Beberapa hari setelah kencan pertama di Simpang Lima, segalanya terasa seperti mimpi yang aneh tapi manis. Aku dan Rizki masih dalam fase PDKT yang "rahasia".
Kami sepakat untuk tidak langsung mengumbar semuanya di depan Iqbal dan Bayu. Ada ketakutan besar yang membayangi; kami takut jika ego kami sebagai pasangan justru akan merusak harmoni Geng Koplak yang sudah mendarah daging.
Tapi, menyembunyikan bangkai itu mustahil. Iqbal dan Bayu bukan orang bodoh.
“Lin, kamu akhir-akhir ini kok sering senyum-senyum sendiri ke arah HP? Kesambet ya?” Tanya Iqbal suatu pagi di sekolah, matanya menyipit curiga. Bayu hanya menyeringai sinis, menyandarkan punggungnya di kursi. “Pasti ada udang di balik bakwan ini. Aromanya sudah sampai ke hidungku.”
Aku hanya bisa tertawa gugup, mencoba mengalihkan pembicaraan. Rasanya sesak harus berbohong kepada mereka, tapi aku juga belum siap menghadapi kemungkinan terburuk: mereka kecewa atau, lebih buruk lagi, mereka menjauh.
Malam Jumat itu, sebuah pesan dari Rizki masuk. “Lin, malam ini ke rumahku saja? Cuma berdua. Aku masak mie goreng spesial. Kita ngobrol serius soal kita dan geng.”
Jantungku langsung berdegup kencang. Rumah Rizki selalu menjadi tempat paling aman sekaligus paling sunyi. Orang tuanya di Jakarta, dan Bagas... orang rumah yang membantunya, sudah sangat maklum jika aku datang. Aku berbohong pada Mbak Haryanah, izin ke rumah Iqbal untuk mengerjakan tugas, padahal aku tahu Iqbal sedang asyik futsal.
Rizki menjemputku di depan gerbang. Penampilannya sangat santai; kaos hitam polos, celana pendek, dan rambut yang masih lembap setelah mandi. Aroma sabunnya langsung menyergap indra penciumanku. Dia mengajakku naik ke atap rumah, sebuah spot favoritnya kalau sedang ingin menyendiri.
Di sana, Rizki sudah menyiapkan tikar kecil dan lampu tumblr kuning hangat yang melilit pagar pembatas. Angin malam Semarang menyapu lembut, membawa hawa sejuk yang menenangkan. Kami duduk berdampingan, bersandar pada tembok yang masih menyimpan sisa panas matahari siang tadi.
Rizki menyodorkan semangkok mie goreng yang mengepul. “Aku belajar dari YouTube. Ingin kasih kamu sesuatu yang aku buat sendiri, bukan cuma beli di pinggir jalan,” katanya pelan.
Aku menyuap mie itu. Rasanya enak, tapi hatiku mulai terasa berat. “Riz... aku senang sekali sama kamu. Tapi aku takut. Iqbal dan Bayu sudah mulai curiga. Kalau kita resmi nanti, bagaimana kalau mereka tidak terima? Aku tidak mau kehilangan mereka. Mereka separuh hidupku sejak dulu.”
Rizki meletakkan mangkuknya, lalu menatapku lama. Matanya yang tenang selalu berhasil meredam kepanikanku.
“Aku juga takut, Lin. Iqbal itu yang selalu ada kalau aku merasa sendirian di rumah besar ini. Bayu itu yang paling bisa diandalkan kalau aku butuh bantuan. Mereka keluarga buatku,” ucapnya tulus. “Tapi kita tidak bisa terus-menerus hidup dalam kebohongan. Itu justru tidak menghormati mereka sebagai sahabat.”
Dia meraih tanganku, jemarinya yang hangat menyusup di antara jemariku. “Besok, kita ajak mereka nongkrong. Kita bicara jujur. Kita bilang kalau kita ingin serius, tapi kita tetap butuh mereka. Kalau mereka kecewa, kita beri mereka waktu. Kita buktikan kalau hubungan kita tidak akan membuat mereka tersisih. Kita tetap geng yang dulu, hanya saja sekarang ada warna baru di dalamnya.”
