Sore itu, Semarang seolah sengaja meredupkan cahayanya. Matahari mulai condong ke ufuk barat, menciptakan semburat jingga yang membias di kaca-kaca jendela kelas yang mulai kosong. Aku masih ingat bagaimana jemariku gemetar saat membaca pesan singkat dari Rizki di layar HP-ku yang sudah agak lecet.
“Lin, nanti sore aku jemput ya? Jam 4. Jangan berubah pikiran.”
Hanya sepuluh kata, tapi rasanya seperti seluruh oksigen di sekitarku tersedot habis. Aku menjawabnya dengan satu kata "Oke" yang datar, padahal di balik layar itu, aku hampir berteriak karena campur aduk antara senang, takut, dan cemas yang luar biasa.
Sesampainya di rumah, aku merasa seperti orang asing di kamarku sendiri. Aku berganti baju hingga tiga kali. Pertama, dress bunga-bunga yang kurasa terlalu "centil", lalu kaos hitam yang tampak terlalu suram. Akhirnya, aku memilih kaos putih polos favoritku dan celana jeans.771Please respect copyright.PENANApWMswirLLv
Aku mengikat rambutku sederhana, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajah, dan memulas lip gloss tipis-tipis di bibir. Aku ingin terlihat cantik, tapi aku sangat takut terlihat seperti orang yang terlalu berharap.
Tepat jam empat, suara mesin Vixion hitam itu menderu di depan pagar. Mbak Haryanah, yang sepertinya sudah paham situasi, mengintip dari balik gorden sambil memberikan senyum jail yang membuat pipiku makin panas.
Saat aku melangkah keluar, Rizki sudah berdiri di sana. Dia baru saja melepas helmnya, membuat rambutnya sedikit berantakan tertiup angin sore. Namun, matanya tidak beralih sedikit pun, dia langsung menatapku dengan sorot yang dalam.
“Lin… kamu cantik banget hari ini,” bisiknya pelan. Suaranya hampir tertelan kebisingan jalanan, tapi di telingaku, itu terdengar seperti musik yang indah.
“Jangan gombal deh, Riz. Aku biasa saja kok,” sahutku salah tingkah sambil berpura-pura sibuk membetulkan letak tas.
Dia menggeleng pelan, lalu menyodorkan helm kepadaku. “Aku nggak pernah gombal, Lin. Aku serius. Naik yuk.”
Sepanjang perjalanan menuju Simpang Lima, aku memeluk pinggangnya lebih erat dari biasanya. Aku bisa merasakan detak jantungnya lewat punggung yang kokoh itu, atau mungkin itu detak jantungku sendiri yang berdegup kencang seirama dengan laju motor.
Angin sore meniup rambutku, membawa aroma parfum maskulinnya yang segar. Saat itu, aku menyadari satu hal: ini bukan lagi nongkrong biasa bareng Iqbal dan Bayu. Ini adalah garis start yang baru.
Kami memilih sebuah meja di pojokan food court di salah satu mall di Simpang Lima. Meja itu dekat jendela besar yang memperlihatkan hiruk-pikuk kota Semarang dari ketinggian. Rizki memesan dua gelas es krim cokelat vanila berukuran besar.
Dia mengambil sendokan pertama dan menyodorkannya ke arahku. “Coba dulu, biar tenang,” katanya dengan nada lembut yang menenangkan.
Aku membuka mulut, dan dinginnya es krim itu menyentuh lidahku. Manis, tapi pikiranku terlalu penuh untuk benar-benar merasakannya. Saat aku menelan es krim itu, Rizki meletakkan sendoknya. Wajahnya yang biasanya tenang kini terlihat tegang. Tangannya yang memegang gelas es krim bergetar tipis.
“Lin… aku harus bilang sesuatu sekarang. Aku nggak mau lagi pendam ini sendirian, karena rasanya sesak sekali kalau cuma disimpan sendiri,” Rizki memulai, suaranya terdengar lebih berat dari biasanya.
Dia menarik napas panjang, menatap lurus ke dalam mataku. “Aku suka sama kamu sudah lama banget, Lin. Bukan cuma suka biasa sebagai sahabat. Aku takut setiap hari kalau kamu dekat sama cowok lain, meskipun itu sahabat kita sendiri, Iqbal atau Bayu. Aku selalu dihantui ketakutan kalau suatu hari kamu datang ke aku dan bilang, ‘Riz, aku suka orang lain’. Itu adalah mimpi burukku, Lin. Karena jujur, aku nggak bisa bayangin hidup tanpa kamu di sampingku setiap hari.”
Mendengar itu, dadaku seolah dihantam gelombang besar. Air mata mulai menggenang tanpa permisi di pelupuk mataku.
“Riz… jangan bilang gitu. Aku juga takut,” suaraku mulai parau. “Aku takut kalau kita mencoba ini, kita malah gagal. Aku takut Iqbal dan Bayu kecewa, atau mereka menjauh. Mereka adalah separuh duniaku, Riz. Kalau mereka pergi, aku nggak tahu harus bersandar ke siapa lagi.”
Rizki meraih tanganku di atas meja. Jemarinya yang dingin kini terasa hangat saat menggenggam tanganku dengan erat namun lembut.
“Mereka nggak bakal pergi, Lin. Mereka sahabat kita. Iqbal mungkin bakal ngeledek aku sampai bosan, dan Bayu mungkin pura-pura cuek, tapi mereka tahu betapa seriusnya aku sama kamu. Aku nggak main-main dengan perasaanku.”
