Namaku Arga. Umur 21 tahun, mahasiswa semester akhir di salah satu kampus swasta di Semarang, tapi rumah tetap di Kudus karena nggak mau kos. Aku anak tunggal, Ayah kerja di perusahaan minyak yang bikin dia bolak-balik luar kota sejak aku SMA. Pulang cuma sebulan sekali atau pas Lebaran. Jadi rumah besar ini sebenarnya cuma ada aku sama Ibu. Bu Rina. Umur 42 tahun, tapi kalau orang liat sering salah sangka dia masih akhir 30-an.
19731Please respect copyright.PENANAAFzyC4xZl0
Hari itu hujan deras banget. Jam setengah enam sore, langit gelap kayak malam, angin bawa bau tanah basah masuk lewat jendela dapur yang setengah terbuka. Aku baru pulang dari kampus, kaos polo abu-abu basah kuyup di pundak sama dada. Tas ransel kulempar di lantai ruang tamu, sepatu sneakers dilepas pakai kaki sambil jalan ke dapur.
19731Please respect copyright.PENANAmmMzYTQj4I
“Ibuuu… Arga pulang!” teriakku sambil buka kulkas langsung nyari air dingin.
19731Please respect copyright.PENANAtqwZEoX98s
Dari ruang keluarga terdengar suara lembut yang sudah ribuan kali aku dengar.
19731Please respect copyright.PENANAu24aSEdSAa
“Masuk dulu, ganti baju. Nanti masuk angin, Arga.”
19731Please respect copyright.PENANAPfG2Gqd7lJ
Itu Ibu. Bu Rina. Tinggi semampai, kulit putih kuning khas orang Jawa yang jarang kena matahari, rambut hitam lurus sebahu selalu diikat ponytail sederhana. Badannya proporsional—pinggang ramping, bokong bulat penuh, payudara ukuran 36C yang selalu terlihat berat meski pakai baju rumah longgar. Dia tipe ibu rumah tangga yang selalu rapi meski cuma di rumah: kaos polos longgar sama legging hitam atau celana pendek kain.
19731Please respect copyright.PENANA1qajvKyujy
Aku ambil segelas air es, minum setengah, baru sadar ada suara ketawa pelan dari ruang tamu.
19731Please respect copyright.PENANAIg6HStLZNb
“Eh, ada tamu ya, Bu?”
19731Please respect copyright.PENANAqtkzrMZgCL
“Iya. Mas Dimas datang.”
19731Please respect copyright.PENANAQEDyly2n79
Jantungku langsung lompat kecil. Dimas. Teman SD sampe kuliah, beda jurusan tapi masih sering ketemu. Dia satu-satunya orang yang bisa masuk rumah ini sesuka hati tanpa permen apa yang besar. Ayah jarang pulang, jadi Dimas sering mampir. Katanya numpang wifi, katanya ngerjain tugas bareng, katanya kangen masakan Tante Rina.
19731Please respect copyright.PENANAmT8eGjuEk7
Tapi aku tahu. Aku tahu banget.
19731Please respect copyright.PENANA2VqiPuJuZ0
Aku tahu caranya Dimas ngeliatin Ibu waktu Ibu lagi nyanyi kecil sambil nyapu halaman. Aku tahu caranya Ibu pura-pura nggak sadar tapi pipinya merah. Aku tahu caranya mereka ketawa kecil pas aku ke kamar mandi sebentar. Dan aku… benci diri sendiri karena malah nggak marah. Malah penasaran. Malah pengen tahu lebih jauh.
19731Please respect copyright.PENANASSkMT3H8Gj
Aku masuk ruang tamu bawa gelas.
19731Please respect copyright.PENANAHE217hLiYI
“Yo, bro. Lagi ngapain lo di sini? Lagi-lagi numpang makan ya?”
19731Please respect copyright.PENANAwBxTUotQsE
Dimas duduk santai di sofa panjang, kaki selonjor, remot TV di tangan sambil nyalain Netflix. Kaos hitam polos, celana pendek olahraga. Badannya lebih berotot dari aku—dia rutin gym sama futsal. Rambut cepak rapi, kulit sawo matang, senyum lebar yang bikin cewek-cewek di kampus sering lirik.
19731Please respect copyright.PENANAIw3LP8jZcC
“Eh, Arga pulang. Gue cuma nemenin Tante bentar. Hujan deras banget, males balik kos.”
19731Please respect copyright.PENANAYN8nPqltYS
Ibu keluar dari dapur bawa nampan kecil: teh hangat sama pisang goreng masih ngepul.
19731Please respect copyright.PENANAwCKyyHW08G
“Ini, diminum dulu. Dingin banget badan kamu, Mas Dimas. Dari tadi basah kuyup.”
19731Please respect copyright.PENANAVceFh5Gvyk
Waktu Ibu membungkuk meletakkan nampan, kaos rumahannya longgar ke depan sedikit terbuka. Bra hitam renda tipis membungkus payudara penuhnya. Bentuk bulat sempurna, berat, puting samar tercetak karena dingin—cokelat muda, lingkaran areola kecil rapi.
19731Please respect copyright.PENANAXDexQOPexN
Dimas ngeliat ke situ. Cuma sepersekian detik. Matanya melebar, lalu cepat balik ke TV.
19731Please respect copyright.PENANAbWas2zuE0f
“Makasih, Tante. Wanginya enak banget pisang gorengnya.”
19731Please respect copyright.PENANAFN4ePacTe1
Ibu tersenyum. Senyum lembut, mata sipit di ujung, gigi depan rapi, bibir tebal alami merah muda tua.
19731Please respect copyright.PENANA3cJj3DfMSs
“Masih hangat. Makan selagi panas ya.”
19731Please respect copyright.PENANASSwsWywjBd
Dia duduk di sofa sebelah Dimas—jarak cuma satu bantal. Lutut Ibu hampir nyentuh paha Dimas yang terbuka karena celana pendek naik.
19731Please respect copyright.PENANAvObmvLnSxO
Aku duduk di kursi single sebelah, buka HP, scroll Instagram sambil sesekali lirik.
19731Please respect copyright.PENANAgvPJhK5YT6
“Eh, tadi Tante cerita, dulu pas SMA Tante suka banget nonton konser band indie ya?” tanya Dimas.
19731Please respect copyright.PENANAwQCBKRgygt
Ibu ketawa kecil.
19731Please respect copyright.PENANAF6GrQqmcsl
“Iya, band favorit Tante Superman Is Dead. Tante sering bolos les buat nonton mereka di kota.”
19731Please respect copyright.PENANA8rCHHO36c1
“Serius, Tante? Gue kira Tante tipe pendiam, nurut aturan.”
19731Please respect copyright.PENANA3rDtyHAcQN
“Ya dulu nakal juga,” jawab Ibu sambil nyengir. “Tapi cuma sama temen deket yang tahu.”
19731Please respect copyright.PENANAtubwi3dmtt
Dimas nyengir lebar. “Berarti sekarang Tante udah nggak nakal lagi dong?”
19731Please respect copyright.PENANAx7KNOvrxtb
Ibu memandang Dimas lama. Tatapan dari samping, bibir melengkung tipis.
19731Please respect copyright.PENANAeDxeTC4vTh
“Siapa bilang?”
19731Please respect copyright.PENANAIMIkirPUrK
Satu kalimat itu kayak petir kecil nyambar ruangan.
19731Please respect copyright.PENANATUxbiQewkB
Aku batuk kecil, pura-pura minum air.
19731Please respect copyright.PENANAAxz29OcrZT
“Eh, Arga mau ganti baju dulu. Basah nih.”
19731Please respect copyright.PENANA2xJMaSfjJE
Ibu menoleh. “Iya, cepet ganti. Nanti masuk angin.”
19731Please respect copyright.PENANAbxZ5GEqSII
Aku naik ke lantai atas, masuk kamar, tutup pintu. Tapi aku nggak ganti baju langsung. Aku berdiri di belakang pintu, telinga menempel ke celah. Pengen tahu apa yang mereka omongin pas aku nggak ada.
19731Please respect copyright.PENANARWsRKIx5is
Suara Dimas pelan.
19731Please respect copyright.PENANA4n04jDYs5w
“Tante… serius tadi?”
19731Please respect copyright.PENANA8d1SBPv55l
Suara Ibu lebih pelan, hampir bisik.
19731Please respect copyright.PENANAWa35JSQgie
“Serius apa?”
19731Please respect copyright.PENANA2hd6PMGGmb
“Bahwa Tante… masih nakal.”
19731Please respect copyright.PENANAFupHiCLtWd
Jeda panjang.
19731Please respect copyright.PENANA3Ri8JnAvJb
Lalu suara Ibu.
19731Please respect copyright.PENANA6kwI1FKq2E
“Mungkin ada. Tapi… nggak semua sisi itu boleh keluar, Mas.”
19731Please respect copyright.PENANAvF9gKPlrnx
“Kenapa nggak boleh?”
19731Please respect copyright.PENANAoKwaUcxsnz
“Karena… nanti orang-orang terluka.”
19731Please respect copyright.PENANAzHuvBBC6sr
Aku tahu “orang-orang” itu termasuk aku. Tapi bukannya marah, aku malah ngerasa panas aneh naik dari perut ke leher.
19731Please respect copyright.PENANACIHjQHvGYG
Aku akhirnya ganti baju. Turun lagi.
19731Please respect copyright.PENANAQCNOFCWB9T
Mereka sudah nggak di sofa. TV nyala kecil. Suara dari dapur.
19731Please respect copyright.PENANAH4XVRkLHf5
Ibu lagi cuci piring. Dimas bantuin nyeka piring pake lap.
19731Please respect copyright.PENANAWdFaesBDin
Mereka berdiri dekat banget. Punggung Ibu melengkung lembut waktu membungkuk bilas piring. Bokongnya bulat penuh di balik legging hitam tipis, garis celah terlihat jelas. Dimas ngeliat ke bawah. Sebentar. Tapi aku tahu.
19731Please respect copyright.PENANAWh13O9LruP
“Udah malem nih,” kataku tiba-tiba.
19731Please respect copyright.PENANAByEa8rFFaS
Dimas menoleh. “Oh iya, bro. Gue balik dulu ya.”
19731Please respect copyright.PENANAKMyyzbkbMC
Ibu menoleh. Pipinya agak merah.
19731Please respect copyright.PENANAkmNPCPtucA
“Mas Dimas hati-hati ya di jalan. Hujan masih deres.”
19731Please respect copyright.PENANAaUmGRfqiwW
Dimas nyengir. “Makasih, Tante. Besok aku boleh mampir lagi nggak? Pengen makan soto Tante lagi.”
19731Please respect copyright.PENANAVHdiGFswOl
Ibu tersenyum tipis. “Boleh. Pintu rumah ini selalu terbuka buat kamu.”
19731Please respect copyright.PENANAlbWbvtyEgB
Kata-kata itu polos. Tapi nada di belakangnya… nggak polos.
19731Please respect copyright.PENANAnpVxOuyZXv
Dimas pamit. Aku antar sampai pagar. Motornya hidup, menjauh.
19731Please respect copyright.PENANAEYQZICkUyY
Pas balik masuk, Ibu sudah naik ke atas. Lampu dapur mati. Tinggal lampu teras sama lampu kamar Ibu menyala samar.
19731Please respect copyright.PENANATQNdsLyZ7O
Aku berdiri di tangga bawah, ngeliat ke atas.
19731Please respect copyright.PENANA8gWO98jSfF
Pintu kamar Ibu setengah terbuka. Suara air mengalir—dia lagi mandi.
19731Please respect copyright.PENANA9HKKPDtsuc
Aku naik pelan. Bukan ngintip. Cuma pengen tahu.
19731Please respect copyright.PENANAOGLHjRp1Ku
Suara air berhenti. Lalu Ibu nyanyi kecil. Lagu lama, “Cinta Dalam Hati” versi Ungu.
19731Please respect copyright.PENANAHqVkTyJ3KY
“Aku tak bisa menahan… perasaan ini…”
19731Please respect copyright.PENANAdlhwhUZqN1
Suara bergetar. Bukan dingin. Tapi karena sesuatu yang lain.
19731Please respect copyright.PENANAGhIniKosrP
Aku balik ke kamar. HP bergetar. WA dari Dimas.
19731Please respect copyright.PENANAMJYCRDmjRx
Dimas:
“Bro, makasih ya hari ini. Tante baik banget.”
19731Please respect copyright.PENANAtLr6RaCe7y
Aku:
“Iya. Lo emang sering banget ke sini akhir-akhir ini.”
