUuL7mF8
Mereka diam lama. Cuma pelukan. Tangan Dimas pasti lagi di punggung Ibu, mengusap pelan dari atas ke bawah. Ibu pasti lagi bersandar, kepala di dada Dimas, tangan memeluk pinggangnya.
19687Please respect copyright.PENANASGehEZSvOi
Dimas:
“Tante… boleh gue cium kening Tante?”
19687Please respect copyright.PENANAVnwjlUlg6T
Ibu nggak jawab langsung. Tapi aku denger suara ciuman pelan—bibir Dimas menyentuh kening Ibu lama. Lembut. Penuh perasaan.
19687Please respect copyright.PENANA9Q8Mna6cpV
Ibu:
“Mas…”
19687Please respect copyright.PENANAjKFdT7C6sx
Dimas:
“Sekarang… boleh gue cium bibir Tante? Cuma sekali. Pelan. Gue pengen tahu rasanya… bibir Tante.”
19687Please respect copyright.PENANALSGYGG3Tha
Ibu menarik napas panjang. Dadanya naik-turun cepat—aku bisa bayangin payudaranya menekan dada Dimas.
19687Please respect copyright.PENANA2pR9RTqAIr
Ibu:
“Mas… ini… titik nggak balik.”
19687Please respect copyright.PENANAUEKA3GpTa5
Dimas:
“Gue tahu. Dan gue siap kalau Tante mau berhenti kapan aja. Tapi kalau Tante izinin… gue bakal cium Tante selembut mungkin.”
19687Please respect copyright.PENANAqm9dhRPQsb
Jeda yang terasa abadi.
19687Please respect copyright.PENANAz0UAyyUxQR
Lalu suara pelan—bibir yang bertemu.
19687Please respect copyright.PENANAkuebGBU3s8
Pertama cuma sentuhan ringan. Bibir Dimas di bibir Ibu. Nggak langsung dalam. Cuma nempel. Lama.
19687Please respect copyright.PENANAT9tkTKsCWP
Ibu mengeluarkan suara kecil dari hidung—seperti desahan pelan yang tertahan.
19687Please respect copyright.PENANAQjysNYJMWV
Dimas:
“Tante… lembut banget.”
19687Please respect copyright.PENANA4S71JtZAnW
Dia cium lagi. Kali ini lebih dalam sedikit. Bibirnya menggerakkan bibir bawah Ibu pelan. Lidahnya menyentuh ujung bibir Ibu—nggak masuk langsung, cuma mengetuk pelan, minta izin.
19687Please respect copyright.PENANAea1dBNlYbM
Ibu membalas. Bibirnya terbuka sedikit. Lidah mereka bertemu—pertama cuma ujung lidah yang saling sapa. Lalu pelan-pelan jadi lebih dalam. Suara ciuman basah terdengar samar—lembut, penuh ragu, tapi makin lama makin dalam.
19687Please respect copyright.PENANAhVhw15MSCr
Tangan Dimas naik ke pipi Ibu, mengusap pelan. Ibu memeluk leher Dimas, jari-jarinya masuk ke rambut cepaknya.
19687Please respect copyright.PENANAr7EEFZoNbk
Mereka ciuman lama. Mungkin lima menit. Kadang berhenti sebentar buat tarik napas, lalu balik lagi. Kadang cuma bibir yang saling tempel tanpa gerak, cuma ngerasain hangatnya satu sama lain.
19687Please respect copyright.PENANAeU569QOapy
Dimas:
“Tante… gue suka banget rasanya. Manis. Hangat. Kayak… pulang.”
19687Please respect copyright.PENANAUAXV6xxU6u
Ibu:
“Mas Dimas… aku… takut.”
19687Please respect copyright.PENANA5z0xRejatA
Dimas:
“Takut apa?”
19687Please respect copyright.PENANALgdvqMJlz9
Ibu:
“Takut… aku nggak bisa berhenti. Takut… ini bikin semuanya hancur.”
19687Please respect copyright.PENANA2r3p7PeYbv
Dimas:
“Gue janji… kita pelan-pelan. Kita jaga. Kita nggak buru-buru. Gue cuma pengen Tante tahu… gue sayang Tante. Bukan cuma badan Tante. Tapi… semuanya.”
19687Please respect copyright.PENANAVd1CHtyq6H
Ibu diam. Lalu dia cium Dimas lagi—kali ini dia yang mulai. Lebih berani sedikit. Lidahnya masuk lebih dalam, menjelajah mulut Dimas pelan.
19687Please respect copyright.PENANAZ1bPv2wats
Mereka pindah ke sofa ruang tamu. Aku denger suara badan jatuh pelan ke bantal sofa. Mereka duduk berdampingan, tapi badan saling menempel. Tangan Dimas di pinggang Ibu, Ibu bersandar di dada Dimas.
