Sejak menikah dengan Ayah hingga kini, Bunda selalu merawat tubuhnya dengan penuh dedikasi, seperti ritual suci yang nggak pernah absen. Koleksi skincare-nya memenuhi meja rias: krim pemutih, serum anti-aging, hingga body lotion yang bikin kulitnya mulus bak porselen. Setiap pagi, dia menghabiskan waktu di depan cermin, mengoleskan produk-produk itu dengan hati-hati, sambil nyanyi pelan lagu-lagu lawas. “Bunda, itu skincare apa lagi?” tanyaku suatu hari, penasaran. Dia cuma tersenyum, “Ini rahasia biar Bunda tetep cantik buat kamu, Rian!” katanya sambil nyanyi-nyanyi, bikin aku geleng-geleng. Tapi jujur, hasilnya memang luar biasa—kulitnya glowing, ketiaknya selalu mulus, dan tubuhnya seolah nggak kenal usia.
3307Please respect copyright.PENANA0XBlu5fTlK
Di rumah, Bunda punya kebiasaan yang bikin aku kadang risih tapi juga terbiasa: dia suka pakai pakaian minim banget. Tanktop sempit yang nggak nutup banyak, sering tanpa bra, cuma dipadukan celana dalam, adalah seragam hariannya di rumah. Payudaranya yang besar—kalau nggak salah ukuran 32K, bikin tanktop itu kayak berjuang keras buat nahan bentuknya. Aku pernah protes, “Bunda, pakai baju yang agak nutup dong, aku kan malu!” Dia cuma tertawa, “Lah, Rian, ini rumah kita! Bunda bebas!” katanya, sambil nyapu dengan santai. Aku cuma bisa menghela napas, tahu nggak bakal menang debat sama Bunda. Tapi kebiasaan ini, entah disadari atau nggak, bikin mata orang-orang di sekitar kami susah lepas.
3307Please respect copyright.PENANAcaJY7E1kyI
Salah satunya adalah Pak Yanto, tukang sayur yang tiap pagi lewat depan rumah. Suatu pagi, pas Bunda lagi beli bayam di teras dengan tanktop ketat dan celana pendek, aku lihat Pak Yanto kayak lupa caranya ngomong. “E-eh, Bu Anggi, bayamnya segar, ya, cuma sepuluh ribu,” katanya, matanya bolak-balik ke payudara Bunda. Bunda cuma senyum santai, “Wah, murah, Pak! Besok bawa yang lebih segar ya,” katanya, sambil membungkuk ambil bayam, bikin Pak Yanto makin salah tingkah. Aku yang ngintip dari dalam rumah cuma bisa geleng-geleng. “Bunda, dia ngeliatin Bunda mulu tadi!” kataku setelah Pak Yanto pergi. Bunda cuma nyengir, “Biarin, Rian, yang penting bayamnya murah!”
3307Please respect copyright.PENANAqGCTsSOKg8
Lalu ada Pak Slamet, Pak RT yang tiba-tiba jadi rajin mampir ke rumah. Suatu sore, dia datang dengan alasan ngasih formulir iuran lingkungan, padahal biasanya cuma dikirim lewat WA. Bunda kebetulan lagi nyiram tanaman di depan, pakai tanktop merah yang ketat banget dan celana dalam yang nyaris nggak kelihatan dari balik daster pendek. “Bu Anggi, ini formulirnya, eh, rumahnya rapi ya,” katanya, matanya jelas-jelas nempel ke dadanya Bunda. Bunda cuma ketawa kecil, “Makasih, Pak RT, nanti saya isi ya,” jawabnya santai, sambil nyanyi-nyanyi kecil. Aku yang denger dari dalam pengen batuk keras biar Pak RT sadar diri. “Bunda, Pak RT kok betah banget sih?” tanyaku setelah dia pergi. Bunda cuma mengedikkan bahu, “Orang baik, Rian, cuma suka ngobrol!”
