Bulan merah menggantung rendah malam itu, semerah darah yang belum mengering. Ditengah bentangan lembah yang dijaga kuat oleh sihir kuno, ratusan mahluk tengah berkumpul dalam kelompoknya masing-masing. Diantara mereka ada klan Vampir dengan mata perak, elf bayangan, naga dalam wujud manusia, dan para alfa dari ratusan kawanan serigala. Yang mereka tidak sadari adalah hadirnya segelintir mahluk misterius disana, mahluk misterius yang sudah berabad-abad ini masih menjadi rumor pembicaraan panas, pertentangan keras juga ketakutan akan ramalan mengerikan yang dianggap sebagai sebuah ancaman mematikan bagi mereka, sekaligus menjadi sebuah harapan besar bagi salah satu kawanan werewolf bernama silvermoon yang hidup di tengah dinginnya hamparan salju kutub utara.
Mereka dianugerahi kekuatan para werewolf, sekaligus kehebatan bangsa vampir. Lycan, masih menjadi perdebatan sengit diantara semua mahluk yang hadir disana. Bagi sebagian besar klan vampire, lycan merupakan sebuah kenistaan yang mencemari kemurnian darah keturunan mereka, mereka juga menganggap jika lycan adalah sebuah ancaman mematikan bagi keselamatan dan kelangsungan hidup mereka, mengingat kekuatan lycan yang terlahir dari dua mahluk yang sama-sama kuat! Mereka bahkan dipercaya bisa berjalan dibawah terangnya sinar matahari, ini yang menjadi alasan mengapa beberapa klan kuat vampir memburu mereka, dan berusaha untuk mendapatkan darah yang diyakini akan membuat mereka pun bisa berjalan disiang hari setelah meminum darahnya. Tetapi sebagian kecil dari mereka justru menginginkan para lycan itu untuk memperkuat kelompok mereka dikarenakan kekuatan besarnya tersebut.
Bagi kawanan-kawanan werewolf, Lycan merupakan anugerah yang tak terhingga yang diberikan oleh dewi bulan. Hampir seluruhnya meyakini jika para lycan bisa menjadi penyelamat sekaligus memperkuat kawanan, apalagi jika mereka dipilih langsung oleh dewi bulan untuk menjadi Alfa, memimpin kawanan. Tetapi tidak menutup kemungkinan banyak pula diantara mereka yang menginginkan kematian para lycan, mengingat kekuatan besar yang mereka miliki dianggap sebagai ancaman bagi para Alfa sekaligus wilayah kekuasaan mereka.
Lyra berdiri diantara mereka, mengenakan jubah gelap yang menyembunyikan bentuk tubuhnya yang ramping namun berbahaya. Salah satu kehebatan yang dimilikinya adalah aroma tubuhnya yang tak tercium oleh bangsa manapun, hingga mahluk dengan indera penciuman paling hebat seperti werewolf sekalipun tak menyadari kehadirannya. Netranya menyapu seluruh ruangan, tak mencari siapapun...hingga kedua pasang mata itu saling bertemu dan getaran aneh muncul direlung hati gadis itu.
Pria dengan sosok tinggi menjulang, dengan pupil mata merah menyala seperti bara api yang tak pernah padam, rahang tegas dan hidungnya yang mancung, serta bibir tebalnya yang sekilas tampak menyeringai, tengah memandangnya tajam. Kaelen, alfa dari Bloodmoon pack yang terkenal karena kebrutalannya ketika menghabisi lawan-lawannya perlahan menghampiri Lyra yang kini tengan berdiri mematung. Waktu seakan berhenti berputar diruangan itu, hanya menyisakan debaran detak jantung yang semakin berdentum, semakin kencang seiring dengan langkah kaki sosok pria misterius yang kini ada dihadapannya.
Kaelen mendekatkan wajahnya perlahan ke arah wajah pucat Lyra yang kini terlihat begitu sedikit kemerahan, gadis itu bahkan berusaha untuk mengatur nafasnya, agar dentuman jantungnya yang kini semakin bertalu dapat mereda. Kaelen mengendus leher gadis itu, berusaha untuk mencari sesuatu yang sejak tadi begitu mengganggu indera penciumannya. "Alfa, siapa gadis ini?" Serigala dalam diri Kaelen tiba-tiba muncul dalam pikiran pria tampan itu. Kaelen hanya mendengus kasar, semakin lama ia semakin merasa frustasi karena tidak berhasil mencium pheromon yang berasal dari tubuh gadis itu.