19687Please respect copyright.PENANAKnFxYZI6UO
Mereka ciuman lagi. Lebih lama. Lebih dalam. Tapi tetap nggak lebih dari itu. Nggak ada tangan yang nakal ke dada atau ke bawah. Cuma pelukan, ciuman, usapan punggung, usapan pipi, bisik-bisik kata manis.
19687Please respect copyright.PENANAbX2gFTWugO
Dimas:
“Tante… matanya cantik banget pas ditutup gini.”
19687Please respect copyright.PENANA5iX3k38kET
Ibu:
“Mas… jantung aku rasanya mau copot.”
19687Please respect copyright.PENANAp94MlwzSFB
Dimas:
“Sama. Tapi gue seneng. Seneng banget akhirnya bisa gini sama Tante.”
19687Please respect copyright.PENANA523niKJdVN
Mereka diam lagi. Cuma pelukan. Napas saling bercampur.
19687Please respect copyright.PENANAzpEuAXEcbD
Jam menunjukkan pukul 15:40. Mereka masih di sofa. Masih saling peluk. Masih sesekali cium pelan.
19687Please respect copyright.PENANASepgcTHyFk
Dimas:
“Tante… besok boleh lagi nggak?”
19687Please respect copyright.PENANAkHpc2BvcKz
Ibu:
“Mas… aku nggak tahu. Tapi… aku nggak bisa bilang nggak.”
19687Please respect copyright.PENANAB7pWb2ViZp
Dimas:
“Makasih, Tante. Gue bakal datang lagi. Pelan-pelan. Sampai Tante siap… atau sampai Tante bilang berhenti.”
19687Please respect copyright.PENANAFSep6wXfjA
Ibu:
“Jangan bilang berhenti dulu. Aku… belum siap bilang itu.”
19687Please respect copyright.PENANAMk7eBATd2z
Mereka cium lagi. Lama.
19687Please respect copyright.PENANA4Qg9Yy5YjP
Lalu suara Dimas.
19687Please respect copyright.PENANAkwp2UlIbYp
Dimas:
“Aku pulang dulu ya, Tante. Biar nggak ketahuan Arga pulang.”
19687Please respect copyright.PENANAlDCYBh4S2x
Ibu:
“Iya… hati-hati ya.”
19687Please respect copyright.PENANAr6JBYF18FU
Suara pintu depan dibuka, ditutup pelan. Motor Dimas hidup, menjauh.
19687Please respect copyright.PENANArp4ihfIx2n
Rumah kembali sepi.
19687Please respect copyright.PENANAQQjMqqCxxS
Aku tunggu lima menit. Lalu aku turun pelan.
19687Please respect copyright.PENANAv93sbaRW9H
Ibu lagi duduk di sofa, sendirian. Matanya merah, tapi bibirnya bengkak sedikit—bekas ciuman. Pipinya merona. Rambut ponytailnya agak acak-acakan.
19687Please respect copyright.PENANAy3NeOJ48WV
Dia menoleh ke aku. Kaget, tapi nggak panik.
19687Please respect copyright.PENANAU7lnVT1t8I
“Arga… kapan pulang?”
19687Please respect copyright.PENANAUYv4jLWn75
Aku duduk di sebelahnya. Jarak deket.
19687Please respect copyright.PENANA3aTd95APdT
“Aku… udah dari tadi, Bu. Di atas. Denger semuanya.”
19687Please respect copyright.PENANAh3nRBtbmPV
Ibu menunduk. Air mata jatuh satu tetes ke paha.
19687Please respect copyright.PENANAhd9T9ABQI9
“Maaf, Arga…”
19687Please respect copyright.PENANAMzfsRl5zqv
Aku pegang tangannya. Dingin.
19687Please respect copyright.PENANAZLBjMdANdF
“Bu… aku bilang kan. Aku oke. Aku cuma… pengen Ibu bahagia.”
19687Please respect copyright.PENANAS7qEOdmpFg
Ibu memeluk aku erat. Menangis pelan di bahuku.
19687Please respect copyright.PENANAljM9MkIHSG
“Aku sayang kamu, Arga. Selalu.”
19687Please respect copyright.PENANASWBSxoWZvl
Aku balas pelukannya.
19687Please respect copyright.PENANA1TF82fBgLl
Di kepalaku, aku tahu.
19687Please respect copyright.PENANAogcrXpw4gy
Ini baru permulaan yang sebenarnya.
19687Please respect copyright.PENANAyCl1eTALyr
Dan besok… mungkin lebih dari ciuman.
19687Please respect copyright.PENANA7oulC7db7T
Mungkin lebih dalam.
19687Please respect copyright.PENANA8esms5C9C1
Mungkin… semuanya mulai terbuka.
19687Please respect copyright.PENANAohTYGzRHyW
Hari berikutnya, Rabu. Langit Kudus cerah sejak pagi, tapi di dalam rumah terasa seperti ada awan tebal yang menyelimuti semuanya. Aku, Arga, bangun jam tujuh lewat, langsung ke kamar mandi, mandi cepat-cepat. Pas keluar kamar, aku dengar suara Ibu di dapur—lagi nyanyi kecil sambil goreng telur. Suara yang sama seperti dulu-dulu, tapi hari ini ada nada beda. Lebih… ringan. Lebih… genit.
