Namaku Ghaida Ram Singh, keturunan Punjab yang kini berumur 19 tahun. Setelah kejadian absurd yang aku alami saat aku bermimpi berada di peternakan sapi seperti di dalam manga yang aku baca. Kejadian aneh pun kembali muncul, sampai aku terduduk lemas di tepi ranjangku. Karena wajahku kini berubah, lebih mirip Rindu yang aku kenal dari mimpiku. Dan lagi-lagi aku terkejut, saat buah dadaku membengkak sebesar ini yang membuatku paranoid. Berulangkali aku menggelengkan kepalaku, berusaha menyangkal apa yang aku alami. Namun percuma saja, karena aku benar-benar berubah. Tak lagi menjadi Ghaida, melainkan Rindu Ayudya.1500Please respect copyright.PENANACCBc4dVuXu
Keterkejutanku tak berhenti disitu saja, karena aku bukan lagi anak Abi dan umiku melainkan anak dari Pak Albert, dokter keturunan Cina di dalam mimpiku. Usiaku pun menjadi 17 tahun. Bahkan penampilanku tak lagi berhijab. Anehnya lagi, aku bisa mengingat masa kecil Rindu yang membuat mataku terbelalak. Seperti kenangan-kenangan pahit yang Rindu alami. Kini aku terduduk di bawah ranjang sambil menangis karena ingatan itu benar-benar menyiksaku.
"Rindu, kamu nggak apa-apa kan Nak?" Aku mengangkat wajahku, menatap mamaku yang kini ikut duduk di bawah ranjang bersamaku.
"Hiks, hiks, apa yang terjadi sama Rindu Ma?" timpalku, terisak. "Ingatan itu... kenapa Rindu dibully Ma? Apa salah Rindu?"
Mama mengembuskan napasnya, lalu menjawab pertanyaanku dengan suara lirih. "Karena kita minoritas, Sayang. Rindu yang kuat ya!" Kini mamaku memelukku, yang membuatku sedikit merasa tenang. "Rindu minum obat ya, Sayang!" Mamaku beranjak mengambil obat yang aku tak tahu obat apakah itu. Dan segelas air putih.
"Ini obat apa Ma?" tanyaku tak mengerti.
Mama menatapku dengan mengernyitkan dahinya. "Anti depresan Sayang. Obat yang biasa Rindu minum." Mendengar ucapan Mama, aku tersentak.
"Aku sakit apa, Ma? hiks, hiks," tanyaku sekali lagi karena aku benar-benar tak mengerti.
"Rindu nggak apa-apa kan Sayang?" Wajah Mama terlihat cemas, lalu memanggil Papa. Mereka pun saling berbisik, sedangkan aku hanya menatap mereka dari jauh.
Papa mendekat dan menempelkan punggung tangannya ke dahiku. "Panas Ma. Mungkin ini yang menjadi penyebabnya."
"Pa... Rindu sakit apa? Kenapa Rindu harus minum anti depresan Pa?" ucapku, berusaha ingin tahu.
"Rindu..." Papa mengembuskan napasnya. "PTSD, Sayang..." ucap papaku, menunduk, sendu.
"PTSD?" Aku terkejut mendengar ucapan papaku. Karena Rindu yang aku kenal di dalam mimpiku ternyata lebih menderita daripada aku. Tanpa aku sengaja, air mataku pun menetes.
Hari-hari pun berlalu, kini aku sepenuhnya menjadi Rindu. Karena ingatanku sebagai Ghaida, hilang total berganti kenangan pahit yang Rindu alami. Setiap hari, aku harus menguatkan diriku saat trauma itu datang melandaku. Meski, pada akhirnya aku menyerah dengan keadaan. Dan aku pun berteriak histeris. Rasanya aku ingin menyakiti diriku saja. Seperti saat ini, aku mengambil pisau dapur untuk menyayat-nyayat tanganku sampai darah pun mengucur.
"Hiks, hiks, sakit..." Aku merintih kesakitan, namun perih yang aku rasakan justru meredakan rasa sakit yang lebih menyakitkan. Trauma yang muncul tiba-tiba, menerorku.