19731Please respect copyright.PENANAHtTk0Ycq7N
Dimas:
“Emang kangen sih. Kangen masakan Tante. Kangen ngobrol sama Tante.”
19731Please respect copyright.PENANAATUIJnJ1sa
Aku nggak bales lagi.
19731Please respect copyright.PENANAKyKBvWcoLS
Malam itu aku berbaring di kasur, mata nggak bisa merem.
19731Please respect copyright.PENANAanYVaPtKcF
Di kepalaku muter terus: tatapan Dimas ke bra Ibu, bokong Ibu waktu membungkuk, senyum Ibu yang beda.
19731Please respect copyright.PENANACkbD5bOBog
Dan suara nyanyian Ibu tadi.
19731Please respect copyright.PENANA5TKlM4WoyS
“Aku tak bisa menahan… perasaan ini…”
19731Please respect copyright.PENANA3r2gNvHroh
Pagi berikutnya aku bangun dengan kepala berat, seperti ada kabut tipis yang nggak mau hilang dari pikiran. Jam di HP menunjukkan pukul 07:18. Sabtu, nggak ada kuliah. Badan terasa lengket meski AC nyala semalaman. Aku turun ke bawah masih pakai kaos oblong sama boxer tidur, bau kopi hitam sudah tercium dari dapur.
19731Please respect copyright.PENANAWpESbs2GR3
Ibu lagi berdiri di depan kompor, punggung menghadap pintu. Dia pakai daster tipis warna biru muda yang bahan katunnya agak tembus pandang kalau kena sinar matahari pagi dari jendela belakang. Rambut masih basah setelah mandi, diikat handuk kecil di atas kepala. Lehernya putih mulus, ada setetes air mandi yang mengalir pelan dari tengkuk ke tulang selangka, lalu hilang di balik kerah daster yang agak rendah.
19731Please respect copyright.PENANAh5EC34N4UX
“Pagi, Arga,” katanya tanpa menoleh. Suaranya lembut seperti biasa, tapi ada nada hangat yang beda hari ini.
19731Please respect copyright.PENANA18xIfRZQ6G
“Pagi, Bu. Mau sarapan apa?”
19731Please respect copyright.PENANA6VubC3Zw3O
Ibu menoleh. Senyumnya pagi ini terasa lebih… dalam. Pipinya agak merona, mungkin karena uap panci atau karena sesuatu yang lain.
19731Please respect copyright.PENANAa5iST6wzFk
“Wah, anak ibu lagi mager nih. Nanti ibu bikin telur dadar keju sama roti bakar aja ya. Kopi mau?”
19731Please respect copyright.PENANAg1I7VMMSOg
“Iya, Bu. Hitam, nggak pake gula.”
19731Please respect copyright.PENANAvCyV4ZN7Z0
Dia balik lagi ke kompor. Aku perhatiin gerakannya. Cara dia mengaduk telur di wajan, lengan naik-turun pelan, membuat daster bergoyang di bagian dada. Payudaranya bergerak lembut mengikuti irama—tanpa bra pagi ini, putingnya samar tercetak di kain tipis, dua titik kecil yang mengeras karena udara pagi dingin. Bentuknya bulat sempurna, berat tapi kencang, ukuran yang selalu bikin orang salah sangka Ibu masih muda.
19731Please respect copyright.PENANAYxVz7o6Avo
Aku duduk di kursi makan, tarik napas dalam. Pikiranku balik ke malam tadi. Tatapan Dimas ke bra Ibu. Bokong Ibu waktu membungkuk di dapur. Senyum Ibu yang beda. Pesan Dimas yang nggak aku bales.
19731Please respect copyright.PENANAEuzL1oejA2
Tiba-tiba HP bergetar di meja. Notif WA.
19731Please respect copyright.PENANAqNt7re2buV
Dimas:
“Pagi bro. Tante udah bangun belum? Gue mau mampir bentar, bawa oleh-oleh klepon sama getuk dari warung Bu RT.”
19731Please respect copyright.PENANAJB02xZxf2F
Aku baca dua kali. Jantung mulai berdegup agak kencang lagi.
19731Please respect copyright.PENANASuGpZAMQkn
Aku bales singkat.
19731Please respect copyright.PENANAVbcNXWxYaR
Arga:
“Udah. Lagi masak sarapan. Mampir aja.”
19731Please respect copyright.PENANAFcu6pyc6Fu
Dimas langsung balas.
19731Please respect copyright.PENANAdBTy1rRE1y
Dimas:
“Oke. 15 menit gue sampe.”
19731Please respect copyright.PENANAfQrX1M66Uh
Aku taruh HP. Ibu lagi nyusun piring.
19731Please respect copyright.PENANAUw4QhDLIGI
“Ada Dimas mau mampir, Bu. Bawa makanan.”
19731Please respect copyright.PENANAZ0XJBTIYUm
Ibu berhenti sejenak. Sendok kayu di tangannya diam di udara.
19731Please respect copyright.PENANAvCCRN7iqqs
“Oh… iya? Cepet banget dia datang lagi.”
19731Please respect copyright.PENANAa4mPw3VFSt
Nada suaranya nggak marah. Malah ada sedikit… senang yang tersembunyi.
19731Please respect copyright.PENANAxO2VQwxfXb
“Emangnya kenapa, Bu? Biasa kan dia sering ke sini.”
19731Please respect copyright.PENANAWJp9NMtdQf
Ibu tersenyum kecil, balik fokus ke wajan.
19731Please respect copyright.PENANA3Lw2EWIYMx
“Iya sih. Cuma… ibu seneng aja. Rumah jadi rame.”
19731Please respect copyright.PENANA51smf5icB8
Dia meletakkan piring di depanku. Waktu membungkuk, kerah daster terbuka sedikit lebih lebar. Aku lihat lekuk payudaranya dari atas—putih lembut, garis vena biru samar di samping, puting cokelat muda menonjol karena dingin.
19731Please respect copyright.PENANAOptCRj9y7M
Aku cepat-cepat ambil sendok, pura-pura fokus makan.
19731Please respect copyright.PENANA9geqDM3lQr
Ibu duduk di seberangku. Kakinya di bawah meja hampir nyentuh kakiku. Dia nggak sadar, atau pura-pura nggak sadar.
19731Please respect copyright.PENANAgATYfrCWfx
“Kamu kok diem aja dari tadi?” tanyanya sambil mengoles selai kacang di roti.
19731Please respect copyright.PENANAtmnQmSjTZb
“Nggak apa-apa, Bu. Masih ngantuk.”
19731Please respect copyright.PENANAnBzlu9uBpH
Dia memandangku lama. Mata cokelat tua, bulu mata panjang alami.
19731Please respect copyright.PENANARD61nJYdZv
“Kalau ada apa-apa bilang ya sama ibu. Jangan dipendem sendiri.”
19731Please respect copyright.PENANACPmPopvthW
Aku mengangguk. Dalam hati pengen bilang:
“Bu, aku tahu ada sesuatu antara Ibu sama Dimas. Dan aku… entah kenapa nggak bisa marah. Malah pengen lihat lebih jauh.”
19731Please respect copyright.PENANACYS4rVQ0LT
Tapi tentu saja aku nggak bilang. Aku cuma senyum tipis.
19731Please respect copyright.PENANAdIDSB2nAfc
“Iya, Bu.”
19731Please respect copyright.PENANAjz0wR0Jgkr
Sepuluh menit kemudian bel rumah berbunyi. Ibu bangun duluan.
19731Please respect copyright.PENANASphKhLCfht
“Aku buka pintu ya.”
19731Please respect copyright.PENANAQaOJqBK4A1
Dia jalan ke pintu depan. Daster biru mudanya bergoyang pelan mengikuti langkah. Bokongnya membulat lembut di balik kain tipis itu.
19731Please respect copyright.PENANAJ2iFcBQsE5
Aku ikut berdiri, ngintip dari sudut dapur.
19731Please respect copyright.PENANACGNjvVvrpt
Dimas masuk sambil bawa dua kantong kresek.
19731Please respect copyright.PENANAvqapjB6byG
“Pagi Tante! Ini oleh-oleh dari Bu RT. Klepon sama getuk lindri masih hangat.”
19731Please respect copyright.PENANAKnNL5Pc2cQ
Ibu tersenyum lebar. Pipinya langsung merona lagi.
19731Please respect copyright.PENANAif1tiA5ZSX
“Wah, makasih banyak, Mas. Masuk dulu, sarapan bareng.”
19731Please respect copyright.PENANAPonN4KGHtg
Dimas melirik ke arahku.
19731Please respect copyright.PENANAwO8RiYxD0y
“Eh bro, lo udah sarapan?”
19731Please respect copyright.PENANAFQeYOyvxJt
“Baru mulai,” jawabku datar.
19731Please respect copyright.PENANAusC9J3UCPn
Dia masuk, taruh kantong di meja, lalu duduk di sebelah Ibu. Bukan di seberang. Di sebelah.
19731Please respect copyright.PENANAw2BW9v6897
Ibu ambil piring tambahan, nyuapin klepon ke piring kecil.
19731Please respect copyright.PENANA8oaK2TMSNK
“Ini masih hangat. Cobain dulu.”
19731Please respect copyright.PENANAFwq2ENbo0f
Dimas ambil satu, masukin ke mulut. Matanya melebar.
19731Please respect copyright.PENANAJQmuIeyQEQ
“Enak banget! Tante harus belajar bikin klepon dari Bu RT nih.”
19731Please respect copyright.PENANAiJoy9JsMtX
Ibu ketawa kecil.
19731Please respect copyright.PENANAAt5bCfU4kh
“Ibu bisa kok. Cuma males aja ngulek kelapa parutnya.”
19731Please respect copyright.PENANA4FX7N99Q80
Mereka ngobrol ringan. Cuaca, harga beras, tetangga baru beli mobil. Tapi aku notice sesuatu.
19731Please respect copyright.PENANA5lTh8QTiV5
Cara Dimas ngeliat Ibu. Matanya sering turun ke leher, ke dada, ke tangan Ibu waktu narik rambut jatuh ke depan. Dan Ibu… nggak menutup kerah daster. Malah kadang membungkuk sedikit waktu ngambil sesuatu dari meja, membuat lekuk payudaranya terlihat lebih jelas.
19731Please respect copyright.PENANAXBSfAwJShk
Aku ngerasa panas di telinga. Bukan cemburu biasa. Lebih ke campuran aneh antara malu, penasaran, dan sesuatu yang bikin perut bergetar.
19731Please respect copyright.PENANAs0n9Uu2yDA
Setelah sarapan, Dimas bilang mau bantuin cuci piring. Ibu awalnya nolak, tapi Dimas ngotot.
19731Please respect copyright.PENANAmb0YLK6RoY
“Ya udah, bantuin aja. Biar cepet.”
19731Please respect copyright.PENANASmUznjYbyP
Mereka berdua di depan wastafel. Aku duduk di meja makan, pura-pura scroll TikTok, tapi mata nggak lepas.
19731Please respect copyright.PENANABp8UKcg072
Dimas berdiri di sebelah kiri Ibu. Bahunya nyaris nyentuh bahu Ibu. Waktu Ibu nyodorkan piring basah, tangan mereka bersentuhan. Lama. Jari Dimas melingkar sebentar di pergelangan tangan Ibu sebelum ambil piring.
19731Please respect copyright.PENANAMqe1Iec60x
Ibu nggak narik tangan. Dia cuma menoleh sedikit, senyum tipis.
19731Please respect copyright.PENANACebKS5mpCj
“Mas Dimas… hati-hati, licin.”
19731Please respect copyright.PENANA4iY5aG1bJ2
Dimas nyengir.
19731Please respect copyright.PENANAZaGvBmIbQ6
“Iya Tante. Tapi tangan Tante lembut banget, nggak licin kok.”
19731Please respect copyright.PENANAcEATOIbsAS
Ibu ketawa pelan. Pipinya merah lagi.
19731Please respect copyright.PENANA7eSRfWVtpM
Aku bangun tiba-tiba.
19731Please respect copyright.PENANA4l1XClLlYH
“Gue ke kamar dulu ya. Mau tiduran bentar.”
19731Please respect copyright.PENANASmGvDN7R3d
Ibu menoleh.
19731Please respect copyright.PENANABD1MJdpYeh
“Jangan lama-lama, nanti masuk angin.”
19731Please respect copyright.PENANAFIpyPOQSiQ
Dimas cuma nyengir ke arahku.
19731Please respect copyright.PENANAniCZepRQz7
“Tidur aja bro. Santai.”