19687Please respect copyright.PENANAzm2rDIFkd2
Aku turun pelan, ngintip dari tangga. Ibu pakai kaos crop top putih tipis yang jarang banget dia pakai—potongannya pas di atas pusar, memperlihatkan perut rata yang masih kencang meski umur 42. Bawahnya celana pendek denim pendek banget, hampir nggak nutupin separuh paha mulus putihnya. Rambutnya dibiarkan terurai, agak bergelombang alami karena semalem dia keramas pake conditioner yang baunya manis. Dia lagi membungkuk ambil piring dari rak bawah, bokongnya terangkat sedikit, celana pendeknya naik sampe garis celah bokong terlihat jelas—bulat, penuh, kenyal.
19687Please respect copyright.PENANATaeza3PPp3
Aku langsung balik ke kamar, pura-pura belum turun. Jantung aku deg-degan. Aku tahu ini bukan kebetulan.
19687Please respect copyright.PENANAAiW5VCF7NK
Jam tujuh lewat, aku turun lagi. Ibu lagi nyusun sarapan di meja: nasi goreng, telur mata sapi, tempe goreng, sama segelas susu hangat buat aku.
19687Please respect copyright.PENANA92EtYMkHGU
“Pagi, Arga,” katanya sambil senyum lebar. Matanya berbinar. Pipinya merah alami, bukan karena panas kompor.
19687Please respect copyright.PENANANK1xy2YLYP
“Pagi, Bu. Kok hari ini… beda ya?”
19687Please respect copyright.PENANARYjConqQ6P
Ibu ketawa kecil, suaranya renyah.
19687Please respect copyright.PENANAYOupwQCEvn
“Beda gimana? Ibu cuma pengen nyaman aja di rumah. Panas nih akhir-akhir ini.”
19687Please respect copyright.PENANADq6e0Uhu5A
Dia duduk di seberang aku, kakinya di bawah meja sengaja nyenggol kakiku pelan. Nggak sengaja katanya, tapi aku tahu itu sengaja.
19687Please respect copyright.PENANATwD00NivXq
“Bu… hari ini Dimas mau mampir lagi?”
19687Please respect copyright.PENANA9ZV4V66lQ0
Ibu mengangguk sambil nyendok nasi goreng ke mulutnya pelan.
19687Please respect copyright.PENANAUMQCPtDlmg
“Iya. Katanya abis siang kuliahnya langsung ke sini. Mau numpang makan siang katanya.”
19687Please respect copyright.PENANAPsbymveMTy
Aku pura-pura biasa aja.
19687Please respect copyright.PENANARKxGRm2o5P
“Aku ada kelas sampe jam empat. Pulang sore lagi.”
19687Please respect copyright.PENANAXzfzZcxj1N
Ibu menatap aku lama. Senyumnya lembut, tapi ada api kecil di matanya.
19687Please respect copyright.PENANATdAPgn3kJP
“Makasih ya, Arga. Ibu tahu kamu lagi kasih ruang buat Ibu.”
19687Please respect copyright.PENANAPUNDv11557
Aku cuma mengangguk. Tenggorokanku kering.
19687Please respect copyright.PENANAOw7cNoXPUP
Setelah sarapan, Ibu berdiri, beresin piring. Waktu dia membungkuk buat angkat piring kotor, crop top-nya naik sedikit, memperlihatkan bagian bawah payudaranya—putih, lembut, tanpa bra. Areolanya cokelat muda samar terlihat, putingnya sudah setengah mengeras karena AC atau karena pikiran yang lagi muter di kepalanya.
19687Please respect copyright.PENANAyDilGIo48b
Aku cepat-cepat pamit ke kampus. Tapi seperti biasa, aku balik lewat gang belakang jam satu lewat, masuk pintu samping, naik ke kamar, tutup pintu pelan, duduk di lantai, telinga menempel ke celah bawah. HP silent, tapi jantung berdegup kencang.
19687Please respect copyright.PENANACQXv9jW0FZ
Jam 13:55, suara motor Dimas terdengar di depan. Pintu dibuka.
19687Please respect copyright.PENANAipqO1HSVPZ
Dimas:
“Tante… aku datang. Bau masakan enak banget nih.”
19687Please respect copyright.PENANARvd89qvlth
Ibu:
“Masuk aja, Mas. Ibu lagi masak ayam goreng kecap. Mas Dimas suka kan?”
19687Please respect copyright.PENANAA7HZJySCZF
Suara langkah masuk. Mereka ke dapur.
19687Please respect copyright.PENANAQBKmn9ockm
Dimas:
“Wah… Tante hari ini… beda banget.”
19687Please respect copyright.PENANASpvOew0qMp
Ibu ketawa pelan.
19687Please respect copyright.PENANAC4W08IQynB
“Beda gimana, Mas?”