Di dalam bayanganku, teman-temanku mengejekku dengan sebutan babi, Cina. Dan mereka menendangku, menjambak rambutku sampai aku meringkuk di pojokan sekolahku. Tak ada yang menolongku, bahkan guru-guruku menatapku dengan sinis. Kata mereka, itu memang pantas untukku. Karena aku Cina, kafir yang pantas diperlakukan dengan hina.
"Hiks, hiks, apa salahku?" Aku berteriak histeris sambil meringkuk, menggigil.
"Rindu?" Mama berlari ke arahku. "Ya Tuhan. Paaa, Papa!" Mama berteriak memanggil papaku. Setelah papaku datang, ia mengobati luka di tanganku dan membalutnya dengan perban.
"Maa, Rindu nggak mau sekolah Ma. Rindu takut, hiks, hiks," ucapku, terisak.
Mama menatap ke arah Papa. "Papa harus berbuat sesuatu!" ucap Mama.
"Baik, besok Papa bakal ke sekolah," timpal Papa.
Keesokan harinya, meski aku tak ingin berangkat ke sekolah. Namun, saat aku melihat kedua orang tuaku. Aku merasa tak enak, karena mereka sudah membesarkanku sampai sebesar ini. Namun, aku justru membalas budi baik mereka dengan menuruti traumaku yang hanya menjadikanku semakin terpuruk.
Di sekolah, suasananya sangat berbeda. Banyak teman-temanku yang mengenakan hijab, sedangkan aku hanya mengikat rambutku dengan kuncir kuda. Saat aku melangkah ke lantai atas menuju ruang kelasku, tiba-tiba turun temanku dari tangga menuju ke arahku yang mengenakan hijab kebesaran. "Kalo bukan karena bokapmu yang dokter itu, kamu nggak bakal tenang Ndu," ucapnya sinis.
Papa? Apa yang dilakukan Papa sampai temanku yang biasa merundungku tak berani merundungku lagi. Dan setelah aku mencari tahu, mendengar teman-temanku bergosip. Ternyata Papa memberi bantuan sekolah untuk membangun gedung baru. Dan Papa mengancam jika aku masih saja mengalami diskriminasi, ia akan berhenti menjadi donatur.
Entah kenapa aku tersenyum, karena hari ini Papa menolongku. Teman-temanku pun menjadi baik kepadaku, namun aku tak tahu apakah mereka baik kepadaku tulus atau hanya ingin merebut hatiku karena mereka tahu jika orang tuaku donatur sekolah ini.
Setelah pulang dari sekolah, aku menghadapi masalah baru. Buah dadaku semakin membengkak saja. Rasa sakitnya benar-benar menyiksa. Aku benar-benar kebingungan karena ukuran puncak buah dadaku menjadi lebih besar. Saat aku menyentuhnya, terasa ngilu sampai menyebar ke seluruh tubuhku. Kini aku sedang berdiri di depan cermin di kamar mandiku, menatap ke arah tubuhku yang setengah telanjang. Perlahan, aku menyentuh permukaan buah dadaku. Terasa sakit, namun usapan pada buah dadaku semakin lama membuatku merasa nyaman.
Ada apa denganku? Bayangan-bayangan lain melintas di pikiranku, saat aku teringat masa SMPku. Di dalam ingatanku, aku melihat teman cowokku yang melindungiku dengan cara memeluk tubuhku yang meringkuk. Sedangkan teman-teman cewekku melempariku dengan batu. Kepala teman cowokku berdarah dan aku pun menangis sejadi-jadinya.
"Siapa kamu?" gumamku. Teman cowokku di dalam ingatanku mengatakan jika ia bernama Reno. Kepalaku pun terasa sakit, sampai ingatanku saat aku bermimpi sedang disekap di peternakan sapi kembali terngiang. Lalu, ingatanku terlempar ke masa kini. Dan teringat saat Reno sedang mengecup bibirku. Dan anehnya tubuhku merespon ingatanku itu berbeda, karena aku benar-benar terangsang hari ini. Tak hanya selangkanganku yang basah, puncak buah dadaku pun meneteskan asi yang mengalir deras.
