Keesokan harinya, rumah terasa lebih sepi dari biasanya.
Biasanya jam segini Iqbal sudah nongol di halaman rumah, klakson motornya dibunyikan dua kali pendek kode “ayo buruan, Tom, telat nih,” lalu aku buru-buru keluar sambil bawa sisa sarapan ditangan. Tapi pagi ini, halaman depan rumah kosong. Hanya angin yang bikin daun-daun mangga bergoyang pelan, seolah-olah mereka juga ikut awkward.
Aku berdiri di teras sambil megang tas sekolah, nunggu sesuatu yang aku tahu nggak bakal datang.
Tiba-tiba terdengar suara motor dari kejauhan deru khas Fiz-R Iqbal yang selalu dia bilang “suara jantan”. Jantungku langsung loncat. Aku hampir melangkah ke jalan gang, tapi suara itu nggak berhenti di depan rumah. Malah makin menjauh, lurus ke arah jalan besar, tanpa pelan-pelan, tanpa klakson, tanpa apa-apa. Dia lewat begitu saja. Lewat rumahku tanpa mampir.
Aku cuma bisa berdiri beku, tangan masih pegang sisa sarapan yang mulai dingin.
Rasa sesak naik lagi, campur aduk sama sisa getar nakal dari malam tahun baru kemarin. Aku buru-buru balik masuk, ambil dompet, dan keluar lagi kali ini naik angkot. Angkot yang biasanya aku hindari karena emang uang saku yang pas-pasan. Hari ini aku rela. Lebih baik gak jajan di kantin dari pada bingung mikirin kenapa Iqbal milih berangkat sendiri.
Di kelas, suasananya lebih parah.
Kami duduk di tempat biasa aku di baris kedua dekat jendela, Rizki di belakangku, Bayu dua bangku ke kanan, Iqbal di pojok belakang dekat posisi Bayu yang selama ini bikin kami gampang saling lirik atau lempar kertas. Tapi pagi ini, tidak ada yang saling lirik. Tidak ada yang lempar kertas. Bahkan napas kami seolah-olah takut ketahuan satu sama lain.
Iqbal masuk terakhir, tasnya dilempar ke meja dengan suara gedebuk pelan, lalu langsung duduk tanpa ngeliat ke mana-mana. Rambutnya masih basah, kayak habis mandi buru-buru. Matanya cuma ke buku catatan yang bahkan belum dibuka.
Rizki pura-pura sibuk nulis-nulis di buku tulis kosong, tangannya gemetar sedikit waktu megang pulpen.
Bayu selonjoran kaki di bawah meja, tapi bahunya kaku, seperti orang yang lagi nyanyi lagu sedih di kepala sendiri.
Aku? Aku cuma bisa tatap keluar jendela, pura-pura lihat burung-burung yang lagi ribut di pohon asam. Padahal mata aku nggak beneran fokus. Yang aku rasain cuma dingin di dada, campur panas di pipi setiap kali ingat tangan Rizki yang kemarin malam… atau napas Iqbal yang berat di leherku… atau suara Bayu yang…
“Lin, kamu kenapa diem aja sih dari tadi?”
Fitria, temen sebangku yang biasanya cerewet banget, akhirnya nanya. Suaranya pelan, tapi di ruangan yang sepi gini kedengeran kayak terompet. Aku kaget, hampir loncat dari kursi.
Aku cuma geleng kepala pelan, pura-pura senyum tipis. “Capek aja, Fit. Kurang tidur.”
Fitria memandangku lama, alisnya naik setengah. Dia nggak bodoh. Dia tahu ada yang aneh. Biasanya pagi-pagi gini kami udah ribut soal gosip atau ngerjain tugas bareng. Tapi hari ini aku cuma duduk diam, tangan di atas meja saling genggam erat biar nggak keliatan gemetar.
Fitria akhirnya menghela napas panjang, lalu balik lagi ke HP-nya, tapi sesekali dia lirik aku..lirik ke arah Iqbal..lirik ke Rizki..lalu balik lagi ke aku. Diamnya kami kayak virus yang menular ke dia juga.
Jam pelajaran pertama berlalu begitu saja.
Tidak ada yang ngobrol. Tidak ada yang ketawa. Guru masuk, ngajar, keluar lagi. Kami seperti patung-patung yang kebetulan bernapas.
Di tengah-tengah keheningan itu, aku sempat nyuri pandang ke Iqbal. Dia lagi tatap ke luar jendela juga, tapi matanya kosong. Tangan kanannya mainin ujung pulpen, muter-muter pelan, gerakan yang biasanya dia lakuin kalau lagi gelisah.
Aku tahu dia sadar aku lagi ngeliatin. Tapi dia nggak balas tatap. Cuma bahunya naik sedikit, lalu turun lagi nafas yang ditahan lama akhirnya dilepas.
Aku balik lagi ke jendela.
Di luar, motor-motor lalu lalang. Angin bawa bau asap knalpot dan daun basah. Aku tiba-tiba pengen nangis, tapi nggak bisa. Karena di balik sesak ini, ada bagian kecil di dada yang masih berbisik, “tapi… seru juga kan kemarin?”
Dan itu yang bikin semuanya tambah sakit.
Karena aku tahu, mulai hari ini, perjalanan ke sekolah nggak akan pernah sama lagi.
Iqbal nggak akan lagi nyamper.
Kami nggak akan lagi berangkat bareng.
Dan Fitria. Fitria yang nggak tahu apa-apa terpaksa ikut kena getahnya, cuma karena duduk di sebelah orang yang tiba-tiba lupa cara bicara sama sahabat-sahabatnya sendiri.
Aku tarik napas dalam-dalam.
Pagi ini terasa panjang sekali. Dan entah kapan, aku bakal berani buka mulut lagi ke mereka.
Atau mungkin… kami semua bakal pura-pura, diem-dieman selamanya.
ns216.73.217.15da2