Aku menunduk, mencoba menghapus air mata yang jatuh ke pipi. “Tapi aku nggak sempurna, Riz. Kamu tahu kan? Keluargaku berantakan. Ibu sudah nggak ada, Ayah nikah lagi dan sudah punya dunianya sendiri. Aku cuma tinggal sama Mbak Haryanah, mengurus Raka dan Riki yang rewel. Aku sering capek, Riz. Aku sering sedih sendirian tanpa alasan. Kamu… kamu dari keluarga terpandang, rumahmu besar, masa depanmu sudah jelas. Aku takut nanti kamu nyesel. Aku takut saat kamu melihat sisi burukku yang paling kelam, kamu bakal mundur.”
Rizki menggeleng keras. Matanya pun kini mulai berkaca-kaca, memantulkan lampu-lampu mall yang mulai menyala.
“Lin, stop. Dengerin aku baik-baik. Aku nggak peduli soal harta atau status. Aku peduli sama kamu yang sering menangis diam-diam di belakang kelas kalau nilai ujianmu jelek. Aku peduli sama kamu yang tertawa paling keras pas Iqbal ngeluarin bercandaan garing cuma biar suasana nggak sepi. Aku peduli sama kamu yang dengan sabar memeluk Riki kalau dia nangis tengah malam.”
Dia berhenti sebentar, seolah sedang mengumpulkan sisa keberaniannya. “Dan soal keluargaku… Lin, kamu pikir rumah besar itu artinya bahagia? Rumah dua lantai itu kosong setiap hari. Orang tuaku di Jakarta, sibuk dengan pekerjaan mereka. Aku sudah kesepian sejak aku kelas satu SMP. Mereka pulang cuma saat Lebaran, itu pun kalau mereka sempat. Aku terbiasa tinggal sendiri, makan sendiri, bahkan merayakan ulang tahun sendirian di rumah yang sepi.”
Aku tertegun. Aku tidak pernah tahu sisi ini. Di mataku, Rizki selalu menjadi sosok yang beruntung. Selalu punya uang jajan lebih, selalu punya barang-barang bagus, dan selalu terlihat tenang.
“Aku pura-pura kuat di depan kalian, tapi sebenarnya aku takut sekali kalau kalian pergi juga,” lanjut Rizki dengan suara serak. “Iqbal, Bayu, dan terutama kamu… kalian adalah satu-satunya keluarga yang aku punya di kota ini. Makanya, kehilangan kamu adalah kehilangan duniaku.”
Aku tidak bisa menahan tangis lagi. Aku menyadari bahwa di balik kemandirian dan ketenangannya, Rizki adalah jiwa yang sama rapuhnya denganku. Kami adalah dua orang yang sama-sama bersembunyi di balik topeng keceriaan persahabatan demi menutupi luka masing-masing.
“Riz… aku nggak tahu kalau kamu sesedih itu,” kataku pelan, suaraku hampir hilang.
Dia tersenyum getir, namun matanya memancarkan ketulusan yang murni. “Aku bahagia kalau kamu ada di dekatku, Lin. Aku hanya tidak ingin kamu menyukaiku karena rasa kasihan. Aku mau kamu menyukaiku karena aku adalah Rizki.”
Aku mengusap air mataku dengan punggung tangan, lalu membalas genggaman tangannya lebih erat. “Aku nggak kasihan, Riz. Aku mengerti sekarang. Kita sama-sama takut kehilangan orang yang kita sayang. Aku juga nggak mau kehilangan kamu. Aku menyukaimu karena kamu selalu ada buatku, padahal kamu sendiri sedang kesepian. Itu hal paling indah yang pernah aku temukan.”
Rizki mengangkat wajahnya, menatapku dengan binar yang lebih terang. “Jadi… kita coba jalani ini bareng-bareng ya? Kita isi kekosongan satu sama lain. Pelan-pelan saja. Kalau suatu hari aku merasa sedih, tolong peluk aku. Dan kalau kamu merasa capek dengan dunia, biar aku yang menjagamu. Janji?”
Aku mengangguk mantap, meskipun tangis haru masih tersisa di wajahku. “Janji, Riz. Kita isi bareng-bareng.”
Rizki mengangkat gelas es krimnya, meskipun es krim di dalamnya sudah mulai mencair. “Buat kita. Buat dua orang yang selama ini takut, tapi akhirnya memilih untuk maju.”
Aku mengangkat gelasku juga, tertawa kecil di antara sisa air mata. “Buat kita.”
Malam itu, kami berjalan keluar dari mall dengan tangan yang saling bertaut erat. Udara malam Simpang Lima yang bising terasa begitu damai. Lampu-lampu kota bersinar terang, seolah-olah ikut merayakan keputusan kami.
Mungkin di suatu tempat, Iqbal dan Bayu sedang asyik nongkrong tanpa tahu bahwa malam ini, dinamika persahabatan kami telah berubah selamanya.
Tapi bagiku, ini bukan hanya soal jadian. Ini adalah akhir dari rasa kesepian panjang kami berdua. Di tengah dinginnya malam Semarang, aku merasa benar-benar hangat. Karena akhirnya, aku tidak lagi berjalan sendirian. Aku memiliki Rizki, dan dia memiliki aku. Kami adalah keluarga yang kami pilih sendiri.
ns216.73.217.15da2