19687Please respect copyright.PENANABVgolFvN3l
Dimas:
“Kaosnya… pendek. Celananya… pendek banget. Tante lagi pengen bikin gue gila ya?”
19687Please respect copyright.PENANABcq6WmwSEQ
Ibu:
“Siapa bilang? Ibu cuma pengen nyaman. Lagian… rumah sendiri. Nggak ada yang liat.”
19687Please respect copyright.PENANA4KQ6yZTalD
Dimas:
“Aku liat, Tante. Dan aku… suka banget.”
19687Please respect copyright.PENANAwdVA2rx4AP
Suara Ibu mendekat. Langkahnya pelan, seperti lagi mendekati mangsa.
19687Please respect copyright.PENANAoxa3FrKl3A
Ibu:
“Mas Dimas… duduk dulu di meja. Ibu ambilin minum.”
19687Please respect copyright.PENANAZpV2Fo04GS
Dimas duduk. Aku denger kursi bergeser.
19687Please respect copyright.PENANAlkDdVFNGdu
Ibu:
“Ini es teh manis. Dingin ya.”
19687Please respect copyright.PENANAs0CwAJEjjV
Dia taruh gelas di depan Dimas. Tapi bukannya langsung mundur, Ibu malah berdiri di depan Dimas, badannya agak membungkuk ke depan waktu naruh gelas. Crop top-nya jatuh ke depan, payudaranya bergoyang lembut, hampir keluar sepenuhnya. Putingnya sudah keras jelas, cokelat muda, kecil tapi menonjol.
19687Please respect copyright.PENANAUzRH4wpwQ4
Dimas:
“Tante… gue bisa liat semuanya.”
19687Please respect copyright.PENANA16OI4at8jS
Ibu:
“Emangnya kenapa? Mas Dimas nggak suka?”
19687Please respect copyright.PENANAw9A1aOD0UB
Dimas menelan ludah. Suaranya serak.
19687Please respect copyright.PENANAvYg9TGx46k
“Suka banget. Tante… lagi sengaja ya hari ini?”
19687Please respect copyright.PENANAYsowDnYkcz
Ibu ketawa kecil. Dia maju setengah langkah, sekarang lututnya nyentuh lutut Dimas.
19687Please respect copyright.PENANA1ZAbVNL1fy
“Mungkin iya. Kemarin… Ibu ngerasa enak banget. Jadi Ibu mikir… mungkin Ibu mau coba lebih berani sedikit.”
19687Please respect copyright.PENANAuo4ZjOS3iR
Dimas:
“Tante… jangan main-main. Gue udah keras dari tadi.”
19687Please respect copyright.PENANAAR9xvSjveX
Ibu:
“Ibu tahu. Ibu liat dari tadi celana Mas Dimas udah membusung.”
19687Please respect copyright.PENANAfs6rwJ9uoB
Dia angkat tangan kanannya pelan, menyentuh pipi Dimas dulu. Lalu turun ke leher, ke dada, ke perut. Berhenti di pinggang.
19687Please respect copyright.PENANALDY4eQBewe
Ibu:
“Mas Dimas… boleh Ibu pegang lagi? Kayak kemarin.”
19687Please respect copyright.PENANAi9vNZcXPkM
Dimas:
“Boleh banget, Tante. Malah gue pengen.”
19687Please respect copyright.PENANAmVfOVQx7FT
Ibu turunin tangan lebih bawah. Resleting celana Dimas diturunkan pelan oleh jari-jari Ibu yang gemetar tapi berani. Dia masukin tangan ke dalam boxer, menggenggam batang Dimas yang sudah keras penuh.
19687Please respect copyright.PENANAuwpt9MHgqc
Ibu:
“Wah… makin keras dari kemarin. Panas banget di tangan Ibu.”
19687Please respect copyright.PENANAMErDmCkcNt
Dimas mendesah pelan.
19687Please respect copyright.PENANAcwXzRM6Dyk
Dimas:
“Tante… usap pelan aja dulu. Gue nggak mau cepet keluar.”
19687Please respect copyright.PENANADAZ9zlMKJl
Ibu mulai gerak tangan naik-turun pelan. Jempolnya mengusap kepala yang sudah basah.
19687Please respect copyright.PENANAgDjVrX0rag
Ibu:
“Mas… ujungnya licin. Ibu suka liatnya.”
19687Please respect copyright.PENANASFSKinvgAb
Dimas:
“Tante… gue pengen liat payudara Tante. Boleh angkat kaosnya?”
19687Please respect copyright.PENANA3LcuJlcuRN
Ibu berhenti sejenak. Lalu dia angkat crop top-nya pelan-pelan, sampai lepas dari kepala. Payudaranya terbebas—bulat sempurna, berat tapi kencang, puting cokelat muda mengeras tegak, areola kecil rapi.
19687Please respect copyright.PENANAfJRId2ig4y
Dimas:
“Tante… indah banget. Putingnya… cantik. Keras gini karena gue ya?”
