875Please respect copyright.PENANA2HOyb4sXJc
Di sisi lain, Rani semakin terpikat oleh sosok David.
David adalah pria dewasa yang tegas, penuh wibawa, dan selalu tahu apa yang harus dilakukan.
Bagi Rani, yang sejak kecil kurang mendapat perhatian dari ayahnya, David menjadi sosok yang memberi rasa aman dan dihargai.
Ia sadar banyak orang di kampung menyukainya, tetapi hatinya tetap memilih dekat dengan David, meski itu salah.
Kagum, takut, dan tergantung — semuanya bercampur menjadi satu rasa yang membuatnya sulit berpikir jernih.
875Please respect copyright.PENANAJnDxr8I6Fn
Malam-malam di mess tambang diisi percakapan ringan, namun sarat makna.
Setiap kata David membuat Rani merasa dihargai, setiap senyum memberi energi yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
Ia sadar David sudah beristri, tapi kekaguman dan ketergantungan itu membuatnya tetap tinggal di sisinya.
875Please respect copyright.PENANAiqgARP9B7h
Ketegangan di mess tambang memicu gairah yang membara antara Rani dan David, menguji batas dominasi dan cinta mereka dengan intensitas tak terduga.
875Please respect copyright.PENANABnLqtPYJXn
Rani berdiri di tengah mess pekerja tambang, udara panas dan berdebu masih menempel di kulitnya. Bau keringat dan minyak mesin bercampur dengan aroma tanah yang kering, menciptakan suasana yang khas dari tempat itu. Rambutnya yang panjang terurai tak beraturan, beberapa helai menempel di dahinya yang berkeringat. Dia mengenakan kemeja kerja yang sudah kusut dan celana jeans yang kotor, tapi di balik semua itu, tubuhnya yang lentur dan montok tetap terlihat menggoda. Mess itu sederhana, dengan dinding kayu yang sudah usang dan tempat tidur besi yang berantakan. Sinar matahari sore menyelinap melalui jendela kecil, menerangi debu yang berterbangan di udara.
David muncul dari bayang-bayang, langkahnya tegas dan penuh kepercayaan diri. Tubuhnya yang kekar dan berotot terlihat jelas di balik kaus hitam yang ketat. Matanya yang tajam dan gelap menatap Rani dengan penuh nafsu, seolah-olah dia adalah satu-satunya hal yang ada di dunia ini. Tanpa banyak bicara, dia mendekat dengan cepat, seolah waktu adalah sesuatu yang tidak bisa dia sia-siakan. Tangan besarnya langsung melingkar di pinggang Rani, menariknya ke dalam pelukannya dengan kekuatan yang membuat Rani terkejut namun sekaligus bergairah.
Bibir David menindih bibir Rani dengan ciuman yang kasar namun penuh gairah. Ciumannya mendesak, lidahnya langsung menyusup ke dalam mulut Rani, menggerayangi setiap sudutnya dengan penuh dominasi. Rani mendesah ke dalam ciuman itu, tubuhnya merespons secara alami. Tangan David meluncur ke punggung Rani, meremas pantatnya dengan kuat, menarik tubuh Rani semakin dekat ke tubuhnya yang berotot. Rani merasakan kemaluan David yang sudah mengeras menekan perutnya, dan itu membuatnya semakin bergairah.
David menjauh sejenak, matanya yang gelap menatap Rani dengan penuh hasrat. Napasnya tersengal-sengal, wajahnya dipenuhi keinginan yang tak tersembunyi. "Kamu suka aku kasar, ya, Sayang?" bisiknya dengan suara serak, napasnya terasa panas di telinga Rani. Suaranya penuh otoritas, seolah-olah dia tahu persis apa yang Rani inginkan.
