568Please respect copyright.PENANAa1IcVBlWQm
Bab 1
Titik Awal
Pagi itu, kampus masih sepi. Angin seolah belum terbangun sepenuhnya dari tidurnya, dan matahari hanya menebar cahaya malu-malu di antara dedaunan. Langkahku pelan menyusuri trotoar yang basah oleh embun, menuju taman kecil dekat masjid fakultas.
Ini sudah jadi kebiasaanku. Datang lebih awal bukan karena takut terlambat kuliah, tapi karena ada kebutuhan yang lebih dalam—untuk diam sejenak, untuk mendengar suara hati yang sering kali tenggelam dalam bising dunia.
Aku duduk di bangku kayu yang menghadap kolam ikan kecil. Di depanku, mushaf usang yang sudah bertahun-tahun jadi teman setia. Aku membuka halaman terakhir yang kutandai, dan mulai membaca ayat demi ayat, melafalkannya pelan, tak terdengar oleh siapa pun kecuali aku dan Allah.
"Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar..."568Please respect copyright.PENANAH43FfD5sja
Ayat itu kutadabburi lama. Kadang, satu ayat bisa menggetarkan lebih dalam dari seribu ceramah. Dan pagi ini, aku merasakannya lagi. Betapa salat bukan sekadar rutinitas, tapi penyejuk, penjaga dari segala yang bisa menyesatkan.
Saat aku menutup mushaf dan mengusap wajah, aku melihatnya.
Kamu.
Duduk di bangku seberang taman, mengenakan sweater abu-abu dengan tudung yang tergantung di punggung. Rambutmu jatuh bebas, sebagian tertiup angin. Di tanganmu tergenggam buku tebal. Entah novel atau mungkin skripsi. Kamu begitu tenggelam dalam bacaanmu hingga tak menyadari bahwa seseorang sedang mengamatimu dari jauh.
Aku tak tahu kenapa mataku terpaku. Mungkin karena caramu membaca. Kamu terlihat... damai. Seolah dunia ini tak punya urusan denganmu. Kamu dan halaman-halaman itu seperti dua sahabat lama yang sedang saling melepas rindu.
Hatiku bergetar. Aku segera menunduk, merasa malu dengan pandangan yang terlalu lama. Astaghfirullah, batinku. Aku mencoba mengalihkan perhatian dengan membuka lagi mushaf, meski fokusku sudah buyar.
Namamu siapa, ya? Mahasiswi baru? Atau aku saja yang kurang update?
Aku menghela napas dan mencoba mengusir bayanganmu dari pikiranku. Tapi... aneh. Bahkan tanpa sadar, aku masih melirik ke arahmu. Dan setiap kali aku mencoba berhenti, ada sesuatu yang menarik kembali pandanganku padamu.
Di kelas, aku duduk di tempat biasa, di sebelah Ihsan. Ia langsung menatapku dengan mata menyipit.
“Ris, ada yang beda dari kamu pagi ini,” ujarnya curiga.
Aku pura-pura sibuk membuka laptop. “Apaan sih?”
Dia menyenggol bahuku. “Kamu senyum-senyum sendiri. Tumben, bro. Biasanya habis ngaji malah murung karena mikirin dunia.”
Aku tertawa kecil. “Gak ada apa-apa.”
Tapi Ihsan bukan orang yang mudah dibohongi. Dia sudah seperti saudara bagiku. Kami tumbuh dalam lingkaran yang sama—pengajian, salat berjamaah, diskusi filsafat dan tauhid, bahkan malam-malam tahajud di masjid kampus.
“Serius, Ris,” katanya. “Jangan sampai kamu kehilangan arah cuma karena satu hal yang kelihatannya indah, tapi bisa jadi jebakan.”
Aku menoleh. “Baru juga mulai hari, udah ceramah?”
Ihsan tertawa. “Yaudah. Cuma ngingetin. Hati itu tempat yang lembut. Sekali tergores, bisa susah sembuh.”
Aku hanya mengangguk. Tapi aku tahu, aku sedang berdiri di antara nasihat dan rasa penasaran. Dan rasa penasaran itu, untuk pertama kalinya, terasa lebih kuat.
568Please respect copyright.PENANAbaiQ9crmm3
Dosen masuk membawa setumpuk kertas tugas besar. Beliau mulai membacakan daftar kelompok. Aku hampir tak memperhatikan, sampai tiba-tiba kudengar namamu disebut.
“Ayesha – Sastra. Dipasangkan dengan Faris dari Arsitektur.”
Aku menoleh cepat. Ayesha.
Jadi itu namamu.
Aku mencari ke sekeliling kelas. Di deretan bangku sebelah kanan, kamu mengangkat kepala dan melirik kertasmu. Senyummu muncul sejenak, seperti bunga yang mekar tiba-tiba di tengah musim gugur. Aku merasakan detak jantungku melambat... lalu berdegup dua kali lebih cepat.
“Wah, bareng cewek Sastra nih,” bisik Ihsan di sampingku. “Serius, Ris. Jangan kebawa.”
Aku hanya mengangguk lemah, tak mampu berkata-kata. Ada kekuatan aneh yang mulai menarikku lebih dalam. Sesuatu yang bahkan belum kutahu namanya.
568Please respect copyright.PENANAuDOZGwaGne
Selesai kelas, aku memberanikan diri mendekatimu.
“Hai,” ucapku pelan.
Kamu menoleh. “Eh... Faris, ya?”
Aku mengangguk. “Kita satu kelompok untuk tugas besar itu.”
“Iya, aku baru aja lihat. Kamu jurusan Arsitektur, kan? Wah, bakal banyak bantu aku nih. Aku lemah banget kalo udah urusan gambar dan ruang.”
Aku tertawa. “Tenang, aku juga lemah kalo disuruh nulis narasi atau bikin puisi.”
Kamu tersenyum. “Cocok dong. Kita saling nutupin.”
Entah kenapa, kalimat itu terasa lebih dari sekadar candaan. Seolah kamu sedang bicara tentang sesuatu yang lebih dalam.
568Please respect copyright.PENANAIBIpsVhpIq
Sore itu, saat aku berjalan menuju halte, aku melihatmu lagi. Duduk sendirian di bangku panjang, memeluk tas, menatap kosong ke arah jalan.
“Nunggu bus?” tanyaku sambil mendekat.
Kamu menoleh. “Iya. Tapi lama banget. Udah hampir empat puluh menit.”
Aku mengangguk, ragu sejenak. “Kalau kamu gak keberatan, aku bisa anterin. Motorku gak jauh dari sini.”
Kamu memandangku sejenak, lalu tersenyum. “Yakin gak keberatan?”
Aku membalas senyummu. “InsyaAllah enggak.”
Dan di situlah, cerita ini benar-benar dimulai. Saat kamu naik ke jok belakang motorku, dan aku merasa seperti sedang membawa lebih dari sekadar penumpang—tapi juga perasaan yang belum kutahu bagaimana cara mengendalikannya.
568Please respect copyright.PENANAxAZU14lJn4
568Please respect copyright.PENANAXZkEVOS50k
568Please respect copyright.PENANAIf3QpArxFq
Kita melewati jalan kampus yang lengang, motorku melaju pelan karena kamu bilang angin pagi terlalu dingin. Aku menurunkan kecepatan, diam-diam menikmati keheningan di antara kita. Kamu tak banyak bicara, tapi sekali-kali bersuara saat melihat sesuatu yang menarik di pinggir jalan—penjual kopi keliling, mural di dinding fakultas seni, anak-anak yang bermain bola dekat gerbang belakang kampus.
Kamu punya cara melihat dunia yang berbeda. Hal-hal yang biasa untukku, ternyata bisa jadi cerita untukmu.
"Aku suka bagian kampus yang ini," katamu. "Pohon-pohonnya rindang, ada bangku kayu, dan udaranya kayak di luar negeri."
Aku tertawa. "Kalau di bagian Teknik, pohon pun minggir."
Kamu ikut tertawa. Suaramu ringan, tapi ada sesuatu di baliknya. Entah apa, tapi cukup untuk membuatku merasa ingin mengenalmu lebih dalam.
Sesampainya di simpang jalan, kamu menepuk pundakku pelan.
"Turunin di sini aja, ya. Rumah kosku tinggal masuk gang itu."
Aku berhenti perlahan. Kamu turun, lalu merapikan rambutmu yang berantakan tertiup angin. Aku hanya mengangguk dan tersenyum.
"Thanks banget, Faris. Beneran gak nyangka ditolongin kayak gini."
“Gapapa, sekalian lewat. Lagian... mungkin emang harus ketemu kamu pagi ini.”
Kamu menatapku sejenak, sedikit terkejut. Aku hampir menyesal mengucapkannya, tapi kamu malah tersenyum.
“Lucu ya, kadang pertemuan itu datang tanpa aba-aba.”
Dan kamu pun melangkah pergi.
Aku masih duduk di atas motor, memandangi punggungmu yang perlahan menghilang di antara rumah-rumah kecil. Di dadaku ada sesuatu yang bergerak. Lembut, tapi juga mengganggu. Rasa penasaran. Rasa senang. Rasa takut. Semua bercampur dalam satu titik kecil yang tak bisa kujelaskan.
568Please respect copyright.PENANAgfCCqgrHZX
Petang menjelang, dan aku masih belum benar-benar pulih dari hari itu. Aku masuk ke masjid kampus, mencoba menenangkan hati lewat wudu dan salat Maghrib. Tapi entah kenapa, bacaan dalam salatku terasa kosong. Pikiranku tetap melayang ke arahmu. Suaramu, senyummu, caramu menatap buku.
Aku duduk di saf belakang masjid, berusaha berdzikir, tapi nama “Ayesha” seperti masih terukir di antara hitungan tasbihku.
“Ris,” suara familiar menyapaku. Ihsan duduk di sampingku, mengenakan baju koko biru dan sarung kotak-kotak.
Aku hanya menoleh, mengangguk kecil. Tak ingin memulai percakapan.
“Gimana harimu?” tanyanya.
“Capek... tapi menarik,” jawabku jujur.
Ihsan diam sebentar. “Kamu kayak lagi simpan sesuatu.”
Aku mendesah. “Kalau aku cerita, jangan langsung ceramah, ya?”
Dia tersenyum. “Aku sahabatmu, bukan pengkhotbah.”
Dan akhirnya, aku cerita. Tentang kamu. Tentang taman pagi itu. Tentang tugas kelompok. Tentang motor. Tentang perasaan yang tak kumengerti.
Ihsan mendengarkan. Serius, tanpa menyela.
Setelah aku selesai, ia menghela napas panjang.
“Ris, aku ngerti. Manusiawi banget kalau kamu tertarik sama seseorang. Apalagi kalau dia menyentuh sisi lembut dalam diri kamu. Tapi kamu tahu, kan, kemana arah semua ini bisa berakhir kalau gak kamu jaga sejak awal?”
Aku menunduk.
“Bukan berarti kamu gak boleh kenal atau ngobrol. Tapi jangan sampai rasa itu membutakan kamu. Ingat, Faris yang aku kenal selalu menjaga waktunya. Selalu mulai hari dengan Quran, salat tepat waktu, dan gak gampang lengah karena urusan hati.”
Aku menggigit bibir. Kata-katanya masuk, meski agak perih. Tapi kupahami, itu bukan luka... itu peringatan.
“Dan satu hal lagi,” lanjut Ihsan. “Kalau kamu benar-benar kagum padanya, ajak dia naik. Jangan kamu yang turun.”
Aku terdiam lama. Hati ini seperti ditarik dua arah. Keindahan rasa yang baru tumbuh... dan keikhlasan untuk tidak tersesat karena rasa itu.
568Please respect copyright.PENANAPAcpNTSSHV
Malam itu, aku membuka mushafku lagi di kamar. Tapi tak satu pun ayat bisa masuk ke dalam hati. Semua terpantul oleh pikiran yang terus memutar ulang setiap momen bersamamu tadi.
Dan di dalam diriku, sebuah bisikan kecil mulai muncul:568Please respect copyright.PENANA4QPpMCJYkA
Bagaimana kalau kamu adalah ujianku?568Please respect copyright.PENANApc9CdMNNCl
Bagaimana kalau kehadiranmu adalah cara Allah menguji seberapa kuat aku menjaga waktu, menjaga hati, dan menjaga arah hidupku?
Aku menatap langit-langit kamar.568Please respect copyright.PENANALOhsbdHAxV
Sunyi.568Please respect copyright.PENANA8Mbr0nvW3u
Dan aku merasa... mulai kehilangan kendali.
568Please respect copyright.PENANACrxlCqmgFY
Tiga hari kemudian, kita mulai mengerjakan tugas kelompok. Kampus sedang ramai karena pekan seminar nasional, tapi kita memilih duduk di pojok perpustakaan lantai dua. Tempatnya sunyi, hanya ada deretan rak buku yang menjulang dan beberapa mahasiswa tingkat akhir yang tenggelam dalam skripsi mereka.
Kamu datang dengan membawa dua gelas kopi kertas dan setumpuk catatan.
“Buat kamu,” katamu sambil menyerahkan salah satu gelas. “Gak tau kamu suka kopi pahit atau manis, jadi aku pilih yang netral.”
Aku menerimanya dengan senyum. “Yang penting bukan pahit karena kamu lagi sebel.”
Kamu tertawa pelan. “Belum juga, tenang aja.”
Kita mulai berdiskusi. Kamu bertanya dengan serius soal rencana zonasi, konsep sirkulasi, dan elemen ruang publik. Awalnya aku ragu kamu akan tertarik, tapi ternyata kamu cepat menangkap. Bahkan kamu menyelipkan banyak ide estetika dari perspektif sastra—tentang makna ruang bagi manusia, tentang bagaimana taman bisa jadi simbol perenungan.
“Pernah gak sih kamu ngerasa kayak, sebuah bangku taman bisa jadi tempat paling jujur?” tanyamu tiba-tiba.
Aku menoleh. “Maksudnya?”
“Kita duduk di sana, sendiri, gak ada yang kita pakai untuk pencitraan. Gak ada panggung. Cuma kita, dan waktu. Dan mungkin... Allah.”
Aku terdiam. Kamu benar. Tapi aku juga terkejut. Kalimat itu datang darimu—yang kupikir lebih condong ke dunia modern dan nyeni, ternyata punya sisi kontemplatif.
“Aku baru sadar,” katamu pelan. “Taman itu kayak tempat transisi. Antara kesibukan dan ketenangan.”
Aku hanya bisa mengangguk.
Dan saat kamu menunduk lagi menulis di buku catatanmu, aku merasa... mungkin kamu bukan seperti yang kupikir di awal. Mungkin kamu bukan sekadar gadis manis yang suka membaca di taman.
568Please respect copyright.PENANA1Fj0qSceSj
Waktu terasa cepat. Tanpa sadar, jam tangan menunjukkan pukul lima lewat dua puluh. Aku melihat ke luar jendela—langit sudah mulai menguning.
“Ayesha,” panggilku. “Mau salat Ashar dulu gak? Masjid kampus masih buka, kok.”
Kamu menoleh, agak bingung. “Oh... aku belum biasa salat di kampus, sih. Biasanya di kosan.”
Aku mengangguk pelan. “Aku duluan, ya?”
Kamu mengangguk, tapi sorot matamu terasa ragu.
Aku melangkah cepat menuju masjid. Tapi saat berdiri di tempat wudu, aku mendapati diriku gamang. Bukan karena salatnya, tapi karena pikiranku masih tertinggal di perpustakaan—di meja tempat kamu duduk dengan rambut sedikit acak, menatap kertas dengan penuh semangat.
Aku salat, tapi tak benar-benar khusyuk. Sejak bertemu kamu, ada bagian dalam diriku yang mulai kacau. Aku masih menjaga kewajiban, tapi hatiku... tidak di sana sepenuhnya.
Dan untuk pertama kalinya sejak lama, aku mulai merasa takut pada diriku sendiri.
568Please respect copyright.PENANAtNnVvGKdPb
Malam itu, aku duduk sendiri di kamar, lampu temaram, hanya cahaya layar laptop yang menyala. Desain tugas sudah 60% selesai, tapi pikiranku jauh dari gambar 3D yang kupandangi. Aku menatap jam dinding di depanku.
Pukul 21.45.
“Waktu berjalan terus,” gumamku. Tapi aku sadar, aku sudah mulai kehilangan ritmenya.
Biasanya jam-jam begini aku sudah menyelesaikan setengah juz tilawah atau mendengarkan ceramah singkat dari Ustaz Malik. Tapi kini, waktu seperti kabur dari genggaman.
Bukan karena sibuk. Tapi karena... kamu.
Bukan salahmu sepenuhnya. Tapi juga bukan tak ada andilmu.
568Please respect copyright.PENANAbREPDP0LoF
Esok harinya, kamu mengajakku sarapan di kantin kampus. Bukan sesuatu yang biasa kulakukan. Biasanya aku makan di kos atau puasa sampai siang.
Tapi aku bilang “iya.”
Di antara suapan nasi goreng dan obrolan tentang film favorit, kamu bertanya, “Faris, kamu tuh kenapa sih kayak orang tua banget?”
Aku tertawa. “Maksudnya?”
“Kamu terlalu serius. Semua hal dipikirin pakai hati. Ibadah iya, waktu iya, tugas iya. Santai dikit kek.”
Aku terdiam sejenak. “Kalau semuanya diambil enteng, nanti hidup ini bisa jadi enteng juga. Enteng banget... sampai gak ada beratnya waktu ditimbang.”
Kamu memandangku agak lama. Lalu berkata, “Kalau begitu... apa kamu merasa aku enteng?”
Aku menelan ludah. Pertanyaan itu tak mudah dijawab.
“Belum tentu,” kataku akhirnya. “Tapi aku gak mau hal-hal yang ringan menggeser hal-hal yang harusnya berat.”
Kamu tidak menjawab. Kamu hanya tersenyum, tapi matamu tampak menyimpan banyak hal yang belum sempat keluar.
568Please respect copyright.PENANAvi9o66BpLU
Hari-hari setelah itu, aku mulai lebih sering bersamamu. Bukan karena sengaja, tapi karena tugas, katanya. Dan dari sekian kali kita duduk bersama, aku mulai lupa bahwa waktu salat bisa lewat. Aku mulai bilang, “Nanti aja Dhuha-nya,” atau “Ashar di kosan juga bisa.”
Dan perlahan, yang dulu kukunci rapat mulai terbuka. Batas-batas itu mulai luntur.
Aku tahu, aku sedang berjalan di atas garis tipis. Tapi entah kenapa, aku belum bisa berhenti.
Malam terakhir sebelum deadline, kita menyelesaikan tugas hingga larut malam di ruang studio kampus. Di luar hujan turun, membasahi jendela. Kamu menggigil, dan aku meminjamkan jaketku.
Dan saat kamu menatapku—dalam, lama, seolah menyentuh bagian diriku yang paling lembut—aku merasa... inilah momen yang akan mengubah segalanya.
568Please respect copyright.PENANA5VcIenhTfD
Malam itu, aku pulang dengan langkah berat. Di kosan, aku langsung menyalakan lampu, duduk diam di lantai.
Aku tahu.
Ini bukan sekadar ketertarikan biasa. Ini sesuatu yang jika kubiarkan, bisa menenggelamkanku.
Di atas meja, jam kecil terus berdetak. Aku menatapnya lama, seperti menyadari sesuatu yang sudah kulupakan:
Bahwa waktu bukan hanya detik yang berlalu. Tapi amanah. Dan setiap menit yang kulewatkan tanpa arah... akan menagih pertanggungjawaban.
Di antara rasa berbunga karena mengenalmu, aku mulai merasakan tanda pertama dari kehilangan.
568Please respect copyright.PENANA2GpVgiKH1S
568Please respect copyright.PENANAGzismpoBSi
Bab 2
Awal Ketertarikan
Pagi itu, aula fakultas Sastra dipenuhi mahasiswa yang lalu-lalang. Beberapa duduk di bangku panjang sambil membaca buku, sebagian lainnya bercakap-cakap sambil menunggu kelas dimulai. Di sudut aula, Faris duduk di bangku kayu sambil menatap layar laptopnya. Tugas kelompok besar sudah di depan mata, dan ia harus memastikan semua rencana desain arsitektur rampung sebelum deadline.
Namun, pikirannya tidak sepenuhnya berada di sana. Sejak pertemuan dengan Ayesha kemarin, bayangan gadis itu terus mengusik pikirannya. Ia tidak bisa melupakan senyuman Ayesha ketika mereka bercakap-cakap di perpustakaan. Senyuman yang terasa terlalu manis untuk sekadar pertemuan biasa.
Di sisi lain, Ihsan duduk di sebelah Faris sambil memainkan pulpen di tangannya. Sesekali ia melirik Faris yang terlihat lebih banyak melamun daripada bekerja.
“Ris, kamu kenapa?” Ihsan akhirnya bertanya.
Faris tersentak. “Eh? Enggak, enggak apa-apa.”
“Serius? Sejak tadi kamu cuma natap layar kosong,” Ihsan mengernyitkan dahi.
Faris menghela napas panjang. “San, menurut kamu... gimana kalau kamu tertarik sama seseorang, tapi kamu tahu itu bisa mengganggu fokusmu?”
Ihsan menatap Faris lebih lama kali ini. Ia sudah mengenal Faris sejak tahun pertama kuliah, dan ia bisa merasakan ada sesuatu yang berbeda pada sahabatnya itu.
“Ayesha?” tanya Ihsan sambil menatap tajam.
Faris terkejut. “Kok kamu tahu?”
Ihsan tertawa kecil. “Mudah dibaca, bro. Kamu gak pernah begitu kecuali ada sesuatu yang bener-bener mengganggu pikiranmu.”
Faris menghela napas berat. “Kemarin kita ngobrol panjang di perpustakaan. Rasanya... beda.”
Ihsan terdiam. Ia tahu betul bagaimana Faris sangat menjaga dirinya selama ini. Faris bukan tipe orang yang mudah terpengaruh perasaan. Ia lebih memilih menghabiskan waktu dengan kajian dan kegiatan masjid daripada nongkrong tak jelas.
“Ris, aku gak bilang kamu gak boleh tertarik sama seseorang,” kata Ihsan. “Itu manusiawi. Tapi ingat, kalau perasaan itu mulai bikin kamu kehilangan arah, kamu harus hati-hati.”
Faris hanya mengangguk pelan. Kata-kata Ihsan terasa berat di hati. Tapi di balik semua itu, bayangan Ayesha justru semakin nyata di pikirannya.
Siang itu, Faris dan Ayesha kembali bertemu untuk membahas proyek kelompok mereka. Kali ini mereka memilih duduk di taman belakang perpustakaan yang sepi. Ayesha datang lebih dulu, duduk sambil memainkan pulpen di tangannya.
“Maaf lama, macet,” ujar Faris sambil tersenyum tipis.
Ayesha menggeleng. “Gak apa-apa. Aku juga baru datang.”
Mereka membuka laptop masing-masing, mulai berdiskusi tentang pembagian tugas. Namun, semakin lama percakapan mereka semakin menjauh dari topik tugas.
“Kamu selalu datang pagi, ya?” tanya Ayesha tiba-tiba.
Faris mengangguk. “Iya, soalnya biasanya aku sempatkan salat Dhuha dulu di masjid kampus.”
Ayesha menunduk. “Keren. Aku... belum bisa kayak gitu. Jujur aja, aku masih sering bolong-bolong salatnya.”
Faris terdiam. Ia tidak tahu harus menanggapi bagaimana. Di satu sisi, ia merasa iba. Di sisi lain, ia mulai menyadari bahwa perbedaan antara dirinya dan Ayesha cukup besar.
“Aku dulu juga gitu,” kata Faris akhirnya. “Tapi waktu itu ada yang bilang ke aku, kalau kita terlalu sibuk dengan dunia, nanti kita akan lupa kalau waktu itu amanah. Dan aku mulai merasa... apa yang aku kejar selama ini?”
Ayesha menatapnya dalam-dalam. “Berarti kamu udah lama hijrah?”
Faris tersenyum kecil. “Hijrah itu proses. Aku masih jauh dari sempurna.”
Beberapa hari kemudian, Faris melihat Ayesha berbicara dengan seorang pria yang tidak dikenalnya di sudut kampus. Pria itu tampak sedikit emosional, sementara Ayesha terlihat bingung dan tidak nyaman. Faris memperhatikan dari kejauhan.
Saat pria itu pergi, Ayesha langsung berbalik arah dan mendapati Faris berdiri tak jauh darinya.
“Ayesha, siapa tadi?” tanya Faris, berusaha menjaga nada suaranya tetap tenang.
Ayesha menelan ludah, gugup. “Itu... mantan pacarku.”
Faris mengepalkan tangannya. “Kenapa dia datang lagi?”
“Dia mau aku balik sama dia. Katanya dia nyesel. Tapi aku gak mau, Faris,” kata Ayesha, suaranya bergetar. “Dia pernah nyakitin aku.”
“Nyakitin? Gimana maksudnya?” Faris mendekat, tatapannya tajam.
Ayesha menunduk, air matanya mulai menggenang. “Dia pernah selingkuh. Terus sekarang dia datang lagi, bilang kalau dia berubah. Tapi aku gak percaya.”
Faris menghela napas panjang. “Kenapa gak bilang dari awal, Ayesha?”
“Aku takut, Faris. Takut kamu gak mau dekat sama aku kalau tahu masa laluku,” jawab Ayesha, suaranya makin lirih.
Faris terdiam. Hatinya bergejolak. Ia ingin memeluk Ayesha, ingin menenangkannya, tapi ia tahu itu bukan tindakan yang bijak.
“Ayesha, dengar,” kata Faris akhirnya. “Masa lalumu bukan urusanku. Tapi aku cuma mau pastikan, kamu gak akan kembali ke dia.”
Ayesha menggeleng kuat. “Enggak, Faris. Aku gak akan kembali.”
Faris mengangguk, mencoba menenangkan diri. Tapi di balik itu, ada rasa cemas yang tak bisa ia abaikan.
Ayesha masih berdiri di hadapan Faris, matanya yang merah menatap lantai dengan tatapan kosong. Angin sore berhembus pelan, menyapu anak rambut Ayesha yang tergerai. Faris berusaha menenangkan napasnya yang memburu. Ada amarah, ada rasa iba, dan ada sesuatu yang lebih dalam yang tak bisa ia ungkapkan.
“Ayesha,” panggil Faris dengan suara berat. “Kamu gak perlu takut. Aku gak akan ninggalin kamu cuma karena masa lalumu.”
Ayesha mendongak, menatap Faris dengan mata berkaca-kaca. “Kamu... kamu yakin?”
Faris mengangguk tegas. “Yang penting sekarang, kamu jangan lagi berhubungan sama dia.”
Ayesha terdiam. Ia menggigit bibir bawahnya, seolah menahan sesuatu. “Tapi Faris, dia terus-terusan menghubungiku. Dia bilang ingin memperbaiki semuanya. Dia bilang menyesal.”
