"Assalamu'alaikum.. "
Ustad Suhadi meletakkan kitab yang sedang dibacanya, dan beranjak keluar untuk melihat tamu yang datang. "Wa alaikumsalam salam."
Seorang laki-laki tinggi bermata sipit berdiri di depan pintunya sambil tersenyum ramah. Sekilas mirip artis Korea. Umurnya mungkin sekitar tiga puluhan.
"Cari siapa, mas?" tanya Ustad Suhadi ramah.
"Perkenalkan saya Alex, tetangga baru Pak Ustad. Saya yang beli rumah di sebelah sana." jawab laki-laki bernama Alex itu sambil menyerahkan sebuah bingkisan di dalam plastik. "Ini ada oleh-oleh buat perkenalan, pak."
Ustad Suhadi kagum dengan keramahtamahan orang di depannya ini. Sudah lama dia tak merasakan sikap seperti ini lagi. "Waduh nggak perlu repot mas. Ayo masuk, silakan."
Melihat kalung salib perak di dada laki-laki itu mau tak mau Ustad Suhadi tergelitik untuk bertanya. "Loh mas Kristen toh, salamnya tadi fasih banget loh."
"Assalamu'alaikum, alhamdulillah, astagfirullah, sudah jadi bahasa sehari-hari pak Ustad. Apa lagi saya di bank otomatis sering ketemu orang. Jadi kebiasaan." Alex menjawab.
Ustad Suhadi mengangguk-angguk setuju. "Bagian apa di bank? Pasti gajinya besar ya?" tanyanya.
"Hahaha, Pak Ustad bisa aja. Saya bagian approval untuk kredit kredit skala besar. Apa Pak Ustad mau kredit? Tenang saya bantu, hahaha.. " canda Alex. Keduanya tertawa bersamaan.
Ustad Suhadi langsung menyukai tetangganya ini yang pembawaannya ramah. Dalam hidupnya, jarang sekali dia berinteraksi dengan orang dari etnis Tionghoa. Dia berpikir orang-orang ini hidup dalam dunianya sendiri, tak mau berbaur, dan terkesan eksklusif. Ternyata dia salah. Nyatanya orang di depannya bahkan lebih ramah daripada kebanyakan orang.
"Pak Ustad berapa usianya kalo boleh tau. Sepertinya masih gagah ya.. "
"Ah saya sudah tua mas, sudah 48 tahun. Cuma ya rutin jalan pagi aja biar tetep fit. Istri saya 40 tahun. Oh iya, Buu.. Ibuu.." Ustad Suhadi memanggil istrinya. Seorang perempuan berjilbab syar'i muncul dari belakang. Hijab hitamnya membuat wajahnya terlihat begitu putih. "Ini istri saya, Salwa."
Alex menangkupkan tangan di dada. Dia tahu tak mungkin menyalami perempuan yang bukan muhrimnya. "Salam kenal Bu Ustadzah, saya Alex. Tetangga baru depan rumah."
Ustadzah Salwa juga melakukan hal yang sama. "Pak, kok tamunya nggak ditawarin minum loh.. "
"Oalah iya lupa, saking enaknya ngobrol, hahaha," Ustad Suhadi terbahak. "Mau kopi atau teh, mas?"
Alex dengan sopan menolak. "Nggak usah Pak Ustad, saya juga cuman sebentar."
Tapi nyatanya obrolan berlanjut hingga setengah jam kemudian. Dari yang awalnya obrolan basa basi hingga berganti berbagai topik. Ustad Suhadi jelas menikmati obrolan dengan tetangga barunya yang tak hanya ramah tapi juga smart. Tak hanya Ustad Suhadi, Ustadzah Salwa juga diam-diam memperhatikan tamunya itu dari dalam, juga mencuri dengar obrolannya dengan suaminya. Tak dipungkiri wajahnya yang oriental enak untuk dipandang. Mengingatkannya pada salah satu bintang di drama Korea yang sering ia tonton. Tubuhnya yang atletis, dadanya yang bidang di balik kaos putihnya tercetak dengan jelas. Laki-laki ini pasti merawat tubuhnya dengan serius. Jauh berbeda dengan suaminya yang berkulit gelap dan perut buncitnya.
"Anaknya berapa, mas?" Suara Ustad Suhadi terdengar dari ruang tamu. Ustadzah Salwa menajamkan telinganya.
"Jangankan anak pak, saya aja belum menikah.. "
Entah mengapa jawaban Alex membuat Ustadzah Salwa tersenyum.