Aku menatap lampu-lampu kota di kejauhan. “Kamu selalu lebih dewasa ya, Riz. Aku yang sering panik duluan.”
Dia tersenyum kecil, lalu menarikku lebih dekat sampai kepalaku bersandar dengan nyaman di bahunya. “Kita sama-sama belajar, Lin. Malam ini... biarkan kita nikmati momen ini dulu. Tanpa rasa takut, tanpa terburu-buru.”
Kami terdiam lama, hanya ditemani suara angin dan sayup-sayup kendaraan dari kejauhan. Mie goreng di mangkuk sudah dingin, tapi hatiku terasa sangat panas oleh perasaan yang membuncah. Aku menatap wajahnya di bawah cahaya kuning lampu tumblr yang lembut. Sorot matanya penuh kehangatan yang membuat detak jantungku berirama lebih kencang dari biasanya.
Angin sepoi-sepoi menyapu kulit kami, membawa aroma bawang goreng yang tersisa dan wangi segar dari rambutnya. Rizki tersenyum kecil, ibu jarinya pelan mengusap punggung tanganku, sebuah gerakan sederhana yang sanggup membuat bulu kudukku merinding hebat.
“Lin…” bisiknya.
Dia mendekat, bahunya menyentuh bahuku dengan lebih erat. Aku tidak mundur. Aku justru membalas tatapannya, merasakan bibirku mendadak kering karena ketegangan yang manis ini. Rizki mengangkat tangan satunya, menyentuh pipiku dengan gerakan sangat perlahan. Ibu jarinya mengusap lembut di bawah mataku, memberikan rasa aman yang tak terlukiskan.
Aku memejamkan mata sebentar, menikmati sentuhan hangat itu. Di atap rumah ini, di bawah langit malam Semarang, aku menyadari satu hal: bersamanya, ketakutan apa pun tentang masa depan terasa bisa dihadapi. Rizki bukan hanya pacar, dia adalah jangkar bagi hatiku yang selama ini sering terombang-ambing.
Wajahnya semakin dekat, hingga aku bisa merasakan hembusan napasnya yang hangat di kulitku. Malam ini terasa begitu panjang, dan aku tidak ingin pagi datang terlalu cepat.
Aku cium bibirnya tangan ku merayap ke dada nya, merasakan detak jantungnya yang cepat di bawah kaos. Dia balas dengan tangannya yang turun ke pinggangku, narik aku lebih rapat, jari-jarinya menyelinap ke bawah hem bajuku, menyentuh kulit punggungku langsung. Sentuhannya bikin aku mendesah lebih keras, badanku panas, rasanya ingin lebih.
Kami pindah posisi pelan, dia baringkan aku di karpet ruang keluarga, tubuhnya menindihku separuh, tapi nggak berat. Dia cium aku lagi sambil tangannya menjelajah, naik ke perutku, menyentuh kulit yang terbuka.
Aku buka bajuku, kasih dia akses lebih, dan dia paham. Bibirnya pindah ke leherku lagi, turun ke tulang selangka, sambil tangannya membuka kancing bh ku dari belakang dengan satu gerakan ahli.
Aku nggak protes, aku ingin ini, ingin dia.
Malam itu pelan tapi penuh gairah. Dia cium dadaku, lidahnya menyapa putingku yang sudah keras, bikin aku melengkungkan punggung dan mendesah namanya.
“Riz…” Tanganku meremas rambutnya, menarik dia lebih dekat. Dia balas dengan tangannya yang turun ke celanaku, membuka resleting pelan, jari-jarinya menyentuh bagian yang sudah basah melalui celana dalam.
Aku menggigit bibir, pinggulku otomatis naik menyambut sentuhannya. Dia usap pelan dulu, bikin aku semakin basah, lalu jarinya menyelinap masuk, gerakannya lembut tapi pasti, bikin aku kegelian campur enak sampai aku mengerang pelan.