Faris mengepalkan tangan di sisi tubuhnya. “Kamu percaya sama dia?”
Ayesha menggeleng lemah. “Enggak. Tapi... aku takut dia gak akan berhenti sebelum aku mengiyakan.”
Faris mendekatkan diri, menjaga jarak yang tetap aman. “Ayesha, kamu harus tegas. Kalau perlu, blokir semua akses dia untuk menghubungi kamu. Ini bukan cuma tentang kamu, tapi tentang bagaimana kamu menjaga diri dari orang-orang yang ingin merusak hidupmu.”
Ayesha mengangguk, tapi air matanya mulai mengalir. “Faris, aku gak kuat. Aku gak tahu harus gimana.”
Tanpa sadar, tangan Faris bergerak hendak mengusap kepala Ayesha. Namun, ia cepat-cepat menarik tangannya kembali. Ia tahu itu tindakan yang salah. Ia hanya bisa meremas tangannya sendiri, menahan desakan rasa yang semakin membuncah.
“Kalau kamu butuh seseorang untuk bicara, aku ada di sini,” ujar Faris pelan. “Tapi jangan pernah merasa lemah. Kamu kuat, Ayesha.”
Ayesha hanya bisa terisak pelan. Faris merasa jantungnya berdegup semakin kencang. Ia ingin memeluk Ayesha, ingin meyakinkan gadis itu bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tapi ia tahu, itu bukan haknya. Ia hanya seorang teman, bukan seseorang yang berhak melindungi Ayesha sepenuh hati.
Malam itu, Faris duduk di teras kosan sambil memandangi langit malam yang dipenuhi bintang. Ia menggenggam ponselnya erat-erat, menatap layar chat dari Ayesha.
Ayesha: Terima kasih, Faris. Kamu beneran penyelamatku hari ini.
Faris menghela napas panjang. Ia mengetik balasan, tapi dihapusnya lagi. Kata-kata Ihsan tadi siang kembali terngiang di telinganya: “Kalau perasaan itu mulai bikin kamu kehilangan arah, kamu harus hati-hati.”
Seolah tahu apa yang sedang dipikirkan Faris, Ihsan tiba-tiba muncul dan duduk di sampingnya. Ia membawa dua gelas teh hangat.
“Ris, kamu kelihatan lebih kacau dari biasanya,” kata Ihsan sambil menyerahkan teh.
Faris mengambil gelas itu, menghirup aroma teh yang menenangkan. “San, aku gak tahu harus gimana.”
Ihsan mengangkat alis. “Ayesha lagi?”
Faris mengangguk. “Hari ini aku nemuin dia lagi. Dia baru aja ketemu mantan pacarnya. Cowok itu gak berhenti ganggu dia. Ayesha ketakutan.”
Ihsan menatap Faris lama. “Kamu merasa bertanggung jawab atas dia?”
“Aku gak tahu. Tapi aku cuma... gak tega. Dia kelihatan rapuh. Seolah gak ada siapa pun yang bisa melindunginya,” jawab Faris, suaranya bergetar.
Ihsan menghela napas panjang. Ia meletakkan gelas tehnya dan menatap Faris dalam-dalam.
“Ris, aku tahu kamu baik. Aku tahu kamu peduli. Tapi... jangan sampai perasaan kasihan itu justru menyeretmu ke dalam jurang.”
“Jurang apa?”
“Jurang yang akan membuatmu kehilangan fokus. Jurang yang membuatmu lupa bahwa Ayesha bukan tanggung jawabmu. Kamu bukan siapa-siapa baginya, Ris. Kamu bukan wali, bukan saudara, bukan...”
Ihsan menggantung kalimatnya. Faris menunduk. Kata-kata Ihsan terasa menohok, tapi benar.
“Aku hanya gak mau dia terluka lagi,” ujar Faris pelan.
“Tapi kamu lupa menjaga hatimu sendiri,” balas Ihsan cepat. “Apa kamu yakin niatmu tulus membantu? Atau kamu mulai merasa ada ikatan di antara kalian?”
Faris terdiam. Ia tak mampu menjawab.
Hari-hari berikutnya, Ayesha semakin sering menghubungi Faris. Setiap kali mantan pacarnya datang atau mengirim pesan, Ayesha langsung menelepon Faris, mengadu dengan suara gemetar.
“Faris, dia datang lagi. Aku takut,” kata Ayesha di ujung telepon suatu malam.
“Aku akan ke kosanmu sekarang,” ujar Faris tegas.
“Jangan! Aku gak mau kamu terlibat. Aku cuma mau ada yang dengerin aku sekarang,” kata Ayesha, suaranya bergetar.
Faris menghela napas panjang. Hatinya terasa hancur mendengar isakan Ayesha. Ia ingin sekali ada di sana untuk menenangkan gadis itu. Tapi ia tahu, kehadirannya di kosan Ayesha hanya akan menimbulkan fitnah.
“Kalau begitu, kamu tetap di kamar. Jangan keluar. Pastikan pintu terkunci. Dan kalau dia datang lagi, langsung hubungi security kampus,” kata Faris, mencoba terdengar tegar.
Ayesha terisak. “Faris, kenapa dia gak mau berhenti?”
“Karena dia tahu kamu masih lemah. Jangan kasih dia kesempatan untuk berpikir kamu masih peduli,” jawab Faris.
Ayesha terdiam. Faris bisa mendengar suara isakannya semakin keras.
“Faris, aku takut sendirian,” kata Ayesha lagi.
Faris mengepalkan tangan. “Kamu gak sendirian. Aku ada di sini.”
Malam itu, Faris tidak bisa tidur. Ia terus menatap layar ponselnya, menunggu pesan atau panggilan dari Ayesha. Di luar, hujan turun deras, seakan menggambarkan gejolak hati Faris yang semakin tak menentu.
Hari berikutnya, Faris mencoba menghindari Ayesha. Ia memilih duduk di masjid kampus, memperbanyak dzikir untuk menenangkan hatinya.
Namun, di tengah-tengah bacaan Al-Qur’an, ponselnya bergetar. Nama Ayesha muncul di layar. Faris menatapnya lama, hatinya bergetar.
Apa aku harus angkat? pikirnya.
Di sisi lain, Ihsan masuk ke masjid dan melihat Faris. “Ris, kamu baik-baik saja?”
Faris menelan ludah. “Ihsan, aku harus berhenti.”
Ihsan mendekat, duduk di samping Faris. “Berhenti apa?”
“Berhenti merasa bertanggung jawab atas Ayesha. Berhenti menganggap aku bisa menyelamatkannya,” jawab Faris, suaranya bergetar.
Ihsan tersenyum kecil. “Akhirnya kamu sadar.”
“Tapi, San... aku takut kalau aku berhenti, dia akan semakin terluka.”
Ihsan menepuk bahu Faris. “Ris, kamu bukan penyelamatnya. Kamu cuma manusia biasa. Kalau kamu terus merasa bertanggung jawab, justru kamu yang akan jatuh.”
Faris menunduk. Ponselnya masih bergetar. Nama Ayesha masih berkedip-kedip di layar. Ia menggigit bibirnya, meremas ponsel itu kuat-kuat.
“Ya Allah,” bisiknya. “Beri aku kekuatan untuk menjaga hati ini.”
568Please respect copyright.PENANAeTNqLf4QDX
Bab 3
Waktu Yang Terlupakan
Faris duduk sendirian di bangku taman kampus. Matanya menatap kosong pada kerumunan mahasiswa yang berlalu-lalang. Pikirannya melayang, berusaha mengingat-ingat kapan terakhir kali ia salat berjamaah di masjid.
Sudah berapa lama ia absen dari kajian mingguan bersama Ihsan? Sejak pertemuannya dengan Ayesha semakin intens, waktu yang dulu ia sisihkan untuk ibadah kini teralihkan untuk menemani gadis itu.
Hari ini, Faris berencana untuk pulang lebih awal agar bisa beristirahat dan mengejar salat Maghrib di masjid. Namun, saat ia hendak melangkah keluar dari gerbang kampus, suara yang sangat dikenalnya memanggil dari belakang.
“Faris!”
Faris menoleh. Ayesha berlari kecil mendekatinya. Nafasnya sedikit terengah, wajahnya kemerahan.
“Aku pikir kamu udah pulang,” ujar Ayesha sambil tersenyum lebar. “Mau ke mana?”
“Pulang,” jawab Faris singkat.
Ayesha menatap Faris lekat-lekat. “Ayo temenin aku ke kafe kampus. Ada acara musik akustik. Kamu pasti suka.”
Faris menunduk, melihat jam di pergelangan tangannya. Waktu Maghrib semakin dekat. Dalam hati, ia bimbang. Ia tahu, jika ia pergi bersama Ayesha, kemungkinan besar ia akan melewatkan waktu salat.
“Ayesha, aku...” Faris terdiam sejenak. Ia ingin menolak, tapi bayangan Ayesha yang sedang tersenyum membuatnya goyah.
“Ayo, sebentar aja. Aku udah lama pengen ngajak kamu nonton acara musik kayak gini,” bujuk Ayesha.
Akhirnya, Faris mengangguk. “Baiklah. Tapi sebentar aja.”
Kafe kampus penuh sesak. Lampu-lampu berwarna kuning keemasan menggantung rendah, menciptakan suasana hangat dan intim. Di sudut ruangan, seorang pria dengan gitar akustik sedang menyanyikan lagu lembut yang mendayu-dayu.
Ayesha menarik Faris duduk di bangku paling depan. Mereka berdua duduk bersebelahan, begitu dekat hingga lengan Faris hampir menyentuh lengan Ayesha.
“Kamu suka lagu ini?” tanya Ayesha sambil menatap Faris.
Faris hanya mengangguk. Di dalam hatinya, ia merasa tidak nyaman. Waktu Maghrib sudah lewat. Ia bisa saja meminta izin untuk salat sebentar di mushola kafe, tapi suasana terlalu ramai dan ia merasa canggung meninggalkan Ayesha sendirian.
“Aku suka banget lagu ini,” ujar Ayesha sambil menutup matanya, menikmati irama musik. “Lagu ini bikin aku tenang. Bikin aku lupa sama semua masalah.”
Faris menatap Ayesha yang terlihat begitu damai. Namun, hatinya semakin gelisah. Lupa masalah? Lalu, bagaimana dengan salat Maghrib yang ia lewatkan?
Acara musik berakhir sekitar pukul delapan malam. Orang-orang mulai bubar, namun Ayesha masih duduk di tempatnya. Ia menatap panggung kosong dengan tatapan kosong.
“Kamu gak apa-apa?” tanya Faris.
Ayesha menghela napas panjang. “Entahlah, Faris. Rasanya... hidupku semakin hampa. Aku punya banyak teman, tapi kenapa aku tetap merasa sendiri?”
Faris terdiam. Ia merasakan ada sesuatu yang tidak beres dengan Ayesha, namun ia tidak tahu harus berkata apa.
“Aku iri sama kamu,” kata Ayesha tiba-tiba. “Kamu selalu tenang, selalu terlihat damai. Sementara aku? Aku cuma bisa pura-pura bahagia di depan semua orang.”
Faris menelan ludah. Ia ingin sekali mengajak Ayesha untuk salat bersama, untuk merenung dan mencari ketenangan melalui ibadah. Tapi, kata-kata itu tertahan di tenggorokannya.
“Kamu tahu, Faris?” lanjut Ayesha. “Kadang aku merasa kalau waktu itu berjalan terlalu cepat. Tiba-tiba aja aku udah dewasa. Tapi aku gak pernah merasa benar-benar hidup. Semua yang aku lakukan cuma... numpang lewat.”
Faris merasakan dadanya sesak. Apa yang baru saja dikatakan Ayesha sangat mirip dengan apa yang ia rasakan sekarang. Ia pun merasa waktu semakin berlalu, tapi ia justru semakin jauh dari Allah.
“Ayesha...” Faris akhirnya berkata, “kamu pernah berpikir untuk berhenti sejenak dan mencari apa yang sebenarnya kamu cari?”
Ayesha menatap Faris, mata cokelatnya tampak sendu. “Apa maksudmu?”
“Mungkin kita terlalu sibuk mengejar kesenangan dunia sampai lupa... bahwa waktu itu gak akan pernah kembali,” ujar Faris pelan.
Ayesha terdiam lama. Ia meremas ujung jaketnya, seakan kata-kata Faris barusan baru saja menghantamnya keras.
Keesokan harinya, Faris duduk di kantin kampus. Matanya sembab. Semalam ia tidak bisa tidur. Pikirannya terus dihantui oleh rasa bersalah karena telah melewatkan salat Maghrib dan Isya demi menemani Ayesha.
Ihsan tiba-tiba duduk di hadapannya tanpa permisi. Wajahnya serius.
“Ris, aku gak mau ikut campur urusanmu,” kata Ihsan tanpa basa-basi. “Tapi, aku lihat kamu makin jauh.”
Faris mendongak. “Maksudmu?”
“Salat jamaah di masjid makin jarang. Kajian mingguan gak pernah datang lagi. Kamu kemana aja, Ris?”
Faris menunduk. “Aku sibuk.”
“Sibuk apa? Sibuk dengan Ayesha?” Ihsan menatapnya tajam. “Ris, aku bilang ini bukan karena aku iri atau gak suka sama Ayesha. Aku bilang ini karena aku peduli sama kamu.”
Faris menggertakkan gigi. “Ihsan, kamu gak tahu apa-apa.”
“Justru aku tahu!” Ihsan menghela napas berat. “Aku lihat kamu semalam di kafe kampus. Waktu Maghrib lewat begitu saja. Isya juga kamu lewatkan. Apa itu yang kamu sebut menjaga waktu?”
Faris mengepalkan tangan. Kata-kata Ihsan bagaikan tamparan keras di wajahnya.
“Aku cuma pengen membantu Ayesha. Dia sedang... dia sedang butuh seseorang,” kilah Faris.
“Dan kamu pikir dengan melewatkan ibadah demi dia, kamu bisa membantunya?” Ihsan menatap Faris tajam. “Ris, kamu lupa kalau kamu sedang dalam ujian?”
Faris menutup matanya rapat-rapat. Dadanya bergemuruh. Ia ingin menyangkal, tapi ia tahu Ihsan benar. Ia mulai kehilangan arah.
Malam itu, Faris duduk di sudut kamar kosnya. Ponselnya tergeletak di atas kasur. Pesan dari Ayesha belum dibalasnya.
Ayesha: “Faris, kamu kenapa? Kenapa kamu tiba-tiba menjauh?”
Faris menatap layar ponselnya lama. Tangannya gemetar. Ia meraih mushaf yang tergeletak di meja kecil. Ia membuka halaman yang terakhir ia baca — Surat Al-‘Asr.
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian...”
Air mata Faris mengalir perlahan. Kata-kata itu terasa begitu menohok. Ia menyadari bahwa ia telah menjadi manusia yang merugi. Waktunya habis untuk sesuatu yang membuatnya semakin jauh dari Allah.
“Ya Allah,” bisiknya. “Apa aku masih punya waktu untuk memperbaiki semuanya?”
Keesokan harinya, Faris melangkah lunglai menuju perpustakaan kampus. Hari ini dosen membatalkan kelas, jadi ia memutuskan untuk menghabiskan waktu dengan membaca buku-buku arsitektur.
Namun, saat ia memasuki perpustakaan, ia melihat Ayesha duduk sendirian di pojok ruangan. Gadis itu menatap kosong pada tumpukan buku di depannya. Pandangannya sayu, seakan ia tidak benar-benar membaca, hanya menatap tanpa fokus.
Faris ingin menghindar. Ia tahu, semakin lama ia berinteraksi dengan Ayesha, semakin besar peluangnya untuk terjerumus lebih dalam. Tapi saat melihat Ayesha menyeka sudut matanya yang basah, Faris tak kuasa menahan langkahnya.
“Ayesha,” panggil Faris pelan.
Ayesha mendongak. Matanya merah, wajahnya lelah. “Oh, Faris...”
“Kamu gak apa-apa?” Faris duduk di kursi di depan Ayesha.
Ayesha menggeleng lemah. “Aku merasa kehilangan arah, Faris. Semakin aku mencoba melupakan mantan pacarku, semakin aku merasa kosong. Seperti ada ruang hampa yang gak bisa diisi.”
Faris terdiam. Ia tahu perasaan itu. Dulu, ia merasakannya saat ayahnya meninggal — ruang kosong yang tak bisa diisi apa pun.
“Aku pikir, kalau aku sibuk dengan banyak hal, aku bisa lupa,” lanjut Ayesha. “Tapi ternyata tidak. Waktu terus berjalan, tapi aku masih terjebak di tempat yang sama.”
Faris menatap Ayesha lekat-lekat. Ia ingin mengajak Ayesha kembali kepada Allah, tapi ia takut kata-katanya akan terdengar menggurui.
“Kamu gak sendiri, Ayesha,” kata Faris akhirnya. “Tapi kalau kamu terus mengejar dunia untuk mengisi kekosongan itu, kamu gak akan pernah benar-benar merasa tenang.”
Ayesha menunduk. “Lalu, aku harus bagaimana?”
Faris menarik napas panjang. “Mungkin... mulai dengan memperbaiki hubunganmu dengan Allah. Waktu yang terbuang gak akan pernah kembali. Tapi kamu masih punya waktu untuk memperbaikinya.”
Ayesha menatap Faris. Ada air mata yang menggantung di pelupuk matanya. “Kamu mau bantu aku, Faris?”
Faris tercekat. Ia ingin membantu, tapi ia tahu hatinya belum cukup kuat. Ia takut jika ia terus berada di sisi Ayesha, ia akan semakin tergoda.
“Aku bisa bantu,” kata Faris akhirnya. “Tapi... kamu harus benar-benar niat memperbaiki diri. Bukan untukku, tapi untuk Allah.”
Ayesha tersenyum tipis. “Aku akan coba.”
Malam itu, Faris duduk di depan meja belajarnya. Ia membuka mushafnya, mencoba fokus membaca Al-Qur’an. Tapi pikirannya terus melayang pada Ayesha.
“Aku bisa bantu.” Kata-katanya tadi siang terus terngiang-ngiang di telinganya.
Apakah ia membuat keputusan yang benar? Apakah ia benar-benar bisa membantu Ayesha tanpa tergoda oleh perasaannya sendiri?
Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk. Dari Ayesha.
Ayesha: “Faris, terima kasih. Aku baru selesai salat Isya. Rasanya tenang banget. Aku baru sadar kalau selama ini aku terlalu sibuk mencari kebahagiaan di luar, padahal yang sebenarnya aku butuhkan cuma kedamaian di hati.”
Faris membaca pesan itu berulang kali. Ada perasaan lega dan senang melihat Ayesha mulai berubah. Tapi di sisi lain, ia merasa hatinya semakin terikat pada gadis itu.
Ia menutup mushafnya, meraih ponsel, lalu mengetik balasan.
Faris: “Alhamdulillah. Teruskan ya, Ayesha. Jangan cuma karena aku, tapi karena Allah.”
Faris meletakkan ponsel di meja dan bersandar di kursinya. Ia memejamkan mata, menarik napas panjang. Dalam hati, ia berdoa, “Ya Allah, jika aku tidak mampu menjaga hatiku, maka jauhkanlah aku dari fitnah ini.”
Dua minggu berlalu sejak percakapan mereka di perpustakaan. Selama itu, Ayesha semakin sering mengirim pesan kepada Faris. Bukan pesan rayuan atau basa-basi, tapi pesan-pesan sederhana tentang perkembangan dirinya.
Ayesha: “Hari ini aku ke masjid kampus. Aku ikut kajian tentang menjaga hati. Rasanya sejuk banget. Aku jadi ingat kata-katamu tentang waktu yang terbuang sia-sia.”
Ayesha: “Aku baru selesai baca Surat Al-Asr. Ternyata isinya sederhana, tapi pesannya dalam banget ya?”
Faris merasa bahagia sekaligus khawatir. Bahagia karena Ayesha mulai menemukan ketenangan dalam ibadah. Khawatir karena semakin lama ia berinteraksi dengan Ayesha, semakin ia merasa hatinya tidak bisa lagi mengabaikan gadis itu.
568Please respect copyright.PENANAvDce23uI6K
Suatu sore, Faris bertemu Ihsan di masjid kampus. Ihsan sedang duduk di serambi masjid, membaca Al-Qur’an. Faris mendekatinya, tapi Ihsan tidak menyadari kehadirannya.
“San,” panggil Faris.
Ihsan menoleh sekilas, lalu kembali fokus pada mushafnya. “Oh, Faris.”
“Aku mau minta maaf,” kata Faris.
Ihsan menutup mushafnya dan menatap Faris. “Maaf? Untuk apa?”
“Aku tahu selama ini aku terlalu sibuk dengan Ayesha. Aku jadi sering melewatkan kajian, jarang ke masjid...”
Ihsan terdiam lama. “Ris, aku bukan marah karena kamu dekat dengan Ayesha. Aku hanya kecewa karena kamu mulai lupa tujuanmu. Kamu bilang ingin fokus memperbaiki diri, tapi kenyataannya kamu justru semakin terikat pada dunia.”
Faris menunduk. Kata-kata Ihsan terasa seperti tamparan keras.
“Aku gak bilang kamu gak boleh membantu Ayesha,” lanjut Ihsan. “Tapi jika bantuan itu justru membuatmu semakin jauh dari Allah, apa itu bisa disebut bantuan?”
Faris terdiam. Ia tahu Ihsan benar. Selama ini ia berusaha membantu Ayesha, tapi tanpa sadar ia semakin menjauh dari dirinya sendiri.
Malam itu, Faris kembali ke kamarnya. Ia duduk di lantai, meraih mushafnya, dan membuka halaman Surat Al-Asr.
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian...”
Faris membaca ayat itu berulang kali. Hatinya semakin sesak. Ia sadar, selama ini ia terlalu sibuk mengejar dunia, terlalu sibuk merasa bertanggung jawab atas Ayesha, hingga lupa pada tanggung jawab utamanya — menjaga dirinya sendiri.
Ia mengambil ponsel, membuka pesan Ayesha yang terakhir. Ayesha bercerita tentang ketenangan yang ia rasakan setelah salat Tahajud. Faris tersenyum, merasa lega bahwa Ayesha mulai menemukan jalannya.
Namun, di sisi lain, ia tahu bahwa ia harus segera mengambil keputusan. Jika ia terus-terusan berinteraksi dengan Ayesha, ia akan semakin terjebak.
Faris memejamkan mata. Di dalam hatinya, ia berdoa, “Ya Allah, berikan aku kekuatan untuk menjaga hati ini. Jika Ayesha adalah ujian bagiku, maka jauhkan aku dari fitnahnya. Dan jika dia adalah jalan menuju kebaikan, maka bimbing aku untuk tetap berada di jalan-Mu.”
568Please respect copyright.PENANATZ7oAirsSE
Bab 4
Terjebak Rasa
Malam itu, langit kampus berhiaskan kerlap-kerlip lampu pesta yang menggantung rendah di pepohonan sekitar bar. Dentuman musik dari dalam ruangan menggema hingga ke jalan setapak, menciptakan getaran samar yang merambat hingga ke dada Faris.
Faris berdiri di depan pintu bar, ragu untuk melangkah masuk. Di depannya, Ayesha tengah berbicara dengan sekelompok temannya. Gadis itu tampak berbeda malam ini — gaun hitam selutut yang membalut tubuhnya, rambut yang tergerai bebas, dan make-up tipis yang membuatnya tampak lebih dewasa dari biasanya.
“Faris! Kamu datang juga!” seru Ayesha sambil melambaikan tangan.
Faris berusaha tersenyum, namun senyum itu terasa kaku. Pandangannya berkeliling ke dalam bar. Lampu-lampu neon berwarna ungu dan biru berkedip-kedip, menyinari ruangan yang penuh sesak oleh mahasiswa yang sedang menikmati pesta. Bau alkohol dan parfum bercampur menjadi satu, menciptakan aroma yang menusuk hidung Faris.
“Masuk, yuk,” ajak Ayesha sambil menarik tangan Faris.
“Ayesha...” Faris menahan langkahnya. “Aku gak pernah ke tempat seperti ini.”
Ayesha tersenyum, menatap Faris dengan tatapan lembut. “Gak apa-apa, Faris. Aku juga gak sering ke sini. Cuma sekali-sekali buat refreshing.”
“Tapi...” Faris ingin menolak, tetapi tatapan Ayesha yang berbinar membuatnya goyah.
“Please? Aku cuma pengen kamu temenin aku. Aku janji gak akan lama,” bujuk Ayesha.
Faris terdiam sejenak. Dalam hatinya, ia tahu tempat ini bukan tempatnya. Tapi melihat senyum Ayesha yang begitu lebar, ia merasa tidak sanggup mengecewakannya. Akhirnya, ia mengangguk lemah.
“Oke. Tapi cuma sebentar,” jawab Faris.
Begitu mereka melangkah masuk, suara musik semakin keras memekakkan telinga Faris. Lampu-lampu neon terus berkedip, menciptakan bayangan bayang-bayang yang tak jelas. Lantai bar dipenuhi mahasiswa yang menari mengikuti irama musik, sementara sebagian lainnya duduk di sofa sambil tertawa terbahak-bahak.
Ayesha menggandeng tangan Faris, menyeretnya menuju meja bundar di sudut ruangan. Di sana, beberapa teman Ayesha sudah menunggu. Mereka semua tampak lebih tua, wajah mereka berkilauan di bawah sinar lampu yang terus berganti warna.
“Guys, kenalin! Ini Faris,” seru Ayesha sambil tersenyum lebar.
Salah satu pria di meja itu mengangkat gelasnya. “Oh, jadi ini cowok alim yang Ayesha ceritain? Wah, akhirnya datang juga!”
Faris hanya tersenyum tipis. Pandangannya terus berkeliling, mencari sesuatu yang bisa membuatnya merasa lebih nyaman. Tapi tidak ada. Semuanya terasa asing.
“Duduk sini, Faris,” kata Ayesha sambil menariknya duduk di sebelahnya. “Kamu mau minum apa? Jus? Soda?”
“Air putih aja,” jawab Faris cepat.
Ayesha tertawa kecil. “Air putih? Duh, kamu kaku banget sih.”
Faris hanya diam. Ia merasa tubuhnya semakin kaku. Di sekelilingnya, teman-teman Ayesha mulai berbincang dengan suara keras. Mereka tertawa terbahak-bahak, sesekali bercanda dengan nada mesra.
Di meja sebelah, seorang gadis dengan pakaian ketat sedang berdansa dengan pria yang memeluk pinggangnya erat-erat. Faris menunduk. Pemandangan ini membuatnya merasa semakin gelisah.
Ayesha kembali dengan segelas jus jeruk dan segelas minuman merah. Ia menyerahkan jus kepada Faris.
“Nih, buat kamu. Tenang aja, gak ada alkoholnya,” ujar Ayesha sambil tersenyum.
