Sore itu, Semarang masih menyisakan hawa gerah yang menempel di kulit. Sepulang sekolah, kami memutuskan mampir ke konter hape milik orang tua Bayu. Konter kecil di pinggir jalan itu sudah seperti "markas kedua" bagi kami.
Begitu melangkah masuk, bau plastik baru dari ribuan casing bercampur aroma solder samar dari meja servis di belakang kasir langsung menyambut. Etalase kaca penuh dengan tumpukan tempered glass, kabel data berbagai merk yang diklaim 'premium', hingga gantungan kunci murah yang warnanya sudah agak pudar.
Karena orang tua Bayu sedang ada urusan di dalam rumah, Bayu yang memegang kendali penuh. Dia berdiri di balik etalase, sibuk mengelap kaca dengan kain kusam sambil sesekali memantau jalanan di luar.
“Kalian mau cari apa lagi? Casing baru, Lin? Earphone kamu yang hilang kemarin, Ki? Atau kamu, Bal... pasti cuma mau numpang nyantai sambil isi game kan?” Todong Bayu sambil menyeringai.
Iqbal, dengan gaya khasnya, langsung selonjoran di kursi plastik tua di pojok konter. Dia mencolokkan charger hape ke stop kontak di belakang meja tanpa merasa sungkan sedikit pun. “Tahu saja kamu, Yuk. Kuotaku lagi tipis, aku mau namatin game bentar. Jangan diganggu, ini masalah harga diri!” Serunya sambil lincah memainkan jempolnya di atas layar.
Melihat Iqbal, aku merasa iri sekaligus lega. Trauma malam tahun baru itu seolah sudah benar-benar dia hapus dari memorinya. Iqbal kembali menjadi Iqbal yang dulu cuek, berisik, dan tidak mau ambil pusing. Baginya, jika sebuah kejadian sudah lewat, maka pintu memorinya sudah tertutup rapat.
Aku berdiri di depan etalase, jari-jariku pura-pura menelusuri deretan casing silikon, padahal mataku terus mencuri pandang ke arah Rizki. Dia berdiri tepat di sebelahku, jemarinya memilah kotak earphone di rak tengah dengan gerakan yang sangat pelan. Seolah-olah, dia sedang sengaja melambat-lambatkan waktu agar bisa tetap berdiri di dekatku.
Tiba-tiba, dia berhenti bergerak. Rizki menoleh, menatapku tepat di mata. Di antara kebisingan suara knalpot motor yang lalu lalang di depan konter, suaranya terdengar sangat bening.
“Lin, kamu haus nggak? Mau minum?”
Aku sedikit terkesiap, lalu mengangguk kecil. “Iya, boleh, Riz.”
Tanpa sepatah kata lagi, dia langsung melangkah keluar konter, menyeberangi jalan raya yang ramai menuju minimarket di sebelah. Beberapa menit kemudian dia kembali dengan empat gelas plastik besar yang berembun dingin di tangannya.
“Ini buat kita berempat,” katanya tenang. Dia memberikan satu pada Iqbal yang menerimanya tanpa mengalihkan mata dari layar, dan satu lagi untuk Bayu.
Lalu, dia memegang gelas terakhir sedikit lebih lama sebelum menyodorkannya padaku. Saat jemari kami bersentuhan sebentar di dinding gelas yang dingin, aku merasakan sengatan listrik yang halus menjalar ke lenganku.
Mataku tertuju pada tulisan spidol hitam di samping gelas: ‘Kurang manis’.
Duniaku seolah berhenti berputar sejenak. Itu bukan sekadar catatan pesanan biasa. Itu adalah tanda bahwa dia hafal luar kepala tentang kebiasaanku. Aku selalu memesan minuman dengan kadar gula yang sedikit. Tidak terlalu pahit, tapi juga tidak membuat mual karena kemanisan. Sering kali aku sendiri lupa bilang "kurang manis" ke penjual, tapi Rizki tidak pernah lupa. Dia selalu mengingat detail terkecil tentang diriku.
