Januar dan Bayu belum kembali, tiba-tiba hujan turun. Kami semua panik menyelamatkan barang-barang kedalam rumah supaya tidak kehujanan. Terlihat Jaroni dan Bagas paling sibuk, hingga baju mereka basah kuyup.
“Mas kami balik dulu ya, bajuku basah semua.” Celetuk Bagas terlihat kedinginan. “Ya udah gapapa, eh itu sisa ikannya dibawa aja, Gas.” Sahut Rizki.
”Gak usah mas, kami udah kenyang banget.” Giliran Jaroni, menolak pemberian Rizki.
Rizki mengajak kami masuk ke dalam rumah dan langsung naik ke lantai 2. “Anjrit, sweaterku basah.” Gerutuku mengomel sendiri. “Lepas aja Lin, nanti masuk angin loh. Mau ganti pakai bajuku.” Ucap Rizki menawarkan baju ganti.
"Nggak usah Riz, aku buka aja. Toh kalian biasa lihat aku begini kan?" Ucapku pelan menolak kebaikan Rizki sambil melepas sweaterku. Aku lupa disini ada Sofi, dia melotot melihatku.
“Lin aku gak salah lihat?” Sofi menghampiriku sambil mengucek matanya. “Tak kusangka, kamu berani banget bugil di depan mereka!” Lanjutnya heran dan terus memandangiku.
”Udah biasa kali Sof, kami berempatkan udah sahabatan lama kan. Bugil kek gini, bukan hal tabu lagi bagi kami.” Jawabku coba menjelaskan.
Tak lama kemudian Bayu dan Januar kembali, mereka membawa 3 botol amer yang ditenteng Januar di dalam kresek hitam.
Januar melotot memandangiku yang sudah setengah telanjang, bola matanya tak lepas menyorot kedua payudaraku. Bayu, mengacungkan jempolnya padaku menandakan puas dengan tugasku.
Kami semua minum lagi, tadi masih nanggung berharap sekarang lebih mabok. Aku berniat pingin bersetubuh dengan mereka semua menghilangkan segala batasan. Nafsuku meninggi birahiku sedah tak terbendung.
Aku, sudah buka atasan sejak tadi. Cuma legging hitam ketat yang masih nempel di paha. Payudara terbuka, puting mengeras karena udara malam yang masuk lewat jendela setengah terbuka. Iqbal, Rizki, Bayu, Januar, dan Sofi semuanya memandangiku dengan mata yang sudah gelap karena mabok anggur merah, hasrat, dan rasa tak percaya bahwa ini benar-benar terjadi.
Iqbal yang paling dulu bergerak. Dia sahabat sekampungku sejak kecil, yang biasanya cuma berani nyanyi dangdut pas karaoke. Tapi malam ini tangannya gemetar saat menyentuh pinggangku dari belakang.
Iqbal suara serak, napas panasnya meniup di leherku. “Tom… beneran boleh gini? Aku takut kamu nyesel besok.”
Aku memalingkan kepala, bibirku hampir menyentuh pipinya. “Kalau aku nyesel, aku yang bakal bilang stop. Sekarang diem, Gel. Kamu kan paling suka nyusu aku dari dulu.”
Iqbal tertawa kecil, malu tapi terangsang. Dia langsung menunduk, mulutnya menangkap puting kiriku. Lidahnya bergerak pelan dulu, seperti orang takut salah. Tapi begitu aku mendesah pelan, dia jadi lebih berani menghisap kuat sambil tangannya meremas payudara satunya.
Rizki duduk di sofa, celana jeans-nya sudah membentuk tonjolan jelas. “Gila… Lina, kamu beneran hot banget malam ini. Aku udah nahan dari tadi liat kamu cuma pake legging doang.”
Bayu berdiri di dekat TV, badannya yang tinggi, tangan sudah membuka kancing kemejanya satu persatu. “Riz, kamu diem aja kalo cuma bisa nonton. Aku duluan deh.”
Bayu mendekat dengan langkah lebar. Dia jongkok di depanku, tangannya langsung meraba pahaku dari luar legging. Jari-jarinya menekan tepat di bagian yang sudah lembab.
Bayu matanya menatapku dari bawah. “Udah basah banget, Lin. Kamu emang nungguin ini ya dari tadi?”
Aku menggigit bibir bawahku, suara agak gemetar karena Iqbal masih menghisap. “Mmm… mungkin. Kalian pada ganteng-ganteng… susah nolak.”
Sofi yang tadinya cuma duduk di pangkuan Januar tiba-tiba tertawa kecil. Wajahnya memerah, tapi matanya penuh rasa ingin tahu.
Sofi suara genit, tangannya meraba dada Januar. “Nu, kamu gak cemburu aku liatin mereka? Atau kamu malah pengen ikutan nyusu Lina juga?”
Januar tertawa pelan, tangannya meremas bokong Sofi. “Cemburu apaan. Malah pengen liat kamu main sama cewek dulu hehehe. Lina, boleh ga Sofi cium kamu?”
Aku menoleh ke Sofi. Dia bangkit, mendekat dengan langkah pelan. Bibirnya merah karena mabok anggur. Dia berhenti tepat di depanku, jarak cuma beberapa senti.