Faris mengambil gelas itu, namun ia tidak segera meminumnya. Matanya terpaku pada gelas merah di tangan Ayesha.
“Ayesha... itu apa?” tanya Faris ragu.
“Oh, ini?” Ayesha mengangkat gelasnya. “Cuma minuman campuran buah. Tenang aja, gak akan bikin mabuk.”
Faris hanya bisa mengangguk. Namun, hatinya semakin tak tenang. Ayesha terlihat begitu menikmati minumannya. Wajahnya sedikit memerah, matanya berbinar-binar.
“Aku senang kamu mau datang malam ini,” kata Ayesha sambil menatap Faris. “Biasanya kamu selalu menolak.”
Faris menelan ludah. “Iya, tapi... Ayesha, kamu gak harus melakukan semua ini hanya untuk bersenang-senang.”
Ayesha tertawa kecil. “Faris, kamu gak ngerti. Dunia kamu dan aku beda. Kamu selalu terlihat tenang, selalu berpegang teguh pada prinsip. Sementara aku? Aku cuma ingin merasakan kebebasan sekali-sekali.”
“Tapi apa kebebasan itu harus begini, Ayesha?” tanya Faris pelan.
Ayesha menunduk. Senyumnya perlahan memudar. “Faris... aku capek. Aku capek jadi gadis baik yang selalu mengikuti aturan. Aku ingin bebas. Aku ingin merasa hidup.”
Faris menatap Ayesha lama. Gadis di depannya terasa begitu asing. Apakah ini Ayesha yang ia kenal? Ayesha yang selalu ceria dan penuh canda tawa? Ataukah Ayesha yang sedang berusaha menutupi luka di hatinya dengan dunia malam seperti ini?
Malam semakin larut. Jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari saat Faris tiba di kosnya. Langkahnya gontai, matanya lelah. Sepanjang perjalanan pulang, ia hanya terdiam. Pikirannya penuh dengan bayangan Ayesha — gadis yang begitu berbeda malam itu.
“Apa aku sudah membuat kesalahan?” gumam Faris sambil melepaskan jaketnya.
Ia duduk di lantai kamar, menatap mushaf Al-Qur’an yang tergeletak di meja belajar. Tangan Faris terulur, hendak meraihnya. Tapi tubuhnya terasa terlalu berat. Matanya perih, kepalanya berdenyut-denyut.
Faris merebahkan diri di kasur. “Cuma sebentar...” katanya pelan. “Cuma sebentar aja.”
Suara azan Subuh berkumandang dari masjid kampus. Namun, Faris tidak mendengarnya. Tubuhnya masih terbaring lelap di kasur, selimut menutupi wajahnya.
Di masjid, barisan jamaah mulai berbaris rapi. Di saf kedua, Ihsan duduk sambil menoleh ke kanan dan kiri. Matanya mencari sosok Faris. Namun, hingga takbir pertama dikumandangkan, Faris tak juga datang.
Seusai salat, Ihsan berdiri di halaman masjid. Ia memeriksa ponselnya, berharap ada pesan dari Faris. Tapi tidak ada.
“Faris kemana? Biasanya dia gak pernah absen Subuh berjamaah,” gumam Ihsan, merasa gelisah.
Sementara itu, di kamar kosnya, Faris masih terlelap. Waktu terus berjalan, sinar matahari mulai menyelinap masuk melalui celah jendela. Pukul enam lebih lima belas menit. Faris terbangun dengan mata terbelalak.
“Ya Allah... Subuh!” serunya sambil bangkit berdiri.
Ia bergegas menuju kamar mandi, namun langkahnya terhenti di depan cermin. Bayangan dirinya tampak lusuh. Matanya sembab, rambutnya kusut. Di dalam hati, Faris merasa kalah. Kalah melawan dirinya sendiri.
Faris berdiri di depan cermin kamar kosnya. Wajahnya pucat, matanya sembab, rambutnya acak-acakan. Sisa-sisa kantuk masih terasa berat di kelopak matanya.
“Ya Allah...” gumamnya sambil menunduk dalam-dalam.
Jam dinding menunjukkan pukul 06.20 pagi. Suara lantunan ayat-ayat suci dari masjid kampus terdengar samar dari kejauhan. Jamaah Subuh sudah lama bubar, dan matahari mulai naik perlahan di ufuk timur.
Faris meremas rambutnya dengan frustrasi. Ini pertama kalinya ia melewatkan salat Subuh berjamaah sejak awal kuliah. Sejak ayahnya meninggal, ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak pernah absen Subuh berjamaah di masjid. Namun, janji itu telah ia langgar.
“Apa yang sudah kulakukan?” bisiknya sambil menatap bayangannya di cermin.
Bayangan dirinya malam tadi berkelebat di benaknya — duduk di sofa bar, mendengarkan musik keras, melihat Ayesha tertawa lepas sambil memegang segelas minuman.
“Kenapa aku datang ke tempat itu?” gumamnya lagi.
Faris berbalik, berjalan ke sudut kamar di mana mushaf Al-Qur’an tergeletak di atas meja belajar. Ia mengambilnya dengan tangan gemetar, membuka halaman yang terakhir ia baca — Surat Al-Asr.
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian...”
Faris membaca ayat itu berulang kali. Kalimat demi kalimat terasa seperti cambuk yang menghantam hatinya. Air matanya mulai mengalir perlahan, jatuh menetes di atas halaman mushaf.
“Aku sudah terjebak dalam kerugian...” ujarnya dengan suara bergetar.
Setelah berwudu dan menunaikan salat Subuh yang telah tertinggal, Faris duduk di depan meja kecilnya. Di depannya, ada sepiring roti tawar yang masih utuh. Ia menatap roti itu lama, tanpa selera.
Ponselnya bergetar di atas meja. Sebuah pesan masuk. Dari Ayesha.
Ayesha: “Pagi, Faris! Udah bangun? Semalam seru banget, ya? Aku jadi pengen kita sering-sering hangout bareng. Kamu asyik juga kalau gak kaku-kaku amat. Haha.”
Faris menatap pesan itu lama. Matanya semakin berat. Tangan kanannya bergerak hendak membalas, tapi tangannya gemetar.
“Aku hangout? Asyik?” Faris tertawa pahit. “Apa aku benar-benar sedang menikmati semua ini?”
Ia meletakkan ponsel itu kembali di meja, lalu memejamkan matanya. Kata-kata Ayesha terus terngiang di kepalanya. “Kamu asyik juga kalau gak kaku-kaku amat...”
“Aku bukan sedang asyik...” bisik Faris. “Aku sedang tersesat.”
Sekitar pukul 08.00 pagi, Faris melangkah keluar dari kosnya. Ia berencana menuju kantin kampus untuk membeli kopi. Namun, langkahnya terhenti di depan masjid kampus.
Di halaman masjid, beberapa mahasiswa tampak sedang duduk berkumpul sambil membaca Al-Qur’an. Faris mengenali salah satu dari mereka — Ihsan.
Ihsan duduk bersila di bawah pohon, mushaf terbuka di pangkuannya. Wajahnya terlihat tenang, seolah tak ada beban.
Faris menelan ludah. Ia merasa malu untuk mendekat. Tapi sesuatu di dalam dirinya mendorongnya untuk tetap berjalan.
“San...” panggil Faris pelan.
Ihsan mendongak. Senyum kecil tersungging di wajahnya. “Oh, Faris. Tumben kamu ke sini pagi-pagi.”
Faris memaksa tersenyum. “Iya... aku...”
Ihsan mengerutkan dahi, memperhatikan wajah Faris yang tampak kusut. “Kamu gak apa-apa?”
Faris mengangguk, tapi matanya tak berani menatap Ihsan. Ia tahu Ihsan pasti menyadari ketidakhadirannya dalam salat Subuh berjamaah tadi pagi.
“Aku... tadi ketiduran,” kata Faris akhirnya.
“Oh...” Ihsan mengangguk pelan. “Kamu jarang sekali absen Subuh berjamaah. Capek ya?”
“Iya... semalam pulang larut,” jawab Faris dengan suara lirih.
Ihsan menutup mushafnya, menatap Faris lebih lama. “Faris, aku gak tahu apa yang terjadi. Tapi ingat, Subuh itu pondasi hari. Kalau kita melewatkannya, hari kita bisa berantakan.”
Kata-kata Ihsan terasa seperti belati yang menusuk dada Faris. Ia tahu Ihsan tidak bermaksud menyindir, tapi ia tidak bisa menghindari rasa bersalah yang semakin membuncah.
“Iya, San. Aku tahu,” jawab Faris sambil menunduk.
Ihsan tersenyum tipis, menepuk bahu Faris. “Kalau ada apa-apa, aku di sini ya.”
“Iya, makasih, San,” jawab Faris singkat sebelum berlalu meninggalkan masjid.
Siang hari, Faris kembali ke kamarnya. Ia duduk di lantai, memeluk kedua lututnya. Kamar yang biasanya terasa nyaman kini terasa sesak.
Ponselnya bergetar lagi. Kali ini panggilan masuk. Dari Ayesha.
Faris menatap layar ponselnya lama. Tangannya gemetar. Pikirannya berkecamuk. Haruskah ia menjawab?
Sisi hatinya ingin mengabaikan panggilan itu. Namun, sisi lain merasa Ayesha tidak layak diperlakukan seperti itu. Ayesha tidak tahu apa yang sedang ia rasakan.
Faris menarik napas panjang, lalu mengangkat panggilan tersebut.
“Halo,” suaranya terdengar parau.
“Faris! Akhirnya kamu angkat juga,” suara Ayesha terdengar ceria. “Kamu di mana? Aku di kafe kampus nih. Mau nyusul gak?”
Faris memejamkan mata, meremas rambutnya. “Ayesha... aku... aku capek. Maaf, hari ini aku gak bisa.”
“Oh...” nada suara Ayesha berubah. “Kamu kenapa, Faris? Semalam seru banget kan? Kamu gak nyesel kan udah datang?”
Faris terdiam lama. Ia ingin berkata jujur, ingin mengatakan bahwa semalam adalah kesalahan besar. Tapi ia tidak ingin melukai hati Ayesha.
“Ya, seru,” jawab Faris akhirnya, meski suaranya terdengar kosong.
“Oh, oke deh,” kata Ayesha dengan nada riang. “Kapan-kapan kita hangout lagi, ya?”
“Iya,” jawab Faris singkat sebelum menutup telepon.
Begitu panggilan berakhir, Faris melempar ponselnya ke kasur. Dadanya terasa sesak. Ia meremas rambutnya, menunduk, dan akhirnya menangis.
“Ya Allah...” isaknya pelan. “Kenapa aku semakin jauh dari-Mu?”
568Please respect copyright.PENANAYKW4uBQ4Nl
Malam itu, Faris kembali membuka mushafnya. Ia membaca Surat Al-Asr berulang kali hingga air matanya jatuh menetes di atas halaman.
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian...”
Faris terisak. Di dalam hatinya, ia merasakan kekosongan yang semakin besar. Dunia yang semalam terasa meriah kini terasa hampa. Tawa, musik, minuman, semua itu tidak mengisi hatinya yang mulai kehilangan arah.
Ia menutup mushafnya dan meraih sajadah. Dengan hati yang penuh penyesalan, Faris bersujud lama. Air matanya mengalir deras, membasahi sajadah.
“Ya Allah... aku ingin kembali. Tolong jangan tinggalkan aku...”
Malam semakin larut. Jam dinding menunjukkan pukul 11.30 malam. Faris masih duduk di lantai kamarnya, bersandar pada dinding yang dingin. Cahaya lampu kamar yang redup memantulkan bayangan dirinya yang tertunduk lesu.
Di depannya, mushaf Al-Qur’an masih terbuka. Halaman Surat Al-Asr itu sudah ia baca berulang kali, namun hatinya masih terasa kosong. Kata-kata itu berputar-putar di kepalanya, seolah menggema tanpa henti.
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian...”
“Aku adalah orang yang merugi...” bisiknya sambil memejamkan mata.
Air mata kembali mengalir tanpa bisa ia tahan. Rasa bersalah yang menghimpit dadanya semakin berat. Pikirannya terus berputar pada peristiwa semalam — pesta di bar, wajah Ayesha yang tertawa lepas, gelas berisi minuman merah di tangannya.
“Kenapa aku begitu lemah?” desah Faris sambil menenggelamkan wajahnya di kedua telapak tangan.
Ia merasa semakin terjebak. Satu sisi dirinya ingin menjauh dari Ayesha, ingin kembali fokus pada jalan yang benar. Tapi sisi lainnya masih merasa kasihan pada Ayesha. Ia takut jika ia menjauh, Ayesha akan semakin terjerumus dalam pergaulan yang salah.
Namun, semakin ia mencoba membantu Ayesha, semakin ia merasa dirinya ikut terseret.
Ponselnya tiba-tiba bergetar di atas kasur. Faris menoleh. Sebuah pesan masuk. Dari Ayesha.
Ayesha: “Faris, kamu di mana? Aku di depan kosanmu. Bisa keluar sebentar?”
Faris terdiam. Jantungnya berdegup kencang. Ia tidak menyangka Ayesha akan datang larut malam begini. Apa yang terjadi?
Ia segera bangkit, merapikan wajahnya yang basah oleh air mata, lalu mengenakan jaket dan keluar dari kamar.
Begitu Faris membuka pintu pagar kosan, ia melihat Ayesha berdiri di sana. Rambutnya berantakan, wajahnya pucat. Gaun hitam yang ia kenakan semalam kini tampak kusut. Matanya sembab, seolah habis menangis.
“Ayesha?” tanya Faris cemas. “Kamu kenapa?”
Ayesha tidak menjawab. Ia hanya berdiri diam, menatap Faris dengan tatapan hampa. Lalu, tiba-tiba, ia menunduk dan menangis terisak-isak.
Faris terkejut. “Ayesha, apa yang terjadi?”
Ayesha berusaha mengatur napasnya, namun suaranya bergetar. “Aku gak tahu... aku gak tahu harus pergi ke mana lagi...”
Faris merasa dadanya semakin sesak. Ia meraih lengan Ayesha, berusaha menenangkannya. “Ayesha, tenang. Ada apa? Kenapa kamu datang ke sini?”
Ayesha terisak semakin keras. “Semalam... setelah kamu pergi, Raka... dia...”
Faris tertegun. “Raka? Dia apa, Ayesha?”
Ayesha menggigit bibirnya. Matanya memerah. “Dia mabuk... Dia bilang aku murahan karena aku memilih pergi bersamamu. Dia bilang aku sok suci... Dia... dia mencoba memaksaku untuk...”
Ayesha tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Tubuhnya bergetar hebat, seolah seluruh tenaga dalam dirinya telah habis.
Faris merasa darahnya mendidih. Tangan kanannya mengepal erat. Bayangan Raka semalam terlintas di kepalanya — pria tinggi yang memeluk Ayesha dengan seenaknya.
“Kenapa kamu tidak melawan?” tanya Faris, suaranya bergetar oleh amarah.
“Aku takut...” isak Ayesha. “Aku gak tahu harus bagaimana. Dan... dan aku merasa ini semua salahku. Kalau aku gak ngajak kamu ke sana, kalau aku gak memilih pergi bersamamu...”
Faris merasa tubuhnya lemas. Rasa bersalah semakin menghantamnya bertubi-tubi. Ia merasa gagal menjaga Ayesha. Gagal menjaga dirinya sendiri.
“Ayesha...” Faris mendekatkan wajahnya, berusaha menatap mata gadis itu. “Kamu harus kuat. Kamu harus lawan mereka. Jangan biarkan mereka menghancurkanmu.”
Ayesha menggeleng pelan. “Aku lelah, Faris. Aku lelah berpura-pura bahagia. Aku lelah mencari pelarian... Dan aku lelah karena kamu...”
Faris terkejut. “Karena aku?”
Ayesha menghapus air matanya kasar. “Kamu bilang kamu peduli sama aku, tapi kenapa aku merasa kamu semakin jauh? Kamu bilang mau bantu aku berubah, tapi kamu justru meninggalkan aku saat aku butuh kamu.”
“Ayesha, aku...”
“Kamu gak pernah benar-benar peduli, Faris!” bentak Ayesha. “Kamu hanya peduli pada dirimu sendiri. Kamu hanya peduli pada citramu sebagai anak baik-baik. Tapi aku? Aku hanyalah pengganggu dalam hidupmu, kan?”
Faris terdiam. Kata-kata Ayesha menusuknya tepat di jantung. Ia ingin membela diri, ingin mengatakan bahwa ia memang peduli. Tapi... apakah benar ia peduli? Atau hanya ingin menyelamatkan dirinya sendiri?
Ayesha berbalik, mengusap air matanya kasar. “Aku pergi. Jangan cari aku lagi.”
“Ayesha, tunggu!” Faris berusaha mengejarnya, tapi Ayesha sudah berlari menjauh, menembus kegelapan malam.
Faris berdiri terpaku. Jantungnya berdetak cepat, napasnya tersengal.
“Ya Allah...” bisiknya sambil menunduk. “Apa aku sudah kehilangan dia untuk selamanya?”
Faris kembali ke kamarnya dengan langkah berat. Begitu pintu kamar tertutup, ia langsung jatuh terduduk di lantai. Tubuhnya terasa lemas, seolah seluruh tenaga telah tersedot habis.
“Aku gagal...” bisiknya. “Aku gagal menjaga Ayesha...”
Ia kembali memandangi mushaf di atas meja. Surat Al-Asr itu masih terbuka, kata-katanya seolah berpendar, menyuarakan pesan yang tak henti-henti menghantuinya.
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian...”
Air mata Faris kembali mengalir. Ia menggigit bibirnya kuat-kuat, mencoba menahan isakan yang semakin keras. Malam itu, ia menangis dalam kesendirian.
Di luar jendela, suara angin berhembus kencang, seolah ikut meratap bersama Faris yang kini benar-benar merasa kehilangan. Kehilangan dirinya. Kehilangan arah. Dan mungkin, kehilangan Ayesha untuk selamanya.
568Please respect copyright.PENANAKYgkhCADKc
Bab 5
Perpisahan dan Kesadaran
Sore itu, langit mendung menggantung di atas kampus. Angin berhembus pelan, membawa aroma tanah basah yang baru saja disiram hujan. Faris duduk di bangku taman kampus, tempat di mana semuanya bermula. Tempat di mana ia pertama kali melihat Ayesha sedang membaca novel dengan senyum yang begitu manis.
Kini, di tempat yang sama, ia menunggu Ayesha untuk terakhir kalinya.
Pikirannya berputar-putar, mengulang percakapan semalam saat Ayesha datang ke kosannya dalam keadaan berantakan. Wajah Ayesha yang basah oleh air mata, kata-katanya yang penuh luka, semua itu masih menghantui Faris.
“Aku lelah, Faris. Aku lelah berpura-pura bahagia.”
Faris meremas jemarinya. Ia merasa hatinya terbelah dua. Ia peduli pada Ayesha, ingin melindunginya. Tapi semakin lama ia berada di dekat gadis itu, semakin ia merasa dirinya tenggelam.
Langkah kaki terdengar mendekat. Faris mendongak. Ayesha datang dengan wajah datar. Tak ada senyum, tak ada sapa. Hanya sorot mata kosong yang mengisyaratkan luka.
“Ayesha,” panggil Faris pelan.
Ayesha duduk di samping Faris, namun menjaga jarak. Ia melipat tangannya di depan dada, menatap lurus ke depan tanpa menoleh sedikit pun.
“Aku tahu kamu mau bicara,” kata Ayesha akhirnya. “Jadi, bicaralah.”
Faris menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering. Ia sudah mempersiapkan kata-kata ini sejak semalam, tapi kini, semuanya terasa hilang begitu saja.
“Ayesha,” suara Faris bergetar. “Aku rasa... kita harus berhenti.”
Ayesha menoleh cepat. Matanya membulat. “Berhenti? Apa maksudmu?”
Faris menarik napas dalam-dalam. “Aku gak bisa terus seperti ini, Ayesha. Aku... aku semakin jauh dari diriku sendiri. Dari prinsipku. Dari tujuan hidupku.”
Ayesha mendengus. “Jadi ini tentang dirimu lagi? Tentang kamu yang merasa suci? Tentang kamu yang takut terpengaruh oleh aku?”
“Ayesha, bukan begitu,” jawab Faris sambil menggeleng. “Kamu bukan masalahnya. Tapi aku... aku yang lemah. Aku gak bisa menjaga diriku saat berada di dekatmu.”
Ayesha menatap Faris lama. Ada kilatan kemarahan di matanya. “Lalu? Setelah ini kamu akan pergi? Tinggalkan aku begitu saja? Kamu bilang kamu peduli padaku, Faris!”
“Aku peduli!” jawab Faris cepat. “Justru karena aku peduli, aku harus pergi. Kalau aku terus di sini, aku akan semakin larut. Aku akan semakin jauh dari Allah.”
Ayesha tertawa sinis. “Jadi menurutmu aku pengganggu? Aku penghalang jalanmu menuju surga?”
Faris terdiam. Kata-kata Ayesha bagaikan pisau yang mengiris hatinya. “Ayesha, aku gak bilang begitu. Aku cuma... aku cuma ingin kita memperbaiki diri. Aku ingin fokus memperbaiki hubunganku dengan Allah. Dan kamu juga bisa melakukannya. Sendiri.”
Ayesha mengepalkan tangannya. Matanya berkaca-kaca, tapi ia menahan agar air mata itu tidak jatuh. “Kamu tahu, Faris? Aku pikir kamu berbeda. Aku pikir kamu benar-benar peduli padaku. Tapi ternyata kamu hanya peduli pada citramu sendiri.”
“Ayesha...”
“Pergi, Faris,” potong Ayesha sambil berdiri. “Pergilah. Fokuskan dirimu pada Tuhanmu. Tapi jangan pernah bilang kalau kamu peduli padaku. Karena jika kamu benar-benar peduli, kamu tidak akan meninggalkanku saat aku sedang berjuang untuk berubah.”
Ayesha berbalik, melangkah pergi dengan langkah cepat. Faris hanya bisa terdiam, tubuhnya membeku di tempatnya duduk. Kata-kata Ayesha terus terngiang di telinganya.
“Jika kamu benar-benar peduli, kamu tidak akan meninggalkanku saat aku sedang berjuang untuk berubah.”
Malam itu, Faris duduk sendirian di kamar kosnya. Ponselnya tergeletak di atas meja. Ada beberapa pesan masuk dari Ayesha, namun ia tidak membukanya. Ia tidak sanggup.
Kepalanya tertunduk. Air mata menetes di kedua pipinya. Ia merasa seperti pecundang. Merasa bersalah karena telah meninggalkan Ayesha saat gadis itu sedang mencoba memperbaiki diri. Tapi apa yang bisa ia lakukan? Jika ia tetap berada di sisi Ayesha, ia takut dirinya semakin jauh dari Allah.
“Aku pengecut...” bisiknya.
Faris meraih mushaf yang tergeletak di meja. Ia membuka halaman yang sudah lama ia tandai — Surat Al-Baqarah ayat 286:
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya...”
Faris membaca ayat itu berulang kali. Air matanya semakin deras. Apakah ini ujian dari Allah? Apakah Allah sedang menguji kesetiaannya pada-Nya?
“Aku harus kuat...” ujarnya sambil menggigit bibirnya. “Aku harus kembali fokus pada diriku sendiri. Pada ibadahku.”
Namun, di dalam hatinya, suara Ayesha masih terus terngiang. Wajah gadis itu saat pergi tadi siang, tatapannya yang penuh luka, kata-katanya yang penuh kekecewaan. Semua itu membuat Faris semakin hancur.
Keesokan harinya, Faris memutuskan untuk kembali ke masjid kampus. Ia ingin menenangkan diri. Ingin merasakan kembali ketenangan yang selama ini hilang.
Ia mengambil wudu, merasakan air dingin menyentuh wajahnya. Dalam hati, ia berdoa, “Ya Allah, ampuni aku... Berikan aku kekuatan untuk menjaga hatiku...”
Setelah menunaikan salat Dhuha, Faris duduk bersandar di dinding masjid. Ia memejamkan mata, menghirup udara masjid yang dingin dan sejuk.
Namun, ketenangan itu hanya bertahan sebentar. Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk. Dari Ayesha.
Ayesha: “Faris, aku butuh kamu. Kumohon, jangan tinggalkan aku...”
Faris meremas ponselnya erat-erat. Jantungnya berdetak semakin cepat. Ia menunduk, menggigit bibirnya kuat-kuat. Di dalam hati, terjadi pergolakan besar.
Jika ia menjawab pesan itu, ia tahu dirinya akan kembali terjebak. Tapi jika ia mengabaikannya, ia merasa berdosa karena meninggalkan Ayesha saat gadis itu sedang membutuhkan seseorang.
“Apa yang harus kulakukan, Ya Allah?” bisiknya putus asa.
Malam itu, Faris merasa dirinya semakin tersesat. Ia terjebak dalam dilema yang menghancurkan. Antara meninggalkan Ayesha untuk menyelamatkan dirinya sendiri, atau tetap berada di sisi Ayesha demi menyelamatkan gadis itu.
Malam semakin larut. Di dalam kamar kosnya, Faris duduk bersandar di dinding. Ponselnya masih tergeletak di sampingnya. Pesan dari Ayesha yang masuk beberapa jam lalu masih belum dibalas.
Ayesha: “Faris, aku butuh kamu. Kumohon, jangan tinggalkan aku...”
Faris memejamkan mata, menggigit bibirnya. Ia merasa dadanya semakin sesak. Kata-kata Ayesha terus terngiang di telinganya. Ia tahu, jika ia tidak segera membalas pesan itu, Ayesha akan semakin terluka.
Namun, jika ia menjawabnya, ia akan kembali terjebak dalam perasaan yang telah berusaha ia tinggalkan.
“Apa yang harus kulakukan, Ya Allah?” bisiknya sambil memejamkan mata.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar lagi. Kali ini panggilan suara. Dari Ayesha.
Faris menatap layar ponselnya lama. Panggilan itu terus berdering, seolah memaksa Faris untuk menjawab. Tangannya gemetar. Ia hampir menggeser tombol hijau, namun tiba-tiba terhenti.
“Astaghfirullah...” Faris menarik napas dalam-dalam. Ia menutup matanya erat-erat, lalu meraih ponsel itu dan menekan tombol silent.
Panggilan terputus.
Faris menjatuhkan ponselnya ke kasur, lalu menenggelamkan wajahnya di kedua telapak tangannya. Air mata kembali mengalir deras.
“Ya Allah... kuatkan aku...”
Pagi itu, Faris terbangun dengan mata bengkak. Sisa air mata semalam masih meninggalkan jejak di wajahnya. Kepalanya berat, tubuhnya lelah. Tapi ia memaksakan diri untuk bangkit.
“Aku harus kembali ke masjid,” gumamnya sambil meraih handuk.