Rani mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca karena keinginan. "Iya, ... aku suka," jawabnya dengan suara gemetar. Suaranya hampir tak terdengar, tapi David menangkapnya dengan jelas. Dia tersenyum sinis, seolah-olah dia sudah tahu jawaban itu sejak awal. Tangan David dengan cepat membuka kancing kemeja Rani, satu per satu, membiarkannya terjatuh ke lantai yang kotor. Kemeja itu meluncur ke bawah, membebaskan tubuh Rani yang indah.
875Please respect copyright.PENANA4dSpCaPBdq
David menatap payudara Rani yang montok, putingnya sudah mengeras karena rangsangan. Tanpa basa-basi, dia meremas salah satu payudara itu dengan kasar, menjepit putingnya antara jempol dan telunjuknya. "Kamu punya tubuh yang enak, Rani... aku mau nikmatin ini," gumamnya sambil menjilat puting yang lain, mengisapnya dengan kuat hingga Rani mendengking kesenangan. Lidahnya bergerak dengan penuh nafsu, menggerayangi puting Rani hingga dia meronta-ronta dalam pelukannya.
Rani menggigit bibirnya, mencoba menahan desahan yang ingin meledak. Dia merasakan jari-jari David meluncur ke bawah, membuka kancing celananya dengan cepat. Celana Rani turun dengan mudah, diikuti oleh celana dalamnya yang sudah basah. Sekarang Rani berdiri telanjang di depannya, tubuhnya yang indah terpapar sepenuhnya. David menatap kemaluan Rani yang sudah basah, bibir vaginanya mengkilap karena cairan cinta. "Kamu sudah basah, Sayang... kamu siap nerima aku?" tanyanya dengan nada menantang, suaranya penuh dominasi.
Rani mengangguk lagi, napasnya semakin tersengal. "Iya,... aku siap," jawabnya dengan suara parau. Matanya tertuju pada David, penuh dengan keinginan dan kepercayaan. David tidak membuang waktu. Dia menarik Rani ke tempat tidur yang berantakan, mendorongnya hingga Rani terduduk di tepi kasur. Tanpa peringatan, David menjatuhkan dirinya di antara paha Rani, wajahnya langsung menindih kemaluan Rani.
Lidahnya menjilat bibir vagina Rani dengan kasar, menusuk ke dalam lubang Rani, menggerayangi setiap sudutnya dengan penuh nafsu. Rani menjerit kesenangan, tangannya mencengkeram seprai sambil mencoba menahan diri agar tidak terjatuh. "Oh, .. enak... jangan berhenti," rintihnya, tubuhnya melengkung karena sensasi yang luar biasa. David tersenyum jahat, lidahnya terus bekerja dengan penuh semangat. Dia tahu Rani suka dengan perlakuan kasarnya, dan dia tidak akan mengecewakan.
Setelah beberapa menit, dia bangkit, matanya yang gelap menatap Rani dengan penuh dominasi. "Sekarang giliran aku yang nikmatin, Sayang," bisiknya sambil membuka sabuk celananya. Celana David terjatuh ke lantai, kemaluannya yang tegang dan besar berdiri dengan gagah. Rani menelan ludah, matanya melebar melihat ukuran David yang mengintimidasi. Tapi dia tidak takut, dia tahu David akan memberinya kenikmatan yang luar besar.
David tidak memberi Rani waktu untuk berpikir. Dia mendorong tubuh Rani hingga berbaring telentang, lalu dengan satu gerakan cepat, dia menusukkan kemaluannya ke dalam vagina Rani. "Aahh!" Rani menjerit, tubuhnya terasa penuh, kemaluan David yang besar mengisi setiap sudutnya. David mulai menggenjot dengan kuat, setiap dorongan membuat Rani merintih kesenangan. "Kamu suka, Sayang? Kamu suka aku ngentot kamu kayak gini?" tanyanya dengan nada kasar, napasnya tersengal-sengal karena usaha.