Sofi berbisik. “Aku penasaran… rasanya nyusu toket kamu gimana.”
Tanpa menunggu jawaban, dia menciumku. Lembut dulu, cuma sentuhan bibir. Tapi begitu lidahnya menyelinap masuk, ciuman jadi dalam dan basah. Iqbal mundur sedikit memberi ruang, tapi tangannya tetap meremas payudaraku dari samping.
Rizki sudah tak tahan, berdiri dan membuka resleting. “Aku... ga kuat liat doang. Lina, sini… kamu harus jadi yang pertama untukku.”
Rizki mendekat dari sisi kanan. Penisnya sudah tegak sempurna, kepalanya mengkilap. Aku menoleh, lalu tanpa banyak bicara menunduk dan menjilat ujungnya pelan. Rizki mendesis keras.
Rizki. “Aahh… Lina… mulut kamu panas banget.”
Bayu yang masih jongkok di depanku akhirnya menarik leggingku ke bawah perlahan. Begitu kain itu lepas dari pinggul, dia langsung membenamkan wajah di antara pahaku. Lidahnya menemukan klitorisku dengan cepat gerakan melingkar yang bikin kakiku gemetar.
Aku terengah, mulut masih penuh dengan penis Rizki. “Mmmph… Bayu… pelan… ahh”
Iqbal kembali menyusu, kali ini lebih ganas. “kamu suka kan, Tom? Kami bertiga nyusu bareng lagi kayak dulu… cuma sekarang ga cuma nyusu.”
Sofi mundur dari ciumanku, mendorong Rizki untuk minggir lalu berlutut di sampingku. Tangannya meraba payudaraku yang sedang dihisap Iqbal, lalu ikut menjilat puting satunya. Dua mulut di payudaraku, satu di bawah dan Januar hanya menonton sambil mengocok dirinya sendiri.
Januar dengan suara berat. “Sofi… kamu mau coba naik ke atas Lina ga? Aku pengen liat kalian saling gesek.”
Sofi tersenyum nakal. Dia bangkit, melepas rok mini dan celana dalamnya, lalu naik ke pangkuanku. Kami berdua telanjang sekarang, payudara kami saling bersentuhan. Dia menggesekkan bagian bawahnya ke pahaku yang basah, sementara Bayu berhenti sejenak menjilati vaginaku.
Sofi mendesah di telingaku. “Lina… kamu lembut banget… aku suka…” Sofi mengarahkan vaginanya ke mulutku dan langsung kuhisap liar, dia sudah sangat terangsang.
Malam itu bergerak semakin liar. Anggur murah, keringat, desahan, dan tawa kecil bercampur jadi satu. Iqbal, Rizki, Bayu penis mereka bergantian masuk ke dalam vaginaku kadang pelan, kadang cepat dan dalam. Sofi dan Januar saling bermain di samping kami, tapi sesekali ikut menyentuhku juga.
Dan di tengah semua itu, aku hanya bisa berpikir satu hal sambil menggigit bibir menahan kenikmatan:. Tahun baru ini… benar-benar tak akan pernah aku lupakan.
Bayu tak tahan lagi. Dia tarik Iqbal keluar dengan gerakan kasar tapi penuh hormat, lalu angkat kakiku ke bahunya. Tingginya membuat dia bisa menatap wajahku langsung dari atas. Matanya gelap, penuh rasa lapar yang sudah lama dia pendam. Aku melihat ada kilatan keraguan di sana takut aku menolak, takut ini cuma mimpi mabuk yang besok akan jadi penyesalan.
Bayu dengan suara bergetar, hampir memohon. “Lina… kamu yakin? Aku… aku takut kamu benci aku besok pagi.”
Aku tarik lehernya turun, bibirku hampir menyentuh bibirnya. Aku berbisik, suara parau karena hasrat dan sudah mabok “Aku ga akan benci kamu, Bay. Aku pengen kamu entot aku sekarang… pengen rasain penismu masuk dalam-dalam. Jangan takut.”
Dia mengerang pelan, lega bercampur birahi. Dorongannya masuk lambat dulu, seperti ingin menghafal setiap senti. Tapi begitu aku melengkung dan mendesah namanya, dia kehilangan kendali. Ritmenya jadi cepat, dalam, hampir brutal. Setiap tusukan bikin aku merasa penuh bukan cuma fisik, tapi juga emosi. Aku merasa diinginkan, diambil, dicintai sekaligus dirusak dengan cara yang indah.
Iqbal di samping, matanya tak lepas dari kami. Ada rasa cemburu kecil di wajahnya dia yang paling dekat denganku sejak kecil, yang biasa jadi yang pertama dapat bagian. Tapi cemburu itu cepat berubah jadi api. Dia jongkok, tangannya meremas payudaraku sambil menatapku dalam-dalam.
Iqbal dengan suara serak, dan penuh emosi. “Tom… kamu cantik banget pas lagi begini. Aku… aku sayang kamu dari dulu, tau ga? Makanya aku gak bisa berhenti nyusu kamu. Dan sekarang… aku pengen kamu tau aku gak cuma mau nyusu.”