Sepeninggal Alex, Ustad suhadi kembali memujinya. "Jarang pendatang yang sopan kayak begitu sekarang ini ya, bu?" Ustadzah Salwa hanya tersenyum menanggapi suaminya. Dia juga setuju. Sopan, ramah, ganteng, pekerjaan mapan, bujangan pula. Dia bisa menebak sebentar lagi Alex pasti jadi idola komplek. Tak hanya para gadis, mungkin juga ibu ibu yang lain. Ustadzah Salwa bisa merasakan getar cemburu di hatinya. Apa lagi kalau nanti Bu RT yang ganjen itu tahu. Dia merasa sedikit tidak terima jika Alex sampai jatuh ke pelukan perempuan itu.
Tak salah memang Alex menyambangi kediaman Ustad suhadi karena beliau adalah salah satu tokoh masyarakat di area komplek. Orang-orang menghormatinya karena beliaulah yang selalu mengimami sholat di masjid Jami. Sedang Ustadzah Salwa kerap mengajar ngaji untuk ibu ibu. Putri semata wayangnya, Aisyah, masih duduk di kelas 2 SMA.
Tapi hari itu Alex tak hanya singgah ke rumah Ustad suhadi tapi juga ke beberapa rumah di sekelilingnya, terutama rumah Pak RT. Sesuai dugaan Ustadzah Salwa, grup whatsapp ibu ibu langsung heboh malam itu.
"Ya ampun, ganteng banget tau nggak sih ibu ibu. Mirip Lee Min Ho!" komentar Bu Fitri yang rumahnya tepat di sebelah Alex. Notifikasi mengetik langsung muncul untuk menanggapi. Ustadzah Salwa hanya diam memantau.
"Mana masih bujangan, tapi udah punya rumah. Saya mah mau aja bantu bantu bersihin rumahnya, hehe.. " timpal Bu Nita. Ustadzah Salwa mendengus. Satu lagi orang ganjen selain Bu RT.
"Eh kok bisa kebetulan. Dia emang lagi cari asisten rumah tangga loh Bu Nita.. " Bu RT muncul.
"Kok Bu RT bisa tau?" Bu Nita bertanya balik.
"Saya kan habis dari rumahnya tadi, hihi. Yahh tugas RT lah bu harus memantau warganya, iya kan?" jawab Bu RT genit. Ustadzah Salwa menutup ponselnya. Obrolan itu bisa berlanjut berjam jam.
Rumah yang dibeli Alex adalah rumah dua lantai berwarna putih bergaya art Deco. Pagarnya setinggi dua orang dewasa. Ada halaman mungil yang ditumbuhi rumput Jepang di samping garasi. Setiap sudut rumah itu menampilkan kemewahan yang bersahaja. Persis seperti pemiliknya. Mungkin itu juga sebabnya dia memilih rumah ini.
Sejak pertemuan hari itu di rumahnya, dua kali Ustadzah melihat sosok Alex. Hanya saja Alex tak melihatnya karena sedang menyetir. Yang pertama pagi, mungkin akan berangkat kerja. Yang kedua kali malam. Tapi Alex tak sendiri. Ada seorang wanita Tionghoa bersamanya. Jawabannya dia dapatkan dengan cepat dari grup whatsapp.
"Itu kakaknya. Namanya Amel." terang Bu RT saat ada seseorang yang menyinggung soal itu. "Kakaknya juga belum nikah. Umur 35-an gitu kalo ga salah."
Tanpa disangka dia justru tak sengaja bertemu esok harinya. "Assalamu'alaikum Bu Ustadzah. Perkenalkan saya Amel, kakaknya Alex." ucap perempuan Tionghoa itu sambil menyodorkan tangan.
"Wa alaikumsalam. Oh halo mbak Amel. Salam kenal ya, semoga betah di sini." balas Ustadzah Salwa menyalami tangan Amel.
"Pasti betah Bu Ustadzah." Amel tersenyum. "Mari Bu, saya masuk dulu. Assalamu'alaikum."
"Wa alaikumsalam.. "
***
Nama aslinya Mariani, tapi orang-orang lebih terbiasa memanggil Bu RT saja. Hari ini rencananya dia akan menyambangi lagi rumah alex untuk menginformasikan jadwal kerja bakti mingguan. Sebenarnya itu hanya alasan saja supaya bisa ngobrol dengan laki-laki itu. Dia menyadari pasti banyak mulut yang bisik bisik jika dia ke rumah itu lagi, tapi dia tak peduli. Lagipula dia merasa tak perlu menjelaskan apa apa buat siapa pun, percuma. Buat orang yang tak suka, sebaik apa pun dirinya tetap saja salah.
