Namaku Arga. Umur 21 tahun, mahasiswa semester akhir di salah satu kampus swasta di Semarang, tapi rumah tetap di Kudus karena nggak mau kos. Aku anak tunggal, Ayah kerja di perusahaan minyak yang bikin dia bolak-balik luar kota sejak aku SMA. Pulang cuma sebulan sekali atau pas Lebaran. Jadi rumah besar ini sebenarnya cuma ada aku sama Ibu. Bu Rina. Umur 42 tahun, tapi kalau orang liat sering salah sangka dia masih akhir 30-an.
19704Please respect copyright.PENANA6BJcSq2PI6
Hari itu hujan deras banget. Jam setengah enam sore, langit gelap kayak malam, angin bawa bau tanah basah masuk lewat jendela dapur yang setengah terbuka. Aku baru pulang dari kampus, kaos polo abu-abu basah kuyup di pundak sama dada. Tas ransel kulempar di lantai ruang tamu, sepatu sneakers dilepas pakai kaki sambil jalan ke dapur.
19704Please respect copyright.PENANAlZocIyHr0X
“Ibuuu… Arga pulang!” teriakku sambil buka kulkas langsung nyari air dingin.
19704Please respect copyright.PENANA8Ob8ZZHcBO
Dari ruang keluarga terdengar suara lembut yang sudah ribuan kali aku dengar.
19704Please respect copyright.PENANAjEaH8GO6hI
“Masuk dulu, ganti baju. Nanti masuk angin, Arga.”
19704Please respect copyright.PENANAUsYAxvnsg1
Itu Ibu. Bu Rina. Tinggi semampai, kulit putih kuning khas orang Jawa yang jarang kena matahari, rambut hitam lurus sebahu selalu diikat ponytail sederhana. Badannya proporsional—pinggang ramping, bokong bulat penuh, payudara ukuran 36C yang selalu terlihat berat meski pakai baju rumah longgar. Dia tipe ibu rumah tangga yang selalu rapi meski cuma di rumah: kaos polos longgar sama legging hitam atau celana pendek kain.
19704Please respect copyright.PENANAuD6FdGswD5
Aku ambil segelas air es, minum setengah, baru sadar ada suara ketawa pelan dari ruang tamu.
19704Please respect copyright.PENANABgV6Blc4S8
“Eh, ada tamu ya, Bu?”
19704Please respect copyright.PENANAfJeIWDtrsO
“Iya. Mas Dimas datang.”
19704Please respect copyright.PENANAAlqQxrlZl0
Jantungku langsung lompat kecil. Dimas. Teman SD sampe kuliah, beda jurusan tapi masih sering ketemu. Dia satu-satunya orang yang bisa masuk rumah ini sesuka hati tanpa permen apa yang besar. Ayah jarang pulang, jadi Dimas sering mampir. Katanya numpang wifi, katanya ngerjain tugas bareng, katanya kangen masakan Tante Rina.
19704Please respect copyright.PENANAQz6khr9w7N
Tapi aku tahu. Aku tahu banget.
19704Please respect copyright.PENANANy4zyhbFND
Aku tahu caranya Dimas ngeliatin Ibu waktu Ibu lagi nyanyi kecil sambil nyapu halaman. Aku tahu caranya Ibu pura-pura nggak sadar tapi pipinya merah. Aku tahu caranya mereka ketawa kecil pas aku ke kamar mandi sebentar. Dan aku… benci diri sendiri karena malah nggak marah. Malah penasaran. Malah pengen tahu lebih jauh.
19704Please respect copyright.PENANAIYRnmfvrGU
Aku masuk ruang tamu bawa gelas.
19704Please respect copyright.PENANA6jKeUQQHi3
“Yo, bro. Lagi ngapain lo di sini? Lagi-lagi numpang makan ya?”
19704Please respect copyright.PENANA2FtyHuQqi2
Dimas duduk santai di sofa panjang, kaki selonjor, remot TV di tangan sambil nyalain Netflix. Kaos hitam polos, celana pendek olahraga. Badannya lebih berotot dari aku—dia rutin gym sama futsal. Rambut cepak rapi, kulit sawo matang, senyum lebar yang bikin cewek-cewek di kampus sering lirik.
19704Please respect copyright.PENANAdeXNaPfjsU
“Eh, Arga pulang. Gue cuma nemenin Tante bentar. Hujan deras banget, males balik kos.”
19704Please respect copyright.PENANAZSJQVi6wYc
Ibu keluar dari dapur bawa nampan kecil: teh hangat sama pisang goreng masih ngepul.
19704Please respect copyright.PENANAVFAYkHqJQ6
“Ini, diminum dulu. Dingin banget badan kamu, Mas Dimas. Dari tadi basah kuyup.”
19704Please respect copyright.PENANAMFq0S9RzrH
Waktu Ibu membungkuk meletakkan nampan, kaos rumahannya longgar ke depan sedikit terbuka. Bra hitam renda tipis membungkus payudara penuhnya. Bentuk bulat sempurna, berat, puting samar tercetak karena dingin—cokelat muda, lingkaran areola kecil rapi.
19704Please respect copyright.PENANABhaDN4imfF
Dimas ngeliat ke situ. Cuma sepersekian detik. Matanya melebar, lalu cepat balik ke TV.
19704Please respect copyright.PENANADNyWlfeu9b
“Makasih, Tante. Wanginya enak banget pisang gorengnya.”
19704Please respect copyright.PENANA9wY4dUjDkA
Ibu tersenyum. Senyum lembut, mata sipit di ujung, gigi depan rapi, bibir tebal alami merah muda tua.
19704Please respect copyright.PENANAFaqk35z6bU
“Masih hangat. Makan selagi panas ya.”
19704Please respect copyright.PENANAcKlXZwxXgY
Dia duduk di sofa sebelah Dimas—jarak cuma satu bantal. Lutut Ibu hampir nyentuh paha Dimas yang terbuka karena celana pendek naik.
19704Please respect copyright.PENANAhcxsrxzemw
Aku duduk di kursi single sebelah, buka HP, scroll Instagram sambil sesekali lirik.
19704Please respect copyright.PENANABtyQ5A1Q6g
“Eh, tadi Tante cerita, dulu pas SMA Tante suka banget nonton konser band indie ya?” tanya Dimas.
19704Please respect copyright.PENANANnZGfl56nN
Ibu ketawa kecil.
19704Please respect copyright.PENANAbz46LYw1zY
“Iya, band favorit Tante Superman Is Dead. Tante sering bolos les buat nonton mereka di kota.”
19704Please respect copyright.PENANAvt2KRPZDMa
“Serius, Tante? Gue kira Tante tipe pendiam, nurut aturan.”
19704Please respect copyright.PENANAAKdQC9PAZC
“Ya dulu nakal juga,” jawab Ibu sambil nyengir. “Tapi cuma sama temen deket yang tahu.”
19704Please respect copyright.PENANAWpcDNdJSvW
Dimas nyengir lebar. “Berarti sekarang Tante udah nggak nakal lagi dong?”
19704Please respect copyright.PENANALFyUWrygPU
Ibu memandang Dimas lama. Tatapan dari samping, bibir melengkung tipis.
19704Please respect copyright.PENANAFiQ28mBIUN
“Siapa bilang?”
19704Please respect copyright.PENANAaaj9AKkuZ5
Satu kalimat itu kayak petir kecil nyambar ruangan.
19704Please respect copyright.PENANAkUXXcR0z64
Aku batuk kecil, pura-pura minum air.
19704Please respect copyright.PENANAA58DPfjhrA
“Eh, Arga mau ganti baju dulu. Basah nih.”
19704Please respect copyright.PENANA4WJGZOETBc
Ibu menoleh. “Iya, cepet ganti. Nanti masuk angin.”
19704Please respect copyright.PENANAEKw7T28SSV
Aku naik ke lantai atas, masuk kamar, tutup pintu. Tapi aku nggak ganti baju langsung. Aku berdiri di belakang pintu, telinga menempel ke celah. Pengen tahu apa yang mereka omongin pas aku nggak ada.
19704Please respect copyright.PENANAbbjUlO1Sgi
Suara Dimas pelan.
19704Please respect copyright.PENANAEiOqNVmo6s
“Tante… serius tadi?”
19704Please respect copyright.PENANAoHaa9rc6Ox
Suara Ibu lebih pelan, hampir bisik.
19704Please respect copyright.PENANApHFbgSKUvW
“Serius apa?”
19704Please respect copyright.PENANA0qxSR2eQU4
“Bahwa Tante… masih nakal.”
19704Please respect copyright.PENANAvEPvSuzLQa
Jeda panjang.
19704Please respect copyright.PENANAzNldfPiwN3
Lalu suara Ibu.
19704Please respect copyright.PENANAKOx8u6k2kJ
“Mungkin ada. Tapi… nggak semua sisi itu boleh keluar, Mas.”
19704Please respect copyright.PENANArEA1CPYbV6
“Kenapa nggak boleh?”
19704Please respect copyright.PENANAHlodD0vPIT
“Karena… nanti orang-orang terluka.”
19704Please respect copyright.PENANALel5wVjhTv
Aku tahu “orang-orang” itu termasuk aku. Tapi bukannya marah, aku malah ngerasa panas aneh naik dari perut ke leher.
19704Please respect copyright.PENANAwd1pNzG7hz
Aku akhirnya ganti baju. Turun lagi.
19704Please respect copyright.PENANAYJt0cB1wQJ
Mereka sudah nggak di sofa. TV nyala kecil. Suara dari dapur.
19704Please respect copyright.PENANAYmBNfgVqso
Ibu lagi cuci piring. Dimas bantuin nyeka piring pake lap.
19704Please respect copyright.PENANAiB15gl7hUp
Mereka berdiri dekat banget. Punggung Ibu melengkung lembut waktu membungkuk bilas piring. Bokongnya bulat penuh di balik legging hitam tipis, garis celah terlihat jelas. Dimas ngeliat ke bawah. Sebentar. Tapi aku tahu.
19704Please respect copyright.PENANAZ2BPljuHHh
“Udah malem nih,” kataku tiba-tiba.
19704Please respect copyright.PENANA2Vzepr7g57
Dimas menoleh. “Oh iya, bro. Gue balik dulu ya.”
19704Please respect copyright.PENANAElDr7La0lu
Ibu menoleh. Pipinya agak merah.
19704Please respect copyright.PENANAPlCtCA9WxC
“Mas Dimas hati-hati ya di jalan. Hujan masih deres.”
19704Please respect copyright.PENANAwukGHPIIsc
Dimas nyengir. “Makasih, Tante. Besok aku boleh mampir lagi nggak? Pengen makan soto Tante lagi.”
19704Please respect copyright.PENANAqAkdnWdt5P
Ibu tersenyum tipis. “Boleh. Pintu rumah ini selalu terbuka buat kamu.”
19704Please respect copyright.PENANAa3OxEk6094
Kata-kata itu polos. Tapi nada di belakangnya… nggak polos.
19704Please respect copyright.PENANAGDwWt29kK9
Dimas pamit. Aku antar sampai pagar. Motornya hidup, menjauh.
19704Please respect copyright.PENANAwpTt0sAllT
Pas balik masuk, Ibu sudah naik ke atas. Lampu dapur mati. Tinggal lampu teras sama lampu kamar Ibu menyala samar.
19704Please respect copyright.PENANAwOoUWb5yzz
Aku berdiri di tangga bawah, ngeliat ke atas.
19704Please respect copyright.PENANA52cJVnBKug
Pintu kamar Ibu setengah terbuka. Suara air mengalir—dia lagi mandi.
19704Please respect copyright.PENANAJgwUhNM7JP
Aku naik pelan. Bukan ngintip. Cuma pengen tahu.
19704Please respect copyright.PENANAMsX3k3LiyY
Suara air berhenti. Lalu Ibu nyanyi kecil. Lagu lama, “Cinta Dalam Hati” versi Ungu.
19704Please respect copyright.PENANAwTqehk4mGT
“Aku tak bisa menahan… perasaan ini…”
19704Please respect copyright.PENANAk0hl1A3ZgW
Suara bergetar. Bukan dingin. Tapi karena sesuatu yang lain.
19704Please respect copyright.PENANATfexCWps1G
Aku balik ke kamar. HP bergetar. WA dari Dimas.
19704Please respect copyright.PENANACC7N5dlbSZ
Dimas:
“Bro, makasih ya hari ini. Tante baik banget.”
19704Please respect copyright.PENANAadV2RsY8Bp
Aku:
“Iya. Lo emang sering banget ke sini akhir-akhir ini.”
