"Azkaa .. Ezaaa .. Mang Engkooos .. Ke mari kalian" Panggil tante Nora dengan sedikit berteriak. Ketiga orang yang dipanggil itu lalu datang menghampiri. "Ini Imah, dia yang akan memasak & beberes rumah" Lanjut tante Nora memperkenalkan Imah kepada penghuni rumah lainnya. Imah menganggukkan kepala & tersenyum kecil.
"Eleeuh eleeuuh manis amat ini neng Imah" Ujar mang Engkos. "Ga salah nih tante milih pembantu? Cakep juga hehehe" Tambah Azka. "Didandanin dikit udah kaya anak kampus ya, Ka" Eza ikut nimbrung menambahkan. Imah hanya tersenyum malu mendengarnya.
"Heh, jangan kau goda si imah. Sudah tua bukannya sadar diri" Hardik tante Nora ke mang Engkos yang sukses membuat mang Engkos menunduk terdiam. "Ini juga yang muda sama saja. Fokus saja sama kuliah kalian." Kali ini Azka & Eza kena omel. "Awas ya kalo kalian bertiga berani macam-macam" Ancam tante Nora.
Tetiba seorang pria paruh baya masuk,"Nora sayaang" Panggilnya. Tante Nora menoleh lalu memeluk pria itu ketika disadarinya siapa yang datang. "Hai, mas. Tumben cepet datengnya?" Tanyanya. "Kebetulan rapat dengan pak ketum cepat selesainya jadi aku langsung ke sini deh. Ga sabar mau ketemu kamu, sayang" Jawabnya lalu mengecup pipi Nora. "Ada apa ini ramai-ramai?" Tanya pria itu. "Ini loh mas, aku lagi ngenalin Imah pembantu baru ke anak-anak kos si Azka & Eza juga ke mang Engkos" Jawab Nora sambil menunjuk ke orang-orang yang tadi disebutkan namanya.
"Kalian berdua kerja yang benar. Bantu calon istriku ini mengurus rumah" Ujar pria itu ke Imah & mang Engkos. "Iya, tuan" Jawab mereka. "Azka & Eza, kapan lulus? Kalo butuh kerja, hubungi om saja" Tanya pria itu ke Azka & Eza. "Kuliah juga baru semester 2, om. Masih lama lulusnya" Jawab Eza. "Terima kasih, om. Nanti kalo butuh, kami hubungi om" Lanjut Azka dengan sopan.
Tak lama pria itu & tante Nora pun pergi entah ke mana diikuti oleh Eza & Azka yang juga pergi ke kampus karena ada kelas, meninggalkan mang Engkos & Imah di rumah.
"Tuan itu siapa, mang?" Tanya Imah. "Itu tuan Hendrik, pacarnya nyonya. Kader partai yang menang pemilu kemarin, anggota dewan juga. Usahanya banyak, orang kaya pokoknya" Jawab mang Engkos. "Pantes, berwibawa banget ya, mang" Balas Imah. "Iya, neng. Nanti kalo urusan cerai tuan Hendrik dengan istrinya udah selesai trus nikah sama nyonya, tuan Hendrik juga jadi majikan kita" Lanjut mang Engkos.
"Kalo den Azka & den Eza itu siapa, mang?" Tanya Imah lagi. "Itu anak kampus deket sini yang ngekos di paviliun belakang. Barudak mereka, neng. Baru juga lulus sekolah & masuk kuliah. Tuaan neng Imah palingan" Jawab mang Engkos. Oh, seumuran dengan adik di kampung, batin Imah. "Terima kasih infonya, mang. Imah lanjut beberes ya" Imah pamit meninggalkan mang Engkos yang kemudian juga pergi ke luar membersihkan kebun.
"Makin betah kita ngekos ya, Za" Ujar Azka di tengah perjalanan ke kampus. "Yoi, bro. Hahaha" Balas Eza. "Tante Nora ga keliatan kaya umur 45 tahun ya. Keliatannya kaya umur 44 hahaha" Canda Azka. "Emang beda kalo perawatan ya, bro. Aku perhatiin itu toketnya kayanya cup D, gede banget. Belum lagi pantatnya, aduuuh montok banget. Dari awal kita ngekos aku suka jadiin bahan di kamar mandi hahaha" Balas Eza. "Paraaah .. Aku juga sih hahaha. Om Hendrik pasti puas banget tuh make tante Nora. Makanya istrinya mo dicerein." Lanjut Azka.
Memang, lelaki normal mana pun pasti menelan ludah jika melihat Nora. Tingginya yang hanya 155 cm ditambah tubuhnya yang montok serta make up sempurna dengan pakaian & aksesoris mahal membuatnya terlihat seperti sosialita kelas atas yang cantik, anggun tapi tegas.
"Teh Imah juga cakep ya, bro. Meski ga make up tapi keliatan manis. Tingginya paling beda dikit sama aku yang 170 cm ini. Toketnya ga segede tante Nora tapi kayanya pas di tanganku ini hahaha. Kalo didandanin, pasti keliatan kaya anak kampus kita. Duh, jadi pengen cepet-cepet pulang hahaha" Cerocos Eza yang disambut oleh tawa Azka. "Sainganmu nanti si mang engkos hahaha" Balas Azka.
