Perkenalkan, namaku Renaldi, panggil saja Renal. Ini adalah kisahku.
Aku lahir di Jakarta. Setelah ayah dan ibuku meninggal, aku tinggal bersama pamanku di Bandung.
Dulu, aku punya pacar yang sangat kusayangi, namanya Natasha. Kami berpacaran selama dua tahun. Tepat di hari anniversary ketiga, Natasha memutuskan hubungan kami. Alasannya, ia dijodohkan dengan seorang duda kaya raya beranak satu oleh orang tuanya.
Saat itu, hatiku hancur. Perempuan yang kucintai meninggalkanku dan memilih menikah dengan pilihan orang tuanya. Lebih mengejutkan lagi, ternyata Natasha menikah dengan pamanku sendiri! Perjodohan itu hanya alasan belaka untuk mengakhiri hubungannya denganku.
Beberapa bulan kemudian, aku bertemu dengan seorang perempuan cantik bernama Citra. Rupanya, dia adalah anggota geng motor. Citra adalah ketua geng motor Big Hook. Aku, sepupuku, dan Citra ternyata satu kampus, tetapi beda jurusan. Aku jurusan akuntansi, sepupuku jurusan seni tari, sedangkan Citra jurusan ekonomi.
Inilah ceritanya...!!
Bandung
"Punten, Den Kasep, Neng Geulis," kata Bi Cengek sambil menghidangkan sarapan di meja makan.
"Muhun, Bi Cengek," jawab Renaldi dan Titah mempersilakan Bi Cengek.
"Ieu susunya ulah hilap diinum nya, sateuacan angkat kuliah. Oh iya, ampir wae Bibi hilap, Den, ieu konci motorna."
"Hatur nuhun, ya, Bi," ucap Renaldi berterima kasih.
"Sami-sami, Den Kasep."
"Kunaon Bi ningali Titah kitu? Aya nu salah atanapi benten kitu ti Titah?" tanya Renaldi yang menyadari Bi Cengek terus memandangi Titah.
"Iya, Den Kasep, Den Kasep leres pisan. Aya nu beda ti Neng Geulis. Itu, manyaun wae ti tadi. Sapertos nu teu sumanget kitu," jawab Bi Cengek.
"Iya sih, Bi. Bi Cengek benar. Kasihan ya, Titah baru saja orang tuanya bercerai, eh, sekarang ayahnya malah mau menikah lagi dengan perempuan yang cantik, muda, dan kalau saya bilang sih, ya, lebih pantas jadi kakaknya Titah daripada jadi ibu tirinya," kata Renaldi.
"Kok Bi Cengek dan Aa Renal lihat Titah seperti itu? Ngapain kalian berdua bisik-bisik seperti itu? Pasti Bi Cengek dan Aa Renal ngomongin aku, ya?" tanya Titah curiga.
"Enggak, kok, Dik. Saya cuma heran saja, kenapa akhir-akhir ini kamu sering manyaun, diam? Kenapa lagi? Galau, ya, gara-gara Afgan? Atau Afgan pernah ngomong apa gitu ke kamu, Dik?"
"Bukan karena Afgan Syah Reza, kok, Aa. Tapi karena romo yang ingin menikah lagi. Sudah itu saja, bukan karena Afgan."
"Yang benar nih bukan karena Afgan? Awas saja ya, kalau Afgan yang membuat kamu galau seperti ini, Aa kasih hukuman buat dia."
"Ih, jangan, Aa! Beneran deh, bukan karena Afgan Syah Reza, kok. Tapi karena romo yang mau nikah lagi. Jangan apa-apain Afgan, ya, Aa."
"Em, bisa dipertimbangkan. Hehe...," kata Renaldi sedikit meledek Titah.
"Ih, Aa... Oh ya, Bi, pamit," kata Titah yang buru-buru mengejar Renaldi keluar rumah.
"Muhun, Neng."
"Assalamualaikum," Titah memberi salam.
