MAFIA
259Please respect copyright.PENANAFtGCyIwv8s
🎵🎶Mama, I'm in love with the criminal.🎵🎶
🎵🎶But it's not type of love isn't rational Its psychical.🎵🎶
🎵🎶Mama please don't cry I'll be alright 🎵🎶
🎵🎶All reason a side i just can't deny, I love that guy🎵🎶
259Please respect copyright.PENANALybHQEueD5
Suara alunan lagu terdengar kencang dari The Oxford Coffee House (tempat penyajian coffee / Non-Coffee Dan makanan ringan seperti Cafe) di pinggiran kota dekat pelabuhan. Beberapa orang tengah berbincang hangat, mesra, juga ada yang penuh senda gurau, dan beberapa lagi ada yang hanya memandang jauh lautan dari balik lapisan kaca Coffee House dengan pikiran nya masing-masing dan saling diam. Namun, semua itu tidak dihiraukan oleh satu anak kecil ini. Ia justru fokus di belakang The Oxford Coffee House, mencari sampah yang masih layak untuk didaur ulang dan memilah beberapa makanan yang masih bisa dikonsumsi.
"Eh... Roti ini masih bagus?"
Matanya berbinar-binar tak kala menemukan dua bungkus roti yang hanya sedikit dimakan, dibuang begitu saja.
"Baunya masih enak, coba ku-cicip dulu sedikit."
Anak itu mengambil sedikit ujung roti dan mencobanya. Ya... rasanya seperti menemukan makanan dari surga. Bau rasa mocca begitu menyengat di hidung, menggoda siapapun untuk segera memakannya namun gadis kecil itu tetap menahan lapar yang semakin keras bunyinya. ia langsung memasukkannya ke dalam kantung plastik hitam agar tidak membuatnya semakin merasa kelaparan melihat roti itu lebih lama.
259Please respect copyright.PENANAq0S1aUjyPE
Suasana pelabuhan yang terik matahari namun juga di iringi suara angin yang berdesir dan bersiul membawa suara ombak, beberapa orang di pelabuhan sibuk berniaga saling tawar menawar dagangan mereka, para pria bertubuh besar masuk dan keluar kapal untuk bongkar muat barang.
Ada juga para pelancong dan imigran untuk membuka bisnis baru / cabang di negara ini serta TKN ( tenaga kerja negara ) yang di tugaskan menjadi pekerja tambahan bagi negara yang membutuhkan, mereka turun satu persatu dari kapal internasional dari berbagai negara, suara riuh semakin penuh di pelabuhan.
Anak-anak berlarian bebas setelah berhari-hari di batasi dalam kapal, para pencuri juga banyak yang merasa memiliki kesempatan emas, target utama orang yang mudah untuk dimanipulasi secara halus untuk mendapatkan harta berharga incaran nya. Sekali saja ia melihatmu lengah maka barang akan lenyap dalam sekejap dan ada juga wanita yang di culik setelah di tawari minuman yang di labeli khas daerah sebagai turis pasti sangat ingin merasakan kearifan lokal negara yang di kunjungi nya, padahal minuman itu mengandung obat bius, biasanya korban akan di berikan minuman saat berada dekat kereta kuda untuk lebih mudah mereka beroperasi melancarkan aksinya, menculiknya ke dalam kereta, tanpa di sadari orang sekitar.
Lima tempat sampah besar di sekitar pelabuhan sudah ia eksekusi untuk dipilih, dan ada beberapa tempat sampah kecil yang dilarang untuk diambil oleh pemiliknya. Bukan karena mereka akan daur ulang, tapi mereka tidak sudi memberikan apa pun—bahkan sekalipun itu sampah—pada kalangan bawah seperti anak gadis itu.
Dalam tatapannya penuh kebencian pada orang-orang kalangan menengah tersebut: masih memiliki harta sedikit lebih banyak dari kalangan bawah saja sudah sangat sombong dan tak memiliki hati nurani untuk memberi apalagi jika memiliki harta sebanyak para bangsawan pasti akan terlahir lebih banyak lagi orang serakah dan kejam.
"Semoga air laut ini akan melenyapkan semua harta kalian berserta hidup kalian juga." Ucapnya dalam hati dengan penuh rasa dendam.
259Please respect copyright.PENANAikBDSgxul3
Anak perempuan itu bernama Shelley. wajah berbentuk Oval dan tirus, wajahnya yang memiliki fitur elegan dan tatapan tajamnya, dengan gaya Messy hair berwarna hitam legam dengan beberapa helai rambut putih di sisi kiri samping, mengenakan celana panjang lusuh dan kaos kebesaran dengan lengan panjang yang di gulung pendek sampai bagian sikut memberikan daya tarik Tersendiri dan kesan kuat sebagai gadis mandiri.
Ia berpaling memutar tubuhnya, berjalan ke arah lain menuju pusat kota—walaupun umurnya masih belia, sekitar 10 tahun. Ia harus menghidupi beberapa anak yatim lainnya. Bahkan membawa 3 karung besar sekalipun ia lakukan, meski kadang harus ia tarik sepanjang jalan jika penuh semua; ia merasa sangat bersyukur karena dengan begitu ia bisa membelikan banyak roti untuk dimakan.
