Aku terbangun dengan sensasi seolah-olah ada grup dangdut yang sedang konser di dalam kepalaku, tapi penyanyinya sedang mabuk berat dan lupa lirik terus-menerus. Kepalaku berdenyut mengikuti irama jantung.
Selimut tipis milik Rizki sudah melilit tidak keruan di pinggangku. Separuh badan telanjang, separuh lagi tampak seperti sedang ikut audisi menjadi mumi modern yang gagal.
Angin dingin pagi menyusup lewat jendela balkon yang lupa ditutup, langsung membuat putingku protes keras. Sensasi dingin itu seolah berbisik, “Lina, kamu semalam benar-benar gila ya?”
Aku mencoba bergerak pelan, berniat meregangkan otot. Tapi begitu bahuku bergeser sedikit saja, memori semalam langsung menghantam seperti truk kontainer.
Oh, iya. Malam tadi. Rumah Rizki. Botol-botol kosong yang berserakan. Tawa yang kelewat keras. Dan… ya Tuhan, tangan-tangan itu.
Aku ingat betul bagaimana Iqbal, yang biasanya cuek dan santai, tiba-tiba berubah menjadi sosok yang sangat… antusias. Bayu yang biasanya sok cool malah mengeluarkan suara-suara aneh seperti kucing yang ekornya kejepit pintu.
Lalu Sofi… yang biasanya hanya manja pada Januar, eh ternyata punya sisi liar yang bikin Januar sendiri kelihatan antara bingung dan sangat menikmati.
Dan Rizki.
Pria green flag-ku itu. Dia sempat-sempatnya tertawa ngakak dan berteriak, “Ini team building level dewa!” Sebelum akhirnya benar-benar melebur dalam kegilaan itu.
Harus kuakui, kenikmatannya masih tertinggal di setiap inci kulitku. Ada rasa lengket di paha, perih manis di leher karena bekas kecupan, dan otot-otot yang terasa pegal tapi puas. Bagian itu sempat membuatku ingin tersenyum mesum sendirian. Tapi, begitu mataku terbuka lebar dan melihat keadaan ruangan, senyum itu langsung mendarat darurat.
Pemandangannya lebih hancur dari kapal pecah:
Celana dalamku tergantung manis di lampu gantung, bergoyang pelan tertiup angin balkon seperti dekorasi pesta ulang tahun yang salah konsep.
Kaos Bayu robek di bagian dada. Entah siapa yang menariknya sebrutal itu, tapi aku curiga itu kerjaan Sofi saat sedang peak.
Bra Sofi entah bagaimana ceritanya bisa nyangkut di telinga boneka beruang besar milik Rizki di pojok sofa. Mata kancing boneka itu seolah sedang menatap kami dengan tatapan menghakimi yang sangat dalam.
Dan yang paling absurd: boxer Iqbal tergeletak tepat di atas remote TV. Seolah-olah semalam kami sempat terpikir untuk menonton berita sambil melakukan "itu".
Aku menoleh ke samping. Rizki masih meringkuk, mulutnya setengah terbuka, mendengkur halus sambil memeluk bantal. Tapi tangannya… ya ampun, tangannya masih mengunci pinggulku erat. Jempolnya bergerak-gerak kecil seperti sedang menyanyikan lagu “Aku Sayang Kamu” versi mabuk.
Saat aku mencoba bergeser pelan, dia malah menarikku lebih dekat dan bergumam dalam tidurnya, “Jangan pergi… lagi enak…”
Aku langsung membeku. Mau tertawa, mau menangis, mau teriak—semuanya campur aduk jadi satu di tenggorokan.
Di lantai, Bayu tidur telentang dengan posisi yang mustahil secara anatomi. Kepalanya di bawah kasur, kakinya di atas, seperti sedang latihan yoga tapi gagal total. Celananya hilang entah ke mana, mungkin sedang kencan dengan bra Sofi di atas boneka beruang.
Iqbal duduk bersandar di dinding. Matanya terbuka tapi kosong, rambutnya acak-acakan seperti habis tersambar petir. Tangannya masih memegang botol bir kosong yang entah kapan habisnya. Wajahnya adalah definisi orang yang baru sadar dia menang lotre tapi nomornya salah satu digit.
Sofi meringkuk di pangkuan Januar di sofa. Selimut hanya menutupi dadanya, rambutnya berantakan, tapi entah kenapa dia masih terlihat cantik dalam kekacauan itu. Sementara Januar hanya menatap langit-langit dengan ekspresi antara “Aku sayang kalian semua” dan “Tolong jemput aku sekarang, aku mau pindah ke Mars.”
Aku menarik napas panjang. Ada rasa sesak yang mulai merayap di dada. Penyesalan yang nyata, karena aku tahu begitu matahari benar-benar tinggi nanti, kami semua mungkin akan pura-pura lupa atau justru merasa canggung seumur hidup. Persahabatan kami tidak akan pernah sama lagi setelah malam ini.
Tapi, di balik rasa bersalah itu, ada getaran kecil yang nakal di sudut hatiku yang berbisik, “Tapi… seru banget sih semalam.”
Aku akhirnya bangkit perlahan, melepaskan tangan Rizki dari pinggulku (dia hanya mendesah kecewa dalam tidurnya), lalu melangkah ke balkon. Angin pagi menyapu tubuh polosku, dingin tapi sekaligus menyegarkan pikiran.
Aku memandang ke belakang, ke ruang keluarga yang berantakan itu. Ketiga orang yang selama ini aku anggap sahabat… dan sekarang, aku tidak tahu harus menyebut mereka apa.
Air mata jatuh satu tetes, tapi bibirku malah tersenyum tipis. Bukan senyum bahagia yang tulus, tapi lebih ke senyum orang yang baru menyadari satu hal:
“Ya Tuhan… kalau ini benar-benar team building, berarti tim kita sudah level dewa banget.”
Di tengah rasa bersalah yang menggerogoti, aku malah ingin tertawa ngakak sendirian di balkon itu. Karena meski besok semuanya akan terasa aneh dan rumit, kenyataannya adalah… malam tadi memang terasa luar biasa enak.
ns216.73.217.15da2