"Aaaah, enak banget. Cium aku Ren! Muach, muach, aku kangen kamu." Kini aku tak hanya mengusap kulit buah dadaku, namun juga meremasnya sampai asiku memancar kencang. Mengenai tembok kamar mandiku.1500Please respect copyright.PENANAi1kKVm5oT2
1500Please respect copyright.PENANAYCsOu5vcYF
Saat aku merasakan sensasi yang membuatku merasa nyaman, tubuhku mengejang. Dan aku lihat rok abu-abu panjangku basah oleh cairan lubrikasiku.
Lututku yang lemas, membuatku terduduk di atas lantai kamar mandiku. Sambil mengatur napasku yang tersengal, aku mencoba lagi untuk meremas buah dadaku. Rasa sakitnya sudah mereda, asiku pun hanya menetes setetes dua tetes saja.
****
Saat ini aku sedang dengan papaku di ruang tengah. Mengobrol banyak hal, termasuk saat ia mencoba mengambil hati kepala sekolah dan guru-guru di sekolah. Kata Papa, mereka awalnya sok jual mahal saat Papa menyumbangkan uang untuk membangun gedung sekolah. Saat Papa hendak membatalkannya, mereka merengek-rengek agar Papa tetap menjadi donatur pembangunan gedung baru.
Mendengar cerita Papa, aku tersenyum karena aku merasa beruntung menjadi anak Papa. Entah bagaimana nasibku jika aku bukan anak seorang dokter dan pengusaha kaya raya seperti Papa. Karena terlahir sebagai minoritas saja, sudah teramat siyal untukku. Apalagi jika aku terlahir sebagai anak orang tua miskin pula. Mungkin, aku akan bunuh diri saat ini juga karena tak tahan menahan penderitaanku.
Karena kini hari Minggu kedua orang tuaku mengajakku ke gereja. Awalnya aku merasa asing, namun lama kelamaan aku terbiasa karena ingatan Rindu kini menjadi ingatanku pula. Di gereja, aku bertemu Reno. Ia menyapaku sekilas, lalu tersenyum.
Hatiku benar-benar sangat bahagia, karena aku tak menyangka bisa bertemu dengan Reno sekali lagi. Meski kini, fisik, ingatanku tak lagi Ghaida. Namun, perasaanku kepada Reno tak berubah. Apalagi saat aku melihat ingatan Rindu tentang sosok menyerupai Reno, yang kini ia berada di bangku depanku.
Sepulang dari gereja, aku kembali berpapasan dengan cowok itu yang wajahnya begitu mirip dengan Reno. "Hei Ndu, udah lama ya kita nggak ketemu."
"Eh, em, iya. Kamu apa kabar Ren?" timpalku tak sengaja memanggilnya Reno. Padahal belum tentu ia memiliki nama yang sama dengan Reno yang pernah aku kenal.
"Baik Ndu. Kamu baik juga kan?" tanya balik Reno. Aku pun tersenyum, tersipu karena cowok yang di depanku memiliki nama yang sama dengan Reno yang aku kenal.
"Kita duduk di situ yuk! Ngobrol-ngobrol," ucap Reno sambil mengajakku duduk di taman depan gereja.
Kini kita ngobrol, saling bercanda. Bercerita tentang masa-masa kita saat masih satu sekolahan dulu. Dan saat Reno berusaha mengingatkanku tentang kenangan kita saat SMP, aku pun bisa mengingatnya. Padahal aku tak pernah mengalaminya sendiri pengalaman yang pernah Rindu alami.
"Kamu masih inget nggak Ndu?" ucap Reno yang kini duduk di sampingku dengan kaca mata minus bertengger di matanya.
"Apa Ren?" timpalku, malu-malu.
Reno tersenyum, lalu melanjutkan bercerita. "Aku keinget pas kita sering pulang sekolah bareng. Waktu itu kita sama-sama naik sepeda."
Aku berusaha mengingat. Dan aku pun teringat saat kita berteduh di bawah pohon asem saat hujan tiba-tiba turun.
"Kita kehujanan kan? Trus kita berteduh di bawah pohon asem, hihi," timpalku sambil merapikan rambutku yang aku gerai ke depan.