"Kak Shelley!" Panggil seorang anak laki-laki sebaya dengannya , dia melambaikan tangan ke arah Shelley dengan karung di tangan satunya, Namanya Chio, dia berlari ke arah Shelley dengan antusias, rambut pendek sebahunya yang keriting gantung berwarna pirang keemasan bergerak melambai-lambai tertiup angin, tubuhnya yang lebih pendek dan kecil dari Shelley, Chio mengenakan mantel coklat penuh tambalan dan celana pendek selutut, mata biru yang berkilau penuh semangat menyapa Shelley.
Shelley menghentikan aktivitasnya yang tengah mengacak-acak tempat sampah, menatapnya dengan tatapan hampa—lelah tergambar jelas di wajahnya, tapi senyum tipis tetap menghiasi bibirnya.
259Please respect copyright.PENANA0GSbpiYnwe
"Ya, ada apa?" Tanyanya dengan nada datar.
259Please respect copyright.PENANAwhqP8ntrqI
"Sudah, dapat lumayan banyak, ya?" Chio melirik ke samping untuk melihat karung Shelley.
Shelley hanya mengangguk sambil mengangkat salah satu karungnya.
"Oh ya, aku tahu ada tempat yang hari ini banyak harta karunnya! Ayo, ikut aku!" Anak Laki-laki sebayanya itu langsung menarik tangan Shelley dengan antusias, suaranya penuh semangat, kayak anak kecil yang nemu harta karun.
Beruntung Shelly selalu bisa bergerak cepat dan menangkap 3 ujung karung dalam genggaman nya sebelum di tarik Chio.
Suasana tengah kota yang mendung, banyak kereta berlalu lalang di jalan dan beberapa orang di jalan sudah menyediakan payung di tangannya.
Shelley di ajak berlari sedikit agak lebih jauh dari tengah kota oleh Chio.
"Rumah no. 36, belok kiri, suara burung, dan..." lirih pelan dengan nafas Chio yang terengah-engah, berusaha mengingat jalan sambil terus berlari.
259Please respect copyright.PENANAL4UwWdw4jy
Saat sedang melewati lapangan tanpa di duga ada sebuah bola melayang dari kejauhan ke arah depan kaki Chio, membuatnya tersandung bola dan terjatuh. Shelley yang tidak siap dengan serangan tiba-tiba pun ikut tertarik dan menimpa atas tubuh anak laki-laki itu.
"Aduhh..." Ringisnya kesakitan.
Shelley langsung bangkit dan menarik tangan Chio untuk duduk, memeriksa tubuh Chio dengan teliti dan perasaan khawatir. Ia melihat ada darah di lutut Chio.
Dadanya memanas dan merasa sesak melihat luka Chio, emosinya memuncak; ia juga terluka, tapi luka itu di dalam hatinya karena melihat sahabatnya berdarah.
"Chio, kakimu..." Kalimatnya terpotong.
"Ga papa," jawab Chio dengan cepat, suaranya bergetar, matanya berkaca-kaca menahan tangis karena kesakitan yang berusaha ia tutupi dari Shelley.
"Tak kan ku-maafkan!" Shelley menggeram dan langsung berdiri, menatap buas seperti harimau yang siap menerkam anak-anak yang sedang menertawai mereka dari pinggir lapangan.
"Hei! Gadis sampah, bawakan kemari bola itu!" Seru salah satu dari mereka.
Shelley menatap sejenak bola di dekat Chio dan tersenyum untuk melampiaskan rasa lelahnya kepada mereka, ia meraih bola tersebut dengan santai, kemudian membawanya menyeberangi jalanan yang sepi dan menaiki tangga ke lapangan yang kebetulan lebih tinggi.
"Sini!" Anak laki-laki yang berbadan lebih tinggi darinya merebut bola dengan nada tinggi, tapi Shelley masih pegang erat bola itu dengan kedua tangannya.
"Siapa yang menendang bolanya?" Tanya Shelley dengan nada dingin, tatapannya tajam, tanpa senyuman.
"Aku!" Dia ketawa. "Hebat, kan? Tepat sasaran." Jawab anak laki-laki dengan balutan kain yang di ikat dan bertuliskan Nama "Edward K. Setterhorn" di lengan bajunya.
"Sangat hebat..." Shelley balas memuji dengan nada pelan, menundukkan kepala—pikiran liciknya mulai berputar, menyusun rencana untuk membalas. Senyum lebar menghiasi wajahnya, karena dia akhirnya tahu siapa yang melukai Chio.
"Edward, kamu perlu banyak belajar dari kehidupan untuk tidak menganggu lawan yang kamu tidak kenali" Suaranya terdengar ramah tapi siapapun bisa merasakan aura kemarahan yang besar di baliknya.
Anak-anak itu mulai seperti masuk dalam dunia lain yang mencekam, suasana terasa sunyi hanya terdengar suara angin dari -pohon- pohon dari kejauhan, di tambah cuaca mendung.
Semua seperti terhipnotis oleh Shelley.
Shelley mengangkat pandangannya. Tatapan mata Shelley yang tajam Dan menatap langsung, membuat Edward tidak nyaman.