19704Please respect copyright.PENANANsMbLzgTKk
Dimas:
“Emang kangen sih. Kangen masakan Tante. Kangen ngobrol sama Tante.”
19704Please respect copyright.PENANAcwcSqfhsVI
Aku nggak bales lagi.
19704Please respect copyright.PENANAz37YBoznmG
Malam itu aku berbaring di kasur, mata nggak bisa merem.
19704Please respect copyright.PENANAQ8npGK8jeC
Di kepalaku muter terus: tatapan Dimas ke bra Ibu, bokong Ibu waktu membungkuk, senyum Ibu yang beda.
19704Please respect copyright.PENANAdKU71XzClB
Dan suara nyanyian Ibu tadi.
19704Please respect copyright.PENANAcA512hn9MU
“Aku tak bisa menahan… perasaan ini…”
19704Please respect copyright.PENANA4xOKZtj99q
Pagi berikutnya aku bangun dengan kepala berat, seperti ada kabut tipis yang nggak mau hilang dari pikiran. Jam di HP menunjukkan pukul 07:18. Sabtu, nggak ada kuliah. Badan terasa lengket meski AC nyala semalaman. Aku turun ke bawah masih pakai kaos oblong sama boxer tidur, bau kopi hitam sudah tercium dari dapur.
19704Please respect copyright.PENANAihql057yyW
Ibu lagi berdiri di depan kompor, punggung menghadap pintu. Dia pakai daster tipis warna biru muda yang bahan katunnya agak tembus pandang kalau kena sinar matahari pagi dari jendela belakang. Rambut masih basah setelah mandi, diikat handuk kecil di atas kepala. Lehernya putih mulus, ada setetes air mandi yang mengalir pelan dari tengkuk ke tulang selangka, lalu hilang di balik kerah daster yang agak rendah.
19704Please respect copyright.PENANAYtVrce5mhp
“Pagi, Arga,” katanya tanpa menoleh. Suaranya lembut seperti biasa, tapi ada nada hangat yang beda hari ini.
19704Please respect copyright.PENANARbI3G1wVM6
“Pagi, Bu. Mau sarapan apa?”
19704Please respect copyright.PENANAzBdBORlgIn
Ibu menoleh. Senyumnya pagi ini terasa lebih… dalam. Pipinya agak merona, mungkin karena uap panci atau karena sesuatu yang lain.
19704Please respect copyright.PENANA0tXof9udMr
“Wah, anak ibu lagi mager nih. Nanti ibu bikin telur dadar keju sama roti bakar aja ya. Kopi mau?”
19704Please respect copyright.PENANAXoE4jwJtSt
“Iya, Bu. Hitam, nggak pake gula.”
19704Please respect copyright.PENANA96LQt77JCt
Dia balik lagi ke kompor. Aku perhatiin gerakannya. Cara dia mengaduk telur di wajan, lengan naik-turun pelan, membuat daster bergoyang di bagian dada. Payudaranya bergerak lembut mengikuti irama—tanpa bra pagi ini, putingnya samar tercetak di kain tipis, dua titik kecil yang mengeras karena udara pagi dingin. Bentuknya bulat sempurna, berat tapi kencang, ukuran yang selalu bikin orang salah sangka Ibu masih muda.
19704Please respect copyright.PENANAu8wapy3GHg
Aku duduk di kursi makan, tarik napas dalam. Pikiranku balik ke malam tadi. Tatapan Dimas ke bra Ibu. Bokong Ibu waktu membungkuk di dapur. Senyum Ibu yang beda. Pesan Dimas yang nggak aku bales.
19704Please respect copyright.PENANAWwZovqJAxO
Tiba-tiba HP bergetar di meja. Notif WA.
19704Please respect copyright.PENANAOTdSbc9wdi
Dimas:
“Pagi bro. Tante udah bangun belum? Gue mau mampir bentar, bawa oleh-oleh klepon sama getuk dari warung Bu RT.”
19704Please respect copyright.PENANA2K4po6A7LD
Aku baca dua kali. Jantung mulai berdegup agak kencang lagi.
19704Please respect copyright.PENANAYvWmfDQ7VV
Aku bales singkat.
19704Please respect copyright.PENANAuGHFJ8VY9e
Arga:
“Udah. Lagi masak sarapan. Mampir aja.”
19704Please respect copyright.PENANAiM9Afo8hP3
Dimas langsung balas.
19704Please respect copyright.PENANAMHPtZrkAWo
Dimas:
“Oke. 15 menit gue sampe.”
19704Please respect copyright.PENANAK5PaXMnTAh
Aku taruh HP. Ibu lagi nyusun piring.
19704Please respect copyright.PENANALrxqEga2RZ
“Ada Dimas mau mampir, Bu. Bawa makanan.”
19704Please respect copyright.PENANA7uVH3HMCI0
Ibu berhenti sejenak. Sendok kayu di tangannya diam di udara.
19704Please respect copyright.PENANAbXWuTqmEuU
“Oh… iya? Cepet banget dia datang lagi.”
19704Please respect copyright.PENANAEcjjTJ0D5P
Nada suaranya nggak marah. Malah ada sedikit… senang yang tersembunyi.
19704Please respect copyright.PENANAx7mGfhDkRP
“Emangnya kenapa, Bu? Biasa kan dia sering ke sini.”
19704Please respect copyright.PENANAKA4iotq7UZ
Ibu tersenyum kecil, balik fokus ke wajan.
19704Please respect copyright.PENANAujnvdjHtQ6
“Iya sih. Cuma… ibu seneng aja. Rumah jadi rame.”
19704Please respect copyright.PENANA9F4GwyV1GY
Dia meletakkan piring di depanku. Waktu membungkuk, kerah daster terbuka sedikit lebih lebar. Aku lihat lekuk payudaranya dari atas—putih lembut, garis vena biru samar di samping, puting cokelat muda menonjol karena dingin.
19704Please respect copyright.PENANAEWgiwGIdkS
Aku cepat-cepat ambil sendok, pura-pura fokus makan.
19704Please respect copyright.PENANAW7eqF7LyEZ
Ibu duduk di seberangku. Kakinya di bawah meja hampir nyentuh kakiku. Dia nggak sadar, atau pura-pura nggak sadar.
19704Please respect copyright.PENANAADoIWjIzDe
“Kamu kok diem aja dari tadi?” tanyanya sambil mengoles selai kacang di roti.
19704Please respect copyright.PENANA0xaMINTB8A
“Nggak apa-apa, Bu. Masih ngantuk.”
19704Please respect copyright.PENANALlOolP8j2o
Dia memandangku lama. Mata cokelat tua, bulu mata panjang alami.
19704Please respect copyright.PENANAbhKAXn5TWb
“Kalau ada apa-apa bilang ya sama ibu. Jangan dipendem sendiri.”
19704Please respect copyright.PENANAVMuAbf3wt2
Aku mengangguk. Dalam hati pengen bilang:
“Bu, aku tahu ada sesuatu antara Ibu sama Dimas. Dan aku… entah kenapa nggak bisa marah. Malah pengen lihat lebih jauh.”
19704Please respect copyright.PENANAx4dsqFKyuG
Tapi tentu saja aku nggak bilang. Aku cuma senyum tipis.
19704Please respect copyright.PENANA9UTXC6elTj
“Iya, Bu.”
19704Please respect copyright.PENANA7gAHrAvMTI
Sepuluh menit kemudian bel rumah berbunyi. Ibu bangun duluan.
19704Please respect copyright.PENANAGQ6Q4hLCj4
“Aku buka pintu ya.”
19704Please respect copyright.PENANAAYXZJMmfZF
Dia jalan ke pintu depan. Daster biru mudanya bergoyang pelan mengikuti langkah. Bokongnya membulat lembut di balik kain tipis itu.
19704Please respect copyright.PENANA7KzHsTUDx7
Aku ikut berdiri, ngintip dari sudut dapur.
19704Please respect copyright.PENANAP9OdTZEwAh
Dimas masuk sambil bawa dua kantong kresek.
19704Please respect copyright.PENANAYyRSouS2TC
“Pagi Tante! Ini oleh-oleh dari Bu RT. Klepon sama getuk lindri masih hangat.”
19704Please respect copyright.PENANALNHzeEciJM
Ibu tersenyum lebar. Pipinya langsung merona lagi.
19704Please respect copyright.PENANASTLl10dYiX
“Wah, makasih banyak, Mas. Masuk dulu, sarapan bareng.”
19704Please respect copyright.PENANA3NWkUlCNMu
Dimas melirik ke arahku.
19704Please respect copyright.PENANApTrbaOgU8k
“Eh bro, lo udah sarapan?”
19704Please respect copyright.PENANAHKqirYATiO
“Baru mulai,” jawabku datar.
19704Please respect copyright.PENANA6Ur6MejkvM
Dia masuk, taruh kantong di meja, lalu duduk di sebelah Ibu. Bukan di seberang. Di sebelah.
19704Please respect copyright.PENANAgMOxZnalf4
Ibu ambil piring tambahan, nyuapin klepon ke piring kecil.
19704Please respect copyright.PENANAGN9tcVd64j
“Ini masih hangat. Cobain dulu.”
19704Please respect copyright.PENANA25IOxN9iyu
Dimas ambil satu, masukin ke mulut. Matanya melebar.
19704Please respect copyright.PENANAu7ydNrUn67
“Enak banget! Tante harus belajar bikin klepon dari Bu RT nih.”
19704Please respect copyright.PENANAAPoMWyFp8L
Ibu ketawa kecil.
19704Please respect copyright.PENANAu2xNGzcN3X
“Ibu bisa kok. Cuma males aja ngulek kelapa parutnya.”
19704Please respect copyright.PENANA4HgquYvs4f
Mereka ngobrol ringan. Cuaca, harga beras, tetangga baru beli mobil. Tapi aku notice sesuatu.
19704Please respect copyright.PENANAIVPtrxKmCf
Cara Dimas ngeliat Ibu. Matanya sering turun ke leher, ke dada, ke tangan Ibu waktu narik rambut jatuh ke depan. Dan Ibu… nggak menutup kerah daster. Malah kadang membungkuk sedikit waktu ngambil sesuatu dari meja, membuat lekuk payudaranya terlihat lebih jelas.
19704Please respect copyright.PENANASlPgcAM2mh
Aku ngerasa panas di telinga. Bukan cemburu biasa. Lebih ke campuran aneh antara malu, penasaran, dan sesuatu yang bikin perut bergetar.
19704Please respect copyright.PENANAY9PeKENFal
Setelah sarapan, Dimas bilang mau bantuin cuci piring. Ibu awalnya nolak, tapi Dimas ngotot.
19704Please respect copyright.PENANAh1fzeRA7GG
“Ya udah, bantuin aja. Biar cepet.”
19704Please respect copyright.PENANAJwqwP5N89F
Mereka berdua di depan wastafel. Aku duduk di meja makan, pura-pura scroll TikTok, tapi mata nggak lepas.
19704Please respect copyright.PENANAy3X5Fyy14z
Dimas berdiri di sebelah kiri Ibu. Bahunya nyaris nyentuh bahu Ibu. Waktu Ibu nyodorkan piring basah, tangan mereka bersentuhan. Lama. Jari Dimas melingkar sebentar di pergelangan tangan Ibu sebelum ambil piring.
19704Please respect copyright.PENANAOedxXLmVrH
Ibu nggak narik tangan. Dia cuma menoleh sedikit, senyum tipis.
19704Please respect copyright.PENANAm5oFIxT63T
“Mas Dimas… hati-hati, licin.”
19704Please respect copyright.PENANAKxUqkpqfWh
Dimas nyengir.
19704Please respect copyright.PENANACkWPgb0uT3
“Iya Tante. Tapi tangan Tante lembut banget, nggak licin kok.”
19704Please respect copyright.PENANATfxYeahwFD
Ibu ketawa pelan. Pipinya merah lagi.
19704Please respect copyright.PENANATg8ynkiVkv
Aku bangun tiba-tiba.
19704Please respect copyright.PENANAzr96wC9pTB
“Gue ke kamar dulu ya. Mau tiduran bentar.”
19704Please respect copyright.PENANAEh45NooraZ
Ibu menoleh.
19704Please respect copyright.PENANA3Gr5Wwsu5h
“Jangan lama-lama, nanti masuk angin.”
19704Please respect copyright.PENANA0t90F6vBqO
Dimas cuma nyengir ke arahku.
19704Please respect copyright.PENANA0IeeC641C7
“Tidur aja bro. Santai.”
