Hari ini cuaca mendung, bel sekolah berbunyi wktunya pulang, kami semua keluar kelas. Udah gak diem-dieman kondisi kembali seperti semula sebelum malam tahun baru di rumah Rizki.
Kami berempat sepakat langsung pulang, soalnya Rizki mau pergi ketempat bibinya di Ungaran bareng neneknya. Seperti biasa aku pulang boncengin Iqbal.
Di tengah jalan hujun turun dengan lebat, “kruyuk… kruyuk… kruyuk” kami kehujanan dan terpaksa berteduh di sebuah ruko yang terlihat angker.
Aku, berdiri gemetar di depan ruko tua yang sepi itu. Hujan deras masih mengguyur di luar, suaranya seperti ribuan tepuk tangan yang mengejek keberanian kami berdua.
Kemeja putihku basah kuyup, dua kancing atas lepas entah sejak kapan, belahan dadaku yang besar terlihat jelas menerawang, putingku mengeras karena dingin… dan karena tatapan Iqbal yang tak bisa disembunyikan lagi.
Iqbal berdiri di depanku, tangannya menggenggam stang motor seperti sedang memegang nyawanya sendiri. Wajahnya memerah, matanya bolak-balik dari dadaku ke lantai, lalu ke langit-langit ruko yang bocor sedikit. Dia kelihatan seperti anak kecil ketahuan nyontek, bukan sahabatku yang biasanya cuek dan suka bercanda kasar.
Aku menarik napas dalam, mencoba menutup kemeja dengan tangan, tapi malah membuat kainnya semakin menempel dan transparan. “Iqbal… kamu kenapa diem aja? Dingin, loh.”
Dia menelan ludah keras sekali, suaranya keluar pelan banget, hampir tenggelam sama hujan.
Iqbal ngomong dengan terbata-bata, “Lina… maaf. Kancingnya… lepas. Aku… aku nggak sengaja lihat. Bukan gitu maksudnya! Maksudku… aku lihat, tapi aku nggak… nggak ngeliatin lama-lama! Cuma… sebentar. Dua detik. Tiga mungkin. Ya Tuhan, aku bohong lagi.”
Aku hampir tertawa, tapi hatiku malah berdegup kencang. Aku ingat malam tahun baru itu, kami berempat, minum-minum, lalu semuanya jadi liar. Iqbal yang pertama menyentuhku, matanya penuh hasrat, tapi setelah itu dia selalu pura-pura lupa, selalu bilang “kita sahabat doang”. Tapi sekarang, di bawah hujan ini, pura-puranya mulai retak.
Aku maju selangkah. Tubuh kami hampir bersentuhan.
Aku dengan suara pelan hampir berbisik, tapi sengaja menggoda Iqba. “Kamu ingat malam tahun baru, kan? Kamu yang pertama… masukin aku. Kamu bilang aku cantik banget waktu itu. Terus sekarang… malu?”
Dia langsung mundur setengah langkah, hampir nabrak motornya sendiri.
Iqbal kelihatan kaget. “Jangan diingetin! Aku… aku lagi usaha lupa, Lin! Tiap malam aku mikirin itu, aku langsung tepuk jidat sendiri. ‘Iqbal, kamu sahabatnya dari kecil, kamu nggak boleh mikirin payudara Lina yang gede itu lagi!’ Tapi… tapi sekarang liat lagi… ya ampun, kenapa harus basah kuyup sih?!”
Aku tak tahan, akhirnya tertawa kecil. Tapi di balik tawa itu, ada sesuatu yang panas mulai menyala di perutku. Aku pegang tangannya, tarik pelan ke dadaku, bukan memaksa, cuma menyentuh.
Aku berbisik lagi. “Iqbal… aku nggak marah kalau kamu lihat. Malah… aku suka. Aku suka kalau kamu yang lihat. Bukan Rizki. Bukan Bayu. Bukan yang lain. Cuma kamu.”
Wajahnya langsung pucat, lalu merah lagi. Dia tarik tangan, tapi nggak kuat-kuat.
Iqbal sambil terbata. “Lina… jangan gitu. Aku… aku takut. Takut kalau aku mulai lagi, aku nggak bisa berhenti. Aku takut nyakitin kamu. Aku nggak mau kita diem-dieman lagi, kita sahabatan takut nanti rusak lagi… aku nggak mau kehilangan kamu gara-gara nafsu bodoh aku ini.”
Matanya berkaca-kaca. Bukan karena hujan. Aku merasa dadaku sesak. Ini Iqbal yang selalu kuat buatku, yang selalu bercanda biar aku nggak sedih, sekarang kelihatan rapuh banget.