Shelley melempar bola ke udara dan mereka pun langsung melihat ke arah bola itu melayang di atas mereka. Saat mereka lengah, Shelley dengan cepat langsung berlari dan menendang perut Edward dengan tendangan samping keras. Edward terkejut dan langsung tersungkur, memegangi perutnya. Belum sempat yang lain menurunkan kepala untuk melihat Edward. Secepat angin, Shelley kembali menyerang dengan tendangan spinning hook rendah (atau tendangan memutar hook), mengenai mata kaki anak lainnya, membuat mereka terjatuh dan kepala mereka membentur tanah keras lapangan tersebut.
259Please respect copyright.PENANAIbDbIS7vnb
Shelley berdiri tegak, tatapannya penuh ancaman, membekukan suasana sekitar dengan intimidasi nya.
"Sekali lagi ada yang berani menganggu kami," katanya, "akan ku-berikan pelajaran lebih dari ini."
Bola yang tadi dilempar jatuh ke tanah, suara pantulannya keras, memenuhi keheningan di antara mereka. Anak-anak itu masih terkena serangan shock, karena terkejut dengan serangan Shelley yang tiba-tiba dan gerakannya lebih cepat dari kedipan mata sampai mereka tidak sempat meringis, hanya termenung mematung dan ketakutan.
Anak berbadan tinggi sebelumnya bangkit dan mengambil bola yang jatuh di dekatnya, melempar kencang bola itu ke belakang kepala Shelley. Tapi Shelley sudah tahu niat jahatnya; refleks dia putar badan, menangkap bola itu, menjatuhkan ke kakinya dan langsung menendangnya balik, tepat mengenai wajah anak itu yang membuat hidungnya keluar banyak darah. Ia berteriak panik saat melihat banyak darah yang menetes di tangannya. Seperti baru tersadar dari hipnotis anak-anak lainnya pun langsung ikut panik melihat temannya cedera sedemikian parahnya karena gadis yang mereka anggap lemah sebelumnya.
Ke enam anak-anak itu langsung berlari pulang ke rumahnya masing-masing sambil menangis.
Shelley hanya tersenyum dan kembali lanjut berjalan menuruni anak tangga. Chio, walaupun terbiasa melihat Shelley seperti itu, tapi tetap saja tidak bisa membuatnya untuk tidak terkejut melihat betapa kuat dan cepatnya Shelley menaklukan lawannya.
"Jangan terus cengeng, kamu akan semakin merepotkan ku," kata Shelley dengan senyuman, nadanya bercanda, tapi ia sangat menegaskan kalimat tersebut pada Chio, dan membantu Chio berdiri.
Chio memang lebih lemah dari Shelley baik dari fisik maupun mental, hatinya masih lembut seperti adik-adiknya, tatapannya sudah semakin berkaca-kaca, airmata itu kapan saja bisa tumpah bila berkedip, tapi walaupun begitu ia juga sering menghentikan Shelley saat emosi sudah tidak terkendali dan menyelamatkan mereka berdua dari masalah yang lebih besar dengan cara membawanya kabur dari tempat kejadian secepat mungkin.
Chio berusaha berjalan cepat, bahkan setengah berlari kecil dengan kaki yang masih terasa perih, mempersulit langkahnya, belum lagi karung sampahnya yang sudah terisi hampir penuh, ia mengenggam erat tangan Shelley di belakang nya dan karung di pundak sebelah kiri, Shelley hanya mengikuti Chio dengan hati puas telah membalas perbuatan anak-anak tadi, dengan suara karung sampah yang berisi kaleng, kardus dan lain-lain membuat gemerincing kala berbenturan dengan jalanan.
Chio sangat takut, bila Shelley harus ketahuan dan berurusan dengan orang tua anak bangsawan itu. Selain akan ditindak lanjuti ke kepolisian, Shelley bisa saja di hukum lebih dari itu karena bangsawan bisa melakukan apapun dengan uang mereka, Tapi entah kenapa, selama ini, anak bangsawan itu tidak ada yang berani balas perbuatan Shelley. Saat orang tua mereka itu melihat keadaan anaknya, secara tiba-tiba pulang dengan keadaan mengenaskan seperti itu, pasti akan mencari siapa pelakunya, Mereka memang bisa menjelaskan kronologi kejadiannya pada orang tua mereka, tapi tidak menunjukkan siapa pelakunya, dan berkata, "Mereka tidak bisa menjelaskan ciri-ciri nya." Mereka sangat takut bila harus bertemu dengan Shelley lagi, dan sekalipun tidak sengaja bertemu di kota, tanpa bisa berkata-kata, mereka pasti langsung bersembunyi di balik kereta kuda mereka.
259Please respect copyright.PENANALPtxGIwPG9
Shelly itu kejam pada kalangan tengah dan atas, tapi juga sangat peduli pada keselamatan teman-teman dan adik-adik nya menurut Chio. Ia tegas, tapi senyumannya juga selalu menghangatkan. Ia membuat siapapun merasa aman berada di dekatnya, tapi Chio tahu, ia tidak bisa terus bergantung pada Shelley.