19687Please respect copyright.PENANAQG7ZmMqH3q
Ibu:
“Iya… karena Mas Dimas. Karena Ibu mikirin kamu terus dari kemarin.”
19687Please respect copyright.PENANArNPXpg8uqV
Dimas angkat tangan, menyentuh payudara kiri Ibu pelan. Jempolnya mengusap puting dari luar kulit telanjang sekarang.
19687Please respect copyright.PENANAjqlGjAnfZK
Dimas:
“Enak nggak, Tante?”
19687Please respect copyright.PENANA7emnaqGxn1
Ibu mendesah pelan, kepalanya mendongak sedikit.
19687Please respect copyright.PENANACwbDXUZ2Ei
Ibu:
“Enak… usap lagi. Pelan aja.”
19687Please respect copyright.PENANACJSwB6kdWF
Dimas usap kedua payudara bergantian. Kadang remas lembut, kadang cubit puting pelan. Ibu mengeluarkan suara kecil dari tenggorokan setiap kali jempolnya menyentuh titik sensitif.
19687Please respect copyright.PENANAWcDAHhlLVQ
Ibu:
“Mas… puting Ibu… sensitif banget. Rasanya nyut-nyutan ke bawah.”
19687Please respect copyright.PENANA4ll5Icc9oj
Dimas:
“Iya… gue ngerasain. Keras banget. Kayak lagi minta disentuh lebih.”
19687Please respect copyright.PENANA6UZ9A3AsIZ
Dia terus usap. Kadang tangannya melingkar di bawah payudara, angkat sedikit supaya merasakan beratnya, lalu jempol kembali ke puting, memutar pelan.
19687Please respect copyright.PENANAfCQEwORG3S
Ibu:
“Aaah… Mas… Ibu basah di bawah. Celana dalam Ibu udah lembab dari tadi.”
19687Please respect copyright.PENANAG6YmrGk4jY
Dimas:
“Serius, Tante?”
19687Please respect copyright.PENANAnnhjErYv3q
Ibu:
“Iya… gara-gara Mas pegang payudara Ibu gini. Ibu ngerasa panas di seluruh badan.”
19687Please respect copyright.PENANApPQeWb4143
Dimas turunin tangan kanannya pelan, ke pinggang Ibu, lalu ke depan celana pendek denimnya. Dia usap paha dalam Ibu dulu, lalu naik ke selangkangan dari luar kain.
19687Please respect copyright.PENANA9OKj78ZoCU
Dimas:
“Tante… di sini udah panas banget. Gue ngerasain kelembaban lewat celana.”
19687Please respect copyright.PENANAKv8M6RCBMO
Ibu goyang pinggul kecil, menggesek tangan Dimas.
19687Please respect copyright.PENANAhUPtU8aBIk
Ibu:
“Usap lagi, Mas… di atas klitoris Ibu. Pelan aja.”
19687Please respect copyright.PENANAARK52G9Cvi
Dimas menggosok pelan dari luar celana pendek. Ibu mendesah lebih keras, tangannya mencengkeram bahu Dimas.
19687Please respect copyright.PENANAnRYEdz0459
Ibu:
“Enak… terus… jangan berhenti…”
19687Please respect copyright.PENANAl8iYttPVfy
Dimas percepat sedikit. Ibu menegang, napasnya cepat.
19687Please respect copyright.PENANA2CuWA9ynsf
Ibu:
“Mas… Ibu mau keluar. Terusin…”
19687Please respect copyright.PENANAD5dgBBOw7N
Badannya bergetar pelan. Orgasme pertama hari itu—pelan, emosional, penuh getar. Cairan bening netes sedikit ke celana pendeknya.
19687Please respect copyright.PENANAMwtIripQr5
Dimas tarik tangan, basah. Dia jilat pelan jarinya sendiri.
19687Please respect copyright.PENANARceWnxLPIX
Dimas:
“Manis, Tante. Rasa Tante enak banget.”
19687Please respect copyright.PENANABgwDujsmP8
Ibu masih napas ngos-ngosan. Dia tarik Dimas berdiri, peluk erat.
19687Please respect copyright.PENANARj1eId0S5n
Ibu:
“Mas… Ibu pengen cium kamu lagi. Di bawah.”
19687Please respect copyright.PENANAnzR9xeLKZ6
Dia berlutut pelan di lantai dapur. Tarik boxer Dimas turun. Batangnya tegak lurus, kepalanya merah basah.
19687Please respect copyright.PENANAeZsJtFmABJ
Ibu:
“Mas… kepalanya… merah. Basah di ujung.”
19687Please respect copyright.PENANACSDPu7A4mo
Dimas:
“Itu… karena gue udah keluar sedikit. Karena Tante.”
19687Please respect copyright.PENANANzoFk0WcSE
Ibu mulai dengan jilat dari bawah ke atas. Lidahnya berputar di kepala, lalu masuk ke mulut pelan. Isap lembut, naik-turun setengah batang.