19731Please respect copyright.PENANAj2KCth8jKP
Aku naik ke atas. Tapi nggak masuk kamar. Aku berdiri di tangga atas, ngintip dari celah pagar anak tangga.
19731Please respect copyright.PENANA9Seyecc7Ba
Mereka masih di dapur. Sekarang Ibu lagi nyeka meja. Dimas berdiri di belakangnya, pura-pura bantu angkat piring kering ke rak.
19731Please respect copyright.PENANAzm2fpzZSaf
Tapi aku lihat. Tangan Dimas menyentuh pinggang Ibu. Cuma sebentar. Kayak nggak sengaja. Tapi Ibu nggak menghindar. Malah badannya agak mundur sedikit, punggungnya hampir nyentuh dada Dimas.
19731Please respect copyright.PENANAnCXedKNwgk
Mereka diam beberapa detik.
19731Please respect copyright.PENANAdpYRccHsKr
Lalu Ibu berbalik pelan. Mereka saling berhadapan. Jarak cuma beberapa senti.
19731Please respect copyright.PENANA8bCnUvxD1m
“Mas Dimas…” suara Ibu pelan banget. “Kamu… kenapa sih akhir-akhir ini sering banget ke sini?”
19731Please respect copyright.PENANAbCOgWmLJeh
Dimas nggak langsung jawab. Matanya turun ke bibir Ibu, lalu naik lagi ke mata.
19731Please respect copyright.PENANA0gRJGrvLPb
“Karena aku suka ngeliat Tante senyum. Aku suka denger Tante cerita. Aku suka… deket sama Tante.”
19731Please respect copyright.PENANA32TSqKmjfz
Ibu menelan ludah. Dadanya naik-turun lebih cepat.
19731Please respect copyright.PENANA3YCEqZLOtK
“Itu… nggak boleh, Mas. Kamu tahu kan.”
19731Please respect copyright.PENANAsubcwt1aIW
Dimas maju setengah langkah. Dada mereka hampir bersentuhan.
19731Please respect copyright.PENANAbxzOx7P0O9
“Aku tahu. Tapi aku nggak bisa bohong sama perasaan sendiri, Tante.”
19731Please respect copyright.PENANAHXgpgcYxly
Ibu memandang Dimas lama. Matanya berkaca-kaca. Bukan sedih. Lebih ke campuran takut dan rindu.
19731Please respect copyright.PENANAmfExtkbasQ
“Kalau Arga tahu…”
19731Please respect copyright.PENANANr0f8MSMxu
Dimas menggeleng pelan.
19731Please respect copyright.PENANAIBiFMpp6az
“Dia nggak akan tahu. Kita… bisa jaga.”
19731Please respect copyright.PENANATG1UId82HV
Ibu menunduk. Rambut setengah basah jatuh menutupi sebagian wajah.
19731Please respect copyright.PENANAgmhlxjewB1
“Mas Dimas… aku ibunya temenmu.”
19731Please respect copyright.PENANAK5HKGFCVWv
Dimas angkat tangan kanannya pelan, menyentuh dagu Ibu, mengangkat wajahnya supaya saling tatap lagi.
19731Please respect copyright.PENANAFRNb4w2CoH
“Justru karena itu… aku nggak bisa berhenti mikirin Tante.”
19731Please respect copyright.PENANAchPzmkemSV
Mereka diam lagi. Lama.
19731Please respect copyright.PENANA9jSXgpIqw5
Aku ngerasa jantung mau copot. Aku pengen teriak. Aku pengen turun dan nendang Dimas keluar. Tapi kakiku nggak gerak. Malah… aku ngerasa ada sesuatu yang keras di boxerku. Aku malu sendiri.
19731Please respect copyright.PENANA9zgR3hxBmZ
Akhirnya Ibu mundur satu langkah. Suaranya bergetar.
19731Please respect copyright.PENANAYaCk0Kj8F3
“Mas Dimas… pulang dulu ya hari ini. Ibu… butuh mikir.”
19731Please respect copyright.PENANARSSYt9QAO1
Dimas mengangguk pelan. Matanya masih nggak lepas dari wajah Ibu.
19731Please respect copyright.PENANAuGBIqyRx4z
“Iya, Tante. Aku nggak mau maksa. Tapi… aku bakal balik lagi. Besok. Lusa. Sampai Tante bilang berhenti.”
19731Please respect copyright.PENANAWuAB28roIK
Ibu cuma mengangguk kecil. Nggak bilang apa-apa lagi.
19731Please respect copyright.PENANAErySE50dU1
Dimas pamit. Aku buru-buru masuk kamar sebelum dia naik tangga. Aku dengar pintu depan ditutup. Motor Dimas hidup, lalu menjauh.
19731Please respect copyright.PENANAkprThGw1d2
Beberapa menit kemudian aku dengar langkah Ibu naik tangga. Pelan. Berat.
19731Please respect copyright.PENANAHTSoBPezxD
Dia berhenti di depan pintu kamarku. Ketuk pelan.
19731Please respect copyright.PENANAlvNobYN3wT
“Arga… ibu masuk ya?”
19731Please respect copyright.PENANA0271ULRDR8
Aku buka pintu. Ibu berdiri di sana, matanya merah. Tapi nggak nangis.
19731Please respect copyright.PENANAyqsjAUNpwC
“Ibu cuma mau bilang… ibu sayang kamu. Selalu.”
19731Please respect copyright.PENANAbLwQ1Qo74F
Aku mengangguk. Tenggorokanku kering.
19731Please respect copyright.PENANA5EtyNhCZYt
“Iya, Bu. Aku tahu.”
19731Please respect copyright.PENANAbVLEUaarzm
Dia tersenyum tipis. Lalu masuk ke kamarnya sendiri. Pintu ditutup pelan.
19731Please respect copyright.PENANAXl2XjxAj1Z
Malam itu aku nggak bisa tidur lagi.
19731Please respect copyright.PENANA7g1qa4BFTH
Aku tahu garis itu sudah mulai kabur.
19731Please respect copyright.PENANAeOuBVb501c
Dan aku, Arga… entah kenapa… malah pengen lihat seberapa jauh garis itu bisa hilang.
19731Please respect copyright.PENANA60C4n3wVOm
Malam itu hujan lagi. Bukan deras seperti kemarin, tapi gerimis halus yang bikin jendela kamar berembun tipis. Aku, Arga, duduk di kasur, punggung bersandar ke headboard, HP di tangan tapi layarnya gelap. Jam sudah lewat tengah malam, pukul 00:47. Rumah sepi. Ayah nggak pulang akhir pekan ini—katanya ada meeting mendadak di Surabaya. Jadi cuma ada aku sama Ibu di rumah besar ini.
19731Please respect copyright.PENANACfH22wPdRt
Aku nggak bisa tidur. Pikiranku muter terus ke adegan pagi tadi di dapur. Sentuhan tangan Dimas di pinggang Ibu. Cara Ibu nggak langsung menjauh. Cara matanya berkaca-kaca pas bilang “aku ibunya temenmu”. Dan cara Dimas jawab, “justru karena itu… aku nggak bisa berhenti mikirin Tante.”
19731Please respect copyright.PENANA2SrBBDqjBf
Aku tarik napas panjang. Dada terasa sesak. Tapi anehnya, bukan sesak marah. Lebih ke… gelisah yang panas. Yang bikin tangan dingin tapi telapak tangan berkeringat.
19731Please respect copyright.PENANARksMBGlY37
HP bergetar pelan di kasur. Notif WA.
19731Please respect copyright.PENANAF0nQUV2R8N
Dimas.
19731Please respect copyright.PENANAkX611twRDM
Arga:
“Bro… lo udah tidur?”
19731Please respect copyright.PENANANn03C1iSGE
Aku liat status online-nya. Dia masih aktif. Jari aku ragu-ragu di atas keyboard.
19731Please respect copyright.PENANAoriH7mrYX5
Arga:
“Belum. Lo kenapa?”
19731Please respect copyright.PENANAwCL9TLgt6S
Dimas:
“Nggak bisa tidur. Mikirin tadi pagi.”
19731Please respect copyright.PENANAgfzWS1hN0k
Jantungku langsung lompat. Aku tahu apa yang dia maksud.
19731Please respect copyright.PENANAir2fAqg1D8
Arga:
“Mikirin apa?”
19731Please respect copyright.PENANAd2ZJ9H3jb6
Dimas typing lama. Titik-titiknya muncul hilang muncul lagi.
19731Please respect copyright.PENANA0wQMdikqLG
Dimas:
“Tante.
Aku tahu aku salah. Tapi aku beneran nggak bisa bohong lagi. Setiap kali ke rumah lo, aku cuma pengen ngeliat Tante. Denger suaranya. Liat senyumnya.
Dan tadi… waktu tangan kita nyentuh… rasanya listrik gitu, bro.”
19731Please respect copyright.PENANA4OreuKS7aW
Aku baca pesan itu berkali-kali. Dada panas. Aku nggak bales langsung. Malah aku buka chat Ibu. Dia online juga. Pukul 00:52.
19731Please respect copyright.PENANAzvuRmJ8gcV
Aku nggak tahu kenapa, tapi aku ngetik pesan ke Ibu.
19731Please respect copyright.PENANAnu8RZY0LG1
Arga:
“Bu… masih bangun?”
19731Please respect copyright.PENANAvjtAjThEnB
Pesan terkirim. Dia langsung read.
19731Please respect copyright.PENANAUFusC6X86L
Ibu:
“Iya Arga. Ibu lagi di kamar. Kamu kenapa belum tidur?”
19731Please respect copyright.PENANADABmIXVYCS
Arga:
“Nggak bisa tidur aja. Mikirin banyak hal.”
19731Please respect copyright.PENANAJ5nSDHFeyp
Ibu:
“Apa yang dipikirin?”
19731Please respect copyright.PENANAZj0COvbeL0
Aku ragu. Jari gemetar sedikit.
19731Please respect copyright.PENANAVvRijLkVkG
Arga:
“Bu… kalau misalnya ada orang yang suka sama Ibu… Ibu bakal gimana?”
19731Please respect copyright.PENANAzlwqg6p3OM
Jeda panjang. Dia nggak langsung bales. Aku bisa bayangin dia lagi duduk di ranjang, mungkin pakai daster tipis lagi, rambut terurai, matanya menatap layar HP dengan ekspresi bingung.
19731Please respect copyright.PENANA1hsMBIoCyc
Akhirnya balesannya masuk.
19731Please respect copyright.PENANAlJcqAN4ykL
Ibu:
“Kenapa tiba-tiba nanya gitu, Arga?”
19731Please respect copyright.PENANAzGoNSbCIfI
Arga:
“Cuma penasaran aja.”
19731Please respect copyright.PENANAioOjnONbBx
Ibu:
“…Ibu nggak tahu. Ibu udah lama nggak mikirin hal-hal kayak gitu.
Tapi kalau orang itu… bikin Ibu merasa dilihat lagi, merasa diinginkan lagi… mungkin Ibu bakal takut. Takut salah langkah. Takut nyakitin orang lain.”
19731Please respect copyright.PENANAPf2AMxLmfP
Aku baca pesan itu. Tenggorokanku kering.
19731Please respect copyright.PENANAqgJkR3pRKR
Arga:
“Termasuk nyakitin aku?”
19731Please respect copyright.PENANAu9fXAPSwuR
Ibu:
“Terutama kamu.”
19731Please respect copyright.PENANA16EZ4rIioT
Aku taruh HP di dada. Mata terpejam. Aku ngerasa ada sesuatu yang retak di dalam diri aku. Bukan marah. Lebih ke… rela? Aku nggak ngerti sendiri.
19731Please respect copyright.PENANAm9NXWiuNFO
Tiba-tiba HP bergetar lagi. Dimas.
19731Please respect copyright.PENANArSvFlcmpei
Dimas:
“Bro… lo marah nggak kalau gue bilang gue suka sama ibu lo?”
19731Please respect copyright.PENANAfOKa9Ue7UU
Pertanyaan itu kayak tamparan. Tapi anehnya, nggak sakit. Malah bikin aku penasaran lebih dalam.
19731Please respect copyright.PENANABhztO5YZ17
Arga:
“Lo beneran suka? Atau cuma nafsu?”
19731Please respect copyright.PENANAKDqclqtQ1t
Dimas bales cepet.
19731Please respect copyright.PENANA4rhWcYF0vn
Dimas:
“Awalnya mungkin nafsu. Tapi sekarang… lebih dari itu.
