/story/200531/dirimu/toc
DIRIMU | Penana
arrow_back
DIRIMU
more_vert share bookmark_border file_download
info_outline
format_color_text
toc
exposure_plus_1
coins
Search stories, writers or societies
Continue ReadingClear All
What Others Are ReadingRefresh
X
Never miss what's happening on Penana!
G
Intro Table of Contents Top sponsors Comments (0)

SIAPA?

Pagi itu cahaya mentari bersinar terang di ufuk timur, sinarnya menyapu komplek perumahan luas yang membentang. Di sebuah kamar yang sepi, alarm berbunyi nyaring mencoba membangunkan pemuda yang masih tertidur lelap, pemuda itu terbangun dan menghela nafas panjang, seperti biasa. pemuda itu adalah Eru, pemuda dengan pengalaman traumatis yang entah bagaimana masih bertahan untuk hidup.

Eru duduk di samping ranjangnya, menatap sinar matahari yang menerobos masuk dari celah gorden kamarnya yang terletak di lantai atas. Eru hanya tinggal sendiri di rumahnya, kedua orang tuanya telah tiada sejak Eru masih SMP, sehingga dengan terpaksa ia harus bekerja untuk melunasi biaya kuliiah yang sangat mahal. Seperti hari-hari sebelumnya, Eru memulai hari dengan membersihkan rumah, menyapu, mengepel, mencuci piring, bahkan menyiram tanaman milik almarhumah ibunya, sebuah bunga tulip biru yang sangat cantik.

Setelah semua pekerjaan rumah itu, Eru tidak beristirahat, namun bersiap untuk pergi bekerja, Eru memilih kelas malam khusus karyawan di kampusnya, sehingga ia bisa bekerja di pagi hari. Eru bekerja di sebuah kafe ternama sebagai pelayan, karena kebetulan teman SMPnya dulu adalah pemilik kafe itu dan bersedia membantu Eru untuk membayar kuliahnya.

Perjalanan menuju kafe sebenarnya cukup menyenangkan, cahaya mentari yang hangat membasuh wajah, burung berkicau, dan udara pagi hari yang menyegarkan, namun seperti biasa, wajah Eru tidak tersenyum, pikirannya terus berputar pada sesuatu yang ia sendiri tak tahu apa, seperti rida motornya yang juga berputar di jalanan pagi itu. Di kafe, semua berjalan seperti biasa, pelanggan resek, sampai pesanan yang salah antar karena pembeli yang tiba-tiba pindah kursi, itu sudah biasa, sampai tanpa sadar waktu telah menujukkan pukul 17.00, waktu pulang.

"Er, lu udah mau pulang?" tanya Linda, teman kecil Eru yang juga karyawan disana, Eru mengangguk sembari menuruni tangga kafe "dih, minimal jawab kek" sindir Linda, Eru kembalii menghela nafas sebelum akhirnya menoleh kepada Linda "iyee" jawab Eru malas, Linda hanya tersenyum, membiarkan eru pergi, Linda faham bagaimana Eru, dan perubahan sikap Eru setelah orang tuanya meningal.

Eru melesatkan motornya di jalanan sore perkotaan yang indah, cahaya lampu jalan mulai menyala dan lalu-lalang kendaraan yang pulang bekerja juga semakin ramai. hanya butuh 15 menit perjalanan bagi Eru untuk sampai rumah. Setelah memarkirkan motornnya Eru ingin segera mandi dan makan, namun ia terkejut melihat pintu yang terbuka, di depann pintu juga ada sepasang sepatu, kelihatannya sepatu wanita  'siapa yang datang?' gumam Eru. Tanpa pikir panjang, Eru masuk untuk melihat siapa tamu yang datang, tapi anehnya rumahnya seperti kosong, di ruang tamu tidak ada, di kamar ibu dan ayahnya juga tidak ada orang. Tepat ketika  eru  inngin melihat kamarnya, aroma harum masakan tercium, Eru bergegas pergi ke dapur, dan betapa terkejutnya ia melihat seorang wanita yang sdang memasak, di meja juga sudah terhidang berbagai masakan. Wanita itu menoleh pada Eru dan tersenyum "eh Eru, sudah pulang~" Eru terdiam 'siapa?'.​​​​​​​

Show Comments
BOOKMARK
Total Reading Time:
toc Table of Contents
bookmark_border Bookmark Start Reading >
×


Reset to default

X
×
×

Install this webapp for easier offline reading: tap and then Add to home screen.