19704Please respect copyright.PENANA5A1lIUNLHx
Aku naik ke atas. Tapi nggak masuk kamar. Aku berdiri di tangga atas, ngintip dari celah pagar anak tangga.
19704Please respect copyright.PENANAVLqe7o9IPK
Mereka masih di dapur. Sekarang Ibu lagi nyeka meja. Dimas berdiri di belakangnya, pura-pura bantu angkat piring kering ke rak.
19704Please respect copyright.PENANAbB3L2WeGPA
Tapi aku lihat. Tangan Dimas menyentuh pinggang Ibu. Cuma sebentar. Kayak nggak sengaja. Tapi Ibu nggak menghindar. Malah badannya agak mundur sedikit, punggungnya hampir nyentuh dada Dimas.
19704Please respect copyright.PENANA9RrNOr3kDh
Mereka diam beberapa detik.
19704Please respect copyright.PENANABaym29yGLS
Lalu Ibu berbalik pelan. Mereka saling berhadapan. Jarak cuma beberapa senti.
19704Please respect copyright.PENANABA8sAU5GC9
“Mas Dimas…” suara Ibu pelan banget. “Kamu… kenapa sih akhir-akhir ini sering banget ke sini?”
19704Please respect copyright.PENANAaP3W4EJie2
Dimas nggak langsung jawab. Matanya turun ke bibir Ibu, lalu naik lagi ke mata.
19704Please respect copyright.PENANAUrrOS52NeV
“Karena aku suka ngeliat Tante senyum. Aku suka denger Tante cerita. Aku suka… deket sama Tante.”
19704Please respect copyright.PENANAE1TXeExWBR
Ibu menelan ludah. Dadanya naik-turun lebih cepat.
19704Please respect copyright.PENANAmUartxq37M
“Itu… nggak boleh, Mas. Kamu tahu kan.”
19704Please respect copyright.PENANACDcoXlMPrQ
Dimas maju setengah langkah. Dada mereka hampir bersentuhan.
19704Please respect copyright.PENANASpE7W6XI8G
“Aku tahu. Tapi aku nggak bisa bohong sama perasaan sendiri, Tante.”
19704Please respect copyright.PENANAyqVb7Hgcat
Ibu memandang Dimas lama. Matanya berkaca-kaca. Bukan sedih. Lebih ke campuran takut dan rindu.
19704Please respect copyright.PENANAd7ccVOGkvX
“Kalau Arga tahu…”
19704Please respect copyright.PENANA2FQMZL2qgK
Dimas menggeleng pelan.
19704Please respect copyright.PENANAe3kQJtYf3a
“Dia nggak akan tahu. Kita… bisa jaga.”
19704Please respect copyright.PENANAidIfj17wh9
Ibu menunduk. Rambut setengah basah jatuh menutupi sebagian wajah.
19704Please respect copyright.PENANAYuJk2gYyyc
“Mas Dimas… aku ibunya temenmu.”
19704Please respect copyright.PENANAiwwQrwzdFf
Dimas angkat tangan kanannya pelan, menyentuh dagu Ibu, mengangkat wajahnya supaya saling tatap lagi.
19704Please respect copyright.PENANAba01Ne7AbS
“Justru karena itu… aku nggak bisa berhenti mikirin Tante.”
19704Please respect copyright.PENANAP3deNZ5DQP
Mereka diam lagi. Lama.
19704Please respect copyright.PENANAqZTM7O5Inh
Aku ngerasa jantung mau copot. Aku pengen teriak. Aku pengen turun dan nendang Dimas keluar. Tapi kakiku nggak gerak. Malah… aku ngerasa ada sesuatu yang keras di boxerku. Aku malu sendiri.
19704Please respect copyright.PENANAFbdccEFs7a
Akhirnya Ibu mundur satu langkah. Suaranya bergetar.
19704Please respect copyright.PENANAKn9SiielxL
“Mas Dimas… pulang dulu ya hari ini. Ibu… butuh mikir.”
19704Please respect copyright.PENANASVrV2AR4eE
Dimas mengangguk pelan. Matanya masih nggak lepas dari wajah Ibu.
19704Please respect copyright.PENANA6lLoV5SxHp
“Iya, Tante. Aku nggak mau maksa. Tapi… aku bakal balik lagi. Besok. Lusa. Sampai Tante bilang berhenti.”
19704Please respect copyright.PENANAoFHrb2XTFI
Ibu cuma mengangguk kecil. Nggak bilang apa-apa lagi.
19704Please respect copyright.PENANA31WWQo3bFn
Dimas pamit. Aku buru-buru masuk kamar sebelum dia naik tangga. Aku dengar pintu depan ditutup. Motor Dimas hidup, lalu menjauh.
19704Please respect copyright.PENANAnCZwhu2hi1
Beberapa menit kemudian aku dengar langkah Ibu naik tangga. Pelan. Berat.
19704Please respect copyright.PENANAlT6wp8G9nC
Dia berhenti di depan pintu kamarku. Ketuk pelan.
19704Please respect copyright.PENANAcUHfUEg6XL
“Arga… ibu masuk ya?”
19704Please respect copyright.PENANADoKCAJMPE7
Aku buka pintu. Ibu berdiri di sana, matanya merah. Tapi nggak nangis.
19704Please respect copyright.PENANAWPckl30a9H
“Ibu cuma mau bilang… ibu sayang kamu. Selalu.”
19704Please respect copyright.PENANAHV5QyHRq51
Aku mengangguk. Tenggorokanku kering.
19704Please respect copyright.PENANAl8bf9xfqE4
“Iya, Bu. Aku tahu.”
19704Please respect copyright.PENANAoEj3NeYf6h
Dia tersenyum tipis. Lalu masuk ke kamarnya sendiri. Pintu ditutup pelan.
19704Please respect copyright.PENANATXzO5Qqrrs
Malam itu aku nggak bisa tidur lagi.
19704Please respect copyright.PENANAVVh0Tr5wNf
Aku tahu garis itu sudah mulai kabur.
19704Please respect copyright.PENANAP9R548Gmaq
Dan aku, Arga… entah kenapa… malah pengen lihat seberapa jauh garis itu bisa hilang.
19704Please respect copyright.PENANARwdk7TO1Bu
Malam itu hujan lagi. Bukan deras seperti kemarin, tapi gerimis halus yang bikin jendela kamar berembun tipis. Aku, Arga, duduk di kasur, punggung bersandar ke headboard, HP di tangan tapi layarnya gelap. Jam sudah lewat tengah malam, pukul 00:47. Rumah sepi. Ayah nggak pulang akhir pekan ini—katanya ada meeting mendadak di Surabaya. Jadi cuma ada aku sama Ibu di rumah besar ini.
19704Please respect copyright.PENANAr9uPsYIcrC
Aku nggak bisa tidur. Pikiranku muter terus ke adegan pagi tadi di dapur. Sentuhan tangan Dimas di pinggang Ibu. Cara Ibu nggak langsung menjauh. Cara matanya berkaca-kaca pas bilang “aku ibunya temenmu”. Dan cara Dimas jawab, “justru karena itu… aku nggak bisa berhenti mikirin Tante.”
19704Please respect copyright.PENANA3PmSp5HjwH
Aku tarik napas panjang. Dada terasa sesak. Tapi anehnya, bukan sesak marah. Lebih ke… gelisah yang panas. Yang bikin tangan dingin tapi telapak tangan berkeringat.
19704Please respect copyright.PENANAl8qO8ZNSrU
HP bergetar pelan di kasur. Notif WA.
19704Please respect copyright.PENANACuxtZX1x01
Dimas.
19704Please respect copyright.PENANA61ZgfvY5KZ
Arga:
“Bro… lo udah tidur?”
19704Please respect copyright.PENANAKrjcJiCK5T
Aku liat status online-nya. Dia masih aktif. Jari aku ragu-ragu di atas keyboard.
19704Please respect copyright.PENANA9r0M2f16Sx
Arga:
“Belum. Lo kenapa?”
19704Please respect copyright.PENANAzbKpfjozrK
Dimas:
“Nggak bisa tidur. Mikirin tadi pagi.”
19704Please respect copyright.PENANAwWjDfmMKty
Jantungku langsung lompat. Aku tahu apa yang dia maksud.
19704Please respect copyright.PENANADJ2GHyFHmg
Arga:
“Mikirin apa?”
19704Please respect copyright.PENANALGYkOxtO8h
Dimas typing lama. Titik-titiknya muncul hilang muncul lagi.
19704Please respect copyright.PENANAbJXsApIqTv
Dimas:
“Tante.
Aku tahu aku salah. Tapi aku beneran nggak bisa bohong lagi. Setiap kali ke rumah lo, aku cuma pengen ngeliat Tante. Denger suaranya. Liat senyumnya.
Dan tadi… waktu tangan kita nyentuh… rasanya listrik gitu, bro.”
19704Please respect copyright.PENANANJcPQQhuRT
Aku baca pesan itu berkali-kali. Dada panas. Aku nggak bales langsung. Malah aku buka chat Ibu. Dia online juga. Pukul 00:52.
19704Please respect copyright.PENANAEMSf2DW1LO
Aku nggak tahu kenapa, tapi aku ngetik pesan ke Ibu.
19704Please respect copyright.PENANA9akg3O6nC0
Arga:
“Bu… masih bangun?”
19704Please respect copyright.PENANAp45B5joJ1H
Pesan terkirim. Dia langsung read.
19704Please respect copyright.PENANAUZ7sYVJDO4
Ibu:
“Iya Arga. Ibu lagi di kamar. Kamu kenapa belum tidur?”
19704Please respect copyright.PENANA7ixnghAZjK
Arga:
“Nggak bisa tidur aja. Mikirin banyak hal.”
19704Please respect copyright.PENANAzDpFCtBZGM
Ibu:
“Apa yang dipikirin?”
19704Please respect copyright.PENANAKN45xP539o
Aku ragu. Jari gemetar sedikit.
19704Please respect copyright.PENANAmGOFJk3tJ4
Arga:
“Bu… kalau misalnya ada orang yang suka sama Ibu… Ibu bakal gimana?”
19704Please respect copyright.PENANAwuRW6KOud5
Jeda panjang. Dia nggak langsung bales. Aku bisa bayangin dia lagi duduk di ranjang, mungkin pakai daster tipis lagi, rambut terurai, matanya menatap layar HP dengan ekspresi bingung.
19704Please respect copyright.PENANAjCFR1Xn59X
Akhirnya balesannya masuk.
19704Please respect copyright.PENANATO8N3t4rkv
Ibu:
“Kenapa tiba-tiba nanya gitu, Arga?”
19704Please respect copyright.PENANArHHrwwj2DD
Arga:
“Cuma penasaran aja.”
19704Please respect copyright.PENANANEFnUkFCGm
Ibu:
“…Ibu nggak tahu. Ibu udah lama nggak mikirin hal-hal kayak gitu.
Tapi kalau orang itu… bikin Ibu merasa dilihat lagi, merasa diinginkan lagi… mungkin Ibu bakal takut. Takut salah langkah. Takut nyakitin orang lain.”
19704Please respect copyright.PENANA3ICiwoOFsy
Aku baca pesan itu. Tenggorokanku kering.
19704Please respect copyright.PENANA5CnCIKSOeX
Arga:
“Termasuk nyakitin aku?”
19704Please respect copyright.PENANAIadoWXuYWo
Ibu:
“Terutama kamu.”
19704Please respect copyright.PENANA6THjxZFIl4
Aku taruh HP di dada. Mata terpejam. Aku ngerasa ada sesuatu yang retak di dalam diri aku. Bukan marah. Lebih ke… rela? Aku nggak ngerti sendiri.
19704Please respect copyright.PENANAdPxKjbZghd
Tiba-tiba HP bergetar lagi. Dimas.
19704Please respect copyright.PENANADGuTKemzVr
Dimas:
“Bro… lo marah nggak kalau gue bilang gue suka sama ibu lo?”
19704Please respect copyright.PENANARDpYiwkD3l
Pertanyaan itu kayak tamparan. Tapi anehnya, nggak sakit. Malah bikin aku penasaran lebih dalam.
19704Please respect copyright.PENANAtVlLQZUBrj
Arga:
“Lo beneran suka? Atau cuma nafsu?”
19704Please respect copyright.PENANA8lG5cpDCO5
Dimas bales cepet.
19704Please respect copyright.PENANAaAOPe0xEGS
Dimas:
“Awalnya mungkin nafsu. Tapi sekarang… lebih dari itu.