"Karena seragam kamu basah, kamu kedinginan," ucap Reno berusaha mengenang. Dan aku pun tersipu karena saat itu, Reno melepas hoodie yang ia kenakan. Lalu, mengenakannya ke tubuhku agar aku tak lagi kedinginan.1500Please respect copyright.PENANAY1QuDbo1Ti
1500Please respect copyright.PENANAmOUzy7nlJZ
Hatiku menghangat karena ingatan itu menenangkanku. Seakan beban-beban yang aku tanggung menguap begitu saja. Yang tersisa hanyalah luapan perasaan yang telah lama hilang, perasaan rinduku kepadanya. Meski Reno yang berada di sampingku bukanlah Reno yang pernah aku kenal, namun aku bisa mengingat masa-masa saat kita masih SMP dulu.
Mungkin karena aku kini adalah Rindu yang tak mungkin bisa lepas dari kenangan masa-masa ia masih duduk di bangku SMP. Tanpa sadar, aku merebahkan kepalaku ke pundak Reno. Ia pun melingkarkan tangannya memeluk bahuku. Rasanya begitu nyaman. Dan aku tak ingin semua ini berakhir.
Mama memanggilku. "Ndu. Rindu pulang nggak? Papa sama Mama pulang dulu ya?"
Aku tersentak dan mengangkat kepalaku yang aku sandarkan ke pundak Reno, lalu menunduk menahan malu. "Iya Ma, Pa sebentar!" teriakku. "Ren, aku pulang dulu ya," ucapku sambil beranjak, berdiri. Dan Reno pun juga ikut berdiri lalu menggenggam kedua tanganku. Ia mengangkat tanganku, mengecupnya sampai aku tersipu sambil memalingkan wajahku ke samping.
"Hati-hati di jalan ya Ndu!" ucap Reno.
"Makasih ya," timpalku, lalu aku berjinjit untuk mengecup bibirnya. Dengan malu-malu aku beranjak pergi sambil menundukkan wajahku.
Di dalam mobil, aku senyum-senyum sendiri, mengingat diriku yang seberani itu mengecup Reno. Rasanya aku begitu malu, karena aku tak menyangka perubahan fisikku, ingatan Rindu di masa lalu membuat karakterku pun berubah. Yang mendorongku agar aku melakukan lebih. Namun, aku tak menyesal karena aku mencintai Reno. Entah itu Reno di garis waktuku yang berbeda atau Reno yang aku kenal kini. Meski pun tubuh, pikiranku menjadi Rindu. Hatiku tetaplah sama, menjadi Ghaida yang mencintai Reno sampai kapan pun.
Sesampainya di rumah, aku mengempaskan tubuhku ke atas ranjang. Aku senang hari ini kerena beban hidupku sedikit berkurang. Setelah aku bertemu dengan orang yang aku rindukan. Saat aku melamun, bayangan Reno memantik hasratku yang memicu reaksi tubuhku. Buah dadaku mengencang membuat puncak buah dadaku terasa geli sampai dress pendekku basah oleh asiku. Awalnya memang menyakitkan karena bra yang aku kenakan menekan buah dadaku yang membengkak.
Karena dadaku terasa sesak dan ngilu, aku pun melepas bra yang aku kenakan. Kini, aku hanya mengenakan dress pendek lengan pendek tanpa bra yang menopang buah dadaku.
Buru-buru aku beranjak ke kamar mandi, lalu duduk di pojok kamar mandi dalam kondisi telanjang bulat sambil memerah asiku dengan membayangkan Reno sedang mencumbuku. "Ah Reno... aku mau kamu Ren! Remas punyaku! Iya, lebih kenceng!"
Asiku pun memancar dengan derasnya, melompat masuk ke dalam bak mandiku. "Enak banget Ren... aaah." Tak hanya memerah asiku saja, tanganku kini juga berada di selangkanganku. Karena dengan cara ini, buah dadaku tak terasa sakit saat aku memerahnya.
"Aaaah, asiku... banyak banget." Mataku terbelalak menatap asiku tetap mengalir keluar dari puncak buah dadaku. Saat aku meremasnya pelan, asiku meluber turun membasahi perutku ke bawah. Jika aku meremasnya lebih kencang, asiku memancar seperti air mancur sampai mengenai kaca jendela kamar mandiku.
Napasku pun tersengal-sengal, namun aku tak berhenti menggesek bibir liang senggamaku dengan jari telunjukku dan meremas buah dadaku yang membengkak. Sampai berulangkali punggungku melengkung ke belakang merasakan sentuhan jariku yang aku gesek semakin cepat. Tubuhku mengejang, cairan lubrikasiku melompat bersamaan dengan asiku turun ke bawah. Dan masuk ke dalam bak mandiku.
