Hari berikutnya, aku masih menjadi pelanggan setia angkot.
Pagi yang identik dengan aroma sisa keringat bercampur asap rokok kretek, ditemani sopir yang menyanyi lagu “Cinta Dalam Hati” milik Ungu sambil ngebut di tikungan. Aku duduk di bangku paling belakang, meremas tali tas erat-erat. Jendela angkot yang buram tertutup embun pagi kupandang dengan tatapan kosong. Pikiranku cuma satu: Apakah hari ini akan sebisu kemarin?
Sampai di sekolah, aku melangkah cepat menyusuri koridor. Kepalaku sedikit menunduk, berusaha menghindari kontak mata dengan siapa pun. Begitu masuk kelas, suasana "kuburan" itu masih ada. Hening yang membuat telinga berdengung.
Iqbal masih di pojokannya, memainkan pulpen dengan tatapan kosong ke meja. Bayu memakai headphone meski aku yakin tidak ada musik yang berputar, hanya tameng agar tidak perlu bicara.
Sofi dan teman sebangkunya duduk berdekatan, tapi ada tembok raksasa yang tak kasat mata di antara mereka. Fitria langsung melirikku dengan alis naik, kode keras bahwa keadaan masih sangat tidak beres.
Aku menarik napas panjang, membuka buku catatan kosong, dan berpura-pura membacanya dengan sangat serius. Tiba-tiba...
BRAK!
Pintu kelas dibuka agak keras. Refleks, semua kepala menoleh ke sumber suara.
Rizki masuk. Dan seketika, udara di kelas seperti tersedot habis. Kami semua melongo.
Rambutnya... hilang.
Kepala Rizki kini botak polos, kinclong, seolah dia baru saja keluar dari salon yang sedang mengadakan promo "Potong Habis Pulang Gratis". Kulit kepalanya yang putih bersih tampak selaras dengan wajahnya yang merona.
Anehnya, tanpa rambut yang biasanya jatuh menutupi dahi, wajah Rizki justru terlihat lebih... terbuka. Garis rahangnya jadi jauh lebih tegas, dan mata cokelatnya terlihat lebih tajam. Dia tetap tampan, bahkan mungkin lebih tampan dengan aura baru yang terasa lebih kuat dan berani. Dia seperti orang yang baru saja membuat keputusan besar dalam hidupnya.
Dia berjalan tenang menuju bangkunya tepat di belakangku. Tanpa suara, dia meletakkan tasnya. Tapi, seluruh pasang mata di kelas ini sudah terkunci pada kepalanya yang mengkilap itu.
Iqbal adalah yang pertama bereaksi. Setelah dua hari terkunci dalam diam, dia tiba-tiba melepaskan tawa kecil. Tawa yang terdengar sangat melegakan.
“Gila kamu, Ki! Botak beneran?” Suaranya serak, tapi ada nada ceria yang mulai kembali.
Bayu menarik headphone-nya ke leher, mulutnya melongo. “Bro... kamu serius? Demi apa sih?” Nada suaranya bukan ejekan, tapi lebih ke arah kagum yang tidak percaya.
Sofi menutup mulut dengan tangan, matanya berbinar antara kaget dan geli.
Aku? Aku hanya bisa mematung menatapnya dari depan. Rizki tidak langsung menjawab. Dia hanya mengangkat bahu pelan, lalu pandangannya beralih padaku. Untuk pertama kalinya sejak malam tahun baru itu, mata kami bertemu.
Tidak ada rasa malu. Tidak ada penghakiman. Hanya tatapan teduh yang seolah bicara: “Aku lakukan ini supaya kamu tidak perlu menunduk lagi, Lin.”
Seketika, rasa sesak di dadaku melonggar. Air mata hampir jatuh, tapi aku tahan mati-matian. Aku memberikan senyum kecil, senyum pertamaku yang benar-benar tulus sejak tragedi itu.
Rizki akhirnya buka suara, tenang tapi terdengar ke seluruh penjuru kelas.
“Aku nggak suka diam-diaman terus. Jadi... ya sudah, aku botaki saja. Biar kalian mau bicara lagi ke aku, minimal nanya 'kamu lagi sakit, Ki?' atau 'kamu gila ya?'”
Iqbal tertawa lebih keras sekarang, tangannya memukul-mukul meja. “Kamu memang gila, Ki! Tapi... makasih ya.”
Bayu ikut nyengir. “Aku janji nggak bakal bilang kamu mirip bola billiard, meski kamu memang mirip. Tapi jujur, kamu tetap ganteng sih, sialan!”
Sofi bangkit, mendekat, dan merangkul bahu Rizki dari samping. “Kamu bodoh banget, Riz. Tapi... kamu jadi makin keren.”
Aku menoleh ke belakang, menatapnya sekali lagi. Rizki balas menatapku, lalu mengedipkan sebelah matanya pelan. Kedipan kecil yang artinya cuma aku yang paham: Kita baik-baik saja.
Tiba-tiba kelas kembali hidup. Lemparan kertas mulai beterbangan. Fitria mulai gencar bertanya, “Eh, ceritanya gimana sih kemarin?” Iqbal mulai mengarang cerita lebay soal Rizki yang botak karena kalah taruhan sama jin penunggu sekolah. Bayu mulai meluncurkan lelucon soal kepala Rizki yang bisa dipakai buat lampu taman.
Semua tertawa.
Semua bicara.
Kami kembali.
Aku diam-diam menatap punggung Rizki. Tiba-tiba aku teringat ucapan Iqbal dulu: “Rizki itu punya perasaan ke kamu, Lin. Cuma dia kalem banget, nggak pernah kelihatan.”
Sekarang aku percaya seribu persen. Orang yang selalu kalem dan menjaga citra seperti dia, rela membuang "mahkotanya" hanya agar aku berani mengangkat muka lagi. Agar kami tidak hancur.
Aku menarik napas dalam. Rasa sesak itu resmi menguap, digantikan kehangatan yang menjalar di dada. Terima kasih, Riz. Kamu benar-benar luar biasa. Kamu baru saja menyatukan retakan yang hampir membuat kami semua pecah berkeping-keping.
ns216.73.217.15da2