Gue suka caranya Tante ketawa kecil pas cerita masa lalu. Gue suka caranya Tante nyanyi pelan waktu nyapu. Gue suka caranya Tante ngeliat gue… kayak gue bukan cuma temen lo, tapi… orang yang dia perhatiin.”
19704Please respect copyright.PENANAOnEGn0n0iE
Aku nggak bales lagi. Aku matiin HP, taruh di meja samping. Lalu aku bangun. Kaki telanjang menyentuh lantai dingin. Aku jalan pelan ke pintu kamar, buka sedikit.
19704Please respect copyright.PENANAmZlvgRA5Py
Koridor gelap. Cuma lampu tidur di ujung tangga yang nyala kuning redup.
19704Please respect copyright.PENANAfP5MOcigpM
Aku jalan ke kamar Ibu. Pintunya setengah terbuka, seperti biasa kalau dia lagi sendirian di rumah. Aku berdiri di ambang pintu, nggak masuk.
19704Please respect copyright.PENANAPthqR1XSqN
Ibu duduk di ranjang. Punggungnya menghadap ke pintu. Dia pakai daster sutra tipis warna krem yang jatuh longgar di bahu. Rambut hitamnya tergerai sampai punggung tengah. Dia lagi pegang HP, tapi sekarang dia taruh di pangkuan. Kepalanya menunduk.
19704Please respect copyright.PENANAqV1GbkAPMj
Aku tahu dia nggak tidur. Napasnya terdengar pelan, agak cepat.
19704Please respect copyright.PENANAK0iDkecAKy
Aku ketuk pintu pelan.
19704Please respect copyright.PENANAHFnVCjJdut
“Bu…”
19704Please respect copyright.PENANA0w5DMf7xOe
Ibu menoleh. Matanya melebar sedikit, tapi cepat tenang lagi.
19704Please respect copyright.PENANAUHfk6P8cN2
“Arga… kenapa belum tidur?”
19704Please respect copyright.PENANA3cNwIZ1Oxp
Aku masuk pelan, tutup pintu di belakangku. Nggak dikunci.
19704Please respect copyright.PENANAwUQaBXjYfa
“Aku… pengen ngobrol.”
19704Please respect copyright.PENANAsgWm75HtC1
Ibu menggeser badan, memberi ruang di sampingnya. Aku duduk di pinggir ranjang. Jarak kami cuma satu bantal.
19704Please respect copyright.PENANAwTBI9jFEz0
“Ngobrol apa?” tanyanya lembut.
19704Please respect copyright.PENANA2jRYid14Ke
Aku menatap lantai. “Bu… aku tahu Dimas suka sama Ibu.”
19704Please respect copyright.PENANAsPbLtDhwCL
Ibu diam. Napasnya terhenti sebentar.
19704Please respect copyright.PENANAMCjKzHhrDC
“Lalu… kamu gimana?”
19704Please respect copyright.PENANAKrUQ8pIC7h
Aku angkat muka, tatap matanya.
19704Please respect copyright.PENANAhnupiLAILi
“Aku… nggak marah. Aku cuma… bingung. Kenapa aku nggak marah.”
19704Please respect copyright.PENANAW0SQh6VSWx
Ibu menunduk. Jari-jarinya mainin ujung daster.
19704Please respect copyright.PENANA053x6VSgki
“Mungkin karena kamu tahu Ibu juga… kesepian.”
19704Please respect copyright.PENANAcoPtDkC1uB
Kata itu keluar pelan, hampir bisik. Tapi rasanya kayak bom kecil di dada aku.
19704Please respect copyright.PENANAWegeTwYzV3
“Kesepian?”
19704Please respect copyright.PENANAg5CMFpmAmp
Ibu mengangguk kecil. “Ayahmu… udah lama nggak pulang. Kalau pulang pun cuma sebentar. Ibu nggak nyalahin dia. Tapi… Ibu manusia biasa, Arga. Ibu juga butuh… perhatian. Sentuhan. Kata-kata manis. Ibu juga pengen merasa… cantik lagi.”
19704Please respect copyright.PENANAadbPOKICV9
Aku ngerasa tenggorokanku kering banget.
19704Please respect copyright.PENANASnMBnGRvlu
“Dan Dimas… bikin Ibu merasa gitu?”
19704Please respect copyright.PENANAXlfXMvLcpz
Ibu nggak langsung jawab. Dia memandang ke jendela. Gerimis masih turun pelan.
19704Please respect copyright.PENANAh7axBkKOMr
“Dia… muda. Energik. Dia ngeliat Ibu bukan sebagai ibu rumah tangga yang udah tua. Dia ngeliat Ibu sebagai… wanita.”
19704Please respect copyright.PENANA78BsxzF56K
Aku menelan ludah. “Lalu Ibu… suka dia juga?”
19704Please respect copyright.PENANA5CfmezyrTv
Ibu menoleh ke aku. Matanya basah.
19704Please respect copyright.PENANABZLMJhxLQ2
“Ibu takut jawab pertanyaan itu, Arga. Karena kalau Ibu bilang iya… berarti Ibu udah melanggar banyak hal.”
19704Please respect copyright.PENANAe4jqXhNVw2
Aku maju sedikit. Tangan aku menyentuh punggung tangan Ibu. Dingin.
19704Please respect copyright.PENANAu1jbUfnFy9
“Bu… kalau Ibu mau… aku nggak bakal halangin.”
19704Please respect copyright.PENANA70TXHGIhw9
Ibu menatapku kaget. “Arga… kamu ngomong apa?”
19704Please respect copyright.PENANA7lJbSFL0SF
“Aku serius. Aku… pengen Ibu bahagia. Meski caranya… aneh. Meski orang bakal bilang salah.”
19704Please respect copyright.PENANAdClQmAMVPv
Ibu diam lama. Lalu dia mengangguk kecil.
19704Please respect copyright.PENANAd0trU0Rgtt
“Baiklah.”
19704Please respect copyright.PENANArK6fuEiEOt
Malam itu kami nggak ngomong banyak lagi. Kami cuma duduk berdampingan. Tangan aku masih pegang punggung tangan Ibu. Jari kami saling kait pelan.
19704Please respect copyright.PENANA4fY8dSmFY2
Sekitar jam satu lewat, HP Ibu bergetar di meja samping.
19704Please respect copyright.PENANAKTsIvdO93d
Dia melirik. Nama Dimas muncul di layar.
19704Please respect copyright.PENANAKGUdrd1ppB
Ibu menatap aku. Seperti minta izin.
19704Please respect copyright.PENANAHg0maObNu1
Aku mengangguk kecil.
19704Please respect copyright.PENANA9a79uHkmXM
Ibu ambil HP, buka pesan.
19704Please respect copyright.PENANA59cETkCHEI
Dimas:
“Tante… aku nggak bisa tidur. Mikirin Tante terus.
Boleh nggak aku telpon sebentar?”
19704Please respect copyright.PENANAWbmOi58Gqr
Ibu menatap aku lagi.
19704Please respect copyright.PENANAiFQj4rF5Fr
Aku bisik pelan.
19704Please respect copyright.PENANANHXtwum2qo
“Jawab aja, Bu.”
19704Please respect copyright.PENANANV6WVi40c7
Ibu mengetik balasan.
19704Please respect copyright.PENANA07ny3VrEsZ
Ibu:
“Boleh. Tapi pelan-pelan ya. Arga lagi di kamar sebelah.”
19704Please respect copyright.PENANA6dsbGfaQeY
Dia tekan tombol panggilan. Speaker off. Dia taruh HP di telinga.
19704Please respect copyright.PENANAd2dFSni3sI
“Halo… Mas Dimas…”
19704Please respect copyright.PENANAm7tRtWISCR
Suara Dimas terdengar samar dari seberang.
19704Please respect copyright.PENANAd7RVRmcc13
“Tante… suara Tante lembut banget malam-malam gini.”
19704Please respect copyright.PENANAlqrKklx8Ah
Ibu tersenyum tipis. Pipinya merona.
19704Please respect copyright.PENANABRqcUvwLPE
“Mas Dimas juga belum tidur?”
19704Please respect copyright.PENANAnfIT1UqjaJ
“Enggak bisa. Kepikiran Tante terus. Tadi pagi… waktu tangan kita nyentuh… Tante ngerasa apa?”
19704Please respect copyright.PENANAe9LiOaa1lz
Ibu menelan ludah. Matanya melirik ke aku.
19704Please respect copyright.PENANASqrBMEgjpo
“Ibu… ngerasa hangat. Dan takut.”
19704Please respect copyright.PENANA2NYrQilJTl
“Takut kenapa?”
19704Please respect copyright.PENANAJX1bXUhTcy
“Takut… ini salah. Takut Arga tahu. Takut… kita nggak bisa berhenti kalau udah mulai.”
19704Please respect copyright.PENANAOrkM530hnS
Dimas diam sebentar.
19704Please respect copyright.PENANArCQhujGeBK
“Tante… kalau Tante mau berhenti, bilang sekarang. Aku bakal mundur. Tapi kalau Tante nggak bilang berhenti… aku bakal datang lagi besok. Dan lusa. Sampai Tante bilang iya.”
19704Please respect copyright.PENANAOJ2XYmwlbP
Ibu menutup mata. Napasnya bergetar.
19704Please respect copyright.PENANAX5bPjmaXER
“Mas Dimas… Ibu nggak tahu harus bilang apa.”
19704Please respect copyright.PENANAMWg86lmdUX
“Tante nggak perlu bilang apa-apa sekarang. Cukup… jangan tolak aku besok. Biarin aku deket lagi. Biarin aku… sentuh tangan Tante lagi. Pelan-pelan aja.”
19704Please respect copyright.PENANA8k6acOjBbq
Ibu membuka mata. Tatapannya ke aku penuh pertanyaan.
19704Please respect copyright.PENANA7NcE2nMSmf
Aku mengangguk lagi. Pelan.
19704Please respect copyright.PENANAZKbfcaUqIY
Ibu berbisik ke HP.
19704Please respect copyright.PENANA9kNcp9dFZ8
“Besok… datang aja. Siang. Arga ada jadwal kelompok di kampus sampe sore.”
19704Please respect copyright.PENANA0XxG2h8jdi
Dimas terdengar napasnya lega.
19704Please respect copyright.PENANAWpqyjw1xOj
“Makasih, Tante. Aku janji… aku bakal pelan. Aku nggak mau Tante takut.”
19704Please respect copyright.PENANACoWY7q3cK1
Ibu tersenyum kecil. “Ibu percaya sama kamu.”
19704Please respect copyright.PENANATH4Ax5qMxW
Mereka ngobrol lagi beberapa menit. Hal-hal kecil. Tentang mimpi Dimas malam tadi yang ada Ibu di dalamnya. Tentang Ibu yang cerita dulu suka makan mie apa pas kuliah. Suara mereka lembut, seperti orang yang sudah lama saling kenal tapi baru mulai saling membuka.
19704Please respect copyright.PENANAyRR5nUsHZV
Akhirnya panggilan selesai.
19704Please respect copyright.PENANA8BokOVN7QT
Ibu taruh HP. Dia menatap aku lama.
19704Please respect copyright.PENANAvfS6NTHynD
“Arga… kamu beneran oke?”
19704Please respect copyright.PENANAanWS2yBfjw
Aku tarik napas dalam.
19704Please respect copyright.PENANAMycQHt52i6
“Aku oke, Bu. Aku cuma… pengen Ibu bahagia. Dan aku pengen tahu semuanya.”
19704Please respect copyright.PENANAp6E2QqErIE
Ibu maju pelan. Peluk aku dari samping. Kepalanya bersandar di bahuku. Bau sabun mandi malamnya tercium lembut.
19704Please respect copyright.PENANAQu7zjgz8Ep
“Makasih, Arga. Ibu sayang kamu.”
19704Please respect copyright.PENANAsiIuUix5yt
Aku balas pelukannya. Tapi di kepalaku, aku tahu.
19704Please respect copyright.PENANAn90OGboFid
Besok siang… sesuatu bakal berubah.
19704Please respect copyright.PENANAJhfYBgoKiQ
Dan aku… bakal ada di sini. Mungkin ngintip. Mungkin denger. Mungkin… ikut merasakan degup jantung yang sama.
19704Please respect copyright.PENANAP6YXkkbQFw
Malam itu aku tidur di kamar Ibu. Di ranjang yang sama, tapi pisah bantal. Kami nggak ngapa-ngapain. Cuma tidur berdampingan. Tapi rasanya… lebih intim dari apa pun yang pernah aku rasain sebelumnya.