Gue suka caranya Tante ketawa kecil pas cerita masa lalu. Gue suka caranya Tante nyanyi pelan waktu nyapu. Gue suka caranya Tante ngeliat gue… kayak gue bukan cuma temen lo, tapi… orang yang dia perhatiin.”
19731Please respect copyright.PENANAFdIQxfw0Xo
Aku nggak bales lagi. Aku matiin HP, taruh di meja samping. Lalu aku bangun. Kaki telanjang menyentuh lantai dingin. Aku jalan pelan ke pintu kamar, buka sedikit.
19731Please respect copyright.PENANAFg3mnZrzkj
Koridor gelap. Cuma lampu tidur di ujung tangga yang nyala kuning redup.
19731Please respect copyright.PENANAxqd5Es3wFO
Aku jalan ke kamar Ibu. Pintunya setengah terbuka, seperti biasa kalau dia lagi sendirian di rumah. Aku berdiri di ambang pintu, nggak masuk.
19731Please respect copyright.PENANAJYopK6O6KI
Ibu duduk di ranjang. Punggungnya menghadap ke pintu. Dia pakai daster sutra tipis warna krem yang jatuh longgar di bahu. Rambut hitamnya tergerai sampai punggung tengah. Dia lagi pegang HP, tapi sekarang dia taruh di pangkuan. Kepalanya menunduk.
19731Please respect copyright.PENANAw4nLnyVmNi
Aku tahu dia nggak tidur. Napasnya terdengar pelan, agak cepat.
19731Please respect copyright.PENANA0t6OXR3bYZ
Aku ketuk pintu pelan.
19731Please respect copyright.PENANANz8B5QXSas
“Bu…”
19731Please respect copyright.PENANATKaKXyW9FO
Ibu menoleh. Matanya melebar sedikit, tapi cepat tenang lagi.
19731Please respect copyright.PENANA3EpfekBVa7
“Arga… kenapa belum tidur?”
19731Please respect copyright.PENANAyvH4Y3NLBK
Aku masuk pelan, tutup pintu di belakangku. Nggak dikunci.
19731Please respect copyright.PENANAuL8rL3SMEI
“Aku… pengen ngobrol.”
19731Please respect copyright.PENANA03ptP5Jb8O
Ibu menggeser badan, memberi ruang di sampingnya. Aku duduk di pinggir ranjang. Jarak kami cuma satu bantal.
19731Please respect copyright.PENANAK6dfsXxxgp
“Ngobrol apa?” tanyanya lembut.
19731Please respect copyright.PENANApEwQc16OYo
Aku menatap lantai. “Bu… aku tahu Dimas suka sama Ibu.”
19731Please respect copyright.PENANAc7utK2cQCo
Ibu diam. Napasnya terhenti sebentar.
19731Please respect copyright.PENANAiHLFqOcmNa
“Lalu… kamu gimana?”
19731Please respect copyright.PENANAOMfCMMfpxc
Aku angkat muka, tatap matanya.
19731Please respect copyright.PENANAGUPQNdNrzQ
“Aku… nggak marah. Aku cuma… bingung. Kenapa aku nggak marah.”
19731Please respect copyright.PENANAfxrw3GtIVK
Ibu menunduk. Jari-jarinya mainin ujung daster.
19731Please respect copyright.PENANAeio3RyXZ0D
“Mungkin karena kamu tahu Ibu juga… kesepian.”
19731Please respect copyright.PENANACse4kDltxx
Kata itu keluar pelan, hampir bisik. Tapi rasanya kayak bom kecil di dada aku.
19731Please respect copyright.PENANASHezYEtfcb
“Kesepian?”
19731Please respect copyright.PENANA8d1OKyCKBG
Ibu mengangguk kecil. “Ayahmu… udah lama nggak pulang. Kalau pulang pun cuma sebentar. Ibu nggak nyalahin dia. Tapi… Ibu manusia biasa, Arga. Ibu juga butuh… perhatian. Sentuhan. Kata-kata manis. Ibu juga pengen merasa… cantik lagi.”
19731Please respect copyright.PENANAxEQS9bBDHO
Aku ngerasa tenggorokanku kering banget.
19731Please respect copyright.PENANAWc98SARQ0y
“Dan Dimas… bikin Ibu merasa gitu?”
19731Please respect copyright.PENANApmqSHyFcnQ
Ibu nggak langsung jawab. Dia memandang ke jendela. Gerimis masih turun pelan.
19731Please respect copyright.PENANAorV4eRniS0
“Dia… muda. Energik. Dia ngeliat Ibu bukan sebagai ibu rumah tangga yang udah tua. Dia ngeliat Ibu sebagai… wanita.”
19731Please respect copyright.PENANAD34jL6Y3jM
Aku menelan ludah. “Lalu Ibu… suka dia juga?”
19731Please respect copyright.PENANAosYCIdEKEj
Ibu menoleh ke aku. Matanya basah.
19731Please respect copyright.PENANA7ivgpjrv4p
“Ibu takut jawab pertanyaan itu, Arga. Karena kalau Ibu bilang iya… berarti Ibu udah melanggar banyak hal.”
19731Please respect copyright.PENANAnNA9ae0T5v
Aku maju sedikit. Tangan aku menyentuh punggung tangan Ibu. Dingin.
19731Please respect copyright.PENANA3uraZNUAh1
“Bu… kalau Ibu mau… aku nggak bakal halangin.”
19731Please respect copyright.PENANACGcnVyPF4q
Ibu menatapku kaget. “Arga… kamu ngomong apa?”
19731Please respect copyright.PENANAjuh8CFi9G4
“Aku serius. Aku… pengen Ibu bahagia. Meski caranya… aneh. Meski orang bakal bilang salah.”
19731Please respect copyright.PENANA1aa7EoT3o9
Ibu diam lama. Lalu dia mengangguk kecil.
19731Please respect copyright.PENANAspPXljtVsl
“Baiklah.”
19731Please respect copyright.PENANACJZnaW19Ij
Malam itu kami nggak ngomong banyak lagi. Kami cuma duduk berdampingan. Tangan aku masih pegang punggung tangan Ibu. Jari kami saling kait pelan.
19731Please respect copyright.PENANAvwj8gWgPQN
Sekitar jam satu lewat, HP Ibu bergetar di meja samping.
19731Please respect copyright.PENANAPVR8A4akFa
Dia melirik. Nama Dimas muncul di layar.
19731Please respect copyright.PENANAEBkcVZgKma
Ibu menatap aku. Seperti minta izin.
19731Please respect copyright.PENANApgDHn0nycA
Aku mengangguk kecil.
19731Please respect copyright.PENANAFPerL3Krwt
Ibu ambil HP, buka pesan.
19731Please respect copyright.PENANAe9uu6Q7g5r
Dimas:
“Tante… aku nggak bisa tidur. Mikirin Tante terus.
Boleh nggak aku telpon sebentar?”
19731Please respect copyright.PENANADu2e89rFDJ
Ibu menatap aku lagi.
19731Please respect copyright.PENANAdVtNzblRMd
Aku bisik pelan.
19731Please respect copyright.PENANAMZLZzGssxE
“Jawab aja, Bu.”
19731Please respect copyright.PENANAhhxxlbZ92U
Ibu mengetik balasan.
19731Please respect copyright.PENANA8ifw8yNbd2
Ibu:
“Boleh. Tapi pelan-pelan ya. Arga lagi di kamar sebelah.”
19731Please respect copyright.PENANAueNCGZK0k8
Dia tekan tombol panggilan. Speaker off. Dia taruh HP di telinga.
19731Please respect copyright.PENANAjYahguBhOx
“Halo… Mas Dimas…”
19731Please respect copyright.PENANAOG6zUcZSO9
Suara Dimas terdengar samar dari seberang.
19731Please respect copyright.PENANA86HHJp7veT
“Tante… suara Tante lembut banget malam-malam gini.”
19731Please respect copyright.PENANAgmXSqxBt9M
Ibu tersenyum tipis. Pipinya merona.
19731Please respect copyright.PENANAipzryuaKLg
“Mas Dimas juga belum tidur?”
19731Please respect copyright.PENANA5TQlHj8W5t
“Enggak bisa. Kepikiran Tante terus. Tadi pagi… waktu tangan kita nyentuh… Tante ngerasa apa?”
19731Please respect copyright.PENANAsSfr9ZDmdB
Ibu menelan ludah. Matanya melirik ke aku.
19731Please respect copyright.PENANAZ8yaw8ca5T
“Ibu… ngerasa hangat. Dan takut.”
19731Please respect copyright.PENANARjEPXEn2iM
“Takut kenapa?”
19731Please respect copyright.PENANAaZ0fb4hzio
“Takut… ini salah. Takut Arga tahu. Takut… kita nggak bisa berhenti kalau udah mulai.”
19731Please respect copyright.PENANAVTKiLafw3t
Dimas diam sebentar.
19731Please respect copyright.PENANAlXDfvhjPWs
“Tante… kalau Tante mau berhenti, bilang sekarang. Aku bakal mundur. Tapi kalau Tante nggak bilang berhenti… aku bakal datang lagi besok. Dan lusa. Sampai Tante bilang iya.”
19731Please respect copyright.PENANAou66GkPLRN
Ibu menutup mata. Napasnya bergetar.
19731Please respect copyright.PENANA4aiAQsCPOe
“Mas Dimas… Ibu nggak tahu harus bilang apa.”
19731Please respect copyright.PENANAXNMkC0YrFL
“Tante nggak perlu bilang apa-apa sekarang. Cukup… jangan tolak aku besok. Biarin aku deket lagi. Biarin aku… sentuh tangan Tante lagi. Pelan-pelan aja.”
19731Please respect copyright.PENANA8ds2QQJkOF
Ibu membuka mata. Tatapannya ke aku penuh pertanyaan.
19731Please respect copyright.PENANAAVSiZO2NbE
Aku mengangguk lagi. Pelan.
19731Please respect copyright.PENANAHVNZe2AQuO
Ibu berbisik ke HP.
19731Please respect copyright.PENANARtykFl6jlB
“Besok… datang aja. Siang. Arga ada jadwal kelompok di kampus sampe sore.”
19731Please respect copyright.PENANAKV0d9nstT5
Dimas terdengar napasnya lega.
19731Please respect copyright.PENANAmgNo4lDB2i
“Makasih, Tante. Aku janji… aku bakal pelan. Aku nggak mau Tante takut.”
19731Please respect copyright.PENANADech5xV9V5
Ibu tersenyum kecil. “Ibu percaya sama kamu.”
19731Please respect copyright.PENANA4ern0db0N5
Mereka ngobrol lagi beberapa menit. Hal-hal kecil. Tentang mimpi Dimas malam tadi yang ada Ibu di dalamnya. Tentang Ibu yang cerita dulu suka makan mie apa pas kuliah. Suara mereka lembut, seperti orang yang sudah lama saling kenal tapi baru mulai saling membuka.
19731Please respect copyright.PENANAFOtn2jBbjo
Akhirnya panggilan selesai.
19731Please respect copyright.PENANAKi3WAmdhWj
Ibu taruh HP. Dia menatap aku lama.
19731Please respect copyright.PENANAgzk0TZpGdu
“Arga… kamu beneran oke?”
19731Please respect copyright.PENANAOoE82QF0we
Aku tarik napas dalam.
19731Please respect copyright.PENANAHAoEW8gfjJ
“Aku oke, Bu. Aku cuma… pengen Ibu bahagia. Dan aku pengen tahu semuanya.”
19731Please respect copyright.PENANAvfsw8UCCte
Ibu maju pelan. Peluk aku dari samping. Kepalanya bersandar di bahuku. Bau sabun mandi malamnya tercium lembut.
19731Please respect copyright.PENANAaYqQN9wGDd
“Makasih, Arga. Ibu sayang kamu.”
19731Please respect copyright.PENANAC3OC2ugEPH
Aku balas pelukannya. Tapi di kepalaku, aku tahu.
19731Please respect copyright.PENANAdBmqi10tiN
Besok siang… sesuatu bakal berubah.
19731Please respect copyright.PENANAwUnU4V50cw
Dan aku… bakal ada di sini. Mungkin ngintip. Mungkin denger. Mungkin… ikut merasakan degup jantung yang sama.
19731Please respect copyright.PENANAL19AYChtJn
Malam itu aku tidur di kamar Ibu. Di ranjang yang sama, tapi pisah bantal. Kami nggak ngapa-ngapain. Cuma tidur berdampingan. Tapi rasanya… lebih intim dari apa pun yang pernah aku rasain sebelumnya.