19687Please respect copyright.PENANAyKCQF1rImH
Dimas mendesah dalam.
19687Please respect copyright.PENANAMF7I0LVtkK
Dimas:
“Tante… mulut Tante hangat. Lembut. Gue… nggak tahan.”
19687Please respect copyright.PENANAgXuGht10yT
Ibu terus. Suara isapan pelan terdengar. Kadang dia berhenti, cium batangnya dari samping, jilat dari bawah ke atas.
19687Please respect copyright.PENANAiEwVjWfUT5
Dimas:
“Tante… gue mau keluar. Boleh di mulut Tante?”
19687Please respect copyright.PENANAEjz5mx82iv
Ibu keluarin sebentar.
19687Please respect copyright.PENANAQsnVbvrMh8
Ibu:
“Iya… keluar aja. Ibu mau ngerasain.”
19687Please respect copyright.PENANAMmJakiRwjS
Dia masuk lagi. Lebih cepat sedikit. Tangan Ibu ikut pegang pangkal, usap pelan.
19687Please respect copyright.PENANAJdnHPsW5dH
Dimas mengerang keras.
19687Please respect copyright.PENANAuK57UWD1ju
Dimas:
“Tante… gue keluar… sekarang…”
19687Please respect copyright.PENANApdHNjanxfT
Dia keluar di mulut Ibu. Ibu nggak narik, terus isap pelan sampai habis. Lalu menelan pelan.
19687Please respect copyright.PENANAtoVUcpqCeo
Ibu:
“Mas… asin. Tapi… enak.”
19687Please respect copyright.PENANA7M7kEMBeVs
Mereka pelukan lagi. Duduk di lantai dapur, badan saling tempel.
19687Please respect copyright.PENANAPtS2bbd6yF
Ibu:
“Mas Dimas… Ibu mulai nggak bisa berhenti mikirin kamu. Tiap hari pengen gini lagi.”
19687Please respect copyright.PENANAxR3enzoz50
Dimas:
“Gue juga, Tante. Besok… boleh lagi?”
19687Please respect copyright.PENANAAX2OWLkiOh
Ibu:
“Boleh. Tapi… besok Ibu pengen lebih.
19687Please respect copyright.PENANAWy4xrgzZEt
Dimas diam sebentar. Lalu cium kening Ibu.
19687Please respect copyright.PENANAcGZRSF9vrp
Dimas:
“Besok. Pelan-pelan. Gue janji bikin Tante seneng.”
19687Please respect copyright.PENANAia93m9pzsK
Mereka diam lama. Cuma pelukan.
19687Please respect copyright.PENANAvZ3XSXnZWY
Aku di atas, badan panas membara. Aku tahu besok… mereka bakal bercinta pertama kali.
19687Please respect copyright.PENANAVxaAqzaENq
Dan aku… bakal denger semuanya.
19687Please respect copyright.PENANAfboaZ3DalL
Mungkin… lebih dari denger.
19687Please respect copyright.PENANAi29qaz73ME
Kamis pagi, rumah terasa berbeda. Udara Kudus masih sejuk, tapi di dalam dinding ini ada panas yang sudah nggak bisa disembunyikan lagi. Aku, Arga, bangun jam tujuh, turun ke dapur. Ibu lagi berdiri di depan kompor, tapi gerakannya lambat, seperti pikirannya lagi jauh-jauh. Dia pakai daster tipis warna peach yang hampir tembus pandang kalau kena cahaya matahari pagi dari jendela belakang. Rambutnya diikat ponytail tinggi, leher putih mulusnya terlihat jelas, ada bekas merah kecil di tulang selangka—bekas gigitan pelan Dimas kemarin.
19687Please respect copyright.PENANANzobzHMk7b
“Pagi, Arga,” katanya tanpa menoleh. Suaranya lembut, tapi ada getar yang aku tahu artinya: gugup, tapi juga excited.
19687Please respect copyright.PENANA5qKs9qAQsP
“Pagi, Bu. Hari ini… Dimas datang lagi?”
19687Please respect copyright.PENANAQ9Cb0Ib2J5
Ibu matiin kompor, balik badan. Matanya langsung ketemu mataku. Pipinya merah, bibirnya agak menggigit bawah.
19687Please respect copyright.PENANAYrLAy06MHL
“Iya. Siang nanti. Dia bilang… mau bawa makan siang dari luar. Katanya pengen kita… ngobrol lebih lama.”
19687Please respect copyright.PENANALyheP5U9wB
Aku tahu itu bohong. Dia tahu aku tahu.
19687Please respect copyright.PENANAZ383gKCfGD
“Aku bakal keluar lagi siang ini. Ke perpustakaan kampus. Pulang sore.”
19687Please respect copyright.PENANAaOXlwQdHmI
Ibu mendekat, duduk di sebelahku. Tangan kanannya menyentuh punggung tanganku.