19704Please respect copyright.PENANAminl1viejW
Siang itu matahari Kudus terik sekali, tapi di dalam rumah terasa lebih panas—bukan karena suhu, melainkan karena apa yang sudah menggantung di udara sejak pagi. Aku, Arga, berangkat ke kampus jam sepuluh, pura-pura ada kelompok presentasi sampai sore. Padahal presentasinya selesai jam satu siang. Aku sengaja bilang ke Ibu bakal pulang jam enam atau tujuh, biar ada ruang yang cukup.
19704Please respect copyright.PENANASnyeCl2vR4
Pas aku keluar pagar, aku sempat nengok ke jendela kamar Ibu. Tirai tipisnya bergoyang pelan, dan aku yakin Ibu lagi ngeliatin aku pergi dari balik kaca. Aku angkat tangan kecil, senyum tipis. Dia balas dengan senyuman yang sama—lembut, tapi ada getar di ujung bibirnya.
19704Please respect copyright.PENANAJxMsMBZzdL
Aku nggak langsung ke kampus. Aku muter ke warung kopi deket kampus, pesen es kopi susu, duduk di pojok sambil buka HP. Pikiranku cuma satu: apa yang bakal terjadi di rumah jam dua atau tiga siang nanti.
19704Please respect copyright.PENANAgiCluQxnpW
Jam 13:42, Dimas kirim pesan ke grup WA kami bertiga.
19704Please respect copyright.PENANAg0HETrexTx
Dimas:
“Tante, aku otw. Bawa bakso urat kesukaan Tante dari Pak Joko. Masih panas nih.”
19704Please respect copyright.PENANAezwtena8JD
Ibu bales cepet.
19704Please respect copyright.PENANAmemYp5EXfq
Ibu:
“Makasih ya Mas. Pintu depan nggak dikunci. Langsung masuk aja.”
19704Please respect copyright.PENANAUiCqayUhSN
Aku baca chat itu dari HP. Jantung mulai berdegup kencang. Aku matiin notif grup, tapi tetep pantengin.
19704Please respect copyright.PENANAJuYMG6ZXqD
Jam 14:05, Dimas kirim foto ke chat pribadi sama Ibu—aku tahu karena aku sempat liat preview sebelum dia hapus.
19704Please respect copyright.PENANAYJNZK6Xbqg
Foto itu cuma tangan Dimas pegang mangkok bakso plastik, tapi di background samar-samar keliatan pintu depan rumah kami yang udah terbuka. Artinya: dia udah sampe.
19704Please respect copyright.PENANA0swZ68ZOc6
Aku tarik napas dalam-dalam. Aku bayangin Ibu lagi berdiri di ruang tamu, mungkin pakai baju rumah yang biasa—kaos longgar sama celana pendek kain atau legging. Rambut diikat ponytail sederhana. Pipi merona meski dia coba sembunyiin.
19704Please respect copyright.PENANAnbcobfiXEG
Aku mutusin buat pulang pelan-pelan. Nggak langsung masuk rumah. Aku parkir motor di gang belakang, masuk lewat pintu samping yang jarang dipake. Naik ke lantai atas pelan banget, masuk ke kamarku, tutup pintu tapi nggak dikunci. Dari sini aku bisa denger hampir semua suara di bawah—ruang tamu, dapur, bahkan tangga kalau orang naik.
19704Please respect copyright.PENANAiXBFSxvKyF
Aku duduk di lantai, punggung bersandar ke pintu, telinga menempel ke celah bawah. Suara mereka mulai terdengar.
19704Please respect copyright.PENANAzR9ipfsxUx
Ibu:
“Wah, masih panas banget ya Mas. Makasih banyak.”
19704Please respect copyright.PENANAWNOJTETEYO
Dimas:
“Sama-sama, Tante. Gue sengaja ambil yang baru mateng. Biar Tante bisa makan selagi hangat.”
19704Please respect copyright.PENANAmjYrQiw2WZ
Suara sendok plastik beradu sama mangkok. Mereka lagi makan bareng di meja makan kecil deket dapur.
19704Please respect copyright.PENANAM81kszXbeP
Ibu:
“Enak banget kuahnya. Pedesnya pas. Mas Dimas tahu banget selera Ibu ya?”
19704Please respect copyright.PENANA41xHopuLK9
Dimas ketawa pelan.
“Ya iyalah, Tante. Gue kan sering liat Tante makan. Tiap kali gue mampir, gue perhatiin Tante suka tambah cabe berapa sendok.”
19704Please respect copyright.PENANAA3BgHeTg1y
Ibu ketawa kecil. Suaranya renyah, tapi agak bergetar.
19704Please respect copyright.PENANA77Upw69dTe
“Kok perhatiin banget sih?”
19704Please respect copyright.PENANAEk6q098uS6
Dimas:
“Karena… gue suka ngeliat Tante. Semuanya. Cara Tante nyendok, cara Tante tiup kuah supaya nggak kepanasan, cara Tante senyum pas rasanya pas di lidah.”
19704Please respect copyright.PENANAKcyiT44WaP
Jeda. Sendok berhenti bergerak.
19704Please respect copyright.PENANA8yn2mZwZ8P
Ibu:
“Mas Dimas… jangan gitu. Nanti… Arga pulang tiba-tiba.”
19704Please respect copyright.PENANAE4SjNCE2hm
Dimas:
“Tante bilang sendiri tadi pagi dia pulang sore. Kita punya waktu.”
19704Please respect copyright.PENANAyRM985alYo
Ibu diam. Aku bisa bayangin dia lagi nunduk, mainin sendok di mangkok.
19704Please respect copyright.PENANAHnb6vDj83j
Dimas:
“Tante… liat gue dong.”
19704Please respect copyright.PENANAfIpwGZKruo
Suara kursi bergeser pelan. Dimas pindah duduk lebih deket ke Ibu. Lutut mereka nyentuh di bawah meja.
19704Please respect copyright.PENANAof2foA7xbP
Dimas:
“Tante cantik banget hari ini. Kaos putihnya… cocok banget sama kulit Tante.”
19704Please respect copyright.PENANAxJIinWQsZf
Ibu:
“Ini kaos biasa aja, Mas. Udah lama.”
19704Please respect copyright.PENANAURGKSfawW0
Dimas:
“Tapi pas dipake Tante… beda. Semuanya jadi keliatan… lembut. Hangat.”
19704Please respect copyright.PENANAC7R36k0gTX
Aku ngerasa napas aku sendiri jadi pendek. Aku bayangin Ibu pakai kaos putih longgar yang agak tipis, tanpa bra lagi mungkin—putingnya samar tercetak kalau kena cahaya. Celana pendek kain abu-abu yang biasa dia pakai di rumah, memperlihatkan paha mulus putihnya yang nggak pernah kena matahari.
19704Please respect copyright.PENANAqvHwS3L8tn
Dimas:
“Boleh nggak… gue pegang tangan Tante sebentar?”
19704Please respect copyright.PENANA0Pn56h6s8J
Ibu nggak langsung jawab. Aku denger napasnya agak cepat.
19704Please respect copyright.PENANAH8aqeBaHXd
Ibu:
“Mas… ini… kita nggak boleh.”
19704Please respect copyright.PENANAlk0U2ySNGJ
Dimas:
“Cuma tangan. Gue janji nggak lebih. Gue cuma pengen ngerasain… hangatnya Tante.”
19704Please respect copyright.PENANALTKM3UMILh
Jeda panjang.
19704Please respect copyright.PENANA2fjFYLEdHF
Lalu suara pelan—jari-jari yang saling bertemu.
19704Please respect copyright.PENANAB62NBONPG5
Dimas:
“Tangan Tante dingin. Gue hangatin ya.”
19704Please respect copyright.PENANAh9qR9U13Lp
Ibu:
“Mas Dimas…”
19704Please respect copyright.PENANAALXMfFr8nG
Suara itu hampir bisik. Bukan nolak. Lebih ke… menyerah pelan.
19704Please respect copyright.PENANAWFUT6AlGeB
Mereka diam beberapa menit. Cuma denger suara napas. Kadang suara jempol Dimas mengusap punggung tangan Ibu pelan-pelan, melingkar di tulang pergelangan.
19704Please respect copyright.PENANAmVvAtu5NGQ
Dimas:
“Tante tahu nggak… setiap kali gue pulang dari sini, gue nggak bisa tidur. Mikirin tangan ini. Mikirin senyum Tante. Mikirin… bau sabun mandi Tante yang masih nempel di baju gue pas gue peluk Tante kemarin pas pamitan.”
19704Please respect copyright.PENANARKaTwdwoAS
Ibu:
“Kemarin itu… cuma pelukan biasa.”
19704Please respect copyright.PENANANekvH5yHNz
Dimas:
“Bagi Tante mungkin biasa. Bagi gue… itu yang pertama kali gue ngerasa Tante balas peluk gue lebih erat dari biasanya.”
19704Please respect copyright.PENANAGhQEthN2gg
Ibu diam lagi.
19704Please respect copyright.PENANA2GVekIQEnl
Dimas:
“Tante… boleh gue peluk lagi? Sekarang. Di sini. Cuma peluk. Gue janji nggak lebih.”
19704Please respect copyright.PENANALBBbVj0KbW
Aku ngerasa dada sesak. Napas aku hampir berhenti.
19704Please respect copyright.PENANAxtxcxU71dO
Ibu:
“Mas… kalau Arga tahu…”
19704Please respect copyright.PENANAKMV3vANy8M
Dimas:
“Dia nggak bakal tahu. Dan… kemarin malam Tante bilang ke gue lewat chat… kalau Arga udah tahu. Dan dia… nggak marah.”
19704Please respect copyright.PENANAvGVf1tTJND
Ibu terdengar menarik napas tajam.
19704Please respect copyright.PENANAdqcdCzA8B5
Ibu:
“Kamu… tahu dari mana?”
19704Please respect copyright.PENANAV7cVmWuLPd
Dimas:
“Tante sendiri yang cerita tadi pagi pas chat. Bahwa Arga bilang… boleh. Bahwa Arga pengen Tante bahagia.”
19704Please respect copyright.PENANANwryUl2pMQ
Ibu:
“Aku… nggak nyangka dia bakal bilang gitu.”
19704Please respect copyright.PENANAcnsvodynhV
Dimas:
“Mungkin Arga lebih dewasa dari yang kita kira. Mungkin dia juga pengen Tante nggak kesepian lagi.”
19704Please respect copyright.PENANADgGxiFdodE
Ibu nggak jawab. Tapi aku denger suara kursi bergeser lagi. Mereka berdiri.
19704Please respect copyright.PENANAiW0zQngRws
Dimas:
“Sini… peluk gue pelan aja.”
19704Please respect copyright.PENANAJsR5EW5nUS
Suara kain bergesekan. Napas Ibu terdengar deket banget.
19704Please respect copyright.PENANAK6ircUuF1J
Dimas:
“Tante… bau sabunnya enak banget. Sama kayak kemarin.”
19704Please respect copyright.PENANAmKZoTsLw8N
Ibu:
“Mas Dimas… jantung kamu deg-degan banget.”
19704Please respect copyright.PENANArwMtUtsLh4
Dimas:
“Iya. Karena gue deket sama Tante. Karena gue akhirnya boleh pegang Tante kayak gini.”
19704Please respect copyright.PENANANdC9YBQamt
Mereka diam lama. Cuma pelukan. Tangan Dimas pasti lagi di punggung Ibu, mengusap pelan dari atas ke bawah. Ibu pasti lagi bersandar, kepala di dada Dimas, tangan memeluk pinggangnya.
19704Please respect copyright.PENANA9wdhwyPU89
Dimas:
“Tante… boleh gue cium kening Tante?”
19704Please respect copyright.PENANACFsnZeYtor
Ibu nggak jawab langsung. Tapi aku denger suara ciuman pelan—bibir Dimas menyentuh kening Ibu lama. Lembut. Penuh perasaan.
19704Please respect copyright.PENANAYV7wlVFnN1
Ibu:
“Mas…”
19704Please respect copyright.PENANA5rfuOtxChU
Dimas:
“Sekarang… boleh gue cium bibir Tante? Cuma sekali. Pelan. Gue pengen tahu rasanya… bibir Tante.”
19704Please respect copyright.PENANA3owJBW9Gnq
Ibu menarik napas panjang. Dadanya naik-turun cepat—aku bisa bayangin payudaranya menekan dada Dimas.
19704Please respect copyright.PENANAFVcg42flDW
Ibu:
“Mas… ini… titik nggak balik.”
