-
info_outline Info
-
toc Table of Contents
-
share Share
-
format_color_text Display Settings
-
exposure_plus_1 Recommend
-
Sponsor
-
report_problem Report
-
account_circle Login
Lampu sorot itu menyilaukan mataku.
Di hadapanku, ia berdiri dengan senyum yang begitu meyakinkan, dengan tatapan yang seolah-olah hanya dimiliki untukku. Semua orang bertepuk tangan, dan aku, bodoh sekali, ikut larut dalam tepuk tangan itu.
Aku pikir itu cinta.
Aku pikir semua kata-kata manis yang meluncur dari bibirnya adalah janji.
Ternyata hanya naskah. Dialog yang dihafalkan dengan sempurna, dimainkan dengan gairah seorang aktor yang tak pernah lupa perannya.
Aku duduk di kursi penonton, sementara ia di atas panggung, menari dengan kebohongan yang ia sebut kasih sayang.
Aku terperangkap dalam pertunjukan, tak sadar bahwa tiket yang kubeli adalah tiket menuju kehancuran.
Dan malam itu, aku akhirnya tahu:
Ia bukan kekasihku. Ia hanyalah penghibur
dan aku, penontonnya yang paling setia.
0 sponsors' commentsAfter each update request, the author will receive a notification!
smartphone100
→ Request update
Thank you for supporting the story! :)
Please Login first.
Reading Theme:
Font Size:
Line Spacing:
Paragraph Spacing:
Load the next issue automatically
Reset to default