"Wa'alaikumsalam," jawab Renaldi dan Bi Cengek.
328Please respect copyright.PENANAX7pYOFpZJU
Teras Depan Rumah
"Mangga, Cah Ayu," kata Paijo membukakan pintu mobil untuk Titah.
"Inggih, Lik Jo. Delok Mas Renal mboten?" tanya Titah mencari Renaldi.
"Sampun budhal, Cah Ayu," jawab Paijo.
"Oh, sudah berangkat? Ya sudah, yuk berangkat. Nanti takutnya Afgan diapa-apain lagi sama Mas Renal."
"Inggih, Cah Ayu."
Universitas Garuda
"Ya Allah, Fandi, ngaca mulu dari tadi. Jangan sok ganteng, deh," keluh Afgan.
"Lah, emang gue ganteng. Eh, asalkan elu tahu ya, Afgan Syah Reza," kata Fandi percaya diri.
"Tahu apa?" tanya Afgan.
"Gue itu ganteng sudah dari lahir. Lihat saja kita," jawab Fandi.
"Kita? Memang kenapa kita?"
"Ya, lihat saja kita. Walaupun kita berdua jomblo, tapi buktinya banyak cewek yang ngejar-ngejar gue. Pasti mereka terpesona dengan kegantengan gue daripada elu yang tidak pernah dikejar-kejar banyak cewek. Haha."
"Ya, elu ada benernya juga sih. Elu lebih ganteng daripada gue."
"Akhirnya elu akui juga kalau gue ganteng. Hehe..."
"Jangan senang dulu, gue belum selesai ngomong."
"Oh, belum selesai? Kirain sudah. Ya sudah, apa?"
"Ya, walaupun elu lebih ganteng daripada gue dan katanya selalu dikejar-kejar banyak cewek, tapi ada nggak satu cewek yang ngejar-ngejar elu, kaya gue yang dikejar-kejar sama Titah? Ada nggak?"
"Ya, enggak ada sih. Tapi untuk saat ini saja loh ya, belum adanya. Siapa tahu habis ini ada."
"Haha..." Afgan hanya tertawa.
"Widih... Ini dia teman sekaligus ketua geng motor Tiger, Renaldi," kata Fandi menyambut kedatangan Renaldi.
"Ya," seru Renaldi.
"Mas Afgan Syah Reza cari siapa?" tanya Renaldi memperhatikan Afgan yang sedang mencari sesuatu.
"Cari sepupu elu, Renaldi. Kok nggak ada? Berangkat bareng nggak kalian?" tanya Afgan mencari Titah di kampus.
"Enggak, kok. Gue nggak berangkat bareng dia. Biasalah, dia berangkat sama Paijo. Kenapa? Ada apa nih tumben cariin Titah? Elu kangen ya? Cie... Kayaknya ada yang mau nyusul bapaknya nih, nikah. Hehe..." jawab Renaldi meledek Afgan.
"Gue sama Titah? Ih, ogah.... Maksud gue, kalau elu berangkat bareng Titah ke kampus, otomatis..." kata Afgan yang dipotong pembicaraannya oleh Fandi.
"Otomatis dia nyamperin ke sini juga terus gangguin Afgan. Sebelum Titah ke sini, Afgan ngumpet gitu kan, Afgan Syah Reza?" tanya Fandi memotong pembicaraan Afgan.
"Nah, iya betul. Ibarat kata nih, ya, sedia payung sebelum hujan, gitu..."
"Nah, itu dia, Titah ke sini, tuh..." kata Renaldi menakut-nakuti Afgan.
"Haa... Yang benar loe?" tanya Afgan mulai cemas.
"Assalamualaikum," Titah memberi salam.
"Wa'alaikumsalam," Renaldi menjawab salam dari Titah.
"Yayang Afgan," panggil Titah.
"Iya, Titah. Huh..." kata Afgan menghela napas.
"Kamu tidak diapa-apain sama Aa Renal kan, ya?" tanya Titah panik.