19704Please respect copyright.PENANAs6SdjWXF3M
Dimas:
“Gue tahu. Dan gue siap kalau Tante mau berhenti kapan aja. Tapi kalau Tante izinin… gue bakal cium Tante selembut mungkin.”
19704Please respect copyright.PENANAl9cAIXmPxW
Jeda yang terasa abadi.
19704Please respect copyright.PENANAbACoheFVk4
Lalu suara pelan—bibir yang bertemu.
19704Please respect copyright.PENANAUxcYlGL5CE
Pertama cuma sentuhan ringan. Bibir Dimas di bibir Ibu. Nggak langsung dalam. Cuma nempel. Lama.
19704Please respect copyright.PENANAmCFeNPYssf
Ibu mengeluarkan suara kecil dari hidung—seperti desahan pelan yang tertahan.
19704Please respect copyright.PENANAaAYlxk4oZ6
Dimas:
“Tante… lembut banget.”
19704Please respect copyright.PENANAfHdo6j9qVm
Dia cium lagi. Kali ini lebih dalam sedikit. Bibirnya menggerakkan bibir bawah Ibu pelan. Lidahnya menyentuh ujung bibir Ibu—nggak masuk langsung, cuma mengetuk pelan, minta izin.
19704Please respect copyright.PENANAbejA3wqpXD
Ibu membalas. Bibirnya terbuka sedikit. Lidah mereka bertemu—pertama cuma ujung lidah yang saling sapa. Lalu pelan-pelan jadi lebih dalam. Suara ciuman basah terdengar samar—lembut, penuh ragu, tapi makin lama makin dalam.
19704Please respect copyright.PENANAByWin2UWaN
Tangan Dimas naik ke pipi Ibu, mengusap pelan. Ibu memeluk leher Dimas, jari-jarinya masuk ke rambut cepaknya.
19704Please respect copyright.PENANAyEKR4orJIW
Mereka ciuman lama. Mungkin lima menit. Kadang berhenti sebentar buat tarik napas, lalu balik lagi. Kadang cuma bibir yang saling tempel tanpa gerak, cuma ngerasain hangatnya satu sama lain.
19704Please respect copyright.PENANAkXfofm7ZDY
Dimas:
“Tante… gue suka banget rasanya. Manis. Hangat. Kayak… pulang.”
19704Please respect copyright.PENANAm6QSFic4y2
Ibu:
“Mas Dimas… aku… takut.”
19704Please respect copyright.PENANAmXhq73Uqiy
Dimas:
“Takut apa?”
19704Please respect copyright.PENANABXiZr8q28q
Ibu:
“Takut… aku nggak bisa berhenti. Takut… ini bikin semuanya hancur.”
19704Please respect copyright.PENANAMOI407jBJO
Dimas:
“Gue janji… kita pelan-pelan. Kita jaga. Kita nggak buru-buru. Gue cuma pengen Tante tahu… gue sayang Tante. Bukan cuma badan Tante. Tapi… semuanya.”
19704Please respect copyright.PENANAOse2JSZVjP
Ibu diam. Lalu dia cium Dimas lagi—kali ini dia yang mulai. Lebih berani sedikit. Lidahnya masuk lebih dalam, menjelajah mulut Dimas pelan.
19704Please respect copyright.PENANAXx9GaLwb6S
Mereka pindah ke sofa ruang tamu. Aku denger suara badan jatuh pelan ke bantal sofa. Mereka duduk berdampingan, tapi badan saling menempel. Tangan Dimas di pinggang Ibu, Ibu bersandar di dada Dimas.
19704Please respect copyright.PENANAusvCOjw3Ig
Mereka ciuman lagi. Lebih lama. Lebih dalam. Tapi tetap nggak lebih dari itu. Nggak ada tangan yang nakal ke dada atau ke bawah. Cuma pelukan, ciuman, usapan punggung, usapan pipi, bisik-bisik kata manis.
19704Please respect copyright.PENANA5IytLOiV4l
Dimas:
“Tante… matanya cantik banget pas ditutup gini.”
19704Please respect copyright.PENANArDBFOySMFG
Ibu:
“Mas… jantung aku rasanya mau copot.”
19704Please respect copyright.PENANAYDmtNlgpWZ
Dimas:
“Sama. Tapi gue seneng. Seneng banget akhirnya bisa gini sama Tante.”
19704Please respect copyright.PENANARmzqs72JLR
Mereka diam lagi. Cuma pelukan. Napas saling bercampur.
19704Please respect copyright.PENANAYmWLvyGEns
Jam menunjukkan pukul 15:40. Mereka masih di sofa. Masih saling peluk. Masih sesekali cium pelan.
19704Please respect copyright.PENANAIdqBUgMdJq
Dimas:
“Tante… besok boleh lagi nggak?”
19704Please respect copyright.PENANA2H2gdo0Hiy
Ibu:
“Mas… aku nggak tahu. Tapi… aku nggak bisa bilang nggak.”
19704Please respect copyright.PENANAJvyUibNbRA
Dimas:
“Makasih, Tante. Gue bakal datang lagi. Pelan-pelan. Sampai Tante siap… atau sampai Tante bilang berhenti.”
19704Please respect copyright.PENANAGzYs9EYiZ0
Ibu:
“Jangan bilang berhenti dulu. Aku… belum siap bilang itu.”
19704Please respect copyright.PENANAQtRcrhpJok
Mereka cium lagi. Lama.
19704Please respect copyright.PENANA3PEiPA1pLQ
Lalu suara Dimas.
19704Please respect copyright.PENANAeHiBwzT1FB
Dimas:
“Aku pulang dulu ya, Tante. Biar nggak ketahuan Arga pulang.”
19704Please respect copyright.PENANAE21ACcW3bA
Ibu:
“Iya… hati-hati ya.”
19704Please respect copyright.PENANA6YlunlE38H
Suara pintu depan dibuka, ditutup pelan. Motor Dimas hidup, menjauh.
19704Please respect copyright.PENANASkxaCEGonl
Rumah kembali sepi.
19704Please respect copyright.PENANAHyIJTWz6r8
Aku tunggu lima menit. Lalu aku turun pelan.
19704Please respect copyright.PENANAiufbauPdRZ
Ibu lagi duduk di sofa, sendirian. Matanya merah, tapi bibirnya bengkak sedikit—bekas ciuman. Pipinya merona. Rambut ponytailnya agak acak-acakan.
19704Please respect copyright.PENANAZmzzgufbX2
Dia menoleh ke aku. Kaget, tapi nggak panik.
19704Please respect copyright.PENANAbE7NWtNJKB
“Arga… kapan pulang?”
19704Please respect copyright.PENANAHcOulVLc41
Aku duduk di sebelahnya. Jarak deket.
19704Please respect copyright.PENANAIXRq2rzmLg
“Aku… udah dari tadi, Bu. Di atas. Denger semuanya.”
19704Please respect copyright.PENANAFUkf0cer1K
Ibu menunduk. Air mata jatuh satu tetes ke paha.
19704Please respect copyright.PENANAHYL6PdFEyN
“Maaf, Arga…”
19704Please respect copyright.PENANAZehTuEkLUs
Aku pegang tangannya. Dingin.
19704Please respect copyright.PENANA8Wmchl3bY8
“Bu… aku bilang kan. Aku oke. Aku cuma… pengen Ibu bahagia.”
19704Please respect copyright.PENANAEb9fvBnqCQ
Ibu memeluk aku erat. Menangis pelan di bahuku.
19704Please respect copyright.PENANAlzKQlXGwdj
“Aku sayang kamu, Arga. Selalu.”
19704Please respect copyright.PENANAwPxUKEht9R
Aku balas pelukannya.
19704Please respect copyright.PENANAD7it15K16T
Di kepalaku, aku tahu.
19704Please respect copyright.PENANA4UoKltGEhJ
Ini baru permulaan yang sebenarnya.
19704Please respect copyright.PENANAAuUZJ0YB7d
Dan besok… mungkin lebih dari ciuman.
19704Please respect copyright.PENANAamv88hLtnY
Mungkin lebih dalam.
19704Please respect copyright.PENANAj8ygLdZCFV
Mungkin… semuanya mulai terbuka.
19704Please respect copyright.PENANAOTlWmmeJ1h
Hari berikutnya, Rabu. Langit Kudus cerah sejak pagi, tapi di dalam rumah terasa seperti ada awan tebal yang menyelimuti semuanya. Aku, Arga, bangun jam tujuh lewat, langsung ke kamar mandi, mandi cepat-cepat. Pas keluar kamar, aku dengar suara Ibu di dapur—lagi nyanyi kecil sambil goreng telur. Suara yang sama seperti dulu-dulu, tapi hari ini ada nada beda. Lebih… ringan. Lebih… genit.
19704Please respect copyright.PENANAvrJOwiH0Sy
Aku turun pelan, ngintip dari tangga. Ibu pakai kaos crop top putih tipis yang jarang banget dia pakai—potongannya pas di atas pusar, memperlihatkan perut rata yang masih kencang meski umur 42. Bawahnya celana pendek denim pendek banget, hampir nggak nutupin separuh paha mulus putihnya. Rambutnya dibiarkan terurai, agak bergelombang alami karena semalem dia keramas pake conditioner yang baunya manis. Dia lagi membungkuk ambil piring dari rak bawah, bokongnya terangkat sedikit, celana pendeknya naik sampe garis celah bokong terlihat jelas—bulat, penuh, kenyal.
19704Please respect copyright.PENANAKOslwlphPQ
Aku langsung balik ke kamar, pura-pura belum turun. Jantung aku deg-degan. Aku tahu ini bukan kebetulan.
19704Please respect copyright.PENANAQr3DtGDOXc
Jam tujuh lewat, aku turun lagi. Ibu lagi nyusun sarapan di meja: nasi goreng, telur mata sapi, tempe goreng, sama segelas susu hangat buat aku.
19704Please respect copyright.PENANAE81SteEmqr
“Pagi, Arga,” katanya sambil senyum lebar. Matanya berbinar. Pipinya merah alami, bukan karena panas kompor.
19704Please respect copyright.PENANAL7clW1SP6f
“Pagi, Bu. Kok hari ini… beda ya?”
19704Please respect copyright.PENANALaBFxqeic4
Ibu ketawa kecil, suaranya renyah.
19704Please respect copyright.PENANA6f7g9x8Irh
“Beda gimana? Ibu cuma pengen nyaman aja di rumah. Panas nih akhir-akhir ini.”
19704Please respect copyright.PENANArixkaHTXEo
Dia duduk di seberang aku, kakinya di bawah meja sengaja nyenggol kakiku pelan. Nggak sengaja katanya, tapi aku tahu itu sengaja.
19704Please respect copyright.PENANAQQLH6Oyax8
“Bu… hari ini Dimas mau mampir lagi?”
19704Please respect copyright.PENANAV8wnS2PSvS
Ibu mengangguk sambil nyendok nasi goreng ke mulutnya pelan.
19704Please respect copyright.PENANAANsHSFnQat
“Iya. Katanya abis siang kuliahnya langsung ke sini. Mau numpang makan siang katanya.”
19704Please respect copyright.PENANAa7ri0KERXt
Aku pura-pura biasa aja.
19704Please respect copyright.PENANArw2XoR4NXI
“Aku ada kelas sampe jam empat. Pulang sore lagi.”
19704Please respect copyright.PENANA3BT6ruNodV
Ibu menatap aku lama. Senyumnya lembut, tapi ada api kecil di matanya.
19704Please respect copyright.PENANA5pLW4ubr0Y
“Makasih ya, Arga. Ibu tahu kamu lagi kasih ruang buat Ibu.”
19704Please respect copyright.PENANARS5kZ011U2
Aku cuma mengangguk. Tenggorokanku kering.
19704Please respect copyright.PENANAslkz9y24ZU
Setelah sarapan, Ibu berdiri, beresin piring. Waktu dia membungkuk buat angkat piring kotor, crop top-nya naik sedikit, memperlihatkan bagian bawah payudaranya—putih, lembut, tanpa bra. Areolanya cokelat muda samar terlihat, putingnya sudah setengah mengeras karena AC atau karena pikiran yang lagi muter di kepalanya.
19704Please respect copyright.PENANA31wGLoHro6
Aku cepat-cepat pamit ke kampus. Tapi seperti biasa, aku balik lewat gang belakang jam satu lewat, masuk pintu samping, naik ke kamar, tutup pintu pelan, duduk di lantai, telinga menempel ke celah bawah. HP silent, tapi jantung berdegup kencang.