Aku nggak mau dia sendirian, aku balas dengan tanganku yang turun ke celana pendeknya, merasakan penisnya yang sudah keras di balik celana. Aku usap pelan, lalu buka ikat pinggangnya, tanganku menyentuhnya langsung.
Dia mendesah di leherku, tubuhnya menegang sebentar. Kami saling layani seperti itu, pelan dan saling menikmati, sampai napas kami sama-sama cepat dan berat.
Akhirnya, dia tarik celanaku turun sepenuhnya, begitu juga celana dalamku. Aku bantu dia lepas kaos dan celananya. Kami telanjang di ruangan itu, di malam Semarang yang berbintang, angin malam menyapu kulit kami yang panas. Dia tatap aku lama, matanya penuh cinta.
“Kamu yakin, Lin?” Tanyanya, suaranya gemetar sedikit.
Aku angguk, tarik dia turun. “Aku yakin... Aku mau sama kamu.”
Dia masuk pelan, hati-hati, kasih aku waktu buat terbiasa. Rasanya penuh, enak, bikin aku mengerang pelan. Kami gerak bersama, pelan dulu, lalu makin cepat seiring napas kami yang saling kejar.
Pelukannya erat, bibirnya nggak lepas dari bibirku atau leherku. Aku lilit kaki di pinggangnya, narik dia lebih dalam, sampai kami sama-sama mencapai puncak bersamaan, aku mengerang namanya keras, dia bisik nama ku di telinga ku sambil tubuhnya menegang.
Kami diam sesaat, napas tersengal, tubuh saling menempel berkeringat. Dia peluk aku erat, cium keningku berkali-kali. “Aku sayang kamu, Lin. Cinta... banget.”
Aku senyum lemah, balas peluk dia. “Aku juga, Riz.”
Tapi pas badanku mulai rileks, tiba-tiba ingatan itu datang lagi. Kejadian tahun baru itu, malam yang gelap, mabuk, dan aku nggak bisa nolak. Bayu, Iqbal, Rizki, Januar, bahkan Sofi yang ikut-ikutan… semuanya bergantian, aku cuma bisa pasrah di tengah mereka.
Rasa malu dan trauma itu naik lagi, bikin dada ku sesak. Aku menegang di pelukannya, air mata tiba-tiba netes tanpa suara.
Rizki notice langsung. Dia angkat kepalaku pelan, tatap mataku yang basah. “Lin? Kenapa? Aku sakitin kamu?”
Aku geleng kepala, suaraku bergetar. “Bukan… aku tiba-tiba ingat tahun baru itu. Yang… kita semua… aku ngerasa kotor lagi, Riz. Kamu juga ikut waktu itu. Gimana kalau kamu juga liat aku kayak gitu?”
Dia diem sebentar, tapi pelukannya nggak lepas, malah lebih erat. Matanya sedih, tapi tenang. “Lin, aku minta maaf. Aku nggak bangga sama apa yang terjadi malam itu. Aku juga mabuk, aku bodoh, dan aku nyesel banget pernah nyakitin kamu, meskipun waktu itu kita semua nggak sadar betul. Tapi itu masa lalu. Kamu bukan kotor, kamu kuat, kamu selamat dari itu, dan sekarang kamu di sini sama aku karena kita cinta satu sama lain.”
Dia mengusap air mataku pelan. “Aku nggak liat kamu kayak dulu lagi. Aku liat kamu sebagai Lina yang aku sayang, yang bikin aku mau jadi lebih baik. Kita berdua belajar dari kesalahan itu. Besok kita hadapi Iqbal dan Bayu bareng, dan aku janji, aku bakal lindungin kamu dari apa pun yang bikin kamu takut lagi. Kamu nggak sendirian, Lin. Aku di sini. Selamanya kalau kamu mau.”
Aku nangis pelan di dadanya, tapi kali ini nangis lega. Kata-katanya bikin beban itu ringan sedikit. Aku peluk dia balik, lebih erat.
Malam itu, di atap rumah yang biasanya sepi, dia ngerasa nggak sendirian lagi. Kami berdua takut, tapi kami pilih maju bareng. Pelan-pelan, tapi pasti.
ns216.73.217.15da2