"A...Alf..fa Kaelen, maaf..." Lyra terbata, dirinya masih berusaha untuk menormalkan detak jantungnya.
Lyra berusaha untuk menjauhkan tubuh pria dengan aura gelap itu dari tubuhnya dengan kedua tangannya. Dalam sepersekian detik Lyra mengontrol kekuatannya, menjaga agar aksinya tak sampai menjatuhkan Kaelen. Kaelen menatap gadis dihadapannya dengan tatapan yang semakin tajam, seakan ia tersadar akan sesuatu. Ia bersiap untuk menerkam leher jenjang gadis itu kapanpun, "Lycan...sebutkan siapa namamu!" bisik Kaelen dengan penuh penekanan dan nyaris hanya bisa terdengar oleh telinga gadis misterius dihadapannya, bahkan hembusan nafas pria itu pun telah berhasil membuat bulu-bulu halus diseluruh tubuhnya meremang.
Lyra berusaha untuk tetap tenang, dia mengontrol nafas nya berkali-kali. "Ma..maaf Alfa Kaelen, sa...saya tidak mengerti apa maksud ucapan Anda..." jawabnya.
Kali ini Kaelen tidak lagi membuang waktu, dia menarik tangan Lyra dan membawanya ke sebuah ruangan, lalu mendorong gadis itu hingga terjatuh. Sekuat tenaga Lyra mengontrol kekuatannya agar terlihat lemah seperti perempuan pada umumnya, tetapi sepertinya usahanya itu nyaris tak bisa membuat pria mengerikan dihadapannya ini yakin akan hal itu.
"Hentikan kepura-puraanmu mahluk bodoh!"
Secepat kilat Kaelen menyambar tubuh ramping gadis yang terduduk dihadapannya hingga membentur dinding, dia menggenggam leher Lyra dan menganggkatnya hingga gadis itu terlihat kesulitan untuk bernafas. Tetapi, entah apa yang terjadi dalam diri Lyra, semua kasi Kaelen tidak sama sekali membuat dirinya merasa terancam. Sebaliknya, ada gadis itu malah menikmatinya. Lyra merasakan desiran aneh pada tubuhnya! Dia hanya berpura-pura kesakitan agar identitas dirinya tidak sampai terungkap saat ini.
Lyra berusaha untuk melepaskan genggaman tangan sang Alfa di lehernya, tak bisa dipungkiri saat ini dia bahkan kesulitan untuk menghirup udara apalagi menanggapi ucapan alfa Kaelen.
"Al...fa...Anda menyakiti saya.." lirihnya, masih berusaha untuk melepaskan genggaman tangan kekar pria dengan sorot mata mengerikan itu dari lehernya.
Mau tidak mau Kaelen melepaskan genggaman tangannya, dia bisa mendengar suara batuk Lyra ketika dirinya berpaling dari gadis itu. "Enyah dari hadapanku mahluk hina, dan jangan sampai aku bertemu denganmu lagi!"
Kaelen bergegas pergi meninggalkan ruangan itu, entah mengapa dia merasa kasihan dengan perempuan aneh yang begitu menganggu indera penciumannya. Tiba-tiba saja muncul keraguan dalam diriinya, Kaelen bahkan harus meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang dicurigainya itu tidaklah benar. Mana mungkin seorang Lycan bisa selemah itu, Lycan yang ia tahu adalah maahluk kuat yang bahkan bisa mengalahkan seorang alfa sekalipun! Bukan tanpa alasan Kaelen meyakini hal tersebut, dulu ketika dirinya masih remaja, Kaelen pernah menyaksikan dengan mata kepala nya sendiri bagaimana seorang lycan perempuan bisa menghabisi puluhan vampir kuat dalam sekejap dalam peristiwa perebutan wilayah antara kawanan Bloodmoon yang diketuai oleh mendiang sang ayah, Alfa Raven dan klan Solhagen yang dikomandoi oleh sang pemimpin yang terkenal sangat sadis, Dimitri Vancougen.
Sementara itu didalam ruangan, Lyra tersenyum tipis lalu menggelengkan kepalanya "Untung saja...." Lyra memegangi dadanya sendiri, detak jantungnya masih belum bisa kembali normal, bahkan pikirannya masih tertuju pada wajah tampan Alfa Kaelen. Pria yang baru saja berusaha untuk menghabisi nyawanya tanpa sebab, meski Lyra tahu kemungkinan alasanya.
"Aku menginginkan Alfa Kaelen..." lirihnya.
Sebuah keinginan yang akan disesalinya....
204Please respect copyright.PENANAKgWkjkkpQW