3307Please respect copyright.PENANA2iDmv7A4YN
Yang paling bikin aku naik darah adalah Bima, temen kuliahku sendiri. Bima sering main ke rumah buat ngerjain tugas bareng, tapi akhir-akhir ini matanya suka nyasar. Suatu hari, pas Bunda bawa jus ke ruang tamu dengan tanktop putih yang bikin siluet payudaranya jelas banget, Bima kayak lupa cara megang gelas. “Eh, makasih, Bu Anggi, jusnya seger,” katanya, tapi matanya nggak lepas dari Bunda. Bunda cuma senyum, “Sama-sama, Bima, belajar yang rajin ya!” katanya, lalu pergi sambil nyanyi kecil. Aku langsung nyanyi dalam hati, Bima, lo naksir Bunda gue, ya?! “Bim, fokus ke tugas, dong!” kataku ketus. Dia cuma cengengesan, “Iya, bro, Bunda lo kece banget sih.”
3307Please respect copyright.PENANAKT69c43k3C
Bunda sepertinya nggak risih sama perhatian ini, malah santai aja, kayak udah terbiasa jadi pusat perhatian. Aku kadang nggak ngerti, apa dia nggak sadar atau sengaja menikmati? Setiap selesai mandi, dia suka duduk di depan cermin, olesin lotion ke ketiak mulusnya, sambil ngobrol sama aku soal kuliah. “Rian, kamu udah daftar seminar itu belum?” tanyanya, sambil angkat tangan olesin deodoran, bikin aku buru-buru alihkan pandangan. “Udah, Bunda, tenang aja,” jawabku cepet, risih sendiri. Tapi Bunda cuma ketawa, “Jangan lupa, ya, Bunda cuma mau kamu sukses!” katanya, suaranya lembut tapi penuh semangat.
3307Please respect copyright.PENANAzEOdGiWQxq
Pagi itu, seperti biasa, Bunda sibuk di dapur dengan tanktop kuning yang nyaris nggak nutup apa-apa. Aku lihat dia motong wortel sambil nyanyi lagu dangdut, badannya bergoyang kecil. “Bunda, serius deh, pakai baju yang agak sopan dong,” kataku, sambil buru-buru nyiapin tas kuliah. Dia cuma nyengir, “Rian, Bunda di rumah, bebas dong! Lagian, kamu kan udah biasa lihat Bunda gini,” katanya, sambil kasi aku bekal. Aku cuma menghela napas, tahu protesku nggak bakal didenger. Tapi di balik kekesalanku, aku kagum sama kepercayaan dirinya. Bunda, meski udah janda, tetep punya aura yang bikin orang-orang nafsu.
3307Please respect copyright.PENANAUHiRNUUjAN
Kehidupan kami berdua di rumah kecil ini penuh warna karena Bunda. Dia selalu bilang, “Rian, hidup itu harus dinikmati, nggak usah malu jadi diri sendiri.” Aku cuma ngangguk, meski kadang pengen bilang, “Bunda, tapi nggak usah seminim itu juga bajunya!” Tapi aku tahu, ini cara Bunda bertahan setelah kehilangan Ayah, menjaga semangatnya lewat kecantikan dan kebebasannya. Rumah ini, dengan semua skincare dan daster tipis Bunda, adalah dunianya. Dan aku, sebagai anaknya, cuma bisa pasrah sambil berusaha jaga dia dari tatapan-tatapan yang mulai bikin aku curiga.
3307Please respect copyright.PENANA51fd4nJP3b
Hari itu, pas aku mau berangkat kuliah, Bunda nganterin aku sampe pintu. “Rian, hati-hati di jalan, ya! Jangan lupa makan bekalnya!” katanya, sambil berdiri di teras dengan tanktop yang bikin tetangga lewat melirik. Aku cuma mengangguk, “Iya, Bunda, tenang aja!” jawabku cepet, buru-buru kabur sebelum Pak RT lewat lagi. Tapi di dalam hati, aku tahu hidup bareng Bunda nggak akan pernah membosankan. Dia, dengan segala pesonanya, adalah pusat dunia kecil kami. Dan meski kadang aku risih, aku nggak akan biarin siapa pun macam-macam sama Bunda. Ini baru permulaan cerita kami, dan aku tahu, bakal ada banyak drama di depan.
ns216.73.217.22da2