259Please respect copyright.PENANAULZL5ZMaVw
"Bersihkan dulu lukamu, sini," Shelley memberhentikan langkah Chio dan berganti menarik tangannya ke pinggir dermaga. "Eh... itu air milik Tuan Robertson, ia akan marah bila tahu kita-"
"Jangan biarkan ia melihat, jadi ia tidak akan tahu," potong Shelley.
"Jika kamu hanya hidup penuh ketakutan pada mereka, kamu akan segera mati di tangan mereka," sambungnya lagi.
Chio terdiam dan hanya bisa pasrah mengikuti Shelley untuk duduk di pinggir dermaga, sambil membersihkan lukanya. Shelley mengeluarkan sapu tangan kecil di karungnya yang ia temukan di jalan, dan melipat nya menjadi empat lapis, kemudian ia tempelkan di kaki Chio, dan mengoyak sedikit lengan bajunya untuk mengikatnya.
"Kenapa kamu merusak bajumu? Kan ini hanya luka kecil," tanya Chio dengan nada tinggi, bukan karena marah, tapi khawatir, karena bagi mereka, kekurangan kain di baju sama saja mencari penyakit. Angin malam di kota ini sangat menusuk kulit.
"Kalau tidak diikat, kamu pasti akan semakin lama jalannya. Waktu ku akan terbuang sia-sia, harus menunggumu berjalan."
Bagi yang tidak mengenal Shelley, pasti ada beberapa tersinggung oleh kata-katanya; tapi Chio dan anak-anak yatim tahu, itu hanya candaan dan cara Shelley menunjukkan perhatiannya dengan cara mencairkan suasana. Ia mengucapkan kata-kata tersebut dengan nada serius, namun sebenarnya bercanda, untuk mengalihkan perhatian Chio dari kejadian sebelumnya. Ia sangat tidak ingin membuat orang lain khawatir dengan keadaannya, dan berusaha keras untuk membuat mereka hidup aman dan tenang dari gangguan orang-orang yang mencari masalah pada mereka.
"Terima kasih..." kata Chio.
"Sama-sama," jawab Shelley.
Mereka pun kembali melanjutkan jalan sambil memakan roti yang Shelley temukan, tadinya ia ingin menyimpannya sampai rumah untuk anak-anak lainnya, tapi ia juga kasihan pada Chio, lagipula ia juga butuh tenaga untuk tetap kuat agar bisa terus mencari uang.
Selagi perut terisi, tenaga pasti aman.
259Please respect copyright.PENANAJcj0EDQf57
Chio memakan roti itu secara perlahan, karena ia ingin lebih lama menikmati setiap gigitan rotinya, ia tidak tahu kapan lagi ia akan merasakan roti selembut dan semanis itu. Rasa mocca dan harumnya sangat ingin ia simpan dalam ingatannya, agar ia bisa merasa bersyukur kala ia nanti berada di titik terendah hidupnya saat ia merasa hidupnya tidak adil, penuh kesengsaraan dan tidak ada kebahagiaan biarlah roti ini menjadi saksi bahwa ia pernah diberi kesempatan untuk memakan roti seenak ini, hari ini. roti mahal yang hanya bisa di beli kalangan atas.
259Please respect copyright.PENANAUajWhI89jf
Hari sudah beranjak senja, sampah yang dikumpulkan sudah penuh. Chio yang membawa dua karung, satu karung miliknya dan satu lagi milik Shelly. Shelley tentu saja membawa dua karung sisanya, dan juga kresek hitam berisi beberapa makanan masih layak konsumsi yang ia temukan. Benar kata Chio di tempat tadi, ada banyak sekali harta karun yang maksudnya sampah yang bisa didaur ulang.
Shelley dan Chio mendatangi rumah Zhi Long, si Pengepul sampah dari kalangan tengah yang sangat baik hati pada mereka. Pengepul sampah adalah orang yang bertugas mengumpulkan barang seperti hasil rongsok dari para pemulung, lalu akan dijual kembali ke agen lebih besar. Dengan adanya itu, bisa membantu masyarakat berkekurangan untuk mendapatkan penghasilan sehari-hari. Beruntung Zhi Long adalah imigran asli China yang dulunya membuka usaha restoran China dan bangkrut sekarang beralih jadi pengepul.
Dari banyaknya pengepul hanya ia jujur dan adil dalam memberikan upah, harga jual yang pas dari hasil kerja keras para pemulung yang sering datang padanya dan hanya Chio dan Shelley pemulung termuda yang menyetorkan sejumlah barang bekas padanya dan paling banyak juga barang bekas berharga kumpulan mereka.
"Paman!! Paman~!" Teriak mereka memanggil dengan bernada.
"Hei, dua pejuang kecilku!" Sapa nya dengan semangat dan ramah.
"Kami membawa banyak harta karun, kapten!" Lapor Chio sambil menyerahkan karungnya, dan begitu juga dengan Shelley.
"Aye-aye, captain!" Balas Shelley.
"Wah-wah, sudah berkerja keras sekali kalian sampai terluka seperti itu, hmm?" Tegur Zhi Long saat melihat kaki Chio dilapisi kain yang sudah bercampur warna darahnya.
"Hehe, luka kecil, paman," canda Chio.
"Tapi keluar air mata," timpal Shelley.
mereka pun tertawa bersama, melepaskan lelah sejenak. Di momen seperti itu, sangat berharga untuk menciptakan kedekatan dan menciptakan hangatnya kebersamaan.