19731Please respect copyright.PENANApmtK8WmRqO
Siang itu matahari Kudus terik sekali, tapi di dalam rumah terasa lebih panas—bukan karena suhu, melainkan karena apa yang sudah menggantung di udara sejak pagi. Aku, Arga, berangkat ke kampus jam sepuluh, pura-pura ada kelompok presentasi sampai sore. Padahal presentasinya selesai jam satu siang. Aku sengaja bilang ke Ibu bakal pulang jam enam atau tujuh, biar ada ruang yang cukup.
19731Please respect copyright.PENANAMkP2vGp9WL
Pas aku keluar pagar, aku sempat nengok ke jendela kamar Ibu. Tirai tipisnya bergoyang pelan, dan aku yakin Ibu lagi ngeliatin aku pergi dari balik kaca. Aku angkat tangan kecil, senyum tipis. Dia balas dengan senyuman yang sama—lembut, tapi ada getar di ujung bibirnya.
19731Please respect copyright.PENANAZBF04QW3nK
Aku nggak langsung ke kampus. Aku muter ke warung kopi deket kampus, pesen es kopi susu, duduk di pojok sambil buka HP. Pikiranku cuma satu: apa yang bakal terjadi di rumah jam dua atau tiga siang nanti.
19731Please respect copyright.PENANAPr2eJxLtao
Jam 13:42, Dimas kirim pesan ke grup WA kami bertiga.
19731Please respect copyright.PENANAJCYRJfqext
Dimas:
“Tante, aku otw. Bawa bakso urat kesukaan Tante dari Pak Joko. Masih panas nih.”
19731Please respect copyright.PENANA51RMl62RCN
Ibu bales cepet.
19731Please respect copyright.PENANAwegLbiUbtk
Ibu:
“Makasih ya Mas. Pintu depan nggak dikunci. Langsung masuk aja.”
19731Please respect copyright.PENANAkmiUMwaWvk
Aku baca chat itu dari HP. Jantung mulai berdegup kencang. Aku matiin notif grup, tapi tetep pantengin.
19731Please respect copyright.PENANAnDwdfzlDjQ
Jam 14:05, Dimas kirim foto ke chat pribadi sama Ibu—aku tahu karena aku sempat liat preview sebelum dia hapus.
19731Please respect copyright.PENANA5wD4bPirlt
Foto itu cuma tangan Dimas pegang mangkok bakso plastik, tapi di background samar-samar keliatan pintu depan rumah kami yang udah terbuka. Artinya: dia udah sampe.
19731Please respect copyright.PENANA05mVInKg6i
Aku tarik napas dalam-dalam. Aku bayangin Ibu lagi berdiri di ruang tamu, mungkin pakai baju rumah yang biasa—kaos longgar sama celana pendek kain atau legging. Rambut diikat ponytail sederhana. Pipi merona meski dia coba sembunyiin.
19731Please respect copyright.PENANAIqxP2WqPrd
Aku mutusin buat pulang pelan-pelan. Nggak langsung masuk rumah. Aku parkir motor di gang belakang, masuk lewat pintu samping yang jarang dipake. Naik ke lantai atas pelan banget, masuk ke kamarku, tutup pintu tapi nggak dikunci. Dari sini aku bisa denger hampir semua suara di bawah—ruang tamu, dapur, bahkan tangga kalau orang naik.
19731Please respect copyright.PENANAyVyNNC1PhE
Aku duduk di lantai, punggung bersandar ke pintu, telinga menempel ke celah bawah. Suara mereka mulai terdengar.
19731Please respect copyright.PENANAqidX56bQrD
Ibu:
“Wah, masih panas banget ya Mas. Makasih banyak.”
19731Please respect copyright.PENANAJ8KxhRap8c
Dimas:
“Sama-sama, Tante. Gue sengaja ambil yang baru mateng. Biar Tante bisa makan selagi hangat.”
19731Please respect copyright.PENANA36Iz6qAHlx
Suara sendok plastik beradu sama mangkok. Mereka lagi makan bareng di meja makan kecil deket dapur.
19731Please respect copyright.PENANAzOdJcqUOiU
Ibu:
“Enak banget kuahnya. Pedesnya pas. Mas Dimas tahu banget selera Ibu ya?”
19731Please respect copyright.PENANA9oONbpTH9V
Dimas ketawa pelan.
“Ya iyalah, Tante. Gue kan sering liat Tante makan. Tiap kali gue mampir, gue perhatiin Tante suka tambah cabe berapa sendok.”
19731Please respect copyright.PENANA4O4iY0Sf7V
Ibu ketawa kecil. Suaranya renyah, tapi agak bergetar.
19731Please respect copyright.PENANAzKiBFsPJQA
“Kok perhatiin banget sih?”
19731Please respect copyright.PENANAeN4tOVKpM1
Dimas:
“Karena… gue suka ngeliat Tante. Semuanya. Cara Tante nyendok, cara Tante tiup kuah supaya nggak kepanasan, cara Tante senyum pas rasanya pas di lidah.”
19731Please respect copyright.PENANAsfW2KY7UxT
Jeda. Sendok berhenti bergerak.
19731Please respect copyright.PENANANdECQgNibP
Ibu:
“Mas Dimas… jangan gitu. Nanti… Arga pulang tiba-tiba.”
19731Please respect copyright.PENANAKAOTpVAFUc
Dimas:
“Tante bilang sendiri tadi pagi dia pulang sore. Kita punya waktu.”
19731Please respect copyright.PENANA2AhtzKs4Nr
Ibu diam. Aku bisa bayangin dia lagi nunduk, mainin sendok di mangkok.
19731Please respect copyright.PENANAmgfFdGjhGU
Dimas:
“Tante… liat gue dong.”
19731Please respect copyright.PENANAsFMCKlwsMH
Suara kursi bergeser pelan. Dimas pindah duduk lebih deket ke Ibu. Lutut mereka nyentuh di bawah meja.
19731Please respect copyright.PENANA5nflYw9rYe
Dimas:
“Tante cantik banget hari ini. Kaos putihnya… cocok banget sama kulit Tante.”
19731Please respect copyright.PENANAJLPZjYgfLA
Ibu:
“Ini kaos biasa aja, Mas. Udah lama.”
19731Please respect copyright.PENANAm9GceslVLo
Dimas:
“Tapi pas dipake Tante… beda. Semuanya jadi keliatan… lembut. Hangat.”
19731Please respect copyright.PENANA4Us6bntk8w
Aku ngerasa napas aku sendiri jadi pendek. Aku bayangin Ibu pakai kaos putih longgar yang agak tipis, tanpa bra lagi mungkin—putingnya samar tercetak kalau kena cahaya. Celana pendek kain abu-abu yang biasa dia pakai di rumah, memperlihatkan paha mulus putihnya yang nggak pernah kena matahari.
19731Please respect copyright.PENANAvgoGYueKYD
Dimas:
“Boleh nggak… gue pegang tangan Tante sebentar?”
19731Please respect copyright.PENANA2tMU7D8owQ
Ibu nggak langsung jawab. Aku denger napasnya agak cepat.
19731Please respect copyright.PENANA1Dfhc9Xc7j
Ibu:
“Mas… ini… kita nggak boleh.”
19731Please respect copyright.PENANAo3AF5gdMt2
Dimas:
“Cuma tangan. Gue janji nggak lebih. Gue cuma pengen ngerasain… hangatnya Tante.”
19731Please respect copyright.PENANAGQmdVzJQAO
Jeda panjang.
19731Please respect copyright.PENANASlVORMizzr
Lalu suara pelan—jari-jari yang saling bertemu.
19731Please respect copyright.PENANAgH4UZrYhFS
Dimas:
“Tangan Tante dingin. Gue hangatin ya.”
19731Please respect copyright.PENANAVHracj1Xem
Ibu:
“Mas Dimas…”
19731Please respect copyright.PENANAJbZScVtFk6
Suara itu hampir bisik. Bukan nolak. Lebih ke… menyerah pelan.
19731Please respect copyright.PENANAbB5sSYXu8F
Mereka diam beberapa menit. Cuma denger suara napas. Kadang suara jempol Dimas mengusap punggung tangan Ibu pelan-pelan, melingkar di tulang pergelangan.
19731Please respect copyright.PENANAGvgK4JS7Ed
Dimas:
“Tante tahu nggak… setiap kali gue pulang dari sini, gue nggak bisa tidur. Mikirin tangan ini. Mikirin senyum Tante. Mikirin… bau sabun mandi Tante yang masih nempel di baju gue pas gue peluk Tante kemarin pas pamitan.”
19731Please respect copyright.PENANApyyBy03TU4
Ibu:
“Kemarin itu… cuma pelukan biasa.”
19731Please respect copyright.PENANAYq54ngUG7E
Dimas:
“Bagi Tante mungkin biasa. Bagi gue… itu yang pertama kali gue ngerasa Tante balas peluk gue lebih erat dari biasanya.”
19731Please respect copyright.PENANA88tBnmu6va
Ibu diam lagi.
19731Please respect copyright.PENANA1G2XGm1db0
Dimas:
“Tante… boleh gue peluk lagi? Sekarang. Di sini. Cuma peluk. Gue janji nggak lebih.”
19731Please respect copyright.PENANABp4469cl1S
Aku ngerasa dada sesak. Napas aku hampir berhenti.
19731Please respect copyright.PENANAUVMctMQHE9
Ibu:
“Mas… kalau Arga tahu…”
19731Please respect copyright.PENANAjzXeAPJ6WZ
Dimas:
“Dia nggak bakal tahu. Dan… kemarin malam Tante bilang ke gue lewat chat… kalau Arga udah tahu. Dan dia… nggak marah.”
19731Please respect copyright.PENANAAjoMcKM2ql
Ibu terdengar menarik napas tajam.
19731Please respect copyright.PENANAs6qZMEAnzc
Ibu:
“Kamu… tahu dari mana?”
19731Please respect copyright.PENANANhIvx166vV
Dimas:
“Tante sendiri yang cerita tadi pagi pas chat. Bahwa Arga bilang… boleh. Bahwa Arga pengen Tante bahagia.”
19731Please respect copyright.PENANA6qe0Dhrx1C
Ibu:
“Aku… nggak nyangka dia bakal bilang gitu.”
19731Please respect copyright.PENANAL0l8Wg7dyO
Dimas:
“Mungkin Arga lebih dewasa dari yang kita kira. Mungkin dia juga pengen Tante nggak kesepian lagi.”
19731Please respect copyright.PENANAIENMSY0F5J
Ibu nggak jawab. Tapi aku denger suara kursi bergeser lagi. Mereka berdiri.
19731Please respect copyright.PENANAxByULjrujr
Dimas:
“Sini… peluk gue pelan aja.”
19731Please respect copyright.PENANAiADXOcCpKa
Suara kain bergesekan. Napas Ibu terdengar deket banget.
19731Please respect copyright.PENANAx9f2qf4JYO
Dimas:
“Tante… bau sabunnya enak banget. Sama kayak kemarin.”
19731Please respect copyright.PENANAV7dvORBTy7
Ibu:
“Mas Dimas… jantung kamu deg-degan banget.”
19731Please respect copyright.PENANAIdwW2qnH7q
Dimas:
“Iya. Karena gue deket sama Tante. Karena gue akhirnya boleh pegang Tante kayak gini.”
19731Please respect copyright.PENANAjO0rQZIfjR
Mereka diam lama. Cuma pelukan. Tangan Dimas pasti lagi di punggung Ibu, mengusap pelan dari atas ke bawah. Ibu pasti lagi bersandar, kepala di dada Dimas, tangan memeluk pinggangnya.
19731Please respect copyright.PENANAqPzCwnvh4b
Dimas:
“Tante… boleh gue cium kening Tante?”
19731Please respect copyright.PENANA0jMeABUfsl
Ibu nggak jawab langsung. Tapi aku denger suara ciuman pelan—bibir Dimas menyentuh kening Ibu lama. Lembut. Penuh perasaan.
19731Please respect copyright.PENANAUjoj4Rs525
Ibu:
“Mas…”
19731Please respect copyright.PENANAcYetITj35X
Dimas:
“Sekarang… boleh gue cium bibir Tante? Cuma sekali. Pelan. Gue pengen tahu rasanya… bibir Tante.”
19731Please respect copyright.PENANAG3P9E4nOjb
Ibu menarik napas panjang. Dadanya naik-turun cepat—aku bisa bayangin payudaranya menekan dada Dimas.
19731Please respect copyright.PENANAFUsB9CM4RH
Ibu:
“Mas… ini… titik nggak balik.”