Dia menyadari stigma negatif yang melekat padanya. Ada yang bilang genitlah, ganjen, dan sebagainya. Betul dia suka melihat laki-laki ganteng, siapa juga yang nggak? Pikirnya, dan dia memang ekapresif, tapi bukan berarti dia gampangan. Bertahun-tahun berumah tangga tak pernah sekali pun dia berselingkuh. Atau para ibu ibu mungkin cuma iri karena dia sebagai RT lebih punya akses untuk berurusan dengan warga baru.
Bu RT mematut dirinya depan cermin besar. Hari ini dia memakai blouse santai terusan dan hijab coklat susu yang senada. Sesekali dia memiringkan tubuhnya ke kiri dan kanan, dan terlihat puas. Untuk ukuran perempuan berusia 45 tahun tubuhnya tak mengecewakan. Pastinya senam, gym, dan jalan pagi rutin punya "Kulitnya masih terlihat kencang, terutama bokongnya. Dia tersenyum membayangkan suaminnya selalu ejakulasi dini setiap menggesekkan batangnya di belahan itu.
"Permisi.. " Bu RT memberi salam sambil menekan bel di ujung pagar. Tak lama pintu depan terbuka. Dia sumringah melihat Alex. Dia memakai kaos buntung dan celana pendek, wajah dan tubuhnya berkeringat mungkin sedang berolahraga. Bu RT menelan liurnya sendiri.
"Oh Bu RT ayo masuk.. " ucap Alex ramah. Bu RT mengikuti langkahnya ke ruang tamu yang ditata minimalis. Sudah beberapa kali dia ke sini tapi masih tetap terkesan. "Jadi, ada yang bisa saya bantu Bu RT?" ucap Alex sambil meletakkan minuman dingin di meja.
Bu RT tersenyum genit. "Cuma mau kasih info kerja bakti bulanan warga aja. Siapa tau mas Alex kebetulan ada waktu.. " Ucapnya sambil menyerahkan selembar kertas print.
Alex membaca informasi di kertas itu sambil mengangguk angguk. "Oh iya. Boleh boleh.. " katanya tanpa menatap Bu RT di seberang meja. Bu RT sendiri tengah mengigit bibir sambil melirik pangkal paha Alex. Celananya yang kelewat pendek membuat sesuatu di baliknya nyaris terlihat.
"Mbak Amel kok nggak keliatan, mas?" Bu RT berbasa-basi.
"Dia ada kerjaan di luar kota, bu. Baru pulang nanti malam," jawab Alex sambil tersenyum. Bu RT mengangguk-angguk sambil memperhatikan sekeliling, tanpa dia sadari Alex tengah menatap ceplakan payudara di balik gamisnya. Bibir laki-laki itu menyunggingkan senyum samar.
"Sudah dua kali kesini belum sempat ketemu soalnya," sambung Bu RT.
"Ibu dua kali kesini kan cari saya bukan cari Amel heee.. " canda Alex sambil menyesap minumannya. Tatapannya seakan menelanjangi perempuan di depannya.
"Mas bisa aja.. " Bu RT membalas dengan canggung. Dia dapat merasakan tatapan Alex menggerayangi tubuhnya. Tentu dia tahu betul arti tatapan itu.
"Mmmm.. Calonnya orang mana mas?" Bu RT coba memecah suasana yang semakin canggung. Alex masih terus tersenyum dan menatapnya, membuatnya bergidik.
"Nggak ada bu. Saya juga nggak pingin nikah.. " Jawaban Alex terdengar menggantung.
"Nggak dikeluarin kentel loh lama lama.. " Bu RT langsung menyesali celetukannya yang pasti terdengar memancing. Kebiasaan nyeletuk genit membuat ucapannya kadang tak terkontrol. Dia berharap Alex tak memperhatikan.
"Aman bu, rutin dikeluarin kok.. " Alex memutar-mutar gelas di depan wajahnya, senyumnya terlihat aneh.
Merasa situasi makin kaku, Bu RT berdiri coba untuk pamit pulang, namun Alex lebih sigap. "Loh ibu mau kemana? Lagi enak ngobrol juga.. " ucap laki-laki Tionghoa itu sambil melangkah ke arah pintu, lalu menguncinya.