"Iya... aku suka,... enak banget," jawab Rani, tangannya mencengkeram bahu David, kuku-kukunya mencakar kulitnya karena gairah yang tak tertahankan. David semakin mempercepat genjotan, setiap dorongan membuat Rani merasa seperti akan meledak. "Kamu mau orgasme, Sayang? Kamu mau cum di kontol aku?" tanyanya dengan nada menantang.
Rani mengangguk, matanya terpejam karena kenikmatan yang semakin dekat. "Iya,... aku mau... aku mau cum," rintihnya, tubuhnya mulai bergetar karena orgasme yang mendekat. David tersenyum puas, dia tahu dia akan membuat Rani mencapai puncak. Dia mempercepat genjotan, setiap dorongan semakin dalam, semakin kuat. "Cum, Sayang... cum buat aku," bisiknya sambil terus menggenjot.
Rani tidak bisa menahan lagi. Tubuhnya meledak dalam orgasme yang dahsyat, vaginanya mengencang di sekitar kemaluan David, cairan cintanya menyembur keluar. "Aahh, ... aku cum... aku cum!" jeritnya, tubuhnya melengkung ke belakang karena kenikmatan yang luar biasa. David terus menggenjot, merasakan kemaluan Rani yang mengencang di sekitarnya. Dia tahu dia juga akan mencapai puncak. "Aku juga, Sayang... aku juga mau cum," gumamnya, napasnya semakin tersengal.
Rani tersenyum puas, tangannya membelai rambut David yang basah oleh keringat. "Aku selalu milik kamu," jawabnya dengan suara lembut, merasakan kehangatan sperma David di dalam tubuhnya. David mencium kening Rani, napasnya mulai teratur. "Aku cinta kamu, Rani," bisiknya dengan suara yang penuh kasih sayang, meskipun baru saja dia mendominasi Rani dengan cara yang kasar.
Rani tersenyum, matanya berkaca-kaca karena kebahagiaan. "Aku juga cinta kamu," jawabnya, merasakan kedekatan dan kepuasan yang hanya bisa diberikan oleh cinta dan gairah yang mereka bagi. Mereka berpelukan erat, merasakan detak jantung satu sama lain, sementara matahari tenggelam di luar jendela, meninggalkan mereka dalam kegelapan yang hangat dan penuh kepuasan.
875Please respect copyright.PENANALaG3sETXtu
Dalam kehenigan itu ponsel David berdering.
Nama Dea muncul di layar.
875Please respect copyright.PENANAkTPOB8ThAw
David menatap layar beberapa detik sebelum mengangkat.
Rani menunduk, memainkan ujung rambutnya, mencoba menyembunyikan murungnya, tetapi senyum tipis tetap tergambar di bibirnya.
875Please respect copyright.PENANA3B18gnnjX0
> “Halo, Sayang?” suara Dea terdengar lembut di seberang.
“Masih di site? Katanya besok bisa pulang, ya?”
875Please respect copyright.PENANA0vvDTJOU1s
David menjawab tenang, menjaga nada agar terdengar biasa.
875Please respect copyright.PENANAJ0f2D9nE9O
> “Masih rapat, mungkin pulang lusa. Kamu sudah makan?”
875Please respect copyright.PENANAk4Rk4ZE7ne
Rani menunduk, tahu siapa yang sedang di seberang telepon.
David menatap langit malam, matanya kosong, suaranya datar.
875Please respect copyright.PENANAV7oSu6MRdR
> “Aku juga kangen,” katanya lirih, meski jarinya masih menggenggam tangan Rani di bawah meja.
875Please respect copyright.PENANAwEJ1BEvuyh
Dea tersenyum kecil, menutup telepon, menatap dinding rumahnya yang sepi, dan secangkir teh di atas meja yang terasa asing malam itu.
875Please respect copyright.PENANA6hANOwMQxR
Rani akhirnya menatap David lagi. Wajahnya sedikit murung, tapi bibirnya tetap melengkung lembut.