"Capek banget. Tapi... aku kok jadi malu sendiri ya? Padahal aku baru ketemu Reno yang ini pertamakali. Apa karena Reno yang ini mukanya mirip sama Reno yang aku kenal? Tau ah..." Aku pun kini membasuh tubuhku dengan guyuran air yang mengalir dari shower kamar mandiku.
Setengah jam berlalu atau mungkin lebih, aku baru beranjak keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk pendek putih yang panjangnya sebatas paha. Karena buah dadaku membengkak, handukku yang seharusnya panjang sampai atas lutut. Kini terangkat sampai sebatas pangkal pahaku. Untung saja, kamar mandiku berada di dalam kamarku. Jadi aku tak malu meski bulu pubikku terlihat.
Saat aku sedang mengenakan pakaianku, yang aku temukan hanyalah pakaian pendek seperti mini dress, piyama pendek, gaun tidur pendek dengan tali di pundak. Lalu aku mengangkat alisku sambil tersenyum. "Jadi Rindu sehari-hari pakai baju kayak gini? hihi. Dia pernah jahat sama aku sih, tapi sekarang aku justru jadi dia. Huh, dan ternyata hidup Rindu itu nggak mudah. Berbeda sama aku dulu, yang pemalas. Nggak mau mikirin masa depan. Dan hidupku abis buat ikut event Jejepangan."
Setelah selesai mengenakan pakaian, gaun pendek dengan tali di pundak dan outer lengan panjang. Aku mencari tahu tentang Rindu, meski aku memiliki ingatannya. Namun, aku belum menemukan apa hobinya selama ini. Saat aku mencoba membuka laci, mataku terbelalak karena Rindu memiliki koleksi manga, LN. Dan lagi-lagi aku terkejut, karena aku tak sadar Rindu memiliki action figure di lemarinya sebanyak ini. Saat aku melihat-lihat koleksi manga yang ia miliki, aku baru menyadari jika Rindu anak 2000an awal. Dahiku pun mengernyit karena aku baru menyadari jika Rindu lebih tua daripada aku.
Kini, mataku teralihkan ke arah katana hitam yang berada di tembok. Aku pikir itu katana sungguhan, setelah aku cek ternyata hanyalah katana mainan.
Dan aku pun mengempaskan tubuhku di atas ranjang sambil menatap poster Kenshin, MC dalam anime Samurai X. "Sepuh banget kamu, Ndu, hihi," gumamku. Lalu aku pun memejamkan mataku. Dan akhirnya terlelap.
****
Di sekolah, teman-teman cewekku yang sering merundungku saling berbisik. Entah aku tak tahu apa yang sedang mereka rencanakan. Namun, aku berusaha tenang. Dan aku meyakinkan diriku sendiri bahwa aku akan baik-baik saja.
Saat jam pelajaran berlangsung, tak terjadi apa-apa. Karena biasanya, guru-guruku pun ikut merundungku karena aku Chindo dan Kristen. Namun, saat ini terlihat normal-normal saja. Yang mencurigakan hanyalah teman-teman cewekku yang saling berbisik. Perasaanku menjadi cemas, membuat PTSDku kembali menyiksaku. Karena aku tak bisa melukai tanganku sendiri di kelas, akhirnya aku hanya bisa menggigit bibir bawahku sampai berdarah. Darah pun menetes ke bawah mengenai buku tulisku yang tergeletak di atas meja.
Teman-teman cewekku yang sering merundungku menatapku, mereka tertawa tanpa suara. Dan saling melempar pandangan. Tak terasa jam istirahat pun tiba. Saat ini aku berjalan sendirian menuju taman sekolahku. Dengan ujung mataku, aku merasa ada yang mengikutiku dari belakang. Namun aku pura-pura tak peduli. Sesampainya di taman, mereka duduk dari jauh sedang mengawasiku. Mereka kembali saling berbisik.
Meski tak terjadi apa-apa, namun aku tetap merasa cemas. Dan perasaan seperti ini berlangsung sampai jam pulang sekolah pun berbunyi. Saat aku berjalan ke parkiran, teman-teman cewekku mengikutiku. Dengan buru-buru berjalan ke arah mobilku.