Kulit Imah memang tak seputih & semulus tante Nora, tapi cukup bisa membuat lelaki normal memalingkan wajahnya untuk sekedar melihat betapa manisnya mahluk Tuhan yang satu itu. Tubuhnya lebih tinggi daripada tante Nora & lebih langsing. Rambutnya panjang terurai, berbeda dengan Nora yang hanya sebahu. Buah dada & bokongnya tak sebesar Nora tapi pas di tangan pria dewasa.
Di beberapa kesempatan ketika Nora tidak di rumah, Azka & Eza mencoba merayu Imah tapi ditolak dengan halus. Pun dengan mang Engkos. Akhirnya mereka pun menyerah & cuma bisa menjadikan Imah & Nora sebagai bahan masturbasi di kamar mandi.
3 bulan lebih telah berlalu sejak kehadiran Imah di rumah tante Nora. Di suatu pagi, Nora mendapati Imah muntah-muntah, kepalanya terasa pening & tubuhnya lemas. Takut Imah terjangkit penyakit menular, Nora menelepon dokter pribadinya yang dengan sigap datang memeriksa Imah. Setelah diperiksa, ternyata Imah tidak sakit, melainkan ... Hamil.
Seketika Nora naik pitam. Setelah dokternya pergi, dia memanggil Azka, Eza & mang Engkos. Tergopoh-gopoh mereka bertiga menghampiri Nora yang sedang marah sambil berdiri di depan kamar Imah, sedangkan Imah hanya terduduk di ranjangnya sambil menundukkan wajah; takut & malu. "Siapa di antara kalian yang telah membuntingi Imah?" Tanya Nora dengan keras. "Hah, Imah bunting? Bukan saya, nyah. Sumpah disamber geledeg saya mau, nyah. Itu kali anak-anak kos" Mang Engkos membela diri. "Idih, mang Engkos nuduh. Setelah diperingatin sama tante waktu itu, kita patuh. Ya ga, Za?" Azka berkata sambil mencolek Eza. "Iya, tante. Kami cuma goda-godain dikit doang. Tapi teh Imah ngancem mo laporin ke tante. Jadi kami ga berani lagi." Eza menjelaskan.
"Halah, ga mungkin. Pasti di antara kalian ini pelakunya. Dasar lelaki, ga tua ga muda, mata keranjang semua. Ga bisa liat perempuan mulus sedikit, birahinya langsung menguasai otak ngeres kalian" Tante Nora kembali murka karena tidak ada satu pun yang mengaku. "Maaf, tante. Gimana kalo ditanya aja ke teh Imah siapa yang sudah menanam benih di perutnya." Azka angkat bicara. Sejenak Nora terdiam. Semua pun terdiam menunggu reaksi dari Nora.
"Imah, katakan sekarang juga siapa yang telah menghamili kamu" Perintah Nora. Imah tidak berkata apa-apa. Dia hanya terdiam & menundukkan wajah. "Ayo, cepat jawab. Atau saya usir kamu dari rumah ini" Lanjut Nora dengan nada tinggi. Tetiba Hendrik datang, "Nora sayang, ada apa ini pagi-pagi sudah ribut begini? Sampai terdengar keluar suaramu tadi" Tanya Hendrik lembut sambil mengusap kepala Nora. Tidak ada respon apa pun dari Nora. Kesabarannya sudah habis. Lalu Imah menegakkan kepalanya. Tangannya diangkat. Jari telunjuknya mengarah ke Hendrik.
"Tuan Hendrik orangnya. Dia yang telah menaruh benih di rahim saya" Imah berkata dengan suara bergetar. Semua yang ada di situ terkejut mendengarnya. PLAK! Sebuah tamparan mendarat di pipi Hendrik. "Bajingan kamu, mas" Suara Nora ikut bergetar, air mata mengalir dari matanya yang bulat. "Tunggu, Nora. Kamu percaya tuduhannya? Bisa saja dia berbohong" Ujar Hendrik membela diri. "Kalo nyonya tidak percaya, cek saja cctv 3 bulan yang lalu di tanggal 13 siang. Saya ingat betul karena di hari itu keperawanan saya direnggut oleh tuan Hendrik" Imah kembali bersuara. Hendrik semakin tak berkutik. Tetiba dia teringat ada banyak cctv di rumah ini. Lalu Imah melanjutkan ceritanya.
3 bulan yang lalu di tanggal 13 siang, Hendrik datang ke rumah Nora di saat tidak ada orang di sana. Imah mempersilahkan Hendrik masuk & menunggu di ruang santai lalu Imah ke dapur mempersiapkan kopi & cemilan untuk Hendrik. Ketika dia menaruh cangkir kopi & cemilan di meja, tak disadarinya mata Hendrik mengintip payudaranya dari celah leher kaos yang dia pakai. Hendrik terkesima melihat ranumnya payudara Imah meski terbungkus bra murahan. Seketika ditariknya tangan Imah hingga dia terduduk di pangkuan Hendrik. Lalu dipeluknya erat tubuh Imah sambil tangannya menggerayangi lekuk tubuh Imah sambil mencoba menciumi leher & leher Imah.
"Jangan, tuan .. Jangaaan. Lepasin saya, tuan. Nanti ada yang lihat bisa gawat" Imah mencoba melepas pelukan Hendrik dengan mendorong tubuhnya dengan tangannya. "Ssst .. Ga papa. Ga ada orang kan di sini. Ga akan ada yang liat" Hendrik mencoba menenangkan Imah sambil terus tangannya bergerilya di tubuh langsing Imah yang terduduk di pangkuannya tapi tidak berhasil. Dengan satu dorongan kuat Imah berhasil kabur lalu dia berlari ke kamarnya.