Zhi Long meminta mereka duduk menunggu di depan rumahnya, sementara itu ia membawa karung-karung tersebut ke samping rumahnya dan masuk ke dalam rumah lewat pintu belakang meminta pembantu di rumahnya untuk menyiapkan teh dan mengobati luka Chio.
Rumah paling Cozy, walaupun asalnya dari China tapi Zhi Long memiliki ketertarikan dengan desain rumah ala jepang, di halaman rumahnya pun ada rumput - rumput halus yang tumbuh dengan terawat jadi terlihat rapih. Sayangnya rumah Nya tertutup rapat dari jalan dan berada di tengah-tengah rumah tetangganya yang masuknya jadi harus lewat gang-gang kecil.
Setelah menunggu beberapa menit, pelayan Zhi Long keluar , membawa nampan yang tertata dua cangkir teh hangat asli China yang masih mengepul asapnya membuat aroma teh Hijau terbawa angin dan membuat tenang bagi siapapun yang menghirupnya dan sebuah mangkuk berisi obat.
Dengan sopan ia menyajikan teh Hijau di meja kemudian langsung bersimpuh depan Chio untuk mengobati nya, sedangkan Shelley menikmati tehnya dengan anggun. Chio dan Shelley sering kali merasa sungkan karena kebaikan sang Tuan rumah, namun tetap mereka terima dengan senang hati sebagai pemberian Tuhan yang sudah disiapkan untuk mereka yang di titipkan pada orang - orang yang masih memiliki ketulusan dalam hatinya.
"Ouch...perih sekali" Chio mengeluh kesakitan, menarik napas tajam saat pembantu paruh baya itu membersihkan luka di lututnya dengan air hangat yang memberikan efek kejut saat sentuhan pertama dan daun yang sudah di halusi dengan campuran sedikit minyak herbal yang di olesi perlahan (atau salep tradisional zaman itu).
259Please respect copyright.PENANApuMwCVEqd2
"Tahan sedikit, supaya lukamu cepat kering," ucap pembantu paruh baya itu dengan lembut, dengan jiwa keibuan yang tinggi.
259Please respect copyright.PENANAy45cmivway
"Bibi Annie... Terima kasih masih mau menerima kami yang kotor ini," kata Shelley tiba-tiba. Wanita paruh baya itu terdiam sejenak dan tersenyum ke arah Shelley dan Chio bergantian.
259Please respect copyright.PENANAp9jnv50sMX
"Tidak ada yang kotor dari kalian, hati kalian bersih. Tidak seperti mereka yang berhati kotor, hanya dibalut pakaian bersih dan penampilan rapih mereka." Ucap Bibi Annie dengan lembut.
"Bibi ini bisa saja menemukan kata-kata untuk membuat kami merasa berharga, ya?" Canda Shelley.
"Kalian memang berharga. Andai saja Tuan Zhi Long memiliki uang lebih untuk bisa menempatkan kalian di rumah ini..." Bibi itu berkata sambil memikirkan kalimat yang tepat untuk akhir kalimatnya.
"Kebaikan Paman Zhi Long sudah lebih dari cukup untuk membuat kami bertahan hidup," jawab Shelley dengan cepat.
"Ya, kami bersyukur bisa bertemu dengan paman dan bibi yang sangat baik pada kami," tambah Chio.
Annie tersenyum, hanya dia pelayan rumah Zhi Long yang tersisa, sebelum nya ada 3 pelayan yang ikut membantu mengurus barang bekas dan ada lagi bagian mengantarkan nya ke agen besar, tapi mereka berdua mengkhianati kepercayaan Zhi Long. Zhi Long memang sangat baik hati kepada siapapun tapi juga Naif tidak bisa memilih siapa yang pantas untuk mendapatkan kepercayaan nya sehingga banyak penggelapan dana dari hasil rongsok yang sudah di jual.
"Chio, cepat minum teh nya selagi hangat, kita harus cepat pulang sebelum malam datang," tegur Shelley. Chio mengangguk.
Zhi Long keluar membawa beberapa kotak berisi nasi dan makanan.
" Terimalah ini untuk kalian nikmati di rumah, bibi Annie masak banyak sekali, paman khawatir kalau perut paman akan meledak jika harus menghabiskannya sendiri," kata Zhi Long sambil menyerahkan makanan kepada Chio dan Shelley dengan senyum hangat.
259Please respect copyright.PENANAgMuRSYjJ1e
Suasana hangat tercipta, Chio dan Shelley tersenyum lebar, lalu mereka meledak dengan tawa gembira bersama Zhi Long. Chio pun menerima makanan sambil sedikit membungkuk sebagai tanda terima kasih, diikuti Shelley. Zhi Long merasa tidak pantas diperlakukan sedemikian rupa karena di kota ini, penghormatan seperti itu hanya untuk bangsawan kalangan atas.
Tidak lupa, Zhi Long memberikan upah kepada mereka dengan harga sepantasnya, tidak seperti penampung sampah lainnya yang mengurangi upah pada bawahan nya dan lagi sangat kasar. Beberapa Pence (koin logam) yang mereka kumpulkan bisa mereka simpan untuk besok karena mereka sudah mendapatkan makanan dari Zhi Long malam ini.