Ia mengambil wudu dan berjalan menuju masjid kampus. Udara pagi yang sejuk menyambutnya, namun di dalam hatinya masih terasa kekosongan yang mendalam.
Begitu tiba di masjid, Faris melihat Ihsan sedang duduk di beranda masjid, memegang mushaf dan membaca ayat-ayat suci dengan khusyuk.
Faris melangkah pelan, duduk di samping Ihsan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ihsan menoleh, tersenyum tipis.
“Ris,” sapa Ihsan lembut. “Kamu baik-baik saja?”
Faris hanya mengangguk. Tapi sorot matanya jelas mengatakan sebaliknya. Ihsan menutup mushafnya dan menatap Faris lekat-lekat.
“Ada sesuatu yang ingin kamu ceritakan?” tanya Ihsan hati-hati.
Faris menunduk, menatap lantai masjid yang dingin. “Aku... aku memutuskan hubungan dengan Ayesha.”
Ihsan mengangkat alis. “Oh?”
“Aku gak sanggup lagi, San,” suara Faris mulai bergetar. “Semakin lama aku berada di dekatnya, semakin aku merasa jauh dari diriku sendiri. Jauh dari Allah.”
Ihsan terdiam sejenak. Ia mengangguk pelan, mencoba memahami perasaan Faris. “Dan sekarang kamu merasa bersalah karena meninggalkannya?”
Faris menelan ludah. “Iya. Ayesha bilang... dia sedang berjuang untuk berubah. Dan aku justru pergi di saat dia sedang berusaha. Apa aku terlalu egois, San?”
Ihsan menarik napas panjang. “Ris, terkadang, meninggalkan seseorang bukan berarti kita tidak peduli. Justru mungkin itu cara terbaik agar dia bisa belajar berdiri sendiri.”
“Tapi Ayesha bilang aku pengecut. Dia bilang aku gak benar-benar peduli,” ujar Faris lirih.
Ihsan menepuk bahu Faris. “Kamu sudah berusaha, Ris. Kalau kamu terus berada di sana, kamu juga akan semakin tenggelam. Dan kamu sendiri tahu, Allah tidak akan mengubah nasib seseorang kecuali dia sendiri yang mau berusaha mengubahnya.”
Faris terdiam. Kata-kata Ihsan sedikit menguatkannya, tapi di dalam hati, rasa bersalah itu masih bergelora.
Di sisi lain kampus, Ayesha duduk di taman belakang perpustakaan. Matanya sembab, wajahnya kusut. Ia menggenggam ponselnya erat-erat, menatap layar yang kosong.
“Kenapa kamu berubah, Faris?” bisiknya lirih.
Semalam ia mengirim pesan, menelepon berkali-kali, tapi tak satu pun dijawab oleh Faris. Rasa sakit itu semakin dalam, seolah seseorang baru saja merobek jantungnya.
Teman-temannya berlalu lalang di sekitar taman, tapi Ayesha tak peduli. Di pikirannya hanya ada Faris. Sosok yang selama ini ia anggap sebagai penyelamat, kini malah meninggalkannya sendirian.
Di tengah lamunannya, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari Raka.
Raka: “Ayesha, kamu di mana? Aku mau ketemu kamu.”
Ayesha menggigit bibirnya. Sejak malam itu, ia menghindari Raka. Namun, Raka terus mengirim pesan, meminta bertemu untuk “menjelaskan semuanya.”
Ayesha memejamkan mata, menahan tangisnya. Ia merasa sendirian. Faris meninggalkannya. Raka semakin mendekat. Dan dirinya... semakin kehilangan arah.
“Aku harus kuat...” bisiknya, tapi suaranya terdengar lemah dan rapuh.
Malamnya, Faris kembali duduk di depan meja belajar. Mushaf Al-Qur’an terbuka di depannya, namun pikirannya tidak fokus. Ia terus memikirkan Ayesha.
Ponselnya kembali bergetar. Kali ini bukan pesan, tapi panggilan suara. Lagi-lagi dari Ayesha.
Faris menggenggam ponselnya erat-erat. Jantungnya berdegup kencang. Ia tahu, jika ia menjawab panggilan itu, ia akan semakin sulit untuk menjaga jarak. Tapi jika tidak dijawab, ia takut Ayesha akan semakin terpuruk.
“Apa yang harus kulakukan, Ya Allah?” bisiknya sambil menatap mushaf yang terbuka.
Panggilan itu terus berdering. Faris menunduk, meremas rambutnya frustasi. Hingga akhirnya, panggilan itu terputus.
Faris menarik napas panjang. Air mata kembali mengalir tanpa bisa ia tahan.
“Apa aku benar-benar pengecut? Apa aku benar-benar meninggalkan Ayesha di saat ia sedang berjuang untuk berubah?”
Di dalam hatinya, Faris merasakan pergolakan yang semakin besar. Ia ingin kembali pada Ayesha, ingin memastikan gadis itu baik-baik saja. Tapi ia tahu, jika ia mendekat lagi, ia akan kembali terseret ke dalam dunia yang ingin ia tinggalkan.
Malam itu, Faris duduk di lantai kamarnya, memeluk kedua lututnya sambil menangis.
“Ya Allah...” isaknya pelan. “Jika meninggalkannya adalah cara untuk memperbaiki diriku, maka kuatkan aku. Tapi jika aku harus kembali demi menyelamatkannya, maka tunjukkanlah jalanku...”
Sudah tiga hari berlalu sejak pertemuan terakhir di taman kampus. Sejak hari itu, Faris dan Ayesha tidak lagi berkomunikasi. Tidak ada pesan. Tidak ada panggilan. Hanya hening yang semakin menyiksa.
Faris mencoba mengalihkan pikirannya dengan aktivitas harian. Ia pergi ke masjid lebih awal untuk mengikuti kajian pagi, membantu bersih-bersih masjid, hingga menyibukkan diri dengan tugas kuliah. Namun, di setiap aktivitasnya, bayangan Ayesha selalu muncul.
“Apa yang sedang dia lakukan sekarang?” gumam Faris sambil menatap layar ponselnya yang kosong.
Di sudut ruangan, mushaf Al-Qur’an tergeletak terbuka. Faris mendekatinya, meraih mushaf itu, dan membuka halaman yang telah ia tandai. Surat Al-Baqarah ayat 286.
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya...”
Faris membaca ayat itu berulang kali. Ia merasa dirinya sedang diuji. Ujian terbesar bukanlah rasa cinta pada Ayesha, tapi rasa bersalah karena meninggalkannya saat gadis itu sedang berusaha untuk berubah.
“Jika aku kembali, aku akan terseret lagi. Jika aku tetap pergi, aku akan merasa berdosa...”
“Apa yang harus kulakukan, Ya Allah?” bisiknya sambil menggenggam mushaf itu erat-erat.
Di sisi lain kampus, Ayesha duduk di kamar kosnya. Matanya sembab, wajahnya kusut. Ponselnya tergeletak di atas kasur. Pesan-pesan yang ia kirim untuk Faris tetap tak berbalas.
Ayesha: “Faris, aku butuh kamu. Kumohon, jawab aku...”568Please respect copyright.PENANAyMKzqYPFSF
Ayesha: “Faris, apa aku seburuk itu? Apa aku tidak pantas untuk kamu temani?”568Please respect copyright.PENANAbEi35Rkw9Z
Ayesha: “Faris, apa kamu benar-benar tidak peduli padaku lagi?”
Ayesha menggigit bibirnya, menahan isak yang semakin keras. Ia meremas bantalnya erat-erat, seolah berusaha menahan seluruh rasa sakit yang menghimpit dadanya.
“Kamu bilang kamu peduli, Faris...” bisiknya lirih. “Tapi kenapa kamu pergi di saat aku sedang berusaha berubah?”
Ayesha meraih ponselnya, menatap nomor Faris yang tersimpan di daftar kontak. Jemarinya gemetar, berusaha menekan tombol panggil. Namun, ia tak sanggup.
“Tidak. Jika aku meneleponnya lagi, aku akan terlihat lemah. Dan Faris akan semakin menjauh,” ujarnya sambil melempar ponsel itu ke kasur.
Ayesha menunduk, menenggelamkan wajahnya di lutut. Ia menangis tanpa suara.
“Faris bilang aku bisa berubah. Tapi bagaimana caranya? Bagaimana caranya jika aku bahkan tidak tahu bagaimana memulai?”
Siang itu, Faris duduk di serambi masjid kampus. Suasana masjid tenang. Beberapa mahasiswa sedang membaca Al-Qur’an di dalam ruang utama. Faris meraih sebotol air mineral, meneguknya perlahan.
Tiba-tiba, Ihsan datang dan duduk di sampingnya. “Ris,” sapa Ihsan.
Faris menoleh. “San...”
“Kamu kelihatan lelah,” kata Ihsan sambil menatap Faris lekat-lekat. “Ada apa?”
Faris terdiam. Bibirnya gemetar. Ia ingin bercerita, ingin mencurahkan semua rasa bersalah dan kebingungan yang selama ini ia pendam. Tapi kata-kata itu terhenti di tenggorokannya.
“Aku cuma... merasa kehilangan arah,” kata Faris akhirnya.
Ihsan mengangguk pelan. “Apakah ini tentang Ayesha?”
Faris terkejut. “Kamu tahu?”
“Aku bukan buta, Ris. Aku lihat bagaimana kamu dan Ayesha semakin dekat. Tapi aku juga lihat bagaimana kamu mulai menjauh dari masjid. Dari dirimu sendiri,” jawab Ihsan tenang.
Faris menunduk. “Aku meninggalkannya, San. Aku merasa bersalah. Tapi kalau aku kembali, aku takut semakin tenggelam.”
Ihsan menatap langit biru yang cerah. “Ris, kamu tahu, terkadang Allah mengirim seseorang untuk menguji kita. Bukan untuk dijadikan alasan kita menjauh dari-Nya, tapi untuk menguatkan iman kita.”
“Aku tahu...” Faris mengusap wajahnya. “Tapi kenapa rasanya semakin berat? Kenapa aku merasa semakin kehilangan arah?”
“Karena kamu masih menggantungkan kebahagiaanmu pada manusia,” jawab Ihsan. “Padahal, satu-satunya tempat untuk menemukan ketenangan adalah kembali pada Allah.”
Faris terdiam lama. Kata-kata Ihsan begitu sederhana, tapi menusuk tajam ke hatinya.
Malam itu, Ayesha duduk di kafe kampus. Di depannya, Raka duduk sambil merokok. Wajah Raka terlihat lelah, tapi ia masih berusaha tersenyum pada Ayesha.
“Aku dengar kamu dan Faris putus,” kata Raka sambil meniupkan asap rokoknya.
Ayesha menunduk. “Kita gak pernah pacaran, Ra. Faris cuma... temanku.”
“Teman yang kamu harapkan lebih, kan?” tanya Raka sambil menyeringai.
Ayesha menggigit bibirnya. Ia tidak menjawab. Raka mendekatkan tubuhnya, menatap Ayesha lekat-lekat. “Ayesha, kenapa kamu buang waktu untuk cowok kayak dia? Dia gak cocok untuk kamu. Kamu terlalu baik untuk orang yang cuma bisa menghakimi.”
“Aku gak tahu lagi, Ra,” jawab Ayesha lemah. “Aku cuma ingin seseorang yang peduli. Tapi Faris... dia pergi di saat aku sedang berusaha berubah.”
Raka menyentuh tangan Ayesha. “Aku peduli sama kamu, Ayesha. Aku akan selalu ada di sini. Kamu gak perlu berubah. Jadilah dirimu sendiri. Kamu tahu, aku suka kamu apa adanya.”
Ayesha menarik tangannya perlahan. Matanya mulai berkaca-kaca. “Aku gak tahu, Ra. Aku cuma... aku cuma ingin tenang.”
“Ayesha,” Raka mendekatkan wajahnya. “Aku bisa buat kamu tenang...”
Ayesha terdiam. Ia merasa begitu lemah. Begitu hampa. Dan begitu ingin diisi. Tapi apakah ini jalan yang benar?
Malam itu, suasana kafe kampus ramai oleh mahasiswa yang sedang bercanda ria. Musik akustik mengalun lembut, mengiringi suara hujan yang turun rintik-rintik di luar jendela.
Di salah satu sudut kafe, Ayesha duduk bersama Raka. Di meja mereka terdapat dua gelas kopi yang mulai dingin. Ayesha menunduk, menatap cangkir di tangannya tanpa minat. Matanya sembab, lingkar hitam tampak jelas di bawah kelopak matanya.
“Ayesha,” panggil Raka sambil memiringkan kepalanya. “Kamu masih mikirin Faris?”
Ayesha tidak menjawab. Tangannya terus memutar-mutar gelas kopi itu dengan pelan.
“Ayesha,” Raka mendekatkan wajahnya. “Dengerin aku.”
Ayesha akhirnya mendongak. Tatapannya kosong, matanya merah. “Aku gak tahu apa yang harus kulakukan, Ra. Faris bilang dia ingin aku berubah. Tapi di saat aku sedang berusaha, dia malah pergi.”
Raka menghela napas, bersandar di kursi sambil melipat tangan di dada. “Dia pengecut, Ayesha. Dia cuma peduli pada dirinya sendiri. Kalau dia benar-benar peduli sama kamu, dia gak akan meninggalkan kamu begitu aja.”
“Tapi... dia bilang dia ingin fokus memperbaiki diri,” ujar Ayesha dengan suara bergetar. “Dia bilang... aku bisa berubah sendiri, tanpa dia.”
Raka mendengus sinis. “Itu cuma alasan, Ayesha. Cowok kayak Faris cuma peduli pada citra dirinya. Dia gak peduli sama kamu. Dia cuma takut namanya jadi jelek karena terlalu dekat sama kamu.”
Ayesha menggigit bibirnya, menahan isak yang semakin menguat. “Tapi aku benar-benar ingin berubah, Ra. Aku ingin jadi lebih baik...”
Raka mendekatkan tubuhnya, menatap Ayesha lekat-lekat. “Dengerin aku, Ayesha. Kamu gak perlu berubah hanya karena dia. Kamu sudah cukup baik. Kamu gak perlu jadi gadis alim hanya untuk menyenangkan orang lain.”
“Tapi...”
“Kamu tahu kenapa aku suka sama kamu, Ayesha?” tanya Raka sambil meraih tangan Ayesha. “Karena kamu apa adanya. Kamu ceria, spontan, bebas. Kamu gak perlu jadi gadis berjilbab, gak perlu rajin salat atau rajin ke masjid hanya untuk diterima. Kamu cukup jadi dirimu sendiri.”
Ayesha menatap tangan Raka yang kini menggenggam jemarinya. Sentuhan itu hangat, namun terasa begitu asing.
“Ayesha,” suara Raka semakin pelan, matanya menatap dalam ke mata Ayesha. “Aku akan selalu ada untukmu. Aku gak akan pergi seperti Faris. Kamu gak perlu pura-pura jadi orang lain di depanku.”
Ayesha menggigit bibirnya semakin keras. Air matanya mulai menggenang. “Ra... aku gak tahu lagi siapa diriku.”
Raka tersenyum, menarik tubuh Ayesha lebih dekat. “Kalau kamu butuh tempat untuk melupakan semuanya, aku ada di sini.”
Malam itu, Ayesha kembali ke kamarnya dengan langkah gontai. Ponselnya digenggam erat-erat, namun tak ada pesan dari Faris. Tidak ada panggilan. Tidak ada kabar.
Ia melempar tubuhnya ke kasur, menatap langit-langit kamar yang kosong. Kata-kata Raka tadi di kafe masih terngiang-ngiang di kepalanya.
“Kamu gak perlu berubah hanya karena dia. Kamu cukup jadi dirimu sendiri.”
“Aku akan selalu ada untukmu. Aku gak akan pergi seperti Faris.”
Ayesha menghela napas panjang. Air matanya kembali mengalir. Ia merasa dirinya semakin terjebak.
“Apa aku benar-benar harus berubah?” bisiknya sambil memejamkan mata. “Apa aku harus tetap menjadi Ayesha yang ceria dan bebas? Tapi kenapa rasanya kosong?”
Bayangan Faris muncul di pikirannya. Faris yang selalu berbicara lembut tentang keindahan ibadah. Faris yang selalu tersenyum saat bercerita tentang ayat-ayat Al-Qur’an. Faris yang pernah mengatakan bahwa dunia ini hanyalah tempat singgah sementara.
“Aku ingin seperti itu,” gumam Ayesha sambil menahan isaknya. “Aku ingin merasakan ketenangan seperti Faris. Tapi... kenapa dia meninggalkanku?”
Beberapa hari kemudian, Ayesha kembali ke kafe. Kali ini, ia tidak sengaja bertemu Raka di sana. Raka duduk sendirian di meja dekat jendela, merokok sambil menatap hujan di luar.
“Ayesha!” Raka melambaikan tangan. “Sini, duduk bareng aku.”
Ayesha ragu. Tapi melihat wajah Raka yang tersenyum hangat, ia akhirnya melangkah mendekat dan duduk di seberangnya.
“Kamu kelihatan lebih baik hari ini,” kata Raka sambil memadamkan rokoknya.
Ayesha memaksakan senyum. “Cuma mencoba untuk tidak terlalu memikirkan Faris.”
Raka mengangguk. “Bagus. Kamu gak perlu buang waktu untuk orang kayak dia. Kamu berhak bahagia, Ayesha.”
Ayesha terdiam. Matanya tertuju pada secangkir kopi di depannya. “Tapi Ra... aku benar-benar merasa kosong. Sejak Faris pergi, aku merasa kehilangan sesuatu. Bukan cuma dia, tapi juga... aku sendiri.”
Raka menggeser kursinya lebih dekat, meletakkan tangannya di atas tangan Ayesha. “Kamu gak sendiri, Ayesha. Aku ada di sini.”
Ayesha menatap tangan Raka yang kini menggenggam jemarinya. Hatinya berdegup kencang. Ada rasa hangat, namun di balik itu, ada perasaan tidak nyaman yang semakin kuat.
“Ra...” bisik Ayesha.
“Ya?”
“Kenapa kamu mau ada di sini buat aku? Kenapa kamu gak pergi seperti Faris?”
Raka tersenyum lebar. “Karena aku benar-benar peduli sama kamu. Aku gak akan meninggalkanmu. Apa pun yang terjadi.”
Ayesha menunduk. Rasa bersalah semakin menyergapnya. Ia tahu, Raka bukan orang yang baik. Ia tahu, Raka hanya berusaha memanfaatkan kelemahannya. Tapi... ia terlalu lelah untuk menolak.
“Setidaknya, Raka tetap di sini. Setidaknya, dia tidak meninggalkanku...”
Ayesha menghela napas panjang, mencoba menahan air matanya. Tanpa sadar, ia semakin tenggelam dalam pelukan Raka.
Di kamar kosnya, Faris berbaring di atas kasur. Matanya terbuka lebar, menatap langit-langit kamar yang gelap. Pikirannya terus melayang pada pesan Ihsan beberapa hari lalu.
Ihsan: “Ris, aku dengar Ayesha sekarang sering bersama Raka. Hati-hati. Jangan sampai dia terjerumus semakin dalam.”
Faris menggigit bibirnya. Ia tahu siapa Raka. Ia tahu reputasi Raka yang suka mempermainkan gadis-gadis kampus. Tapi... apakah ia masih berhak peduli?
“Ayesha...” bisik Faris pelan. “Apa kamu baik-baik saja?”
Ia menutup matanya, berusaha menghapus bayangan Ayesha dari pikirannya. Tapi semakin ia berusaha melupakan, semakin jelas wajah Ayesha terlukis di kepalanya.
Malam itu, Faris terlelap dalam kegelisahan. Hatinya berbisik, ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi. Dan ia tidak bisa melakukan apa pun untuk mencegahnya.
568Please respect copyright.PENANAKy9HhYvgfY
568Please respect copyright.PENANAObgvLSkRtD
Bab 6
Upaya Ayesha
Hujan turun deras di luar jendela kafe kampus. Di dalam, Ayesha duduk bersama Raka di sudut ruangan. Raka duduk bersandar santai di kursi, satu tangannya memegang rokok, sementara tangan satunya merangkul bahu Ayesha.
Ayesha duduk diam. Matanya menatap kosong pada cangkir kopi di depannya. Sesekali, Raka tertawa keras mendengar lelucon dari teman-temannya yang duduk di meja sebelah.
“Ayesha, kok diam aja?” tanya Raka sambil mematikan rokoknya. “Kamu gak asyik banget sih hari ini.”
Ayesha memaksakan senyum. “Enggak, aku cuma... capek aja.”
Raka menatap Ayesha lebih lekat. “Capek mikirin Faris lagi?”
Ayesha terdiam. Hatinya mencelos. Nama Faris selalu jadi topik yang dihindarinya, tapi entah kenapa, semakin ia berusaha melupakan, semakin kuat bayangan Faris menghantuinya.
Raka menyandarkan tubuhnya lebih dekat. “Dengar, Ayesha. Lupakan dia. Faris gak akan peduli sama kamu. Kalau dia peduli, dia gak akan ninggalin kamu begitu saja.”
“Tapi... aku merasa kehilangan arah, Ra,” kata Ayesha lirih. “Aku ingin berubah. Aku ingin jadi lebih baik. Tapi semakin aku dekat sama kamu...”
“Semakin apa?” potong Raka cepat.
Ayesha menunduk. “Semakin aku merasa hampa.”
Raka mendengus kesal. “Ayesha, kamu terlalu banyak mikir. Hidup ini harus dinikmati. Kamu gak perlu jadi gadis alim hanya untuk membuat Faris terkesan.”
“Tapi bukan untuk Faris. Aku ingin berubah untuk diriku sendiri...”
Raka menyeringai, lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Ayesha. “Ayesha, dengar. Kamu gak perlu berubah untuk siapa pun. Kamu cukup jadi dirimu sendiri. Dan aku akan selalu ada di sini untukmu.”
Ayesha menelan ludah. Kata-kata Raka terasa manis, tapi semakin lama semakin menyesakkan. Di dalam hatinya, ia merasa semakin tersesat.
Malam semakin larut. Raka mengajak Ayesha ke apartemennya. Suasana apartemen itu sunyi. Hanya ada mereka berdua.
Raka menuangkan segelas minuman merah, lalu menyerahkannya pada Ayesha. “Minum ini. Biar kamu rileks.”
Ayesha menatap gelas itu lama. “Ini... alkohol?”
Raka tertawa kecil. “Cuma sedikit. Kamu perlu tenang, Ayesha.”
Ayesha menggigit bibirnya. Tangannya gemetar saat menerima gelas itu. Pikirannya berkecamuk. Ia tahu ini salah. Tapi entah kenapa, ia terlalu lemah untuk menolak.
“Ayesha...” Raka mendekatkan tubuhnya, meraih tangan Ayesha. “Kamu cantik malam ini...”
Ayesha menutup mata, merasakan napas Raka di lehernya. Kepalanya berputar, pikirannya kabur. Dalam hatinya, ia ingin berteriak, ingin pergi dari tempat itu. Tapi tubuhnya terlalu lemah untuk bergerak.
“Ra... aku...” bisik Ayesha lemah.
Namun, sebelum Raka sempat melakukan apa pun, Ayesha tiba-tiba terduduk di lantai. Air matanya jatuh begitu saja.
“Aku gak bisa!” serunya sambil melepaskan tangan Raka. “Aku gak bisa terus begini! Aku ingin berubah! Aku ingin kembali...”
Raka terdiam, wajahnya berubah kaku. “Ayesha, kamu kenapa?”
Ayesha berdiri tergesa-gesa, meraih tasnya dan berlari keluar dari apartemen. Hujan deras menyambutnya. Ayesha berlari tanpa arah, air mata bercampur hujan membasahi wajahnya.
“Aku harus pergi dari sini...” bisiknya.
Ayesha tiba di kosannya dengan tubuh basah kuyup. Ia terjatuh di lantai kamar, menangis keras. Seluruh tubuhnya gemetar.
“Apa yang sudah kulakukan?” isaknya sambil memeluk lututnya. “Aku semakin jauh... semakin hancur...”
Bayangan Faris kembali muncul di benaknya. Kata-kata Faris saat terakhir kali mereka bertemu terus terngiang-ngiang.
“Kalau kamu ingin berubah, lakukanlah untuk dirimu sendiri. Bukan untukku atau siapa pun.”
Ayesha meraih ponselnya, mencari nomor Faris. Jemarinya gemetar saat mengetik pesan.
Ayesha: “Faris, tolong... Aku butuh kamu. Aku ingin berubah. Kumohon, bantu aku...”
Pesan terkirim. Ayesha menunggu dengan cemas. Waktu terus berjalan, menit demi menit, tapi tidak ada balasan.
“Faris... kamu benar-benar meninggalkanku?” bisiknya sambil menatap ponsel yang tetap sunyi.
Hari demi hari berlalu. Faris tetap tidak merespons pesan Ayesha. Tidak ada panggilan. Tidak ada kabar.
Ayesha mulai merasakan kehampaan yang semakin besar. Ia merasa ditinggalkan. Diabaikan. Tapi di sisi lain, ada dorongan kuat untuk kembali memperbaiki dirinya sendiri.
Suatu pagi, Ayesha terbangun dengan mata sembab. Ia menatap cermin, melihat bayangan dirinya yang tampak semakin kusut.
“Aku tidak bisa begini terus,” bisiknya. “Aku harus mulai dari awal. Dengan atau tanpa Faris.”
Hari itu, Ayesha memutuskan untuk mengambil air wudu. Ia menggelar sajadah, lalu berdiri menghadap kiblat. Tubuhnya bergetar saat mengangkat kedua tangan, menirukan gerakan takbir.
“Allahu Akbar...” bisiknya.
Air matanya kembali mengalir. Salat pertama setelah sekian lama. Ia menangis dalam setiap sujudnya. Mencurahkan segala penyesalan, kesedihan, dan kebingungannya kepada Allah.
Sejak hari itu, Ayesha mulai lebih sering datang ke masjid kampus. Ia duduk di barisan belakang, menyendiri sambil menatap jamaah yang salat berjamaah.
Setiap malam, ia mulai membiasakan diri untuk salat Tahajud. Di setiap sujudnya, ia menangis. Menangisi dosa-dosanya. Menangisi kesalahannya yang telah meninggalkan niat awalnya untuk berubah.
Hari Jumat, Ayesha memberanikan diri untuk mengikuti kajian di masjid kampus. Ia duduk di barisan paling belakang, mengenakan kerudung sederhana. Pandangannya tertunduk, berharap tidak ada yang mengenalinya.
Namun, di tengah kajian, Ayesha melihat sosok yang sangat dikenalnya.
Faris.
Faris duduk di barisan depan, khusyuk mendengarkan ceramah ustaz Malik. Wajahnya tenang, matanya terpejam sejenak, seolah sedang merenungi setiap kata yang diucapkan ustaz.