Hendrik berjalan santai ke kamar Imah. Ternyata pintu kamarnya tidak tertutup rapat. Dari celah itu terlihat Imah duduk di pinggir ranjang, kepalanya tertunduk, tangan kanannya memainkan rambutnya & tangan kirinya meremas rok panjang yang dia pakai. Imah terlihat gusar. Tapi di benak Hendrik, dia berpikir Imah menunggu dirinya di kamar supaya lebih aman. Lalu dibukanya pintu kamar Imah & Hendrik masuk kemudian menutup pintu. Ceklek.
Imah hanya menoleh sedikit lalu kembali melakukan hal yang sebelumnya dia lakukan. Hendrik duduk di samping Imah. Dielusnya dengan lembut rambut panjang Imah & dengan tangan kirinya Hendrik menegakkan kepala Imah dengan menyentuh dagunya.
"Sejak pertama jumpa kau tempo hari, selalu terbayang wajah manis & tubuhmu ini, Imah. Sudah ku tunggu kesempatan ini" Ujar Hendrik lembut. "Jangan, tuan. Nanti kalo nyonya tau gimana? Saya masih ingin kerja" Jawab Imah. "Ga usah takut, kan lagi sepi. Biar ini jadi rahasia kita berdua, Imah sayang" Balas Hendrik lembut. "Tapi, tuan ..." Belum sempat Imah menyelesaikan kalimatnya, bibir Hendrik sudah mendarat di bibirnya. Lalu dilumatnya bibir tipis Imah.
Gelagapan Imah menghadapi serangan Hendrik yang tiba-tiba. "Jangan, tuan. Imah cuma pembantu di sini" Tolak Imah. "Pembantu itu kan cuma profesi, orangnya ya tetap manusia. Cantik & seksi pula hehehe" Balas Hendrik. Lalu direbahkan tubuh Imah di atas ranjang & Hendrik kembali menciumi bibir, wajah & leher Imah sambil tangannya meremas buah dada Imah dari luar kaosnya. "Aaaah geli, tuaaan .. Lepasiiin. Jangan sama Imah, tuan. Imah cuma cewek kampung. Nyonya jauh lebih cantik & seksi .. Aaaah" Rintih Imah dengan sedikit desahan karena kegelian. "Kamu juga seksi, Imah. Ayo, buat aku senang. Nanti akan ku bikin kau keenakan dengan ini" Jawab Hendrik sambil menarik tangan Imah ke arah penisnya yang ternyata sudah menjulur keluar dari balik celananya. Imah tak sadar kapan Hendrik melakukan itu.
"Aaah lembut sekali tanganmu, Imah. Lihat .. Tambah keras kontolku ini, sayang." Racau Hendrik ketika tangan Imah menyentuh penisnya. Lalu diarahkan tangan Imah untuk mengocok penisnya. Imah tau apa yang diinginkan Hendri karena dulu di desa dia juga pernah mengocok penis mantan pacarnya sampai muncrat. Imah ingin menolak tapi tangannya malah terus mengocok penis Hendrik. Harus Imah akui, kelembutan Hendrik saat itu sedikit meluluhkan hatinya, ditambah lagi dengan sentuhan yang meski kasar tapi berhasil membuat darahnya seperti mendidih.
Dengan satu gerakan cepat Hendrik mencopot kaos Imah hingga kini tubuh bagian atasnya hanya tertutup bra murahan. Imah mencoba menutupi kedua payudaranya tapi tangan Hendrik lebih sigap. Dengan sekali tarikan, bra itu terlepas & robek. "Waaaw indah betul bukit kembarmu, Imah" Tanpa permisi Hendrik melumat kedua payudara ranum Imah. Diremas lalu dijilati & dihisap putingnya dalam-dalam. Permainan Hendrik membuat Imah belingsatan. "Sudah, tuaaan .. Ampuuun. Geli banget, tuaaan. Nanti Imah bisa ngompoool" Racaunya. Mendengar itu Hendrik menurunkan serangan dari payudara ke arah selangkangan. Ditariknya rok panjang Imah ke atas hingga paha mulus & vagina yang terbungkus celana dalam murahan itu terlihat jelas. Tangan Hendrik kini meraba-raba paha Imah sambil mencoba menjilati vagina Imah yang masih terbungkus celana dalam.
"Aaaauuu jangan, tuaaan .. Imah diapaiiin?" Rintih Imah pelan, nafasnya memburu, matanya terpejam. Dengan sekali tarikan celana dalam Imah berhasil diloloskan. Lebatnya rambut kemaluan Imah menghiasi vaginanya yang terekspos itu. "Jangan, tuaaan .. Imah maluuu" Rintih Imah. Hendrik tidak mempedulikan rintihan Imah, malahan dia mulai melancarkan serangan ke vagina Imah. Dijilatinya vagina itu & dihisap dalam-dalam klitoris Imah yang menonjol keluar. Desahan & rintihan Imah semakin keras seiring dengan keluarnya cairan kewanitaan Imah. Vagina Imah becek.