Aku mengangkat wajah, menatap matanya yang teduh di bawah sorotan lampu neon konter yang temaram.
“Riz... ini kamu pesan khusus buat aku ya?” Bisikku dengan suara yang sedikit bergetar.
Rizki hanya mengangkat bahu pelan, tapi sudut bibirnya tertarik ke atas, membentuk senyum tipis yang sangat manis, jenis senyum yang hanya dia berikan untukku.
“Aku tahu kamu nggak suka yang terlalu manis. Nanti kalau kemanisan, kamu cuma minum setengah, sisanya dibuang. Sayang, kan?”
Kalimat sederhana itu terasa lebih romantis daripada puisi mana pun yang pernah kubaca. Aku menggenggam gelas itu erat-erat, merasakan dinginnya plastik di telapak tanganku yang mendadak berkeringat.
“Kamu... selalu begini ya,” bisikku lagi, hampir tenggelam oleh suara bus yang lewat di luar. “Selalu memperhatikan hal-hal kecil yang bahkan aku sendiri sering abaikan.”
Rizki tidak langsung menjawab. Dia menatapku sebentar, tatapan yang begitu dalam seolah ingin membaca apa yang sedang bergejolak di hatiku, lalu dia menunduk melihat lantai.
“Karena itu kamu, Lin,” jawabnya pelan, nyaris seperti desiran angin. “Aku nggak mau kamu merasa nggak dilihat.”
Aku terdiam seribu bahasa. Lidahku kelu, tapi hatiku berteriak kencang. Aku menyesap es cendol itu pelan-pelan. Rasanya sempurna. Dinginnya menyegarkan tenggorokan, dan manisnya pas di lidah. Namun, yang lebih manis adalah rasa hangat yang kini menjalar ke seluruh dadaku.
Air mata tiba-tiba menggenang di pelupuk mataku. Bukan karena sedih, tapi karena rasa haru yang luar biasa. Bagaimana mungkin ada cowok yang rela menyeberang jalanan macet hanya untuk memastikan minuman yang kuterima sesuai dengan seleraku?
“Woi! Menang! Aku berhasil tamatin!” Teriak Iqbal heboh merayakan kemenangannya di pojokan.
Bayu mendengus sambil lanjut mengelap etalase. “Bangga amat, cuma menang lawan bot saja gaya kamu selangit.”
Mereka berdua sudah benar-benar kembali ke dunianya masing-masing. Tapi aku dan Rizki? Kami masih mematung di depan etalase yang sama. Cahaya matahari sore yang miring masuk ke dalam konter, menyinari debu-debu yang beterbangan dan membuat pantulan emas di kepala botak pendek Rizki.
Aku meliriknya lagi. Rizki balas menatapku, lalu mengangguk kecil dengan sorot mata yang seolah bilang, “Aku di sini, Lin. Kapan pun kamu siap, aku tidak akan ke mana-mana.”
Dan di sore itu, di tengah bau plastik baru, deru mesin kendaraan, dan dinginnya gelas di tanganku, aku akhirnya menyerah. Aku mengakui sebuah kenyataan yang selama ini kupendam rapat-rapat:
Aku sudah jatuh cinta pada Rizki.
Bukan hanya karena wajah tampannya yang makin terlihat jelas sejak dia membuang rambutnya. Bukan hanya karena dia sering mentraktir kami. Tapi karena pengertiannya yang luar biasa, perhatiannya yang tanpa pamrih, dan cara dia selalu ada di saat aku merasa paling rapuh.
Dia mengingat setiap hal kecil tentangku, bahkan saat aku sendiri berusaha melupakan diriku yang hancur. Perasaan ini datang pelan, mengalir dalam, dan terasa sangat, sangat nyata. Sepertinya, reruntuhan di hatiku benar-benar sudah ditumbuhi bunga yang baru.
ns216.73.216.241da2