Ia sadar ia bukan satu-satunya di hati pria itu, namun kehadiran David cukup membuatnya bahagia, meski rasa bersalah tetap ada.
875Please respect copyright.PENANACFCjahJecw
875Please respect copyright.PENANAiiR5zmxIvk
.Udara masih terasa hangat, bercampur dengan aroma parfun Rani yang manis dan keringat David yang lebih pekat, hasil dari aktivitas mereka sebelumnya. Rani, masih tergeletak dengan tubuh setengah telanjang di atas seprai yang kusut, kulitnya yang halus masih memerah karena sentuhan David tadi. Dia meraih gelas yang hampir kosong, menjilat bibirnya yang masih basah oleh ciuman David, sambil memperhatikan otot-otot lengan David yang menegang saat dia meraih jaketnya yang tergeletak di kursi.875Please respect copyright.PENANAesXvLs0aKk
875Please respect copyright.PENANAG3Ap3kg9p9
875Please respect copyright.PENANAusiCsM7cnJ
Rani merasakan sesuatu mengeras di dadanya, bukan gairah, melainkan sesuatu yang lebih pahit—cemburu.875Please respect copyright.PENANAJp71DZgAdY
875Please respect copyright.PENANAmBcMnXRgiO
875Please respect copyright.PENANAL4vCOAKXrD
Dia memperhatikan bagaimana sudut mulut David mengangkat sedikit, seolah tersenyum pada sesuatu yang hanya Dea yang bisa dengar. Suara Dea dari balik telepon terdengar samar, tapi Rani bisa membayangkan intonasi manisnya, cara dia memanggil David dengan nada yang membuatnya merasa seperti istri yang sempurna. Rani menggigit bibir bawahnya hingga terasa nyeri. Dia tahu dia tidak punya hak untuk merasa seperti ini—dia hanya yang lain, gadis muda yang menjadi pelarian David dari rutinitas pernikahannya. Tapi pengetahuan itu tidak membuat rasa sakitnya berkurang. Sebaliknya, itu hanya menambah kebencian pada dirinya sendiri.875Please respect copyright.PENANAX7dl7emGw4
875Please respect copyright.PENANAdcMPf6scBh
875Please respect copyright.PENANAZeFkzmkzkD
David mengakhiri panggilan, meletakkan ponselnya di meja dengan hati-hati, seolah takut mengganggu sesuatu yang suci. Kemudian dia berbalik, matanya langsung menemukan Rani. Ada sesuatu yang berubah di wajahnya—sesuatu yang lebih gelap, lebih liar. Seolah panggilan itu bukan hanya mengingatkannya pada kewajibannya, tapi juga menyalakan api yang lebih besar di dalam dirinya. "Kau dengar itu?" tanyanya, suaranya sekarang lebih serak, lebih penuh hasrat. Rani tidak menjawab, hanya menatapnya dengan mata yang berkilau, campuran antara kebencian dan keinginan. David mendekat, langkahnya lambat tapi penuh tujuan, seperti predator yang sudah menandai mangsanya.875Please respect copyright.PENANA7m1HzAT4YW
875Please respect copyright.PENANARg97dsBf4d
875Please respect copyright.PENANArzuy5GzqMe
Tanpa kata-kata lagi, David meraih lengan Rani dan menariknya ke arahnya dengan kekuatan yang membuatnya terkejut. Bibirnya menabrak bibir Rani dengan kasar, giginya hampir menggigit daging lembut itu. Lidahnya menyusup ke dalam, menuntut, mendesak, seperti dia ingin menghukum Rani karena cemburunya, tapi juga ingin menghapus semua pikiran itu dengan kenikmatan. Rani merintih, tubuhnya menanggapi meskipun otaknya masih berontak. Tangannya yang bebas mencengkeram bahu David, kuku-kukunya mencakar kulitnya. Dia bisa merasakan otot-otot David yang tegang di bawah jari-jarinya, kekuatan yang selalu membuatnya merasa kecil, rentan.875Please respect copyright.PENANAHbL2lRKlOv