Kini aku sudah keluar dari parkiran. Dengan menancap gas, mobilku melesat menembus jalanan Banyuwangi. Namun ada yang aneh, karena mobilku melambat. Lalu aku pun berhenti di pinggir jalan untuk melihat apa yang terjadi. Ternyata ban mobilku kempes. Dan kini, aku menangis terisak karena kesiyalan yang menimpaku.
Saat aku terduduk lesu di kabin mobilku dengan pintu terbuka, tiba-tiba ada yang menyergapku. Mereka teman-teman cewekku yang kini mengikat tanganku, lalu menyeretku ke dalam mobil.
"Hiks, hiks, kalian mau apain aku?" ucapku, terisak.
"Kamu mau tau kita mau apain kamu?" timpal salah satu temanku yang kini menjambakku. "Kita pengen kamu menderita, babi."
"Aku nggak minta terlahir jadi Cina. Kenapa kalian giniin aku? hiks, hiks," ucapku, terisak.
"Hihi, tapi kita nggak suka! Ngerti nggak sih? Apalagi kamu bikin temen-temen cowok perhatiin kamu doang karena kamu satu-satunya siswi yang nggak berhijab. Ngerti nggak?" Kini aku paham, ternyata mereka merundungku bukan semata karena aku Chindo dan Kristen. Melainkan karena mereka iri melihat teman-teman cowokku memperhatikan penampilanku.
"Oh ini yang bikin temen-temen cowok kita ngidolain kamu..." Salah satu teman cewekku meremas buah dadaku, karena ia meremas dengan paksa tanpa foreplay. Buah dadaku terasa sakit, namun tetap saja tak mencegah agar asiku tak merembes membasahi seragamku.
"Apa ini? Kok basah? Keringat bukan sih? Kok lengket?" Mereka saling pandang tak mengerti. "Ini kan asi, bener kan?"
Karena mereka tahu buah dadaku mampu memproduksi asi, mereka menginterogasiku. Saat aku menjawab sejujurnya, mereka menjambakku. Kini mereka membawa gunting dan memotong rambut panjangku.
"Hiks, hiks, apa yang kalian lakukan?" Aku menangis terisak karena rambut panjang kesayanganku kini terpotong pendek sebatas pundak.
Lalu mereka menelanjangiku, saat aku berteriak. Terjadi gempa dan mobil yang aku tumpangi terperosok ke bawah. Tubuhku pun terasa seperti tersedot ke dalam pusaran. Saat aku merasa tubuhku terbanting di atas tanah, aku pun membuka mataku. Dengan mengerjap-ngerjap, aku menatap sekelilingku. Betapa terkejutnya aku karena aku kini berada di tempat yang ramai penuh orang berdesak-desakan. Mengenakan pakaian seperti orang masa lalu. Dan banyak perempuan yang mengenakan kemben sampai menutup dada. Ada juga yang sebatas perut, menunjukkan buah dadanya.
Saat aku berusaha mencari tahu, mereka tak mengerti bahasaku karena aku kini memakai dialek Osing. Namun, ada sesuatu seperti cahaya yang tiba-tiba menghantam kepalaku sampai pandanganku pun gelap.
"Hei, bangun, bangun!" Aku merasa ada seseorang yang menggoyang-goyangkan tubuhku. Dan aku pun berusaha membuka mataku. Kini aku dikerumuni banyak orang dengan mengenakan cawat saja yang menutupi tubuh mereka bagian bawah.
"A... aku dimana?" Aku sempat tersentak karena aku tak memakai dialek Osing lagi, melainkan Jawa Kuna.
"Mbak di Desa Wono Rejo..." timpal salah satu orang yang mengerumuniku.
"Ba... Banyuwangi kan?" ucapku, menyelidik.
"Bukan Mbak. Blambangan," timpal orang di sebelahku yang mengenakan cawat, namun tak menutupi selangkangannya. Karena merasa malu, aku pun memalingkan wajahku sambil menggigit bibir bawahku. 1500Please respect copyright.PENANAKbKmTU69by
1500Please respect copyright.PENANASOrelvalea
1500Please respect copyright.PENANA0VFesCIeU4