Aku menoleh ke arahnya, mata berkaca-kaca karena kenikmatan dan kata-katanya yang tiba-tiba. Aku terisak kecil di antara desahan. “Aku tau, Gel… aku selalu tau. Makanya aku kasih kamu yang pertama tadi.”
Rizki mendekat dari sisi lain, penisnya sudah tegak sempurna di depan mulutku. Matanya penuh rasa bangga cowok paling ganteng di kampung ini akhirnya dapat giliran di atas kepalaku yang selama ini cuma nyusu di payudaraku.
Rizki tersenyum miring, tapi suaranya gemetar. “Aku selalu iri sama Iqbal… dia bisa deket kamu setiap hari. Sekarang giliran aku buktikan aku bisa bikin kamu lupa nama orang lain.”
Dia masukkan penisnya ke mulutku pelan, memberi aku waktu menyesuaikan. Tapi begitu aku mulai mengisap dengan rakus, dia mengerang panjang, tangannya menjambak rambutku lembut bukan kasar, tapi penuh kepemilikan.
Sofi naik ke wajahku lagi, menggeser Rizki untuk yang kedua, kali ini dengan perasaan yang lebih liar. Dia sudah orgasme sekali tadi, tapi matanya masih haus. Ada rasa takut kecil di sana takut Januar cemburu, takut dia terlalu menikmati bermain dengan sesama cewek. Tapi Januar di belakangnya malah mendorong pinggul Sofi lebih dalam ke wajahku.
Januar dengan suara berat, penuh hasrat tapi juga sayang. “Sofi… kamu boleh nikmatin Lina. Aku suka liat kamu begini… kamu cantik banget pas lagi lepas gini.”
Sofi menangis kecil karena terlalu banyak emosi, senang, malu, terangsang. Dia menggesekkan vaginanya di lidahku sambil berbisik, “Lina… kamu bikin aku takut… takut aku jatuh cinta sama kamu juga…”
Klimaks datang seperti badai. Bayu dorongan terakhirnya, dalam sekali, lalu meledak di vaginaku. Rasa panasnya membanjiri, membuatku menjerit teredam sambil menghisap vagina Sofi. Aku orgasme bersamanya tubuhku kejang, cairanku menyembur kecil, membasahi penis Bayu. Sensasi itu begitu kuat sampai aku merasa dunia berhenti sejenak.
Bayu mengerang panjang, badan gemetar. “Lina… aku… aku ga akan lupa ini… kamu milik aku juga malam ini…”
Sofi ikut orgasme di mulutku hampir bersamaan. Rasa asin manis membanjiri tenggorokanku, aku telan sambil menatap matanya matanya penuh rasa bangga dan rasa memiliki yang baru.
Iqbal tarik aku berdiri doggy style di sofa. Matanya sekarang penuh api dan cinta yang tak lagi disembunyikan. Dia masukkan penisnya dari belakang, tangannya melingkar di leherku pelan, seperti pelukan.
Iqbal berbisik di telingaku, suaranya pecah. “Tom… aku gak mau ini cuma sekali. Aku mau kamu tau… aku rela jadi apa aja buat kamu.”
Dia dorong ganas, tapi setiap gerakan penuh perasaan. Aku menangis pelan bukan karena sakit, tapi karena terlalu banyak emosi bahagia, takut kehilangan momen ini, rasa dicintai oleh banyak orang sekaligus.
Sofi di bawah, jilat klitorisku dengan penuh nafsu. Januar di belakang Sofi, tapi matanya tertuju padaku seperti ingin bilang “terima kasih Lina, sudah bikin pacarku mau di entot”.
Semua mencapai puncak lagi hampir bersamaan. Iqbal isi di dalamku sekali lagi, panasnya bercampur dengan milik Bayu tadi. Januar orgasme di punggung Sofi. Aku squirt lagi, kali ini lebih kuat, badanku ambruk ke sofa sambil menangis kecil karena terlalu nikmat.
Kami berbaring bareng di karpet, badan saling tempel, napas tersengal. Tangan ku rentangkan Iqbal peluk aku dari sebelah kanan, Rizki dari depan tepat di payudaraku, Bayu tiduran di ketiak kiriku, Sofi dan Januar di samping kami. Tak ada kata-kata dulu hanya hembusan napas dan detak jantung yang saling bersahutan.
Aku berbisik, suara lemah tapi penuh kehangatan. “Kalian… bikin aku takut… takut besok pagi ini cuma mimpi. Tapi kalau ini mimpi… jangan bangunin aku ya.”
Rizki cium keningku pelan. Rizki “Bukan mimpi, Lin. Dan kalau besok kamu bangun dan nyesel… aku yang bakal minta maaf. Tapi aku harap… kamu gak nyesel sih.”
Malam itu berakhir dengan pelukan panjang, keringat dingin, dan senyum malu-malu. Tahun baru ini bukan cuma tentang seks tapi tentang hati yang akhirnya berani terbuka, meski hanya untuk satu malam. Pesta ini adalah awal dari kebinalanku yang menggila.
ns216.73.217.15da2