Imah seperti tidak bisa merasakan tulang-tulang di tubuhnya. Kepalanya terasa kosong tidak lagi bisa digunakan untuk berpikir. Tubuhnya terasa panas. Keringat mulai bermunculan di tubuh Imah & Hendrik. Melihat Imah yang terkulai tak berdaya, Hendrik melepaskan celana yang dia kenakan hingga kini hanya menyisakan kemeja yang dia pakai. Lalu diarahkan penis tegangnya itu ke bibir vagina Imah yang basah.
"Jangan, tuaan .. Jangan dimasukin. Imah masih perawaaan" Rintih Imah ketika kepala penis Hendrik menempel di bibir vaginanya. Penolakan Imah tak digubris oleh Hendrik yang sudah dirasuki setan. Dengan satu sodokan kuat, penis Hendrik masuk sedalam-dalamnya di vagina Imah. "Aaaaw sakiiiit .. Lepasin, tuaaan" Rintih Imah setengah berteriak. Dari balik perut buncitnya, Hendrik melihat darah perawan Imah membasahi penisnya. Hendrik tersenyum senang penuh kemenangan.
Pelan tapi pasti penis Hendrik keluar masuk vagina Imah. Air mata menetes di wajah Imah. Dia menangis. Kesucian yang dia jaga selama ini direnggut begitu saja oleh orang yang dia hormati. Hendrik tidak peduli akan hal itu. Semakin dipercepatnya sodokan penisnya, membuat dia & Imah mendesah hebat.
"Aaarggh sempitnya memek perawanmu, Imaaah .. Suka kali aku, sayaaaang. Bisa ketagihan aku" Desah Hendrik. Tubuh gempal Hendrik menindih tubuh langsing Imah. Tak henti-hentinya mulut & tangan Hendrik menjajah payudara Imah yang bergoyang seirama dengan sodokan penis Hendrik.
Dirasakan spermanya sudah di ujung lalu Hendrik semakin mempercepat goyangannya. Tak lama tersemburlah jutaan sel sperma di dalam vagina Imah mengalir ke dalam rahimnya yang terasa hangat.
Tangis Imah kembali pecah ketika Hendrik melepaskan penisnya dari gigitan vagina Imah. Ditekuk tubuhnya & dibenamkan kepalanya ke bantal. Darah perawan bercampur dengan sperma mengalir tumpah membasahi sprei putih itu. Imah sudah tidak murni lagi. Hendrik lalu pergi keluar.
Tak lama Hendrik kembali, kali ini sambil membawa sebuah amplop coklat. Diberikannya amplop itu kepada Imah yang kini sedang mengenakan pakaiannya kembali. Imah membuka amplop yang ternyata berisi 2 gepok uang seratus ribuan dengan jumlah total 20 juta. "Apa maksud, tuan? Imah bukan pelacur" Ujar Imah ketus. "Terserah mau kau apakan uang itu. Ingat, jaga rahasia ini" Jawab Hendrik lalu mengecup rambut Imah & pergi.
2 hari kemudian Hendrik datang lagi. Kali ini ada mang Engkos yang sedang menanam tanaman baru di taman depan. Imah yang sedang memasak di dapur kaget dengan kehadiran Hendrik. "Tuan mau apa? Nyonya sedang tidak di rumah" Ujarnya. "Justru itu aku ke mari lagi, manis. Rindu aku mau nenen & dijepit memek sempit hehehe" Jawab Hendrik cengengesan. Dipeluknya tubuh Imah dari belakang. Dipinggirkan rambut Imah yang menutupi pundaknya, lalu diciumi pundak & leher Imah sambil tangannya meremas kedua buah dada Imah.
"Jangan, tuan. Ada mang Engkos. Nanti dia liat & bisa lapor ke nyonya. Bahaya buat Imah & tuan" Tolak Imah. "Dia lagi sibuk di depan. Tenang aja" Balas Hendrik. Lalu dibalikkan tubuh Imah & kini keduanya saling berhadapan. Mata kedua manusia berlainan jenis itu saling menatap. Hendrik lalu mencium bibir tipis itu tanpa balasan. Ketika lidahnya mulai bermain, desahan kecil terdengar dari mulut Imah dibarengi dengan ciuman balasan juga lidah yang saling berpagutan.
Puas berciuman, Hendrik lantas mengangkat tubuh Imah & mendudukkannya di atas meja dapur. Dibukanya kaki Imah lebar-lebar & disingkapnya rok yang dipakai Imah. Hendrik menunduk & mulai lidahnya berpesta di vagina Imah. Tangan Imah bersandar di meja dapur. Dadanya naik turun, nafasnya terengah, matanya terpejam, digigit bibir tipisnya merasakan liarnya permainan lidah Hendrik di vaginanya yang mulai basah itu.
Imah juga pasrah saja ketika kaosnya dicopot & dibuang begitu saja oleh Hendrik. Matanya menjadi sayu menatap tonjolan di balik celana Hendrik.
Tak buang banyak waktu, Hendrik lantas menancapkan penisnya ke dalam vagina Imah. Keduanya mendesah pelan. Tangan Imah merangkul pundah Hendrik. Desahannya sungguh memancing birahi. Diremas dengan kasar kedua payudara Imah yang tergantung & bergoyang itu, membuat desahan Imah semakin keras. Takut terdengar, Imah menutup mulutnya dengan tangannya.