"Ke.. Kenapa dikunci, mas.. " Suara Bu RT gemetar.
"Tapi ibu bener sih. Sudah hampir dua bulanan belum saya keluarin. Jadi emang udah waktunya.. " Alex jelas jelas mengabaikan pertanyaan Bu RT. Masih dengan senyum anehnya dia mendekati perempuan itu.
Bu RT panik. Wajahnya langsung pucat. Reflek dia bergerak menjauh. "Mas Alex mau ap... "
Ucapannya terpotong, Alex tiba-tiba menyergapnya dengan cepat dan menindih tubuhnya di sofa. Dengan ahli dia mengunci kedua tangannya di atas kepala. Wajah Alex hanya sejengkal dari wajahnya. Dia dapat merasakan nafas laki-laki itu semakin berat. "Pertanyaannya bukan saya mau apa, tapi ibu yang mau apa? Hehe.. "
"Apa maksudnya?? Tolong lepasin mas, jangan gini!" Bu RT coba meronta namun jelas sia-sia.
"Saya udah perhatiin ibu dari pertama ibu datang. Ibu ini tipikal istri yang nakal, ya kan? Hehe.. " goda Alex sambil menggesekkan selangkangannya di selangkangannya Bu RT. Perempuan itu makin panik merasakan sesuatu yang besar menggeliat dan menggesek di bawah sana.
"Lepasin mas. Tolong jangan begini.. " Bu RT memohon. Matanya mulai terasa panas. Butiran bening mulai berkumpul di sudut matanya.
Senyum Alex memudar. Wajahnya mendadak bengis. Dia melepaskan tangan kanannya yang mengunci kedua pergelangan tangan Bu RT, menyisakan hanya tangan kirinya. Walau begitu Bu RT tetap tak dapat melepaskan diri. "Lepasin?" Alex bertanya dengan nada aneh.
"Iya mas, tolong.. " Bu RT menahan isaknya.
Tiba-tiba saja Alex menampar pipi putih Bu RT. PLAK! Tangis wanita itu langsung pecah.
"Ayo nangis bu. Saya makin bergairah lihat perempuan nangis, hehe.. " Alex menyeringai.
Dada Bu RT bergemuruh. Dia ketakutan tapi juga marah diperlakukan tak senonoh seperti ini. Dia menolak membuat laki-laki mesum ini puas, jadi dia sekuat tenaga menahan tangis. Dalam kekalutan ini satu-satunya yang bisa dia lakukan hanya berteriak minta tolong. Setelah mengumpulkan keberanian dia membuka mulutnya dan menjerit. "TOLO..... "
PLAKK! Jeritannya terputus. Alex kembali menamparnya, kali ini lebih keras. Pipinya terasa nyeri. "Disuruh nangis malah minta tolong. Ayo nangis!" Alex makin brutal. Sekali, dua kali, tiga kali, dia menampar pipi kanan dan kiri perempuan berjilbab itu. PLAK! PLAK! PLAK!
Bu RT tak dapat menahan lagi, tangisnya kembali pecah. Alex dengan buas melahap bibirnya yang sedikit terbuka. Perempuan itu melawan dengan gigih, dikatupkan bibirnya serapat mungkin. Namun Alex sudah benar-benar gelap mata. Dengan keras dia meremas buah dada Bu RT membuat perempuan itu terpekik. Lidahnya langsung masuk dan melilit lidah Bu RT, sesekali disedot. Air liur keduanya menetes dari sudut bibir Bu RT turun membasahi jilbabnya.
"Jangan!! Tolo... "
PLAK! Sekali lagi Alex menampar dengan keras. Sementara selangkangannya makin semangat menggesek kemaluan Bu RT. "Bandel banget ini istri orang!" Sambil berkata begitu, jarinya menekan pipi Bu RT. Saat mulut perempuan berjilbab itu terbuka dia meludahinya. CUIHH!
Tangisan perempuan itu makin menjadi yang justru makin membuat Alex bergairah. Dengan sekali tarikan dia merobek gamis Bu RT. Lalu dengan kasar dia menarik lepas bra hitamnya. Mata Alex berbinar menatap gundukan kembar dengan puting coklat di hadapannya. Dengan rakus dia langsung melahap kedua puting itu bergantian. Tubuh Bu RT menggelinjang hebat titik sensitifnya dirangsang brutal seperti itu. Dalam sekejap buah dada putih itu sudah berlumuran ludah.