875Please respect copyright.PENANAN21uIG49nt
875Please respect copyright.PENANA2JaGG7YzaV
Tangan David tidak diam. Satu tangan meremas payudara Rani dengan kekerasan yang membuatnya mendesah, jari-jarinya mencubit puting yang sudah keras, sementara tangan satunya menyusuri perutnya, turun ke bawah, hingga menemukan celana dalamnya yang sudah basah. "Kau masih basah, sayang," bisik David di antara ciuman, suaranya penuh dengan kepuasan jahat. "Meskipun kau cemburu, tubuhmu tetap menginginkanku." Jari-jarinya menggosok klitoris Rani dengan gerakan melingkar, tekanannya sempurna—cukup keras untuk membuatnya menggeliat, tapi tidak cukup untuk melepaskannya. Rani mengerang, pinggulnya bergerak sendiri, mencari lebih banyak sentuhan. Dia membenci dirinya sendiri karena begitu mudah tergoda, begitu lemah terhadap David.875Please respect copyright.PENANAxcLoYQrUeC
875Please respect copyright.PENANAKBfUuen1NU
875Please respect copyright.PENANAH7LqlH0uCq
Tapi David tidak memberi waktu untuk penyesalan. Dengan gerakan tiba-tiba, dia mendorong Rani ke tempat tidur, tubuhnya yang lebih besar menindihnya. Rani merasakan seprai yang dingin di punggungnya, kontras dengan panasnya kulit David yang menempel padanya. David merobek baju Rani dengan satu tarikan kuat, kancing-kancing kecil berserakan di lantai seperti butiran mutiara yang pecah. Rani tidak sempat protes—mulut David sudah menempel di lehernya, lidahnya menjilat kulitnya yang sensitif, sementara giginya menggigit ringan, meninggalkan bekas yang akan bertahan selama berhari-hari. "Aku akan membuatmu lupa segalanya," ucap David, suaranya bergetar di kulit Rani. "Hanya aku yang kau rasakan. Hanya aku."875Please respect copyright.PENANAQfb4w2Vzsk
875Please respect copyright.PENANARgIn6ZbJlt
875Please respect copyright.PENANAZaOxL3CCm7
Kemudian mulutnya pindah ke payudara Rani. Dia mengisap putingnya dengan kekuatan yang hampir menyakitkan, lidahnya berputar-putar, sementara tangannya yang lain memijat payudara satunya dengan kasar. Rani mendesah, punggungnya melengkung, mendorong payudaranya lebih dalam ke mulut David. Dia bisa merasakan air liurnya yang panas, cara jari-jari David mencengkeram dagingnya seolah ingin meninggalkan bekas. "Oh, fuck," keluar dari bibir Rani tanpa sadar, suaranya putus-putus. Dia merasakan sesuatu membasahi celana dalamnya, cairan yang keluar dari vaginanya yang sudah sangat basah. Dia tahu David bisa merasakannya, dan itu hanya membuatnya lebih terangsang.875Please respect copyright.PENANA0By2CnsGHj
875Please respect copyright.PENANAlNHFByYaz4
875Please respect copyright.PENANAcjsAswDBUA
David tidak berhenti di situ. Dia bergerak ke bawah, tangan-tangannya menyusuri tubuh Rani seperti seorang seniman yang menghargai setiap kurva. Ketika dia mencapai pinggul Rani, dia menarik celana dalamnya dengan gigi, gerakan yang membuat Rani terkejut dan semakin basah. Kemudian mulutnya sudah ada di sana, lidahnya menyusuri bibir vagina Rani yang bengkak, merasakan kelembapan yang keluar darinya. "Kau begitu basah untukku, nakal," ucap David, suaranya bergetar di kulit Rani yang paling sensitif. "Aku tahu kau suka ini. Kau suka ketika aku membuatmu lupa bahwa kau bukan satu-satunya." Lidahnya menyelam ke dalam, menjilat dari bawah ke atas, menghentak klitoris Rani dengan tepat. Rani berteriak, pinggulnya terangkat dari tempat tidur, tangannya mencengkeram seprai hingga putih.875Please respect copyright.PENANAUjzeezPtYW