"Aaah Imaaah aku sudah di ujuuuung mau keluaaaar .. Ku semprot lagi memekmu, sayaaang" Desah Hendrik memperkuat sodokannya. Imah tidak menjawab, dia sudah pasrah. "Mau kau ku pejuin? Jawab!" Tanya Hendrik yang nafasnya semakin memburu. "Terserah, tuaan .. Imah pasraaah aaaarrhhh" Jawab Imah. Dengan 3 sodokan keras, sperma Hendrik muncrat dengan derasnya membasahi dinding vagina Imah lalu menjalar ke dalam rahimnya. Setelah berhasil mengatur nafas, keduanya kembali berpakaian. Sebelum pergi, Hendrik memberikan segepok uang berjumlah 10 juta. Kali ini Imah tidak berkata apa pun.
"Kok pulang, tuan? Ga jadi nunggu nyonya?" Tanya mang Engkos melihat Hendrik berjalan ke mobilnya. "Tadinya saya mau kasih kejutan, tapi tugas negara tiba-tiba memanggil. Jangan kau bilang ke nyonya saya datang ya" Jawab Hendrik lalu memberikan 5 lembar uang seratus ribuan ke tangan mang Engkos.
Hendrik & Imah semakin berani. Pernah suatu waktu mereka bersetubuh di saat Nora sedang mandi. "Ih, tuan ga takut ketauan?" Tanya Imah. "Demi mejuin memekmu, aku lawan rasa takut itu hehehe" Jawab Hendrik. Imah juga pernah menginap 3 malam di hotel bersama Hendrik. Waktu itu dia beralasan orang tuanya sedang sakit di kampung. Meski kesal karena baru sebulan kerja tapi Imah sudah berani minta cuti, Nora mengijinkan.
Di terminal, ajudan Hendrik datang menjemput. Sebelum ke hotel, Imah diantar ke salon untuk didandani & diberikan pakaian mewah. Hendrik terpukau melihat hasilnya. Imah yang biasanya dia lihat berpakaian sederhana tanpa make up, kini terlihat eksklusif. Selama 3 hari mereka tidak keluar kamar, waktu dihabiskan dengan bergumul & saling memberikan kenikmatan. Entah berapa ratus juta sel sperma Hendrik bersemayam di rahim Imah.
Kini Imah tak peduli lagi dianggap pelacur oleh Hendrik. Bahkan ketika mau menyemburkan spermanya, Hendrik berkali-kali menyebutnya sebagai pelacur yang pantas untuk disetubuhi setiap saat & dihadiahi semprotan sperma. Uang yang dia terima dari Hendrik setiap kali mereka bersenggama sangat membantu kehidupan keluarganya di kampung. Tubuh Imah sudah diserahkan sepenuhnya kepada Hendrik yang berjanji akan bertanggung jawab atas anak yang kelak dihasilkan dari hubungan terlarang mereka. Mungkin ini sudah jadi jalan hidupku menjadi pelacur tempat pelepasan sperma lelaki, batin Imah.
"Lelaki bangsat kamu, Hendrik. Apa kurangnya aku sampai tega kamu selingkuh dengan pembantuku sendiri?" Tangis Nora semakin keras. Azka & Eza mencoba menenangkan tapi tak berhasil. "Pergi kau. Angkat kaki dari rumahku. Bawa juga pelacur kampung itu. Tak sudi aku melihatnya" Hardik Nora. Imah lantas membereskan pakaiannya. "Maafin Imah, nyah" Ujarnya ketika hendak pergi tapi Nora tak bergeming. Lalu Hendrik & Imah pun pergi entah ke mana.
"Sana, mang Engkos beresin lagi di luar. Biar aku & Azka yang nemenin tante" Ujar Eza pelan. Mang Engkos patuh lalu melangkah keluar sedangkan Nora, Eza & Azka masuk ke dalam rumah. Nora kembali menangis, kali ini sambil memeluk Azka & Eza. Keduanya bingung harus bagaimana. Payudara kenyal milik Nora menempel di tubuh mereka. Aroma wangi sabun bercampur parfum menyeruak ke dalam hidung kedua mahasiswa baru itu. Mereka ingin bersimpati tapi pikiran ngeres malah menguasai otak mereka. Keduanya saling berpandangan. Di tengah tangisnya, Nora bisa merasakan penis kedua anak kosnya itu mengeras.
"Kalian temenin tante hari ini ya. Tante lagi ga mau sendiri" Pinta Nora sambil menatap wajah kedua anak kosnya itu. Keduanya hanya menganggukkan kepala tanda setuju. Dengan wajah yang basah oleh air mata, Nora mencium pipi & bibir kedua anak kosnya itu. Kesempatan ini tentu tidak dilewatkan oleh Azka & Eza yang sudah sejak lama berfantasi dengan Nora. Bergantian Nora mencium Azka & Eza.
"Tante ga papa begini?" Tanya Eza. "It's ok, sayang" Jawab Nora. "Tante mau bales dendam ya?" Tanya Azka. "Terserah kalian mau anggep apa. I dont care" Jawab Nora. Ketiganya lalu melepaskan pakaian yang melekat di tubuh mereka & kini berdiri berhadapan dengan tubuh telanjang. "Mau di kamar atau di sini?" Tanya Nora. Azka & Eza berpandangan lalu kompak menjawab "Di mana aja, ga peduli".