Jantung Ayesha berdetak kencang. Ia merasakan campuran perasaan rindu dan takut. Apakah Faris melihatnya? Apakah Faris akan berbicara padanya?
Namun, Faris tetap tak menoleh. Ia fokus pada ceramah, seolah tidak menyadari keberadaan Ayesha di belakangnya.
Setelah kajian selesai, Faris beranjak pergi. Ayesha bangkit, hendak mengejarnya.
“Faris!” panggil Ayesha pelan.
Namun, Faris tidak menoleh. Ia terus berjalan keluar masjid, meninggalkan Ayesha yang berdiri terpaku di tempatnya. Air mata Ayesha jatuh tanpa ia sadari.
“Ya Allah, apakah aku masih layak untuk berubah? Jika aku sendiri, mampukah aku bertahan?”
568Please respect copyright.PENANAqiGIhg5G7t
Sejak hari itu, Ayesha mulai lebih sering datang ke masjid kampus. Setiap kali azan berkumandang, ia bergegas mengambil air wudu, mengenakan kerudungnya, dan melangkahkan kaki ke masjid.
Di sana, ia duduk di barisan belakang, menyendiri, menyaksikan para jamaah lain yang khusyuk dalam salat mereka. Ia merasa asing, tapi ia berusaha bertahan. Setiap gerakan salat terasa berat. Setiap sujud, setiap rukuk, seolah ada beban yang menekan pundaknya.
“Ya Allah, aku lelah... Tapi aku tidak ingin kembali ke jalan yang salah...”
Usai salat, Ayesha tetap duduk di tempatnya. Matanya menatap sajadah yang basah oleh air matanya. Di dalam hatinya, ia merasakan kesepian yang semakin mendalam.
“Aku sendirian...” bisiknya. “Faris, kenapa kamu tidak di sini bersamaku?”
Sore itu, Ayesha sedang duduk di teras masjid kampus. Ia membawa sebuah buku kecil berisi kumpulan doa dan zikir. Ia mencoba menghafal satu per satu doa tersebut, namun pikirannya terus melayang pada sosok Faris.
“Apa dia melihatku kemarin? Apa dia akan bicara padaku?”
Di tengah lamunannya, Ayesha melihat sosok Faris berjalan menuju masjid. Faris mengenakan kemeja putih polos, celana hitam, dan membawa tas kecil berisi mushaf. Langkahnya tenang, wajahnya serius.
Ayesha langsung menunduk, bersembunyi di balik jilbabnya. Jantungnya berdegup kencang.
Faris melewatinya begitu saja. Tidak menoleh. Tidak menyapa. Tidak menyadari keberadaan Ayesha.
“Dia benar-benar tidak peduli lagi padaku...”
Ayesha meremas buku zikirnya erat-erat. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
Malamnya, Ayesha duduk di kamar kosnya. Lampu kamar sengaja dimatikan. Ia duduk di lantai, bersandar pada dinding. Di pangkuannya, terdapat mushaf Al-Qur’an yang sudah lama tidak ia sentuh.
Ayesha membuka halaman acak. Matanya tertuju pada ayat yang terasa begitu menyentuh hatinya:
“Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah...” (QS. Az-Zumar: 53)
Air mata Ayesha tumpah. Ia memeluk mushaf itu erat-erat. “Ya Allah... aku ingin kembali. Tapi kenapa rasanya semakin berat? Kenapa aku merasa semakin jauh dari-Mu?”
Ayesha mengusap air matanya. Ia teringat pada Faris — pria yang pernah mengajaknya untuk berubah, tapi kemudian pergi meninggalkannya begitu saja.
“Apa aku tidak layak untuk menjadi lebih baik?” bisiknya sambil menunduk. “Faris, kenapa kamu tidak di sini untuk menuntunku?”
Sementara itu, di kamar kosnya, Faris duduk termenung. Pikirannya tidak tenang. Ia mengingat kembali momen saat ia melihat Ayesha di masjid sore tadi.
Ayesha duduk sendirian, mengenakan jilbab putih sederhana. Wajahnya pucat, matanya sayu. Ada rasa iba yang merayap di hati Faris. Tapi ia memilih berpaling dan melanjutkan langkahnya.
Faris memejamkan mata. Di dalam hatinya, ia merasa bersalah. Tapi di sisi lain, ia takut jika ia mendekati Ayesha lagi, ia akan kembali tergoda.
“Apa aku terlalu kejam meninggalkannya? Tapi kalau aku kembali, bukankah itu artinya aku sedang bermain-main dengan perasaanku sendiri?”
Faris meraih mushaf di meja belajar, membukanya dan membaca Surat Al-Asr. Kata-kata dalam ayat itu seolah berpendar di matanya.
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian...”
“Ayesha sedang berjuang untuk berubah... tapi aku malah meninggalkannya,” bisik Faris sambil menggigit bibirnya. “Apa aku benar-benar pengecut?”
Beberapa hari kemudian, Ayesha memberanikan diri untuk menghadiri kajian mingguan di masjid kampus. Ia duduk di barisan paling belakang, menundukkan kepala, berharap tidak ada yang mengenalinya.
Di depan, ustaz Malik tengah berbicara dengan suara lembut namun tegas. Tema kajian hari itu adalah tentang keteguhan hati dalam menjalani proses hijrah.
“Ada masa di mana kita merasa sendirian. Ada masa di mana kita merasa terpuruk. Tapi ketahuilah, Allah tidak pernah meninggalkan kita,” ujar ustaz Malik.
Ayesha menunduk, air matanya kembali mengalir. Kata-kata itu terasa seperti tamparan keras.
“Aku merasa ditinggalkan Faris, tapi apakah aku juga merasa ditinggalkan Allah?”
“Dan ingatlah,” lanjut ustaz Malik, “jangan pernah menggantungkan perubahan diri kita pada manusia. Karena manusia akan datang dan pergi. Tapi Allah akan selalu ada, menunggu kita kembali.”
Ayesha meremas sajadahnya erat-erat. Dalam hati, ia berdoa, “Ya Allah, jika Faris tidak ingin menuntunku, maka tuntunlah aku sendiri. Jangan biarkan aku semakin jauh...”
Setelah kajian selesai, Ayesha bangkit dan berjalan menuju pintu keluar. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat sosok Faris berdiri di dekat rak mushaf. Faris sedang berbicara dengan Ihsan.
Ayesha ingin berbalik, namun rasa rindu dan keinginan untuk meminta maaf terlalu besar untuk ditahan.
“Faris...” panggil Ayesha pelan.
Faris terdiam, tubuhnya kaku. Ihsan menoleh, menatap Ayesha sejenak sebelum melirik Faris.
“Ayesha?” ujar Faris tanpa menoleh.
Ayesha menggigit bibirnya. Air matanya kembali menggenang. “Faris... aku minta maaf...”
Faris masih tidak menoleh. Wajahnya tegang, matanya menatap lurus ke arah pintu masjid. “Ayesha, aku rasa... kamu tidak perlu minta maaf padaku.”
“Tapi aku sudah banyak salah, Faris. Aku tahu aku sudah membuatmu kecewa. Tapi aku benar-benar ingin berubah,” ujar Ayesha dengan suara bergetar.
Faris mengepalkan tangan, berusaha menahan emosi yang membuncah. “Kalau kamu ingin berubah, lakukanlah untuk dirimu sendiri. Bukan untukku.”
Ayesha menunduk, air matanya tumpah. “Aku tahu... Tapi aku butuh kamu. Aku butuh seseorang untuk menuntunku...”
Faris menutup matanya rapat-rapat. Hatinya berteriak ingin berbalik dan menenangkan Ayesha, tapi ia tahu jika ia melakukannya, ia akan kembali terjebak.
“Maaf, Ayesha...” ujar Faris dengan suara berat. “Aku bukan orang yang tepat untuk menuntunmu. Kamu harus menemukan jalanmu sendiri.”
Faris berbalik, meninggalkan Ayesha yang kini terduduk lemas di lantai masjid. Ihsan menatap Ayesha sekilas, namun tidak berkata apa-apa.
Ayesha menangis tanpa suara, menggenggam sajadahnya erat-erat.
“Ya Allah, aku sendiri lagi...”
568Please respect copyright.PENANA82EoxNdCEZ
Ayesha terduduk di lantai masjid. Tubuhnya lemas, pandangannya kosong. Kata-kata Faris terus terngiang di kepalanya.
“Aku bukan orang yang tepat untuk menuntunmu. Kamu harus menemukan jalanmu sendiri.”
Air mata Ayesha terus mengalir. Ia merasa hatinya hancur. Faris, satu-satunya orang yang pernah membuatnya merasa diinginkan untuk berubah, kini benar-benar meninggalkannya.
“Aku sendirian lagi...” bisiknya sambil menunduk.
Para jamaah sudah mulai meninggalkan masjid. Beberapa dari mereka melirik Ayesha yang masih terduduk di sana, namun tak seorang pun menghampirinya.
Ayesha meremas sajadahnya erat-erat. Tubuhnya bergetar. “Ya Allah... kalau aku sendiri, bagaimana caranya aku bisa berubah? Aku terlalu lemah...”
Malam itu, Ayesha berbaring di kasurnya sambil menatap langit-langit kamar. Matanya bengkak karena terlalu lama menangis.
Ponselnya tergeletak di samping bantal. Tidak ada pesan dari Faris. Tidak ada panggilan. Hanya sepi.
Ayesha menarik napas panjang, menggenggam ponselnya erat-erat. Jemarinya bergerak membuka galeri foto. Ia menatap foto Faris yang sempat ia ambil diam-diam saat mereka belajar bersama di perpustakaan.
“Kenapa kamu berubah, Faris?” bisiknya. “Kenapa kamu pergi di saat aku sedang berusaha untuk berubah?”
Ayesha terisak. Ia merasa dirinya semakin terpuruk. Kelelahan dan kesepian membuat pikirannya berantakan. Tanpa sadar, jemarinya mengetik pesan untuk Faris.
Ayesha: “Faris, maaf. Aku tidak akan mengganggumu lagi. Aku akan berusaha sendiri. Doakan aku...”
Pesan terkirim. Ayesha menatap layar ponselnya, berharap ada balasan. Tapi layar itu tetap sunyi.
Keesokan harinya, Ayesha memberanikan diri kembali ke masjid kampus. Kali ini, ia datang bukan untuk mencari Faris, tapi untuk mencari ketenangan.
Ia duduk di sudut masjid, membawa mushaf Al-Qur’an. Di sekelilingnya, beberapa mahasiswi berjilbab sedang membaca Al-Qur’an bersama. Wajah mereka cerah, bibir mereka tersenyum.
Ayesha merasa canggung. Ia ingin bergabung, tapi rasa malu mengalahkannya.
“Aku terlalu kotor untuk berada di tengah-tengah mereka...”
Ayesha membuka mushafnya perlahan. Jemarinya gemetar saat menyentuh halaman pertama Surat Al-Fatihah. Matanya mulai membaca ayat demi ayat dengan suara pelan.
“Bismillahirrahmanirrahim...”
Air matanya mulai mengalir. Di dalam hatinya, ia merasa begitu rapuh. Namun, untuk pertama kalinya, ia merasakan kehangatan yang berbeda.
Hari demi hari, Ayesha mulai membiasakan diri untuk datang ke masjid setiap Subuh dan Maghrib. Ia duduk di sudut ruangan, menatap para jamaah yang khusyuk beribadah.
Di antara mereka, ada sosok Faris. Faris selalu berada di saf depan, berdiri tegap, mata terpejam saat berdoa. Wajahnya tenang, namun dingin. Sejak pertemuan mereka terakhir kali, Faris tidak pernah lagi menoleh ke arah Ayesha.
Setiap kali melihat Faris, hati Ayesha terasa semakin hancur. Ia ingin berbicara, ingin meminta maaf, ingin menjelaskan semuanya. Tapi ia tahu, Faris sudah menutup pintu untuknya.
“Dia tidak akan peduli lagi padaku,” gumam Ayesha sambil menunduk. “Aku harus berjuang sendiri...”
Suatu sore, setelah kajian rutin di masjid, Ayesha duduk sendirian di teras masjid. Ia masih memegang mushaf, tapi pandangannya kosong.
Seorang gadis berjilbab lebar menghampirinya. Wajahnya cerah, senyumnya hangat.
“Assalamualaikum,” sapa gadis itu lembut.
Ayesha menoleh, mencoba tersenyum. “Waalaikumsalam.”
“Kamu sering ke sini sendirian?” tanya gadis itu sambil duduk di sebelah Ayesha.
Ayesha mengangguk. “Iya. Aku baru mulai belajar...”
“Oh ya? Masya Allah, semangat ya,” kata gadis itu sambil tersenyum lebar. “Namaku Zahra. Kamu?”
“Ayesha.”
“Senang bertemu denganmu, Ayesha,” ujar Zahra sambil meraih tangan Ayesha dan menggenggamnya erat. “Kalau ada yang bisa kubantu, jangan sungkan bilang ya.”
Ayesha menunduk, menahan air matanya. Ada rasa hangat yang menyusup ke dalam hatinya. Zahra tidak menghakimi. Zahra tidak bertanya apa-apa. Zahra hanya menawarkan kebaikan.
“Terima kasih, Zahra,” bisik Ayesha.
Hari Jumat. Masjid kampus dipenuhi jamaah yang sedang menunggu waktu salat Jumat. Faris duduk di saf depan, diapit oleh Ihsan dan beberapa teman kajiannya. Wajahnya serius, tatapannya lurus ke depan.
Di luar masjid, Ayesha berdiri di samping Zahra. Mereka sedang menunggu adzan berkumandang.
“Ayesha, kamu baik-baik saja?” tanya Zahra sambil merapikan jilbabnya.
Ayesha tersenyum lemah. “Aku masih berusaha, Zahra.”
“Masya Allah. Kamu hebat. Tidak semua orang berani mengambil langkah besar seperti ini,” puji Zahra.
Ayesha hanya tersenyum tipis. Namun, di dalam masjid, matanya menangkap sosok Faris yang sedang berdzikir. Hatinya kembali bergetar.
Usai salat Jumat, Faris melangkah keluar masjid. Wajahnya tenang, tapi matanya tampak lelah. Ayesha berdiri di sudut teras, berharap Faris akan melihatnya.
Namun, sekali lagi, Faris melangkah melewatinya tanpa menoleh.
Ayesha menggigit bibirnya, menahan air mata yang hampir jatuh. Zahra meraih tangannya, menggenggamnya erat.
“Ayesha, kamu baik-baik saja?” tanya Zahra khawatir.
Ayesha menunduk. “Aku masih belum siap melihatnya.”
Zahra merangkul bahu Ayesha, menenangkannya. “Tenang, Ayesha. Kamu tidak sendiri. Aku di sini.”
Ayesha mengangguk lemah. Tapi di dalam hatinya, ada rasa sakit yang semakin dalam. Ia tahu ia harus melupakan Faris. Tapi bagaimana caranya jika setiap kali ia datang ke masjid, sosok Faris selalu ada di sana, mengingatkannya pada masa lalu yang terus menghantuinya?
Malam itu, Ayesha duduk di teras kosannya. Langit gelap, hanya diterangi oleh beberapa bintang yang berkelip samar. Udara malam terasa dingin, namun ia memilih tetap duduk di sana.
Di pangkuannya, terdapat sebuah buku kecil berisi kumpulan doa dan zikir yang diberikan Zahra padanya sore tadi. Buku itu kini menjadi temannya yang paling setia.
Ayesha membuka halaman pertama, matanya tertuju pada salah satu doa yang tertulis tebal:
“Ya Allah, kuatkanlah hatiku untuk selalu mengingat-Mu di kala aku merasa lemah.”
Ayesha menutup matanya, meresapi setiap kata dalam doa itu. Air matanya kembali jatuh, namun kali ini bukan air mata penyesalan. Melainkan air mata ketenangan.
“Ya Allah, jika aku harus berjalan sendiri, maka kuatkan aku. Jika aku tidak lagi bisa mengandalkan Faris, maka jadilah Engkau satu-satunya tempat aku bersandar.”
Ayesha menarik napas panjang, kemudian meletakkan buku itu di pangkuannya. Ia mendongak ke langit, menatap bintang-bintang yang berkerlap-kerlip.
Untuk pertama kalinya, ia merasakan ketenangan.
Sementara itu, di kamar kosnya, Faris berbaring menatap langit-langit kamar. Matahari sudah lama tenggelam, namun pikirannya masih terus berputar.
Bayangan Ayesha di masjid tadi siang tidak bisa ia hilangkan. Ayesha yang duduk bersama Zahra, mengenakan kerudung putih, wajahnya penuh kesedihan namun terlihat lebih tenang.
“Dia benar-benar berusaha berubah,” pikir Faris sambil memejamkan mata.
Namun, justru itu yang semakin menghantuinya. Jika Ayesha bisa berubah tanpa dirinya, maka apa arti kehadirannya selama ini? Apa ia hanya menjadi beban bagi Ayesha?
“Aku harusnya merasa lega,” gumam Faris. “Tapi kenapa aku merasa semakin gelisah?”
Ia bangkit dari kasur, berjalan menuju meja belajar dan mengambil mushaf Al-Qur’an. Ia membuka halaman acak dan matanya tertuju pada ayat yang terasa seperti teguran keras baginya:
“Dan janganlah engkau termasuk orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf: 205)
Faris menggenggam mushaf itu erat-erat. Hatinya bergejolak. Ia merasa dirinya semakin tenggelam dalam perasaan bersalah. Ia ingin membantu Ayesha, tapi ia takut akan dirinya sendiri.
“Ya Allah... apa aku harus bertahan dalam diam? Atau aku harus mendekatinya lagi untuk memastikan dia baik-baik saja?”
Faris memejamkan mata, menarik napas panjang. Malam itu, ia kembali merasakan kekosongan yang semakin menghimpit.
Keesokan harinya, Ayesha melangkah menuju masjid kampus bersama Zahra. Mereka berjalan beriringan, melewati taman kampus yang mulai ramai oleh mahasiswa.
“Masya Allah, kamu semakin rajin datang ke masjid ya, Ayesha,” kata Zahra sambil tersenyum.
Ayesha tersenyum kecil. “Aku harus rajin, Zahra. Jika aku tidak mengisi hatiku dengan ibadah, aku akan kembali terjebak dalam kegelapan.”
Zahra mengangguk sambil menggenggam tangan Ayesha. “Kamu tidak sendiri. Aku akan selalu ada di sini untuk menemanimu.”
Ayesha merasa hatinya sedikit lebih ringan. Dukungan Zahra memberinya kekuatan untuk terus berjuang.
Namun, saat mereka melewati pintu masjid, Ayesha melihat sosok Faris di depan pintu, berbicara dengan Ihsan. Mata mereka bertemu sejenak.
Ayesha langsung menunduk, mencoba mengabaikan tatapan Faris. Tapi di dalam hatinya, ada rasa rindu yang kembali mengusik.
“Ya Allah, aku sudah berjanji untuk tidak bergantung pada manusia lagi. Tapi kenapa hatiku masih berharap dia akan datang dan menyapaku?”
Zahra menepuk bahu Ayesha lembut. “Ayesha, ayo masuk. Kita bisa duduk di barisan depan.”
Ayesha mengangguk, berusaha menguatkan hatinya. Ia melangkah masuk, meninggalkan Faris yang masih berdiri di depan pintu masjid.
Faris memperhatikan Ayesha yang masuk ke dalam masjid bersama Zahra. Pandangannya tak lepas dari sosok Ayesha yang kini terlihat lebih tenang, lebih damai.
“Ihsan,” panggil Faris tanpa menoleh.
“Iya?”
“Ayesha... apa dia baik-baik saja?”
Ihsan menatap Faris lama. “Kamu masih peduli padanya?”
Faris terdiam. Tenggorokannya terasa kering. Ia ingin berkata tidak, tapi hatinya berteriak sebaliknya.
“Dia sedang berusaha,” kata Ihsan akhirnya. “Dan menurutku, dia benar-benar berusaha. Tapi, dia juga masih butuh dukungan. Dia masih butuh seseorang untuk menguatkannya.”
Faris mengepalkan tangannya. Kata-kata Ihsan terasa seperti tusukan yang dalam. Ia ingin mendekati Ayesha, ingin bertanya kabarnya, ingin memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja. Tapi ia terlalu takut.
“Aku... aku harus pergi,” kata Faris cepat sebelum berbalik meninggalkan masjid.
Ihsan hanya bisa menatap punggung Faris yang semakin menjauh. Dalam hati, ia berdoa agar sahabatnya itu segera menemukan keberanian untuk menghadapi perasaannya sendiri.
Di dalam masjid, Ayesha duduk bersila sambil membuka mushafnya. Zahra duduk di sampingnya, ikut membaca Al-Qur’an.
Ayesha mulai membaca Surat Al-Baqarah ayat 286, ayat yang selama ini menjadi penguatnya.
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya...”
Air mata Ayesha kembali mengalir. Ia menutup mushafnya, menengadahkan tangan, dan mulai berdoa:
“Ya Allah, jika Faris tidak akan pernah kembali, maka kuatkan hatiku untuk bisa berjalan sendiri. Jangan biarkan aku kembali ke jalan yang salah. Jangan biarkan aku jatuh lagi. Jika aku harus berjalan sendirian, maka jadilah Engkau pelindungku...”
Zahra menoleh, menatap Ayesha yang kini terisak. Zahra menggenggam tangan Ayesha erat-erat, memberi kekuatan.
Di luar masjid, Faris masih berdiri di balik pintu. Ia mendengar isakan Ayesha, tapi ia tak berani masuk. Ia hanya bisa memejamkan mata, meremas sajadahnya erat-erat.
“Ya Allah... kenapa aku masih belum bisa melepaskannya?
568Please respect copyright.PENANAHF0JCnAE9m
568Please respect copyright.PENANAl4yN8vUb8p
Bab 7
Pertemuan Kembali
Siang itu, masjid kampus dipenuhi mahasiswa yang sedang mengikuti kegiatan bakti sosial. Beberapa mahasiswa mengumpulkan pakaian layak pakai untuk disalurkan ke panti asuhan, sementara sebagian lainnya menyiapkan makanan untuk dibagikan.
Di sudut ruangan, Ayesha sedang melipat pakaian-pakaian sumbangan bersama Zahra dan beberapa mahasiswi lainnya. Meski matanya lelah, bibirnya tersenyum. Hari-hari belakangan ini, ia mulai merasakan ketenangan dalam kesibukan di masjid.
“Ayesha, tolong bantu bawa pakaian ini ke ruangan sebelah, ya,” kata Zahra sambil menyerahkan sekotak kardus.
Ayesha mengangguk. “Baik, Zahra.”
Ia mengangkat kardus itu dan berjalan menuju ruangan logistik di sisi lain masjid. Namun, begitu ia membuka pintu ruangan, langkahnya terhenti.
Di dalam ruangan itu, Faris sedang berdiri sambil memindahkan tumpukan buku ke rak. Ia tampak fokus, wajahnya serius.
Faris belum menyadari kehadiran Ayesha. Tangannya sibuk menyusun buku-buku ke dalam rak, hingga tiba-tiba ia menoleh dan pandangan mereka bertemu.
Waktu seolah berhenti. Ayesha merasa jantungnya berdetak semakin kencang. Tangannya yang memegang kardus bergetar.
Faris terdiam. Wajahnya kaku, tapi sorot matanya jelas menunjukkan keterkejutan.
“Ayesha...” ujar Faris pelan, suaranya bergetar.
Ayesha mengalihkan pandangannya, berusaha mengatur napasnya yang tak beraturan. “Maaf... aku tidak tahu kalau kamu ada di sini.”
“Tidak apa-apa,” jawab Faris cepat, suaranya terdengar lebih tegas dari biasanya.
Ayesha melangkah masuk, meletakkan kardus di sudut ruangan. Ruangan itu terasa semakin sempit. Hanya ada mereka berdua di sana.
Ayesha berjongkok, berpura-pura sibuk membuka kardus dan menata pakaian di dalamnya. Faris masih berdiri, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Ia menatap punggung Ayesha, namun tak berani berkata apa-apa.
Hening.
Hanya suara tumpukan pakaian yang dipindahkan oleh Ayesha yang terdengar. Ayesha terus berusaha menunduk, menyembunyikan wajahnya yang memerah.
Namun, semakin lama, rasa sesak itu semakin menghimpit dada Faris. Kata-kata Ihsan beberapa hari lalu terngiang di kepalanya:
“Dia masih berjuang sendirian. Kalau kamu masih peduli, kenapa tidak mencoba berbicara dengannya?”
Faris menggigit bibirnya, menarik napas panjang, lalu berkata, “Ayesha...”
Ayesha terdiam. Tangannya berhenti bergerak. “Iya?”
“Apa... kamu baik-baik saja?” tanya Faris.
Ayesha masih menunduk. Air matanya hampir jatuh, tapi ia berusaha menahannya. “Aku baik-baik saja,” jawabnya singkat.
Faris mengangguk pelan. Ia tahu jawaban itu tidak jujur. Tapi apa lagi yang bisa ia katakan?
“Aku lihat... kamu semakin rajin ke masjid,” lanjut Faris, mencoba mencairkan suasana.
Ayesha terdiam sejenak. Akhirnya, ia berdiri dan menatap Faris. Mata mereka bertemu. “Iya, aku sedang belajar... untuk berubah.”
“Masya Allah,” ucap Faris lirih. “Aku senang mendengarnya.”
Ayesha tersenyum kecil, tapi senyum itu terasa pahit. “Aku tidak bisa terus berharap padamu, Faris. Aku harus belajar untuk tidak bergantung pada siapa pun... termasuk kamu.”
Faris terdiam. Kata-kata Ayesha menohoknya dalam-dalam.
“Aku tidak menyalahkanmu karena meninggalkanku,” lanjut Ayesha. “Justru aku berterima kasih. Karena saat kamu pergi, aku belajar untuk lebih bergantung pada Allah.”
Faris mengepalkan tangannya. Ia ingin meminta maaf, ingin mengatakan bahwa ia masih peduli, ingin memastikan bahwa Ayesha baik-baik saja. Tapi lidahnya terasa kelu.
Ayesha kembali menunduk, mengambil kardus kosong dan hendak pergi. Tapi sebelum ia melangkah keluar, ia berkata, “Faris... kalau suatu hari nanti aku jatuh lagi, aku harap aku bisa menemukan kekuatanku sendiri untuk bangkit. Jangan pedulikan aku lagi.”
Faris tidak menjawab. Ia hanya bisa menatap punggung Ayesha yang semakin menjauh, hingga pintu ruangan tertutup di belakangnya.
Begitu Ayesha keluar, Faris duduk bersandar di dinding. Tubuhnya terasa lemas. Pandangannya kosong menatap lantai.
“Kenapa aku tidak bisa mengatakan apa-apa? Kenapa aku merasa semakin jauh darinya?”