Aku maju lagi, peluk pinggangnya pelan. Dadaku menempel di dadanya. Aku bisa rasain jantungnya berdegup kencang.
Aku berbisik di telinganya. “Kamu nggak bakal nyakitin aku. Kamu yang paling tahu aku suka apa. Malam tahun baru itu… aku nggak nyesel. Aku cuma nyesel kita pura-pura lupa. Aku pengen kamu lagi, Iqbal. Tapi… kalau kamu nggak mau, aku nggak maksa. Aku cuma… kedinginan. Dan basah. Dan… horny. Maaf, aku jujur banget ya.”
Dia tertawa kecil, suaranya gemetar. Tangannya akhirnya naik, memeluk punggungku pelan-pelan, seperti takut amarahku pecah.
Iqbal senyum. “Kamu… horny? Serius? Di tengah hujan? Di depan ruko angker? Lin, kamu gila. Tapi… aku juga. Dari tadi aku udah ngaceng banget sampe sakit. Tapi aku takut. Takut kamu nanti mikir aku cuma manfaatin kamu. Takut Rizki tahu, terus dia bilang aku predator sahabat.”
Aku angkat wajahnya, paksa tatap matanya. Aku tahu, Iqbal tak memiliki perasaan apa-apa padaku. Bahkan, akulah orang yang membuatnya liar.
Aku yang sudah mupeng maksimal, “Rizki? Dia manis, tapi dia bukan kamu. Kamu yang nemenin aku nangis pas SD gara-gara nilai jelek. Kamu yang jemput aku malam-malam pas aku takut hantu. Kamu yang pertama…Dan aku pengen.”
Dia diam lama. Lalu, dengan suara hampir putus asa. “Lin… kalau aku mulai sekarang… aku nggak janji bisa pelan-pelan. Aku udah nahan lama banget. Aku takut kasar. Aku takut kamu nangis. Tapi… aku juga takut mati kalau nggak nyentuh kamu malam ini.”
Aku tersenyum, air mata campur hujan mengalir di pipiku.
Pipiku memerah. “Kasar boleh. Nangis juga boleh. Asal nama yang aku panggil pas orgasme cuma nama kamu.”
Itu seperti tombol merah yang ditekan. Iqbal mendadak tarik aku ke dinding ruko, tapi gerakannya masih hati-hati. Mulutnya mendekat, tapi berhenti satu senti dari bibirku.
Iqbal suaranya serak, tapi sedikit malu-malu. “Boleh… cium dulu? Atau… langsung aja? Aku bingung. Aku takut, sungguh aku nggak mau kita diem-dieman lagi.”
Aku ketawa di antara isak kecil.
Aku terus menggodannya. “Cium dulu. Pelan. Biar aku nggak takut. Terus… pelan-pelan aja naik ke level seperti malam tahun baru. Tapi kali ini cuma kita berdua.”
Dia mengangguk, lalu menciumku pelan banget, seperti takut aku ilang. Tapi lama-lama ciumannya dalam, tangannya menyusup ke kemejaku, meremas payudaraku dengan gemetar. Aku mengerang di mulutnya.
Iqbal berhenti sebentar, nafasnya tersengal. “Lin… payudaramu… tambah gede banget. Maaf aku bilang gitu. Aku… aku nggak biasa ngomong mesum kalau sadar.”
Aku tertawa sambil mencium lehernya. “Gede karena kamu suka megang, suka ngenyot. Lanjut, Iqbal. Aku udah nggak tahan.”
Dia akhirnya menyerah pada dirinya sendiri. Rokku ditarik naik, celana dalamku diturunkan, dan penisnya memasuki vaginaku pelan, matanya tak lepas dari wajahku, mencari tanda kalau aku sakit. Tapi aku cuma mengerang namanya berulang-ulang.
Dia mempercepat, tapi tetap hati-hati. Kami orgasme hampir bersamaan, aku berteriak namanya, dia mengerang pelan di leherku, menyemprotkan spermanya di dalam vaginaku.
Setelah itu, kami diam, saling peluk. Hujan mulai reda.
Iqbal suaranya genit, pura-pura malu lagi. “Lina… besok pagi… aku harap kita gak diem-dieman lagi ya! Kita pura-pura lupa, apa yang terjadi hari ini."
Aku cubit pinggangnya pelan.
Aku sambil tersenyum dan mengusap pipinya. "Kamu jangan lupa, aku Lina! Seperti wanita pada umumnya, punya hati...juga punya napsu.
Dia tersenyum lebar, pertama kalinya malam itu dia kelihatan lega.
Kami tertawa bersama di bawah sisa hujan, sahabat dari kecil yang akhirnya jadi lebih dari itu, dengan cara yang sangat… kami.
ns216.73.216.241da2