"Chio, malam ini menginaplah, jangan setelah makan kamu kabur pulang, itu bahaya." Shelley memaksa Chio untuk menginap dengan cara yang halus, tapi Chio tahu bahwa itu bukan permintaan.
Chio merasa ada yang tidak beres.
"Kenapa?" Tanya Chio dengan penasaran.
"Lagi banyak pembunuh liar." Jawab Shelley dengan Nada datar, seperti baru saja memberikan berita cuaca.
"Apa?! Sungguh? Benarkah?!" Alisnya terangkat tinggi saat mendengar berita itu sambil menutupi mulutnya yang terbuka lebar dengan kedua tangannya.
259Please respect copyright.PENANAOcu09vEayL
"Berita sepenting itu kamu tidak tahu?" Kalimatnya terjeda, sambil menghela nafas dalam-dalam, dia menurunkan karungnya. Lalu mendekat ke tubuh Chio yang lebih pendek darinya dan berbisik pelan sambil menarik sedikit telinganya.
"Makanya jangan banyak menonton anak-anak bangsawan bermain bola."
"Hehe." Chio tertawa kecil sambil menggaruk belakang lehernya, seperti tertangkap basah oleh kebiasaan yang sering melihat dari atas jembatan, anak-anak bangsawan bermain bola di lapangan arah barat yang penuh rerumputan dan tanah datar di daerah pinggir pelabuhan kalau Chio sedang sedang istirahat sejenak atau saat jenuh mencari barang bekas.
"Walaupun tempat kita hanya berseberangan dari gang ini tapi tempatku masih cukup untuk mu tinggal bersama kami dan lagi aman tersembunyi dari penglihatan orang-orang jahat." Chio merasa seperti anak kecil yang sedang mendengarkan ibu- ibu berbicara, karena nada suara Shelley yang lembut dan penuh kasih sayang.
"Aku tidak biasa tidur berdesakan." Chio merasa kasihan dengan Shelley, jadi dia memberikan alasan yang tidak jujur untuk tidak menginap. Chio tidak ingin Shelley kehilangan kenyamanan tidurnya yang luas dan nyaman jadi harus tidur berdesakan dengan adik-adiknya yang masih kecil dan berisik, jadi dia mengatakan bahwa dia tidak biasa tidur berdesakan.
Tapi sebenarnya alasannya keliru, justru dengan begitu Shelley jadi berpikir kalau Chio masih kurang ruang untuk istirahat padahal Shelley saja sudah berusaha cukup sempit tidur di tengah adik-adiknya kalau Chio menginap agar ia bisa tidur dengan nyaman.
Memang jika hanya adik-adiknya tempat itu masih sedikit ruang, tapi jika di tambah satu anak lagi akan terbatas gerak tidurnya.
Kesabaran Shelley mulai menipis karena kesalah pahaman. Ia paling tidak suka orang banyak mengeluh, baginya memiliki tempat menetap untuk istirahat dan bisa makan sudah lebih dari cukup.
"Banyak gaya sekali orang miskin satu ini, terimalah apa yang ada yang penting kita bisa tetap hidup!" Shelley berdiri tegak dengan kedua tangan di pinggang dengan ekspresi wajah yang marah, Chio mengangkat tangannya untuk melindungi diri dari pukulan yang mungkin akan datang sambil meminta ampun atas ucapannya tadi.
Anak kecil berlari ke arah mereka.
"Kakak!!! Sudah pulang?" dengan tangan yang terangkat, menyapa dengan suara yang riang dan penuh semangat.
Anak kecil itu seperti malaikat yang datang untuk menenangkan suasana bagi Chio.
Saat Shelley sedang fokus memandang Chitta adik tertuanya yang berusia 7 tahun, Chio mengelus dadanya berkali-kali selamat dari maut (kemarahan Shelley).
"Ya dan kami bawa banyak makanan dari paman baik hati." Ucap Shelley dengan lembut dengan senyuman lebar untuk menutupi lelahnya, gadis mungil itu melompat-lompat kegirangan dan mengucap syukur seperti yang biasa di ajarkan oleh Shelley pada mereka.
Chitta berjalan di depan seperti pemandu wisata, mereka memasuki beberapa gang kecil yang berliku-liku sampai akhirnya di ujung gang ada lapangan kecil bekas lapangan basket. Tempat yang mereka tinggali dengan tumpukkan jerami sederhana dan beralaskan kardus dan atapnya di tutupi seng bekas.
Sebelum Shelley menemukan tempat itu, ia juga sering kali berpindah-pindah tempat untuk istirahat di malam hari.
"Wah bau makanannya membuatku sangat lapar." Teriak riang salah satu adik Shelley.
"Asyik makan nasi!" Seru yang lainnya.
"Akhirnya perut kita bisa di isi nasi bukan roti!" Timpal adiknya yang paling kecil.
Mereka mengerumuni Shelley dan Chio dengan kedua tangan di angkat sambil melompat-lompat bahagia.
"TIDAK BOLEH BERKATA BEGITU! Apapun itu syukuri selagi bukan batu yang masuk perut kalian." Bentak Shelley.
