Semua mahasiswa jurusan apa pun tahu satu hal: perpustakaan fakultas selalu tutup jam 9 malam, dan tidak ada alasan untuk berada di sana setelahnya.
788Please respect copyright.PENANAX5E8CHXzk8
Tapi malam itu, Dava—mahasiswa tingkat dua—harus menyelesaikan tugas Sejarah Teknik. Karena colokan kosnya mati dan dosennya super galak, ia memutuskan untuk nekat masuk perpustakaan lewat pintu samping yang terkadang tidak terkunci.
788Please respect copyright.PENANAHhqgsA7Yln
Perpustakaan itu gelap, dingin, dan panjang. Hanya beberapa lampu lorong yang menyala, cukup membuat bayangan rak buku terlihat seperti deretan orang yang berdiri menonton.
788Please respect copyright.PENANAHx4ferKkFj
Dava berjalan ke rak bagian sejarah.
Saat melintasi lorong, ia melihat sesuatu yang aneh di ujung paling ujung.
Ada satu buku tebal, hitam polos, tanpa judul, tanpa nomor katalog, tanpa kode apa pun.
788Please respect copyright.PENANAY6YTZ6N1fy
Buku itu sepertinya tidak berasal dari perpustakaan kampus.
788Please respect copyright.PENANAdHm6p98ba8
Penasaran, ia mengambilnya. Aneh.
Bukunya dingin, seperti baru keluar dari kulkas.
788Please respect copyright.PENANALpuZoRMT0D
Saat ia membuka halaman pertama, tulisan tangan halus memenuhi kertas,
788Please respect copyright.PENANAVsRaaahTM5
“Catatan Mahasiswa Hilang Tahun 1998.”
788Please respect copyright.PENANAvbkPO1JjWE
Dava mengernyit. Ia belum pernah mendengar mahasiswa hilang di kampusnya. Ia mencari halaman berikutnya. Setiap halaman berisi nama, tanggal, dan lokasi terakhir seseorang terlihat.
788Please respect copyright.PENANAd5QWzvupmw
Tapi yang membuat nafasnya tercekat adalah halaman nomor 7.
788Please respect copyright.PENANAuClIfbYFRB
Tertulis nama seseorang yang sama dengan namanya:
“Dava Ramadian — Hilang 16 November — Perpustakaan Fakultas.”
788Please respect copyright.PENANA4itb7slnpq
Tepat tanggal itu.
Tepat malam itu.
Tepat di tempat dia berdiri sekarang.
788Please respect copyright.PENANAlgzUGOrWvT
Dava mundur terseok-seok, tubuhnya gemetar.
Ia mencoba menutup buku itu—tapi halaman-halamannya berputar sendiri, seperti ditiup angin.
788Please respect copyright.PENANAJuE7JC8AuG
Padahal ruangan itu hening.
788Please respect copyright.PENANAzuvrN32CUR
Ketika lembarannya berhenti, ada tulisan baru yang belum ada sebelumnya, hurufnya seperti terburu-buru,
788Please respect copyright.PENANAfmbDNizRX3
“Jangan menoleh ke belakang.”
788Please respect copyright.PENANA3Zm6BboiIX
Dava membeku.
Ingin tidak percaya.
Tapi insting manusia selalu melakukan satu hal saat dilarang…
788Please respect copyright.PENANASiBGwSAnja
Ia menoleh.
Perlahan.
788Please respect copyright.PENANAmcmH2obK5i
Di ujung lorong rak buku itu…
Ada seseorang berdiri.
Tinggi.
Kurus.
Bajunya lusuh seperti dari masa lain.
788Please respect copyright.PENANAfgIaQR5dYp
Wajahnya gelap… tapi ada sesuatu yang menetes dari dagunya.
788Please respect copyright.PENANAZAanHiJDZ8
Dava memejamkan mata.
Saat ia buka lagi…
788Please respect copyright.PENANAWFFq2HGsaq
Orang itu sudah jauh lebih dekat.
788Please respect copyright.PENANANHdD7gixEq
Tanpa suara.
788Please respect copyright.PENANAxs8XBfoZKx
Tanpa langkah.
788Please respect copyright.PENANAY6fAxzuqla
Tiba-tiba, buku di tangan Dava menutup sendiri dengan keras, seperti ditepuk oleh seseorang.
788Please respect copyright.PENANAhNs89VC0gp
Dan dari arah orang itu… terdengar suara berbisik,
788Please respect copyright.PENANARBnXeZGtsy
“Sudah kubilang… jangan menoleh.”
788Please respect copyright.PENANAq44Jrylf4H


