Pak Gandi membawa Umi Siska masuk ke dalam kamar tidur, pintu tertutup pelan di belakang mereka, mengunci dunia luar. Udara di dalam kamar terasa lebih hangat, pengap oleh gairah yang memuncak. Umi Siska masih dalam gendongan Pak Gandi, kakinya melingkari pinggang lelaki itu, ciuman mereka tak terputus.
Dengan lembut, Pak Gandi menurunkan Umi Siska ke tepi ranjang, tubuh mereka masih sangat dekat, bergesekan, merasakan setiap lekuk dan tonjolan yang saling berhadapan.
Tanpa melepaskan ciuman, tangan Pak Gandi mulai bergerak melucuti pakaian Umi Siska. Jemarinya yang cekatan dan berpengalaman dengan lembut menyelipkan di antara kancing daster tipis Umi Siska. Satu per satu, kancing terlepas, membuka sedikit demi sedikit kulit putih mulus yang selama ini tersembunyi.
Umi Siska mendesah pelan di antara ciuman mereka, merasakan hembusan udara dingin menyentuh kulitnya yang mulai hangat. Ia tak melawan, justru ikut membantu. Tangannya yang gemetar naik ke bahu Pak Gandi, kemudian turun ke kemeja batik yang dikenakan lelaki itu, menariknya pelan ke atas, seolah ingin segera menyingkirkan penghalang di antara mereka.
Daster tipis itu akhirnya melorot dari bahu Umi Siska, jatuh ke lantai dengan bunyi gemerisik pelan, meninggalkan Umi Siska hanya dengan pakaian dalamnya. Cahaya remang-remang dari lampu tidur yang samar menyinari tubuhnya, menyoroti lekuk payudara yang membusung di balik bra renda, serta garis celana dalam yang membungkus pinggulnya.
Pak Gandi menghentikan ciumannya sejenak, menatap Umi Siska dengan pandangan yang penuh gairah, matanya berkilat memancarkan keinginan yang dalam.
Umi Siska balas menatap, napasnya tersengal, wajahnya memerah karena malu sekaligus gairah. Dalam tatapan Pak Gandi, ia melihat kerinduan yang sama dengan yang ia rasakan, sebuah pengakuan akan kecantikan dan daya tariknya yang selama ini terabaikan.
Jantungnya berdebar kencang, kali ini bukan karena takut atau malu, melainkan karena gejolak hasrat yang membakar. Ia tak lagi memikirkan Ustadz Fahmi, tak lagi memikirkan Adnan, apalagi kedua anaknya yang sedang mesantren. Yang ada hanya Pak Gandi di hadapannya, dan keinginan untuk merasakan sentuhan yang ia dambakan.
Mereka tak bisa lagi dihentikan. Dengan langkah yang mantap, Pak Gandi membawa Umi Siska menuju kamar, tempat yang lebih privat, tempat di mana batas-batas akan benar-benar runtuh, dan hasrat yang terpendam akan menemukan pelepasannya.
Pak Gandi tak bisa lagi menahan diri. Tatapannya yang penuh nafsu menyapu tubuh Umi Siska yang kini setengah telanjang, bra renda hitam yang menyangga payudara montoknya, dan celana dalam tipis yang membungkus pinggul lebarnya. Napasnya berat, dada naik-turun cepat, sementara tangannya kembali bergerak, kali ini lebih berani dan penuh gairah.
Ia meraih kaitan bra di belakang punggung Umi Siska, jarinya lincah membuka kait itu dengan satu gerakan halus. Bra itu melorot pelan, memperlihatkan payudara Umi Siska yang penuh dan kencang, putingnya yang sudah mengeras karena udara dingin dan sentuhan sebelumnya. Pak Gandi mendesah pelan, matanya tak berkedip, seolah memuja pemandangan itu.
"Masya Allah... sempurna sekali," bisiknya serak, suaranya penuh kekaguman yang bercampur nafsu.
Umi Siska merasa tubuhnya terbakar, sensasi angin malam menyentuh kulit telanjangnya membuatnya menggigil, tapi bukan karena dingin, melainkan karena gelombang panas yang naik dari perutnya. Ia tak lagi berusaha menutupi diri; malah, tangannya naik ke dada Pak Gandi, menarik kemeja batiknya hingga kancing-kancingnya terlepas satu per satu, memperlihatkan dada berbulu tipis dan perut yang masih rata untuk lelaki usia 60 tahun itu.
Kulit Pak Gandi terasa kasar dan hangat di bawah telapak tangannya, kontras dengan kelembutan tubuhnya sendiri. Mereka saling menatap, mata Umi Siska berkaca-kaca oleh campuran rasa bersalah yang tersisa dan hasrat yang tak terkendali. "Pak... ini salah," gumamnya lemah, tapi suaranya justru seperti undangan, bukan penolakan.
Pak Gandi tak menjawab dengan kata-kata. Ia menekan tubuh Umi Siska ke ranjang, bibirnya kembali menyerang, kali ini lebih ganas, menggigit pelan bibir bawah Umi Siska sebelum turun ke lehernya, meninggalkan jejak ciuman basah yang membuat Umi Siska menggelinjang. Tangan kanannya meremas payudara kiri Umi Siska, jempolnya menggosok puting yang sensitif itu hingga Umi Siska mendesah keras, suara yang selama ini ia pendam kini meledak bebas.
"Ahh... Pak..." erangnya, punggungnya melengkung, menekan tubuhnya lebih dekat ke Pak Gandi. Tangan kirinya turun lagi ke selangkangan lelaki itu, kali ini lebih tegas, meremas tonjolan yang kini terasa seperti besi panas di balik celana. Ia bisa merasakan denyutannya, panjang dan tebal, membuat imajinasinya liar, seperti yang ia bayangkan tadi siang, jauh lebih memuaskan daripada kenangan pudar dengan suaminya.