Faris menutup matanya. Di dalam pikirannya, bayangan Ayesha terus terulang. Ayesha yang menangis di masjid, Ayesha yang meminta maaf, Ayesha yang kini berusaha keras untuk bertahan sendirian.
“Aku ingin menolongnya... tapi aku juga tidak ingin kembali terjebak,” bisik Faris sambil meremas sajadah di tangannya.
Ihsan tiba-tiba masuk ke ruangan, membawa kardus berisi buku. Melihat Faris terduduk lemas, Ihsan mengerutkan dahi. “Ris, kamu kenapa?”
Faris hanya menggeleng lemah. “Ihsan, aku... aku bertemu Ayesha barusan.”
“Oh...” Ihsan duduk di samping Faris. “Kalian bicara?”
“Sedikit. Dia bilang... dia tidak ingin bergantung padaku lagi,” jawab Faris.
Ihsan mengangguk pelan. “Dan apa yang kamu rasakan sekarang?”
Faris menunduk, kedua tangannya bergetar. “Aku merasa semakin tidak berguna. Aku ingin menolongnya, tapi aku juga takut semakin terjebak. Aku bingung, San.”
Ihsan menepuk bahu Faris. “Ris, terkadang cara kita membantu orang bukan dengan selalu berada di samping mereka, tapi dengan berdoa agar mereka bisa kuat menghadapi ujian. Jika kamu masih peduli padanya, berdoalah untuknya. Doa tidak pernah sia-sia.”
Faris terdiam lama. Kata-kata Ihsan terasa menenangkan, tapi di dalam hatinya, konflik itu masih terus bergejolak.
Di luar masjid, Ayesha berjalan cepat menuju taman kampus. Udara sore yang sejuk menyambutnya, namun ia merasa hatinya semakin berat.
Ia duduk di bangku taman, menunduk, dan akhirnya air mata yang sejak tadi ia tahan pecah begitu saja.
“Kenapa rasanya semakin sakit? Kenapa aku masih berharap dia akan kembali?”
Ayesha menarik napas panjang, berusaha menenangkan dirinya. Dalam hati, ia berdoa, “Ya Allah... aku tidak ingin kembali lemah. Aku tidak ingin berharap pada manusia lagi. Jika Faris bukan untukku, maka tolong kuatkan aku agar tidak mengharapkannya lagi.”
Ayesha meraih buku doa dari dalam tasnya. Ia mulai membaca doa-doa yang ditulis Zahra untuknya.
“Ya Allah, aku hanya ingin bisa melupakan rasa ini. Aku hanya ingin bisa fokus untuk berubah...”
Ayesha menutup matanya, berdoa lebih lama, lebih khusyuk. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar ikhlas.
568Please respect copyright.PENANATXZigjcDgh
Malam itu, Faris duduk di lantai kamarnya. Sajadah masih terbentang, namun ia tidak beranjak dari posisinya. Matanya menatap kosong ke arah dinding. Pikirannya masih terjebak dalam pertemuan singkat dengan Ayesha tadi siang.
“Aku tidak bisa terus berharap padamu, Faris. Aku harus belajar untuk tidak bergantung pada siapa pun... termasuk kamu.”
Kata-kata Ayesha terus terngiang di kepalanya. Faris meremas ujung sajadahnya erat-erat. Ia ingin berteriak, ingin meluapkan semua rasa yang tertahan di dadanya.
“Apa yang aku lakukan?” bisiknya pelan. “Kenapa aku merasa semakin jauh darinya? Padahal aku hanya ingin menjauh untuk menjaga diriku sendiri...”
Faris menunduk, memejamkan mata. Ia mencoba berdoa, namun kata-kata terasa tercekat di tenggorokannya.
“Aku ingin mendekatinya... tapi aku takut. Aku takut aku kembali terjebak dalam perasaanku sendiri...”
Di dalam hatinya, Faris merasa semakin tenggelam. Semakin ia berusaha menjauh dari Ayesha, semakin ia merasa dirinya semakin kehilangan arah.
Di kamar kosnya, Ayesha duduk di lantai sambil memegang buku doa pemberian Zahra. Di halaman pertama, Zahra menuliskan sebuah pesan pendek:
“Untuk Ayesha, semoga Allah selalu menguatkan langkahmu. Hijrah itu tidak mudah, tapi jika dilakukan dengan ikhlas, Insya Allah hasilnya akan indah.”
Ayesha menarik napas panjang, mencoba mencerna pesan itu dalam-dalam. Air matanya masih menggenang, tapi kali ini ia tidak ingin menangis.
“Aku harus kuat,” bisiknya sambil memejamkan mata. “Jika Faris tidak ingin menuntunku, maka aku akan mencari jalanku sendiri.”
Ayesha membuka buku itu dan mulai membaca doa-doa perlahan. Setiap kata ia lafalkan dengan hati-hati, seolah berusaha mengukirnya di dalam hatinya.
“Ya Allah, jika aku tidak bisa melupakannya sekarang, maka berikanlah aku kekuatan untuk tetap teguh dalam langkahku...”
Keesokan harinya, Ayesha kembali hadir dalam kegiatan masjid bersama Zahra. Kali ini, mereka mengikuti kajian tentang kesabaran dalam hijrah.
Ustaz Malik berbicara dengan suara tenang namun tegas. “Hijrah bukan tentang seberapa cepat kita berubah, tapi tentang seberapa teguh kita bertahan dalam prosesnya. Jika hari ini kita jatuh, maka bangkitlah. Jika esok kita kembali lemah, maka kuatkanlah diri. Karena hijrah adalah perjalanan panjang, bukan tujuan akhir.”
Ayesha menunduk. Air matanya kembali jatuh tanpa ia sadari. Kata-kata ustaz Malik seolah mengingatkannya pada hari-hari kelam yang baru saja ia lewati.
“Ya Allah, aku jatuh berkali-kali. Tapi aku tidak ingin berhenti. Aku ingin terus melangkah meski perlahan...”
Di barisan belakang, Faris duduk bersama Ihsan. Dari tempatnya duduk, ia bisa melihat Ayesha yang duduk di samping Zahra. Wajah Ayesha tertunduk, sesekali ia menyeka air matanya.
Faris mengepalkan tangannya. Hatinya bergejolak. Ia ingin mendekat, ingin bertanya apa Ayesha baik-baik saja. Tapi ia tidak berani.
“Ayesha terlihat lebih tegar... tapi kenapa aku semakin takut untuk mendekatinya?”
Setelah kajian selesai, para jamaah mulai beranjak keluar. Zahra menggandeng tangan Ayesha. “Ayesha, kamu baik-baik saja?”
Ayesha tersenyum tipis. “Aku baik. Terima kasih sudah menemani aku, Zahra.”
Mereka berdua melangkah menuju pintu keluar. Namun, di depan pintu, langkah Ayesha terhenti. Faris dan Ihsan berdiri di sana, berbicara dengan beberapa jamaah lainnya.
Mata Faris dan Ayesha bertemu. Untuk beberapa detik, mereka hanya saling menatap tanpa kata.
Zahra merasakan ketegangan itu. Ia menggenggam tangan Ayesha lebih erat. “Ayesha, kamu mau pulang sekarang?”
Ayesha mengangguk cepat. “Iya. Ayo, Zahra.”
Mereka berdua melangkah cepat melewati Faris. Tapi saat Ayesha berjalan di depan Faris, sebuah suara tiba-tiba terdengar.
“Ayesha...” panggil Faris pelan.
Ayesha terdiam. Tubuhnya membeku. Zahra menoleh, menatap Faris dengan tatapan bingung.
Faris melangkah maju, berdiri tepat di hadapan Ayesha. Matanya tampak lelah, namun sorotnya tetap tajam.
“Ayesha...” suara Faris terdengar berat. “Aku...”
Ayesha menunduk. Ia tidak sanggup menatap Faris. Hatinya berdebar, tapi ia berusaha menguatkan diri.
“Kalau kamu ingin bicara, katakan saja, Faris,” ujar Ayesha, suaranya gemetar.
Faris menarik napas panjang. Ia berusaha mengumpulkan keberanian untuk mengatakan apa yang selama ini ia pendam. Tapi kata-kata itu tak kunjung keluar.
“Aku...” Faris menelan ludah. “Aku senang kamu bisa tetap kuat...”
Ayesha mendongak. Mata mereka bertemu lagi. “Aku berusaha...”
Faris tersenyum tipis, tapi senyum itu terasa hambar. “Maafkan aku jika aku pernah membuatmu terluka.”
Ayesha menggigit bibirnya. Air matanya mulai menggenang, tapi ia menahannya. “Tidak apa-apa, Faris. Aku sudah memaafkanmu.”
Zahra menyentuh bahu Ayesha. “Ayesha, kita pulang sekarang?”
Ayesha mengangguk. Ia menatap Faris sekali lagi, mencoba mengukir wajahnya dalam ingatan, sebelum akhirnya melangkah pergi.
Faris hanya bisa berdiri terpaku. Tangannya mengepal, tubuhnya bergetar. Hatinya semakin bergejolak. Ia merasa ada sesuatu yang lepas, sesuatu yang tidak akan pernah kembali.
Malam itu, Faris duduk di lantai kamarnya, memeluk lututnya. Mushaf tergeletak di depannya, terbuka di halaman Surat Al-Asr.
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian...”
Faris menutup mushaf itu dengan kasar. Matanya merah. Air matanya akhirnya jatuh.
“Aku pengecut...” isaknya sambil meremas rambutnya. “Aku pengecut karena aku tidak berani berkata jujur padanya. Aku takut untuk mendekatinya, tapi aku juga tidak bisa melepaskannya...”
Di luar, hujan mulai turun. Suara rintik hujan mengiringi isak tangis Faris yang semakin keras. Di dalam hatinya, ia merasa semakin hancur.
“Ya Allah... aku tidak tahu harus bagaimana lagi...”
568Please respect copyright.PENANAiM6BJR2ztP
Malam semakin larut. Hujan masih turun deras di luar jendela kamar Faris. Di dalam kamar yang gelap, Faris duduk bersandar di dinding. Kedua lututnya ditekuk, sementara wajahnya tertunduk dalam.
Mata Faris bengkak. Napasnya berat. Di pangkuannya, mushaf Al-Qur’an tergeletak terbuka. Ayat-ayat yang seharusnya menenangkan hatinya kini justru terasa asing.
“Aku senang kamu bisa tetap kuat...”
“Aku berusaha...”
Kata-kata Ayesha terus terngiang di kepalanya. Wajah Ayesha saat berkata demikian tergambar jelas dalam benaknya. Wajah yang terlihat tegar, namun tersimpan kesedihan mendalam.
“Aku bodoh...” bisik Faris sambil meremas rambutnya. “Kenapa aku tidak bisa berkata jujur? Kenapa aku tidak bisa mengakui bahwa aku masih peduli padanya?”
Faris menutup mushafnya dengan kasar. Hatinya terasa semakin sesak. Ia ingin berteriak, ingin menangis lebih keras, tapi suara itu tertahan di tenggorokannya.
“Ayesha bilang dia sudah memaafkanku...” gumam Faris. “Tapi kenapa aku belum bisa memaafkan diriku sendiri?”
Ia beranjak dari lantai, berjalan gontai menuju jendela. Dingin malam menusuk kulitnya, namun ia tidak peduli. Ia hanya menatap hujan yang terus mengguyur bumi.
“Ya Allah...” bisiknya lirih. “Jika aku memang tidak layak untuknya, maka tolong jauhkan perasaan ini dariku. Aku tidak ingin terus terjebak...”
Namun, jauh di dalam hatinya, Faris tahu ia tidak bisa berbohong pada dirinya sendiri. Ia masih mencintai Ayesha. Dan ia semakin terjebak dalam perasaannya sendiri.
Keesokan paginya, Ayesha duduk di taman kampus bersama Zahra. Mereka berdua duduk di bawah pohon rindang, menikmati udara pagi yang sejuk.
Zahra mengeluarkan dua gelas teh hangat dari tasnya, menyerahkan satu kepada Ayesha. “Nih, untukmu. Semoga bisa menenangkan pikiran.”
Ayesha tersenyum kecil, menerima gelas itu. “Terima kasih, Zahra. Kamu selalu perhatian.”
Zahra menatap Ayesha lekat-lekat. “Ayesha, kamu baik-baik saja? Sejak pertemuan kemarin dengan Faris, kamu terlihat semakin murung.”
Ayesha menghela napas panjang. Matanya menerawang, menatap daun-daun yang berguguran di depannya. “Aku... aku sudah berusaha untuk tidak mengharapkannya lagi. Tapi kenapa rasanya semakin berat, Zahra?”
Zahra menggeser duduknya lebih dekat, merangkul bahu Ayesha. “Ayesha, kamu sudah melakukan yang terbaik. Kamu sudah memulai langkah besar untuk berubah. Jangan biarkan perasaan itu menghalangi proses hijrahmu.”
“Tapi aku masih mencintainya, Zahra...” suara Ayesha bergetar. “Aku ingin melupakannya, tapi kenapa bayangannya semakin jelas? Kenapa aku merasa kehilangan sesuatu yang belum pernah kumiliki?”
Zahra menghela napas panjang. “Ayesha, hijrah itu tidak pernah mudah. Saat kita berusaha berubah, godaan akan semakin besar. Tapi ingat, semakin besar godaannya, semakin besar pula pahala yang akan kita dapatkan jika kita berhasil melewatinya.”
Ayesha menunduk, air matanya mulai menetes. Zahra menariknya ke dalam pelukan, membiarkan Ayesha menangis dalam keheningan pagi itu.
“Ayesha, tidak apa-apa jika kamu masih menangis sekarang. Tidak apa-apa jika kamu masih merasa sakit. Itu semua proses. Tapi percayalah, Allah sedang mempersiapkan sesuatu yang lebih indah untukmu...”
Siang itu, Faris duduk di serambi masjid kampus. Mushaf tergeletak di sampingnya, namun matanya menatap lurus ke arah halaman masjid. Beberapa mahasiswa berlalu lalang, namun Faris tidak menghiraukan mereka.
Ihsan datang dan duduk di samping Faris. “Ris, kamu kenapa? Sejak tadi aku lihat kamu melamun terus.”
Faris menghela napas panjang, tapi tidak menjawab. Ihsan menepuk bahunya. “Masih mikirin Ayesha?”
Faris tersentak. Ia menoleh, menatap Ihsan dengan mata yang lelah. “San, aku bingung. Aku ingin mendekatinya, ingin memastikan dia baik-baik saja. Tapi aku juga takut aku semakin terjebak dalam perasaanku sendiri.”
Ihsan tersenyum tipis. “Ris, kamu tahu apa yang aku lihat kemarin?”
“Apa?”
“Aku lihat Ayesha semakin kuat. Dia memang masih terlihat rapuh, tapi dia sedang berusaha untuk bangkit. Dan itu semua dia lakukan tanpa bantuanmu,” kata Ihsan sambil menatap Faris lekat-lekat.
Faris meremas sajadah di tangannya. “Apa maksudmu, San?”
“Maksudku, mungkin sekarang waktunya kamu berhenti merasa bersalah. Mungkin sudah waktunya kamu membiarkan dia berjalan sendiri. Kalau kamu terus berada di dekatnya, kamu hanya akan membuatnya semakin sulit untuk benar-benar melupakanmu.”
Faris terdiam. Kata-kata Ihsan terasa seperti cambuk yang menghantam hatinya. Ia ingin membantah, ingin mengatakan bahwa ia tidak bermaksud menghalangi Ayesha. Tapi di dalam hatinya, ia tahu apa yang Ihsan katakan benar.
“Ayesha sudah memaafkanmu, Ris. Sekarang saatnya kamu memaafkan dirimu sendiri,” kata Ihsan sambil berdiri. “Dan biarkan dia menemukan jalannya sendiri.”
Faris menunduk, menggigit bibirnya. Air matanya hampir jatuh, tapi ia menahannya.
Malam itu, Ayesha duduk di kamar kosnya. Di depannya, Zahra sedang membuka mushaf. Mereka berdua duduk bersila di lantai, di atas sajadah masing-masing.
“Baiklah, Ayesha. Hari ini kita mulai dari Surat Al-Fatihah, ya,” ujar Zahra sambil tersenyum.
Ayesha mengangguk. Ia merapatkan kedua telapak tangannya, menunduk, dan mulai melafalkan surat itu dengan suara pelan namun tegas.
“Bismillahirrahmanirrahim...”
Air matanya kembali mengalir. Tapi kali ini, bukan air mata kesedihan. Melainkan air mata ketenangan. Untuk pertama kalinya, ia merasakan kedamaian yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
Usai membaca, Zahra merangkul Ayesha. “Masya Allah, Ayesha. Kamu hebat. Kamu sudah lebih kuat dari yang kamu pikirkan.”
Ayesha tersenyum. “Terima kasih, Zahra. Terima kasih sudah mau menuntunku.”
“Tidak perlu berterima kasih padaku. Aku hanya perantara. Semua kekuatan itu datang dari Allah,” kata Zahra sambil mengusap punggung Ayesha lembut.
Ayesha menutup matanya, menarik napas panjang. Dalam hatinya, ia berdoa:
“Ya Allah, aku tidak ingin kembali lemah. Jika aku harus berjalan sendirian, maka kuatkan aku. Jadilah Engkau satu-satunya tempat aku bersandar...”
Di luar kamar, bulan bersinar terang. Malam itu, Ayesha akhirnya menemukan cahaya yang selama ini ia cari. Cahaya yang datang bukan dari Faris, melainkan dari Allah yang selama ini ia abaikan.
568Please respect copyright.PENANAGjQ6Rab4zV
Hujan semakin deras di luar kamar Faris. Angin malam berhembus kencang, membuat jendela kamarnya bergetar pelan. Namun, di dalam kamar itu, suasana terasa lebih mencekam.
Faris duduk bersandar di dinding. Matanya menatap mushaf yang tergeletak di depannya, namun pikirannya melayang jauh. Bayangan Ayesha terus bermain di kepalanya — senyumnya, tatapannya, kata-kata terakhirnya saat mereka bertemu di masjid.
“Aku tidak bisa terus berharap padamu, Faris. Aku harus belajar untuk tidak bergantung pada siapa pun... termasuk kamu.”
Kata-kata itu menghantamnya berkali-kali. Faris menunduk, meremas rambutnya kuat-kuat. Tubuhnya bergetar. Air matanya mulai menetes tanpa ia sadari.
“Aku pengecut...” bisiknya, suaranya bergetar. “Kenapa aku tidak bisa mengatakan apa yang sebenarnya aku rasakan? Kenapa aku hanya diam saat dia berusaha menjauh?”
Faris menutup matanya erat-erat. Bayangan Ayesha yang duduk menangis di masjid semakin jelas di kepalanya. Semakin ia berusaha menghapusnya, semakin kuat bayangan itu muncul.
“Ya Allah...” Faris menunduk, menenggelamkan wajahnya di kedua telapak tangan. “Kenapa aku tidak bisa melepaskannya?”
Malam itu, Faris terisak sendirian. Air matanya mengalir deras. Ia merasa dirinya semakin tenggelam dalam rasa bersalah dan penyesalan yang semakin menghancurkan hatinya.
Di sisi lain kampus, Ayesha duduk bersila di atas sajadah. Udara malam yang dingin menerobos masuk dari jendela kamarnya, tapi ia tidak peduli. Matanya terpejam, bibirnya bergetar melafalkan doa-doa yang kini semakin ia hafal.
“Ya Allah, jika aku harus berjalan sendirian, maka kuatkan langkahku. Jangan biarkan aku kembali lemah...”
Air mata Ayesha menetes, tapi kali ini bukan karena kesedihan. Melainkan karena rasa syukur.
“Aku masih hidup. Aku masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri. Jika Faris bukan untukku, maka aku akan belajar menerima...”
Ayesha membuka matanya perlahan. Hatinya terasa lebih tenang. Ia merasakan kekuatan yang perlahan-lahan tumbuh di dalam dirinya.
“Aku bisa melakukannya,” gumamnya sambil menatap cermin. “Aku bisa berubah tanpa harus berharap pada siapa pun.”
Ayesha mengusap air matanya. Ia berdiri, merapikan sajadahnya, lalu membuka jendela kamarnya. Angin malam yang dingin menyambutnya. Di langit, bulan bersinar terang, seolah-olah ikut menyaksikan tekad baru yang telah ia tetapkan dalam hatinya.
Beberapa hari kemudian, masjid kampus kembali ramai oleh para jamaah yang hendak melaksanakan salat Maghrib berjamaah.
Ayesha datang bersama Zahra. Mereka mengambil tempat di barisan belakang, duduk sambil menunggu adzan berkumandang. Di depan, Faris sedang duduk bersama Ihsan. Wajahnya tampak lelah, matanya sembap.
Ayesha berusaha untuk tidak menoleh ke arah Faris. Namun, hatinya berdebar lebih kencang saat menyadari bahwa Faris ada di sana.
Zahra menyadari kegelisahan Ayesha. Ia menyentuh tangan Ayesha lembut. “Kamu baik-baik saja?”
Ayesha menarik napas panjang. “Aku baik, Zahra. Aku hanya... masih berusaha untuk tidak peduli lagi padanya.”
“Masya Allah. Kamu kuat, Ayesha. Allah akan selalu bersamamu,” ujar Zahra sambil tersenyum.
Adzan Maghrib berkumandang. Suara muadzin menggema di seluruh masjid, membawa ketenangan yang meresap hingga ke dalam hati Ayesha.
Ayesha menunduk, memejamkan mata. Dalam hatinya, ia berdoa:
“Ya Allah, aku mohon, jauhkan rasa ini jika memang tidak seharusnya ada. Aku tidak ingin berharap pada manusia lagi. Aku ingin berharap hanya pada-Mu...”
Usai salat Maghrib, para jamaah mulai beranjak keluar. Ayesha dan Zahra berdiri, berjalan menuju pintu masjid.
Di saat yang sama, Faris dan Ihsan berjalan ke arah yang sama. Tanpa sengaja, mereka bertemu di depan pintu.
Ayesha terdiam. Matanya bertemu dengan mata Faris. Detik itu, waktu terasa berhenti.
Faris menatap Ayesha dalam-dalam. Ada banyak hal yang ingin ia katakan, tapi bibirnya tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun.
Ayesha menghela napas pelan, lalu tersenyum tipis. “Assalamualaikum, Faris.”
Faris tertegun. Suara Ayesha terdengar lebih tenang, lebih tegar. “Waalaikumsalam...” jawabnya lirih.
Ayesha menoleh pada Zahra. “Ayo, Zahra. Kita pulang.”
Zahra mengangguk dan merangkul lengan Ayesha. Mereka berdua melangkah pergi, meninggalkan Faris yang masih berdiri kaku di tempatnya.
Ihsan mendekati Faris, menepuk bahunya. “Ris, kamu baik-baik saja?”
Faris tidak menjawab. Ia hanya menunduk, menggigit bibirnya untuk menahan air mata. Punggung Ayesha semakin menjauh. Ia ingin mengejarnya, ingin mengatakan sesuatu. Tapi kakinya terasa berat, seolah ada rantai tak terlihat yang menahannya untuk tetap diam.
“Ayesha... aku ingin memelukmu. Tapi aku tidak berhak...”
Malam itu, Ayesha duduk di teras kosannya. Langit cerah, bintang-bintang berkelip terang. Di pangkuannya, terdapat buku doa dari Zahra. Ia membukanya, membaca doa-doa pelan-pelan sambil meresapi setiap kata.
Di dalam hatinya, ia merasa lebih kuat. Lebih ikhlas. Ia tahu, proses ini tidak akan mudah. Akan ada hari-hari di mana ia akan kembali terjatuh. Akan ada hari-hari di mana ia akan kembali merindukan Faris. Tapi kini, ia siap.
“Aku akan baik-baik saja,” bisiknya sambil tersenyum tipis. “Karena aku punya Allah. Dan itu sudah lebih dari cukup.”
568Please respect copyright.PENANAMJdIfNISBK
Bab 8
Waktu Bersama yang Berbeda
Siang itu, masjid kampus dipenuhi oleh para mahasiswa yang sedang mengikuti kegiatan kajian mingguan. Di salah satu sudut ruangan, Ayesha duduk berdampingan dengan Zahra.
Di depan, ustaz Malik berbicara dengan penuh ketenangan. Tema kajian hari itu adalah tentang pentingnya persahabatan dalam perjalanan hijrah.
“Hijrah itu perjalanan panjang. Jika kamu merasa lelah, jangan berjalan sendirian. Carilah sahabat yang akan menguatkan langkahmu, yang akan mengingatkanmu saat kamu mulai lemah.”
Ayesha menunduk. Kata-kata ustaz Malik terasa begitu menyentuh hatinya. Ia melirik Zahra di sampingnya, dan Zahra tersenyum hangat.
“Ayesha,” bisik Zahra pelan. “Kamu tahu? Aku bersyukur bisa mengenalmu. Aku merasa kita saling menguatkan.”
Ayesha menahan air matanya. Ia meremas tangan Zahra erat-erat. “Aku juga, Zahra. Kamu seperti cahaya yang Allah kirimkan untukku.”
Zahra tertawa kecil. “Dan kamu adalah sahabat yang selalu aku doakan agar terus kuat. Kamu sudah jauh lebih baik sekarang.”
Ayesha mengangguk. Hatinya terasa hangat. Zahra tidak pernah menuntutnya untuk berubah. Zahra tidak pernah membuatnya merasa bersalah atas masa lalunya.
Kini, waktu-waktu yang ia habiskan di masjid terasa lebih bermakna. Ia tidak lagi merasa kesepian. Ia tidak lagi merasa sendirian. Karena kini, ia memiliki Zahra — sahabat yang selalu ada di sisinya.
Di sisi lain masjid, Faris duduk bersama Ihsan. Mereka duduk di barisan depan, mendengarkan kajian yang sama. Namun, pikiran Faris tidak sepenuhnya berada di sana.
Matanya sesekali melirik ke arah sudut ruangan, tempat Ayesha dan Zahra duduk berdampingan. Ia melihat bagaimana Ayesha tertawa kecil bersama Zahra. Wajah Ayesha tampak lebih cerah, lebih tenang.
“Dia terlihat lebih bahagia sekarang...”
Faris menggigit bibirnya, menunduk. Hatinya terasa nyeri. Ia ingin bersyukur karena Ayesha kini tidak lagi terlihat rapuh. Tapi di sisi lain, ia merasa semakin tidak berarti.
“Ayesha tidak lagi membutuhkan aku...”
“Ris, kamu kenapa?” bisik Ihsan sambil menatap Faris khawatir.
Faris tersentak. Ia cepat-cepat menggeleng. “Enggak, aku baik-baik saja.”
Ihsan mendesah pelan. “Ris, kalau kamu ingin bicara, aku di sini.”
Faris hanya tersenyum tipis. Ia tahu Ihsan ingin membantunya. Tapi bagaimana mungkin ia mengungkapkan bahwa hatinya kini terasa lebih kosong dari sebelumnya?