19731Please respect copyright.PENANAJM7x1EaT3F
Dimas:
“Gue tahu. Dan gue siap kalau Tante mau berhenti kapan aja. Tapi kalau Tante izinin… gue bakal cium Tante selembut mungkin.”
19731Please respect copyright.PENANAwZIyyv4Qqu
Jeda yang terasa abadi.
19731Please respect copyright.PENANA6M5qKrByKO
Lalu suara pelan—bibir yang bertemu.
19731Please respect copyright.PENANAPVRCtV6nFz
Pertama cuma sentuhan ringan. Bibir Dimas di bibir Ibu. Nggak langsung dalam. Cuma nempel. Lama.
19731Please respect copyright.PENANAJ70N8lU2RW
Ibu mengeluarkan suara kecil dari hidung—seperti desahan pelan yang tertahan.
19731Please respect copyright.PENANAbqegqiF74f
Dimas:
“Tante… lembut banget.”
19731Please respect copyright.PENANA1n6ydnWZY1
Dia cium lagi. Kali ini lebih dalam sedikit. Bibirnya menggerakkan bibir bawah Ibu pelan. Lidahnya menyentuh ujung bibir Ibu—nggak masuk langsung, cuma mengetuk pelan, minta izin.
19731Please respect copyright.PENANAURxI3d7Hon
Ibu membalas. Bibirnya terbuka sedikit. Lidah mereka bertemu—pertama cuma ujung lidah yang saling sapa. Lalu pelan-pelan jadi lebih dalam. Suara ciuman basah terdengar samar—lembut, penuh ragu, tapi makin lama makin dalam.
19731Please respect copyright.PENANA0dHq22fRWx
Tangan Dimas naik ke pipi Ibu, mengusap pelan. Ibu memeluk leher Dimas, jari-jarinya masuk ke rambut cepaknya.
19731Please respect copyright.PENANASspPHULmWT
Mereka ciuman lama. Mungkin lima menit. Kadang berhenti sebentar buat tarik napas, lalu balik lagi. Kadang cuma bibir yang saling tempel tanpa gerak, cuma ngerasain hangatnya satu sama lain.
19731Please respect copyright.PENANAkdsBof59b2
Dimas:
“Tante… gue suka banget rasanya. Manis. Hangat. Kayak… pulang.”
19731Please respect copyright.PENANAGURkCxeRMx
Ibu:
“Mas Dimas… aku… takut.”
19731Please respect copyright.PENANArORTdsYJ5E
Dimas:
“Takut apa?”
19731Please respect copyright.PENANAy7PhZ0mnJR
Ibu:
“Takut… aku nggak bisa berhenti. Takut… ini bikin semuanya hancur.”
19731Please respect copyright.PENANAolUTKRKap2
Dimas:
“Gue janji… kita pelan-pelan. Kita jaga. Kita nggak buru-buru. Gue cuma pengen Tante tahu… gue sayang Tante. Bukan cuma badan Tante. Tapi… semuanya.”
19731Please respect copyright.PENANAJSeNNJaqPr
Ibu diam. Lalu dia cium Dimas lagi—kali ini dia yang mulai. Lebih berani sedikit. Lidahnya masuk lebih dalam, menjelajah mulut Dimas pelan.
19731Please respect copyright.PENANAkzHvTFfYIe
Mereka pindah ke sofa ruang tamu. Aku denger suara badan jatuh pelan ke bantal sofa. Mereka duduk berdampingan, tapi badan saling menempel. Tangan Dimas di pinggang Ibu, Ibu bersandar di dada Dimas.
19731Please respect copyright.PENANA5lK5ylMdDC
Mereka ciuman lagi. Lebih lama. Lebih dalam. Tapi tetap nggak lebih dari itu. Nggak ada tangan yang nakal ke dada atau ke bawah. Cuma pelukan, ciuman, usapan punggung, usapan pipi, bisik-bisik kata manis.
19731Please respect copyright.PENANA1PjXeCYQwM
Dimas:
“Tante… matanya cantik banget pas ditutup gini.”
19731Please respect copyright.PENANAXSPXh0GJvh
Ibu:
“Mas… jantung aku rasanya mau copot.”
19731Please respect copyright.PENANApEVUL3Gfwo
Dimas:
“Sama. Tapi gue seneng. Seneng banget akhirnya bisa gini sama Tante.”
19731Please respect copyright.PENANA4plEGAsBQT
Mereka diam lagi. Cuma pelukan. Napas saling bercampur.
19731Please respect copyright.PENANAlyuzGqjKiP
Jam menunjukkan pukul 15:40. Mereka masih di sofa. Masih saling peluk. Masih sesekali cium pelan.
19731Please respect copyright.PENANAHRHJ1Ha2Wb
Dimas:
“Tante… besok boleh lagi nggak?”
19731Please respect copyright.PENANAUeggfrLElP
Ibu:
“Mas… aku nggak tahu. Tapi… aku nggak bisa bilang nggak.”
19731Please respect copyright.PENANAvmUjzzeYN7
Dimas:
“Makasih, Tante. Gue bakal datang lagi. Pelan-pelan. Sampai Tante siap… atau sampai Tante bilang berhenti.”
19731Please respect copyright.PENANAdbOTi1I3FQ
Ibu:
“Jangan bilang berhenti dulu. Aku… belum siap bilang itu.”
19731Please respect copyright.PENANAHcP1VqM2nB
Mereka cium lagi. Lama.
19731Please respect copyright.PENANAhamjGNAQAP
Lalu suara Dimas.
19731Please respect copyright.PENANAj24ihqehnD
Dimas:
“Aku pulang dulu ya, Tante. Biar nggak ketahuan Arga pulang.”
19731Please respect copyright.PENANAZHHk0if92j
Ibu:
“Iya… hati-hati ya.”
19731Please respect copyright.PENANAyS0cgEwys0
Suara pintu depan dibuka, ditutup pelan. Motor Dimas hidup, menjauh.
19731Please respect copyright.PENANAFmjRqOp3d0
Rumah kembali sepi.
19731Please respect copyright.PENANASAiWQpcTQV
Aku tunggu lima menit. Lalu aku turun pelan.
19731Please respect copyright.PENANAHVGVEMF68B
Ibu lagi duduk di sofa, sendirian. Matanya merah, tapi bibirnya bengkak sedikit—bekas ciuman. Pipinya merona. Rambut ponytailnya agak acak-acakan.
19731Please respect copyright.PENANARrL0xJYYyi
Dia menoleh ke aku. Kaget, tapi nggak panik.
19731Please respect copyright.PENANAJ57aX8PiJI
“Arga… kapan pulang?”
19731Please respect copyright.PENANA7W5wLjJxLz
Aku duduk di sebelahnya. Jarak deket.
19731Please respect copyright.PENANAXxY6NHEGmM
“Aku… udah dari tadi, Bu. Di atas. Denger semuanya.”
19731Please respect copyright.PENANAESKuK6tCvk
Ibu menunduk. Air mata jatuh satu tetes ke paha.
19731Please respect copyright.PENANANqgB4FSEUZ
“Maaf, Arga…”
19731Please respect copyright.PENANAplg2HfiQQG
Aku pegang tangannya. Dingin.
19731Please respect copyright.PENANAh9zlrDArNr
“Bu… aku bilang kan. Aku oke. Aku cuma… pengen Ibu bahagia.”
19731Please respect copyright.PENANAGOrTsVuFah
Ibu memeluk aku erat. Menangis pelan di bahuku.
19731Please respect copyright.PENANAiplK2SoNlb
“Aku sayang kamu, Arga. Selalu.”
19731Please respect copyright.PENANAQZE9ABJXdL
Aku balas pelukannya.
19731Please respect copyright.PENANAPZIfkADHqJ
Di kepalaku, aku tahu.
19731Please respect copyright.PENANA5QxiEJMwcx
Ini baru permulaan yang sebenarnya.
19731Please respect copyright.PENANAAhL6m65DIF
Dan besok… mungkin lebih dari ciuman.
19731Please respect copyright.PENANAIvUWv7F9aU
Mungkin lebih dalam.
19731Please respect copyright.PENANAMaGTQ4dTZh
Mungkin… semuanya mulai terbuka.
19731Please respect copyright.PENANAN02hbR7gxn
Hari berikutnya, Rabu. Langit Kudus cerah sejak pagi, tapi di dalam rumah terasa seperti ada awan tebal yang menyelimuti semuanya. Aku, Arga, bangun jam tujuh lewat, langsung ke kamar mandi, mandi cepat-cepat. Pas keluar kamar, aku dengar suara Ibu di dapur—lagi nyanyi kecil sambil goreng telur. Suara yang sama seperti dulu-dulu, tapi hari ini ada nada beda. Lebih… ringan. Lebih… genit.
19731Please respect copyright.PENANAYww57VBT7d
Aku turun pelan, ngintip dari tangga. Ibu pakai kaos crop top putih tipis yang jarang banget dia pakai—potongannya pas di atas pusar, memperlihatkan perut rata yang masih kencang meski umur 42. Bawahnya celana pendek denim pendek banget, hampir nggak nutupin separuh paha mulus putihnya. Rambutnya dibiarkan terurai, agak bergelombang alami karena semalem dia keramas pake conditioner yang baunya manis. Dia lagi membungkuk ambil piring dari rak bawah, bokongnya terangkat sedikit, celana pendeknya naik sampe garis celah bokong terlihat jelas—bulat, penuh, kenyal.
19731Please respect copyright.PENANAHxoY29iqxG
Aku langsung balik ke kamar, pura-pura belum turun. Jantung aku deg-degan. Aku tahu ini bukan kebetulan.
19731Please respect copyright.PENANA8gfdUUXsGH
Jam tujuh lewat, aku turun lagi. Ibu lagi nyusun sarapan di meja: nasi goreng, telur mata sapi, tempe goreng, sama segelas susu hangat buat aku.
19731Please respect copyright.PENANAXKqfM6GeQg
“Pagi, Arga,” katanya sambil senyum lebar. Matanya berbinar. Pipinya merah alami, bukan karena panas kompor.
19731Please respect copyright.PENANAJWec3tAweV
“Pagi, Bu. Kok hari ini… beda ya?”
19731Please respect copyright.PENANA5t4WyvHJMM
Ibu ketawa kecil, suaranya renyah.
19731Please respect copyright.PENANAhKjCL3THg5
“Beda gimana? Ibu cuma pengen nyaman aja di rumah. Panas nih akhir-akhir ini.”
19731Please respect copyright.PENANAWNDlo7iMh8
Dia duduk di seberang aku, kakinya di bawah meja sengaja nyenggol kakiku pelan. Nggak sengaja katanya, tapi aku tahu itu sengaja.
19731Please respect copyright.PENANAPrwqGbxx8i
“Bu… hari ini Dimas mau mampir lagi?”
19731Please respect copyright.PENANAqUruKYhKRO
Ibu mengangguk sambil nyendok nasi goreng ke mulutnya pelan.
19731Please respect copyright.PENANAab7VHgAZmc
“Iya. Katanya abis siang kuliahnya langsung ke sini. Mau numpang makan siang katanya.”
19731Please respect copyright.PENANATCXzgXYoi9
Aku pura-pura biasa aja.
19731Please respect copyright.PENANAwVA0HYJu14
“Aku ada kelas sampe jam empat. Pulang sore lagi.”
19731Please respect copyright.PENANAXBIaPZwwxi
Ibu menatap aku lama. Senyumnya lembut, tapi ada api kecil di matanya.
19731Please respect copyright.PENANAmHSrq8npwx
“Makasih ya, Arga. Ibu tahu kamu lagi kasih ruang buat Ibu.”
19731Please respect copyright.PENANAevQbTWg9K5
Aku cuma mengangguk. Tenggorokanku kering.
19731Please respect copyright.PENANAk75Kc9osS9
Setelah sarapan, Ibu berdiri, beresin piring. Waktu dia membungkuk buat angkat piring kotor, crop top-nya naik sedikit, memperlihatkan bagian bawah payudaranya—putih, lembut, tanpa bra. Areolanya cokelat muda samar terlihat, putingnya sudah setengah mengeras karena AC atau karena pikiran yang lagi muter di kepalanya.
19731Please respect copyright.PENANA2bSjRQScWv
Aku cepat-cepat pamit ke kampus. Tapi seperti biasa, aku balik lewat gang belakang jam satu lewat, masuk pintu samping, naik ke kamar, tutup pintu pelan, duduk di lantai, telinga menempel ke celah bawah. HP silent, tapi jantung berdegup kencang.