Tenggorokan Bu RT tercekat, ribuan jerit dan maki tertahan di kerongkongannya. Seluruh tubuhnya gemetar karena takut, muak, dan jijik. Ingin menjerit minta tolong dia trauma dengan tamparan keras Alex. Yang bisa dia lakukan sekarang hanya pasrah sambil menangis.
Mengetahui korbannya sudah pasrah Alex melepaskan kunciannya dan mengendurkan tindihannya. Kelegaan Bu RT hanya sementara. Ternyata Alex justru merobek habis gamisnya dan membuangnya begitu saja di lantai. Bu RT memekik saat Alex coba melepaskan celana dalamnya. Sekuat tenaga dia mempertahankan pertahanan terakhirnya. "Jangaaan! Huhu.. Jangannn... "
Namun apalah artinya tenaga seorang perempuan melawan laki-laki yang sedang kalap. Celana dalam itu pun akhirnya terlepas juga, mempertontonkan hidangan utama untuk Alex. Mata Alex nanar menatap tubuh bugil perempuan paruh baya itu di sofanya. Satu-satunya yang tersisa hanya jilbab yang menutupi rambutnya.
Dengan cepat Alex juga melucuti pakaiannya sendiri. Bu RT terbelalak melihat kontol besar teracung ketika Alex melepaskan celana dalamnya. Alex terkekeh melihat ekspresi Bu RT. "Kontol ini sebentar lagi bakal ngacak-acak memek gatel Bu RT, hahaha." ucapnya sambil meludahi tangannya lalu melumuri batang perkasanya dengan ludah tadi. "Tapi sebelumya saya mau main main dulu."
Dengan paksa Alex membuka paha Bu RT. Liang kewanitaannya terpampang di depan mukanya. Sambil dengan sengaja menatap wajah Bu RT yang pucat, dia menjulurkan lidah, lalu dengan sangat perlahan menyapu belahan memeknya.
SLURPPPPPP....
Bagai tersengat listrik tubuh Bu RT menggelinjang hebat. Tangannya menggenggam erat sofa dengan perut naik turun. Alex terkekeh kegirangan. Dia semakin rakus tak hanya menjilat tapi juga menggesekkan wajahnya di jembut perempuan itu.
"Ahhhh.. Ahhhh.. Ahhhh.. " Bu RT tak mampu lagi menahan desahan. Apa lagi saat lidah Alex menjulur jauh menjilat dinding kewanitaannya. Dia merasa terbang ke alam kenikmatan. Matanya merem melek, keringat bercucuran. Puluhan tahun menikah tak sekali pun suaminya melakukan hal ini, dia pun tak pernah meminta. Siapa sangka ternyata bertahun-tahun ini dia telah melewati nikmat yang luar biasa. Bu RT sudah lupa diri, dia ingin lagi dan lagi. Selangkangannya bergerak liar naik turun, sesekali menampar wajah Alex.
Namun ternyata itu bukanlah puncak. Saat Alex menjilat dan mengenyot itilnya, gelombang kenikmatan meledak dan mencapai klimaksnya. Bu RT memekik bersamaan dengan cairan surgawinya menyembur deras membasahi wajah Alex. "Ahhhh.. Ahhhh! Aku keluarrrrrr!!!!!! Ahhhhhh... "
Tubuhnya langsung ambruk dengan nafas tersengal. Dadanya naik turun dengan cepat. Dia sudah pasrah saat Alex kembali menindih tubuhnya dan melumat habis bibirnya.
Slurpppp.. Slurppp... Mmpphhh.. Slurpppp.. "Diperkosa malah keenakan! Emang dasarnya lu gatel bu, hahaha.. " ejek Alex.
Kesadarannya kembali bangkit ketika lutut Alex memaksanya membuka paha lalu sesuatu yang besar dan tumpul menekan bibir kemaluannya. Kali ini dia hanya pasrah karena tangan kiri Alex meremas rambutnya yang masih tertutup jilbab dan tangan kanannya mencekik leher. Tubuh Bu RT gemetar. Alex dengan sengaja memainkan kepala kontol di bibir memeknya, tapi dia tahu benda besar berurat itu bisa menghunjam kapan saja. Tiap kali Alex melakukan sedikit penetrasi nafasnya langsung terasa berat, dia coba bersiap, tapi tusukan itu tak kunjung datang. Bu RT tak tahan lagi.
"Masukin please... Masukin... " Rengeknya.