19704Please respect copyright.PENANAyYSVubBnru
Jam 13:55, suara motor Dimas terdengar di depan. Pintu dibuka.
19704Please respect copyright.PENANAuDGnjURRGr
Dimas:
“Tante… aku datang. Bau masakan enak banget nih.”
19704Please respect copyright.PENANAV7ZyeemqYa
Ibu:
“Masuk aja, Mas. Ibu lagi masak ayam goreng kecap. Mas Dimas suka kan?”
19704Please respect copyright.PENANAU8YlWmgmjG
Suara langkah masuk. Mereka ke dapur.
19704Please respect copyright.PENANArQhUac1bD5
Dimas:
“Wah… Tante hari ini… beda banget.”
19704Please respect copyright.PENANAsg1rG9Z0G9
Ibu ketawa pelan.
19704Please respect copyright.PENANAVsJKjWVZfE
“Beda gimana, Mas?”
19704Please respect copyright.PENANAnwsM0GsAh8
Dimas:
“Kaosnya… pendek. Celananya… pendek banget. Tante lagi pengen bikin gue gila ya?”
19704Please respect copyright.PENANA0mSkcdz5cL
Ibu:
“Siapa bilang? Ibu cuma pengen nyaman. Lagian… rumah sendiri. Nggak ada yang liat.”
19704Please respect copyright.PENANAr2qO4fFWk5
Dimas:
“Aku liat, Tante. Dan aku… suka banget.”
19704Please respect copyright.PENANAWfy1RAJ0cS
Suara Ibu mendekat. Langkahnya pelan, seperti lagi mendekati mangsa.
19704Please respect copyright.PENANAKRXgEdkCfi
Ibu:
“Mas Dimas… duduk dulu di meja. Ibu ambilin minum.”
19704Please respect copyright.PENANAMhwsPWnJja
Dimas duduk. Aku denger kursi bergeser.
19704Please respect copyright.PENANAQcxZgvTNxI
Ibu:
“Ini es teh manis. Dingin ya.”
19704Please respect copyright.PENANARMmKpVbYBi
Dia taruh gelas di depan Dimas. Tapi bukannya langsung mundur, Ibu malah berdiri di depan Dimas, badannya agak membungkuk ke depan waktu naruh gelas. Crop top-nya jatuh ke depan, payudaranya bergoyang lembut, hampir keluar sepenuhnya. Putingnya sudah keras jelas, cokelat muda, kecil tapi menonjol.
19704Please respect copyright.PENANAdccdqy3LsT
Dimas:
“Tante… gue bisa liat semuanya.”
19704Please respect copyright.PENANAmO5QtpG1xK
Ibu:
“Emangnya kenapa? Mas Dimas nggak suka?”
19704Please respect copyright.PENANA0SJ9K19aqn
Dimas menelan ludah. Suaranya serak.
19704Please respect copyright.PENANAOF2gpQWg4v
“Suka banget. Tante… lagi sengaja ya hari ini?”
19704Please respect copyright.PENANAD0Fx2Cvr7w
Ibu ketawa kecil. Dia maju setengah langkah, sekarang lututnya nyentuh lutut Dimas.
19704Please respect copyright.PENANA1vhCyv8icy
“Mungkin iya. Kemarin… Ibu ngerasa enak banget. Jadi Ibu mikir… mungkin Ibu mau coba lebih berani sedikit.”
19704Please respect copyright.PENANA7oIiI5U02b
Dimas:
“Tante… jangan main-main. Gue udah keras dari tadi.”
19704Please respect copyright.PENANAicg1srBeu1
Ibu:
“Ibu tahu. Ibu liat dari tadi celana Mas Dimas udah membusung.”
19704Please respect copyright.PENANAAjzCxpShyh
Dia angkat tangan kanannya pelan, menyentuh pipi Dimas dulu. Lalu turun ke leher, ke dada, ke perut. Berhenti di pinggang.
19704Please respect copyright.PENANAuo9QbpOQ22
Ibu:
“Mas Dimas… boleh Ibu pegang lagi? Kayak kemarin.”
19704Please respect copyright.PENANAni5t9XTmIm
Dimas:
“Boleh banget, Tante. Malah gue pengen.”
19704Please respect copyright.PENANA1lQ6pg6W2c
Ibu turunin tangan lebih bawah. Resleting celana Dimas diturunkan pelan oleh jari-jari Ibu yang gemetar tapi berani. Dia masukin tangan ke dalam boxer, menggenggam batang Dimas yang sudah keras penuh.
19704Please respect copyright.PENANAjdOdgv2p1c
Ibu:
“Wah… makin keras dari kemarin. Panas banget di tangan Ibu.”
19704Please respect copyright.PENANAd6Ei8uqG3h
Dimas mendesah pelan.
19704Please respect copyright.PENANAlD0eMd5oz4
Dimas:
“Tante… usap pelan aja dulu. Gue nggak mau cepet keluar.”
19704Please respect copyright.PENANAbzhD88I2mA
Ibu mulai gerak tangan naik-turun pelan. Jempolnya mengusap kepala yang sudah basah.
19704Please respect copyright.PENANA6yuaV8dosx
Ibu:
“Mas… ujungnya licin. Ibu suka liatnya.”
19704Please respect copyright.PENANAUI6HWBloSr
Dimas:
“Tante… gue pengen liat payudara Tante. Boleh angkat kaosnya?”
19704Please respect copyright.PENANA1QED0Q68M0
Ibu berhenti sejenak. Lalu dia angkat crop top-nya pelan-pelan, sampai lepas dari kepala. Payudaranya terbebas—bulat sempurna, berat tapi kencang, puting cokelat muda mengeras tegak, areola kecil rapi.
19704Please respect copyright.PENANAKrhJ5TPJCZ
Dimas:
“Tante… indah banget. Putingnya… cantik. Keras gini karena gue ya?”
19704Please respect copyright.PENANA3CTe3Ao6aT
Ibu:
“Iya… karena Mas Dimas. Karena Ibu mikirin kamu terus dari kemarin.”
19704Please respect copyright.PENANAVV5wEmHf5U
Dimas angkat tangan, menyentuh payudara kiri Ibu pelan. Jempolnya mengusap puting dari luar kulit telanjang sekarang.
19704Please respect copyright.PENANAxZzclIfFGi
Dimas:
“Enak nggak, Tante?”
19704Please respect copyright.PENANA5lbTRULMi6
Ibu mendesah pelan, kepalanya mendongak sedikit.
19704Please respect copyright.PENANAACCPxDEZmJ
Ibu:
“Enak… usap lagi. Pelan aja.”
19704Please respect copyright.PENANAti3FLwPC2K
Dimas usap kedua payudara bergantian. Kadang remas lembut, kadang cubit puting pelan. Ibu mengeluarkan suara kecil dari tenggorokan setiap kali jempolnya menyentuh titik sensitif.
19704Please respect copyright.PENANAodXnHQJJJt
Ibu:
“Mas… puting Ibu… sensitif banget. Rasanya nyut-nyutan ke bawah.”
19704Please respect copyright.PENANA1G6WsRfrXA
Dimas:
“Iya… gue ngerasain. Keras banget. Kayak lagi minta disentuh lebih.”
19704Please respect copyright.PENANARLbtyiTu7g
Dia terus usap. Kadang tangannya melingkar di bawah payudara, angkat sedikit supaya merasakan beratnya, lalu jempol kembali ke puting, memutar pelan.
19704Please respect copyright.PENANAJIv1GDWl5N
Ibu:
“Aaah… Mas… Ibu basah di bawah. Celana dalam Ibu udah lembab dari tadi.”
19704Please respect copyright.PENANAWnjTCwsTHY
Dimas:
“Serius, Tante?”
19704Please respect copyright.PENANAJ2D86JWkid
Ibu:
“Iya… gara-gara Mas pegang payudara Ibu gini. Ibu ngerasa panas di seluruh badan.”
19704Please respect copyright.PENANAs9EAxRTLAO
Dimas turunin tangan kanannya pelan, ke pinggang Ibu, lalu ke depan celana pendek denimnya. Dia usap paha dalam Ibu dulu, lalu naik ke selangkangan dari luar kain.
19704Please respect copyright.PENANAxYHLgIn35v
Dimas:
“Tante… di sini udah panas banget. Gue ngerasain kelembaban lewat celana.”
19704Please respect copyright.PENANAiQ2PfoMMxK
Ibu goyang pinggul kecil, menggesek tangan Dimas.
19704Please respect copyright.PENANATJXqNJij5q
Ibu:
“Usap lagi, Mas… di atas klitoris Ibu. Pelan aja.”
19704Please respect copyright.PENANABLQ8RqxETm
Dimas menggosok pelan dari luar celana pendek. Ibu mendesah lebih keras, tangannya mencengkeram bahu Dimas.
19704Please respect copyright.PENANAKlLyPAtLhq
Ibu:
“Enak… terus… jangan berhenti…”
19704Please respect copyright.PENANAcS5ihPEZjO
Dimas percepat sedikit. Ibu menegang, napasnya cepat.
19704Please respect copyright.PENANAQJOLksM7PN
Ibu:
“Mas… Ibu mau keluar. Terusin…”
19704Please respect copyright.PENANAGO07ASHNwZ
Badannya bergetar pelan. Orgasme pertama hari itu—pelan, emosional, penuh getar. Cairan bening netes sedikit ke celana pendeknya.
19704Please respect copyright.PENANAmqyTdFi8HE
Dimas tarik tangan, basah. Dia jilat pelan jarinya sendiri.
19704Please respect copyright.PENANAzF0LtINraw
Dimas:
“Manis, Tante. Rasa Tante enak banget.”
19704Please respect copyright.PENANAL8kkItuSHx
Ibu masih napas ngos-ngosan. Dia tarik Dimas berdiri, peluk erat.
19704Please respect copyright.PENANAFfBiZi86p4
Ibu:
“Mas… Ibu pengen cium kamu lagi. Di bawah.”
19704Please respect copyright.PENANAcDxhe9zqjt
Dia berlutut pelan di lantai dapur. Tarik boxer Dimas turun. Batangnya tegak lurus, kepalanya merah basah.
19704Please respect copyright.PENANANGo8eqxtDL
Ibu:
“Mas… kepalanya… merah. Basah di ujung.”
19704Please respect copyright.PENANAsJz7tmH9mt
Dimas:
“Itu… karena gue udah keluar sedikit. Karena Tante.”
19704Please respect copyright.PENANAZF5hesPfwC
Ibu mulai dengan jilat dari bawah ke atas. Lidahnya berputar di kepala, lalu masuk ke mulut pelan. Isap lembut, naik-turun setengah batang.
19704Please respect copyright.PENANA1c6jtM0XtI
Dimas mendesah dalam.
19704Please respect copyright.PENANA6BUaebz5Ki
Dimas:
“Tante… mulut Tante hangat. Lembut. Gue… nggak tahan.”
19704Please respect copyright.PENANAuZkfPibJXd
Ibu terus. Suara isapan pelan terdengar. Kadang dia berhenti, cium batangnya dari samping, jilat dari bawah ke atas.
19704Please respect copyright.PENANAh6uyZa3fkx
Dimas:
“Tante… gue mau keluar. Boleh di mulut Tante?”
19704Please respect copyright.PENANAph03UQMIbm
Ibu keluarin sebentar.
19704Please respect copyright.PENANA67GouhaMmW
Ibu:
“Iya… keluar aja. Ibu mau ngerasain.”
19704Please respect copyright.PENANAMtf3bkJy2V
Dia masuk lagi. Lebih cepat sedikit. Tangan Ibu ikut pegang pangkal, usap pelan.
19704Please respect copyright.PENANAh5XbKGquWG
Dimas mengerang keras.
19704Please respect copyright.PENANAGWorViV1Zm
Dimas:
“Tante… gue keluar… sekarang…”
19704Please respect copyright.PENANADtJiDYX2Sj
Dia keluar di mulut Ibu. Ibu nggak narik, terus isap pelan sampai habis. Lalu menelan pelan.
19704Please respect copyright.PENANAj0j27H0Rrw
Ibu:
“Mas… asin. Tapi… enak.”
19704Please respect copyright.PENANAoJn2VhCp6J
Mereka pelukan lagi. Duduk di lantai dapur, badan saling tempel.
19704Please respect copyright.PENANAMYfvdWunWK
Ibu:
“Mas Dimas… Ibu mulai nggak bisa berhenti mikirin kamu. Tiap hari pengen gini lagi.”
19704Please respect copyright.PENANA3eV7kL1at9
Dimas:
“Gue juga, Tante. Besok… boleh lagi?”
