Sore itu, selepas azan Asar merayap di sela gedung kampus, Nayla berjalan sendirian menuju kantin. Langkahnya pelan—bukan karena capek kuliah, melainkan karena ada sesuatu di kepalanya yang terus menumpuk tanpa izin. Udara Yogyakarta terasa lembut, tapi hatinya belum.
Rambutnya sedikit kusut ditiup angin. Ia tidak peduli. Seharian ini ia tidak benar-benar hidup; hanya bergerak dari satu kelas ke kelas lain seperti botol plastik yang mengikuti arus sungai.
Ia memesan Pop Mie dan air mineral—dua hal sederhana yang selalu ia pilih ketika hidup terasa berat. Sambil menunggu, ia menyentuh tutup styrofoam Pop Mie itu. Entah sejak kapan makanan murah ini menjadi temannya.
Kantin sore itu tidak ramai. Cahaya matahari mulai jatuh di balik kaca besar di sisi ruangan, menciptakan warna emas redup yang membuat kantin tampak seperti foto lama.
Dan seperti biasa, di sudut dekat tembok kaca yang lain, ada Tutur.
Tutur. Nama yang belum pernah ia ucapkan, tapi sering muncul di kepalanya seperti gema kecil yang ia simpan sendiri. Laki-laki itu duduk sendirian, dengan buku catatan dan pulpen hitam yang menari perlahan di atas kertas. Tubuhnya tampak tenang, hampir terlalu tenang untuk seseorang yang hidup di lingkungan kampus.
Ia jarang bergerak. Jarang berbicara. Jarang menunjukkan keinginannya pada dunia—seolah semuanya sudah cukup tanpa perlu disentuh.
Nayla tidak bermaksud memperhatikan. Tapi matanya selalu berbelok ke arah itu, bahkan ketika ia sedang membuka bungkusan sendok plastik.
Ia berjalan ke meja favoritnya—dekat kaca, dekat cahaya, dekat dunia yang selalu tampak lebih jujur menjelang sore. Pop Mie-nya dibuka, uap asin menghangatkan wajahnya. Di luar, langit mulai berubah warna.
Dari sudut pandang itu, ia melihat seluruh ruangan.
Selain Tutur, kantin terasa kosong.
Jika didefinisikan, Tutur adalah pemandangan yang tidak berubah. Duduk, menulis, diam. Tidak pernah terlihat menunggu siapa pun. Tidak pernah terlihat memanggil nama siapa pun.
Nayla tidak tahu kenapa itu membuatnya merasa… aman.
Diam bisa menjadi tempat yang lembut.
Ia mengaduk mie yang masih terlalu keras, membiarkan pikirannya mengalir ke masa lalu. Tentang seseorang yang pernah ia cintai dan menghancurkannya sehari sebelum ulang tahun. Tentang rasa takut yang masih tinggal di lututnya setiap kali ia berjalan sendirian. Tentang betapa dirinya merasa seperti kaca retak yang disatukan dengan lem murahan.
Ia menghela napas panjang.
Dan tanpa sengaja, ketika ia mengangkat kepalanya, ia mendapati Tutur sedang menatap ke arahnya.
Cuma satu detik.
Satu detik yang membuat uap mie di depan wajahnya terasa lebih panas dari biasanya.
Tutur segera kembali menulis. Seolah tidak terjadi apa pun. Seolah tatapan itu hanyalah refleks, bukan sesuatu yang ia pikirkan.
Tapi Nayla tahu: laki-laki itu bukan tipe yang melakukan sesuatu “tanpa berpikir”.
Ia mencoba mengalihkan perhatian ke mangkuknya, tapi detak jantungnya terdengar lebih jelas daripada suara sendok plastiknya.
Untuk pertama kali dalam beberapa minggu, ia merasa… sadar bahwa ia masih hidup.
Gerimis turun pelan. Kantin menjadi suara hujan dan gesekan kursi. Pop Mie mulai habis ketika langkah itu terdengar mendekat. Langkah yang pelan tapi pasti. Nayla berhenti mengaduk mie, menahan napas.
Tutur berhenti tepat di depan mejanya.
Nayla mendongak.
Mata laki-laki itu tidak tajam, tidak hangat—lebih seperti laut malam: diam, luas, dan sulit ditebak.
Lalu ia berkata, dengan suara datar tapi jujur:
“Rasanya kamu selalu makan Pop Mie.”
Nayla hampir tertawa kecil karena gugup. “Karena rasanya sederhana.”
Tutur mengangguk tipis, seperti seseorang yang menilai sebuah jawaban bukan dari bagus tidaknya, tapi dari kejujurannya.
“Sederhana kadang menyelamatkan,” Tutur berkata pelan.
Nayla menatapnya lama, merasa seolah kalimat itu bukan tentang Pop Mie.138Please respect copyright.PENANA1QxGKQjVk4
Dan entah kenapa, Tutur duduk di kursi di seberangnya—dengan tenang, tanpa bertanya, tanpa canggung.
Seakan memang seharusnya begitu.
Dalam keheningan itu, Nayla mendengar napasnya sendiri. Hujan makin deras. Pop Mie sudah hampir tinggal kuah. Tutur merapikan buku catatannya di meja—benda yang sudah menjadi ciri khasnya.
“Kamu selalu sendirian,” Nayla akhirnya berkata.
Tutur tidak langsung menjawab.
“Ada hal-hal yang lebih mudah dipahami kalau sepi,” tuturnya tanpa menatapnya.
Nayla mengangguk perlahan. “Aku juga.”
Tutur menoleh. Tatapannya tidak mencari jawaban. Tatapan seseorang yang sudah melihat cukup banyak hal untuk tahu bahwa pertanyaan tidak selalu dibutuhkan.
“Namamu siapa?” Nayla bertanya akhirnya.
“Tutur.”
Nama itu sederhana. Tapi tidak terdengar sederhana ketika berada di antara suara hujan dan Pop Mie yang tinggal kuah.
Nayla tersenyum kecil, senyum yang ia gunakan untuk menenangkan dirinya sendiri.
“Aku Nayla.”
Tutur mengangguk satu kali. Dan di momen itu, meski tidak ada kata pengikat, keduanya merasa seperti dunia memberi izin pada sesuatu untuk dimulai.
Sesuatu yang sunyi.138Please respect copyright.PENANAmBN3RjwOB6
Sesuatu yang pelan.138Please respect copyright.PENANA16dMo4MQUn
Sesuatu yang tidak akan mereka akui dulu—tapi sudah berjalan sejak tatapan satu detik itu.138Please respect copyright.PENANAy3H3awgaUo


