Di Balik Jendela Kafe
Aroma kopi yang menggoda menyeruak memenuhi udara kafe. Di sudut ruangan, seorang wanita bernama Anya duduk termenung, memandang jalanan yang ramai di luar jendela. Jemarinya mengetuk-ngetuk meja, sementara pikirannya melayang jauh. Anya adalah seorang penulis lepas yang sedang berjuang untuk meniti karier. Ia memiliki impian besar untuk menerbitkan novelnya, namun hingga kini belum ada penerbit yang tertarik.
Di seberang meja, seorang pria bernama Reno menatap Anya dengan penuh kasih. Reno adalah seorang fotografer profesional yang sukses. Ia selalu mendukung Anya, meskipun ia sendiri merasa khawatir karena Anya terlalu keras pada dirinya sendiri.
"Kamu melamun lagi," kata Reno lembut, memecah lamunan Anya.
Anya tersenyum tipis. "Maaf, aku sedang memikirkan naskahku. Aku merasa buntu," jawabnya jujur.
Reno mengulurkan tangannya, menggenggam tangan Anya. "Jangan terlalu dipaksakan. Mungkin kamu butuh istirahat sejenak," sarannya.
Anya mengangguk. Ia tahu Reno benar. Ia memang sudah terlalu lama berkutat dengan naskahnya tanpa henti. Namun, ia merasa takut jika ia berhenti, ia akan kehilangan momentum.
"Aku tahu kamu ingin segera menerbitkan novelmu, tapi jangan sampai itu membuatmu stres. Aku lebih suka melihatmu bahagia," kata Reno lagi.
Anya terharu mendengar ucapan Reno. Ia merasa beruntung memiliki kekasih seperti Reno, yang selalu mengerti dan mendukungnya.
"Terima kasih, Reno. Kamu selalu ada untukku," ucap Anya tulus.
Reno tersenyum. "Itulah gunanya cinta," balasnya.
Beberapa waktu kemudian, seorang pria menghampiri meja Anya dan Reno. Pria itu bernama David, seorang editor dari sebuah penerbit terkenal. David sudah lama mengagumi tulisan-tulisan Anya. Ia bahkan sering membaca artikel-artikel Anya di blog pribadinya.
"Anya, saya sudah membaca naskah novelmu. Saya sangat tertarik untuk menerbitkannya," kata David dengan antusias.
Anya terkejut mendengar ucapan David. Ia tidak menyangka akan mendapatkan tawaran seperti ini.
"Sungguh? Anda serius?" tanya Anya dengan mata berbinar.
David mengangguk. "Tentu saja. Saya yakin novelmu akan sukses di pasaran," jawabnya.
Anya sangat senang mendengar ucapan David. Impiannya akhirnya akan terwujud. Ia segera menerima tawaran David.
"Terima kasih banyak, David. Saya tidak tahu bagaimana membalas kebaikanmu," kata Anya dengan haru.
David tersenyum. "Tidak perlu sungkan. Saya hanya ingin membantu penulis berbakat seperti kamu," balasnya.
Setelah David pergi, Anya menatap Reno dengan wajah berseri-seri. "Aku berhasil, Reno! Aku akan menerbitkan novelku!" serunya gembira.
Reno ikut senang mendengar kabar baik itu. Ia memeluk Anya erat. "Aku bangga padamu, Anya. Kamu memang yang terbaik," ucapnya dengan tulus.
Namun, di balik kebahagiaan itu, Reno merasa sedikit khawatir. Ia tahu, setelah Anya menjadi penulis terkenal, ia akan sering bertemu dengan orang-orang baru, termasuk pria-pria yang mungkin tertarik padanya. Reno takut jika Anya akan berpaling darinya.
Anya menyadari perubahan ekspresi Reno. Ia tahu apa yang sedang dipikirkan Reno.
"Kamu cemburu?" tanya Anya lembut.
Reno terdiam sejenak. Ia tidak ingin berbohong, tetapi ia juga tidak ingin membuat Anya merasa bersalah.
"Aku tidak cemburu. Aku hanya sedikit khawatir," jawab Reno akhirnya.
Anya tersenyum. Ia mengerti perasaan Reno. Ia tahu Reno sangat mencintainya, dan ia tidak ingin menyakiti Reno.
"Reno, aku mencintaimu. Aku tidak akan pernah berpaling darimu," kata Anya dengan tegas.
Reno menatap mata Anya. Ia melihat ketulusan di sana. Ia percaya pada Anya sepenuhnya.
"Aku juga mencintaimu, Anya. Aku percaya padamu," balas Reno.
Anya menggenggam tangan Reno erat. "Cemburu hanya akan merusak hubungan kita. Aku tidak ingin itu terjadi," kata Anya lagi.
Reno mengangguk. Ia mengerti apa yang dimaksud Anya. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak lagi merasa cemburu. Ia harus percaya pada Anya dan cintanya.
"Aku janji, aku tidak akan cemburu lagi. Aku akan selalu mendukungmu, apapun yang terjadi," kata Reno dengan penuh keyakinan.
Anya tersenyum lega. Ia tahu, Reno adalah pria yang sangat kuat dan pengertian. Ia beruntung memiliki Reno di sisinya.
"Terima kasih, Reno. Kamu adalah segalanya bagiku," ucap Anya tulus.
Reno mencium kening Anya dengan lembut. "Aku juga mencintaimu, Anya. Selamanya," balasnya.
Mereka berdua saling berpelukan, merasakan cinta yang mengalir di antara mereka. Di balik jendela kafe, jalanan tetap ramai seperti biasa. Namun, di dalam kafe, ada dua hati yang sedang berbahagia, saling mencintai tanpa syarat, tanpa cemburu, hanya ada kepercayaan dan keyakinan. Cinta yang tulus dan abadi.
ns216.73.216.134da2