19731Please respect copyright.PENANAdLxdTZGcCV
Jam 13:55, suara motor Dimas terdengar di depan. Pintu dibuka.
19731Please respect copyright.PENANAjP46vaPXzP
Dimas:
“Tante… aku datang. Bau masakan enak banget nih.”
19731Please respect copyright.PENANAtNnPKc328M
Ibu:
“Masuk aja, Mas. Ibu lagi masak ayam goreng kecap. Mas Dimas suka kan?”
19731Please respect copyright.PENANARoe0EXghSU
Suara langkah masuk. Mereka ke dapur.
19731Please respect copyright.PENANASubzV3Nldp
Dimas:
“Wah… Tante hari ini… beda banget.”
19731Please respect copyright.PENANATILxvM02Wt
Ibu ketawa pelan.
19731Please respect copyright.PENANAj92LgmEwfO
“Beda gimana, Mas?”
19731Please respect copyright.PENANA1rqGY9yYVY
Dimas:
“Kaosnya… pendek. Celananya… pendek banget. Tante lagi pengen bikin gue gila ya?”
19731Please respect copyright.PENANAcmxLfmpMEt
Ibu:
“Siapa bilang? Ibu cuma pengen nyaman. Lagian… rumah sendiri. Nggak ada yang liat.”
19731Please respect copyright.PENANAMQPdJjZviU
Dimas:
“Aku liat, Tante. Dan aku… suka banget.”
19731Please respect copyright.PENANAyRhZzuM9j0
Suara Ibu mendekat. Langkahnya pelan, seperti lagi mendekati mangsa.
19731Please respect copyright.PENANAwBot6CbvCW
Ibu:
“Mas Dimas… duduk dulu di meja. Ibu ambilin minum.”
19731Please respect copyright.PENANA5a7ZBUzs2A
Dimas duduk. Aku denger kursi bergeser.
19731Please respect copyright.PENANAxG7GbOvYXS
Ibu:
“Ini es teh manis. Dingin ya.”
19731Please respect copyright.PENANA0gdZPfkUhD
Dia taruh gelas di depan Dimas. Tapi bukannya langsung mundur, Ibu malah berdiri di depan Dimas, badannya agak membungkuk ke depan waktu naruh gelas. Crop top-nya jatuh ke depan, payudaranya bergoyang lembut, hampir keluar sepenuhnya. Putingnya sudah keras jelas, cokelat muda, kecil tapi menonjol.
19731Please respect copyright.PENANA9CHuE3dEVv
Dimas:
“Tante… gue bisa liat semuanya.”
19731Please respect copyright.PENANA72j3EUn8au
Ibu:
“Emangnya kenapa? Mas Dimas nggak suka?”
19731Please respect copyright.PENANAI8dsCE4Q4k
Dimas menelan ludah. Suaranya serak.
19731Please respect copyright.PENANA50Zk3wzSYF
“Suka banget. Tante… lagi sengaja ya hari ini?”
19731Please respect copyright.PENANA7Zp8VmjOOh
Ibu ketawa kecil. Dia maju setengah langkah, sekarang lututnya nyentuh lutut Dimas.
19731Please respect copyright.PENANAZWFYsqWeMO
“Mungkin iya. Kemarin… Ibu ngerasa enak banget. Jadi Ibu mikir… mungkin Ibu mau coba lebih berani sedikit.”
19731Please respect copyright.PENANAssphRKJZ3b
Dimas:
“Tante… jangan main-main. Gue udah keras dari tadi.”
19731Please respect copyright.PENANAKyOQwsbR3q
Ibu:
“Ibu tahu. Ibu liat dari tadi celana Mas Dimas udah membusung.”
19731Please respect copyright.PENANAQlCJMOWAI3
Dia angkat tangan kanannya pelan, menyentuh pipi Dimas dulu. Lalu turun ke leher, ke dada, ke perut. Berhenti di pinggang.
19731Please respect copyright.PENANAG7sxikv824
Ibu:
“Mas Dimas… boleh Ibu pegang lagi? Kayak kemarin.”
19731Please respect copyright.PENANARUrzdmU5hC
Dimas:
“Boleh banget, Tante. Malah gue pengen.”
19731Please respect copyright.PENANA3N9jSPYyxk
Ibu turunin tangan lebih bawah. Resleting celana Dimas diturunkan pelan oleh jari-jari Ibu yang gemetar tapi berani. Dia masukin tangan ke dalam boxer, menggenggam batang Dimas yang sudah keras penuh.
19731Please respect copyright.PENANAwOyJGzWUaQ
Ibu:
“Wah… makin keras dari kemarin. Panas banget di tangan Ibu.”
19731Please respect copyright.PENANAKO772DICsW
Dimas mendesah pelan.
19731Please respect copyright.PENANAXeQRJ0ZnGb
Dimas:
“Tante… usap pelan aja dulu. Gue nggak mau cepet keluar.”
19731Please respect copyright.PENANAqOWt7tXi0Z
Ibu mulai gerak tangan naik-turun pelan. Jempolnya mengusap kepala yang sudah basah.
19731Please respect copyright.PENANArj0izInCCE
Ibu:
“Mas… ujungnya licin. Ibu suka liatnya.”
19731Please respect copyright.PENANAxS7RQWh7Ga
Dimas:
“Tante… gue pengen liat payudara Tante. Boleh angkat kaosnya?”
19731Please respect copyright.PENANArKOXpJvMTV
Ibu berhenti sejenak. Lalu dia angkat crop top-nya pelan-pelan, sampai lepas dari kepala. Payudaranya terbebas—bulat sempurna, berat tapi kencang, puting cokelat muda mengeras tegak, areola kecil rapi.
19731Please respect copyright.PENANARaUOae0hmX
Dimas:
“Tante… indah banget. Putingnya… cantik. Keras gini karena gue ya?”
19731Please respect copyright.PENANAoxl7u7RUeq
Ibu:
“Iya… karena Mas Dimas. Karena Ibu mikirin kamu terus dari kemarin.”
19731Please respect copyright.PENANABZ8lSWx7fM
Dimas angkat tangan, menyentuh payudara kiri Ibu pelan. Jempolnya mengusap puting dari luar kulit telanjang sekarang.
19731Please respect copyright.PENANANHAvIterEs
Dimas:
“Enak nggak, Tante?”
19731Please respect copyright.PENANAb3wv6dvMC4
Ibu mendesah pelan, kepalanya mendongak sedikit.
19731Please respect copyright.PENANAXKeftG2wj0
Ibu:
“Enak… usap lagi. Pelan aja.”
19731Please respect copyright.PENANAIjMiy80Ukr
Dimas usap kedua payudara bergantian. Kadang remas lembut, kadang cubit puting pelan. Ibu mengeluarkan suara kecil dari tenggorokan setiap kali jempolnya menyentuh titik sensitif.
19731Please respect copyright.PENANAm85KlVignG
Ibu:
“Mas… puting Ibu… sensitif banget. Rasanya nyut-nyutan ke bawah.”
19731Please respect copyright.PENANAWty1rId1Rw
Dimas:
“Iya… gue ngerasain. Keras banget. Kayak lagi minta disentuh lebih.”
19731Please respect copyright.PENANA2mrakIA8mK
Dia terus usap. Kadang tangannya melingkar di bawah payudara, angkat sedikit supaya merasakan beratnya, lalu jempol kembali ke puting, memutar pelan.
19731Please respect copyright.PENANAyPIEyz9UNl
Ibu:
“Aaah… Mas… Ibu basah di bawah. Celana dalam Ibu udah lembab dari tadi.”
19731Please respect copyright.PENANAONHXONipOu
Dimas:
“Serius, Tante?”
19731Please respect copyright.PENANAjQpPRqyOAG
Ibu:
“Iya… gara-gara Mas pegang payudara Ibu gini. Ibu ngerasa panas di seluruh badan.”
19731Please respect copyright.PENANAwKogP0UFet
Dimas turunin tangan kanannya pelan, ke pinggang Ibu, lalu ke depan celana pendek denimnya. Dia usap paha dalam Ibu dulu, lalu naik ke selangkangan dari luar kain.
19731Please respect copyright.PENANAcZG4gH1F8r
Dimas:
“Tante… di sini udah panas banget. Gue ngerasain kelembaban lewat celana.”
19731Please respect copyright.PENANA9jKUH5F5eS
Ibu goyang pinggul kecil, menggesek tangan Dimas.
19731Please respect copyright.PENANAH92JPTdbvJ
Ibu:
“Usap lagi, Mas… di atas klitoris Ibu. Pelan aja.”
19731Please respect copyright.PENANAppPCPPDfYW
Dimas menggosok pelan dari luar celana pendek. Ibu mendesah lebih keras, tangannya mencengkeram bahu Dimas.
19731Please respect copyright.PENANATIHJxeCOUq
Ibu:
“Enak… terus… jangan berhenti…”
19731Please respect copyright.PENANABdc3WgrWUO
Dimas percepat sedikit. Ibu menegang, napasnya cepat.
19731Please respect copyright.PENANAJbtRIMOim3
Ibu:
“Mas… Ibu mau keluar. Terusin…”
19731Please respect copyright.PENANA2Bbg6m9b5j
Badannya bergetar pelan. Orgasme pertama hari itu—pelan, emosional, penuh getar. Cairan bening netes sedikit ke celana pendeknya.
19731Please respect copyright.PENANAH7Fge1UvbT
Dimas tarik tangan, basah. Dia jilat pelan jarinya sendiri.
19731Please respect copyright.PENANAIeZeTH6PLb
Dimas:
“Manis, Tante. Rasa Tante enak banget.”
19731Please respect copyright.PENANARnuqJOJFTO
Ibu masih napas ngos-ngosan. Dia tarik Dimas berdiri, peluk erat.
19731Please respect copyright.PENANAZccR8ojzxB
Ibu:
“Mas… Ibu pengen cium kamu lagi. Di bawah.”
19731Please respect copyright.PENANAL4Mij7koMa
Dia berlutut pelan di lantai dapur. Tarik boxer Dimas turun. Batangnya tegak lurus, kepalanya merah basah.
19731Please respect copyright.PENANA9dnMRWPYwl
Ibu:
“Mas… kepalanya… merah. Basah di ujung.”
19731Please respect copyright.PENANAR90ktwlYEh
Dimas:
“Itu… karena gue udah keluar sedikit. Karena Tante.”
19731Please respect copyright.PENANAvBplITDOas
Ibu mulai dengan jilat dari bawah ke atas. Lidahnya berputar di kepala, lalu masuk ke mulut pelan. Isap lembut, naik-turun setengah batang.
19731Please respect copyright.PENANAvzPu9SD9DG
Dimas mendesah dalam.
19731Please respect copyright.PENANAkuv7NQrE6u
Dimas:
“Tante… mulut Tante hangat. Lembut. Gue… nggak tahan.”
19731Please respect copyright.PENANA3OnLnz2h22
Ibu terus. Suara isapan pelan terdengar. Kadang dia berhenti, cium batangnya dari samping, jilat dari bawah ke atas.
19731Please respect copyright.PENANASSNzTPKOaE
Dimas:
“Tante… gue mau keluar. Boleh di mulut Tante?”
19731Please respect copyright.PENANAMHeGAqaioe
Ibu keluarin sebentar.
19731Please respect copyright.PENANA6ywdLGsp0q
Ibu:
“Iya… keluar aja. Ibu mau ngerasain.”
19731Please respect copyright.PENANApB365mfhDG
Dia masuk lagi. Lebih cepat sedikit. Tangan Ibu ikut pegang pangkal, usap pelan.
19731Please respect copyright.PENANAqAZniiqyFD
Dimas mengerang keras.
19731Please respect copyright.PENANAXVuES1Hj0o
Dimas:
“Tante… gue keluar… sekarang…”
19731Please respect copyright.PENANA17LAM8ess9
Dia keluar di mulut Ibu. Ibu nggak narik, terus isap pelan sampai habis. Lalu menelan pelan.
19731Please respect copyright.PENANAjY9FDW1Jdx
Ibu:
“Mas… asin. Tapi… enak.”
19731Please respect copyright.PENANAQMGLwlSVfN
Mereka pelukan lagi. Duduk di lantai dapur, badan saling tempel.
19731Please respect copyright.PENANAhdZI8Oqg7t
Ibu:
“Mas Dimas… Ibu mulai nggak bisa berhenti mikirin kamu. Tiap hari pengen gini lagi.”
19731Please respect copyright.PENANAmwcSo0KrUG
Dimas:
“Gue juga, Tante. Besok… boleh lagi?”