19687Please respect copyright.PENANAf1QxBMktbM
“Arga… ibu takut. Tapi ibu juga… pengen banget. Udah lama ibu nggak ngerasa gini. Udah lama ibu nggak ngerasa… diinginkan seutuhnya.”
19687Please respect copyright.PENANAQ7De4RN0Zh
Aku balas pegang tangannya.
19687Please respect copyright.PENANAsyMJRHuGxi
“Aku tahu, Bu. Dan aku… nggak bakal marah. Aku cuma minta satu: kalau selesai, cerita ke aku. Detailnya. Biar aku tahu Ibu bahagia.”
19687Please respect copyright.PENANAoaMXAxeFBC
Ibu menunduk sebentar, lalu angkat muka lagi. Matanya basah, tapi senyumnya hangat.
19687Please respect copyright.PENANAs9dhnxtXID
“Iya, Arga. Ibu janji. Apa pun yang terjadi… Ibu cerita ke kamu.”
19687Please respect copyright.PENANA3IRlx4RVID
Aku pamit ke kampus jam sepuluh. Tapi seperti biasa, aku balik lewat gang belakang jam satu lewat. Masuk pintu samping, naik tangga pelan-pelan, masuk kamar, tutup pintu, duduk di lantai dengan telinga menempel ke celah bawah. HP silent, tapi jantung berdegup kencang kayak mau copot.
19687Please respect copyright.PENANAZIWnid40Nd
Jam 13:48, suara motor Dimas. Pintu depan dibuka.
19687Please respect copyright.PENANAiKcThrYYYX
Dimas:
“Tante… aku datang. Bawa nasi goreng seafood sama es campur. Masih dingin nih.”
19687Please respect copyright.PENANAZcJWuF4KZR
Ibu:
“Masuk aja, Mas. Taruh di meja makan. Ibu… lagi nunggu kamu dari tadi.”
19687Please respect copyright.PENANAFBoXFS9fBN
Suara langkah mereka ke ruang makan. Kursi bergeser. Mereka makan dulu—ngobrol ringan soal cuaca, soal kuliah Dimas, soal tetangga. Tapi nada suara mereka beda. Lebih rendah. Lebih deket.
19687Please respect copyright.PENANAdD69qrX8gy
Dimas:
“Tante… makan aja pelan-pelan. Hari ini kita nggak buru-buru.”
19687Please respect copyright.PENANArMyOVcOSBa
Ibu:
“Iya… Ibu juga pengen nikmatin setiap detiknya sama kamu.”
19687Please respect copyright.PENANA2yL59FqWim
Makan selesai. Suara piring dibersihin. Lalu langkah mereka naik tangga—pelan, berat, seperti lagi naik ke sesuatu yang nggak bisa dibalik lagi.
19687Please respect copyright.PENANARANTrtkHbh
Pintu kamar Ibu dibuka. Ditutup pelan. Dikunci.
19687Please respect copyright.PENANAcontGK7WSe
Aku hampir nggak bernapas.
19687Please respect copyright.PENANA4m1pTFrWFs
Di dalam kamar, suara Ibu terdengar pertama.
19687Please respect copyright.PENANAQplGztvEnz
Ibu:
“Mas Dimas… sini. Duduk di ranjang.”
19687Please respect copyright.PENANAgqseSnmiL0
Suara kasur berderit pelan. Mereka duduk berdampingan.
19687Please respect copyright.PENANA6pQJn3ND7x
Dimas:
“Tante… kamu gemetar.”
19687Please respect copyright.PENANAu7uCNaS16O
Ibu:
“Iya… takut. Tapi pengen. Mas… boleh Ibu cium dulu?”
19687Please respect copyright.PENANAka0IVhCMdh
Suara bibir bertemu. Ciuman panjang, dalam. Lidah saling jelajah. Napas mereka saling campur. Kadang berhenti cuma buat tarik napas, lalu balik lagi.
19687Please respect copyright.PENANAyQqhLmaj50
Ibu:
“Mas… lepas baju kamu. Ibu pengen liat badan kamu.”
19687Please respect copyright.PENANAoTtdCp1nBy
Dimas lepas kaos. Suara kain jatuh ke lantai.
19687Please respect copyright.PENANAMVM199UWvW
Ibu:
“Wah… dada kamu keras. Ototnya keliatan. Ibu suka.”
19687Please respect copyright.PENANAqUdPL4MzEF
Tangan Ibu menyentuh dada Dimas, usap pelan ke bawah, ke perut, ke pinggang.
19687Please respect copyright.PENANAhuQ3j9AOqK
Dimas:
“Tante… gantian. Angkat daster kamu.”
19687Please respect copyright.PENANAy1iyI3aRt1
Ibu berdiri. Suara kain sutra bergesekan saat daster diangkat lepas dari kepala. Dia telanjang sekarang—cuma celana dalam renda hitam tipis yang sudah basah di tengah.