Ketiganya bergumul dengan serunya di ruang tamu yang besar itu. Azka menjilati & menghisap payudara kanan & Eza yang sebelah kiri. " Mmmh rakus banget ya kalian sama toket tante. Enak ya?" Tanya Nora yang dijawab dengan anggukan tanpa melepas hisapan & jilatan. "Hahahaha ayo terus nikmati tubuh tante. Kalian pasti sudah lama pengen kan? Ini tante kasih. Jangan sia-siain. Jangan kaya si bangsat itu" Ujar Nora. "Emang tolol si om itu, tan. Punya pacar kaya gini tapi malah selingkuh sama pembantu" Jawab Azka. "Iya, tan. Kalo dibandingin sama tante, jelas tante pemenangnya" Lanjut Eza. Entah kenapa Nora begitu senang mendengarnya. Dibiarkannya kedua remaja yang pantas menjadi anaknya itu menjelajahi setiap jengkal tubuhnya.
Desahan liar keluar dari mulut Nora. Tangannya menjambak rambut Azka & Eza yang bergantian memberikan setruman kenikmatan ke dirinya. Dari luar jendela, mang Engkos mengintip sambil masturbasi. Beruntung banget barudak itu, batinnya.
Tak mau kalah, Nora kini membalas kenikmatan yang diberikan kedua anak kosnya itu. Sambil bersimpuh, dikulum & dikocoknya kedua penis itu bergantian. Payudaranya diremas kasar. Mulut Nora & 2 penis di hadapannya penuh dengan liur. Azka & Eza menampar-nampar wajah cantik Nora dengan penis mereka. "Enak ya jadiin muka tante tatakan kontol kalian?" Tanya Nora. "Enak, tanteee. Mau ngontolin muka tante teruuus biar tambah cantiiik" Balas kedua remaja itu.
"Masukin dong ganteng-gantengnya, tante. Udah becek banget nih memek" Pinta Nora dengan mimik wajah genit memelas. Bergantian Azka & Eza menghajar vagina Nora dengan penis mereka. "Waaah memek yang dirawat gini emang beneran enak, brooo .. Pereeet" Kata Eza sambil terus menyodok penisnya kuat-kuat di dalam vagina Nora. "Yoi, sooob. Sepongannya juga bikin melayang-layang niiih hahaha" Balas Azka keenakan lalu keduanya melakukan tos. Nora membiarkan saja kelakuan & ucapan kedua anak kosnya itu.
Tubuh sekal nan montok milik Nora yang terbaring di lantai dingin rumahnya itu terombang-ambing digilir oleh Azka & Eza. Sudah berkali-kali sperma keduanya mengisi vagina Nora hingga penuh & luber. Usia mereka yang masih muda itu membuat mereka kuat menyetubuhi Nora berulang kali.
"Haash haaaah kontol-kontol muda ini emang super sekali tenaganya. Tante nyerah, sayang. Ga kuat lagi. Kalian terus aja pake tante sepuas kalian. Tante pasrah aja" Ucap Nora sambil mengatur nafasnya yang naik-turun.
"Ah, ga asik kalo tante diem aja" Ucap Azka. "Iya, nih. Kita kasih tante waktu istirahat dulu trus kita lanjut lagi ya" Lanjut Eza. Nora hanya mengangguk. Emang hanya kau saja yang bisa merasakan daun muda, Hendrik. Aku pun juga bisa. Sekali 2 malah, batin Nora.
Azka & Eza memeluk Nora sambil tetap rebahan di lantai yang kini terasa hangat oleh cucuran keringat mereka. Tangan mereka masih sibuk menggerayangi tubuh montok Nora dari dada, paha & selangkangan. Terkadang desahan Nora terdengar pelan.
"Tan, dari tadi kan kita crot mulu di dalem. Kalo tante hamil gimana?" Tanya Eza memecah keheningan. "Ga papa, sayang. Emang cuma si pelacur kampung itu aja yang bisa hamil? Tante juga bisa. Kalian ga usah kuatir. Tante ga akan minta kalian tanggung jawab. Tante bisa merawat anak ini nanti sendirian. Itu kalo tante beneran hamil ya" Jawab Nora. "Trus kalo hamil, anaknya itu anak siapa? Anak aku atau anaknya Eza?" Tanya Azka. "Ya anak tante lah, kan tante yang mengandung. Kalian kan cuma nyumbang peju doang. Sudah, ga usah dipikirin yang begituan. Emang kalian siap jadi bapak?" Balas Nora. "Ya ga gitu juga, tan. Tapi ga tau kenapa kaya seneng aja gitu kalo bisa buntingin tante hehehe" Jawab Eza yang diamini oleh Azka. "Dasar lelaki, maunya buntingin doang .. Huuuu" Balas Nora sambil mengacak-ngacak rambut kedua remaja yang usianya baru 18 tahun itu. Keduanya hanya cengengesan lalu merajuk manja ke Nora.
Di luar jendela sana, mang Engkos menyesali dirinya yang meninggalkan hape di kamarnya. Jika saja ada hape di tangannya, sudah pasti dia akan merekam persetubuhan beda usia tadi untuk digunakan sebagai alat memeras Nora. Sudah dapat tubuh montoknya, dapat duitnya pula. Sayang, semua gagal.
"Kayanya tante beneran nyerah deh. Udah ga kuat lagi ngadepin beringasnya kalian. Tante mau tidur ya isi tenaga dulu. Kalian anter tante ke kamar ya" Pinta Nora manja. Tentu saja ajakan itu diiyakan oleh kedua remaja perkasa itu.