"Cie..." kata Renaldi meledek Afgan.
"Kalian berdua sweet banget sih...." kata Fandi ikut meledek Afgan.
"Cocok..." kata Fandi dan Renaldi bersamaan yang masih meledek Afgan.
"Awas, minggir, Fandi! Hus... Hus... Hus... Sana! Jangan dekat-dekat dengan yayang Afgan-nya Titah. Nanti ketampanan dari yayang-nya aku berkurang lagi gara-gara dia dekat-dekat kamu, hem..."
"Hus... Kucing kali ah gue," keluh Fandi saat Titah menyuruhnya pergi.
"Hem... Yayang Afgan."
"Oh, iya, gue lupa kan hari ini gue ada kelas. Em, Fandi, Renal, kita hari ini ada kelas kan, ya?" tanya Afgan memberi kode pada Fandi dan Renaldi.
"Oh, iya, benar ada, Dik Titah. Aa dan teman-teman Aa pamit ke kelas ya, assalamualaikum," kata Renaldi yang mengerti maksud Afgan.
"Wa'alaikumsalam," Titah menjawab salam dari Renaldi.
"Ih, Titah kan belum selesai ngomong, hem... Ditinggal sendiri lagi sih Titah-nya. Ih, yayang Afgan Syah Reza jahat," keluh Titah saat ditinggal pergi.
Depan Ruang 027
"Hadeh, si Titah kemana sih? Sin, teleponin Titah, dong," keluh Ana.
"Sip, An... Eh, tapi kan biasanya jam segini Titah ada di taman kampus, nungguin Afgan," kata Sinta.
"Oh, iya ya. Biasanya juga kan kalau ada Afgan ada Renaldi juga. Ke sana saja, yuk," ajak Ana.
"Nggak jadi telepon Titah nih, An?" tanya Sinta.
"Enggak usah, Sinta," jawab Ana.
"Pagi, Ana, pagi, Sinta," sapa Titah.
"Nah, itu Titah. Berarti nggak jadi ke taman kampus ya?"
"Iya, nggak usah."
"Tah..." sapa Ana juga.
"Iya, An, kenapa?"
"Kok tumben sih elu cepat banget dateng ke kelasnya? Emang Afgan, Fandi, dan abang sepupu loe nggak ada di sana, diparkiran motor maksudnya?"
"Enggak ada, sudah pada ke kelasnya masing-masing, An."
"Oh..." seru Ana.
"Ya sudah, yuk kita ke kelas, sebentar lagi kan mau mulai pelajarannya," ajak Titah.
"Iya, sudah yuk." Ana dan Sinta pun mengikuti Titah masuk ke dalam kelas.
328Please respect copyright.PENANAPP7Ev09czy
Mata kuliah selesai, waktunya keluar kampus. Aku dan teman-temanku langsung menuju pangkalan geng motor Tiger. Di perjalanan, kami melihat seseorang dihadang oleh geng motor Mortal Enemy. Ternyata, dia seorang perempuan, anak geng motor juga.
Kami pun membantunya. Aku berkenalan dengannya, namanya Citra. Keesokan harinya, aku bertemu Citra lagi saat akan berangkat ke kampus.
Ana cemburu melihatku berboncengan dengan Citra. Ia berniat mengerjai Citra, tapi malah Ana sendiri yang terkena batunya.
Sementara itu, pamanku baru saja pulang bekerja dari luar kota, mengurusi bisnisnya di Yogyakarta bersama istri barunya. Pamanku memperkenalkan istrinya padaku dan Titah.
Ternyata, Titah tidak mau punya ibu tiri. Ia pergi ke taman depan rumah, menangis dan mengeluh karena pamanku menikah lagi.
Aku tidak tahu kalau Fandi dan Afgan datang untuk mengerjakan tugas kuliah. Aku kaget, ternyata ibu tiri Titah adalah mantan pacarku yang tega meninggalkanku demi laki-laki kaya raya. Dia adalah Natasha
ns216.73.217.39da2