19687Please respect copyright.PENANAczupIlZCSF
Dimas:
“Tante… tubuh kamu… sempurna. Payudara kamu bulat banget, putingnya keras tegak. Perut rata, pinggang kecil, bokongnya… ya Tuhan, bulat penuh. Kaki kamu panjang mulus.”
19687Please respect copyright.PENANAnLLhAEErnW
Ibu:
“Mas… liat vagina Ibu. Celana dalamnya udah basah banget karena kamu.”
19687Please respect copyright.PENANAxLj4QAdzp8
Dia turunin celana dalam pelan. Vaginanya terbuka—rambut tipis rapi di atas, bibir luar tebal merah muda, bibir dalam sudah mengkilap licin, klitoris kecil bengkak.
19687Please respect copyright.PENANAPXPqWenJFK
Dimas:
“Tante… cantik banget. Basahnya banyak. Bau wanginya manis.”
19687Please respect copyright.PENANAmSZLbhfOn1
Dia tarik Ibu duduk lagi, lalu dorong pelan supaya rebah di ranjang. Dimas naik ke atas, tapi nggak langsung masuk. Dia mulai dari cium leher Ibu, turun ke tulang selangka, ke payudara.
19687Please respect copyright.PENANAMLoJDkK3Sz
Dimas:
“Puting Tante… enak banget. Gue hisap ya.”
19687Please respect copyright.PENANATGgS0pp2Dl
Dia hisap puting kiri pelan, lidah berputar, gigit ringan. Ibu mengerang.
19687Please respect copyright.PENANA5FK1QIi3mm
Ibu:
“Aaah… Mas… enak. Hisap lagi. Yang satunya juga.”
19687Please respect copyright.PENANAin4K5BsiDG
Dimas pindah ke kanan, tangan kirinya remas payudara kiri pelan, cubit puting.
19687Please respect copyright.PENANAJp2zkz47SS
Ibu:
“Mas… Ibu basah banget. Sentuh bawah.”
19687Please respect copyright.PENANAisgB4VPYg4
Dimas turun. Cium perut Ibu, pusar, lalu ke atas kemaluan. Dia buka paha Ibu lebar.
19687Please respect copyright.PENANAZnxCgjTBqN
Dimas:
“Tante… vagina kamu indah. Bibirnya tebal, klitorisnya bengkak. Gue jilat ya.”
19687Please respect copyright.PENANADgpNjCnSFD
Lidahnya menyentuh klitoris pelan. Menjilat dari bawah ke atas, berputar kecil.
19687Please respect copyright.PENANAn3IxmzyyjX
Ibu:
“Aaaah… Mas… enak banget. Jilat lagi. Masukin lidah ke dalam.”
19687Please respect copyright.PENANAru4GnIksKa
Dimas masukin lidah ke lubang vagina, keluar-masuk pelan, sambil jempol menggosok klitoris.
19687Please respect copyright.PENANAHmrpphAfkR
Ibu mulai goyang pinggul.
19687Please respect copyright.PENANAl8MdscbDbs
Ibu:
“Mas… Ibu mau keluar. Terusin… jangan berhenti…”
19687Please respect copyright.PENANARVjWAz9EZP
Dimas percepat lidah. Ibu menegang, tangan mencengkeram seprai.
19687Please respect copyright.PENANAtLGfkcJ7YZ
Ibu:
“Aaaahhh… keluar… Ibu keluar… aaah!”
19687Please respect copyright.PENANAeRX5hcnkq2
Orgasme pertama. Badannya bergetar hebat, cairan bening keluar banyak, Dimas jilat semuanya.
19687Please respect copyright.PENANAEmZBipCCZf
Dimas:
“Tante… rasa kamu manis. Enak banget.”
19687Please respect copyright.PENANASLw9sfYktx
Ibu tarik Dimas naik, cium bibirnya yang masih basah oleh cairannya sendiri.
19687Please respect copyright.PENANALhmR5uh1Tf
Ibu:
“Sekarang giliran Ibu. Lepas celana kamu.”
19687Please respect copyright.PENANAMDMXOl1j6d
Dimas telanjang. Batangnya tegak keras, panjang sekitar 17 cm, tebal, urat-urat menonjol, kepala merah mengkilap.
19687Please respect copyright.PENANAvVjrcBgUBo
Ibu:
“Mas… kontol kamu gede banget. Ibu pengen nyedot dulu.”
19687Please respect copyright.PENANAGpkd6s6xlm
Dia berlutut di ranjang, ambil batang Dimas ke mulut. Isap pelan, lidah berputar di kepala, tangan usap pangkal.
19687Please respect copyright.PENANA0LKXEqVlJr
Dimas:
“Tante… mulut kamu panas. Enak banget. Sedot lebih dalam.”
19687Please respect copyright.PENANA0qTkIsfGT3
Ibu masukin lebih dalam, hampir separuh. Kepala maju-mundur, isap kuat.
KELANJUTANNYA DI LINK 🔗 DIBAWAK INI https://lynk.id/time47
ns216.73.216.243da2