Pak Gandi merespons dengan gerakan cepat. Ia bangkit sebentar, menarik celananya sendiri ke bawah, memperlihatkan penisnya yang selama ini hanya ia pamerkan melalui tonjolan. Senjata itu memang sangat besar, panjang, dan keras, urat-uratnya menonjol di bawah kulit yang tegang.
Umi Siska menatapnya dengan mata melebar, napasnya tersengal, tangannya tanpa sadar meraihnya, merasakan kehangatan dan kekerasan yang begitu nyata.
"Ini... yang Umi butuhkan," bisik Pak Gandi, suaranya parau, sebelum ia menarik celana dalam Umi Siska ke bawah, memperlihatkan rahasia terakhirnya yang basah oleh hasrat. Tubuh mereka kini telanjang sepenuhnya, bergesekan di atas seprai yang kusut, keringat mulai membasahi kulit mereka.
Pak Gandi memposisikan dirinya di antara paha Umi Siska yang terbuka, tangannya memegang pinggulnya erat, sementara Umi Siska melingkarkan kakinya di pinggang lelaki itu, menariknya lebih dekat. penis kekar itu masuknya lambat tapi pasti, membuat Umi Siska menjerit pelan, campuran sakit dan kenikmatan yang membanjiri seluruh tubuhnya.
"Ya Allah... lebih dalam lagi, Paaaaak..." desahnya, lupa segalanya, hanya ada ritme tubuh mereka yang saling menyatu, semakin cepat, semakin intens, hingga ranjang bergoyang dan desahan mereka memenuhi kamar saat Umi Siska benar-benar mencapai puncaknya..
Malam itu, di rumah yang sepi, Umi Siska menemukan pelepasan yang selama ini ia idamkan, meski dengan harga yang mahal di hati nuraninya.
Setelah gelombang kenikmatan Umi Siska mereda, Pak Gandi yang penuh pengalaman itu masih tak puas. Dengan tangan yang kuat namun lembut, ia membalikan tubuh Umi Siska menungging, posisi yang membuatnya berlutut di ranjang, punggung melengkung, dan pantat terangkat.
Umi Siska kaget, matanya melebar, jantungnya berdegup lebih kencang lagi. "Pak... apa-apaan ini?" gumamnya pelan, suaranya campur antara terkejut dan penasaran.
Selama ini, suaminya tak pernah banyak gaya dalam bercinta, selalu misionaris yang sederhana, dingin, dan cepat berakhir, seolah kewajiban semata. Posisi menungging seperti saat ini terasa asing dan terlarang, membuatnya merasa rentan tapi juga terbuka untuk sesuatu yang baru.
Pak Gandi tersenyum licik dari belakang, tangannya mengusap pelan punggung Umi Siska, merasakan getaran kulitnya yang basah oleh keringat.
"Santai, Umi... biar saya ajari menikmati kebersamaan yang jauh lebih enak," bisiknya serak, suaranya penuh keyakinan dari pengalaman panjangnya.
“Hah!” seru Umi Siska kaget. Dia terperanjat saat mulut Pak Gandi menyentuh area intim belahan pantatnya. Lidah Pak Gandi yang hangat dan lincah menyapu pelan, menjilat bibir anusnya. Bagian paling sensitif yang selama ini tak pernah disentuh siapa pun kecuali dirinya, apalagi dengan cara seperti ini, menungging.
Dalam sepanjang hidupnya, Umi Siska baru merasakan sensasi gila ini. Tak menduga seorang kepala sekolah, atasan suaminya yang bahkan oleh sebagain warga juga sering dijuluki Pak Ustadz, berani menjilati anusnya. Hal yang selama ini dia naggap kotor dan menjijikan. Namun anehnya hal itu juga membuat gelombang panas naik dari bawah perutnya, seperti arus listrik yang menyambar ke seluruh tubuhnya denga tiba-tiba.
“Paaaaak uuuuh jangaaan….”
Umi Siska tak mampu meneruskan lenguhannya, ia merasa melayang di awang-awang, sebuah rasa yang sudah selama berumah tangga dengan suaminya, baru kali ini dirasakannya. Anus dan vaginanya dijilati secara bergantian, dia bahkan tak pernah membayangkannya.
Tubuh Umi Siska gemetar hebat, tangannya mencengkeram seprai erat, desahannya tak terkendali lagi "Ahh... Pak... jangan berhenti… lebih dalaaaam…" Pinggulnya tanpa sadar bergoyang, mengejar kenikmatan yang begitu intens dan liar dari lidah suami orang. Lupa dengan jadi dirinya, suaminya juga kedua anaknya yang sedang mondok di pesantren.
Pak Gandi makin bersemangat, terus mengeksplorasi dengan penuh gairah lobang depan dan belakang istri bawahannya yang sejak pertama bertemu memang sudah ditarget. Tangannya meremas pantat, bibir dan lidahnya makin liar dan rakus bermain pada dua lobang sensitif Umi Siska, Semakin membaust wanita itu tenggelam dalam sensasi dahsyat hingga dia menyerah.
“Aaaaaah Paaaak sayaaaaa dapat lagiiii…. oooh sssst… nikmaaat sekaliii….” Umi Siska mencapai puncak lagi, tubuhnya ambruk ke ranjang, napas tersengal, pikirannya kosong oleh euforia yang tak pernah ia bayangkan benar-benar melanda jiwa raganya.
“Istirahat saja dulu, Mi,” bisik Pak Gandi lembut.
^*^
ns216.73.217.22da2