Usai kajian, Ayesha dan Zahra berjalan beriringan menuju taman kampus. Mereka duduk di bangku panjang di bawah pohon rindang. Angin sore berhembus sejuk, membawa aroma tanah basah.
“Ayesha, kamu kelihatan lebih tenang hari ini,” kata Zahra sambil menyerahkan sebotol air mineral.
Ayesha menerima botol itu sambil tersenyum. “Aku mulai bisa menerima semuanya, Zahra. Mungkin memang begini jalannya. Aku harus belajar untuk tidak bergantung pada siapa pun.”
“Masya Allah, kamu semakin kuat,” ujar Zahra kagum.
Ayesha meneguk air mineralnya perlahan. Ia menoleh ke arah masjid kampus. Jaraknya tidak terlalu jauh, tapi dari tempat duduk mereka, ia bisa melihat Faris dan Ihsan yang masih berbincang di teras masjid.
Faris tampak serius. Wajahnya gelap, matanya menerawang jauh.
Zahra menyadari arah pandangan Ayesha. “Ayesha, kamu masih merindukannya?”
Ayesha terdiam sejenak. Hatinya berdebar. “Mungkin... masih. Tapi aku sudah tidak berharap lagi.”
“Tidak apa-apa jika kamu masih merindukannya. Itu manusiawi,” kata Zahra sambil menggenggam tangan Ayesha. “Tapi ingat, jangan jadikan perasaan itu alasan untuk kembali terpuruk.”
Ayesha mengangguk. “Aku tidak akan terpuruk lagi. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri.”
Di teras masjid, Faris duduk bersandar di tiang masjid. Matanya menatap kosong ke arah langit yang mulai kemerahan. Ihsan duduk di sampingnya, menatapnya dengan penuh kekhawatiran.
“Ris,” Ihsan membuka suara. “Aku tahu kamu masih memikirkan Ayesha.”
Faris mendesah panjang. “Aku hanya... merasa semakin tidak berguna. Dulu aku berpikir Ayesha butuh aku untuk berubah. Tapi sekarang dia terlihat lebih bahagia tanpa aku.”
Ihsan menepuk bahu Faris. “Ris, kamu pernah bilang ingin menjauh untuk menjaga diri. Tapi sekarang kamu justru semakin terjebak dalam perasaanmu sendiri.”
“Aku tidak tahu harus bagaimana, San...”
“Kalau kamu masih peduli padanya, berdoalah untuknya. Dan berdoalah juga agar kamu bisa menerima takdir ini dengan ikhlas,” ujar Ihsan. “Mungkin sekarang bukan waktunya kalian bersama. Mungkin Allah ingin kamu dan Ayesha memperbaiki diri masing-masing terlebih dahulu.”
Faris terdiam. Kata-kata Ihsan terasa seperti tamparan keras. Ia menunduk, meremas sajadah di pangkuannya.
“Aku ingin mendoakannya... tapi kenapa rasanya begitu sulit?”
Sore itu, Ayesha dan Zahra duduk di teras masjid, menghafal doa bersama. Zahra menyebutkan doa perlahan-lahan, sementara Ayesha menirukan dengan suara pelan namun tegas.
Di sisi lain, Faris duduk di dalam masjid, memperhatikan mereka dari kejauhan. Ia melihat Ayesha yang kini tampak semakin cerah, semakin tenang.
Di dalam hatinya, Faris merasakan kekosongan yang semakin besar. Ia tahu ia harus merelakan Ayesha untuk terus melangkah maju. Tapi mengapa perasaan itu semakin berat?
“Ya Allah, aku ingin melihatnya bahagia. Tapi kenapa aku merasa semakin hampa?”
Ayesha menutup buku doanya, lalu menatap Zahra sambil tersenyum lebar. “Terima kasih, Zahra. Aku merasa lebih tenang sekarang.”
Zahra merangkul Ayesha erat-erat. “Kamu sudah melakukan yang terbaik. Kamu sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.”
Ayesha mengangguk, menatap langit yang mulai gelap. Hatinya masih terasa berat, tapi kini ia lebih siap untuk melepaskan.
“Ya Allah, jika memang Faris bukan untukku, maka bantu aku untuk bisa mengikhlaskannya. Jangan biarkan aku kembali terjebak...”
568Please respect copyright.PENANAGut99Qgcbl
Malam itu, Faris duduk sendirian di kamarnya. Lampu kamar sengaja dimatikan. Hanya cahaya bulan yang masuk melalui jendela, menyinari wajahnya yang tampak semakin lelah.
Di pangkuannya, mushaf Al-Qur’an tergeletak terbuka. Namun, ia tidak membaca. Matanya hanya menatap kosong pada ayat-ayat yang terhampar di depannya.
“Ayesha tidak lagi membutuhkan aku...”
Kata-kata itu terus terngiang di kepalanya. Bayangan Ayesha yang kini selalu bersama Zahra semakin jelas. Setiap kali ia melihat Ayesha tersenyum bersama Zahra, hatinya terasa semakin hampa.
“Aku ingin bersyukur karena dia kini lebih kuat... Tapi kenapa aku merasa semakin terasing?” bisiknya lirih.
Faris memejamkan mata. Bayangan Ayesha yang tertawa bersama Zahra terus muncul. Dulu, Ayesha selalu meminta nasihat padanya, selalu bertanya tentang ayat-ayat Al-Qur’an. Tapi kini, peran itu telah diambil alih oleh Zahra.
“Aku sudah tidak berarti apa-apa lagi untuknya...”
Air mata Faris mulai jatuh. Ia meremas sajadah di pangkuannya, menahan isak yang semakin keras.
“Ya Allah...” isaknya. “Aku tahu ini salah. Aku tahu aku yang memilih menjauh. Tapi kenapa hatiku masih belum bisa menerima?”
Keesokan harinya, masjid kampus kembali ramai dengan kegiatan bakti sosial. Para mahasiswa sedang mengemas paket sembako untuk dibagikan kepada warga sekitar.
Di sudut ruangan, Ayesha dan Zahra duduk bersebelahan, membungkus paket-paket sembako sambil berbincang ringan.
“Ayesha, kamu terlihat semakin ceria hari ini,” ujar Zahra sambil menyusun paket-paket berisi beras, minyak goreng, dan mi instan.
Ayesha tersenyum lebar. “Aku merasa lebih ringan sekarang, Zahra. Mungkin karena aku sudah mulai bisa menerima semuanya.”
“Masya Allah, itu kabar baik. Kamu semakin kuat,” puji Zahra sambil tersenyum hangat.
Ayesha tertawa kecil. “Itu semua karena kamu. Kalau tidak ada kamu, mungkin aku sudah kembali terpuruk.”
Zahra menggeleng. “Jangan berkata begitu. Kekuatan itu ada di dalam dirimu sendiri, Ayesha. Aku hanya perantara.”
Ayesha menunduk, merasa terharu. Zahra tidak pernah mengambil pujian untuk dirinya sendiri. Zahra selalu mendorongnya untuk menemukan kekuatan dari dalam dirinya.
“Dulu, aku selalu berharap Faris yang akan menjadi penuntunku. Tapi kini aku sadar, aku bisa berubah tanpa harus bergantung pada siapa pun...”
Di sisi lain ruangan, Faris duduk bersama Ihsan, menyusun paket sembako sambil melirik Ayesha dan Zahra dari kejauhan.
Ihsan memperhatikan bagaimana Faris terus menunduk, ekspresinya muram. “Ris, kamu masih belum bisa merelakan, ya?”
Faris terdiam. Jemarinya sibuk merapikan kardus sembako, tapi matanya terus menatap Ayesha yang sedang tertawa bersama Zahra.
“Aku... aku tidak tahu, San,” jawab Faris akhirnya. “Aku ingin melihatnya bahagia. Tapi kenapa saat aku melihatnya bahagia bersama Zahra, aku justru merasa semakin kosong?”
Ihsan mendesah pelan. “Ris, kamu merasa kosong bukan karena Ayesha bersama Zahra. Tapi karena kamu masih belum bisa memaafkan dirimu sendiri.”
Faris menoleh. “Maksudmu?”
“Selama ini kamu merasa bersalah karena meninggalkan Ayesha. Tapi kamu juga tidak bisa melangkah maju. Kamu terjebak di antara perasaan bersalah dan rasa takut. Dan itu yang membuatmu merasa semakin terasing,” jelas Ihsan.
Faris menggigit bibirnya. Kata-kata Ihsan terasa seperti pukulan telak yang menghantam jantungnya.
“Aku tidak tahu bagaimana caranya mengatasi semua ini, San...” ujar Faris sambil menunduk. “Semakin aku berusaha menjauh, semakin aku merasa kehilangan.”
“Ris,” Ihsan menepuk bahunya pelan. “Mungkin inilah waktunya kamu benar-benar berdoa. Bukan untuk meminta Ayesha kembali, tapi untuk meminta Allah menguatkan hatimu agar bisa menerima takdir ini dengan ikhlas.”
Sore itu, Ayesha dan Zahra duduk di taman kampus. Mereka berdua membawa mushaf Al-Qur’an, membacanya perlahan sambil meresapi setiap ayat.
Ayesha berhenti di Surat Ar-Rahman. Matanya berkaca-kaca saat membaca ayat:
“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
Ayesha menutup mushafnya, menarik napas panjang. “Zahra, aku merasa semakin tenang sekarang. Aku mulai bisa menerima bahwa mungkin Faris bukan untukku.”
Zahra tersenyum, mengusap punggung Ayesha lembut. “Masya Allah. Kamu sudah jauh lebih kuat, Ayesha. Dan kamu tahu? Aku merasa bahagia melihatmu seperti ini.”
Ayesha tersenyum lebar. “Terima kasih, Zahra. Kamu sahabat terbaik yang pernah aku miliki.”
Mereka berdua tertawa kecil. Di saat yang sama, Faris berdiri di kejauhan. Matanya menatap Ayesha dan Zahra yang kini tampak semakin akrab.
Hatinya terasa seperti ditusuk ribuan jarum. Ia melihat Ayesha yang kini tertawa lepas bersama Zahra. Ia melihat Ayesha yang kini tidak lagi memerlukan dirinya.
“Aku sudah tidak punya tempat di hatinya...”
Faris berbalik, melangkah pergi meninggalkan taman. Setiap langkahnya terasa semakin berat. Setiap langkahnya terasa semakin hampa.
Malam itu, Ayesha duduk di kamar kosnya. Ia menyalakan lampu tidur yang remang, menciptakan suasana hangat di dalam kamar. Di pangkuannya, mushaf Al-Qur’an terbuka.
Ayesha mulai melantunkan ayat-ayat dengan suara pelan namun jelas. Air matanya mengalir, namun kini bukan karena kesedihan. Melainkan rasa syukur.
“Ya Allah, aku kini menyadari bahwa aku tidak pernah benar-benar sendirian. Engkau selalu ada untukku, bahkan saat aku merasa paling terpuruk sekalipun...”
Ayesha menutup mushafnya, menarik napas panjang. Malam itu, ia merasakan kedamaian yang begitu dalam. Kedamaian yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
“Aku tidak lagi membutuhkan Faris,” bisiknya. “Karena aku telah menemukan diriku sendiri...”
568Please respect copyright.PENANAWA07dfgJVp
Malam itu, Faris duduk di lantai kamarnya. Jendela terbuka lebar, membiarkan angin malam masuk dan menggoyangkan tirai tipis. Di luar, suara rintik hujan terdengar samar.
Di depannya, mushaf Al-Qur’an terbuka. Faris menatap ayat-ayat itu tanpa benar-benar membacanya. Pikirannya melayang jauh — kembali pada momen sore tadi saat ia melihat Ayesha tertawa bersama Zahra di taman kampus.
“Aku sudah tidak punya tempat di hatinya...”
Faris menghela napas panjang. Kedua tangannya mengepal di pangkuan. Ia merasa dirinya semakin terasing.
“Aku sudah mencoba untuk menjauh... Tapi kenapa rasa ini tidak kunjung hilang?” bisiknya lirih.
Ia meremas ujung sajadahnya erat-erat. Di dalam hatinya, perasaan hampa semakin menghimpit.
“Ayesha terlihat bahagia bersama Zahra... Tapi kenapa aku justru semakin terpuruk?”
Faris menutup mushaf itu dengan kasar, kemudian menunduk. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. Ia memeluk lututnya, meremas rambutnya kuat-kuat.
“Ya Allah... apa aku yang salah? Apa aku harus mendekatinya lagi? Apa aku harus mengatakan perasaanku?”
Namun, bayangan Ayesha yang kini terlihat lebih bahagia tanpa dirinya justru semakin jelas. Ia takut jika ia kembali, ia akan merusak kedamaian yang baru saja Ayesha temukan.
“Aku tidak ingin menyakitinya lagi...” isaknya.
Malam itu, Faris menangis sendirian. Di dalam kamarnya yang gelap, ia merasa dirinya semakin tenggelam dalam rasa bersalah dan penyesalan.
Keesokan harinya, Ayesha dan Zahra duduk di bangku taman kampus. Mereka baru saja selesai mengikuti kajian mingguan di masjid kampus. Matahari sore bersinar hangat, mengeringkan rumput yang basah oleh sisa hujan semalam.
Zahra mengeluarkan sebotol air mineral dari tasnya dan menyerahkannya kepada Ayesha. “Minum dulu, Ayesha. Kamu pasti lelah.”
Ayesha menerima botol itu sambil tersenyum. “Terima kasih, Zahra. Kamu selalu perhatian.”
Zahra menatap Ayesha lekat-lekat. “Ayesha, aku senang melihatmu semakin tegar seperti ini. Kamu sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.”
Ayesha menunduk, menggigit bibirnya. “Aku memang merasa lebih tenang sekarang, Zahra. Tapi... entah kenapa, kadang aku masih teringat Faris.”
Zahra menghela napas panjang. “Itu wajar, Ayesha. Kamu tidak perlu memaksa dirimu untuk melupakan seseorang yang pernah berarti dalam hidupmu. Tapi sekarang, fokuslah pada dirimu sendiri. Biarkan Allah yang mengurus perasaanmu.”
Ayesha mengangguk. “Aku sedang berusaha, Zahra. Dan aku berjanji, aku tidak akan kembali terpuruk.”
Zahra menggenggam tangan Ayesha erat-erat. “Kamu tidak sendiri. Aku akan selalu ada di sini untukmu.”
Ayesha tersenyum, namun di dalam hatinya, masih ada secuil kerinduan yang tak kunjung hilang.
Sore itu, Faris duduk sendirian di teras masjid kampus. Udara sore berhembus dingin, menyentuh wajahnya yang pucat. Di pangkuannya, terdapat buku doa yang sudah lusuh.
Di kejauhan, ia melihat Ayesha dan Zahra berjalan bersama, bercanda sambil tertawa kecil. Pemandangan itu menusuk hatinya.
“Dulu, akulah yang berada di samping Ayesha. Dulu, akulah yang membuatnya tertawa...”
Faris menunduk. Tangannya bergetar, menahan perasaan yang semakin menghimpit. Ia meremas ujung sajadahnya, mencoba menahan air mata.
“Ya Allah...” bisiknya. “Apa aku harus menghilang dari kehidupannya? Apa ini cara-Mu untuk memberiku pelajaran agar tidak terlalu berharap pada manusia?”
Di saat yang sama, Ihsan datang dan duduk di samping Faris. Ia menatap Faris yang semakin kurus, semakin tidak terurus.
“Ris, kamu tidak bisa terus seperti ini,” kata Ihsan sambil menepuk bahu Faris.
Faris tidak menoleh. “Aku sudah tidak tahu apa yang harus kulakukan lagi, San.”
“Kamu tidak perlu melakukan apa-apa. Cukup terima kenyataan. Biarkan Ayesha berjalan di jalannya sendiri. Kamu pun harus mulai melangkah maju,” kata Ihsan tegas.
“Tapi... aku tidak bisa,” ujar Faris, suaranya bergetar. “Aku tidak bisa melupakannya.”
Ihsan menarik napas panjang. “Ris, jika kamu terus terjebak seperti ini, kamu akan semakin tenggelam. Berdoalah agar Allah menguatkan hatimu. Kamu tidak bisa terus hidup dalam bayang-bayang masa lalu.”
Faris terdiam. Matanya mulai memerah. Di dalam hatinya, ada perasaan yang semakin sulit untuk diabaikan.
Malam itu, Ayesha duduk di kamar kosnya. Di pangkuannya, terdapat mushaf Al-Qur’an yang ia pegang erat-erat. Lampu kamar dimatikan. Satu-satunya cahaya hanya berasal dari lampu tidur kecil di sudut ruangan.
Ayesha membuka mushafnya, lalu mulai melafalkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan suara pelan namun jelas. Air matanya mengalir, namun kali ini bukan karena kesedihan. Melainkan rasa syukur.
“Ya Allah, jika selama ini aku merasa kehilangan, maka maafkanlah aku. Karena sesungguhnya aku tidak pernah benar-benar kehilangan, aku hanya sedang Kau uji agar semakin mendekat pada-Mu...”
Ayesha menutup mushafnya. Ia menarik napas panjang, lalu berbaring di kasur sambil menatap langit-langit kamar.
Di dalam hatinya, ia tahu ia masih merindukan Faris. Namun, ia juga tahu, saat ini bukan waktunya untuk meratapi apa yang tidak bisa ia miliki.
“Aku harus melangkah maju...” bisiknya. “Jika Allah menakdirkan aku untuk sendiri, maka aku harus belajar untuk ikhlas...”
Di kamar kosnya, Faris masih duduk bersandar di dinding. Matanya terpejam, wajahnya basah oleh air mata.
Ia teringat kata-kata Ayesha saat terakhir kali mereka berbicara di masjid:
“Aku tidak bisa terus berharap padamu. Aku harus belajar untuk tidak bergantung pada siapa pun... termasuk kamu.”
Faris meremas sajadahnya erat-erat. Hatinya semakin sakit. Ia tahu, Ayesha sudah berusaha untuk melupakannya. Ia tahu, Ayesha kini telah menemukan tempat berlabuh yang lebih tenang.
“Aku yang memilih untuk pergi...” bisiknya. “Tapi kenapa aku yang merasa paling kehilangan?”
Malam itu, Faris menangis lebih keras dari sebelumnya. Di dalam kamar yang gelap, ia merasakan kesepian yang semakin menghimpitnya.
“Ya Allah... aku ingin ikhlas. Tapi kenapa rasanya semakin berat?”
Malam semakin larut. Hujan turun deras di luar jendela kamar Faris. Suara gemuruh petir sesekali menggema, menyatu dengan isak tangis Faris yang tertahan.
Di pangkuannya, terdapat secarik kertas yang telah lusuh. Kertas itu adalah halaman terakhir dari buku catatan kecilnya. Tulisan tangan Faris tergores jelas di sana:
“Ayesha, maafkan aku. Aku terlalu pengecut untuk mengatakan yang sebenarnya. Aku terlalu takut untuk mengaku bahwa aku masih mencintaimu...”
Faris meremas kertas itu, lalu menunduk. Air matanya jatuh, membasahi kertas tersebut.
“Aku pengecut...” bisiknya. “Aku yang memutuskan untuk menjauh, tapi aku juga yang merasa paling kehilangan...”
Ia menutup matanya erat-erat. Dalam kegelapan malam, bayangan Ayesha semakin jelas. Ayesha yang kini terlihat bahagia bersama Zahra. Ayesha yang kini tidak lagi membutuhkan dirinya.
“Aku ingin meminta maaf... tapi aku tidak tahu bagaimana caranya,” ucap Faris sambil menggigit bibirnya. “Jika aku mendekatinya lagi, aku hanya akan menyakitinya...”
Malam itu, Faris memeluk lututnya erat-erat. Isaknya semakin keras, seolah-olah seluruh perasaan yang ia pendam selama ini akhirnya pecah tanpa bisa ditahan.
Sementara itu, di taman kampus, Ayesha dan Zahra duduk di bangku panjang di bawah pohon rindang. Udara malam yang dingin menyelimuti mereka, namun Ayesha justru merasa lebih hangat dari sebelumnya.
Zahra menatap Ayesha yang kini tampak lebih tenang. Wajah Ayesha tidak lagi dipenuhi kesedihan seperti dulu. Matanya kini lebih bercahaya, bibirnya tersenyum tipis.
“Kamu terlihat lebih bahagia sekarang,” kata Zahra sambil tersenyum.
Ayesha mengangguk. “Aku belajar untuk menerima semuanya, Zahra. Jika dulu aku merasa kehilangan, sekarang aku justru merasa lebih utuh.”
“Masya Allah,” ujar Zahra sambil menggenggam tangan Ayesha. “Aku bangga padamu, Ayesha. Kamu sudah berhasil melalui hari-hari terberatmu.”
Ayesha menarik napas panjang, menatap langit malam yang penuh bintang. “Dulu, aku selalu berharap Faris yang akan menuntunku. Tapi sekarang, aku menyadari bahwa aku tidak perlu bergantung pada siapa pun untuk berubah. Allah selalu ada di sini... di hati ini.”
Zahra tersenyum. “Dan kamu tidak sendiri, Ayesha. Aku akan selalu di sini bersamamu.”
Ayesha menoleh pada Zahra, air matanya menggenang. Namun, air mata itu bukan lagi air mata kesedihan. Melainkan air mata rasa syukur.
“Terima kasih, Zahra. Kamu adalah sahabat yang tidak pernah pergi, bahkan saat aku berada di titik terendahku,” ucap Ayesha sambil meremas tangan Zahra erat-erat.
Di kamar kosnya, Faris masih terduduk di lantai. Hujan semakin deras, suara petir semakin keras. Namun, hatinya justru semakin sunyi.
Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk. Dari Ihsan.
Ihsan: “Ris, aku di depan kosanmu. Boleh masuk?”
Faris menghapus air matanya cepat-cepat. “Masuk saja, San,” jawabnya lemah.
Pintu kamar terbuka perlahan. Ihsan melangkah masuk, membawa dua gelas teh hangat. Ia duduk di samping Faris, meletakkan gelas itu di lantai.
“Ris,” kata Ihsan sambil menatap Faris lekat-lekat. “Kamu sudah terlalu lama menyiksa dirimu sendiri.”
Faris menunduk. Matanya kosong, tubuhnya lemas. “Aku tidak tahu bagaimana caranya menghilangkan rasa ini, San. Aku tidak bisa melupakannya...”
Ihsan menarik napas panjang. “Kamu tidak perlu melupakannya, Faris. Tapi kamu harus menerima kenyataan bahwa Ayesha kini sudah menemukan kebahagiaannya. Tanpa kamu.”
Faris mengepalkan tangannya. Air matanya kembali jatuh. “Aku merasa gagal, San. Aku merasa tidak berguna...”
“Ris,” Ihsan menggenggam bahu Faris erat-erat. “Kamu bukan tidak berguna. Kamu hanya sedang terluka. Dan luka itu hanya akan sembuh jika kamu berhenti menyalahkan dirimu sendiri.”
Faris memejamkan mata. Di dalam hatinya, rasa sakit itu semakin menghimpit.
“Apa aku harus benar-benar melupakannya, San?”
Ihsan tersenyum tipis. “Tidak. Tapi belajarlah untuk mengikhlaskannya. Berdoalah agar Allah menguatkan hatimu. Jika memang Ayesha bukan untukmu, maka mintalah agar Allah segera menggantikan rasa itu dengan ketenangan.”
Faris hanya bisa mengangguk lemah. Malam itu, ia merasakan kesendirian yang semakin menyesakkan.
Di kamar kosnya, Ayesha duduk di atas sajadah. Di hadapannya, terdapat mushaf Al-Qur’an yang terbuka. Ia menunduk, menutup mata, lalu mulai berdoa:
“Ya Allah, jika selama ini aku terlalu berharap pada manusia, maka ampuni aku. Jika aku terlalu bergantung pada perasaan yang tidak seharusnya, maka kuatkan hatiku untuk melepaskannya...”
Ayesha menarik napas panjang. Air matanya jatuh, namun ia tidak menahan. Kali ini, ia membiarkan semua rasa itu mengalir.
“Aku ikhlas, ya Allah... Jika Faris memang bukan untukku, maka aku akan belajar untuk mengikhlaskannya. Berikan aku kekuatan untuk tetap teguh, meski hatiku masih terluka...”
Ayesha menutup mushafnya, lalu berdiri dan membuka jendela. Angin malam yang sejuk menerpa wajahnya.
“Aku tidak sendiri. Aku tidak pernah sendiri. Allah selalu ada di sini...”
Ayesha tersenyum tipis, menatap langit malam yang penuh bintang. Untuk pertama kalinya, ia merasa hatinya lebih ringan. Lebih bebas.
568Please respect copyright.PENANA1nDcM0iKXP
Bab 9
Pertarungan Batin
Pagi itu, hujan kembali turun membasahi kampus. Langit mendung, seolah mencerminkan suasana hati Faris yang semakin kelam.
Faris duduk di bangku taman kampus, sendirian. Di tangannya, sebuah buku catatan kecil yang berisi tulisan-tulisan tentang perjalanan spiritualnya bersama Ayesha. Setiap halaman penuh dengan kenangan. Setiap kata mengingatkannya pada masa lalu yang kini terasa begitu jauh.
Ia membuka salah satu halaman, membaca kutipan yang pernah ia tulis:
“Jika aku jatuh, ingatkan aku untuk kembali kepada-Nya.”
Faris menarik napas panjang. Hatinya terasa semakin berat. Kini, ia yang jatuh. Ia yang kehilangan arah. Tapi tidak ada lagi Ayesha yang akan mengingatkannya.
“Aku yang meninggalkannya... Tapi kenapa aku merasa paling kehilangan?” bisiknya sambil meremas buku itu erat-erat.
Matanya mulai memerah. Bayangan Ayesha terus bermain di kepalanya — Ayesha yang kini lebih ceria bersama Zahra. Ayesha yang semakin tegar tanpa dirinya.
“Aku tidak lagi punya tempat di hatinya...”
Di masjid kampus, Ayesha duduk bersila di sudut ruangan. Matanya tertutup, bibirnya bergetar melafalkan zikir. Tapi pikirannya tidak tenang. Rasa rindunya pada Faris semakin kuat.
Di hadapannya, Zahra duduk bersila sambil menatap Ayesha lekat-lekat. Wajah Ayesha tampak lelah, matanya sembap.
“Ayesha,” panggil Zahra pelan. “Kamu baik-baik saja?”
Ayesha membuka matanya perlahan. Ia menghela napas panjang. “Aku... aku tidak tahu, Zahra. Aku merasa lelah...”
Zahra menggenggam tangan Ayesha. “Lelah karena apa?”
Ayesha menunduk, air matanya mulai menggenang. “Lelah karena berusaha melupakan seseorang yang tidak bisa aku lupakan. Lelah karena harus berpura-pura tegar saat hatiku masih terluka...”
