Hari-hari di Semarang mulai terasa cerah lagi. Langit yang biasanya mendung kini biru bersih, seolah Tuhan baru saja menghapus semua coretan abu-abu musim hujan yang bandel. Persis seperti suasana hati kami yang perlahan mulai pulih.
Kami berempat (aku, Iqbal, Rizki, dan Bayu) kembali menempati singgasana kami: meja kantin favorit di pojok, tepat di bawah naungan pohon asam besar. Meja kayu yang permukaannya sudah penuh coretan kami, kursi panjang yang sering goyang, dan aroma soto yang bercampur dengan uap panas bakso. Semuanya terasa hampir normal.
Iqbal, dengan soto campur pedas level lima andalannya, mulai melancarkan ejekan-ejekan maut. "Eh Yuk, kamu kemarin pas olahraga lari kayak ayam kehilangan kepala, bro. Kamu lari apa lagi kabur dari mantan?"
Bayu tidak mau kalah. Sambil menyeruput bakso tanpa minya, dia melempar serbet basah ke arah Iqbal. "Kamu saja yang lari kencang kalau lihat cewek cantik, tapi ujung-ujungnya cuma diam mematung di pojokan!"
Aku ikut tertawa melihat tingkah mereka. Tapi, jujur saja, tawaku belum bisa lepas seratus persen. Masih ada sedikit tarikan di dada, seolah-olah aku takut jika tertawa terlalu keras, memori malam tahun baru yang liar itu akan kembali menyeruak ke permukaan.
Rizki duduk tepat di sebelahku.
Dia tidak banyak ikut dalam aksi saling ejek itu. Dia hanya duduk tenang, sesekali tersenyum tipis sambil menyesap teh tarik kurang manis miliknya.
"Aku bayar semua hari ini," katanya pelan saat kami selesai makan. Suaranya tenang, seperti aliran sungai yang tidak pernah berisik tapi selalu menghanyutkan.
"Lagi-lagi kamu yang traktir, Ki! Besok giliranku ya, awas saja kalau kamu tolak!" Protes Iqbal setengah hati, sementara tangannya sibuk mengelap keringat akibat sambal level limanya.
Aku menatap Rizki dari samping. Kulitnya yang putih bersih tampak kontras dengan rambut pendek kasarnya sisa botak kemarin. Tapi entah kenapa, tanpa rambut yang menutupi dahinya, garis rahang Rizki terlihat jauh lebih tegas. Mata cokelatnya terasa lebih dalam, seolah menyimpan banyak hal yang tidak sempat dia katakan.
Dia tampan dengan cara yang tidak norak. Cara yang bikin orang nyaman menatapnya lama-lama tanpa merasa terintimidasi.
Saat Iqbal dan Bayu sibuk memperebutkan satu gorengan terakhir di piring, Rizki tiba-tiba mencondongkan tubuhnya ke arahku. Hampir tidak ada suara, hanya bibirnya yang bergerak pelan namun tegas:
"Kamu baik-baik saja, Lin?"
Pertanyaan sederhana itu seketika membuat dadaku sesak, tapi kali ini sesaknya berbeda. Bukan sesak karena malu atau bersalah, melainkan sesak karena merasa... dipedulikan.
Aku tahu dia tidak sekadar menanyakan kabarku hari ini. Dia bertanya tentang luka-luka kecil yang masih kami sembunyikan di balik tawa kantin ini. Dia bertanya tentang malam di rumahnya yang sekarang menjadi rahasia besar di antara kami. Dan mungkin, dia bertanya apakah aku menyadari kehadirannya yang kini terasa lebih dari sekadar sahabat.
Aku mengangguk pelan, memberikan senyum tipis yang paling tulus yang bisa kuberikan. "Sudah mulai oke, Riz."
Dia membalas senyumku. Bukan senyum tipis seperti biasanya, melainkan senyum hangat yang menyentuh matanya. Dia lalu kembali fokus pada piringnya, pura-pura tidak terjadi apa-apa, tapi aku bisa melihat sudut bibirnya yang masih tertinggal sedikit lengkungan manis.
Aku mulai bingung. Bingung karena trauma malam itu sesekali masih "bernyanyi" di kepalaku. Setiap kali Iqbal tidak sengaja menyenggol bahuku saat tertawa, atau Bayu merangkul pundakku saat bercanda, ada detik pendek di mana tubuhku refleks menjadi kaku. Memori tentang tangan-tangan itu masih ada.
Namun di sisi lain, ada rasa manis yang mulai menyebar pelan di hatiku setiap kali aku bersama Rizki.
Aku takut. Takut kalau perasaan ini hanyalah pelarian dari rasa bersalah. Takut kalau Rizki sebenarnya hanya baik karena memang begitulah sifat aslinya kepada semua orang. Tapi, setiap kali dia menyodorkan botol minumnya tanpa diminta saat aku haus, atau setiap kali dia menungguku menghabiskan es tehku sementara yang lain sudah berdiri, aku merasa "dilihat".
Aku merasa dilihat bukan sebagai Lina yang ikut dalam "pesta" gila itu, melainkan sebagai Karlina yang sebenarnya yang masih rapuh, yang masih belajar memaafkan diri sendiri, tapi yang kini mulai berani mengangkat wajah lagi.
Bel masuk berbunyi. Iqbal dan Bayu berjalan duluan sambil masih meributkan siapa yang harus mentraktir es besok. Aku dan Rizki berdiri berbarengan. Kami berjalan menyusuri koridor kelas yang mulai sepi. Langkah kaki kami seirama, bahu kami hampir bersentuhan, namun ada jarak tipis yang sengaja kami jaga.
Tiba-tiba, Rizki berhenti tepat di lorong dekat laboratorium yang sepi. Dia menoleh padaku. "Lin... kalau kamu butuh waktu lebih lama, aku tunggu."
Suaranya pelan, tapi getarannya sampai ke hatiku. Kalimat itu bukan cuma soal menunggu berjalan ke kelas, tapi soal menunggu hatiku benar-benar siap.
Aku menatap mata cokelatnya lama. Mencari kebohongan di sana, tapi yang kutemukan hanyalah ketulusan yang murni. Aku mengangguk kecil.
"Aku juga lagi belajar, Riz. Belajar supaya nggak takut lagi."
Dia tersenyum lagi, senyum yang membuat pipiku terasa panas di bawah sinar matahari sekolah. Kami lanjut berjalan, tanpa pegangan tangan, tanpa janji-janji manis yang meluap. Hanya dua remaja yang masih memikul sisa luka, namun memilih untuk berjalan beriringan di atas reruntuhan yang mulai ditumbuhi harapan baru.
Dan bagiku, itu sudah cukup untuk hari ini. Sangat cukup.
ns216.73.216.241da2