"Kenapa tante ga hamil pas sama om Hendrik? Pasti dia sering ngentotin tante kan?" Tanya Azka di tengah perjalanan menuju kamar Nora. "Tante ga kasih crot di dalem, sayang. Pilihannya crot di luar atau pake kondom. Tante ga mau dia keluar di dalem sebelum dia resmi cerai dengan istrinya. Mungkin karena itu juga dia selingkuh sampe ngehamilin Imah" Jelas Nora sambil mengusap pipi Azka. "Wah, berarti aku & Azka hoki dong bisa crot di dalem trus boleh ngebuntingin tante" Tambah Eza. "Iya, ganteng. Boleh. Kapan aja kalian mau buang peju, memek tante siap nampung" Jawab Nora. "Sampe bunting juga ga papa hihihihi" Lanjut Nora sambil cekikikan. Senyum sumringah tersungging di bibir Azka & Eza.
Selesai mengantarkan Nora ke kamar, mereka berdua juga kembali ke kamar masing-masing. Ada tugas kuliah yang harus dikerjakan. Jam 7 malam Eza selesai mengerjakan tugasnya. "Aku mau bikin nasgor. Kamu mau, Ka?" Tanya Eza ke Azka yang masih sibuk dengan tugasnya. "Mau dong. Laper nih" Jawab Azka.
15 menit kemudian Eza kembali, membawa sepiring nasgor ke kamar Azka. "Loh, kok cuma sepiring? Kirain bikin 2" Tanya Azka. "Hehehe aku bikin 3, yang 2 untuk aku & tante Nora. Ini aku mo makan berdua di kamarnya" Jawab Eza cengengesan. "Alaaah alesan. Bilang aja kamu sange mo ngentotin tante Nora" Sahut Azka. "Pokoknya tar gantian kalo aku udah selesai" Lanjutnya. "Iyaaa, aku juga ga lama kok. Besok ada kelas pagi" Balas Eza.
Di kamarnya, Nora sudah terbangun sejak tertidur karena kelelahan setelah melayani 2 lelaki abege penghuni kosnya. Dia duduk di depan meja rias menghapus make up yang melekat di wajahnya.
"Hai, Za. Bawa apa kamu? Makanan ya? Tante bisa cium aromanya dari sini" Tanya Nora. "Iya, tan. Ini aku bikin nasgor spesial buat tante karena tante pasti laper abis kita gempur dari siang sampe sore hehehe" Jawab Eza sambil berjalan mendekat lalu menaruh piring di atas meja rias. "Iih manis banget sih kamuuu. Tante cobain ya, sayang" Balas Nora lalu mulai memakan nasgor bikinan Eza. "Waaaw enak, Za. Kamu pinter masak ya. Bisa bikin apa lagi?" Lanjut Nora. "Banyak, tan. Nanti kalo ada waktu aku bikinin ya, spesial buat tante Nora" Jawab Eza. Mereka lalu makan berdua sambil tertawa & saling menyuapi.
Selesai makan, mereka duduk di atas ranjang sambil bersandar di kepala dipan. "Tan, aku haus" Ujar Eza manja. "Nih, mau susu tante?" Balas Nora sambil membuka tali lingerie yang dia kenakan & memperlihatkan bongkahan payudaranya yang bulat, besar & putih bersih itu. "Hehehe tante tau aja" Jawab Eza yang dengan semangat meremas, menjilati & menghisap puting Nora dalam-dalam. Nora mulai mendesah. "Aaaw sayaaang kamu taro apa di makanan tadi kok tante jadi horny gini siiih aaaahh .. Uuuugh geliii enaaak" Nora mulai meracau karena serangan Eza ke buah dadanya.
Tangan Nora menggapai penis Eza lalu dikocoknya dengan lembut hingga keras menjulang tinggi. Lalu dijepitnya batang penis itu dengan kedua gunung kembarnya. "Aah enak, tanteee. Toket tante gede lembut & empuk bangeeet. Aku suka dijepit giniii" Racau Eza keenakan. Nora hanya tersenyum nakal. Lalu direbahkannya tubuh Eza & dia duduk di atas selangkangan Eza. Dimasukkan penis Eza ke vaginanya & dia bergoyang dengan liarnya, memainkan rambutnya, memegang wajahnya & meremas payudaranya sendiri. Sungguh suatu pemandangan yang indah di mata Eza.
Nora merasakan penis Eza mulai berkedutan di dalam vaginanya. "Udah di ujung ya, sayang? Mau keluar? Ayo, crot di dalem lagi, sayang. Memek tante udah siap nih nampung peju muda kamu" Bisik Nora nakal di telinga Eza. "Aaah tanteee aku keluaar .. Tampung peju Eza, tanteee. Eza kasih tante anak dari peju iniii .. Aaaaasrghh" Sperma Eza pun muncrat berbarengan dengan keluarnya cairan kewanitaan Nora. Tubuh Nora bergetar hebat di atas tubuh Eza.
Dengan penis yang masih tertancap, Eza mendorong tubuh Nora hingga kini Nora yang berbaring & dia di atasnya. Digoyangkan lagi pinggulnya agar penisnya bisa penetrasi lagi di vagina Nora. "Aaah kontol muda emang juaraaa .. Ga abis2 tenaga & isinyaaa .. Tante sukaaa .. Entot memek tante terus, sayang. Bikin tante enak. Penuhin memek tante pake peju kentalmu itu, sayaaang" Racau Nora sambil terus mendesah liar membiarkan tubuhnya dipakai sesuka hati oleh Eza.