Alex tertawa senang. "Mau dimasukin, Bu RT? Mau gua entot memek gatel lu?"
"Iyahhh.. Masukin massss... Ayoooo... " Suara Bu RT gemetar. Selangkangannya naik turun mencari tapi Alex dengan sengaja menjauhkan kontolnya.
"Bilang dulu kalo ibu pelacur.. " Alex menggoda sembari sedikit menempelkan kepala kontol di belahan memeknya.
Bu RT sudah kehilangan kewarasan, saat ini yang dia inginkan hanya kenikmatan. "Iya.. Aku pelacur.. Ayo masukin please.. "
"Nggak denger.. " Alex terus menggodanya. "Ngomong yang kenceng lonte!"
"AKU PELACUR!!! ENTOTIN MEMEK AKUUUUU!! AKU PELACUR!!!"
Tanpa ampun Alex langsung menghunjamkan batangnya. Kontol besar itu langsung ambles ke dalam memek Bu RT. "Ahhhhhh!!! Ahhhhhh!! Nikmattttnya!" Jerit Bu RT sambil mencengkram tangan Alex yang sedang mencekik lehernya. Tanpa sadar kukunya sedikit menusuk tapi Alex tak peduli. Dia justru terkekeh senang.
"Sekarang rasain genjotan kontol gua pelacur!" ucap Alex sembari menggempur lubang kenikmatan Bu RT dengan brutal hingga membuat tubuh perempuan itu terlonjak-lonjak. Alex benar-benar memperlakukan Bu RT seperti binatang. Sambil menggeram karena kontolnya mentok di rahim, tangannya tak henti meremas dan menampar tete dan pipi perempuan montok itu. Sesekali dia juga meludahi wajahnya. CUIHH!
Setiap detik genjotan Alex semakin buas. Intensitas kedutan di kontolnya semakin cepat. "Rasain peju gua jilbab lonteeeeee!!!" Tubuh Bu RT melengkung, cengkramannya makin kuat. Sambil menggeram Alex mencapai klimaks. Peju menyembur deras memenuhi liang senggama Bu RT.
CROTTTT! CROTTTT!! CROTTTT!!!
Setelah puas dengan kasar Alex mencabut kontolnya begitu saja. Sementara Bu RT tergeletak lemah. Cairan kenikmatan mengalir keluar dari lubang senggamanya. Perlahan isakannya kembali terdengar.
Setelah semua kenikmatan itu berlalu yang tersisa tinggal penyesalan. Bu RT merasa jijik tak hanya pada Alex tapi terutama dirinya sendiri. Dia merasa kotor.
"Mulai sekarang kapan aja saya butuh ngentot Bu RT harus datang.. " ucap Alex santai sambil menyalakan sebatang rokok.
Ucapan itu langsung membuat darahnya mendidih. "Nggak sudi!" Dia menjawab kasar. "Saya akan laporkan ini ke polisi!" Ancamnya.
Namun Alex sama sekali tak terlihat panik. Dengan santai dia mengarahkan telunjuknya ke sudut atas ruangan tempat CCTV terpasang. "Tinggal saya sebar rekaman zinah kita Bu RT." Alex tersenyum penuh kemenangan. "Bu RT pasti langsung viral, hahaha."
Detik itu juga Bu RT menyadari hidupnya sudah hancur.
BERSAMBUNG
7619Please respect copyright.PENANAaPOgl22sw4
7619Please respect copyright.PENANAAR4iDfFIUW
7619Please respect copyright.PENANA0oUVC8tGSb
7619Please respect copyright.PENANAaRJy8VorjY
7619Please respect copyright.PENANAwswJW4T1Xg
7619Please respect copyright.PENANAbmRNJHb3P4
7619Please respect copyright.PENANAHIoeEFAuTu
7619Please respect copyright.PENANALuNPqcU9Sz
7619Please respect copyright.PENANAevw48en7Lw
7619Please respect copyright.PENANAeVhgO6QC0N
7619Please respect copyright.PENANAXdRJTb7HEa
7619Please respect copyright.PENANAQfIT0vn6TP
7619Please respect copyright.PENANA4MAk7CL86s
7619Please respect copyright.PENANA5ULQYXr1jT
7619Please respect copyright.PENANABZ0fGLkLbj
7619Please respect copyright.PENANAxyaVrG9UXN
7619Please respect copyright.PENANARzl0FW77y7
7619Please respect copyright.PENANAwdss79z7vk