Zahra meremas tangan Ayesha lebih erat. “Ayesha, kamu sudah melakukan yang terbaik. Tidak apa-apa jika kamu masih merindukannya. Itu manusiawi.”
“Tapi kenapa rasanya semakin berat?” bisik Ayesha. “Kenapa semakin aku berusaha melupakan, semakin kuat rasa ini muncul?”
Zahra tersenyum lembut. “Karena kamu belum benar-benar ikhlas. Kamu masih berharap, Ayesha. Kamu masih menunggu Faris untuk kembali.”
Ayesha terdiam. Kata-kata Zahra terasa seperti tamparan keras. Ia tahu Zahra benar. Meski ia berusaha menguatkan hati, di dalam lubuk hatinya, ia masih berharap Faris akan datang dan memeluknya.
Di kamar kosnya, Faris duduk bersandar di dinding. Lampu kamar sengaja dimatikan. Kamar itu gelap dan sunyi, hanya ada suara hujan di luar jendela.
Di pangkuannya, mushaf Al-Qur’an terbuka. Namun, Faris tidak sedang membaca. Matanya menatap ayat-ayat itu kosong.
“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan...” (QS. Al-Insyirah: 6)
Faris menghela napas panjang. Ia tahu ayat itu. Ia hafal betul maknanya. Tapi mengapa kini kata-kata itu terasa begitu asing?
“Aku merasa semakin jauh dari-Nya...” bisiknya. “Aku semakin tenggelam dalam perasaan ini.”
Ia teringat kata-kata Ihsan semalam:
“Kamu harus mulai melangkah maju, Ris. Kalau kamu terus terjebak dalam perasaan bersalah, kamu tidak akan pernah bisa bangkit.”
Faris menutup mushafnya perlahan. Ia memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam. Dalam kegelapan malam, bayangan Ayesha kembali muncul — Ayesha yang tertawa bersama Zahra.
“Ayesha...” bisiknya. “Aku ingin meminta maaf padamu... Tapi aku terlalu pengecut untuk melakukannya.”
Sore itu, hujan telah reda. Ayesha dan Zahra berjalan beriringan menuju taman kampus. Udara sore terasa sejuk, meninggalkan aroma tanah basah yang khas.
Di bangku taman, Faris duduk sendirian. Matanya tertunduk, tangannya meremas buku catatan kecilnya.
Zahra melihat Faris dari kejauhan. Ia melirik Ayesha. “Ayesha... kamu ingin bicara dengannya?”
Ayesha berhenti melangkah. Tubuhnya tegang. Ia menatap punggung Faris yang tampak lemah dan rapuh.
“Apa aku harus mendekatinya? Apa aku harus bertanya apakah dia baik-baik saja?”
Namun, Ayesha hanya menggigit bibirnya. Ia menarik napas panjang, lalu menggeleng pelan. “Tidak, Zahra. Biarkan saja. Mungkin memang ini jalannya.”
Zahra mengangguk, merangkul bahu Ayesha. “Kamu sudah melakukan yang terbaik. Sekarang, waktunya kamu menjaga hatimu.”
Mereka melangkah pergi, meninggalkan Faris yang masih duduk membeku di bangku taman.
Dari tempatnya duduk, Faris menyadari kehadiran Ayesha dan Zahra. Ia melihat mereka melangkah pergi bersama. Hatinya semakin sakit.
“Dia benar-benar pergi...”
Faris menunduk, meremas buku catatannya semakin kuat. Di dalam hati, rasa sakit itu semakin mendalam.
“Ayesha... aku ingin mengejarmu... tapi aku tidak punya keberanian...”
Malam itu, Ayesha duduk di kamar kosnya. Di depannya, mushaf Al-Qur’an terbuka. Ia berusaha membaca ayat-ayat itu, tapi matanya terus berkaca-kaca.
“Kenapa aku masih berharap? Kenapa aku masih merindukannya?”
Di sisi lain, Faris berbaring di kasurnya. Matanya menatap langit-langit kamar. Dalam pikirannya, suara Ayesha terus terngiang-ngiang.
“Aku tidak bisa terus berharap padamu, Faris. Aku harus belajar untuk tidak bergantung pada siapa pun... termasuk kamu.”
Faris mengepalkan tangannya. Air matanya jatuh, membasahi bantal.
“Ya Allah, kenapa aku tidak bisa menghilangkan rasa ini? Kenapa semakin aku berusaha menjauh, semakin kuat rasa ini muncul?”
Malam itu, Ayesha dan Faris berdoa di tempat masing-masing. Keduanya menangis. Keduanya berjuang untuk melepaskan. Tapi di dalam hati, rasa itu semakin kuat.
Ayesha menggenggam sajadahnya erat-erat. “Ya Allah, bantu aku untuk ikhlas...”
Faris memejamkan mata, meremas bantalnya kuat-kuat. “Ya Allah, jika dia bukan untukku, maka bantu aku untuk melupakannya...”
Di luar, hujan kembali turun. Suara rintik hujan terdengar seperti nyanyian duka yang menemani dua hati yang sedang berperang melawan perasaan masing-masing.
568Please respect copyright.PENANA7YgY27k7TY
Hujan masih turun deras di luar. Langit malam tampak gelap pekat, seolah-olah enggan memberikan sedikit pun cahaya bagi Faris yang kini terbaring di lantai kamarnya.
Di tangannya, kertas lusuh yang sejak tadi ia genggam kini mulai basah oleh air mata. Kertas itu berisi tulisan-tulisan yang tidak pernah ia berani tunjukkan pada siapa pun. Kata-kata yang hanya ia tulis untuk menenangkan hatinya sendiri.
Faris menarik napas panjang, memejamkan mata. Suara hujan menggema di telinganya, namun pikirannya justru semakin bising. Bayangan Ayesha terus muncul — Ayesha yang kini lebih ceria bersama Zahra.
“Kenapa aku tidak bisa mengikhlaskannya? Kenapa semakin aku berusaha melupakan, semakin aku merasa terjebak?”
Faris membuka matanya perlahan. Ia menatap kertas di tangannya. Jemarinya gemetar. Ia ingin merobeknya, ingin menghancurkan setiap kenangan yang masih tertulis di sana. Tapi ia tidak sanggup.
“Ayesha... apakah kamu masih mengingatku? Apakah kamu masih merasakan hal yang sama?”
Faris menutup matanya lagi. Air matanya kembali mengalir deras. Malam itu, ia merasakan kesendirian yang semakin mencekik.
Di kamar kosnya, Ayesha duduk di tepi ranjang. Ponselnya tergeletak di sampingnya, layar menyala memperlihatkan foto dirinya dan Zahra saat kegiatan masjid kemarin.
Ayesha menatap foto itu lama. Di foto itu, ia terlihat tersenyum lebar bersama Zahra. Tapi malam ini, senyum itu terasa begitu asing.
Ayesha meraih ponselnya, membuka galeri foto. Di sana, tersimpan beberapa foto lama — foto-foto saat ia dan Faris masih akrab. Foto saat mereka belajar bersama di perpustakaan. Foto saat Faris membantunya membawa buku-buku berat.
Ayesha menutup mulutnya, menahan isak yang hampir pecah. Air matanya jatuh membasahi layar ponsel.
“Kenapa aku masih menyimpan foto ini? Kenapa aku masih berharap dia akan kembali?”
Ayesha menggigit bibirnya. Dalam hatinya, perasaan itu semakin kuat. Rindu yang ia pendam semakin membuncah.
“Aku sudah berjanji untuk tidak berharap pada siapa pun lagi,” bisiknya sambil menghapus foto-foto Faris satu per satu.
Namun, saat sampai pada foto terakhir — foto Faris yang sedang tersenyum lebar sambil memegang mushaf Al-Qur’an — Ayesha terdiam. Jemarinya berhenti di atas tombol hapus.
“Faris...” bisiknya. “Kenapa aku tidak bisa melupakanmu?”
Keesokan harinya, masjid kampus dipenuhi jamaah yang akan melaksanakan salat Dhuha. Di sudut masjid, Faris duduk bersandar di dinding. Matanya terpejam, kepalanya menunduk.
Di barisan depan, Ayesha duduk bersama Zahra. Mereka sedang membaca Al-Qur’an bersama. Namun, Ayesha tidak benar-benar fokus. Matanya sesekali melirik ke arah Faris yang duduk sendirian di belakang.
Zahra menyadari kegelisahan Ayesha. Ia menutup mushafnya perlahan. “Ayesha, kamu masih belum bisa melupakannya?”
Ayesha tersentak. Ia menunduk, menutup mushafnya cepat-cepat. “Aku... aku sudah berusaha, Zahra. Tapi entah kenapa, setiap kali aku melihatnya, rasa itu kembali muncul.”
Zahra menggenggam tangan Ayesha. “Ayesha, kamu sudah melakukan yang terbaik. Jika perasaan itu masih ada, mungkin itu adalah ujian untuk hatimu. Tapi jangan biarkan rasa itu menguasaimu.”
Ayesha mengangguk lemah. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Tapi saat pandangannya kembali tertuju pada Faris, hatinya kembali bergetar.
“Kenapa aku merasa dia semakin hancur? Kenapa aku justru merasa semakin bersalah?”
Usai salat Dhuha, Faris duduk di teras masjid. Wajahnya menunduk, kedua tangan saling menggenggam. Di sampingnya, Ihsan duduk sambil menatapnya khawatir.
“Ris,” kata Ihsan akhirnya. “Sampai kapan kamu akan terus seperti ini?”
Faris tidak menjawab. Matanya tetap menatap lantai.
Ihsan mendesah panjang. “Ris, kamu terus menyiksa dirimu sendiri. Kamu bilang ingin menjauh dari Ayesha, tapi kenyataannya kamu masih di sini, terus mengawasinya.”
Faris mengepalkan tangan. “Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja, San...”
“Tapi kamu juga tidak bisa terus begini. Ayesha sudah mulai melangkah maju. Dia sudah berusaha mengikhlaskanmu. Tapi kamu justru semakin terjebak dalam rasa bersalahmu,” ujar Ihsan tegas.
“Aku tahu...” bisik Faris. “Tapi setiap kali aku melihatnya bersama Zahra, aku merasa semakin hancur. Seolah-olah aku sudah tidak ada artinya lagi.”
Ihsan menatap Faris lama. “Ris, bukan Ayesha yang membuatmu merasa tidak berarti. Tapi rasa bersalahmu sendiri.”
Faris menutup matanya rapat-rapat. Air matanya kembali jatuh. “Aku merasa telah menyia-nyiakan seseorang yang sangat berharga... Dan kini, aku tidak tahu bagaimana caranya untuk kembali.”
Di kamar kosnya, Ayesha duduk di atas sajadah. Matanya terpejam, bibirnya bergetar melafalkan doa.
“Ya Allah, jika aku masih menyimpan rasa ini, maka ampunilah aku. Jika aku masih berharap pada seseorang yang tidak Kau takdirkan untukku, maka bantulah aku untuk melepaskannya...”
Air mata Ayesha semakin deras mengalir. Di dalam hatinya, rasa rindu itu semakin membesar. Namun, ia berusaha menahannya. Ia berusaha untuk ikhlas.
“Aku sudah berjanji untuk tidak berharap pada manusia lagi. Tapi kenapa aku masih merindukan Faris? Kenapa aku merasa dia masih membutuhkan aku?”
Ayesha membuka matanya perlahan. Ia menatap mushaf Al-Qur’an di hadapannya. Jemarinya menyentuh sampul mushaf itu. Dulu, mushaf itu adalah hadiah dari Faris.
Ayesha menggelengkan kepala. Ia tidak boleh terjebak lagi.
“Aku harus kuat...” bisiknya sambil menggenggam mushaf itu erat-erat. “Aku tidak boleh kembali lemah hanya karena perasaan ini...”
Malam itu, Ayesha menangis lebih keras dari sebelumnya. Tapi di dalam hatinya, ia tetap berdoa agar Allah menguatkan hatinya, meski rasa rindu itu semakin menyiksanya.
568Please respect copyright.PENANAU06OpWFTrQ
Malam semakin larut. Hujan di luar mulai mereda, menyisakan suara tetesan air yang jatuh dari atap kamar kos Faris. Di dalam kamar yang gelap, Faris duduk bersandar di dinding.
Di pangkuannya, terdapat buku catatan kecil yang lusuh. Halaman-halamannya penuh coretan, tulisan-tulisan tentang perasaan yang tak pernah terucapkan. Faris membuka halaman terakhir, menatap kalimat yang baru saja ia tulis:
“Jika aku masih berharap pada Ayesha, maka maafkanlah aku, ya Allah. Jika aku masih mencintainya, maka kuatkan hatiku untuk mengikhlaskannya...”
Faris menutup buku itu perlahan. Matanya terasa berat. Kepalanya pening.
“Aku tidak bisa terus seperti ini...” bisiknya. “Aku tidak bisa terus menyiksa diriku sendiri...”
Ia memejamkan mata. Bayangan Ayesha kembali muncul — Ayesha yang kini lebih ceria bersama Zahra. Ayesha yang tampaknya telah menemukan ketenangan tanpa dirinya.
Faris meremas ujung sajadahnya erat-erat. “Kenapa aku yang memilih menjauh, tapi aku juga yang merasa paling kehilangan?”
Malam itu, Faris menangis lebih keras dari sebelumnya. Tangisnya menggema di kamar yang sepi, seolah-olah hanya dirinya yang merasakan kesedihan itu.
Di kamar kosnya, Ayesha duduk bersila di atas sajadah. Lampu kamar dimatikan. Satu-satunya cahaya hanya berasal dari lampu tidur yang redup di sudut ruangan.
Di pangkuannya, mushaf Al-Qur’an terbuka. Namun, Ayesha tidak sedang membaca. Matanya terpejam, bibirnya bergetar melafalkan doa.
“Ya Allah, jika aku masih berharap padanya, maka ampuni aku. Jika aku masih merindukannya, maka kuatkan hatiku untuk bisa melepaskannya...”
Air matanya jatuh, membasahi halaman mushaf. Rasa rindunya pada Faris semakin besar.
Ayesha membuka matanya perlahan. Ia mengambil ponselnya dari atas meja. Jemarinya bergerak, membuka galeri foto.
Di sana, masih tersimpan foto-foto dirinya dan Faris. Foto saat mereka belajar bersama di perpustakaan. Foto saat Faris membantunya membawa buku-buku berat. Foto saat Faris tersenyum sambil memegang mushaf Al-Qur’an.
Ayesha menatap foto terakhir itu lama. Wajah Faris yang tersenyum lebar seolah sedang menatapnya langsung.
“Kenapa aku tidak bisa melupakanmu? Kenapa semakin aku berusaha melangkah, semakin kuat rasa ini muncul?”
Ayesha menggigit bibirnya. Jemarinya bergetar saat hendak menghapus foto-foto itu. Tapi ia tidak sanggup. Tangisnya semakin pecah.
“Aku tidak boleh lemah lagi...” bisiknya sambil menutup wajahnya. “Aku harus ikhlas... Aku harus ikhlas...”
Keesokan paginya, langit tampak cerah. Matahari bersinar terang, menghangatkan udara dingin sisa hujan semalam.
Ayesha dan Zahra duduk di bangku taman kampus. Di depan mereka, para mahasiswa lalu-lalang menuju kelas masing-masing.
Zahra menyerahkan sebotol air mineral pada Ayesha. “Minum dulu, Ayesha. Kamu kelihatan pucat.”
Ayesha menerima botol itu dengan senyum lemah. “Terima kasih, Zahra.”
Zahra menatap Ayesha lekat-lekat. “Kamu masih memikirkan Faris, ya?”
Ayesha terdiam. Tangannya memutar-mutar tutup botol, matanya menerawang jauh. “Aku sudah berusaha untuk tidak memikirkannya... Tapi entah kenapa, setiap kali aku berdoa, namanya selalu muncul di hatiku.”
Zahra menarik napas panjang. “Ayesha, kamu sudah berusaha untuk ikhlas. Jika rasa itu masih ada, mungkin itu adalah ujian dari Allah untuk menguatkan hatimu.”
Ayesha menunduk, menggigit bibirnya. “Tapi kenapa rasanya semakin berat? Kenapa semakin aku berusaha melupakan, semakin kuat rasa ini muncul?”
Zahra mengusap punggung Ayesha lembut. “Karena kamu masih belum benar-benar melepaskannya, Ayesha. Kamu masih berharap Faris akan kembali...”
Ayesha terisak. Air matanya kembali jatuh. “Aku tidak ingin berharap lagi, Zahra. Tapi kenapa hatiku masih belum bisa menerima kenyataan ini?”
Di dalam masjid kampus, Faris duduk sendirian di saf belakang. Kepalanya tertunduk, kedua tangan meremas sajadah di pangkuannya.
Ihsan datang dan duduk di sampingnya. Ia menatap Faris yang tampak semakin kurus, wajahnya pucat.
“Ris, kamu harus mulai berdamai dengan dirimu sendiri,” kata Ihsan pelan.
Faris terdiam. Matanya kosong, menatap lantai masjid tanpa fokus.
“Kamu tidak bisa terus menyiksa dirimu seperti ini, Ris. Ayesha sudah mulai melangkah maju. Tapi kamu justru semakin terjebak dalam penyesalan,” lanjut Ihsan.
“Aku ingin meminta maaf padanya, San,” bisik Faris. “Tapi aku tidak tahu caranya. Aku takut jika aku mendekatinya lagi, aku akan menghancurkannya.”
Ihsan menarik napas panjang. “Ris, mungkin sudah saatnya kamu benar-benar pergi. Pergi bukan untuk melupakan, tapi untuk menyembuhkan dirimu sendiri.”
Faris menoleh. “Maksudmu?”
“Jika kamu terus berada di sini, kamu hanya akan semakin terjebak dalam bayang-bayang Ayesha. Mungkin Allah ingin kamu fokus memperbaiki dirimu terlebih dahulu,” ujar Ihsan tegas.
Faris menunduk. Kata-kata Ihsan terasa seperti tusukan yang dalam. Ia tahu Ihsan benar. Tapi hatinya belum siap.
“Aku tidak tahu apakah aku sanggup meninggalkannya, San...”
“Kamu tidak harus meninggalkannya selamanya. Tapi berikan dirimu ruang untuk sembuh, Ris. Jika memang Ayesha bukan untukmu, maka mintalah agar Allah menggantikan rasa ini dengan ketenangan.”
Malam itu, Ayesha duduk di teras kamar kosnya. Udara malam terasa dingin, menusuk kulitnya. Di tangannya, terdapat buku doa yang Zahra berikan.
Ayesha membuka halaman pertama. Di sana, Zahra menulis sebuah pesan:
“Ayesha, jika kamu merasa lelah, maka istirahatlah. Jika kamu merasa sedih, maka menangislah. Tapi jika kamu merasa hampa, maka kembalilah kepada-Nya. Allah tidak pernah meninggalkanmu, meski Faris pergi...”
Ayesha terisak. Jemarinya meremas buku itu erat-erat.
“Ya Allah...” bisiknya sambil menatap langit malam. “Jika aku harus melepaskannya, maka bantulah aku untuk mengikhlaskannya. Jika aku harus berjalan sendirian, maka jadilah Engkau penuntun jalanku...”
Malam itu, Ayesha menangis lebih keras dari sebelumnya. Namun di dalam tangisannya, ada doa yang semakin mantap ia panjatkan.
“Aku harus kuat. Aku harus ikhlas. Meski hatiku masih merindukannya...”
Malam semakin larut. Suara rintik hujan semakin pelan, menyisakan keheningan yang terasa semakin mencekam di kamar kos Faris.
Faris duduk bersandar di dinding. Matanya sembap, bibirnya bergetar. Di pangkuannya, terdapat mushaf Al-Qur’an yang terbuka. Namun, ia tidak sedang membaca. Pandangannya kosong, menatap ayat-ayat itu tanpa benar-benar memahaminya.
“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan...” (QS. Al-Insyirah: 6)
Faris menutup mushafnya perlahan, lalu meletakkannya di meja samping. Ia menghela napas panjang, mencoba meredakan debaran jantungnya yang semakin kencang.
Di dalam kepalanya, kata-kata Ihsan terus terngiang:
“Ris, mungkin sudah saatnya kamu benar-benar pergi. Berikan ruang bagi dirimu untuk sembuh...”
Faris memejamkan mata. Hatinya terasa begitu berat. Jika ia benar-benar pergi, maka itu berarti ia harus meninggalkan Ayesha sepenuhnya. Ia tidak akan lagi melihat gadis itu duduk bersama Zahra di masjid. Ia tidak akan lagi melihat senyum manis Ayesha saat membaca Al-Qur’an.
“Aku tidak tahu apakah aku sanggup...” bisiknya, air mata kembali mengalir.
Namun, di dalam hatinya, Faris tahu, jika ia terus berada di sini, ia hanya akan semakin terpuruk. Ia tidak akan pernah bisa benar-benar melangkah maju jika terus berada di dekat Ayesha.
“Ya Allah...” Faris menggigit bibirnya, mencoba menahan isak. “Jika memang ini adalah jalan terbaik, maka kuatkan hatiku untuk melangkah...”
Malam itu, Faris mengambil keputusan berat. Ia akan meninggalkan kampus, meninggalkan Ayesha, untuk mencari ketenangan yang selama ini tidak pernah ia temukan.
Di teras kamar kosnya, Ayesha duduk bersila di atas sajadah. Angin malam berhembus dingin, namun ia tidak beranjak.
Di pangkuannya, terdapat buku doa dari Zahra yang kini telah lusuh. Halaman-halamannya penuh dengan tulisan-tulisan penguat hati yang Zahra tulis untuknya.
Ayesha membuka halaman pertama, membaca pesan yang Zahra tulis dengan tinta hitam tebal:
“Ayesha, jika kamu merasa lelah, maka menangislah. Tapi jangan pernah berhenti melangkah. Hijrah bukan tentang seberapa jauh kamu meninggalkan masa lalu, tapi tentang seberapa kuat kamu menjaga imanmu agar tidak kembali terjatuh.”
Ayesha menarik napas panjang, memejamkan mata. Di dalam hatinya, ia masih merasakan rasa rindu yang begitu besar pada Faris. Tapi kini, rasa rindu itu tidak lagi membuatnya merasa rapuh.
“Aku harus belajar mengikhlaskanmu, Faris. Jika aku terus berharap pada manusia, aku hanya akan semakin terluka...”
Ayesha membuka matanya perlahan. Ia mengusap air matanya, lalu menatap langit malam yang gelap. Di dalam hatinya, ia berdoa:
“Ya Allah, jika rasa ini tidak seharusnya ada, maka hapuskanlah. Jika aku harus berjalan sendirian, maka jadilah Engkau penguat langkahku. Jangan biarkan aku kembali terjatuh...”
Ayesha menutup buku doa itu dan berdiri. Malam itu, untuk pertama kalinya, ia merasa lebih ringan. Ia merasa lebih tenang.
“Aku akan baik-baik saja. Aku tidak sendiri. Allah selalu ada di sini...”
Pagi itu, langit cerah. Matahari bersinar hangat, menyapu sisa-sisa embun di dedaunan.
Faris berdiri di depan kosannya, menatap tas ransel yang telah ia kemas. Di tangannya, tiket bus yang akan membawanya pergi dari kota ini. Pergi untuk waktu yang belum ditentukan.
Ihsan berdiri di samping Faris. Wajahnya tampak berat, namun ia berusaha tersenyum.
“Kamu yakin dengan keputusan ini, Ris?” tanya Ihsan.
Faris mengangguk lemah. “Aku harus pergi, San. Aku harus menemukan diriku sendiri. Jika aku terus di sini, aku tidak akan pernah bisa benar-benar melepaskannya.”
Ihsan menepuk bahu Faris. “Kamu tidak sendirian, Ris. Jika kamu butuh tempat untuk curhat, aku selalu ada di sini.”
Faris tersenyum tipis. “Terima kasih, San. Doakan aku...”
Ihsan mengangguk. Mereka berpelukan erat, seolah-olah itu adalah pertemuan terakhir mereka.
Siang itu, Ayesha dan Zahra duduk di teras masjid. Mereka baru saja selesai mengikuti kajian rutin.
Zahra memandangi wajah Ayesha yang tampak kosong. “Ayesha, kamu baik-baik saja?”
Ayesha menunduk. Ia menarik napas panjang, mencoba meredakan rasa sesak di dadanya. “Aku dengar... Faris pergi meninggalkan kampus.”
Zahra terdiam. Ia tahu cepat atau lambat Ayesha akan mendengar kabar itu.
“Aku tidak tahu kenapa rasanya sesakit ini, Zahra...” ujar Ayesha sambil menggigit bibirnya. “Aku berusaha mengikhlaskan. Aku berusaha melangkah maju. Tapi kenapa saat tahu dia pergi, hatiku terasa hampa?”
Zahra merangkul Ayesha erat-erat. “Ayesha, kamu sudah melakukan yang terbaik. Jika Faris pergi, mungkin itu adalah cara Allah untuk memberimu ruang agar bisa benar-benar sembuh.”
Ayesha terisak. Air matanya jatuh tanpa henti. “Aku hanya ingin mengatakan padanya... bahwa aku telah memaafkannya. Tapi sekarang dia sudah pergi...”
Zahra mengusap punggung Ayesha lembut. “Tidak apa-apa, Ayesha. Kamu masih bisa berdoa untuknya. Kamu masih bisa mendoakan agar Faris juga menemukan ketenangan di jalannya sendiri.”
Ayesha menutup matanya, merasakan pelukan Zahra yang hangat. Di dalam hatinya, rasa kehilangan itu semakin terasa. Tapi ia tahu, kali ini ia harus benar-benar ikhlas.
Di dalam bus yang mulai melaju meninggalkan kota, Faris duduk di kursi paling belakang. Matanya menatap ke luar jendela, menyaksikan pepohonan dan gedung-gedung yang semakin menjauh.
Di pangkuannya, buku catatan kecilnya masih tergenggam erat. Ia membuka halaman terakhir dan membaca kalimat yang ia tulis semalam:
“Jika aku harus meninggalkanmu untuk menemukan diriku sendiri, maka aku akan melakukannya. Jika aku harus melepaskanmu untuk bisa kembali dekat dengan-Nya, maka aku akan berusaha. Ya Allah, kuatkan hatiku...”
Air mata Faris jatuh, tapi ia cepat-cepat menghapusnya. Ia menarik napas panjang, mencoba meredakan rasa sakit yang semakin menghimpit dadanya.
“Selamat tinggal, Ayesha...” bisiknya. “Aku akan kembali jika memang Allah menghendaki kita untuk bertemu lagi...”
Bus itu terus melaju, semakin menjauh dari kota yang penuh kenangan. Di dalamnya, Faris menutup matanya, berdoa agar rasa sakit ini perlahan-lahan menghilang.568Please respect copyright.PENANAHipm2N44hu


