Sudah seminggu berlalu sejak malam di bukit itu, tapi rasanya kata-kata Rizki masih menggantung di udara, ikut terhirup setiap kali aku bernapas. “Aku mau coba lebih dari sahabat, kalau kamu izinin.” Kalimat itu seperti kaset rusak yang berputar di kepalaku, membuat jantungku mendadak melakukan maraton kecil setiap kali mata kami tidak sengaja bertemu.
Aku mencoba bersikap biasa saja. Aku tidak ingin merusak harmoni Geng Koplak yang sudah susah payah dibangun kembali. Iqbal dan Bayu memang mulai sering melempar ledekan "modus", tapi untungnya mereka belum tahu kalau kami sudah masuk ke fase "PDKT resmi".
Pagi itu, Semarang sedang gerah-gerahnya. Kami berkumpul di bawah pohon asam legendaris dekat kantin. Iqbal sedang asyik mengunyah roti bakar sambil menceritakan mimpi absurdnya dikejar hantu yang ingin meminjam uang.
“Sumpah, hantunya bawa dompet kosong, wajahnya melas banget!” Seru Iqbal berapi-api.
Bayu hanya mendengus, matanya tidak lepas dari layar HP. “Kamu itu aneh, Bal. Tidur saja masih mikirin utang-piutang.”
Aku tertawa, mencoba larut dalam kekonyolan mereka. Tak lama, Rizki datang membawa nampan berisi empat gelas es teh. Tanpa perlu ditanya, dia menyodorkan satu gelas padaku terlebih dahulu.
“Nggak terlalu manis, Lin. Pas buat cuaca begini,” ucapnya pelan.
Aku menerimanya, merasakan embun dingin gelas itu di telapak tanganku. “Makasih, Riz. Kamu kok nggak pernah absen ya ingat seleraku?”
Rizki hanya tersenyum tipis, jenis senyum yang kini kurasa hanya dialokasikan untukku lalu duduk di sebelahku. Jaraknya pas, tidak terlalu intim tapi cukup dekat untuk membuatku mencium aroma parfumnya yang khas dan segar.
“Wah, servis premium nih! Aku juga mau dong, Ki, es tehku mana?” Tuntut Iqbal sambil cengengesan.
Rizki melirik Iqbal datar. “Ambil sendiri lah, Bal. Tanganmu masih kuat kan? Aku cuma punya dua tangan, dan satu sudah khusus buat mengantar punya Lina.”
“Lina... Lina... Rizki sayang Lina...” Bayu mulai bernyanyi dengan nada mengejek. Aku refleks mencubit lengannya, membuat Bayu mengaduh kegirangan. Di balik candaan itu, hatiku menghangat. Persahabatan kami masih sama, masih bising, masih saling ejek, tapi sekarang ada lapisan pelindung baru yang bernama Rizki.
Puncaknya terjadi saat bel pulang sekolah berbunyi. Biasanya, aku otomatis menuju motor Fiz-R Iqbal. Rumah kami hanya selisih empat bangunan, jadi membonceng Iqbal sudah seperti hukum alam bagiku sejak SMP.
Namun hari ini, saat Iqbal dan Bayu sedang sibuk berdebat tentang siapa yang motornya lebih kencang di parkiran, Rizki mendekat. Dia menuntun Vixion hitamnya ke arahku, lalu menyodorkan helm miliknya yang tampak masih sangat baru.
“Lin, hari ini bonceng aku saja, yuk? Biar Iqbal sama Bayu puas berdebat tanpa ada yang menengahi,” tawarnya. Suaranya rendah, menenangkan di tengah bisingnya knalpot motor-motor lain.
Aku ragu sejenak, melirik ke arah Iqbal. “Eh, nggak apa-apa, Riz? Biasanya aku sama Iqbal, kan searah banget.”
“Tapi hari ini panasnya luar biasa. Aku mau ajak kamu lewat jalan yang lebih teduh. Lagipula, aku juga mau main ke rumah Iqbal nanti. Ayo,” ajaknya lagi, kali ini dengan tatapan yang sulit kutolak.
Aku akhirnya mengangguk dan naik ke jok belakang Vixion-nya. Begitu motor melaju pelan, angin sore Semarang menyapu wajahku, menerbangkan beberapa helai rambutku. Secara refleks, aku memegang pinggangnya agar tidak terjatuh. Rasanya berbeda. Punggung Rizki terasa lebih kokoh, memberikan rasa aman yang belum pernah kurasakan sebelumnya.
“Riz, makasih ya. Kamu kok jadi baik banget akhir-akhir ini?” Tanyaku iseng, mencoba memecah keheningan di antara deru mesin.
Rizki terdiam beberapa detik, fokus menembus kemacetan. “Aku biasa saja, Lin. Cuma... aku ingin memberikan lebih banyak perhatian buat kamu. Namanya juga PDKT, kan harus ada kemajuan, ya?”
Aku tertawa kecil, menyandarkan daguku sedikit lebih dekat ke bahunya. “Iya, pelan-pelan saja. Jangan drastis banget, nanti Iqbal sama Bayu curiga beneran.”
“Biarkan saja mereka curiga. Asal kamu nyaman, aku nggak peduli mereka mau bilang apa,” jawabnya mantap.
Begitu sampai di depan gang rumah, Iqbal dan Bayu ternyata sudah sampai duluan. Mereka nongkrong di atas motor di depan rumah Iqbal, menatap kami dengan seringai nakal yang lebar.
“Wah, hari ini seleranya naik ya, Lin? Bonceng sultan!” Teriak Iqbal sambil tertawa lepas. “Hati-hati, Fiz-R-ku bisa cemburu kalau lihat kamu di atas Vixion terus!”
Aku turun dari motor sambil membetulkan rambut, wajahku terasa panas. “Apaan sih kalian! Berisik!”
Rizki hanya membalas mereka dengan senyum tipis yang tenang. Sebelum dia beranjak bergabung dengan kedua curut itu, dia menoleh padaku.
“Besok pagi, aku berangkat lewat sini ya. Kita berangkat bareng.”
Aku tertegun sebentar, lalu mengangguk mantap. “Oke, aku tunggu.”
Malam itu, saat aku membantu Mbak Haryanah mengurus Raka dan Riki, pikiranku melayang jauh. Di tengah hiruk-pikuk keluargaku yang tak lagi utuh karena Bapak yang sudah punya dunia baru, kehadiran Rizki terasa seperti rumah yang sebenarnya.
Persahabatan kami berempat memang masih utuh, masih penuh ejekan dan tawa. Tapi sekarang, ada tambahan bumbu manis yang membuat hari-hariku terasa lebih "adem". Aku tidak tahu akhir dari cerita ini akan seperti apa, tapi untuk saat ini, menikmati proses PDKT yang pelan dan tulus ini rasanya sudah lebih dari cukup.
Esok pagi, aku tidak akan lagi menunggu klakson tit-tit dari Fiz-R Iqbal. Aku akan menunggu deru mesin Vixion yang membawa rasa baru di hidupku.
ns216.73.217.15da2