19731Please respect copyright.PENANAu2ks6dtieA
Ibu:
“Boleh. Tapi… besok Ibu pengen lebih.
19731Please respect copyright.PENANA7HsBNZPhfF
Dimas diam sebentar. Lalu cium kening Ibu.
19731Please respect copyright.PENANAO77l6tUZzs
Dimas:
“Besok. Pelan-pelan. Gue janji bikin Tante seneng.”
19731Please respect copyright.PENANAzg5qgdnOPT
Mereka diam lama. Cuma pelukan.
19731Please respect copyright.PENANAaQm3NamfvH
Aku di atas, badan panas membara. Aku tahu besok… mereka bakal bercinta pertama kali.
19731Please respect copyright.PENANA4TP8IhxetZ
Dan aku… bakal denger semuanya.
19731Please respect copyright.PENANAO9sMUj3yOf
Mungkin… lebih dari denger.
19731Please respect copyright.PENANAS6pw6TrEkQ
Kamis pagi, rumah terasa berbeda. Udara Kudus masih sejuk, tapi di dalam dinding ini ada panas yang sudah nggak bisa disembunyikan lagi. Aku, Arga, bangun jam tujuh, turun ke dapur. Ibu lagi berdiri di depan kompor, tapi gerakannya lambat, seperti pikirannya lagi jauh-jauh. Dia pakai daster tipis warna peach yang hampir tembus pandang kalau kena cahaya matahari pagi dari jendela belakang. Rambutnya diikat ponytail tinggi, leher putih mulusnya terlihat jelas, ada bekas merah kecil di tulang selangka—bekas gigitan pelan Dimas kemarin.
19731Please respect copyright.PENANAjulQluWemi
“Pagi, Arga,” katanya tanpa menoleh. Suaranya lembut, tapi ada getar yang aku tahu artinya: gugup, tapi juga excited.
19731Please respect copyright.PENANAxU4g8mbmaA
“Pagi, Bu. Hari ini… Dimas datang lagi?”
19731Please respect copyright.PENANAFHnEoeiXWx
Ibu matiin kompor, balik badan. Matanya langsung ketemu mataku. Pipinya merah, bibirnya agak menggigit bawah.
19731Please respect copyright.PENANAvOCIWlANiK
“Iya. Siang nanti. Dia bilang… mau bawa makan siang dari luar. Katanya pengen kita… ngobrol lebih lama.”
19731Please respect copyright.PENANA352PwK8zDW
Aku tahu itu bohong. Dia tahu aku tahu.
19731Please respect copyright.PENANANyqEtEYCta
“Aku bakal keluar lagi siang ini. Ke perpustakaan kampus. Pulang sore.”
19731Please respect copyright.PENANAd6q7yFxysZ
Ibu mendekat, duduk di sebelahku. Tangan kanannya menyentuh punggung tanganku.
19731Please respect copyright.PENANAJaMh48leoc
“Arga… ibu takut. Tapi ibu juga… pengen banget. Udah lama ibu nggak ngerasa gini. Udah lama ibu nggak ngerasa… diinginkan seutuhnya.”
19731Please respect copyright.PENANAbIK57iUXSI
Aku balas pegang tangannya.
19731Please respect copyright.PENANATyeILnUDaH
“Aku tahu, Bu. Dan aku… nggak bakal marah. Aku cuma minta satu: kalau selesai, cerita ke aku. Detailnya. Biar aku tahu Ibu bahagia.”
19731Please respect copyright.PENANALyp4Je6KRN
Ibu menunduk sebentar, lalu angkat muka lagi. Matanya basah, tapi senyumnya hangat.
19731Please respect copyright.PENANAupTgRD6Znx
“Iya, Arga. Ibu janji. Apa pun yang terjadi… Ibu cerita ke kamu.”
19731Please respect copyright.PENANA84k9ClDQyL
Aku pamit ke kampus jam sepuluh. Tapi seperti biasa, aku balik lewat gang belakang jam satu lewat. Masuk pintu samping, naik tangga pelan-pelan, masuk kamar, tutup pintu, duduk di lantai dengan telinga menempel ke celah bawah. HP silent, tapi jantung berdegup kencang kayak mau copot.
19731Please respect copyright.PENANA2WUICo1GZS
Jam 13:48, suara motor Dimas. Pintu depan dibuka.
19731Please respect copyright.PENANA3XRNZtrRWP
Dimas:
“Tante… aku datang. Bawa nasi goreng seafood sama es campur. Masih dingin nih.”
19731Please respect copyright.PENANA7uo6mMqlQD
Ibu:
“Masuk aja, Mas. Taruh di meja makan. Ibu… lagi nunggu kamu dari tadi.”
19731Please respect copyright.PENANAj7lxyDrATO
Suara langkah mereka ke ruang makan. Kursi bergeser. Mereka makan dulu—ngobrol ringan soal cuaca, soal kuliah Dimas, soal tetangga. Tapi nada suara mereka beda. Lebih rendah. Lebih deket.
19731Please respect copyright.PENANAM3EInWX72g
Dimas:
“Tante… makan aja pelan-pelan. Hari ini kita nggak buru-buru.”
19731Please respect copyright.PENANAFZgZckIfL9
Ibu:
“Iya… Ibu juga pengen nikmatin setiap detiknya sama kamu.”
19731Please respect copyright.PENANAnPlVhsnSRV
Makan selesai. Suara piring dibersihin. Lalu langkah mereka naik tangga—pelan, berat, seperti lagi naik ke sesuatu yang nggak bisa dibalik lagi.
19731Please respect copyright.PENANAdh3OWjuPiz
Pintu kamar Ibu dibuka. Ditutup pelan. Dikunci.
19731Please respect copyright.PENANAJmpxpb0aE5
Aku hampir nggak bernapas.
19731Please respect copyright.PENANAOMv5Y9rkNw
Di dalam kamar, suara Ibu terdengar pertama.
19731Please respect copyright.PENANAoVWU3MkHTX
Ibu:
“Mas Dimas… sini. Duduk di ranjang.”
19731Please respect copyright.PENANAaRNJRcekap
Suara kasur berderit pelan. Mereka duduk berdampingan.
19731Please respect copyright.PENANAJo9qMwOlOZ
Dimas:
“Tante… kamu gemetar.”
19731Please respect copyright.PENANAdd2nkwVJVS
Ibu:
“Iya… takut. Tapi pengen. Mas… boleh Ibu cium dulu?”
19731Please respect copyright.PENANAsZvhIzg9uJ
Suara bibir bertemu. Ciuman panjang, dalam. Lidah saling jelajah. Napas mereka saling campur. Kadang berhenti cuma buat tarik napas, lalu balik lagi.
19731Please respect copyright.PENANAhzNfadtIJE
Ibu:
“Mas… lepas baju kamu. Ibu pengen liat badan kamu.”
19731Please respect copyright.PENANAHvJIWRL6TD
Dimas lepas kaos. Suara kain jatuh ke lantai.
19731Please respect copyright.PENANA4rtFyDZuXT
Ibu:
“Wah… dada kamu keras. Ototnya keliatan. Ibu suka.”
19731Please respect copyright.PENANAmp90bQxIUl
Tangan Ibu menyentuh dada Dimas, usap pelan ke bawah, ke perut, ke pinggang.
19731Please respect copyright.PENANAv80JUcm7yl
Dimas:
“Tante… gantian. Angkat daster kamu.”
19731Please respect copyright.PENANAEE6zQ7Otf6
Ibu berdiri. Suara kain sutra bergesekan saat daster diangkat lepas dari kepala. Dia telanjang sekarang—cuma celana dalam renda hitam tipis yang sudah basah di tengah.
19731Please respect copyright.PENANAxLE0Hzswy9
Dimas:
“Tante… tubuh kamu… sempurna. Payudara kamu bulat banget, putingnya keras tegak. Perut rata, pinggang kecil, bokongnya… ya Tuhan, bulat penuh. Kaki kamu panjang mulus.”
19731Please respect copyright.PENANAyTrACT2VkN
Ibu:
“Mas… liat vagina Ibu. Celana dalamnya udah basah banget karena kamu.”
19731Please respect copyright.PENANA1YgAJXj6Gb
Dia turunin celana dalam pelan. Vaginanya terbuka—rambut tipis rapi di atas, bibir luar tebal merah muda, bibir dalam sudah mengkilap licin, klitoris kecil bengkak.
19731Please respect copyright.PENANAnHNE5rlOPR
Dimas:
“Tante… cantik banget. Basahnya banyak. Bau wanginya manis.”
19731Please respect copyright.PENANAfWNgMW2OKo
Dia tarik Ibu duduk lagi, lalu dorong pelan supaya rebah di ranjang. Dimas naik ke atas, tapi nggak langsung masuk. Dia mulai dari cium leher Ibu, turun ke tulang selangka, ke payudara.
19731Please respect copyright.PENANAkXPe9YG5Mj
Dimas:
“Puting Tante… enak banget. Gue hisap ya.”
19731Please respect copyright.PENANAm1fXAOXCEa
Dia hisap puting kiri pelan, lidah berputar, gigit ringan. Ibu mengerang.
19731Please respect copyright.PENANAYIvFczItvG
Ibu:
“Aaah… Mas… enak. Hisap lagi. Yang satunya juga.”
19731Please respect copyright.PENANAylW7LHTlhh
Dimas pindah ke kanan, tangan kirinya remas payudara kiri pelan, cubit puting.
19731Please respect copyright.PENANAMsMFIeR6aU
Ibu:
“Mas… Ibu basah banget. Sentuh bawah.”
19731Please respect copyright.PENANA9QD9knNXay
Dimas turun. Cium perut Ibu, pusar, lalu ke atas kemaluan. Dia buka paha Ibu lebar.
19731Please respect copyright.PENANAHvtPUAmyxw
Dimas:
“Tante… vagina kamu indah. Bibirnya tebal, klitorisnya bengkak. Gue jilat ya.”
19731Please respect copyright.PENANAeY2jBYXjAl
Lidahnya menyentuh klitoris pelan. Menjilat dari bawah ke atas, berputar kecil.
19731Please respect copyright.PENANAS7F3qkIWa3
Ibu:
“Aaaah… Mas… enak banget. Jilat lagi. Masukin lidah ke dalam.”
19731Please respect copyright.PENANA3FizzwfE9f
Dimas masukin lidah ke lubang vagina, keluar-masuk pelan, sambil jempol menggosok klitoris.
19731Please respect copyright.PENANA2W4CohpJbt
Ibu mulai goyang pinggul.
19731Please respect copyright.PENANAoyvrh5adAg
Ibu:
“Mas… Ibu mau keluar. Terusin… jangan berhenti…”
19731Please respect copyright.PENANALyHszDFC04
Dimas percepat lidah. Ibu menegang, tangan mencengkeram seprai.
19731Please respect copyright.PENANAndlepSZkAR
Ibu:
“Aaaahhh… keluar… Ibu keluar… aaah!”
19731Please respect copyright.PENANA5TDk19qclS
Orgasme pertama. Badannya bergetar hebat, cairan bening keluar banyak, Dimas jilat semuanya.
19731Please respect copyright.PENANA7n62sKXqit
Dimas:
“Tante… rasa kamu manis. Enak banget.”
19731Please respect copyright.PENANAAW933dCAw4
Ibu tarik Dimas naik, cium bibirnya yang masih basah oleh cairannya sendiri.
19731Please respect copyright.PENANA3qzxzbsHM2
Ibu:
“Sekarang giliran Ibu. Lepas celana kamu.”
19731Please respect copyright.PENANAgI1kmXNISI
Dimas telanjang. Batangnya tegak keras, panjang sekitar 17 cm, tebal, urat-urat menonjol, kepala merah mengkilap.
19731Please respect copyright.PENANAUjtQRtoXCK
Ibu:
“Mas… kontol kamu gede banget. Ibu pengen nyedot dulu.”
19731Please respect copyright.PENANA0jwUKqcEyf
Dia berlutut di ranjang, ambil batang Dimas ke mulut. Isap pelan, lidah berputar di kepala, tangan usap pangkal.
19731Please respect copyright.PENANAzDvUMTMuIP
Dimas:
“Tante… mulut kamu panas. Enak banget. Sedot lebih dalam.”
19731Please respect copyright.PENANApvjC4iLH10
Ibu masukin lebih dalam, hampir separuh. Kepala maju-mundur, isap kuat.
KELANJUTANNYA DI LINK 🔗 DIBAWAK INI https://lynk.id/time47
ns216.73.216.67da2