875Please respect copyright.PENANAzNOhdFXDTS
875Please respect copyright.PENANAx1wCZfKIdr
Jari-jari David ikut bergabung, dua di antaranya masuk ke dalam vagina Rani dengan mudah, merasakan dindingnya yang ketat dan panas. Dia menggerakkan jarinya dengan ritme yang kejam, menambahkan jari ketiga saat Rani mulai menggeliat, tubuhnya bergetar di ambang orgasme. "Tunggu dulu, sayang," perintah David, suaranya penuh otoritas. Dia menarik jarinya keluar, membuat Rani mengerang kecewa. Tapi sebelum dia bisa memprotes, David sudah berdiri, tangannya memegang penisnya yang tegang, ujungnya sudah basah oleh cairan pra-ejakulasi. "Buka mulutmu," perintahnya, suaranya keras.875Please respect copyright.PENANA7ITrsNJVSm
875Please respect copyright.PENANA2BnTmcVVz3
875Please respect copyright.PENANAMKuc9B1Mby
Rani menatapnya dengan mata berkaca-kaca, tapi dia taat. Dia membuka mulutnya, lidahnya menjulur sedikit, siap menerima. David mendorong pinggulnya ke depan, penisnya menyusup ke dalam mulut Rani dengan satu dorongan kuat. Rani meringis, merasakan batang yang besar mengisi mulutnya, hampir menyentuh tenggorokannya. Dia mulai mengisap, lidahnya berputar-putar di sekitar kepala penis, sementara tangannya memegang pangkalnya, mengikuti gerakan David. "Ya, begitu... isap lebih dalam," ucap David, tangannya memegang kepala Rani, mendorongnya lebih jauh. Rani merasakan air matanya menggenang saat penis David menyentuh bagian belakang tenggorokannya, tapi dia tidak berhenti. Dia mendengar suara David yang terengah-engah, merasakan jari-jarinya yang mencengkeram rambutnya dengan kuat.875Please respect copyright.PENANAcndC4sdLqq
875Please respect copyright.PENANAYw8dlvWKE1
875Please respect copyright.PENANADu3PMGOJsK
Tapi David tidak sabar. Dia menarik penisnya keluar dengan tiba-tiba, membuat Rani batuk sedikit. Kemudian dia mendorong Rani untuk berbalik, memposisikannya dalam doggy style, pantatnya mengarah ke atas, siap untuk diambil. Rani merasakan udara dingin di kulitnya yang basah, tapi sebelum dia bisa bersiap, David sudah mendorong penisnya ke dalam vagina Rani dengan satu gerakan kuat. Rani berteriak, tubuhnya melengkung ke depan karena dorongan itu. David tidak memberi waktu untuk beradaptasi—dia langsung mulai menggenjot, setiap dorongan keras dan dalam, membuat vagina Rani terasa penuh dan terbakar. "Kau milikku, Rani," ucap David, suaranya serak karena nafsu. "Hanya milikku. Lupakan dia. Lupakan semuanya."875Please respect copyright.PENANA33R1cxU5yT
875Please respect copyright.PENANAzdXOQLTTKJ
875Please respect copyright.PENANABut7oPNozd