Entah berapa kali Nora keluar selama penis Eza penetrasi di dalam vaginanya. Nora tak peduli. Kepalanya kini hanya diisi oleh penis-penis muda & sperma mereka yang kental dengan aroma yang khas. Mungkin ini alasannya kenapa banyak orang seusianya yang mencari pasangan seksual yang lebih muda, mereka punya pengalaman & partner muda mereka memiliki tenaga & tubuh yang belum termakan usia.
Setelah puas 3 kali creampie di vagina Nora, Eza pamit. Gantian Azka datang meminta jatah. Sebelum memulai pertempuran, Nora & Azka mandi bareng di kamar mandi kamar Nora.
"Suka deh liat tante bugil gini. Cantik. Pipinya, toketnya, pantatnya, semua chubby hehehe" Ujar Azka sambil menggerayangi Nora yang sedang mengeringkan tubuhnya. "Maksud kamu tante gendut?" Nora mendelik tajam. "Bukan, tante Noraku sayaaang. Tante itu ga gendut tapi montok, bahenol, semok hehehe" Jawab Azka sambil melepas handuk yang melekat di pinggangnya lalu mengocok penisnya sambil memandangi tubuh indah di depannya.
Nora hanya mencibir manja sambil memonyongkan bibirnya. Dengan gerakan kilat Azka menyambar bibir tebal itu & mengulumnya. Handuk yang melekat ditubuhnya dilepas oleh Azka hingga kini mereka berdua telanjang bulat.
Azka lalu bersimpuh di lantai & mengangkat kaki kanan Nora hingga selangkangannya terekspos dengan jelas. Diciuminya vagina Nora, "Mmmh wangi banget memek tante. Tembem gini bentuknya & peret banget pas dientot. Tante pinter ngerawatnya" Ujarnya sambil melumat habis vagina itu. "Iya, sayaaang .. Tante rawat terus biar kamu enak entotinnyaaa"
Saking buas & liarnya permainan lidah & bibir Azka di vagina Nora, wanita itu sampai terkencing-kencing. Lututnya terasa lemas. Dia pun terduduk dengan nafas tersengal-sengal. Senang sekali Azka melihatnya. "Nungging, tan" Perintah Azka yang dituruti oleh Nora. Azka mulai menyodok penisnya sambil menampar-nampar bongkahan pantat Nora yang bulat putih bersih itu hingga memerah. Meski sakit, Nora membiarkan pemuda itu menyiksa pantatnya. Lama kelamaan sakit itu berubah menjadi kenikmatan.
"Aaw enak, sayaaang .. Kalo nungging gini, kontol kamu lebih berasa, bikin mentok sampe ke rahim tanteee" Racau Nora. "Ayo minta peju Azka, tante. Minta dibuntingin pake pejuku" Perintah Azka sambil terus penetrasi. "Aaaah iya sayaaang hamilin tante pake peju kamu yang kental & sehat ituuuu .. Tante pasti hamiiil .. Uuuuggh .. Tante lagi masa subur nih, sayang. Peju kamu pasti jadi dedek bayi di rahim tanteee .. Semburin, sayaaang .. Tante tampung peju kamuuuu aaaaaah" Nora meracau liar.
Puluhan juta sel sperma muncrat lalu berenang-renang ke rahim untuk membuahi sel telur Nora. Tidak hanya sekali, tapi 3 kali di malam itu Azka mengeluarkan spermanya di dalam vagina Nora. Rasa puas terpancar di wajah kedua insan berbeda usia itu. Nora pun tertidur sambil tersenyum. Setelah menyelimuti Nora, Azka kembali ke kamarnya.
Sejak saat itu, kapan pun di mana pun mereka terus berhubungan badan, baik itu bertiga atau berdua. Hingga pada suatu pagi Nora memanggil Azka & Eza lalu mereka bertiga duduk di bangku ruang makan. Nora meletakkan sesuatu di atas meja; sebuah test pack dengan 2 garis biru. Nora hamil.
"Nih, hasil karya kalian berdua ada di perut tante sekarang" Ujar Nora sambil membelai perutnya. "Ga usah kalian cari tau sperma siapa yang membuahi tante. Ini anak tante & tante yang akan besarkan. Tante ga akan larang kalian kalo mau bantu, tapi tante ga akan pernah minta" Lanjutnya. Azka & Eza mengangguk setuju.
Tentu saja, bisa menyetubuhi wanita cantik nan seksi lalu menghamilinya tanpa perlu tanggung jawab adalah impian liar banyak lelaki & kini hal itu terjadi di diri Azka & Eza. Di luar sana, pasti banyak lelaki lain yang iri.
"Ok, tan. Kami setuju. Tapi izinkan kami untuk menjaga tante selama hamil sampai melahirkan" Ujar Eza mewakili Azka. "Ooo ooh so sweet. Ga cuma kontol kalian yang enak & peju kalian yang bisa bikin bunting, tapi kalian juga baik & bertanggung jawab. Wanita yang akan menjadi pasangan kalian nanti adalah wanita beruntung" Jawab Nora sambil membelai rambut kedua pemuda itu. "Tapi jawab yang jujur, menjaga tante yang kalian maksud itu adalah make tubuh tante ini kan?" Tanya Nora lagi. "Aah tante tau ajaaa hahahaha" Jawab Azka & Eza berbarengan. Ketiganya tertawa.
5953Please respect copyright.PENANAdXxBMyVdl9