19704Please respect copyright.PENANA7UOWCYDSTf
Ibu:
“Boleh. Tapi… besok Ibu pengen lebih.
19704Please respect copyright.PENANAOh7qls5GKB
Dimas diam sebentar. Lalu cium kening Ibu.
19704Please respect copyright.PENANAuEdsJMKpgk
Dimas:
“Besok. Pelan-pelan. Gue janji bikin Tante seneng.”
19704Please respect copyright.PENANAl2YsDu9EgD
Mereka diam lama. Cuma pelukan.
19704Please respect copyright.PENANAqVP6uotqiP
Aku di atas, badan panas membara. Aku tahu besok… mereka bakal bercinta pertama kali.
19704Please respect copyright.PENANAgCwTd0ooT3
Dan aku… bakal denger semuanya.
19704Please respect copyright.PENANAPoROCcEY6X
Mungkin… lebih dari denger.
19704Please respect copyright.PENANAbk2l24248J
Kamis pagi, rumah terasa berbeda. Udara Kudus masih sejuk, tapi di dalam dinding ini ada panas yang sudah nggak bisa disembunyikan lagi. Aku, Arga, bangun jam tujuh, turun ke dapur. Ibu lagi berdiri di depan kompor, tapi gerakannya lambat, seperti pikirannya lagi jauh-jauh. Dia pakai daster tipis warna peach yang hampir tembus pandang kalau kena cahaya matahari pagi dari jendela belakang. Rambutnya diikat ponytail tinggi, leher putih mulusnya terlihat jelas, ada bekas merah kecil di tulang selangka—bekas gigitan pelan Dimas kemarin.
19704Please respect copyright.PENANAwYQ2TYsZb3
“Pagi, Arga,” katanya tanpa menoleh. Suaranya lembut, tapi ada getar yang aku tahu artinya: gugup, tapi juga excited.
19704Please respect copyright.PENANAppPwYkgnDK
“Pagi, Bu. Hari ini… Dimas datang lagi?”
19704Please respect copyright.PENANAPNBwTZy0ee
Ibu matiin kompor, balik badan. Matanya langsung ketemu mataku. Pipinya merah, bibirnya agak menggigit bawah.
19704Please respect copyright.PENANAEmoFl0P25x
“Iya. Siang nanti. Dia bilang… mau bawa makan siang dari luar. Katanya pengen kita… ngobrol lebih lama.”
19704Please respect copyright.PENANAFOHsqR5yCC
Aku tahu itu bohong. Dia tahu aku tahu.
19704Please respect copyright.PENANAZ61WVb17XA
“Aku bakal keluar lagi siang ini. Ke perpustakaan kampus. Pulang sore.”
19704Please respect copyright.PENANAi0YPkk1WgJ
Ibu mendekat, duduk di sebelahku. Tangan kanannya menyentuh punggung tanganku.
19704Please respect copyright.PENANAzBQV9vpJTy
“Arga… ibu takut. Tapi ibu juga… pengen banget. Udah lama ibu nggak ngerasa gini. Udah lama ibu nggak ngerasa… diinginkan seutuhnya.”
19704Please respect copyright.PENANA7sC3znDFmf
Aku balas pegang tangannya.
19704Please respect copyright.PENANAgacM4JQAt6
“Aku tahu, Bu. Dan aku… nggak bakal marah. Aku cuma minta satu: kalau selesai, cerita ke aku. Detailnya. Biar aku tahu Ibu bahagia.”
19704Please respect copyright.PENANAtI5vb7BBCF
Ibu menunduk sebentar, lalu angkat muka lagi. Matanya basah, tapi senyumnya hangat.
19704Please respect copyright.PENANAFoptcIw6f6
“Iya, Arga. Ibu janji. Apa pun yang terjadi… Ibu cerita ke kamu.”
19704Please respect copyright.PENANAI4qT3pTDCA
Aku pamit ke kampus jam sepuluh. Tapi seperti biasa, aku balik lewat gang belakang jam satu lewat. Masuk pintu samping, naik tangga pelan-pelan, masuk kamar, tutup pintu, duduk di lantai dengan telinga menempel ke celah bawah. HP silent, tapi jantung berdegup kencang kayak mau copot.
19704Please respect copyright.PENANA5DCPiuPov8
Jam 13:48, suara motor Dimas. Pintu depan dibuka.
19704Please respect copyright.PENANAjUH7u3ibQ6
Dimas:
“Tante… aku datang. Bawa nasi goreng seafood sama es campur. Masih dingin nih.”
19704Please respect copyright.PENANAWj9eO62QEQ
Ibu:
“Masuk aja, Mas. Taruh di meja makan. Ibu… lagi nunggu kamu dari tadi.”
19704Please respect copyright.PENANAu6uuyd3jfJ
Suara langkah mereka ke ruang makan. Kursi bergeser. Mereka makan dulu—ngobrol ringan soal cuaca, soal kuliah Dimas, soal tetangga. Tapi nada suara mereka beda. Lebih rendah. Lebih deket.
19704Please respect copyright.PENANApjCFEFdea7
Dimas:
“Tante… makan aja pelan-pelan. Hari ini kita nggak buru-buru.”
19704Please respect copyright.PENANAoJxUCaah5f
Ibu:
“Iya… Ibu juga pengen nikmatin setiap detiknya sama kamu.”
19704Please respect copyright.PENANASuWRrYDdo5
Makan selesai. Suara piring dibersihin. Lalu langkah mereka naik tangga—pelan, berat, seperti lagi naik ke sesuatu yang nggak bisa dibalik lagi.
19704Please respect copyright.PENANAjbzsNShykA
Pintu kamar Ibu dibuka. Ditutup pelan. Dikunci.
19704Please respect copyright.PENANAX3MPq0swWf
Aku hampir nggak bernapas.
19704Please respect copyright.PENANAO8yBoaYJfP
Di dalam kamar, suara Ibu terdengar pertama.
19704Please respect copyright.PENANA5Ruryo9sby
Ibu:
“Mas Dimas… sini. Duduk di ranjang.”
19704Please respect copyright.PENANAjP14irU5ox
Suara kasur berderit pelan. Mereka duduk berdampingan.
19704Please respect copyright.PENANAxSxhYguzNT
Dimas:
“Tante… kamu gemetar.”
19704Please respect copyright.PENANA9vzx3kdhbB
Ibu:
“Iya… takut. Tapi pengen. Mas… boleh Ibu cium dulu?”
19704Please respect copyright.PENANAMUVjxzE9PJ
Suara bibir bertemu. Ciuman panjang, dalam. Lidah saling jelajah. Napas mereka saling campur. Kadang berhenti cuma buat tarik napas, lalu balik lagi.
19704Please respect copyright.PENANAWvRwm5mznp
Ibu:
“Mas… lepas baju kamu. Ibu pengen liat badan kamu.”
19704Please respect copyright.PENANAP9LG52Lwus
Dimas lepas kaos. Suara kain jatuh ke lantai.
19704Please respect copyright.PENANAp1KJVHq7gO
Ibu:
“Wah… dada kamu keras. Ototnya keliatan. Ibu suka.”
19704Please respect copyright.PENANAJsPqa59NSg
Tangan Ibu menyentuh dada Dimas, usap pelan ke bawah, ke perut, ke pinggang.
19704Please respect copyright.PENANAXvXAt0j3EU
Dimas:
“Tante… gantian. Angkat daster kamu.”
19704Please respect copyright.PENANA7ckSEvi6eU
Ibu berdiri. Suara kain sutra bergesekan saat daster diangkat lepas dari kepala. Dia telanjang sekarang—cuma celana dalam renda hitam tipis yang sudah basah di tengah.
19704Please respect copyright.PENANAVvZcXjtzdj
Dimas:
“Tante… tubuh kamu… sempurna. Payudara kamu bulat banget, putingnya keras tegak. Perut rata, pinggang kecil, bokongnya… ya Tuhan, bulat penuh. Kaki kamu panjang mulus.”
19704Please respect copyright.PENANAPef0UMJUj4
Ibu:
“Mas… liat vagina Ibu. Celana dalamnya udah basah banget karena kamu.”
19704Please respect copyright.PENANAKrPD1GsELp
Dia turunin celana dalam pelan. Vaginanya terbuka—rambut tipis rapi di atas, bibir luar tebal merah muda, bibir dalam sudah mengkilap licin, klitoris kecil bengkak.
19704Please respect copyright.PENANAcyikFExYm2
Dimas:
“Tante… cantik banget. Basahnya banyak. Bau wanginya manis.”
19704Please respect copyright.PENANAaLlxHNcXHj
Dia tarik Ibu duduk lagi, lalu dorong pelan supaya rebah di ranjang. Dimas naik ke atas, tapi nggak langsung masuk. Dia mulai dari cium leher Ibu, turun ke tulang selangka, ke payudara.
19704Please respect copyright.PENANAH9uKGKcfWm
Dimas:
“Puting Tante… enak banget. Gue hisap ya.”
19704Please respect copyright.PENANAamHLhj0Pql
Dia hisap puting kiri pelan, lidah berputar, gigit ringan. Ibu mengerang.
19704Please respect copyright.PENANAa0gO3q6i6S
Ibu:
“Aaah… Mas… enak. Hisap lagi. Yang satunya juga.”
19704Please respect copyright.PENANA2r6eykiKb9
Dimas pindah ke kanan, tangan kirinya remas payudara kiri pelan, cubit puting.
19704Please respect copyright.PENANARWU1HIkAm2
Ibu:
“Mas… Ibu basah banget. Sentuh bawah.”
19704Please respect copyright.PENANAmiuvKYg9EA
Dimas turun. Cium perut Ibu, pusar, lalu ke atas kemaluan. Dia buka paha Ibu lebar.
19704Please respect copyright.PENANAGY164LTkbd
Dimas:
“Tante… vagina kamu indah. Bibirnya tebal, klitorisnya bengkak. Gue jilat ya.”
19704Please respect copyright.PENANAbebRBgXSEs
Lidahnya menyentuh klitoris pelan. Menjilat dari bawah ke atas, berputar kecil.
19704Please respect copyright.PENANAD1F3LhSyC3
Ibu:
“Aaaah… Mas… enak banget. Jilat lagi. Masukin lidah ke dalam.”
19704Please respect copyright.PENANAXCSPwfdet8
Dimas masukin lidah ke lubang vagina, keluar-masuk pelan, sambil jempol menggosok klitoris.
19704Please respect copyright.PENANA1uIfCAflo4
Ibu mulai goyang pinggul.
19704Please respect copyright.PENANAKhaeYKZpnF
Ibu:
“Mas… Ibu mau keluar. Terusin… jangan berhenti…”
19704Please respect copyright.PENANAwI7xL8n9Ee
Dimas percepat lidah. Ibu menegang, tangan mencengkeram seprai.
19704Please respect copyright.PENANAQuObd6ticV
Ibu:
“Aaaahhh… keluar… Ibu keluar… aaah!”
19704Please respect copyright.PENANAtABvVWpeoh
Orgasme pertama. Badannya bergetar hebat, cairan bening keluar banyak, Dimas jilat semuanya.
19704Please respect copyright.PENANAXxipeRTQTr
Dimas:
“Tante… rasa kamu manis. Enak banget.”
19704Please respect copyright.PENANA726w1ldYcq
Ibu tarik Dimas naik, cium bibirnya yang masih basah oleh cairannya sendiri.
19704Please respect copyright.PENANAxvZTtudYlr
Ibu:
“Sekarang giliran Ibu. Lepas celana kamu.”
19704Please respect copyright.PENANA0OrhElaLgg
Dimas telanjang. Batangnya tegak keras, panjang sekitar 17 cm, tebal, urat-urat menonjol, kepala merah mengkilap.
19704Please respect copyright.PENANA2TiOxoR15b
Ibu:
“Mas… kontol kamu gede banget. Ibu pengen nyedot dulu.”
19704Please respect copyright.PENANAw8pxBzjrVH
Dia berlutut di ranjang, ambil batang Dimas ke mulut. Isap pelan, lidah berputar di kepala, tangan usap pangkal.
19704Please respect copyright.PENANAfVoKDAs4Un
Dimas:
“Tante… mulut kamu panas. Enak banget. Sedot lebih dalam.”
19704Please respect copyright.PENANAiHSrSh7QcJ
Ibu masukin lebih dalam, hampir separuh. Kepala maju-mundur, isap kuat.
KELANJUTANNYA DI LINK 🔗 DIBAWAK INI https://lynk.id/time47
ns216.73.216.217da2