Setiap dorongan David membuat Rani mendesah, tubuhnya bergetar. Dia bisa merasakan keringatnya bercampur dengan keringat David, kulit mereka saling menempel setiap kali David menabraknya dari belakang. Suara basah dari vagina Rani yang basah memenuhi kamar, bercampur dengan desahan mereka berdua. Rani merasakan orgasmenya mendekat, tapi dia tahu David belum selesai. Dia masih menggenjot, setiap dorongan semakin kuat, semakin dalam, seolah dia ingin menghancurkannya. Rani merasakan tubuhnya mulai lelah, otot-ototnya gemetar karena kelelahan, tapi David tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.875Please respect copyright.PENANAio3GpKPJak
875Please respect copyright.PENANAXETq0HM1AL
875Please respect copyright.PENANAzhlZc6dlxL
Kemudian tiba-tiba, David menarik penisnya keluar. Rani merasakan kehilangan itu, tapi sebelum dia bisa memprotes, David sudah membaliknya, mendorongnya ke atas tempat tidur lagi, kali ini wajahnya menghadap ke atas. Matanya menemukan mata Rani, penuh dengan nafsu yang gelap. "Aku belum selesai denganmu," ucapnya. Dia mengangkat salah satu kaki Rani, meletakkannya di bahunya, membuka lubang pantatnya yang ketat. Rani meringis, tahu apa yang akan datang. "Tunggu—aku tidak—" dia mulai berkata, tapi David sudah mendorong penisnya ke dalam lubang pantat Rani dengan kekuatan yang membuatnya menjerit.875Please respect copyright.PENANA1ICVwijoWT
875Please respect copyright.PENANAMLj25llCEw
875Please respect copyright.PENANAUfAzTSredI
Rani merasakan rasa sakit yang tajam, tubuhnya tegang karena penetrasi yang tidak terduga. Tapi David tidak peduli. Dia terus mendorong, penisnya masuk sedikit demi sedikit, hingga akhirnya terbenam sepenuhnya di dalamnya. "Kencang... fuck, kau begitu kencang," ucap David, suaranya terengah-engah. Dia mulai menggenjot lagi, setiap dorongan membuat Rani merasakan campuran antara sakit dan kenikmatan yang aneh. Dia merasakan tubuhnya diregangkan, seolah akan robek, tapi pada saat yang sama, ada sesuatu yang terasa benar dalam cara David mengambilnya dengan begitu kasar.875Please respect copyright.PENANACo7oZ0M1cN
875Please respect copyright.PENANAlQmxmMHOLy
875Please respect copyright.PENANAahSvjce6Y2
Keringat mereka sekarang sudah membasahi seluruh tubuh, bercampur dengan air mata Rani yang tidak bisa lagi ditahan. Dia merasakan orgasmenya mendekat, tubuhnya bergetar di ambangnya, tapi David masih terus menggenjot, setiap dorongan semakin kuat, semakin dalam. "Aku akan mengisi semua lubangmu, Rani," ucap David, suaranya penuh dengan janji kotor. "Kau akan ingat siapa yang membuatmu merasa seperti ini." Dan kemudian, akhirnya, Rani mencapai klimaks, tubuhnya bergetar hebat, vagina dan pantatnya mengencang di sekitar penis David. David mengerang, dorongannya menjadi tidak teratur, hingga akhirnya dia juga mencapai orgasme, mengisi lubang pantat Rani dengan air maninya yang panas.875Please respect copyright.PENANAnpV22y3NHq
875Please respect copyright.PENANA1FA8IEOH4E
875Please respect copyright.PENANADfMkR5BfGh
Mereka berdua tergeletak di tempat tidur, tubuh mereka basah oleh keringat dan cairan, napas mereka masih terengah-engah. Rani merasakan tubuhnya lelah, setiap ototnya sakit, tapi di antara semua itu, ada sesuatu yang masih menggerayangi hatinya—cemburu. Dia menoleh ke samping, melihat David yang masih terengah-engah, wajahnya puas. Dia tahu bahwa besok, David akan pulang ke Dea. Dan Rani? Dia akan tetap di sini, dengan kenangan ini, dengan rasa cemburu yang tidak kunjung padam.
875Please respect copyright.PENANAz6GwQ7QX90