Suasana riuh tiba-tiba hening sesaat, lalu Shelley meminta ke lima adiknya duduk manis melingkar, Shelley biasa menyajikan makanan di atas daun besar untuk mereka bisa santap bersama daripada harus satu kotak satu. Agar lebih terasa kebersamaan dan membuat momen lebih terasa hangat, untungnya mereka sudah mengerti bagaimana berbagi dengan adil dan sangat murah hati mau berbagi apapun itu bersama. tidak ada yang mengambil milik yang lain, mengambil nasi dari pinggir dekat mereka dan tidak boleh ada yang serakah.
Semua itu karena dari Shelley.
Selain nasi, ada Kari berisi kentang dan sayur. Beberapa anak mengeluh tidak suka sayur karena mereka belum pernah mencobanya, mereka pikir itu adalah daun semak-semak.
259Please respect copyright.PENANAUycyh8JZYB
"Coba dan makanlah! Jangan langsung bilang tidak suka sebelum di coba, ini sayuran bukan daun liar yang aku larang kalian makan, ini sehat." dengan nada tinggi yang agak frustasi karena Shelley tidak suka lihat adik-adiknya mengeluh tentang makanan, Mereka ingin menolak namun urung saat melihat tatapan mata Shelley yang sudah memberikan tanda-tanda marah akhirnya mereka menuruti kata-kata Shelley.
259Please respect copyright.PENANAYAJ6ii2Ovn
setelah mencoba sedikit, Shelley mengajarkan mereka untuk mencampur sayuran itu dengan kuah kari dan nasi supaya rasanya semakin nikmat dan mereka pun mencobanya lagi memakan dengan lahap.
"Wah, ternyata sayuran enak! Tidak pahit seperti daun semak-semak" kata si bungsu yang lain mengangguk setuju dan lanjut makan hingga habis tanpa tersisa.
Usai makan Shelley kembali mengeluarkan sesuatu dari kantung hitamnya, rupanya ada dessert manis lainnya sebagai hidangan penutup, beberapa di antaranya ada potongan Apple pie, Linzer Torte (Kue tart ini berisikan selai dan ditutupi adonan pastri di atasnya) dan Lebkuchen (kue jahe berbentuk manusia dan pohon natal) entah bagaimana bisa Lebkuchen ada di sini, padahal setahu Shelley dari seorang pembuat roti langganan nya, makanan itu baru ada di Jerman, mungkinkah Imigran Jerman membuangnya? Atau salah satu penduduk lokal di berikan ini dari orang asal Jerman dan ia tidak menyukai nya hingga akhirnya di buang? Jumlahnya tidak sedikit dalam kotak ini, tapi ya sudahlah memang hadiah dari Sang peri langit untuk adik-adik, pikir Shelley.
259Please respect copyright.PENANA6RmGkHHFmA
selagi mereka menikmati dessert nya, Shelley mengupas buah semangka pemberian Bibi Annie tadi. Chio mendekati Shelley dan menyuapinya kue manis miliknya, Chio tahu Shelley mencari kesibukan lain agar makanan itu bisa cukup untuk adik-adiknya, ya, anak-anak itu sudah seperti keluarga seperti Shelley dan Chio padahal mereka tidak ada ikatan darah satu sama lain.
259Please respect copyright.PENANAuJLcZCoHLZ
Shelley memakan sedikit gigitan pada kue Chio dan tersenyum. Chio sedikit kecewa namun ia memilih untuk tidak memaksa karena ia pernah memaksa memberikan lebih banyak bagian miliknya pada Shelley dan menyisakan untuk dirinya hanya sisa sekali suap dan Shelley tidak menerima makanan itu justru berdalih ada pekerjaan lain dan pergi. Shelley bukan ingin menolak karena tidak suka, tapi ia tahu bahwa Chio juga menyukai makanan itu hanya saja Chio kasihan pada Shelley yang selalu mengalah untuk memenuhi perut adik-adiknya, kecuali jika ada makanan lebih seperti sekarang ia pasti ikut makan banyak, jika tidak ia akan mengurangi jatahnya untuk di bagikan rata dengan yang lain.
Mencari makanan masih layak konsumsi itu sulit dan mungkin hanya sedikit di tempat sampah.
Bagi Shelley, perut kecil adik-adiknya lebih penting karena pasti tidak akan tahan lapar seperti nya yang sering kali merasakan sakit tak tertahankan (maag), jika terlalu lama menahan lapar. Makanya Shelley tidak ingin adik-adiknya merasakan hal serupa, walaupun jatah makan mereka hanya sekali yaitu di hanya makan di malam hari setelah Shelley selesai berkerja kepinggir kota tapi ia usahakan cukup untuk memberikan makanan dari upah hasil kerja kerasnya dan kumpulan makanan sisa yang masih bersih dan bisa di makan oleh mereka.
259Please respect copyright.PENANABHZ51n0fJ7
Tidak, ia tidak akan memberikan makanan basi kepada orang yang ia sayangi seperti pengemis dan gelandangan lainnya yang membuat mereka banyak terserang penyakit dan virus lainnya, jika sekali pun tidak ada makan, ia hanya akan duduk di tengah adik adiknya dan menadah ke langit meminta Peri langit memberikan sedikit makanannya untuk mengisi perut mereka yang bergantian bergetar meminta di isi dan tiba-tiba keajaiban tercipta bagi mereka yang percaya dan menyakini nya, pasti ada makanan yang muncul saat Shelley mencoba mencari makan lagi di malam hari. Entah di pinggir jalan, di atas tutup tempat sampah atau orang yang masih memiliki hati nurani memberikannya.
259Please respect copyright.PENANA390hgeuASJ
padahal malam hari jarang ada restoran membuang makanan, rata-rata para karyawan membawa pulang sisa bahan dan makanan yang tersisa.
Orang-orang kalangan atas hanya memandanginya mencari makanan dan dengan sengaja makan di depan Shelley lewat tanpa sedikitpun rasa iba untuk berbagi padanya.
Adik-adik Shelley bukanlah keluarga aslinya, mereka juga sama hanya bayi buangan yang Shelley temukan saat sedang mencari makanan di tempat sampah gang-gang kecil. Satu persatu Mereka Shelley urus dan rawat, untungnya Bibi Annie sangat baik sering memberikan susu pada Shelley setiap kali Shelley kesana sebelum menjadi pemulung.
Shelley tidak pernah memberitahu Annie dan Zhi Long kalau ia menemukan bayi, karena ia belum dekat mengenal Zhi Long dan takut jika Zhi Long akan menjual anak itu ke kalangan atas.
Saat hampir melewati rumah Zhi Long seperti biasa, ia pasti menyembunyikan adik nya di gang depan yang tertutup dari rumah Zhi Long dan keranjang Rotan yang biasa untuk roti / buah berisi beberapa helai kain dan bantal kecil untuk bayi itu tetap nyaman untuk tidur sambil tersenyum-ayun saat Shelley sedang berjalan.
Walaupun Shelley belum mengerti susu itu bukan untuk anak di bawah 1 tahun, tapi syukurlah adik-adiknya bisa tumbuh dengan sehat.
259Please respect copyright.PENANA6m1dimn3JS
Adik Chitta pertama ia temukan ia beri nama.Adik kedua, Diego ke tiga Costa ke empat, Concordia dan ke lima si bungsu adalah Luisa. 3 perempuan dan 2 laki-laki
Chitta sebagai kakak pengganti Shelley kalau sedang bekerja, sudah bisa menyesuaikan dirinya sebagai kakak dari usia 4 tahun, kepribadian nya yang bisa cepat mandiri dan bisa di andalkan sangat membantu Shelley sebelum bertemu dengan Chio.
Saat Chitta masih bayi, Shelley membawa keranjang kemanapun ia pergi. Apakah orang lain akan mencurigainya membawa bayi dalam keranjang? Tentu tidak, bahkan saat berteduh di samping toko atau di dekat rumah orang lain kala hujan turun deras, Shelley malah diusir. Mereka tidak memiliki belas kasihan, bahkan melihat anak kecil dan bayi yang menggigil kedinginan di luar rumahnya. Chitta yang terus menangis kelaparan membuat Shelley sangat panik untuk mencari makanan, terkadang Shelley menempatkan Chitta di gang kecil yang lumayan jauh dari Pasar yang aman dan masih dalam pantauan nya.
Dia berjalan ke pasar mencari buah yang sudah jatuh dari kotak buah yang di pajang para pedagang atau buah yang sudah sebagian kematangan tetap dia kumpulkan, tapi sudah pasti daripada yang kasihan lebih banyak orang-orang yang mengusir dan memukulinya.
Setiap sebelum berangkat Shelley selalu berdoa dalam hati : Peri langit, aku perlu makanan untukku dan adikku untuk tetap hidup.
Ya, setiap Shelley hampir di serang para pedagang yang marah kepada nya, selalu ada polisi patroli untuk menjaga keamanan pasar dari keributan antar pedagang, jadi saat fokus mereka teralihkan Shelley bisa melarikan diri ke tempat Chitta berada dan membawanya sejauh mungkin dari pasar tersebut.
Bagi orang biasa mustahil anak 5 tahun mengurus anak bayi, tapi bagaimana lagi? Kehidupan memaksa Shelley untuk hidup lebih cepat dewasa dan Shelley cermat memperhatikan sekitar, bagaimana seorang ibu mengurus bayi-bayinya.
Setiap tahunnya, dari tahun 1650 sampai 1655 Shelley menemukan bayi.Jadi setiap setahun sekali ia bertambah adik asuhnya.
Entahlah, waktu yang seperti sudah di rencanakan tapi yang Shelley rasakan selain ia memiliki keluarga, ia juga berpikir banyak keberuntungan yang datang padanya karena kedatangan adik-adiknya dalam hidupnya.
Ia memiliki rumah jerami di tempat aman, ia mendapatkan pekerjaan dan banyak makanan enak saat mengumpulkan barang bekas. Mungkin itulah hadiah untuk adik-adik nya yang sudah bersabar menahan lapar dan selalu mendo'akannya sampai akhirnya ia bertemu Chio setelah lama ia kehilangan teman-teman sebayanya yang telah di adopsi para bangsawan.
ns216.73.217.39da2


